Showing posts with label Games and Apps. Show all posts
Showing posts with label Games and Apps. Show all posts

06 March 2024

Permainan Tentang Hidup: The Game of Life

Bagaimana jika seluruh perjalanan hidupmu dirangkum dalam sebuah permainan papan atau board game? The Game of Life, atau yang lebih dikenal dengan LIFE, mengajak pemainnya untuk menjalani hidup secara realistis. 

Perjalanannya dimulai dari apakah kita akan kuliah, atau langsung mulai bekerja. Kalau kuliah berarti kita akan berhutang, namun memiliki pilihan karir yang lebih luas. Sementara jika langsung bekerja, kita memiliki pilihan karir terbatas, namun tidak ada hutang yang harus dibayar. Setelah itu kita harus memilih rumah, menikah, punya anak, dan pensiun.

Permainan ini awalnya dibuat pada tahun 1860 oleh Milton Bradley. LIFE yang kita mainkan sekarang adalah versi modernnya, hasil desain dari Reuben Klamer and Bill Markham di tahun 1960. Pemain mengendarai mobil sendirian, mendaki gunung dan melewati lembah. Ketika menikah dan punya anak, penumpang mobil akan bertambah. 

Foto dari Amazon

Jaman sekarang, LIFE punya versi online dan versi aplikasi. Namun, yang saya mainkan bersama Dudu tetap versi board game offline karena lebih seru ketika dimainkan bersama. Apalagi ketika bermain dengan anak-anak remaja seumuran Dudu yang masih belum memulai Game of Life mereka. Bermain game ini mengajarkan bahwa hal tidak terduga bisa terjadi karena saat kita bekerja sesuai passion, gaji kita belum tentu mengikuti. Lalu kita jadi tidak bisa membayar rumah yang diidamkan. Belum lagi ketika mengendarai mobil, kita berhenti di titik “career change” atau “you’re fired” yang mengharuskan kita ganti pekerjaan dan gaji yang diterima. Atau ketika harus membayar sekolah sesuai jumlah anak yang dimiliki. Bisa juga rumah yang kita sudah cicil dan bangun ternyata hancur terkena badai, dan kita harus membangun ulang karena tidak membayar asuransi.

Rasanya seru melihat anak-anak usia remaja dan pra-remaja mulai memikirkan bagaimana membayar pajak. Mereka juga menghitung jumlah anak yang diinginkan karena takut membayar sekolah mahal. Harus menghitung apakah gaji yang dimiliki cukup untuk membayar cicilan rumah, mengembalikan hutang uang kuliah atau membeli saham. Semuanya seperti realita. Namanya juga The Game of Life.

Main Game of Life di rumah

Versi yang saya miliki masih sangat sederhana. Diterbitkan pada tahun 1991. Konon, LIFE yang baru sudah ada adopsi hewan peliharaan, dan versi-versi kolaborasi dengan tokoh populer seperti Hello Kitty, Star Wars, My Little Pony dan lainnya. 

Permainan ini seru untuk dibawa di pertemuan keluarga, terutama jika ada banyak anak remaja dan pra-remaja di acaranya. Orang tua tentunya bisa mendampingi, sambil memberikan petuah dan penjelasan kalau ada pertanyaan tentang perjalanan hidup. Buat orang tuanya gimana? Sekarang rasanya saya lebih mengerti permainan ini setelah melewatinya sendiri di kehidupan nyata, jadi yang bentuknya permainan tetap seru karena tidak memiliki konsekuensi di realita. Kesempatan untuk mengambil keputusan nekat seperti membeli saham, atau mengambil pekerjaan impian tanpa memusingkan gaji.


10 August 2022

Keseruan Quality Bonding Time di Oreo 110th Birthday Celebration

"Du, mau snack apa?"
"Oreo saja deh, Ma."

Dari kecil begitu. Salah satu snack yang bertahan dari bekal TK sampai sekarang anaknya sudah SMA ya Oreo. Ulang tahun kemarin mintanya Oreo Cheesecake. Kalau Mama beli kopi, dia pesan Oreo Milkshake. Kalau jalan-jalan, yang dibawa ya Oreo Mini. Oreo semua ya.

