07 March 2019

Cara Mudah Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Anak

Brokoli? Hiy!

Itu reaksi saya sih haha. 
Anak saya, si Dudu, suka brokoli kok.Tapi saya bukan fans berat sayuran dan ternyata preferensi makanan itu menurun ke anak saya. Apalagi saya sibuk, sebagai ibu bekerja, tidak ada waktu untuk menyiapkan makanan 4 sehat 5 sempurna untuk si Dudu. Untungnya saya menemukan cara mudah untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, yaitu dengan yogurt.


Minum Yogurt sambil main? Bisa dong.
Karena tidak suka sayur, saya jadi malas masak sayur, malas memesan sayur kalau makan di restoran dan yang pasti saya juga jarang makan sayur. Otomatis asupan serat sayur dan buah di keluarga ini jadi berkurang jauh. Kalau pas ada Mama, kadang-kadang Dudu bisa punya brokoli rebus saos mentega atau sop wortel sebagai lauk makan siang. Sop wortel? Yes, Dudu terobsesi dengan wortel karena berusaha mencegah naiknya minus dan keharusan pakai kacamata. Maklum, anak jaman sekarang kan semuanya serba gadget. 

Pada satu kesempatan, kita berdua berkenalan dengan Yo! Yogurt for kids. Awalnya tidak aware kalau ini adalah yogurt anak milik Heavenly Blush. Dudu selalu beli yogurt plain atau greek yogurt. Eh, ternyata
 ada Heavenly Blush Yo! yang lebih menarik dengan rasa yang lebih tepat untuk Mama sibuk macam saya yang mencari cara mudah memenuhi kebutuhan nutrisi anak sehari-hari. 

25 February 2019

Melestarikan Bahasa Ibu Dimulai dari Orang Tua

“Nomor tujuhnya ada di atas.”
Weekend kemarin Dudu (hampir 13 tahun) mengarahkan seorang kakek yang kebingungan menekan tombol lift. Si kakek salah menekan angka 5 dan 3 sebelum akhirnya Dudu membantu menekan nomor 7.
“Thank you. Eyes no good.”
Itu yang diucapkan anak si kakek kepada Dudu, meskipun Dudu dari tadi berbicara bahasa Indonesia. Cuma karena muka si Dudu terlihat bule.

“Anaknya bisa Bahasa Indonesia, Bu?”
Saya sering dapat pertanyaan seperti itu, yang terkadang dijawab langsung sama Dudu, “saya bisa Bahasa Indonesia.”


(Baca Juga: Anak saya Bilingual)

Dudu sekolah di international school, di mana bahasa Indonesia hanya digunakan untuk bicara dengan pak supir, satpam atau cleaner sekolah. Mbak dan suster bisa bahasa Inggris, bahkan Mandarin. Semua percakapan di sekolah menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia hanya materi pembelajaran seperti kita belajar bahasa Inggris di sekolah dulu. 

Official Poster UNESCO
ada yang bisa temukan Bahasa Indonesia di situ?
Tanggal 21 Februari kemarin adalah Hari Bahasa Ibu Internasional sesuai ketetapan UNESCO, berdasarkan hari Gerakan Bahasa di Bangladesh yang merupakan perjuangan untuk pengakuan bahasa ibu mereka di dunia. Tujuan dirayakannya Hari Bahasa Ibu Internasional ini adalah mencegah punahnya bahasa-bahasa di dunia karena ketertarikan generasi millenial dalam mempelajari bahasa asing. Selain itu,dunia yang semakin terbuka, dengan internet dan media sosial, membuat bahasa asing jadi semakin penting untuk komunikasi.

Eh, tapi Dudu masuk generasi millenial tidak ya? Well, millenial ini lahir di pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Dudu lahir 2006 jadi mungkin masih borderline millenial ya. Yang agak menyedihkan, kalau saya mampir ke sekolah Dudu adalah banyaknya anak yang lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Padahal mereka semua orang Indonesia, lahir di Indonesia dalam keluarga Indonesia.

Percaya atau tidak, si bule di rumah saya ini bahasa ibu-nya adalah Bahasa Indonesia. Saya pernah beberapa kali curhat soal ini di blog. Bahasa Indonesia Dudu baku, jadi banyak yang menyangka dia sulit berbahasa Indonesia. Padahal itu gara-gara waktu kecil, dia keseringan nonton Spongebob dan Doraemon. Ups. Tapi seiring pergaulan yang banyak menggunakan bahasa asing, saya harus tetap menjaga Bahasa Indonesia agar tidak ‘dilupakan’ oleh generasi anak saya ini.


