16 August 2018

Tentang Menulis Sebuah Perjalanan

“It doesn’t matter if your writing is good, if your journey isn’t good, it’ll be hard to come out with a good travel writing.”

Begitu kata Agustinus Wibowo, seorang travel writer sekaligus penulis buku Ground Zero: When the Journey Takes You Home, di Travel Writing Workshop bersama The Jakarta Post Writing Center yang saya ikuti weekend kemarin. Setelah lama absen dari event dan kelas menulis, saya mulai sign up lagi. Kangen belajar, kangen ketemuan teman-teman baru.


Courtesy of The Jakarta Post Writing Center
Apa itu “Good Journey”? Harap diperhatikan bahwa good journey bukan berarti perjalanan mahal super mewah maupun perjalanan murah meriah ala backpacker. Yang memutuskan apakah sebuah perjalanan adalah good journey adalah kita sendiri. Dalam hal ini, saya dan Dudu. Ada 4 hal yang saya catat, yang bisa membuat perjalanan jadi sebuah good journey.

06 August 2018

Mewarnai dengan Augmented Reality Bersama Faber-Castell Colour To Life

Weekend ini ngapain ya, Du?

Pertanyaan itu sekarang sering muncul karena saya dan Dudu kehabisan ide. Kalau tidak ada event seru atau film bagus, saya dan Dudu kerjanya main PS4 di akhir pekan. Itu juga kalau ada game yang bisa dimainkan berdua seperti Overcooked atau Dragon Quest Builders. Kalau tidak ya kita beraktivitas masing-masing dengan gadget masing-masing.

Lalu saya kena judge netijen: kok main gadget terus? Hahaha...

Saya pertama kali melihat Faber-Castell Colour to Life saat sedang mampir ke acara Game Prime. Mewarnai? Hm… back to basic. Mungkin menyenangkan? Tapi saya dan Dudu bukan fans mewarnai. Dudu sering menggambar sejenis komik sih, tapi gambarnya juga tidak pernah diwarnai. Tapi mungkin, kita perlu melakukan hal-hal yang dulu sering dilakukan waktu Dudu kecil. Salah satunya ya mewarnai.

Seriusan? Buat anak SMP kayak Dudu?


Dudu: "Rambutnya harus pirang"

24 June 2018

Review: Jurassic World The Fallen Kingdom

Hah? Ngapain orang Indo beli dinosaurus begitu doang seharga 10 Juta dollar?

Saya kesal nonton Jurassic World The Fallen Kingdom ini. Bukan karena jalan ceritanya, tapi karena kesannya orang Indonesia hanya mampu beli dinosaurus lelet macam Ankylosarus (yang katanya seperti tank) dan tidak masuk negara yang dianggap mampu beli Indoraptor.

Padahal nama dinosaurusnya saja sudah Indoraptor.

Dan si Indoraptor hanya 28 juta dollar.



Dinosaurus di film sebelumnya juga namanya Indomie rebus, eh maksudnya Indominus Rex, yang seharusnya dijual di Indomaret. Haha. Nama Indoraptor ini entah bagaimana membuat saya membayangkan mie instant dengan saos super pedas yang seharusnya dijual di warung kekinian.

20 June 2018

Kampung Halaman Dudu

Kota kelahiran Dudu letaknya sekitar 6 jam dari Gotham City dan 4,5 jam dari Metropolis. Dan kita masih menyimpan mimpi untuk suatu hari kembali lagi ke sana. 


Tema ODOP yang kali ini agak sulit: Mudik. Soalnya saya sebenarnya tidak punya kampung halaman. Jaman kuliah dulu, ada satu kelas antropologi yang saya ambil, di mana orang-orang seperti saya ini disebut “lost generation”. Tidak punya kampung halaman, tidak bisa bicara bahasa asli dan sudah kurang lebih terputus sejarahnya dengan nenek moyang. Tapi sudah beberapa tahun belakangan ini, mudik identik dengan kembali ke Jakarta yang sepi, jalanannya lancar dan langitnya lebih cerah.

Mudik saya hanya dari Kelapa Gading ke Depok, setelah makan opor dan berhasil melewati obrolan kepo di meja makan Tante haha.

Kalau mudik maksudnya pulang, maka ketika Lebaran datang, saya sering bertanya-tanya mau mudik ke mana? Yang paling sering jadi tujuan tentu saja “kampung halaman” Papa di Semarang. Pernah juga ke kampung halaman Dudu di Amerika, meski bukan ke kota kelahirannya.

Oh, Dudu dari Amerika. Di mananya?
Missouri

17 June 2018

4 Website Seru Yang Bikin Semangat Menulis

Jenuh menulis? 100 kata saja tidak sampai-sampai? Well, saya sempat dan masih mengalami hal itu. Padahal ide dan tema ada banyak bertebaran, tapi menulisnya kok berat. Sudah pindah café dan ganti suasana juga tidak membantu. Lalu gimana? I forced myself to write. Saya mengharuskan diri sendiri menulis sesuatu setiap harinya. 