'bonding time' bareng Oreo

Oreo kemarin mengeluarkan varian baru spesial ulang tahun, Oreo Birthday Cake Flavor. Bungkusnya lebih berwarna-warni daripada Oreo Classic yang biasanya kita beli.

"Ini kue ulang tahun di dalam Oreo?"

Dudu bingung. Saya juga. Jadi kita beli buat mencoba. Ternyata rasanya enak juga. Masih biskuit Oreo Classic yang sama, bedanya hanya di bagian icing putih di tengah ada sprinkle-nya. Rasanya sedikit banyak memang seperti kue ulang tahun. Oh, enak juga.

"Harusnya Oreo bikin yang icingnya cheesecake ya, jadi kamu kemarin tidak usah beli kue," kata saya.
“Tapi bagaimana saya bisa menaruh lilin di atas Oreo?”



Yang berbeda dari bungkus Oreo Birthday Cake Flavor selain kemasannya yang lebih ceria adalah QR Code di bagian kanan bawah. Oh ternyata kalo di-scan bisa langsung masuk ke filter Instagram Oreo yang bentuknya augmented reality (AR). Filter ini memungkinkan kita untuk meniup lilin yang jumlahnya banyak itu untuk merayakan #UlangTahunOreo bersama-sama. Jadi kalau mau tiup lilin tidak perlu menaruh lilin beneran di atas biskuit Oreo-nya. Hahaha. Kembali lagi ke masalah birthday cheesecake, Oreo sebenarnya juga melakukan kolaborasi dengan beberapa F&B outlet seperti Bittersweet by Najla yang mengeluarkan dessert box spesial bertajuk Cookies and Cream Special Anniversary. Semua keseruan ini adalah bagian dari rangkaian perayaan berjudul #WishOreo110.

"Oreo-nya sedang berulang tahun ya, Ma?"
"Iya, ke-110."
"Ternyata Oreo sudah sangat tua ya."
Oreo masuk ke Indonesia di tahun 1994, saya masih SD. Sekarang sudah punya anak, dan Oreo masih ada di rumah saya.

Yang namanya ngemil, tidak bisa dipisahkan dari saya. Dan ternyata, kebiasaan ini menurun juga ke anak saya. Meskipun si Dudu tidak se-lebay saya kalau beli dan makan snack, tapi dia tetap ada jadwal ngemil rutin di sore hari. Apalagi kalau sedang #DatewithDudu di rumah alias main PS4 seharian pas weekend. Yang namanya cemilan jelas tidak boleh absen. Enaknya Oreo, karena dia snack manis, jadi bisa sekalian dianggap pengganti dessert. Selain itu, Oreo juga bisa jadi teman baik saya kalau sedang ngopi. Lebih cocok daripada snack asin atau snack micin.

Ulang tahun Dudu kemarin pakai Oreo Cheesecake


Meskipun Dudu baru berusia 16 tahun, kemarin perayaan ulang tahunnya tidak kalah seru dengan Oreo. Tahun ini sedikit spesial karena biasanya hanya dirayakan secara sederhana di rumah, tiup lilin dan makan bakmi goreng bersama keluarga. Soalnya ulang tahun Dudu jatuh di pertengahan Juli, di mana tahun ajaran baru dimulai. Mau merayakan bareng teman-teman sekolah juga jadi sulit. Namun kali ini saya memutuskan untuk mengajak teman-teman se-gengnya untuk pergi birthday trip ke Bandung. Pengalaman pertama bawa anak-anak ABG jalan-jalan dan menginap semalam. Meskipun mereka tidak kemana-mana alias semalaman main PS4 saja, tapi Dudu bilang dia senang. Yang penting quality bonding time-nya terwujud.


Quality time itu penting untuk membangun ikatan emosional, dan snacking alias ngemil bisa jadi faktor penting dalam melakukan bonding. Merayakan momen spesial seperti ulang tahun juga salah satu cara untuk mendapatkan quality time dengan orang-orang tercinta. Dalam hal ini ya termasuk ikutan berpartisipasi dalam rangkaian #WishOreo110 yang merupakan bagian dari selebrasi #UlangTahunOreo.

