17 June 2018

4 Website Seru Yang Bikin Semangat Menulis

Jenuh menulis? 100 kata saja tidak sampai-sampai? Well, saya sempat dan masih mengalami hal itu. Padahal ide dan tema ada banyak bertebaran, tapi menulisnya kok berat. Sudah pindah café dan ganti suasana juga tidak membantu. Lalu gimana? I forced myself to write. Saya mengharuskan diri sendiri menulis sesuatu setiap harinya. 


Ada beberapa fun “free writing” tools yang bisa membantu kita membiasakan diri menulis setiap hari. Kalaupun tidak jadi satu blogpost, tulisan-tulisan random tersebut bisa kita simpan untuk “dilanjutkan” di kemudian hari ketika ada mood dan waktu posting yang tepat.

750words.com

Website buatan suami istri, Buster & Kellianne, ini menantang kita menulis setidaknya 750 kata setiap harinya (24 jam menggunakan timezone Amerika jadi dimulai jam 12 siang WIB). Tampilan websitenya minimalis. Halaman Homenya hanya berupa penjelasan tentang 750words.com dan siapa saja yang sedang menulis, lalu siapa saja yang sedang ikutan tantangan menulis setiap hari selama sebulan dan lain sebagainya. Kalau kita sudah sign up dan login, kita akan berhadapan dengan halaman kosong hanya berisikan tanggal jumlah huruf yang berubah sesuai dengan ketikan kita.

15 June 2018

Menjawab Kekepoan di Kumpul Keluarga

Yang paling harus dipersiapkan menyambut Lebaran adalah mental dan segudang jawaban penangkal pertanyaan keluarga yang penuh perhatian.

Bahkan saya dan keluarga yang tidak berlebaran pun merasakan hal yang sama ketika Tante yang satu ini sudah memposting undangan “makan opor ayam” di grup chat keluarga. Opor ayamnya enak. Si Tante memang jago masak. Percakapan yang terjadi di meja makan ketika kita sedang sibuk mengunyah juga dahsyat. Topiknya bisa beragam, dari pacar, jurusan kuliah hingga rencana traveling. Meskipun sering harus melakukan persiapan ekstra, saya tetap menunggu seri sharing session keluarga ini. 


Ngumpul setiap tahun sekarang sepupu yang ini sudah pada mau kuliah.
Tahun lalu obrolannya tentang sekolah. Masuk SD, masuk SMP, masuk kuliah sampai ke pekerjaan pertama seorang sepupu yang baru lulus. Tahun ini sepertinya akan fokus ke pernikahan adik bungsu saya yang tinggal menghitung bulan ini. Untungya si adik sedang di luar negeri jadi dia terselamatkan dari pertanyaan kepo para Tante.

Dan meninggalkan saya sebagai juru bicaranya.

Setelah itu pasti pertanyaannya jadi berubah: “kamu kapan nyusul?”
“Anak saya sudah SMP, Tante.”
“Ya, makanya, nanti keduluan Dudu dapat pacar lho.”
Yha, terus kenapa gitu?

04 June 2018

Coffeegasm: Coffee Shop Rasa Drama Korea

Pernah terbayang adegan drama Korea di mana si pelanggan cewek masuk ke coffee shop dan disambut sapaan ramah tokoh utama di belakang kasir? Ya kurang lebih begitu rasanya kalau masuk ke Coffeegasm. Hanya saja, coffee shop yang ini adanya di deretan ruko-ruko Mall of Indonesia Kelapa Gading. 


Lokasinya strategis, Coffeegasm terletak persis di sebelah pintu Lobby 8 Mall of Indonesia. Di blok yang sama ada beberapa coffee shop, café dan bakery yang saya pernah kunjungi semuanya karena tempat ngopi langganan di mall persaingannya sengit. Mulai dari anak ABG sekolahan, ibu-ibu arisan dan suster bawa stroller (isinya bayi tidur sementara majikannya belanja) semuanya memenuhi tempat duduk dan ikut sharing wi-fi. Jadilah di satu hari libur, saya dan Dudu keliling Mall of Indonesia dengan misi mencari tempat ngedate alternatif.

13 May 2018

Book Review: Sad Girls by Lang Leav

“We all need to follow our intuition, even if it takes us down the wrong path. Otherwise, you’ll always be second-guessing yourself.”

Sepotong nasihat tersebut diberikan seorang publisher kepada tokoh utama yang bekerja menjadi seorang jurnalis di korannya. Audrey, sang tokoh utama, saat itu sedang galau dan memutuskan untuk resign dan pergi ke Colorado untuk memulai hidup baru. Sebuah perjalanan jauh mengingat setting cerita ini adalah Sydney, Australia.


Menyelesaikan buku karya Lang Leav ini jadi prestasi sendiri untuk saya, karena saya jarang baca buku yang terlalu cewek. But I think if I can finish this, then the book is not girly enough. Haha. Tokoh utamanya cewek, punya sahabat dekat cewek. Lalu konfliknya seputar pacar, ekspektasi orang tua dan mengejar mimpi. Lah, apa serunya? Yang membedakan buku ini dan mungkin buku-buku “coming-of-age” lainnya adalah di sini ada yang mati. Iya, mati. Dan karena saya selalu bilang kalau saya akan baca buku dan nonton film drama jika ada yang mati atau adegan tembak-tembakannya, saya meniatkan diri baca buku ini. 



Sad Girls
Pengarang: Lang Leav
Halaman: 362
Paperback
Tahun: 2017

Tapi sebelum lanjut, untuk yang sudah pernah baca puisi karya Lang Leav sebelumnya, jangan expect too much dari karya fiksinya. Baca saja, enjoy ceritanya dan abaikan bagian yang menurut kalian aneh.

