Begitu pikir saya setiap mengemudi lewat Museum Kebangkitan Nasional di pagi hari ketika berangkat ke kantor. Fast forward 18 tahun kemudian, saya sudah berganti kantor empat kali dan sekarang sedang mencari pekerjaan berikutnya. Apakah saya sudah pernah ke sana? Tentu saja belum. Niat hanya tinggal niat. Hingga saat ini, kunjungan ke Museum Kebangkitan Nasional masih berupa rencana.
![]() |
| Photo: Wikipedia |
Museum Kebangkitan Nasional terletak di Jalan Abdul Rachman Saleh No. 26, Senen, Jakarta Pusat. Museum ini berfungsi mengenang lahirnya organisasi modern pertama Indonesia, Budi Utomo. Sesuai namanya, Museum Kebangkitan Nasional resmi berdiri pada 20 Mei 1974. Bangunan museum ini adalah bekas bekas sekolah kedokteran Jawa (STOVIA) ini menyimpan berbagai koleksi alat medis bersejarah, diorama, dan kenangan pergerakan mahasiswa yang menjadi pemicu pergerakan nasional. Isi sebenarnya seperti apa, saya tidak tahu karena ya kan belum jadi ke sana.
![]() |
| Photo: Indonesia Kaya |
Museum Kebangkitan Nasional bukan satu-satunya tempat yang bernasib “nanti dulu.” Ada Museum Perumusan Proklamasi yang lokasinya dekat kantor saya, yang tidak pernah saya kunjungi hingga saat ini. Saat masuk kantor, saya semangat mau jalan kaki ke sana, karena parkirannya kan susah ya. Letaknya di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat, seberang patung Diponegoro naik kuda, belakang Masjid Sunda Kelapa. Museum ini didirikan pada tahun 1992 untuk memperingati peristiwa bersejarah perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Gedung museum itu dulunya adalah kediaman Laksamana Maeda dan menjadi tempat perumusan naskah proklamasi.
Sekarang saya sudah tidak berkantor dekat sana lagi, karena kantornya tutup. Museum Perumusan Proklamasi masih masuk ke dalam to do list, sebagai museum yang harus dikunjungi.
Yang terakhir adalah yang paling epic. Museum Layang-Layang yang letaknya di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ini hanya lima belas menit dari rumah, tapi tidak pernah dikunjungi karena alasan klasik, parkirnya susah dan adanya di gang sempit. Padahal kalau jalan Fatmawati Raya sedang macet, gang tempat Museum Layang-Layang berada adalah jalan tikus favorit saya untuk pulang ke rumah.
![]() |
| Photo: Atourin |
Saya kenal Museum Layang-Layang secara tidak sengaja. Suatu hari, sekolah si Dudu pergi karyawisata ke sana. Padahal sekolahnya ada di Jakarta Utara. Dudu sampai bilang ‘ini dekat rumah oma aku,” saking dia hafal jalannya. Dia cerita macam-macam soal museum itu, yang membuat saya berpikir kalau saya juga harus mampir ke sana. Museum Layang-Layang Indonesia didirikan oleh Endang W. Puspoyo pada 21 Maret 2003 dan menyimpan lebih dari 600 koleksi layang-layang tradisional hingga modern yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara serta mancanegara.
Tahun ini sudah hampir berakhir, dan belum satu pun dari tiga museum di atas yang saya sempat kunjungi. Yang ada malah saya kembali lagi ke Museum Nasional untuk pameran temporernya. Kenapa begitu?
Karena penasaran, saya mencari di Google (iya, saya masih suka ketik search manual di Google search ending), dan menemukan satu studi berjudul “The challenge of proximity: the (un)attractiveness of near-home tourism destinations,” oleh Jelmer Jeuring dan Tialda Haartsen. Menurut riset tersebut, orang yang pergi traveling biasanya mencari jeda dari rutinitas sehari-hari. Nah, tempat-tempat yang ada di dekat rumah atau di kota sendiri ini biasanya otomatis menjadi bagian dari rutinitas. Jadi, daya tariknya kurang jika dibandingkan dengan tujuan wisata yang jauh dan benar-benar seperti sedang berlibur.
Ada juga perasaan bahwa, “ah ini dekat, besok juga bisa.” Seperti komentar saya di awal blogpost ini. Lalu, setelah sekian lama waktu berlalu, saya tidak pergi juga. Bisa jadi ketika saya benar-benar ingin pergi, tempatnya tutup atau sudah tidak tersedia lagi.
Ah, harus disempatkan nih!
Karena penasaran, saya mencari di Google (iya, saya masih suka ketik search manual di Google search ending), dan menemukan satu studi berjudul “The challenge of proximity: the (un)attractiveness of near-home tourism destinations,” oleh Jelmer Jeuring dan Tialda Haartsen. Menurut riset tersebut, orang yang pergi traveling biasanya mencari jeda dari rutinitas sehari-hari. Nah, tempat-tempat yang ada di dekat rumah atau di kota sendiri ini biasanya otomatis menjadi bagian dari rutinitas. Jadi, daya tariknya kurang jika dibandingkan dengan tujuan wisata yang jauh dan benar-benar seperti sedang berlibur.
Ada juga perasaan bahwa, “ah ini dekat, besok juga bisa.” Seperti komentar saya di awal blogpost ini. Lalu, setelah sekian lama waktu berlalu, saya tidak pergi juga. Bisa jadi ketika saya benar-benar ingin pergi, tempatnya tutup atau sudah tidak tersedia lagi.
Ah, harus disempatkan nih!




