05 June 2022

Mengajarkan Anak Agar Waspada Pesan Scam

Kemarin Dudu dapet pesan WA yang isinya spam. Menang giveaway dari Rans Entertainment dan diminta menghubungi nomor tertentu dengan menyerahkan pin yang dicantumkan.

“Who’s Raffi, Ma?”
“Oh, itu artis sinetronnya Oma.

Untungnya Dudu tidak kenal Raffi Nagita dan spam message tersebut tidak mention zombie.

Pesan scam yang diterima Dudu

Tapi hal ini membuat saya jadi waspada, karena ternyata spam tidak pilih-pilih tujuan. Hadiahnya juga uang, sesuatu yang membuat anak seumuran Dudu mudah tergiur. Soalnya dia sering butuh uang untuk beli diamond dan perlengkapan main game-nya. Meskipun karena dia tidak punya uang, mungkin penipunya juga tidak bisa apa-apa.

“Who wants to give up their pin?”

Komentar pertama Dudu ketika membaca pesan tersebut membuat saya lumayan lega. Soalnya dia sudah memahami keamanan digital. Setidaknya, scam model straightforward begitu tidak akan lolos. Namun bagaimana dengan pesan spam dan scam jenis lain, misalnya yang menganjurkan dia klik link tertentu lalu membuat akunnya jadi korban hacker? Terutama karena anak seumuran dia berkeliaran di dunia digital hampir 24 jam sehari. Iklan palsu, tawaran menggiurkan bahkan phising yang muncul di antara level game yang dimainkan juga bisa menjadi masalah.

“Kemarin teman saya ada yang terjebak scam.”
Ini cerita Dudu beberapa tahun yang lalu, sebelum pandemi. Ada satu teman sekelasnya yang tergiur iklan undian iPhone. Yang ada, setelah klik link, akunnya jadi kena hack dan ponselnya error. Scam tidak melulu soal uang, kadang yang dicuri adalah data pribadi. Kalau anak login dengan akun kita, atau shared account, bisa jadi data kita yang dicuri kan.
“Kok kamu tidak terjebak?”
“Karena itu too good to be true. Tidak ada yang mau membagikan iPhone dengan gratis.”

20 February 2022

Butuh Break? Main Word Game Seru Ini

Ada 10 menit break sisa dari makan siang yang sekarang cuma di meja makan rumah. Tidak perlu jalan dari kantin ke meja, tidak perlu ngobrol bareng teman. Tidak perlu jajan beli kopi juga. Lalu mau ngapain?

“Kenapa Mama tidak bermain game saja?”
Begitu saran si Dudu. Masalahnya, saya bukan tipe yang suka main game di ponsel atau laptop. Dan saya tidak suka game tembak-tembakan juga. Jadi apa dong?


Jaman kuliah dulu, ada 4 koran yang dibagikan secara cuma-cuma di lingkungan sekitar kampus saya: New York Times, USA Today dan 2 koran lokal. Saya sering mengambil edisi hari minggu lalu mengklipping komik dan mengerjakan crossword puzzle. Crossword Puzzle milik New York Times ini terkenal sulit, dan bisa mengisi maksimal 5 saja saya sudah bangga haha. Tapi kalau mengerjakan ini, biasanya saya menghabiskan setengah hari sendiri sebelum menyerah. Kalau digunakan untuk mengisi waktu lunch break, bisa-bisa tidak kembali bekerja dong. So, saya mampir ke website nytimes.com dan merasa menemukan harta karun dengan adanya 3 mini-games berikut yang bukan hanya ‘puzzle’ tapi juga main-main dengan kata.

26 May 2021

Main Game bareng Anak Remaja, Main Game Apa?

Saya suka main console sama Dudu. Sama-sama penggila PS4, yang kalau sudah depan TV bisa sama-sama diamuk si Oma karena lupa mandi dan makan.

“Kamu ini males banget sih, main PS aja seharian.”
“Lho, menurut Mama, ini menurun dari siapa?”
Jreng, jreng!


Emangnya kita berdua ini main game apa sih?

