06 May 2020

Awas, Biawak Masuk Rumah!

Salah satu fenomena ‘alam’ yang sering muncul jadi meme di masa pandemic Corona adalah kembalinya binatang-binatang ke alam bebas. Lumba-lumba dan angsa yang muncul lagi di Italy (yang lalu dibantah sebagai fake news oleh National Geographic) atau cerita tentang gajah masuk perkampungan (yang dibantah media Tiongkok). Lalu ada cerita lumba-lumba di Turki, babi hutan di tengah kota Israel dan kambing gunung yang muncul di Wales (yang ini diverifikasi BBC, katanya benar).

Semua itu di luar negeri.

Yang paling dekat (dan penting) buat saya dan Dudu adalah Biawak. 

Yang pertama heboh, ya siapa lagi kalo bukan Dudu! Coba cek chatnya di Whatsapp Grup keluarga yang membanggakan binatang peliharaan barunya ini. 

Semangatnya Dudu pamer Biawak
Astaga gede banget! 

Lebih besar dan gemuk dari terakhir bertemu sebelum Corona, meskipun sebenarnya tidak yakin juga kalau ini biawak yang sama. Bahkan saya juga tidak yakin ini biawak, kadal, buaya (buaya darat mungkin haha)? 

19 April 2020

Jalani Hidup Apa Adanya Sebagai Orang Tua

Saya tipe orang yang spontan, jadi saya menjalankan no tipu-tipu parenting style. Maksudnya? Contohnya begini, kalo keuangan lagi mepet, ngga pura-pura mampu. Kalo lagi banyak uang juga ngga bilang bokek. Sama Dudu, saya selalu bicara jujur apa adanya. Soalnya buat saya, hubungan sama anak itu harusnya bisa dijalani tanpa syarat ketentuan.

Tapi pertanyaannya, seberapa jauh kita bisa jujur sebagai orang tua?

Well, pada awalnya, saya berpikir bahwa jadi seorang ibu itu harus jadi supermom. Harus bisa segalanya. Harus sempurna. Bisa masak, bisa mengurus anak, dan bisa mengatur rumah tangga. Di beberapa kejadian, saya bertemu para supermoms ini, yang sambil kerja masih bisa menelepon ke rumah memastikan si mbak masak dengan benar, si supir menjemput anak dari sekolah dan si anak sore-sore mengerjakan PR. Saya? Telepon ke rumah pun tidak. Mama macam apa? Begitu biasanya saya bercanda. Saya tidak bisa masak, tidak pernah mengingatkan anak bikin PR lewat telepon, dan tidak ambil pusing juga. 


Anaknya belajar sendiri ngga perlu diingetin hehe
Pura-pura menyiapkan bekal anak atau pun mengajari anak belajar ujian pernah saya lakukan haha. Terpengaruh postingan para mama lain di media sosial, yang selalu menunjukkan gambar seorang ibu yang sempurna. Yang tetap cantik pas masak dan yang anak-anaknya selalu dapat nilai sempurna. Tapi ya, setelah dicoba, ternyata itu bukan saya banget.

Bagian paling sulit dari menjalani hidup apa adanya adalah ketika saya ditanya tentang status sebagai orang tua tunggal. Pada awalnya saya sulit terbuka karena faktor lingkungan dan orang tua. Di Indonesia, status single mom juga masih terdengar tabu. Kalau saya jujur, dampaknya bukan hanya ke saya, tapi ke Dudu juga. Waktu awal-awal jadi single mom, media social belum sebanyak ini, jadi tidak ada peer-pressure buat posting foto bagus. Sekarang, bukan hanya saya yang punya akun, Dudu pun punya akun Instagram (yang dia abaikan karena katanya “tidak menarik posting seperti itu”). Jadi, bagaimana membangun citra sebagai ibu tunggal yang baik di tengah postingan keluarga lengkap dan bahagia. Kan saya juga mau posting?

Lama-lama saya lelah sendiri dan memutuskan untuk ya sudah cerita saja, posting saja apa adanya. Kalau kata salah satu videonya IM3 Ooredoo, “tanpa tedeng aling-aling.” Saya sering dengar istilah itu, cuma baru kali ini paham dengan interpretasinya. Jujur sama diri sendiri, hidup apa adanya tanpa ada yang ditutupin. Daripada posting quotes galau, mendingan posting foto jalan-jalan sama anak. Ya kan? 



