Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

29 January 2026

Tidak Apa-Apa Kok Kalau Cuma Punya Target Baca 2 Buku Tahun Ini

Cuma punya target membaca 2 buku. Nggak apa-apa kan?

Tahun kemarin saya bahkan tidak punya target apa-apa. Niat membaca buku hanya berakhir dengan buku yang dibawa ke mana-mana. Padahal list buku yang yang TBR alias menunggu untuk dibaca ada banyak. Tapi dari semuanya, ada satu buku fiksi dan satu buku non-fiksi yang ingin saya baca.


The Great Mental Models: The Simple Tools that Explain the World
Economic and Arts
By Shane Parrish
404 Halaman
2024

Buku ini mengajak pembaca memahami cara berpikir lintas disiplin, dalam hal ini Ekonomi dan Kesenian, melalui kumpulan mental models atau kerangka berpikir sederhana. Bukunya memiliki bahasa yang mudah dipahami dan contoh-contoh praktis dari dunia ekonomi, perilaku manusia, hingga karya seni. Makanya saya jadi tertarik untuk membaca.

Best New Singaporean Short Stories Volume Four
Edited by Pooja Nansi
234 Halaman
2019

Antologi yang merangkum suara-suara kontemporer penulis Singapura melalui cerita-cerita pendek yang tajam, beragam, dan reflektif ini menampilkan potret kehidupan urban Singapura dengan segala lapisannya. Ada cerita relasi keluarga, identitas, kelas sosial, serta kegelisahan personal, yang disajikan lewat gaya bercerita yang berbeda-beda. Buku ini saya beli di salah satu toko buku lokal ketika sedang jalan-jalan di negara tetangga.

Bagaimana saya bisa memastikan bahwa buku-buku yang disebutkan ini bisa dibaca hingga selesai?

23 October 2023

Terus Menulis Biar Tetap Waras

Kalau minta nasihat ke saya bagaimana menjaga kesehatan mental, kemungkinan besar saya akan menyuruh menulis. Beberapa riset menyebutkan bahwa menulis memberikan dampak baik bagi otak, dan bisa jadi terapi yang terjangkau. Tapi tulisan saya jelek. Saya bukan penulis. Tata bahasa saya berantakan. Eits, menulis untuk kesehatan mental tidak perlu memikirkan apakah tulisan kita jelek atau terlalu personal. Kan, pembacanya hanya kita sendiri.

Pernah dengar tentang expressive writing, yang sering digunakan untuk healing? Menulis tentang pengalaman yang membuat kita stress dalam periode waktu tertentu. Mengungkapkan perasaan dalam bentuk tulisan, seperti menulis diary, dalam jangka waktu tertentu yang berpotensi dapat membantu proses healing.

Tapi saya tidak bisa menulis. Mulai dari mana? 

Ada beberapa cara buat memotivasi kita untuk menulis. Terutama buat yang butuh dorongan lebih untuk menuangkan perasaannya dalam bentuk tulisan.

Ikut challenge menulis. 

Apa itu challenge menulis? Secara umum ini adalah tantangan buat kita ikuti agar menulis setiap hari. Mirip seperti upload IG kompakan, atau challenge lari di aplikasi olahraga. 

Ada dua keuntungan mengikuti challenge menulis. Yang pertama adalah adanya tema. Di challenge menulis, kita bersama-sama menulis sesuai tema yang ditentukan setiap harinya. Ini bisa membantu kita di kala stuck, tidak tahu menulis apa karena sudah ada promptnya. Maka dari itu penting untuk memilih challenge menulis yang sesuai dengan interest dan kesanggupan kita sehari-hari. Saya kemarin iseng-iseng mengikuti challenge menulis fiksi 15 hari dan akhirnya stress sendiri karena tidak bisa menulis cinta-cintaan. Padahal sudah sampai bikin IG baru khusus untuk ikutan challenge tersebut. Haha. Karena pada dasarnya saya adalah penulis non-fiksi, ya saya akhirnya kembali ke jalur awal, mengikuti challenge di blog (bukan IG) dengan tema-tema yang lebih dekat dengan kehidupan saya.

Itu pun saya masih struggling karena ada beberapa tema yang benar-benar tidak bisa saya tulis. Lalu gimana? Well, ini kan menulis untuk kesehatan mental, jadi ya ditulis saja sebisanya.

Lalu keuntungan kedua adalah adanya teman. Sesama peserta challenge yang saling menyemangati. Kalau di IG biasanya ada comment dan likes, kalau di blog biasanya lewat blogwalking atau satu Whatsapp group khusus di mana kita bisa share linknya. Jadi saya tidak merasa menulis sendirian dan jadi terpacu untuk melanjutkan ketika teman-teman sudah mulai ngelist. Mau malas jadi malu. Tidak ada alasan untuk stuck karena ada teman-teman seperjuangan yang terus maju.

22 October 2023

Pentingnya Support System Bagi Blogger Pemula

Ketika dulu saya mulai blogging, saya tidak memikirkan yang namanya SEO, Domain Authority, pembacanya siapa dan segala macam hal yang sepertinya sering jadi requirement untuk blog masa kini. Soalnya tujuannya hanya mengupdate kehidupan duduk ke keluarga yang jaraknya jauh. Awal mula ngeblog bener-bener karena malas mengupdate keluarga satu persatu dan banyak juga yang tidak buka email. Whatsapp baru muncul tahun 2009. Sementara Dudu lahir tahun 2006. Jadi ada sekitar 3 tahun di mana Saya tidak tahu bagaimana mengupdate perjalanan saya dan Dudu kepada keluarga. 

Waktu itu hp-nya masih Nokia 3310 yang cuma bisa main game snake aja. 

Halo Mama, Nokia-nya nggak bisa dipake ngetik blog.

Support system pertama adalah tools dan teknologi yang tersedia. 

Saya mulai blogging serius ketika Dudu lahir. Waktu itu tahun 2006. Sebelumnya, saya menulis blog buat iseng-iseng. Kalau diintip lagi blog yang galau itu sepertinya sudah dari awal tahun 2000an. Haha. Malu ah, membacanya. Support System yang pertama tentu saja internet yang memadai di negara tempat saya kuliah. Adanya laptop dan kamera yang bisa memuat foto membantu saya membuat semacam Buku Harian online. 

Namanya blog kan adanya di dunia maya, tentunya harus ada teknologi yang support. 

Setelah saya pulang ke Indonesia, dan memulai profesi sebagai jurnalis, blog saya mulai terbengkalai. Selain karena si support system yang berubah, alias internet yang terbatas plus gadget yang sudah mulai lelah karena menemani saya sejak kuliah, saya juga mulai bekerja full-time. Waktu mulai tersita. Apalagi bekerjanya juga sebagai jurnalis yang ujung-ujungnya menulis. Pas mau ngeblog, energi sudah habis. 

Support system yang kedua ini tidak kalah pentingnya: Komunitas. 