Koleksi Game PS4 saya dan Dudu

Game PS tidak selamanya tembak-tembakan, seram dan sadis. Meskipun game macam God of War dan Final Fantasy VII yang menurut saya seru banget itu juga bukan game kids friendly. Bukan game yang akan lulus sensor emak-emak pada umumnya. Jadi di sini, saya memilih game yang, if I can argue, berfaedah bagi seorang Mama dan anaknya. Percaya atau tidak, ada banyak pelajaran tentang bagaimana cara jadi orang tua di game-game ini.


01 May 2018

Overcooked!: Game buat Mama yang Tidak Bisa Masak

Lupa kalau sedang menanak nasi di ujung sebelah sana, saya sibuk memotong lalu menggoreng ayam dan membuat kebakaran setempat. Lalu saya disalahkan Dudu yang harus mengulang masak nasi. Padahal burritonya hampir jadi, diserving dan kita tidak perlu kehilangan poin.

Yah, mau di dapur beneran atau di game Overcooked! PS4, saya memang gagal melulu kalau memasak.

Overcooked!
Rated E for Everyone
(Mild Cartoon Violence)
Developed by Ghost Town Games 



Kerjaan saya dan Dudu di hari libur kejepit kemarin adalah main Playstation 4. Console yang sudah jadi penghuni rumah saya selama kurang lebih 10 bulan itu sekarang sudah ditemani banyak game. 90%nya game zombie, open world dan first-person shooter punya Dudu. Tapi ada satu game lucu dengan rated E (alias semua umur) diantara game yang harusnya untuk 17 tahun ke atas itu. Judulnya OVERCOOKED!.

17 July 2017

Cerita di Balik Kuis 10 Juta dan Playstation 4

Kalau kamu dapat 10 Juta, uangnya mau dipakai apa?

Akhir bulan kemarin saya menemukan pertanyaan itu di salah satu kuis radio. Saya isi jawaban iseng. Jujur. Tapi bukan jawaban yang menggerakan orang untuk kasihan. Saya tulis kalau saya mau belikan PS4 buat Dudu, yang sudah ingin punya console tersebut sejak lama.

Di akhir periode kuis, saya dapat telpon kalau saya masuk final. Satu dari lima yang harus berjuang untuk memenangkan uang tersebut.

HAH? YANG BENAR AJA?

Di tengah kebingungan kenapa saya yang mau membelikan PS4 ini bisa masuk final, saya mengiyakan semua persyaratan dan nekat menjalani babak final tersebut. Kegiatannya banyak, karena para finalis harus menginap 2 hari 1 malam di sebuah hotel. Saya baru memberitahu Dudu malam sebelum saya harus menginap, soalnya saya juga baru diberi tahu siangnya.

Mama: Coba didoakan itu, ditanyakan sama Tuhan, boleh ngga kita dapat 10 juta.
Dudu: (selesai berdoa) Kata Tuhan boleh, Ma.
Hahahaha, enak saja anak ini.

25 July 2016

Seribu Hari, Satu Aplikasi

Seribu hari pertama adalah golden period, tapi sekaligus juga critical period, jadi apa yang terjadi saat itu dapat mempengaruhi pertumbuhan selanjutnya. Kalimat dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, pada acara peluncuran aplikasi PRIMA oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Hari Anak Nasional kemarin, mengingatkan saya akan tanggung jawab untuk membesarkan generasi masa depan bangsa yang sehat. 


Si Dudu sudah 10 tahun, mau apa download PRIMA yang berfokus pada 1000 hari pertama si anak? Eits jangan salah, justru karena anak saya sudah besar, saya harus download PRIMA. 

18 July 2016

Berburu Pokemon di Dufan

Saya serasa balik lagi ke awal 2000an, ketika si Pikachu yang lucu itu jadi idola. Sekarang dengan kemajuan teknologi, kita tidak perlu lagi mengikuti petualangan Ash dan teman-temannya mencari Pokemon. Soalnya sekarang kita yang mencari Pokemon sendiri di game bernama Pokemon Go!


