27 April 2021

Mama ‘Me Time’: Menemukan Rutinitas Mandi Lebih Seru

“Ma, ini sabun?”
Dudu menemukan botol warna ungu di kamar mandi. Biasanya cuma ada sabun cair standard saja.
“Shower Scrub. Mirip sabun, tapi kalau pakai ini mandinya berasa lebih bersih.”

Bingunglah anak cowok semata wayang saya itu. Tiba-tiba Mama-nya jadi suka mencoba hal-hal baru. Haha.

(left to right) Scarlett Whitening Body Lotion Freshy, Brightening Shower Scrub Pomegranate & Body Scrub Romansa

Sejak Work From Home (WFH) setahun yang lalu, saya banyak mager-nya. Semua rutinitas jadi tidak spesial. Bangun tidur, mandi, bikin kopi lalu duduk di ruang tengah untuk bekerja. Kalau weekend, sesekali ke luar rumah bertemu teman atau ‘staycation’ ke rumah adik saya untuk ganti suasana. Meskipun jarang bertemu orang lain secara offline selain si Dudu, saya ternyata tetap butuh ‘me time’, break time dari bekerja biar nggak stress. Jadi, saya memutuskan untuk mengganti sabun dengan body care baru.

25 April 2021

Yang Ditunggu di Bulan Ramadan Itu Buka Puasa Bareng Teman

“Bukber, yuk!”

Ajakan yang datang di bulan Ramadan ini jadi kebiasaan paling seru, dan buat saya ini salah satu praktek nyata belajar toleransi. Meskipun yang selalu terjadi adalah jumlah yang puasa pada hari itu lebih sedikit daripada yang memang atau sedang tidak berpuasa. Atau malah tidak ada yang lagi puasa sama sekali.

“Hah, jadi yang puasa elo doang nih?”

Saya masih ingat kejadian bukber hampir satu dekade lalu, reuni teman kampus di Jakarta. Perdana kita bertemu lagi setelah lulus dan bekerja. Masing-masing mengenalkan, pasangan dan anaknya. Pas menjelang maghrib baru ketahuan yang hari itu puasa hanya satu orang.

“Ya, elo semua temenin gue buka puasa gitu ceritanya.” Jawab si temen ini sambil tertawa.

Bukber begini selalu bikin kangen

Kebiasaan pertama saya di Bulan Ramadan adalah bikin dan rajin ikutan acara buka puasa biar bisa ngumpul sama teman-teman. Meskipun ternyata satu geng lagi pada tidak puasa, dan kita tetap tidak makan sampai Adzan karena tidak enak sama orang-orang satu food court. Yang ini kejadian beberapa tahun lalu. Rencana bukber di food court Senayan City, datang terlalu mepet dan baru dapat tempat duduk setelah penuh perjuangan. Setelah makanan datang kita semua (termasuk Dudu) ngobrol sambil menunggu adzan.

“Makan aja dulu itu Dudu ntar laper,” kata salah satu teman.
“Eh, ga apa-apa. Ngga enak kan sama kalian yang puasa.”
Dari situ satu-satu mendadak mengaku kalau sedang tidak puasa.
“Jadi kita percuma saja menunggu?” Tanya Dudu.

Kebiasaan kedua saya di Bulan Ramadan adalah mengingatkan kepada Dudu tentang arti toleransi. Sejak kecil, Dudu sudah saya bawa pergi buka puasa. Jadi sudah tahu kalau dia harus menunggu beduk sebelum ikutan makan meskipun tidak puasa. Sudah paham juga kenapa teman-temannya ada yang berpuasa.

Tapi kejadian di food court Senayan City itu mengajarkan satu toleransi tambahan, bahwa “peraturan” menunggu beduk bukan cuma untuk yang satu meja. Tapi satu food court. Toleransi itu bukan hanya untuk teman-teman yang kita kenal, tapi juga orang asing. Jadi tahun-tahun berikutnya, kalau saya makan di depan umum, saya yang ditegur Dudu. Haha.

“Hore udah adzan, kita bisa makan!”
Teman-teman se-geng bukber saya langsung melahap habis makanan satu piring. Sementara saya sibuk dengan kolak.
“Lo kok makan kolak, sih?”
“Loh, bukan katanya berbukalah dengan yang manis?”