16 February 2019

Tips Anti Kalap di Bazaar Buku

Bazaar buku murah mulai muncul lagi. Weekend ini kita pergi ke Bootopia-nya Periplus di Pulogadung. Bulan depan Big Bad Wolf ada lagi di ICE BSD. Ujung ke ujung. Tapi ya dijalanin, karen buku, terutama yang bahasa Inggris, termasuk sulit ditemukan di Indonesia. Masalahnya saya dan Dudu sering lapar mata kalo lihat buku.

Jadi, gimana caranya biar tidak kalap belanja kalau pergi ke bazaar buku murah sama anak?



Salah satu tempat date favorit kita berhubungan dengan buku. Waktu Dudu balita, kita berdua sering menghabiskan waktu di perpustakaan dan toko buku. Lalu sekarang jadi rajin pergi ke bazaar buku demi mencari buku, terutama buku impor, yang murah. Kalau belanja sendiri, kita hanya perlu menghibur diri kalo memang tidak ada budget untuk beli buku sebanyak itu. Nah, kalau pergi sama anak kan berarti ada satu kepala lagi yang harus dinegosiasikan.

07 February 2019

Tantangan Jadi Seorang Introvert Mom

Kalo saya mengaku Introvert, tidak ada yang percaya. Padahal berdasarkan test 16 kepribadian alias MBTI ( Myers–Briggs Type Indicator) itu, saya masuk kategori INFP (introversion, intuition, feeling, perception). Orang-orang di kategori ini termasuk idealis, selalu berusaha melihat kebaikan dari setiap orang atau kejadian, dan berusaha mencari jalan agar semuanya lebih baik. 



Apa pengaruhnya kepribadian ini buat peran saya sebagai orang tua? Menurut website 16personalities.com, orang tua yang berkepribadian INFP ini tipe yang hangat dan selalu mendukung anaknya. Biasanya mereka cenderung membiarkan anak bertumbuh dan mengeksplorasi tanpa banyak campur tangan. Anak-anak bisa mencari jati diri sendiri dengan bebas, walaupun masih dalam guidance yang ditetapkan orang tuanya. Biasanya rumah orang tua INFP ini cinta damai. Agak kurang sesuai sebenarnya karena saya dan Dudu kerjanya berantem melulu haha. 


30 January 2019

Pentingnya Membuat Vision Board Bareng Anak

Saya hobi scrapbooking. Ngeprint foto, gunting-gunting, nempel-nempel lalu masukin album. Jadi, waktu Komunitas Single Moms Indonesia mengadakan acara membuat "Vision Board", saya dan Dudu langsung ikutan. Ya, berguna banget karena kita berdua suka art and craft.

Ini Vision Board kita!
Hm... Apa bedanya sama Scrapbook?

Kalau scrapbook biasanya 'preserving memories' alias album kenangan. Kalau vision board ini planning ke depan. Mimpi dan rencana yang ingin dicapai setahun ke depan. Eh, setahun doang? Waduh salah dong. Soalnya saya dan Dudu sibuk memproyeksikan visi kita tanpa jangka waktu. Dudu bahkan sudah memilih gambar visi "lulus kuliah" untuk ditempelkan. Haha. Ya sudahlah.

Ini adalah bahan-bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat vision board:

  • Gunting
  • Papan
  • Lem (atau dobel tape)
  • Gambar-gambar dari majalah, koran, brosur atau print sendiri dari internet yang merupakan visi dan mimpi setahun ke depan.
  • Hiasan (ini tidak wajib tapi saya kebiasaan Scrapbooking)

Cara Membuat:

Gambar digunting lalu ditempelkan ke papan. Sebenarnya hanya begitu saja. Tapi buat yang hidupnya lebih teratur, vision board bisa dibuat per-kategori misalnya uang, cinta, jalan-jalan, pendidikan, karir dan lain sebagainya. Ada juga yang membaginya berdasarkan bulan atau prioritas. Misalnya gambar rumah dan sekolah ada di paling atas, berarti yang jadi prioritas adalah tinggal di rumah sendiri dan sekolah anak.