Sheva, Dudu dan Fabio dalam misi mencari Pokemon di Dufan
Pokemon Go! dirilis awal bulan Juli.Gabungan nostalgia dan teknologi bagi pemain dewasa, game ini seru juga dimainkan bersama keluarga. Ketika log in, pemain mendapatkan karakter kita sendiri dalam bentuk avatar. Dengan bantuan GPS, pemain dapat melihat peta lokasinya berada dan mencari lokasi Pokemon terdekat untuk ditangkap dengan Pokeball. Tapi kita harus benar-benar berkeliling untuk mengunjungi tempat-tempat ini.

01 April 2016

Berburu Kartu BoBoiBoy Bersama Adudu dan Indomilk

Menurut Psikolog Saskhya Aulia Prima, M. Psi, “Penyebab anak bosan biasanya bukan karena permainannya tidak menarik, tetapi karena tidak ada teman bermainnya.” Bulan lalu, Indomilk melaunching board game BoBoiBoy yang dapat dimainkan bersama di Bunga Rampai, Jakarta. Saya hadir bersama Adudu, eh maksud saya Dudu. 

Dudu yang sangat excited buat main board game
Kok Dudu berubah jadi musuhnya BoBoiBoy?
Begini awal mula ceritanya menurut Dudu:
“Hari itu aku menghadiri acara bersama Mama. Pertama aku lihat tempat foto, mainan game card dan cobain susu. Susunya enak. Setelah bermain kartu, aku mendengarkan cerita bagaimana bikin BoBoiBoy, mengapa Indomilk memilih BoBoiBoy. Lalu kita makan siang.”
Dalam pidato pembukaannya, Nurulita Novi Arlaida, Head of Corporate PR PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, menyampaikan bahwa Board Game BoBoiBoy ini dipilih untuk menyeimbangkan porsi real-life game dan digital game pada permainan anak zaman sekarang. Kenapa BoBoBoi? Menurut Vanda Ratana, Marketing Manager Indomilk Liquid, animasi ini adalah salah satu yang terpopuler dan disukai anak-anak di Indonesia. “BoBoiBoy memiliki semangat, visi dan nilai-nilai positif serta menunjukkan kerja sama tim.” Ada 24 kartu Boboiboy yang bisa dikoleksi dengan membeli Indomilk Kids ukuran 115ml dan Indomilk UHT regular ukuran 190ml. Kartunya ada di bagian belakang kemasan dan bisa didapatkan dengan menggunting. Sedangkan papan permainannya dapat diperoleh di minimarket yang berpartisipasi atau download di www.indomilk.com. 

Dari membolak-balik kartu inilah saya baru tahu kalau musuh Boboiboy namanya Adudu. Jadi pengen tertawa.



Ikut mengajukan pertanyaan untuk narasumber
Ketika ada kesempatan bertanya, Dudu langsung angkat tangan. “Kenapa karakternya sama tapi power dan skillnya berbeda?” Eh, memang iya ya? Saya bahkan tidak memperhatikan. Ibu Vanda menjawab bahwa memang tujuannya supaya seru karena lawan jadi tidak bisa memprediksi kekuatan kita meskipun susunan pemainnya sama. Memang, bagaimana sih memainkan board game BoBoiBoy ini?
“Game cardnya seru, harus punya sepuluh kartu, kalau tidak, tidak bisa dimainkan. Lima kartu di bagian yang jahat dan lima kartu di bagian yang baik. Jika kartu berhadapan, kamu harus adu power atau adu skill. Yang powernya lebih besar adalah yang menang. Kamu kalah kalau kartumu habis semua. Seperti aku tadi.” ~Dudu

Kasian amat kalah melulu, Du. Tapi menang kalah memang menjadi salah satu manfaat main board game menurut Mba Saskhya yang hadir dalam acara tersebut. “Orang tua biasanya khawatir dengan anaknya yang kalah, tapi lewat board game ini bisa belajar kalau menang bisa bilang apa kepada temannya dan kalau kalah bisa mencoba lagi,” jelas Saskhya. Selain itu ada beberapa kemampuan anak-anak yang dapat dikembangkan lewat board game. Misalnya kontak mata dan ganti-ganti teman jadi anak yang pemalu bisa jadi akrab dengan anak lainnya juga karena adanya media game plus karakter yang dia suka. 
Keseruan main board game Indomilk - BoBoiBoy
Kalau bertemu di tengah adu skill dan adu power
Mama: Apa manfaat main board games, Du?
Dudu: Untuk bermain bersama dan tidak main video game terus.