Energi yang habis ini terselamatkan dengan teman-teman seperjuangan. Bergabung ke komunitas, kenalan dengan blogger lain, ikut hadir di event dan belajar blogging lebih serius, membuat saya semangat lagi. Karena jadi ada a sense of belonging. Punya teman sesama blogger bisa ngobrol, tukar pikiran, dan saling menyemangati kalau sedang stuck adalah sebuah anugerah tersendiri. Belum lagi kalau dapat kesempatan ikut kelas belajar SEO, belajar menulis dengan baik, dan bagaimana memonetisasi blog. Saya merasa tidak menulis sendirian, dan senang bisa bertemu teman yang punya hobi serupa. 

Dari komunitas yang saya ikuti ini, saya juga bisa dapat job. Tidak selalu berupa uang, tetapi juga kesempatan hadir di premier film atau dikirimkan produk untuk dicoba duluan. Dapat undangan acara penting dan jadi merasa dihargai. Akhirnya blog yang saya miliki bisa menghasilkan sesuatu, meskipun terbatas karena alamatnya yang tidak top level domain alias TLD. Habis bagaimana tujuan saya ngeblog kan bukan untuk komersil. Tetapi lebih ke personal branding, dan bercerita tentang pengalaman saya bersama anak saya. 

Sini Ma, saya bantu ketikin blognya

Yang paling penting, ya support system ketiga: Dudu. 

Tentunya support System yang paling utama adalah anak saya, Dudu. Yang adventure-nya saya tulis sebagai cerita utama di blog saya. Ketika dia sudah mulai bisa diajak diskusi, saya bahkan meminta dia untuk Menuliskan beberapa hal di dalam blog atau mencantumkan obrolan kita sebagai tulisan. Dari dulu Dudu bayi hingga sekarang sudah remaja, siap berangkat kuliah tahun depan.

Kalau Dudu sudah kuliah, bagaimana dengan nasib blog ini? Nah ini yang sebenarnya belum saya pikirkan. Tapi yang namanya petualangan jadi ibu tentunya tidak berhenti sampai di sini kan?

Kenapa support system ini penting? 

Jawaban singkatnya ya karena kita jadi tidak merasa sendirian. Dan ini bisa dikembangkan ke mana-mana. Dilansir dari website verywellmind, ada 4 tipe support system: emotional, esteem, informational dan tangible. 

Emotional support memberikan pelukan atau telinga untuk mendengar keluh kesah. Sementara Esteem support ini yang memberikan afirmasi bahwa kita mampu mengerjakan sesuatu. Yang membuat kita jadi lebih pede blogging. Informational support memberikan fakta, informasi atau guide yang kita butuhkan tentang satu subjek tertentu. Tangible support ini adalah tindakan nyata, yang kalau dicontohkan bisa seperti menawarkan jasa babysitting sementara saya menulis. 

Kalau dilihat cerita support system saya sebagai blogger di atas, Dudu adalah emotional support saya. Yang ada dan memberikan semangat untuk terus ngeblog melalui adventure yang kita jalani berdua. Teknologi jadi informational support saya dengan memberikan banyak jawaban dan fasilitas untuk ngeblog. Esteem dan tangible ya jelas komunitas. Dapat feedback, dapat semangat. Dapat blog walking juga. Tangible karena support nyata yang didapat bisa juga berupa job maupun fasilitas untuk belajar lagi. 

Image by Freepik

Bagaimana kita bisa jadi support sistem yang baik? 

Lebih dari satu dekade kemudian, giliran saya yang jadi support system teman-teman yang baru mulai ngeblog. Kalau dulu saya yang banyak dibantu sekarang saya ingin membantu teman-teman yang mau mencoba blogging. 

Kan caranya tinggal Googling? Zaman sekarang memang lebih enak sih semuanya bisa dicari di mesin penelusur. Tinggal buka website, cari di Google bagaimana cara blogging. Tapi buat blogger pemula atau yang benar-benar tidak tahu mau mulai dari mana, adanya teman yang bisa membantu step by step dari awal bisa mendorong mereka untuk beneran punya blog. Tugas saya sebagai support system, biasanya hanya menjawab pertanyaan. 

Mending nulis di blogspot atau di Wordpress? 
Eh ini tuh kayak diary ya? Ada gemboknya? 
Biasanya lu nulis blog berapa panjang sih? 
Fotonya diedit dulu nggak? 
Kalau gue ngeblok dari handphone, bisa nggak? 
Dan sejuta pertanyaan lainnya. 

Terdengar remeh memang, dan benar semuanya ada di Google. Tapi sama seperti dulu saya mendapatkan jawaban dari kelas-kelas yang saya ikuti, ada yang mengarahkan ini membuat kita lebih semangat blogging. Untuk menjadi seorang blogger kita butuh support system. 

Apa yang bisa kita berikan sebagai seorang support system? 

Karena saya tidak punya cukup uang untuk membelikan gadget, atau menjadi inspirasi tulisan si teman, ya saya berperan sebagai 'komunitas' untuk mereka yang baru mulai menulis. Dengan cara berbagi apa yang saya punya. 

  • Berbagi pengetahuan tentang blogging. Pakai platform apa? Menulisnya bagaimana? Apa yang harus ditulis? Bagaimana cara pasang foto? Dan lain sebagainya. 
  • Teman brainstorming. Kadang kalau mentok, ngobrol dengan sesama blogger bisa membuat kita punya ide cemerlang. Buat blogger pemula, yang nulisnya masih setengah-setengah, punya teman yang meng-accourage dia untuk menulis bisa membuatnya lebih konsisten. 
  • Fans nomor 1. Biasanya yang memulai blogging tidak pede sama tulisannya sendiri. Kita sebagai teman yang baik bisa menyediakan waktu untuk mampir ke blognya membaca dan memberikan feedback atas tulisannya. 
  • Pengingat bahwa blog harus diupdate. Yah meskipun ini kembali lagi ke manusianya masing-masing, Apakah mau konsisten blogging atau hanya sekedar mengikuti tren saja. Yang penting tugas saya adalah sesekali mengingatkan "eh blognya udah di-update lagi belum?" 

Baik sebagai ibu, maupun sebagai blogger, support system ini penting. Apalagi sebagai ibu-ibu ngeblog. Harusnya support system kita bisa dikali dua ya. Hahaha



27 September 2023

Cari Peluang Uang Tambahan untuk Ibu Tunggal

Kita selalu mencari peluang untuk mendapatkan uang tambahan. 

Waktu Dudu masih TK dulu, pekerjaan pertama saya tidak menghasilkan banyak uang. Cukup untuk kehidupan sehari-hari tetap sulit menabung untuk liburan dan kelak kalau Dudu mau masuk SD. Terus cari uang tambahan dari mana agar tidak mengganggu cash flow yang ada sekarang jika mau pergi liburan keluarga atau membeli barang yang sedikit mahal, misalnya Dudu perlu punya handphone.


Itu saya, yang full-time bekerja, dan bisa menitipkan Dudu pada orang tua. Bagaimana dengan single moms yang ketika masih berpasangan dulu memilih untuk jadi ibu rumah tangga? Tentunya ada gap year di antara karir, harus catch up dengan banyak hal dan melalui proses panjang untuk kembali ke dunia kerja. Apa yang bisa dilakukan selain mencari pekerjaan tetap agar kembali berpenghasilan?