Yak, sukses jadi bahan tertawaan satu meja gegara kebiasaan ketiga saya: Makan kolak pas buka puasa.
Kolak Biji Salak favorit
(photo taken from Kompas Travel)

Tapi ini ini memang sudah dilakukan dari kecil sih. Buat saya, buka puasa itu kolak. Jadi meskipun tidak puasa, biasanya saya yang paling heboh cari kolak di tempat buka puasa. Kolak pisang, kolak ubi, atau yang sudah dimodifikasi pakai delima, sagu mutiara dan kolang-kaling. Dan ini berlanjut sampai saat saya bekerja di media. Pergi undangan buka bersama all-you-can-eat di hotel bintang lima. Saat rekan sejawat sudah heboh mengambil nasi kebuli, roast beef dan makanan lainnya, saya malah sibuk dengan semangkuk kolak.

“Katanya, kalau puasa kan perut seharian kosong, jadi nggak baik kalo langsung diisi makan berat. Makanya ada takjil,” jawab saya ketika seorang teman bertanya. Mengutip apa yang saya dengar dari teman lain beberapa waktu lalu.

“Tapi elo kan ga puasa.”

Ya, iya juga ya hahaha. Susah memang menghilangkan kolak dari waktu buka puasa. Apalagi kolak ubi kuning atau kolak biji salak.

Buka bersama jadi lebih sulit dilakukan di dua Ramadan terakhir karena pandemi. Buka puasa jadi banyak virtualnya dan di rumah, pas buka puasa jadi sepi. Chat kantor hening, grup WA juga tidak ada yang bersuara. Padahal kalau saya di kantor, jam 5 biasanya sudah ikut heboh “mau berbuka dengan apa hari ini?” lalu ikut sumbang suara. Sekarang, karena work from home, kalau adzan maghrib terdengar, saya mencari kegiatan lain. Jadi sepi.

Berharapnya sih Ramadan tahun depan sudah kembali normal dan semua kebiasaan ini bisa dilakukan lagi. Jadi saya bisa berburu kolak di restoran tempat bukber. Soalnya di tiap tempat itu kolaknya berbeda. Yang paling standard ini kolak pisang dan biasanya saya lebih senang beli di pinggir jalan. Lalu ada kolak biji salak atau candil. Yang ini saya agak picky karena susah mendapatkan kekenyalan yang tepat. Yang terbaru, si biji salak ini dibuat pakai ubi ungu jadi warnanya ungu. Yang ini biasanya saya cari di restoran atau food court di mall. Lalu ada kolak ubi biasa, yang hanya dipotong-potong tanpa jadi biji salak dulu, dan kolak singkong.

Duh, menulis blog post ini, jadi kepengen beli kolak.




07 March 2021

Upgrade Diri dengan Pengetahuan Baru Lewat Skill Academy

Saya senang belajar hal baru, dan ikutan kelas online adalah salah satu cara paling mudah mendapatkan skill baru. Sejak Pandemi, kesempatan ikut kelas online, mulai dari yang gratisan hingga berbayar semakin banyak. Apalagi karena weekend sering di rumah saja, jadi waktu buat mengejar ketertinggalan semakin banyak.

Foto ini hanya pemanis aja - anaknya sekarang sekolahnya beneran online sih hehe.

Belajar mulai dari mana?

Kalau saya cari topik yang mau dipelajari dulu. Awalnya saya paling sering belajar Bahasa, terutama Bahasa Korea karena sekarang sedang senang nonton drakor dan konser Kpop. Tapi setelah browsing-browsing, ternyata kok banyak topik lain yang menarik. Yang lebih menyenangkan lagi, sekarang tidak perlu ke luar negeri untuk belajar soft dan technical skills melalui kelas online karena di Indonesia pun sudah ada yang memadai, tentunya dengan harga yang lebih terjangkau dan cara pembayaran yang lebih mudah dan aman.

Jadi, seminggu kemarin saya browsing Skill Academy, inovasi terbaru dari Ruang Guru. Untuk mencari kelas yang diinginkan, tinggal ketik kata kuncinya saja di kolom search paling atas. Misal ingin belajar buka usaha sendiri, tinggal ketik kata usaha, lalu muncul kelas-kelas yang relevan. Dipilih yang paling cocok dengan waktu dan budget kita, lalu daftar.