Acara hari itu ditutup dengan penampilan D’ Massive. Surprise berat karena saya tidak tahu band ini akan hadir. Meskipun bukan fans band ini tapi saya kagum dengan lagu-lagu bertemakan pantang menyerah yang mereka sering nyanyikan. Rupanya, soundtrack BoBoiBoy yang dibawakan mereka memiliki pesan yang sama. Berjudul “Di Bawah Langit Yang Sama,” lagu itu mengajak kita semua untuk saling menghormati dan perduli dengan sesama. 

D'massiv di acara Indomilk (photo: Indomilk)
D'Massive berfoto dengan narasumber (photo: Indomilk)
Epilog:

Itulah yang terjadi dengan saya dan Dudu di minggu-minggu setelah pulang dari acara Indomilk itu. #DateWithDudu alias kencan akhir pekan saya dan Dudu diwarnai oleh mencari kartu. Setiap ada mini market atau supermarket di mall yang kita kunjungi pasti kita mampir untuk sekedar membalik-balik kotak susu Indomilk. Menggunting kartu dan bermain bersama. Saya jadi seperti nostalgia masa kecil yang berburu koleksi kartu. Dudu juga senang karena saya tertarik mengikuti kegiatannya dan antusias belajar tentang BoBoiBoy.

Well, film animasi superhero anak ini memang menginspirasi karena mengingatkan saya akan Power Rangers. Berasal dari Malaysia, BoBoiBoy memiliki tokoh dengan etnis beragam yang merepresentasikan penduduk negaranya. Masing-masing dengan kekuatan yang kreatif yang saling melengkapi, bekerja sama melawan penjahat alien bernama Adudu. Jumlahnya berimbang antara laki-laki dan perempuan, jelas Rina Novita, dari perwakilan Animonstar sebagai pemegang lisensi BoBoiBoy di Indonesia. Selain itu ada nilai-nilai timur yang universal yang diajarkan oleh animasi ini bersama dengan persahabatan, kesetiaan dan semangat tidak putus asa.

Dan kita juga tidak putus asa mengumpulkan kartu.

Kalau belum diminum dan digunting, susu kotak jadi action figure
Sibuk mencari kartu


Kalau sudah selesai minum susu dipotong kotaknya
Dudu: Kalau Mama tokoh kesukaannya siapa?
Mama: Ying!
Dudu: Cocok dengan Mama, Ying tidak bisa masak. Dia pernah bikin kue yang saat dicoba bikin semua orang pingsan.
Mama: Atau Adudu sajalah. Ini ada aslinya di sini.Andrew Dudu jadi Adudu.

Saya ngakak berat, sementara Andrew manyun sambil protes bahwa tokoh kesukaannya di film BoBoiBoy adalah Fang.


Thanks to KEB untuk undangannya.

01 March 2016

Learning Language with Duolingo

Determined to write an English Post for English Friday Challenge, I was honestly challenged by the topic: favorite apps on your smartphone. The first thing I do is eliminating all the social apps. Then I turned to Dudu.

Dudu: Criminal Case?
Mama: Well, that's more like a game.
Dudu: But it's a fun apps.

True. When my tablet died, and I bought its replacement, one of the first game/apps I installed back on was Criminal Case. It's a game that unites us, as we collaborate to solve each case and move on to the next level. But it's not exactly an app. At least not for me. So what, then? I like Snapseed, but I don't have that much time to edit pictures. I use Google Keep for blogging but it's not exactly an exclusive android app either because you can switch back and forth to desktop. Then I realize an abandoned application on the left corner called Duolingo. A language-learning app. It's was installed earlier last month in conjunction with my long-term resolution of learning a new language. So here I left it dusty. 