Saya tipe yang berteman sama anak. Kami berdua bisa menghabiskan waktu jalan-jalan, makan atau main PS4 seharian. Sama anak tidak perlu basa-basi. Apa adanya saja. Kalau saya sedih karena ulangan Bahasa Indonesianya bukan yang paling tinggi di kelas, ya saya bilang. Kalau saya senang karena ulangan matematikanya pas-pasan, saya ungkapkan juga. Meskipun bingung kenapa saya anti-mainstream dan lebih care terhadap ulangan Bahasa daripada matematika, tapi Dudu jadi tau ekspektasi saya.

Karena saya selalu jujur sama dia, dia pun kalo ngomong tanpa basa-basi sama saya dan teman-teman saya. Pernah suatu kali Dudu bilang (kurang lebih begini): orang dewasa itu berbohong supaya anak-anak menurut. Perkaranya cuma karena dia mau berenang sama teman-temannya, sementara cuaca gerimis, trus dilarang dengan alasan belum makan dan lain sebagainya. Kenapa tidak terus terang saja kalau memang tidak boleh berenang?

Begitu juga dengan tidak adanya wi-fi di rumah, jadi hidup kita bergantung pada kuota internet yang mengakibatkan Dudu tidak main game online bersama teman-teman sekolahnya. Semua orang ngumpul di PUBG atau Clash Royal atau Mobile Legend, sementara Dudu lebih suka nonton Youtube dan main RPG. Bermain dengan teman sebaya bukan lagi ketemu di mall atau nonton bioskop tapi mabar. Dudu jadi kurang akrab dengan teman-teman sekelasnya karena obrolannya tidak nyambung. 


Tapi waktu ditanya apakah kita perlu punya wi-fi, jawabannya, “Tidak perlu, Ma. Saya tidak membutuhkan acknowledgement from my friends hanya karena sebuah game. Mereka juga akan cepat bosan kalau main game.” So, kita berdua masih bertahan dengan kuota paket data masing-masing.

Sebagai pengguna IM3 Ooredoo, saya mensyukuri kehadiran produk telekomunikasi yang simple dan bebas syarat ketentuan seperti Freedom Internet. Jadi ngga pusing harus nunggu tengah malam kalau mau posting di sosmed atau download game karena sayang sama kuota utamanya. Sebagai orang yang jarang ngecek kuota, fitur Pulsa Safe dari Freedom Internet membantu banget biar pulsa ngga kepotong saat kuota habis. Soalnya saya paling kesel kalo ngga sadar kuota habis, trus baru sadarnya setelah pulsa kepotong, ikut habis dan internetnya putus. Padahal ya, salah sendiri juga ngga ngecek haha.

Ngomong-ngomong soal main PS4, pernah ada temannya Dudu yang bilang kalo dia iri karena Dudu bisa main PS4 sama Mamanya. Soalnya kebanyakan Mama yang ada ngomel saat anaknya nempel sama game dan gadget. Jadi, seharusnya dari awal saja ya jujurnya. Haha.

14 April 2020

Review & Reflection: Romance is A Bonus Book

Penasaran nonton drama yang satu ini karena tokoh utamanya seorang editor dan copywriter. Dan jarang-jarang ada drama Korea membahas struggle seorang single mom mencari kerja (dan cinta) lagi. Ini cerita tentang mengejar kesempatan kedua.

Tapi jujur, episode pertama bikin ngantuk setengah mati, soalnya drama bukan genre saya. Saya nontonnya Kingdom sama Voice haha. Atau film macam Fabricated City dan Secretly, Greatly yang kebanyakan konspirasinya. Tapi saya penasaran berat. Untungnya serial ini konfliknya stabil dan di setiap episode ada yang semacam cuplikan buku yang bisa ‘dibaca’. 
So, here we go:
Romance is A Bonus Book 

Cast: Lee Na-Young, Lee Jong-Suk 
Episode: 16 
Tahun Tayang: 2019 



Sinopsis:
Kang Dan-I adalah seorang mantan copywriter yang jadi ibu rumah tangga karena menikah dan punya anak. Sahabatnya, Cha Eun-Ho, adalah seorang penulis muda berbakat yang bekerja sebagai editor-in-chief di sebuah penerbitan buku ternama. Kemudian, Dan-I bercerai dan suaminya pergi tanpa meninggalkan uang. Dan-I yang harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup mengalami kesulitan karena telah lama vakum bekarir, sehingga dia secara diam-diam bekerja membersihkan rumah Eun-Ho. Akhirnya Dan-I mendapatkan pekerjaan sebagai admin staff di penerbitan bukunya Eun-Ho, yang setelah mengetahui kondisi sahabatnya itu memberikan tumpangan tempat tinggal juga.