Kalo orang bilang ada banyak jalan menuju Roma, sebenarnya ada banyak peluang mendapatkan uang tambahan. Apa saja?

Ikut kompetisi ibu dan anak.

Lomba mewarnai, lomba foto, lomba fashion show dan lainnya. Semua kompetisi itu sering diikuti oleh saya dan Dudu ketika dia masih kecil. Kalau menang dapat uang. Kalau tidak? Selain dapat pengalaman, biasanya ada goody bag yang dibagikan dan isinya lumayan untuk kehidupan sehari-hari. Saking seringnya ikut lomba, saya sampai punya IG agregator lomba anak yang masih berjalan sampai sekarang.

Bagaimana caranya ikutan lomba? Dulu saya dan Dudu rajin hadir ke acara anak-anak di akhir pekan. Terutama yang gratisan dan terbuka untuk umum di mall. Kalau ada kompetisinya, ya kita daftar saja ikut. Selain bisa jadi kesempatan bonding bersama anak, kalau menang kan bisa dapat hadiahnya.

18 June 2023

Kerokan dalam Bahasa Inggris

“Mau kerokan?”
“Boleh. Sepertinya saya masuk angin.”
“Cuma nanti kalau diliat orang bisa dikira child abuse.”
Dudu cuma angkat bahu.

Hari kelima mudik ke Amerika, dia tidak enak badan. Menjelaskan ke semua orang bahwa masuk angin alias “enter wind” ini ternyata cukup membingungkan. “Feeling under the weather.” atau “just don’t feel well in general” yang biasanya saya gunakan untuk menjawab mereka yang kebingungan. Terus kerokan gimana?

Ini adalah definisi Kerokan menurut beberapa sumber:

  • Kerokan atau Gua Sha (刮痧) adalah “is a traditional Chinese medicine (TCM) practice in which a tool is used to scrape people's skin in order to produce light petechiae.” (Wikipedia).
  • Sebuah jurnal yang dipublikasikan di Sage Publications mendefinisikan Kerokan sebagai “a traditional Indonesian treatment involving abrading the skin over various parts of the body with a blunt object such as a coin or a piece of ginger which may create suspicious injuries.”
  • "Gua sha is an alternative therapy that involves scraping your skin with a massage tool to help improve circulation." (Healthline)
Masuk angin sendiri ternyata lebih sering disebut sebagai “catching a cold” atau “catching a wind” oleh bangsa Vietnam. Jadi bukan “enter wind” ya, teman-teman sekalian. So Kerokan adalah method to “scraping the wind out,” alias mengeluarkan angin yang masuk dengan koin. Banyak juga yang menerjemahkannya dengan coining.

Loh, kok anak bule kerokan.

Nah ya itu masalahnya. Saya saja tidak kuat kerokan karena gampang geli. Kerokan ini pernah bikin berantem sama Mama karena saya susah diam kalo dikerok. Padahal setelahnya, tinggal pakai minyak angin, tidur lalu sembuh.

Apa yang membuat kerokan jadi seampuh itu, dan apakah mereka beneran seampuh itu?

Soalnya, konon, tindakan ini memperbaiki sirkulasi darah. Kerokan memperbaiki chi, membuka energi yang stagnan dan membuat kita jadi lebih sehat. Kerokan dipercaya menjadi penyembuh untuk badan pegal-pegal, masuk angin, sakit kepala dan migrain.

Apa yang dibutuhkan buat kerokan? Di Indonesia, saya bisa menggunakan alat dari besi yang ada pegangannya. Memudahkan untuk membuat garis-garis. Kalau darurat, coining bisa dilakukan dengan koin. Pertanyaannya kemudian berubah jadi koin seperti apa yang bisa digunakan ketika alat kerokan tersebut tidak ada? Yang paling ideal adalah uang 100 Rupiah dengan gambar Rumah Gadang keluaran tahun 1978. Namun ternyata uang dollar 25 sen atau Quarter juga lumayan mudah digunakan untuk kerokan.



Minyak apa yang dipakai? Ada yang pakai minyak angin, minyak kayu putih, pakai Freshcare, dan berbagai minyak lainnya. Setiap orang beda preferensi karena minyak ini berbeda baunya dan tingkat kepanasannya di kulit. Jadi ya tergantung toleransi masing-masing orang.

Yang perlu diperhatikan dari kerokan adalah kenyamanan setiap orang berbeda. Sama seperti saya tidak bisa kerokan karena gampang geli, dan akhirnya malah bikin mama frustasi. Sementara Mama tipe yang kuat banget kerokan, dan sering ngomel kalau saya “gagal” melakukannya dengan benar haha. Habis kan bingung juga ya ke arah mana ini garisnya. Konon kalau emang masuk angin, di tempat angin berkumpul, hasil kerokan akan lebih merah dari bagian tubuh lainnya. Karena di situlah energi kita nyangkut dan dilepaskan oleh kerokan.

Terlepas dari benar tidaknya ini kerokan, Dudu biasanya sembuh habis dikerok.
Jadi kita bisa lanjut jalan-jalan. Untunglah.

31 March 2023

Kelinci Boleh Makan Apa?

Beberapa bulan yang lalu, saya dan Dudu mulai pelihara kelinci. Ada dua kelincinya, namanya Sentaro dan Arisu. Memelihara kelinci ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Kebetulan karena kami juga punya kebun, memelihara kelinci juga jadi murah. Tidak perlu sering-sering beli makanan, tinggal ambil rumput dan daun yang ada di kebun belakang. Atau berikan lalapan yang biasanya datang bersama makan siang.


Memangnya kelinci makan apa saja sih?

Selain rumput, ada beberapa jenis daun dan bunga yang bisa dimakan oleh kelinci. Yuk, coba kita cek.

Daun pisang.

Selain mudah didapat, daun ini konon ampuh buat kelinci yang sedang terganggu pencernaannya. Jadi kalau kelinci sembelit atau diare, bisa memberikan daun pisang. Daun pisang yang disukai kelinci adalah daun yang tidak terlalu muda. Setidaknya Sentaro dan Arisu suka daun pisang yang keras dan berwarna hijau tua. Pokoknya, kalau yang dimakan ada bunyi kres. Satu lembar daun dengan ukuran besar cukup untuk seharian. Jadi, kalau bingung tidak punya makanan tinggal potong daun pisang dari tanah kosong sebelah.



Daun Petai Cina atau Lamtoro.

Ini awalnya secara tidak sengaja diberikan, dan ternyata mereka suka banget. Kalau ada bermacam makanan, yang pertama dimakan adalah daun Lamtoro alias Leucaena leucocephala ini. Sayangnya, daun Lamtoro lebih cepat layu daripada daun pisang. Paling hanya bertahan dua hari. Daun lamtoro mudah ditemukan di mana-mana dan biasanya adalah tumbuhan liar yang ada dekat sumber air. Pohon ini sebenarnya berfungsi mencegah erosi. Daunnya buat kelinci, Petai Cina yang ikut terpetik katanya bisa buat masak Botok.