Ada beberapa fun “free writing” tools yang bisa membantu kita membiasakan diri menulis setiap hari. Kalaupun tidak jadi satu blogpost, tulisan-tulisan random tersebut bisa kita simpan untuk “dilanjutkan” di kemudian hari ketika ada mood dan waktu posting yang tepat.

750words.com

Website buatan suami istri, Buster & Kellianne, ini menantang kita menulis setidaknya 750 kata setiap harinya (24 jam menggunakan timezone Amerika jadi dimulai jam 12 siang WIB). Tampilan websitenya minimalis. Halaman Homenya hanya berupa penjelasan tentang 750words.com dan siapa saja yang sedang menulis, lalu siapa saja yang sedang ikutan tantangan menulis setiap hari selama sebulan dan lain sebagainya. Kalau kita sudah sign up dan login, kita akan berhadapan dengan halaman kosong hanya berisikan tanggal jumlah huruf yang berubah sesuai dengan ketikan kita.

15 June 2018

Menjawab Kekepoan di Kumpul Keluarga

Yang paling harus dipersiapkan menyambut Lebaran adalah mental dan segudang jawaban penangkal pertanyaan keluarga yang penuh perhatian.

Bahkan saya dan keluarga yang tidak berlebaran pun merasakan hal yang sama ketika Tante yang satu ini sudah memposting undangan “makan opor ayam” di grup chat keluarga. Opor ayamnya enak. Si Tante memang jago masak. Percakapan yang terjadi di meja makan ketika kita sedang sibuk mengunyah juga dahsyat. Topiknya bisa beragam, dari pacar, jurusan kuliah hingga rencana traveling. Meskipun sering harus melakukan persiapan ekstra, saya tetap menunggu seri sharing session keluarga ini. 


Ngumpul setiap tahun sekarang sepupu yang ini sudah pada mau kuliah.
Tahun lalu obrolannya tentang sekolah. Masuk SD, masuk SMP, masuk kuliah sampai ke pekerjaan pertama seorang sepupu yang baru lulus. Tahun ini sepertinya akan fokus ke pernikahan adik bungsu saya yang tinggal menghitung bulan ini. Untungya si adik sedang di luar negeri jadi dia terselamatkan dari pertanyaan kepo para Tante.

Dan meninggalkan saya sebagai juru bicaranya.

Setelah itu pasti pertanyaannya jadi berubah: “kamu kapan nyusul?”
“Anak saya sudah SMP, Tante.”
“Ya, makanya, nanti keduluan Dudu dapat pacar lho.”
Yha, terus kenapa gitu?

04 June 2018

Coffeegasm: Coffee Shop Rasa Drama Korea

Pernah terbayang adegan drama Korea di mana si pelanggan cewek masuk ke coffee shop dan disambut sapaan ramah tokoh utama di belakang kasir? Ya kurang lebih begitu rasanya kalau masuk ke Coffeegasm. Hanya saja, coffee shop yang ini adanya di deretan ruko-ruko Mall of Indonesia Kelapa Gading. 


Lokasinya strategis, Coffeegasm terletak persis di sebelah pintu Lobby 8 Mall of Indonesia. Di blok yang sama ada beberapa coffee shop, café dan bakery yang saya pernah kunjungi semuanya karena tempat ngopi langganan di mall persaingannya sengit. Mulai dari anak ABG sekolahan, ibu-ibu arisan dan suster bawa stroller (isinya bayi tidur sementara majikannya belanja) semuanya memenuhi tempat duduk dan ikut sharing wi-fi. Jadilah di satu hari libur, saya dan Dudu keliling Mall of Indonesia dengan misi mencari tempat ngedate alternatif.

13 May 2018

Book Review: Sad Girls by Lang Leav

“We all need to follow our intuition, even if it takes us down the wrong path. Otherwise, you’ll always be second-guessing yourself.”

Sepotong nasihat tersebut diberikan seorang publisher kepada tokoh utama yang bekerja menjadi seorang jurnalis di korannya. Audrey, sang tokoh utama, saat itu sedang galau dan memutuskan untuk resign dan pergi ke Colorado untuk memulai hidup baru. Sebuah perjalanan jauh mengingat setting cerita ini adalah Sydney, Australia.


Menyelesaikan buku karya Lang Leav ini jadi prestasi sendiri untuk saya, karena saya jarang baca buku yang terlalu cewek. But I think if I can finish this, then the book is not girly enough. Haha. Tokoh utamanya cewek, punya sahabat dekat cewek. Lalu konfliknya seputar pacar, ekspektasi orang tua dan mengejar mimpi. Lah, apa serunya? Yang membedakan buku ini dan mungkin buku-buku “coming-of-age” lainnya adalah di sini ada yang mati. Iya, mati. Dan karena saya selalu bilang kalau saya akan baca buku dan nonton film drama jika ada yang mati atau adegan tembak-tembakannya, saya meniatkan diri baca buku ini. 



Sad Girls
Pengarang: Lang Leav
Halaman: 362
Paperback
Tahun: 2017

Tapi sebelum lanjut, untuk yang sudah pernah baca puisi karya Lang Leav sebelumnya, jangan expect too much dari karya fiksinya. Baca saja, enjoy ceritanya dan abaikan bagian yang menurut kalian aneh.