18 April 2019

Tips Mengatur Keuangan Untuk Single Mom

Perempuan perlu paham tentang mengelola keuangan. Soalnya sebagai Single Mom, sayalah yang harus mengatur pengeluaran dan saya juga yang bertanggung jawab atas pemasukan keluarga. Keluarganya hanya saya dan Dudu sih.

Buat yang bertanya-tanya, saya selalu bilang pasti sanggup kok membiayai semuanya ini meskipun sendirian. Tapi, seumur hidup, keuangan saya diatur Mama yang memang seorang akuntan. Saya cuma tau cari uang dan spending aja. Tidak tau bagaimana menghitungnya. Jadi, sekarang saya bingung mulai dari mana kalau disuruh mengatur keuangan. 


Sebelum mulai acara, kita menuliskan kendala keuangan dan ditempel di tembok.
Pas banget ada acara Planning A Better You dari Single Moms Indonesia dan QM Financial di 13 April kemarin. Bertempat di Ruang Komunal Facebook Indonesia, acara ini menghadirkan Financial Planner handal, Ligwina Hananto. Kenapa perempuan perlu belajar keuangan? Karena kebanyakan perempuan diajarkan bahwa “someone will take care of you.“ Masalahnya, ketika pada akhirnya semua harus dikerjakan sendiri dan tidak ada yang membantu, kita jadi bingung.

Yuk kita duduk manis menyimak tips mengatur keuangan untuk para single moms dari Teteh Wina ini.

03 April 2019

Belajar Menulis Nama Dengan Aksara Jawa

“Kalau orang tuanya memberi nama yang panjang, anaknya merasa seperti dikhianati.”

Kalimat itu keluar ketika saya dan Dudu duduk barengan di kelas Aksara Jawa, belajar menulis nama dengan Hanacaraka. Kok bisa? 



Alkisah di satu Sabtu yang random tapi cerah, kita berdua mampir ke Astori Coffee di pom bensin Pertamina jl. Antasari untuk belajar Aksara Jawa. Sama-sama mulai dari nol. Gurunya adalah anak muda lulusan Sastra Jawa bernama Sekar. Kelasnya gratis, tapi kita diminta bawa buku dan alat tulis sendiri. Buat yang tidak bisa Bahasa Jawa gimana? Ya tetap bisa ikutan, soalnya kelasnya ini menulis Aksara Jawa tapi bahasanya tetap Indonesia. Misalkan kita menulis “tawa”, yang digunakan adalah huruf “ta” dan “wa” tanpa perlu menterjemahkan kata tersebut ke dalam Bahasa Jawa. Dudu juga tidak bisa Bahasa Jawa kok.

(Baca review Astori Coffee di sini ya)

Berbeda dengan huruf Mandarin, Hiragana Jepang dan Hanggul Korea, aksara Jawa ini lebih mirip melukis dan harus dituliskan dalam sekali coret. Tantangan terbesarnya adalah menghafal huruf yang terlalu mirip satu dengan yang lainnya. Selama 2 jam kita belajar sekitar 20 huruf, 20 aksara Pasangan dan 10 Sandhangan alias aksara tambahan. Pusing tapi seru! 

Aksara Jawa kayak apa sih?

26 March 2019

Mencari Arti Panggilan Mama

Kemarin sore, saya iseng bertanya sama Dudu, kenapa panggil ‘Mama’? Dan jawabannya simple: “I think that’s appropriate.”

Panggilan "Mama" dari Anak ini.
Sejak punya anak, saya otomatis bergelar ‘Mama Dudu’. Kalau ditanya kenapa panggilnya ‘Mama’ bukan Ummi, Bunda, Ibu, Mami, sejujurnya saya juga tidak tahu. It just happens. Sama seperti tugas dan tanggung jawab yang datang bersama panggilan itu. Saya tidak pernah memikirkan mau dipanggil apa. Sebutan ‘Mama’ datang karena saya memanggil orang tua saya dengan Mama-Papa, jadi otomatis keluarga dekat saya juga menggunakan title ‘Mama’ kepada saya.

Tapi saya iseng. Ada apa dibalik panggilan ini, selain lagu Spice Girls, acara penghargaan musik di Korea dan film horor yang dibintangi Jessica Chastain. Menurut Urban Dictionary, Mama adalah panggilan untuk (1) a very attractive woman; (2) the woman who brought you into this world; (3) a strong matriarchal figure who rules with an iron fist. Bukan sesuatu yang patut dibanggakan sih sepertinya, tapi boleh lah ya dibilang menarik meskipun saya yakin ini konotasinya lebih ke arah ‘negatif’ alias seksi. Hahaha.