Kulit Buah

Ini salah satu makanan favorit Sentaro dan Arisu. Mulai dari kulit buah pir dan apel, hingga kulit buah pepaya dan Kiwi. Awalnya mereka juga mau makan kulit buah sawo, tetapi begitu tahu ada pir dan apel, ya sawonya selamat jalan deh. Bukan cuma kulitnya, kelinci bisa juga makan buahnya. Tetapi hati-hati dengan buah yang padat seperti pepaya, karena dapat menyebabkan kelinci kekenyangan. Pir dan apel banyak kandungan air, sehingga baik untuk kelinci, tetapi karena manis sebaiknya juga tidak diberikan dalam jumlah yang banyak.



Sayuran

Kangkung, bayam, caisim, pakcoy dan sawi atau selada bisa diberikan kepada kelinci. Di depan rumah ada pohon kangkung, jadi Sentaro dan Arisu paling sering makan kangkung. Yang jadi masalah adalah kangkung ini membuat pipis kelinci jadi bau pesing. Beberapa sayuran lain juga membuat pipis kelinci jadi berwarna merah atau orange kemerahan yang jika terkena keramik lantai bisa meninggalkan bekas. Sayuran yang tidak berdaun, seperti Kol dan timun, juga bisa diberikan kepada kelinci. Kol tidak dianjurkan diberikan dalam jumlah banyak karena menimbulkan gas di perut. Ada yang bilang asparagus juga boleh diberikan ke kelinci, cuma ya jadi mahalan makanan kelincinya daripada makanan saya dong.


Makanan Kelinci apa lagi ya?


Sentaro dan arisu suka makan daun pepaya, daun pepaya Jepang, dan daun pandan. Serta beberapa tanaman liar lain yang saya tidak ketahui namanya. Mereka juga suka makan bunga dan ginseng Jawa. Pernah makan Bunga Kamboja sebelum ketahuan kalau itu sebenarnya beracun untuk kelinci. Lalu Melati jepang (Carruthers’ Falseface) Daun jambu, daun mangga dan daun serai juga pernah. Lalu kulit pisang dan buah pisang pun mereka suka. Beberapa waktu lalu Bahkan mereka makan batang pepaya. sepertinya sih untuk mengasah gigi agar tidak terlalu panjang.



Ini adalah makanan utama Kelinci.


Makanan mereka yang terutama adalah Hay, alias rumput yang dikeringkan. Biasanya Hay ini bisa dibeli di pet shop atau toko online dengan harga sekitar Rp 40.000 sampai Rp 60.000 per kilonya. Harganya tergantung jenis, namun yang paling disukai Sentaro dan Arisu adalah Hay jenis Timothy.

Saya juga membeli snack buat kelinci. yaitu Hay yang dikeringkan lalu diberi rasa bunga seperti Bunga Telang, Marigold dan Rose. Kalau sudah ada snack mereka rebutan. Harga snack ini sekitar Rp4.000 satunya atau 10.000 sampai 15.000 untuk satu pak.

1 kilo Hay biasanya habis untuk 2 minggu atau lebih cepat jika tidak ada sayuran lain. Jadi biaya memelihara kelinci, untuk makanannya, bisa habis sekitar sekitar Rp 100.000 sebulan. Saya jarang memberi Sentaro dan Arisu makanan pelet. Mereka lebih mudah dipancing dengan daun Lamtoro atau kulit buah.


Intinya memelihara kelinci jadi lebih murah, karena makanan mereka ada di sekitar kita. Saya sering memberikan daun yang saya temukan untuk melihat apakah mereka suka. Kalau Sentaro dan Arisu suka ya besoknya diambilkan lagi. Dengan begitu mereka hanya makan Hay di malam hari ketika ada di dalam kandang. Itu juga kalau Dudu tidak lupa memasukkan mereka ke kandang. Lebih hemat kan?


Mau mencoba pelihara kelinci?

24 October 2022

Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Pinjol dan Cara Menghadapinya

Ketika sedang nonton episode terbaru Spy x Family sama Dudu hari Minggu kemarin, saya ditelepon sama seorang ibu yang mengaku dari pinjol bernama Akukaya. Ibu yang tidak sempat saya tangkap namanya ini menanyakan keberadaan seorang teman yang katanya mencantumkan nama saya sebagai kontak darurat. Nada suara si ibu yang khas dari daerah tertentu ini bikin percakapan jadi lebih menarik. Haha.

Biar nggak serius-serius amat, fotonya pake foto Dudu lagi angkat telepon

Yang unik, si ibu penagih pinjol ini pakai memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Saya ibu xx dari Akukaya, Ibu kenalkah dengan yang bernama AABB?”

Setelah beberapa kali konfirmasi, barulah saya sadar kalau nama AABB ini terlalu umum, dan saya punya teman lebih dari 3 dengan nama yang persis sama seperti itu. Ketika si ibu pinjol menyebutkan alamatnya, saya tidak tahu teman-teman saya ini tinggal di mana. Bahkan ketika si ibu pinjol ini menyebutkan “Orangnya ini memakai hijab, Ibu?” Saya juga belum bisa memutuskan, yang mana yang dimaksud si ibu.

Hanya saja, siapapun yang dimaksud, saya sudah bertahun-tahun tidak bertemu mereka semua dan dulu sih semuanya tidak pakai hijab ya haha.
“Teman ibu ini mencantumkan nomor ibu ini sebagai kontak darurat. Dia meminjam uang lalu tidak membayar.”

“Ya terus?”

“Kita akan telepon Ibu untuk menyuruh teman Ibu untuk membayar hutangnya.”

“Ya, saya tidak bisa bantu apa-apa sih, Bu. Saya tidak tahu yang mana yang dimaksud. Dan semuanya sudah tahunan tidak kontak dengan saya.”

“Oh begitu?”

“Nomornya tidak bisa di-blok saja?”

“Nomor ini tidak bisa di-blok, Ibu?”
Nada suara si ibu ini selalu berakhir naik. Kayak artis yang kemarin pernikahannya ribut-ribut karena tanpa restu dari pihak orang tua perempuan itu. Jadi menarik.
“Kalau gitu saya laporkan saja ya.”

“Silahkan dilaporkan, Ibu, tapi nanti teman-teman saya akan tetap menelepon Ibu sampai teman Ibu lunas sudah hutangnya.”

“Oh ya nggak apa-apa sih. Kalau saya mood, nanti saya jelaskan lagi. Kalau nggak ya saya tutup aja teleponnya dan blok lagi.”

“Nomor ini tidak bisa di-blok, Ibu.”

“Oh, maksud saya nomor teman-teman Ibu yang saya blok kalau mereka telepon.”

“Oh iya silahkan, ibu.”

Aneh percakapannya mendadak jadi sopan haha.

Sepertinya karena saya cuek, si Ibu juga bingung sendiri. Toh, maksud dia menelepon sudah tersampaikan, dan saya tidak bisa membantu juga. Terus gimana? Mau mengancam juga, ya saya pikir itu SOP-nya mereka. Kalau mengganggu tinggal saya blok dan report.

Bagaimana mengajarkan konsep pinjol kepada anak?

Daripada pertanyaan si Ibu tersebut, lebih susah pertanyaan si Dudu.