Kalau gambarnya kurang, kita bisa gambar sendiri lalu ditempelkan. Setidaknya itu yang saya lakukan bersama Dudu. Kita bahkan membawa stiker bundar yang bisa ditempel dan disusun menjadi huruf. Tidak yakin apakah vision board ini lebih efektif polos atau dihias-hias karena tujuannya kan memvisualisasikan mimpi, dan bisa saja dekorasi lucu-lucu itu jadi mengalihkan perhatian dari gambar utamanya. 

But again, I did scrapbooking dan Dudu juga senang menggambar. Jadi vision board kita pasti penuh dekorasi. Haha.



Kenapa seru dilakukan sama anak?

Soalnya kita jadi punya kesempatan diskusi. Apalagi kalau anaknya sudah seumuran Dudu dan punya visi "lulus kuliah". Diskusi ini dimulai dari perencanaan vision board. Selain mencari gambar untuk diri sendiri, saya juga mencarikan keinginan Dudu. Mau tidak mau kita ngobrol dan diskusi. Sambil menempel pun kita ngobrol (dan berantem) tentang apa mau ditempel di mana, gambar mana yang utama dan lain sebagainya. Hasilnya bisa dilihat sendiri, kita ternyata mirip, kebanyakan mimpi jalan-jalan. Bahkan nabung pun untuk jalan-jalan. Ketika menurut dia saya kurang banyak ngeprint gambar, yang Dudu buat sendiri adalah gambar pesawat terbang dan motor boat.


"Ini kapal apa, Du?"
"Itu lho, Ma, seperti yang kita naikin ketika ke Ujung Kulon."

Jangan khawatir kalau anaknya masih terlalu kecil, menurut saya anak TK pun bisa diajak membuat vision board karena mereka pasti sudah punya pendapat. Sudah bisa ditanya lebih suka A atau B, mau pergi ke tempat X atau Y.

Ada beberapa tips membuat vision board yang saya temukan di internet. Awalnya iseng, ternyata malah jadi serius. Yang pertama adalah jelas dan spesifik. Mau traveling? Boleh. Ke negara apa? Kapan? Bukan cuma sekedar rencana jalan-jalan. Dudu bahkan sudah menggambarkan mau naik pesawat dan motor boat. Saya mau road trip di Amerika, menyurusi Route 66 dari Chicago. Kedua, gunakan kata-kata untuk memperjelas. Saya bahkan menempelkan resep masakan yang mau saya coba. Ketiga, taruh goal yang paling utama, yang paling diinginkan, di tengah papan. Tidak selalu harus goal yang paling duluan dicapai secara prioritas, tapi goal besar yang butuh waktu mewujudkannya.

Menggunting dan menempel pun seru buat melatih motorik anak, dan kita yang sudah terlalu sering menggunakan gadget. Saya dan Dudu paling senang art and craft yang menghasilkan sesuatu seperti ini. Apalagi kalau setelah vision boardnya jadi, kita bisa sharing dengan peserta lainnya.


Oh iya, komunitas Single Moms Indonesia ini adalah support group untuk para ibu tunggal di Indonesia. Awalnya saya ikutan hanya iseng-iseng karena diajakin teman blogger yang ternyata foundernya haha. Terus ketagihan karena selain inspiratif dan empowering, membernya juga seru-seru. Kapan-kapan ya saya cerita.

Setelah semua keluarga selesai presentasi, saya baru sadar kalau di vision board saya tidak ada rencana tentang jodoh. Bahkan foto Super Junior yang disebelin Dudu juga tidak ada di board itu. Entah bagaimana, belajar bahasa asing, rencana naik Train to Busan, hidup sehat dan bisa masak malah jadi lebih prioritas. Dan semesta sibuk mengingatkan kalau saya lupa nempelin jodoh di vision board. Soalnya, di weekend yang sama, banyak yang mendadak ribut kalau saya kurang sosialisasi, malas kenalan sama cowok, dan egois karena meskipun saya happy sendirian, anak saya kan butuh sosok bapak.

Yah, tahun depan deh. Udah jadi tuh papan-nya.

22 November 2018

Liburan Musim Dingin di Provinsi Gangwon-Do, Korea Selatan

Jalan-jalan ke mana lagi kita, Ma?
Wah iya, Du. Sudah waktunya planning traveling lagi. Mau ke mana?
Yang pasti tempat yang cold dan ada saljunya, Ma.