07 March 2019

Cara Mudah Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Anak

Brokoli? Hiy!

Itu reaksi saya sih haha. 
Anak saya, si Dudu, suka brokoli kok.Tapi saya bukan fans berat sayuran dan ternyata preferensi makanan itu menurun ke anak saya. Apalagi saya sibuk, sebagai ibu bekerja, tidak ada waktu untuk menyiapkan makanan 4 sehat 5 sempurna untuk si Dudu. Untungnya saya menemukan cara mudah untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, yaitu dengan yogurt.


Minum Yogurt sambil main? Bisa dong.
Karena tidak suka sayur, saya jadi malas masak sayur, malas memesan sayur kalau makan di restoran dan yang pasti saya juga jarang makan sayur. Otomatis asupan serat sayur dan buah di keluarga ini jadi berkurang jauh. Kalau pas ada Mama, kadang-kadang Dudu bisa punya brokoli rebus saos mentega atau sop wortel sebagai lauk makan siang. Sop wortel? Yes, Dudu terobsesi dengan wortel karena berusaha mencegah naiknya minus dan keharusan pakai kacamata. Maklum, anak jaman sekarang kan semuanya serba gadget. 

Pada satu kesempatan, kita berdua berkenalan dengan Yo! Yogurt for kids. Awalnya tidak aware kalau ini adalah yogurt anak milik Heavenly Blush. Dudu selalu beli yogurt plain atau greek yogurt. Eh, ternyata
 ada Heavenly Blush Yo! yang lebih menarik dengan rasa yang lebih tepat untuk Mama sibuk macam saya yang mencari cara mudah memenuhi kebutuhan nutrisi anak sehari-hari. 

25 February 2019

Melestarikan Bahasa Ibu Dimulai dari Orang Tua

“Nomor tujuhnya ada di atas.”
Weekend kemarin Dudu (hampir 13 tahun) mengarahkan seorang kakek yang kebingungan menekan tombol lift. Si kakek salah menekan angka 5 dan 3 sebelum akhirnya Dudu membantu menekan nomor 7.
“Thank you. Eyes no good.”
Itu yang diucapkan anak si kakek kepada Dudu, meskipun Dudu dari tadi berbicara bahasa Indonesia. Cuma karena muka si Dudu terlihat bule.

“Anaknya bisa Bahasa Indonesia, Bu?”
Saya sering dapat pertanyaan seperti itu, yang terkadang dijawab langsung sama Dudu, “saya bisa Bahasa Indonesia.”


(Baca Juga: Anak saya Bilingual)

Dudu sekolah di international school, di mana bahasa Indonesia hanya digunakan untuk bicara dengan pak supir, satpam atau cleaner sekolah. Mbak dan suster bisa bahasa Inggris, bahkan Mandarin. Semua percakapan di sekolah menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia hanya materi pembelajaran seperti kita belajar bahasa Inggris di sekolah dulu. 

Official Poster UNESCO
ada yang bisa temukan Bahasa Indonesia di situ?
Tanggal 21 Februari kemarin adalah Hari Bahasa Ibu Internasional sesuai ketetapan UNESCO, berdasarkan hari Gerakan Bahasa di Bangladesh yang merupakan perjuangan untuk pengakuan bahasa ibu mereka di dunia. Tujuan dirayakannya Hari Bahasa Ibu Internasional ini adalah mencegah punahnya bahasa-bahasa di dunia karena ketertarikan generasi millenial dalam mempelajari bahasa asing. Selain itu,dunia yang semakin terbuka, dengan internet dan media sosial, membuat bahasa asing jadi semakin penting untuk komunikasi.

Eh, tapi Dudu masuk generasi millenial tidak ya? Well, millenial ini lahir di pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Dudu lahir 2006 jadi mungkin masih borderline millenial ya. Yang agak menyedihkan, kalau saya mampir ke sekolah Dudu adalah banyaknya anak yang lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Padahal mereka semua orang Indonesia, lahir di Indonesia dalam keluarga Indonesia.

Percaya atau tidak, si bule di rumah saya ini bahasa ibu-nya adalah Bahasa Indonesia. Saya pernah beberapa kali curhat soal ini di blog. Bahasa Indonesia Dudu baku, jadi banyak yang menyangka dia sulit berbahasa Indonesia. Padahal itu gara-gara waktu kecil, dia keseringan nonton Spongebob dan Doraemon. Ups. Tapi seiring pergaulan yang banyak menggunakan bahasa asing, saya harus tetap menjaga Bahasa Indonesia agar tidak ‘dilupakan’ oleh generasi anak saya ini.