Dudu: Pinjol itu apa?
Mama: Pinjaman online, jadi bisa hutang tapi bukan dari bank gitu kalau butuh uang.
Dudu: Lalu kenapa Mama ditelepon?
Mama: Jadi ada teman Mama yang pinjam uang, lalu tidak bayar. Katanya nomor Mama dicantumkan jadi kotak darurat. Lalu ya ditelepon.
Dudu: Terus bagaimana?
Mama: Ya, Mama tidak tau siapa yang dimaksud, kalau pun tahu juga terus benefitnya apa buat Mama? Kan si Pinjol tidak kasih Mama incentive untuk ikut bantu kejar-kejar client mereka bayar hutang. Mereka bayar orang-orang itu untuk telepon teman-teman si peminjam.

Dudu mengangguk-angguk saja sih sampai sini. Nonton lagi, lalu tahu-tahu bertanya,

Dudu: Itu bukannya data breach?
Mama: Ya, mau gimana lagi, memang pinjol kan begitu business modelnya. They lent some money but got access to your contacts. Just in case kamu tidak bayar, ya mereka bisa meneror teman-teman dan bikin kamu malu.

Bagaimana menghadapi pinjol?

Lalu saya posting kejadian ini di Facebook dan mendapatkan beberapa insight dari teman-teman.

  1. Bisa gunakan apps truecaller dan sejenisnya buat mendeteksi telepon dari nomor yang tidak dikenal. Apalagi kalau kita sudah pakai nomor ini sejak lama atau menggunakan nomor ini untuk point of contact online shop kita, networking dan sejenisnya, di mana potensi tersebar lumayan luas.
  2. Jangan langsung percaya sama si pinjol. Biasanya mereka menghubungi semua nomor yang ada di kontak tersebut dan bilang kalau dipasang sebagai nomor darurat, nomor penjamin dan sebagainya. Padahal tidak juga, ini hanya cara mereka untuk membuat kasusnya terdengar urgent.
  3. Kalau mendapatkan pesan lewat WA (bukan telepon langsung), segera blok dan report.
  4. Kalau terlanjur diangkat gimana? Ya kalau tahu ini pinjol, segera matikan dan blok nomornya. Atau ya, seperti saya tadi, tetap tenang lalu jawab tidak tahu. Para penagih ini memang bekerja sebagai penagih hutang. Mereka karyawan. Saya bukan karyawan pinjol jadi ya buat apa saya terlibat? Kecuali kalau ketika si teman saya bayar hutangnya, saya dapat incentive juga gitu karena bantuin nagih.
  5. Jangan takut kalau dapat message/ telepon dari tagihan pinjol milik “teman”. Kita tidak bisa mengatur apa yang dilakukan si pinjol dan apa yang dilakukan si teman, tapi kita bisa mengatur apa yang kita mau lakukan. Tutup aja teleponnya. Beres.
So, what we can do adalah bagaimana kita menyikapi situasi ini. Si temen bakal tetap pinjam uang, si pinjol tetap harus menagih, tapi kita tidak harus menjawab atau meladeni telponnya.

04 October 2022

Dilema Ibu Tunggal Bekerja: Cari di Mana?

Cari kerja di mana?
Mom, gimana sih caranya ngelamar kerjaan?


Beberapa minggu terakhir, banyak pertanyaan begini masuk di inbox saya. Beberapa dari yang bertanya adalah (mantan) ibu rumah tangga yang ingin memiliki penghasilan tetap setelah menjadi seorang ibu tunggal. Beberapa lainnya punya pengalaman jualan online, jadi reseller tapi ingin mencoba peruntungan untuk bekerja dengan penghasilan tetap yang tentunya dirasa lebih menjamin kehidupan dirinya dan anak-anak.

Ini Dudu, ikut liputan opening Store LV di mall jaman saya masih jadi jurnalis

Saya menyadari bahwa mencari pekerjaan sebagai seorang ibu tunggal ini sulit. Beruntung waktu Dudu masih kecil, saya punya dua orang tua yang sangat supportive dan bisa mengantar si anak ke sekolah. Sehingga saya bisa fokus kerja cari uang. Lalu bagaimana saya melamar pekerjaan? Ada beberapa cara.

1. Referral teman. 

Kalo kata anak jaman sekarang ini "jalur ordal" alias sudah ada teman atau saudara yang bekerja di perusahaan tersebut, lalu kita masuk sebagai rekanannya. Ini cara paling gampang, apalagi kalau rekanan kita itu punya reputasi bagus di perusahaan tempatnya bekerja. Perusahaan merasa tidak perlu double check seketat orang asing karena ini kan referral karyawan sendiri. Temannya teman.

2. Lewat situs pencari kerja seperti JobStreet, JobsDB, Indeed, Glints dan sejenisnya. 

Kalau mau melamar lewat jalur ini sebaiknya siapkan CV yang mudah dibaca oleh sistem alias ATS friendly. Gimana caranya? Di Canva ada templatenya. Tidak paham cara pakai Canva? Ya intinya ATS friendly berarti tidak ada gambar maupun font yang sulit dibaca. Jadi gunakan font standar seperti Arial atau Times New Roman untuk membuat CVmu. Ingat, bikin CV jangan disingkat dan gunakan istilah yang umum untuk setiap section header misalnya "pengalaman kerja" atau "pendidikan". Meskipun bagus kalau bisa bikin CV dalam bahasa Inggris, jangan dipaksakan kalau memang tidak fasih. Lebih baik pakai bahasa Indonesia tapi CVnya tidak ada typo daripada bahasa Inggris tapi banyak salahnya. 

Kalau langganan newsletter dari situs pencari kerja biasanya kita akan dikirimkan email berisi lowongan sesuai keinginan kita setiap beberapa hari sekali. Ini sebenarnya bagus karena kita jadi terpacu untuk terus melamar kerja dan tidak menyerah.

27 September 2022

Do & Don’t Ketika Menginap di Hostel Bersama Anak

Salah satu pengalaman traveling yang paling berkesan buat saya dan Dudu adalah menginap di Hostel. Dari hostel kita banyak belajar, bukan hanya soal menginap di tempat baru tapi juga berbagi ruang dengan orang lain, menjaga keamanan barang dan tentunya lebih mendapat pengalaman bertemu dengan local culture.

Playdate di hostel

Hubungannya apa sama regenerative travel atau wisata berkelanjutan? Well, kalau dari kita berdua sih ada yang namanya tak kenal maka tak sayang. Wisata berkelanjutan ini kan erat hubungannya dengan bisnis dan usaha lokal, jadi ya minimal tinggal di hostel yang dijalankan oleh warga lokal. Selain memberikan pengalaman baru, tinggal di hostel juga menghemat budget. Bisa kok menemukan hotel murah terbaik yang ramah anak.

Di hostel juga kita akan lebih banyak berinteraksi dengan orang lain terutama saat bertemu di kamar mandi, ruang makan maupun ruang santai (biasanya tempat nonton TV). Ini adalah kesempatan untuk mengajarkan anak berinteraksi yang baik, cara ramah namun tetap waspada pada orang asing. Siapa tahu ada yang bawa anak juga, dan mendapatkan teman baru.