Browsing kelas di Skill Academy 

Yang saya suka waktu browsing kelas di Skill Academy adalah deskripsi kelas yang cukup detail. Selain penjelasan umum mengenai kelasnya, di bagian deskripsi juga ada target peserta dan tujuan umum ikut kelas online tersebut. Jadi bisa mengurangi salah pilih dan beli kucing dalam karung. Misalnya di kelas “Bisnis Rumahan/UMKM Harus Tau: Menentukan Badan Usaha” tertulis kelas ini tepat untuk yang sedang merintis usaha, pengusaha yang sedang membentuk perusahaan, atau yang memiliki ketertarikan di bidang hukum. Jadi semuanya bisa mempelajari tentang Badan Usaha untuk Pelaku Bisnis UMKM di Skill Academy, termasuk saya yang sebelum pandemi suka buka jastip dan jualan Smiggle murah di sosmed.

24 February 2021

Belajar Bahasa Baru di Usia 30

Sering kita dengar bahwa anak-anak belajar bahasa lebih cepat daripada orang dewasa. Bahkan saat mengikuti kursus bahasa Korea beberapa waktu lalu pun saya merasa bahwa saya tertinggal jauh dibandingkan teman-teman satu kelas yang rata-rata masih kuliah atau baru mulai bekerja.

30 adalah usia sebenarnya menjadi dewasa, setidaknya untuk otak kita. Ahli neuroscience dari Harvard, Leah H. Somerville, menulis di jurnal Neuron bahwa volume otak secara keseluruhan berkembang maksimal pada usia 10 tahun, dan otak bagian belakang berkembang sempurna di usia 20-an. Namun bagian otak depan masih membentuk jaringan baru hingga usia 30 tahun. Rasanya lega, soalnya saya masih bisa belajar bahasa meskipun umur sudah mendekati kepala 4.

Saya vs Dudu pernah belajar bahasa Jawa

Kemampuan berbahasa asing penting karena dapat meningkatkan percaya diri, memperluas networking, menjadi nilai tambah saat melamar kerja serta meningkatkan kerja otak. Mark Antoniou, Psycholinguist dari Western Sydney University-Australia menulis di Annual Review of Linguistics, bahwa menguasai dan menggunakan setidaknya dua bahasa secara rutin dapat menunda timbulnya Alzheimer.

Di kelas-kelas kursus Bahasa Korea, saya sering jadi murid paling tua. Tapi dengan mengetahui teknik yang tepat, terutama setelah menyadari bahwa kemampuan penyerapan bahasa asing saya tentunya lebih lambat dari “anak-anak muda” ini, saya bisa mengikuti pelajaran dan akhirnya lulus les bahasa Korea dengan nilai tak kalah bagus.

Jadi, apa yang saya lakukan?

Berdamai dengan Ekspektasi

Saya terakhir belajar bahasa asing dengan benar ketika saya SMA. Belajar bahasa Perancis dan lulus ikut ujian standardisasi. Hanya dalam waktu 6 bulan ikut kelas intensif sudah bisa ngobrol kanan kiri. Hampir dua dekade kemudian, saya belajar bahasa Korea karena terjerumus ke dunia Kpop. Eh, kok susah. Ikut kursus sudah 6 bulan baru bisa dasarnya, tulisan Hangul saja tidak hafal-hafal. Apalagi menurut penelitian, untuk jadi fasih, sebaiknya mulai belajar bahasa sebelum usia 18 tahun. Saya auto merasa bodoh.

Idol favorit saya pernah acting jadi guru bahasa.

Ternyata ekspektasi saya ketinggian. Tadinya menyalahkan usia, tapi ternyata kesibukan juga turut menyumbang lambatnya perkembangan bahasa Korea saya. Les bahasa 2x seminggu, terkadang bolos karena lembur. Bikin PR last minute karena tidak sempat mengulang pelajaran di luar les. Tentu saja hasilnya tidak sebanding dengan jaman SMA yang bisa review lebih intense. Jadi, sebelum memulai belajar, lihat ke diri sendiri dan jadwal sehari-hari. Berapa banyak waktu yang ada untuk belajar bahasa asing dan sesuaikan ekspektasi kita.

Set Personalized Target

Ada dua macam target: jangka panjang dan jangka pendek. Ketika memutuskan untuk belajar bahasa Korea, saya punya mimpi harus bisa at least bertanya jalan kalau saya nyasar di Korea pas liburan suatu hari kelak. Target jangka panjang saya tidak ada waktunya. Target jangka pendek ada deadline-nya. Misal, saya harus bisa menghafal 10 karakter Hangul setiap minggunya. Dalam 1 bulan, saya harus menambah 10 kosakata baru.