01 May 2018

Overcooked!: Game buat Mama yang Tidak Bisa Masak

Lupa kalau sedang menanak nasi di ujung sebelah sana, saya sibuk memotong lalu menggoreng ayam dan membuat kebakaran setempat. Lalu saya disalahkan Dudu yang harus mengulang masak nasi. Padahal burritonya hampir jadi, diserving dan kita tidak perlu kehilangan poin.

Yah, mau di dapur beneran atau di game Overcooked! PS4, saya memang gagal melulu kalau memasak.

Overcooked!
Rated E for Everyone
(Mild Cartoon Violence)
Developed by Ghost Town Games 



Kerjaan saya dan Dudu di hari libur kejepit kemarin adalah main Playstation 4. Console yang sudah jadi penghuni rumah saya selama kurang lebih 10 bulan itu sekarang sudah ditemani banyak game. 90%nya game zombie, open world dan first-person shooter punya Dudu. Tapi ada satu game lucu dengan rated E (alias semua umur) diantara game yang harusnya untuk 17 tahun ke atas itu. Judulnya OVERCOOKED!.

08 April 2018

Merencanakan Playdate Jelajah Nusantara dengan Fitur Eksplor Skyscanner

Saya sedang mentok mau liburan ke mana lagi.

Baru juga awal tahun kemarin saya dan geng Mama Playdate pulang dari Korea, tapi kami sudah mau merencanakan liburan berikutnya. Dan tidak seperti playdate sebelumnya, kali ini kami bertiga mentok ide.


Singapore mahal, kata teman saya. Dalam negeri aja gimana?
Tapi dalam negeri mau ke mana? Bromo lagi? 



Beberapa tahun lalu, kami bertiga beserta keluarga masing-masing pernah “terjebak” 16 jam di gerbong kereta Gajayana menuju Malang. Trip playdate perdana keliling Malang, Batu dan niat melihat sunset di Gunung Bromo. Tidak kesampaian karena terlalu berkabut. Dari situ, playdate dalam bentuk liburan jadi semacam tradisi. Kemudian para Mama dan anak-anak Playdate ke Singapura. Main-main ke Universal Studio di Pulau Sentosa, Legoland di Malaysia dan menginap ramai-ramai di satu hostel dengan bunk bed. Awal tahun ini, berkat tiket pesawat Garuda Indonesia dengan harga terjangkau yang kebetulan available pas malam Tahun Baru, kita berangkat Playdate ke Korea.

Sekarang kita blank mau pergi ke mana lagi buat Playdate berikutnya. Tapi tujuannya sudah pasti: dalam negeri alias jelajah nusantara aja.

Udahlah, Bromo lagi aja kan kemaren kena kabut jadi belom liat matahari terbit. Mending kita beli tiket pesawat ke Surabaya trus nyewa mobil ke Malang.


Not a bad idea sih.

Tapi tetap saja saya merasa basi kalau harus mengulang satu destinasi. Terus, mau dibawa ke mana dong liburan kita? Dalam merencanakan #DateWithDudu versi liburan, saya selalu mulai dari tanggal. Setelah tahu ada berapa hari yang bisa digunakan jalan-jalan, maka saya baru memilih destinasi. Selalu begitu sampai saya mengenal fitur eksplor yang ada di Skyscanner. 

06 April 2018

K-Drama with Dudu Episode 2: Menuju Matahari Terbit di Laut Musim Dingin

Sokcho?

Ahjumma penjaga loket bis sampai bengong dan menuliskan S-O-K-C-H-O dengan alfabet. Tidak yakin bahwa tujuan kami memang ke sana.

Ne, Sokcho.

Oh, mungkin karena hari itu 1 Januari dan udaranya minus beberapa derajat. Makanya aneh kalau ada yang mau ke pantai. Maka saya segera menambahkan,

Seorak-san-e kago shipoyo.

Barulah si Ahjumma menanyakan jumlah tiket yang akan dibeli, dan mengarahkan kami untuk kembali ke tempat menunggu bis sekitar 30 menit sebelum jam keberangkatan. Setelah mengucapkan terima kasih, kami (rombongan 9 orang dengan 4 anak kecil super excited dengan udara winter Korea ini) segera menyeberang kembali dari platform 9C ke dalam arrival hall di Incheon Airport. 





Soalnya badannya masih kaget dari cuaca Jakarta yang super panas. Dan berharap kali aja berpapasan dengan bias kesayangan di airport, meskipun dari instagram postnya saya tahu mereka semua ada di rumah. 

17 February 2018

Arti Film Perjuangan Untuk Anak Jaman Sekarang

Sebelum bertanya pada Dudu, saya mencoba mengingat kembali film perjuangan apa yang pernah saya tonton? Mungkin ada, tapi saya tidak ingat satu pun.

Astaga.

Lalu bagaimana saya expect Dudu untuk menonton film perjuangan? Mungkin satu-satunya yang bisa menghubungkan Dudu dengan “film perjuangan” adalah bagaimana para survival di The Walking Dead berjuang bebas dari kepungan zombie. Dudu mungkin aware bahwa bangsa Indonesia pernah dijajah Belanda. Tapi karena Dudu sekolahnya internasional, tidak pernah ada penekanan bahwa sejarah tersebut penting dan seharusnya menjadi bagian dari dirinya.


Atau tidak. 




Toh, Dudu bukan orang Indonesia. Kan dia keturunan sekutu yang ikut mengebom Hiroshima dan Nagasaki, lalu meratapi kapal-kapal yang tenggelam di Pearl Harbor. Mungkin sebenarnya perjuangan Martin Luther King Jr. lebih berfaedah buat sejarah Dudu kelak.

Kalau saya tidak ingat satu pun film perjuangan yang saya tonton, bagaimana saya mau mengkritisi atau memberi saran bagi para pembuatnya?