Bagaimana memberikan pengalaman menginap di hostel paling seru untuk anak?

  • Do book the whole room. Saya membooking hostel kalau pergi rame-rame. Waktu itu playdate travelling ala backpacker bersama beberapa keluarga lain. Total ada 3 ibu dan 5 anak. Kita book 1 kamar hostel dengan 4 bunk bed. Jangan lupa memastikan bahwa pihak hostel menerima tamu keluarga dengan anak-anak.

  • Do ajarkan tata kramanya. Misal tidak boleh ribut di lorong. Setiap anak dapat 1 loker, jadi mereka bertanggung jawab atas barang masing-masing. Kalau mandi di shared bathroom harus hati-hati dan menjaga barang-barang yang dibawa. Jangan sampai becek dan banjir karena kamar mandi ini digunakan oleh banyak orang.

21 August 2022

Hidup ini Bukan Kompetisi, Fokus Pada Diri Sendiri

Kamu kapan?
Gondok denger pertanyaan itu? Iya saya juga.


"Si A udah punya anak dua, kamu gak mau kasih adik buat Dudu?"
"Kenapa nggak nikah lagi aja kayak si B, kasian kan anakmu?"
Atau satu pertanyaan yang terlontar di komunitas saya, yang membuat saya berpikir untuk menuliskan postingan ini:
"Kok sepertinya saya lama banget move on dari mantan suami? Teman saya bahkan sudah menikah lagi dan bahagia. Apa yang salah dengan saya?"

Jawabannya, ya tidak ada yang salah.

Kan hidup ini bukan kompetisi.

Kompetisi pertama yang diikuti Dudu, nggak jadi juara 1

Okelah, kita tidak bicara soal ranking di sekolah atau performance di kantor. Tapi yang namanya healing, move on dan perjalanan hidup tidak bisa dipandang sebagai sebuah kompetisi. Menurut saya, setiap orang ada timeline-nya sendiri dan kita bisa memilih untuk menghindari kompetisi. Apalagi kalau berpartisipasi di kompetisi perjalanan hidup ini membuat kita makin down.

Bagaimana kalau orang terdekat kita yang sibuk 'mendaftarkan' kita ke kompetisi? Orang tua yang menjodohkan kita dengan anak temannya atau circle pertemanan yang selalu membahas anaknya sudah bisa apa seperti sebuah lomba parenting. Mau quit susah, mau ikut juga salah.

20 May 2022

Jadi Mama Sambil Kerja: 13 Ide Freelance dari Rumah

“Kerja apa ya yang bisa sambil mengurus anak?”

Selama 16 tahun jadi Mama Dudu, saya cukup beruntung punya support system yang memungkinkan saya bisa kerja kantoran. Tapi bagaimana dengan yang harus mengurus anak atau membawa anak ke kantor? Ada beberapa yang juga cukup beruntung bisa bekerja di sekolahan, yang sambil anaknya sekolah, ibunya juga bekerja sebagai guru atau tata usaha. Atau ada juga perusahaan yang menyediakan daycare, sehingga anak bisa dititipkan selama ibunya bekerja.

Oh, Mama lagi freelance?

Tapi bagaimana dengan yang ingin mengurus anak secara full-time? Pekerjaan freelance apa saja yang bisa dikerjakan seorang ibu? Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan dari rumah sambil mengurus anak. Idealnya pekerjaan bisa dikerjakan di waktu senggang, seperti ketika anak di sekolah atau ketika anak sedang tidur siang. Kalau anaknya sudah cukup besar, bisa dikerjakan bersama anak juga. Yuk, kita list down.

17 March 2022

Kalah, Menang dan Cerita tentang Terbang

“Si Dudu masih mau lomba ya, Mom?”
“Iya nih.”
“Anak saya udah nggak mau, dia kecewa kemarin kalah.”

Dulu, Dudu sering ikut lomba. Lomba fashion show, lomba foto, casting, bahkan kompetisi jadi penyiar radio cilik. Kalau dia menang, saya ikut bangga. Soalnya biasanya, saya juga yang sepihak mendaftarkan anaknya setelah setengah memaksa, “kamu ikut lomba ini ya.” Hahaha. Tapi efeknya, kalau dia kalah, saya juga ikutan kecewa.

Kenang-kenangan lomba Kartini di TK 

Tapi, yang namanya kompetisi kan ada menang, ada kalah. Sebenarnya juga si Dudu banyakan kalahnya, sih. Sebagai emak-emak kompetitif (katanya), saya pernah ditanya gimana caranya mengajarkan anak agar tidak putus asa ketika kalah lomba.

Saya pakai perbandingan dengan ketika saya mau “terbang.”

Saya senang travelling, naik pesawat lalu terbang dan mendarat di tempat yang berbeda. Percaya nggak percaya, pas hamil si Dudu, saya pernah stress berat. Sampai ke psikolog kampus dan mulai journaling untuk menemukan penyebabnya. Ternyata jawabannya adalah “kurang sering terbang.” Saya yang tinggal di kota kecil pas kuliah, lalu sering terbang ke kota besar pas liburan semester, atau terbang pulang ke Indonesia. Karena hamil, saya memilih stay di kota saya, mengambil summer jobs atau liburan ke daerah yang bisa dicapai dengan mobil. Lalu saya stress. Hidup kurang seru kalau tidak “terbang.”

Emangnya, apa yang membuat terbang begitu special?

1. Terbang perlu persiapan

04 March 2022

Pentingnya Memahami Peranmu Hadir di Dunia

Siapa saya?

Kalau ditanya begitu ya jawabannya “Mama Dudu” hahaha. Di biodata, title “Mama Dudu” ini mutlak ada. Tapi sekarang Dudu sudah teenager, peran saya sebagai seorang Mama juga sudah tidak sesibuk dulu. Lalu sekarang, saya siapa?


Untuk saya, memahami peran dalam hidup ini penting. Karena biasanya saya lupa bahwa peran saya di dunia ada lebih dari satu. Kalau peran sebagai warga negara mungkin tidak sebesar atlet yang menyumbang medali emas, tapi sebagai Mama Dudu, peran saya paling besar. Malah cuma satu-satunya, soalnya si Dudu cuma punya satu ibu. Jadi, ketika saya merasa sebagai “remahan rengginang,” perasaan minder dan insecure itu tidak tahan lama. Soalnya saya suka rengginang sih, jadi emang sampai remahannya juga saya makan hahaha. Well, on a more serious note, mengenali siapa saya di adegan mana adalah hal penting karena hidup saya jadi lebih baik dan teratur. Kok bisa?

21 February 2022

Platform Content Creator adalah Peluang di Saat Pandemi

Ada yang bilang kalau pandemi bikin kita jadi lebih kreatif. Ruang gerak yang terbatas karena di rumah aja membuat kita punya waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi sisi kreatif diri kita. Setidaknya, saya merasa, dengan bekerja dari rumah, saya punya ekstra beberapa jam untuk menulis blog, ikutan kelas online, nonton webinar dan video lifehack yang sekarang sepertinya makin beragam. Selain ada waktu, sekarang ada demand, ada supply. Jadi content creator makin banyak juga di sekitar saya.