Lebih seru lagi kalau target-target ini dibuat personalized. Saya follow social media penyanyi Kpop favorit saya dan saya punya target setidaknya dapat membaca postingan mereka yang dalam tulisan hangul tanpa melihat kamus. Ketika saya naik ke level berikutnya di tempat kursus, target saya menjadi ‘memahami postingan idol Kpop tanpa melihat kamus’.

Mencari jalan keliling Korea Selatan

Personalized target juga jadi motivasi tersendiri agar tidak mudah menyerah di tengah jalan karena ada reward yang didapatkan. Misalnya, dengan berhasil me-reply postingan idol favorit di media sosial dengan tulisan Hangul, saya merasa kesempatan untuk dipahami oleh sang idol jadi lebih besar. Atau ketika bisa merespon pertanyaan idol di konser tanpa harus menunggu penerjemah, rasanya sudah seperti dapat sertifikat kelulusan. Motivasi yang sama inilah yang membawa saya belajar bahasa Inggris saat SD dulu.

Belajar Secara Konsisten

Sudah set ekspektasi dan punya motivasi, sekarang saatnya tips belajar bahasa asing yang saya praktekan untuk mengejar ketertinggalan dengan teman-teman sekelas.

Yang pertama adalah mengulang tiap hari. Bekerja full-time dan sering lembur, menyisihkan waktu setiap hari untuk belajar adalah tantangan. Jadi instead of 30 menit fokus belajar setelah pulang kantor dengan keadaan lelah, saya menyisipkan 5-10 menit untuk review vocabulary lewat aplikasi belajar bahasa atau scrolling instagram idol Kpop saat jalan dari meja ke kamar mandi. Jaman masih WFO, saya menghabiskan perjalanan di mobil mendengarkan podcast belajar bahasa Korea di Spotify.

Aplikasi kesukaan saya buat belajar Bahasa Korea adalah memrise

Yang kedua, bergabung dengan komunitas di Facebook Group atau mengikuti media sosial komunitas sambil rajin memberikan comment dan interaksi. Kalau ada temannya, belajar jadi lebih mudah dan semangat. Yang terakhir adalah jangan lupa praktek. Menulis dan membaca bisa dari media sosial. Mendengar bisa lewat nonton IG Live atau Youtube idol Kpop. Kalau speaking? Saya mau tidak mau harus ikut kelas untuk bisa ngobrol. Sejak pandemi, banyak conversation class lewat zoom, yang bisa diikuti untuk latihan berbicara.

Buat saya yang lebih suka boyband daripada film, karaoke jadi cara paling efektif buat belajar bahasa. Karena saat karaoke, kita bisa belajar 2 hal sekaligus yaitu membaca dan melafalkan kata dengan benar.

Let me end this story with a happy ending.

Saya akhirnya jalan-jalan ke Korea setahun setelah saya memutuskan untuk belajar bahasanya. Di sana saya berhasil bukan hanya bertanya jalan seperti target semula tapi bisa mengarahkan supir taksi di Seoul, menjelaskan masalah kepada petugas bandara di Jeju, memesan makanan serta membeli tiket bus di Sokcho yang penduduknya mayoritas tidak mengerti bahasa Inggris.


Akhirnya kami berdua mendarat juga di Korea - dan bisa praktek bahasanya

Intinya, jangan menyerah walaupun progress kita mungkin tidak secepat anak-anak remaja yang baru dengar sekali lagu Kpop bisa langsung hafal liriknya. Belajar bahasa baru sampai lancar di usia lebih dari 30 tahun itu mungkin karena memang tidak ada kata terlambat untuk belajar.

13 February 2021

Mengenalkan Peluang Kerja Green Jobs Kepada Anak Indonesia

Beberapa waktu lalu, saya dan Dudu ngobrolin cita-cita. Pertanyaan yang akan terus selalu ada. “Kamu mau jadi apa?” Waktu TK, Dudu mau jadi Nelayan (atau yang dia sebut Pemancing). Waktu SD pindah haluan jadi Youtuber Game karena dia suka main game. Spesifik banget ya. Sekarang sudah SMP malah tidak tahu mau jadi apa. 