Waduh.

So let's start making a list of places we would like to visit in winter time. Di Korea Selatan. Iya, kita belum puas dan ingin balik lagi.


Pemandangan dari atas bus yang membawa kita ke Sokcho awal tahun kemarin.

Exploring (More) Gangwon-do

Waktu kemarin ke provinsi Gangwon-Do, Korea Selatan, fokusnya hanya Gunung Sorak. Padahal di provinsi kampung halaman Heechul ini ada banyak kegiatan musim dingin yang bisa dilakukan selain berkeliling Sokcho. Dengan status yang sekarang sebagai tuan rumah Winter Olympics, tentunya Pyongchang dan sekitarnya jadi lebih mudah diakses dengan fasilitas lebih lengkap daripada sebelumnya. Jadi masih ada beberapa tempat yang jadi to-do list saya dan Dudu di Korea Selatan.



Pemandangan dari atas kereta Chuncheon - Seoul. Jadi pengen turun kan?

20 November 2018

Stop Mom War: Prioritas Jadi Bahagia

Satu setengah bulan lagi, kita akan masuk tahun baru. Apa kabar resolusi 2018?

Tahun ini saya cukup senang karena resolusi saya menulis buku tercapai. Meskipun secara tidak sengaja karena awalnya saya hanya ikut lomba yang diadakan oleh komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan DivaPress, dan tidak sendirian karena berbagi cerita dengan emak-emak lainnya. Tapi tetap saja, terbitnya buku ini berarti satu resolusi saya tercapai. Hore!



Bukunya berjudul “Stop Mom War”, isinya kumpulan curhat dan cerita para ibu-ibu yang sedang atau pernah terjebak Mom War. Apa sih Mom War? Buat yang belum pernah mendengar istilah ini, Mom War ini adalah pertengkaran (yang menurut saya tidak perlu) antara para mama yang memiliki pola pengasuhan berbeda. Soal ASI atau susu formula, soal jadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, soal melahirkan normal atau operasi dan sejenisnya. Yang satu merasa lebih baik dari yang lainnya.

Sadar atau tidak sadar, kita semua punya sisi kompetitif dalam diri kita sendiri. Dan sebagai seorang mom, kita ingin melakukan yang terbaik bagi anak kita. How do you know you’re the best if you don’t compare it with others? Bagaimana saya tahu kalau saya melakukan yang benar, yang terbaik buat Dudu, kalau tidak ada mama-mama lain sebagai perbandingan. Mengutip tulisan Gail O’Connor di Parents.com, “tidak ada seorang mama pun yang yakin 100% bahwa apa yang dilakukannya ini benar. Dan ketika ada artikel tentang mom war, ibu bekerja vs ibu rumah tangga, kita tidak bisa memungkiri bahwa kita jadi mempertanyakan diri kita sendiri.”


Dari semua war yang pernah saya alami, saya memutuskan untuk menulis tentang gadget. Disebut gawai dalam bahasa Indonesia.

10 October 2018

Blogging dan Impian Masa Depan

“Kenapa nge-blog?”Pertanyaan standar yang malah bikin bingung setelah sekian lama malang melintang di dunia blogging. 

Alasan kenapa saya ngeblog sama dengan alasan kenapa saya makan. Saya makan karena saya lapar, dan kalau tidak makan nanti maagnya kambuh. Saya ngeblog karena saya ingin menulis, dan kalau tidak nulis nanti saya stress. Semacam maag gitu. Jadi tidak konsentrasi mengerjakan hal lain, just because I felt the urge to write the thoughts I have in mind. Sama saja kan? Kalau lapar juga tidak punya energi untuk mengerjakan hal lain.


Menulis sudah jadi bagian dari hidup saya sejak SD. Meneruskan kuliah di jurusan jurnalistik, kemudian bekerja jadi wartawan, membuat menulis berubah dari hobi jadi beban studi dan pekerjaan. Di sinilah blog berperan. Ketika menulis jadi terbatas oleh banyak syarat & ketentuan, ngeblog menyelamatkan passion saya yang satu itu. Saya jadi bisa menuliskan hal-hal di luar yang disuruh editor atau yang dimandatkan masyarakat. Bahkan ketika saya sudah tidak lagi jadi kuli tinta, blog tetap setia menemani saya menuangkan ide dan curhatan hati.

I blog because I love to write. And I have to write those stuffs down.