Dulu, kita suka bikin content juga sih.

Misalnya teman-teman yang tadinya hanya masak, buru-buru menyiapkan bekal anak karena harus segera bertarung dengan kemacetan ibukota untuk berangkat kerja. Sekarang punya ekstra 1 jam untuk menata bekal dengan rapi, difoto dulu atau bahkan bikin video pembuatannya. Semua mendadak jadi sempat. Tidak heran kalau ekonomi kreator jadi bertumbuh pesat.

Beberapa waktu lalu, IDN Media meluncurkan Indonesia Creators Economy (ICE) yang, mengutip penjelasan Winston Utomo, CEO IDN Media, “memiliki visi untuk mendemokratisasi “creators economy” di Indonesia melalui teknologi.” ICE ini sebelumnya dikenal dengan nama IDN Creator Network, yang sudah beroperasi sejak 2017. Jadi mereka bukan pemain baru di dunia content creator.

20 February 2022

Butuh Break? Main Word Game Seru Ini

Ada 10 menit break sisa dari makan siang yang sekarang cuma di meja makan rumah. Tidak perlu jalan dari kantin ke meja, tidak perlu ngobrol bareng teman. Tidak perlu jajan beli kopi juga. Lalu mau ngapain?

“Kenapa Mama tidak bermain game saja?”
Begitu saran si Dudu. Masalahnya, saya bukan tipe yang suka main game di ponsel atau laptop. Dan saya tidak suka game tembak-tembakan juga. Jadi apa dong?


Jaman kuliah dulu, ada 4 koran yang dibagikan secara cuma-cuma di lingkungan sekitar kampus saya: New York Times, USA Today dan 2 koran lokal. Saya sering mengambil edisi hari minggu lalu mengklipping komik dan mengerjakan crossword puzzle. Crossword Puzzle milik New York Times ini terkenal sulit, dan bisa mengisi maksimal 5 saja saya sudah bangga haha. Tapi kalau mengerjakan ini, biasanya saya menghabiskan setengah hari sendiri sebelum menyerah. Kalau digunakan untuk mengisi waktu lunch break, bisa-bisa tidak kembali bekerja dong. So, saya mampir ke website nytimes.com dan merasa menemukan harta karun dengan adanya 3 mini-games berikut yang bukan hanya ‘puzzle’ tapi juga main-main dengan kata.

15 February 2022

Self-Love dengan Menuliskan Gratitude Journal

 Ada pepatah mengatakan “count your blessings,” atau hitung berkatmu. Dengan melakukan ini, kita dapat menjadi lebih positif dalam hidup, jarang stress dan jarang sakit. Kayaknya penting banget di jaman pandemi ketika kata “positif” malah jadi menyeramkan. 

Akhir pekan kemarin, saya belajar bersyukur. Menuliskan 10 hal yang membuat saya berterima kasih hari itu. Mulai dari hal kecil kayak bisa ngopi sampai yang besar seperti menyelesaikan pekerjaan. Tulisan yang jadi Gratitude Journal atau Jurnal Syukur ini adalah salah satu yang saya lakukan dalam rangka self-love. 


Jurnal syukur yang lucu-lucu begini bisa bikin tambah motivasi

Apa sih jurnal syukur? Seperti namanya, jurnal syukur adalah tempat (bisa buku, bisa app, bisa blog dan lainnya) di mana kita menuliskan hal-hal yang kita syukuri setiap harinya. Berbeda dengan diary, jurnal syukur ini tidak perlu panjang-panjang menulis dan tidak perlu detail. Dalam positive psychology, jurnal syukur digunakan untuk mereka yang ingin memfokuskan diri pada hal-hal positif dan disyukuri dalam hidup ini.

08 February 2022

Ketika Suka Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menjadikannya Kebiasaan

Saya suka menulis!

Tapi blog kok berdebu? Buka laptop kok langsung blank dan malah nonton Youtube? Buka hape malah cek Instagram? Hm… Ada yang pernah ngalamin?

Kehabisan ide, writer’s block atau hilang mood biasanya jadi alasan klasik saya tidak kunjung menulis. Belum lagi kalo nge-blog pakai malas ngedit fotonya haha. Di dua kelas persiapan Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) yang saya ikuti minggu lalu, ada banyak tips dan trick yang bisa saya lakukan supaya bisa terus lancar menulis setiap hari. Penasaran?



Dari sesi Ibu Septi Peni Wulandari, Founder Ibu Professional yang berjudul “Pentingnya Mengenal Diri Sendiri dan Peran Keluarga dalam Berkarya,” saya menemukan beberapa tips.

Yang pertama, kita harus tau apa yang kita sukai. Saya suka menulis. Iya, menulis apa? Pendek, panjang, serius, fiksi, non-fiksi, blog? How to identify them? “Kuncinya adalah kebahagiaan,” begitu saran Ibu Septi. “Tulisan sebagus apapun, kalau tidak ada hatinya, tidak sampai ke pembacanya.” Ini bener banget, soalnya kalau tidak suka dengan apa yang kita tuliskan, bagaimana bisa ide muncul dan menulis bisa lancar?

23 January 2022

Konsistensi Menulis untuk Diri Sendiri

Di awal January kemarin, saya memutuskan untuk ikut sebuah writing challenge dari Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) untuk menulis setiap hari selama setahun. Nekat memang. Soalnya saya sering ikutan challenge yang sebulan, bahkan seminggu dan gagal. Ini adalah postingan ke-20 dari challenge tersebut, sebuah achievement yang mau saya rayakan. Meskipun bukan daily post karena ada beberapa hari yang bolong-bolong, tapi tetap saja konsistensi menulisnya ada.

Apa yang berubah? Apa yang saya lakukan berbeda dari challenge-challenge sebelumnya?


Pertama, kebebasan memilih platform. Di semua challenge sebelumnya yang saya ikuti, saya selalu fokus ke blog. Selain karena tujuan ikutan challenge adalah mengisi dan menghidupkan kembali blog yang sering hiatus dan berdebu ini, saya juga hanya konsisten menulis di blog sendiri. Akun UGC ada, akun semacam storial dan wattpad juga ada. Tapi apa yang saya tulis di UGC macam Kompasiana biasanya saya tulis juga di blog, akun UGC saya jadi ikut berdebu. Lalu fiksi bukan kekuatan saya, dan membutuhkan waktu lama untuk menulisnya. Jadi akun-akun storial dan wattpad ya debuan juga.

Di challenge ini saya mencoba tidak membatasi platform yang digunakan. Tidak melulu harus blog, yang penting menulis. Ternyata ini membantu saya konsisten menuangkan tulisan karena fokusnya berpindah dari media yang saya gunakan ke something as simple as “menulis.” Blogging butuh gambar, dan biasanya mengedit gambar atau menemukan ilustrasi yang cocok sering jadi kendala tersendiri.

07 January 2022

When Life Gives You Lime

Tambahin yakult, terus masukin kulkas biar segar.

Gara-gara hujan badai yang akhir-akhir ini sering melanda, pohon jeruk di depan rumah jadi panen alias buahnya pada jatuh semua ke bawah. Terus mau diapain, kan ini jeruk nipis?