Menyadari bahwa cita-cita seorang anak muncul dari hal-hal yang ada di sekelilingnya, saya merasa wajib mengenalkan konsep dan peluang green jobs kepada Dudu, anak saya yang sekarang sudah berusia 14 tahun ini. Soalnya, tak kenal maka tak sayang.
Mama: Mau coba di sektor green jobs?
Dudu: Apa itu green jobs?
Mama: Yang berhubungan dengan sustainability.
Dudu: Tukang sampah?
Mama: Nggak harus sampah sih.
Dudu: Kalau begitu petani?
Mama: Urban Farming dong. Kan di tengah kota, di atap rumah gitu keren.
Dudu: Itu tetap saja disebut dengan petani, Ma.

Petani kebun sendiri sedang panen jeruk

Perubahan cita-cita si Dudu yang lumayan drastis dari Nelayan jadi Youtuber ini tentunya tidak lepas dari perkembangan teknologi. Anak saya masih merasakan jaman Nokia 3310, ketika telepon ya kalo nggak buat telepon ya buat SMS sama main game snake. Sekarang Dudu yang SMP mau naik SMA ini belum punya cita-cita baru yang dia yakin pasti mau diikuti. Makanya, begitu saya mendengar tentang green jobs ini saya merasa harus ikut webinarnya dan memperkenalkan jenis pekerjaan ini ke Dudu.

30 January 2021

Iseng-iseng bikin Hot Chocolate di Musim Hujan

Resep hot chocolate yang ini dapatnya dari main Overcooked 2 di PS4 sama Dudu.

Dimulai dengan kita berdua yang ngedate-nya pindah jadi di rumah aja, main PS4. Karena saya WFH dan Dudu sekolah dari rumah, jadi saya install wifi di rumah. Jadi untuk pertama kalinya, kita berdua main PS4 pakai wi-fi. Awalnya sempat khawatir karena wifi akan membuka banyak hal termasuk game gratisan, forum dan menemukan teman baru lewat aplikasi PS Store. Takutnya seperti membuka kotak Pandora.

Tapi ternyata dengan adanya wi-fi ini, ada banyak level DLC gratisan yang bisa kita download dan saya jadi hemat karena untuk sementara waktu tidak perlu beli game PS4 baru. Beberapa level baru yang jadi pengisi kebosanan saya dan Dudu di akhir pekan adalah Winter Wonderland dan Chinese New Year. 


Kenapa kami berdua suka main Overcooked? Soalnya game ini bisa dimainkan berdua, atau sampai berempat kalau stick PS-nya ada 4. Jadi sekeluarga bisa main. Game yang mengedepankan team work bisa bikin saya dan Dudu makin kompak (atau malah berantem hehe). Bisa dibaca review lengkapnya di sini ya.

Yang jadi masalah buat saya adalah Dudu suka masak, tapi jarang punya kesempatan. Nah, game Overcooked ini biasanya lantas menginspirasi dia untuk mencoba masakan. Karena saya tidak bisa masak (selain roti bakar keju dan indomie) jadi pusing sendiri kalau Dudu mulai bilang “kita coba itu yuk, Ma.” Soalnya di game kan hanya campur-campur saja ya. Untungnya di Overcooked 2 versi Winter Wonderland ini, ada satu stage di mana kita harus buat hot chocolate.

Nah ini gampang. Sepertinya.

Bahan (menurut Overcooked):
  • Cokelat Masak (saya pakai dark chocolate)
  • Susu Putih (saya pakai UHT)
  • Mashmallow 

Cara memasak:
  • Panaskan cokelat hingga meleleh di panci. Jangan pakai api besar. Idealnya melelehkan coklat itu menggunakan dua panci, jadi tidak langsung kena api. Tapi untuk kali ini, saya menggunakan satu panci anti lengket.
  • Hangatkan susu di panci berbeda lalu campurkan ke panci berisi cokelat. Jangan masukkan susu dingin atau room temperature karena cokelatnya bisa menggumpal. Saya dan Dudu lebih suka cokelat yang banyak, jadi kita mencampurkan cokelat masak hingga setengah gelas lalu baru dicampur susu dan diberi marshmallow di atasnya.

Hasilnya berantakan haha. Tapi rasanya enak karena masak hot chocolate sepertinya susah untuk gagal. 


Lalu yang benar gimana? Karena penasaran, saya akhirnya Googling “homemade hot chocolate” dan menemukan beberapa cara.
  1. Susunya yang dipanaskan duluan. Setelah itu baru masukkan cokelat dan gula sambil diaduk-aduk.
  2. Pakai dua jenis coklat. Yang pertama coklat bubuk buat base-nya, dan tambahkan chocolate chip/cokelat masak kalau mau lebih kental adonannya. Wajib pakai susu biar creamy.
  3. Ada yang menyarankan pakai vanilla powder juga biar lebih enak.
Oke deh, next time kita coba masak lagi.