Bukan cuma jeruk nipis yang dipanen.

Jeruk nipis banyak manfaatnya karena mengandung vitamin C yang tinggi, mulai dari meningkatkan kekebalan tubuh sampai menjaga keremajaan kulit.

Jeruk nipis plus kecap manis ampuh buat batuk. Waktu masih kecil dulu, obat batuk yang saya minum ya racikan ini. Lalu, kalau pas tidak ada yang batuk bagaimana? Mau diminum langsung, rasa asamnya bikin minuman ini dicuekin Dudu. Padahal vitamin C-nya banyak. Lalu saya coba iseng-iseng buka kulkas dan memeriksa lemari untuk mencari bahan racikan minuman yang pas dengan jeruk nipis, kemudian mendapatkan dua ide berikut.


Lime-Yakult
2 buah jeruk nipis plus 1 botol yakult. Dicampur dalam 1 gelas minuman. Masukkan ke kulkas biar dingin baru dinikmati.


Lime-Honey Tea
4 buah jeruk nipis, 2 sendok makan madu dan sebotol teh pahit. Kalau bisa yang rasa tehnya strong. Saya menggunakan loose tea alias daun teh yang tidak di kantongan. Habis itu masukkin ke kulkas biar dingin.

Sudah bikin dua gelas Lime-Yakult, satu botol Lime-Tea-Honey, tapi jeruknya masih sisa banyak. Dibikin apa lagi ya? Bukan tipe yang bisa masak, tapi di kulkas ada ayam karaage beku yang mungkin bisa jadi masakan semi-homemade.


Lime-Chicken Sweet Sour
Karaage Chicken, 3 buah jeruk nipis dan 2 sachet saus tomat. Bawang putih dicincang halus. Kalau ada bawang bombay sebaiknya dipakai. Jadi, karaage digoreng dulu, tiriskan. Setelah itu masak bumbunya: bawang putih cincang halus, ditumis. Lalu masukkan air jeruk nipis peras, saus tomat dan bawang bombay. Setelah itu tambahkan ayam karaage dan aduk sampai rata.

Meskipun Dudu suka dua minuman yang saya buat, ayamnya sih tidak disentuh haha.

Tapi mungkin lain kali, kalau jeruk nipis jatuh dari pohon sebanyak ini, saya akan coba bikin skincare. Penggunaan lime untuk kulit masih sedikit kontroversial karena kadar acidity alias keasaman yang bisa bikin kulit jadi perih, tapi saya menemukan beberapa resep yang kayaknya patut dicoba:

Coconut Lime Salt Scrub

2 jeruk nipis, parut kulitnya. Potong lalu peras
1 cup sea salt yang kasar
½ cup coconut oil
1 sdt coconut extract
Cara membuat: Campur semua ingredients kecuali parutan kulit jeruk. Setelah semua diaduk rata, taburkan kulit jeruk di atas adonan. Simpan di toples kedap udara.

Atau ada yang punya resep lain dengan jeruk nipis?

03 January 2022

Mengawali Tahun Baru Dengan Membuat Vision Board di Canva

Hari ke-3 di tahun 2022, hari Senin pertama. Yuk, belum terlambat bikin resolusi dan gol tahun baru!

Setiap tahun, saya selalu berpikir ingin melakukan sesuatu yang baru. Harus ada yang berbeda yang dilakukan tahun ini. Awal tahun jadi kesempatan untuk me-reset semua yang sudah lalu. Begitu juga dengan 2022, yang baru hari ini kepikiran mau bikin apa.

Vision Board
Ini favorit saya. Sebelum pandemi, saya pernah ikutan kegiatan membuat vision board bareng Dudu di acara komunitas Single Moms Indonesia. Tahun kemarin nggak bikin sih. Tahun ini akhirnya bikin sendiri di aplikasi Canva.

Ini Vision Board Saya buat 2022

Eh, tapi vision board itu apa? Sekilas terlihat seperti sebuah papan penuh gambar-gambar dan tulisan. Tapi sebenarnya vision board ini merupakan visualisasi rencana dan mimpi kita. Membuatnya seru, dan setelah jadi, sebaiknya ditaruh di tempat terlihat. Biar kita ingat terus sama goal kita selama setahun penuh, membantu kita fokus dan berusaha mencapainya.

Meskipun nggak se-seru kalau menggunting dan menempel sendiri di papan, digital vision board juga banyak gunanya. Yang pertama tentunya nggak banyak sampah hehe. Karena bikinnya di laptop. Lalu hasilnya bisa dipajang jadi wallpaper laptop biar setiap hari diingatkan. Selain itu, vision board digital juga lebih awet. Kalau yang fisik bisa kotor dan bisa rusak, yang digital bisa disimpan selamanya.

Caranya gimana?
Pertama, pilih aplikasinya.


Yang pasti ada di laptop, dan paling mudah digunakan adalah Powerpoint. Tinggal copy paste gambar-gambar ke sana dan tambahkan tulisan. Tidak perlu sign-up atau mendaftar. Bahkan bisa dikerjakan tanpa koneksi internet karena aplikasinya kan biasanya sudah satu paket dengan MS Office yang ter-install di laptop kita. Downside-nya hanya, ya kurang keren hasilnya kalau dibandingkan dengan yang dibuat lewat aplikasi kekinan seperti Canva hehe.

Di Canva ada banyak template Vision Board yang dapat digunakan, namun sayangnya banyak yang berbayar atau khusus pelanggan Canva Pro.

Jangan khawatir, ada banyak template lain yang dapat digunakan sebagai template vision board. Contohnya Facebook Post (ukuran 940px x 788px) atau ukuran Postcard (148mm x 105mm), lalu cari tema dan element scrapbook untuk mempercantik hasilnya.

Pilihan template Vision Board di Canva

Kedua tentukan tema yang paling mengena, goal yang harus dicapai.
Meskipun vision board umum juga dapat membantu, tapi fokus yang spesifik dapat membuat goal kita lebih mudah tercapai. Cari satu bagian dari hidupmu yang ingin diubah di 2022. Misalnya ingin jalan-jalan, ingin kuliah lagi, ingin karir lebih baik, ingin lebih punya waktu bersama keluarga, atau ingin punya bisnis sendiri. Hm… saya ingin apa ya?

Ketiga, cari gambar yang sesuai.
Kalau mimpi kita ada lebih dari 1, misalnya ingin jalan-jalan dan punya bisnis sendiri, sebaiknya gambar-gambar yang kita temukan dikumpulkan sesuai tema. Yang sebelah kanan bisa penuh dengan gambar pantai, gunung, Jepang, Korea dan negara lainnya. Sementara yang kiri bisa gambar orang presentasi, klien, co-working space incaran dan lain sebagainya.

Jangan lupa pakai tema & element "scrapbook" biar lebih cantik

Setelah semua lengkap, barulah mulai men-desain.

Satu hal yang harus dilakukan adalah meletakkan Vision Board ini di tempat yang kita bisa lihat setiap hari. Makanya kalau digital ya jadikan wallpaper laptop atau ponsel.

Sebenarnya lebih seru lagi kalau bisa dilakukan bersama anak sih.