24 December 2020

Mengambil Jeda di Tengah Pandemi

Jeda itu perlu. Semua yang dilakukan “from home” memberikan perspektif baru dalam hubungan saya dan Dudu.

Tahun 2020 ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi yang mengharuskan saya Work from Home alias WFH dan Dudu yang sekolah dari rumah, kami jadi punya banyak waktu untuk bertemu. Saya kira semua akan berjalan mulus, senang dan lancar setelah sekian lama bertemu hanya di akhir pekan. Awal-awalnya makan siang bersama satu meja setiap hari terasa seru. Wah, ada waktu untuk keluarga. Lama-lama rutinitas baru ini malah mengganggu.

Saya merasa terpaksa keluar kamar hanya untuk makan siang (dan makan malam) karena anak dan orang tua saya sedang makan bersama di meja. Mama saya sering mengomel juga kalau kami tidak makan di jam yang sama. Sering juga meeting saya terputus karena Dudu ketok-ketok pintu kamar mengajak makan. Ketika saya tidak menjawab, dia masuk dan mengajak makan. Presentasi dan konsentrasi saya, tentu saja, buyar.

Ada yang salah? 


Well, saya menemukan satu buku berjudul “The Things You Can See Only When You Slow Down” karya seorang biksu Buddha bernama Haemin Sunim. Buku yang pertama kali diterbitkan tahun 2012 mengajarkan banyak hal tentang interaksi selama pandemi. Dan bagaimana saya bisa beradaptasi dengan keadaan yang sepertinya masih akan berlangsung selama 2021 ini.


The Art of Maintaining Good Relationship / Menjaga hubungan dengan baik

Di chapter 2 ada quotes yang mengatakan “bahkan musik yang paling indah pun bisa membosankan kalau didengarkan setiap hari. Tapi musik tersebut dapat menjadi indah kembali setelah beberapa waktu. Masalahnya ada bukan pada musik, tapi pada hubungan saya dengan musik tersebut.”

Nah ini dia. Bukan Dudu yang salah. Bukan orang tua saya yang ngaco. Tapi memang saya yang tadinya tidak pernah bertemu mereka selain weekend, mendadak bertemu setiap hari lalu ilfeel. Sekarang, karena semua di rumah, saya jadi tidak pernah cerita tentang hari-hari saya sama orang tua, Dudu jarang update soal sekolah juga. Makan semeja pun tanpa suara. Malah sedih ya?

Jadi, kami kembali ke rutinitas biasa. Ansos, alias anti sosial, di weekdays dan hanya duduk makan semeja di akhir pekan. Di hari-hari sebelum pandemi, saya dan Dudu biasanya spend me-time berdua saja travelling, makan atau staycation. Sekarang waktu kami berduaan hanya pas main PS4 seharian. Tidak benar-benar nge-date. Kalau sudah tidak nyaman di rumah, saya dan Dudu akhirnya ‘staycation’ di rumah adik saya.

Soalnya ternyata, jeda itu memang perlu. 

06 May 2020

Awas, Biawak Masuk Rumah!

Salah satu fenomena ‘alam’ yang sering muncul jadi meme di masa pandemic Corona adalah kembalinya binatang-binatang ke alam bebas. Lumba-lumba dan angsa yang muncul lagi di Italy (yang lalu dibantah sebagai fake news oleh National Geographic) atau cerita tentang gajah masuk perkampungan (yang dibantah media Tiongkok). Lalu ada cerita lumba-lumba di Turki, babi hutan di tengah kota Israel dan kambing gunung yang muncul di Wales (yang ini diverifikasi BBC, katanya benar).

Semua itu di luar negeri.

Yang paling dekat (dan penting) buat saya dan Dudu adalah Biawak. 

Yang pertama heboh, ya siapa lagi kalo bukan Dudu! Coba cek chatnya di Whatsapp Grup keluarga yang membanggakan binatang peliharaan barunya ini. 

Semangatnya Dudu pamer Biawak
Astaga gede banget! 

Lebih besar dan gemuk dari terakhir bertemu sebelum Corona, meskipun sebenarnya tidak yakin juga kalau ini biawak yang sama. Bahkan saya juga tidak yakin ini biawak, kadal, buaya (buaya darat mungkin haha)?