If you abandoned them, the bar will decrease like the one on the right

11 September 2015

Menemukan Arti Transit di Changi Airport

Changi Airport is the happiest place on earth… at least buat saya dan Dudu. Soalnya menunggu (yang biasanya super nyebelin) jadi seru dan bermanfaat. Maka, ketika pesawat yang akan menerbangkan kita kembali ke Jakarta di-delay hampir 2 jam lebih, Dudu malah happy.


There's something for everyone at Changi Airport Singapore. Mulai dari makan, nonton, bermain, belanja, hingga jalan-jalan di taman. Dijamin tidak bosan dan tidak bangkrut karena semua free (kecuali makan dan belanja). Yang ada kita malah sengaja check in duluan atau keluar belakangan karena mau "jalan-jalan" dulu di sana.



20 August 2015

SG50 Koleksi Games Ulang Tahun Singapura

Misi terbaru Mama dan Andrew adalah mencari hal baru yang menarik selain zombie dan tembak-tembakan. Karena game di tab Dudu isinya zombie semua, kita browsing ulang di Google Play dan menemukan bahwa untuk ulang tahunnya yang ke 50, negara tetangga favorit kita, Singapura, ini meluncurkan berbagai macam game seru! Ini favorit kita berdua.

My Singapore City
Ini game pertama yang kita download dan sekarang ada di tab milik Mama juga. "Kamu bisa membangun bangunan, dan setiap kamu membangun bangunan, orang baru akan datang." Yup, ceritanya kita membangun Singapore dari jaman batu. Dengan matching tiles kita mendapatkan bangunan baru yang bisa dipasang di pulau Singapura. Dari setiap bangunan dan orang yang datang, kita mendapatkan cerita sejarah dan kisah tokoh-tokoh penting di Singapura.





Dudu Says: Belajar tentang legenda Singapore seperti apa. Yang menarik bisa main mini game dan menambahkan rumah-rumah. Tapi, setiap orang baru datang, akan ada orang lama yang menghilang karena kamu mengganti rumahnya.

Building The Lion
"Seperti monopoli, tapi sayangnya memainkannya menbutuhkan wifi connection." Yup, game ini sebenarnya seru. Kita bisa memilih untuk melawan players lain ataupun melawan komputer. Mulai dari melempar dadu dan mendarat di salah satu "tanah" di situ kita bisa memutuskan mau membuat apa. Ada hotel, ada kios duren dan sebagainya. Semua khas Singapura. Dan seperti Monopoli juga, yang lewat bayar sementara pemenang ditentukan dengan jumlah harta dan uang yang ada. Grafisnya bagus dan lucu. Setiap bangunan ada cerita dan keterangannya. Seperti ketika kita membuka toko durian, maka ada penjelasan tentang durian.





Dudu Says: Dari sini aku belajar cara main monopoli. Yang menarik, kau bisa membuat bangunan seperti changi airport dan apartment lainnya. Banyak yang aku sudah tahu seperti Sentosa Island. Tapi masih kalah terus nih, Ma.

Satay Club
"Game ini ceritanya adalah seorang Adi yang bekerja sebagai seorang farmer di village menerima letter dari cousin-nya yang ada di Singapore. Adi sangat senang pergi ke Singapore dan melihat cousinnya sukses besar dengan sate. Dia pun membantu perusahaan itu." Diner dash versi tukang sate. Kita jualan sate di Beach Road, mengambil pesanan, memasak dan membuang bekas makan sate. Gambarnya pixelated banget tapi ya untuk game diner dash begini, masih bisa dimaafkan. Yang lebih parah, game ini tidak bisa disave.



Dudu Says: Sayang game ini tidak bisa di-save, aku jadi harus mengulang terus dari awal. Kenapa ya? Aku bisa belajar jadi tukang sate. Jualan sate itu menarik lho, Ma.

Ricksaw Rush
"Ceritanya kamu sebagai tukang becak yang mengantar orang-orang." Sebagai tukang becak, pemain harus mengambil penumpang dan mengantarkannya ke tujuan tepat waktu. Menggerakan tukang becak seperti main pac-man. Kita harus mengatur strategi dan combo agar dapat menyelesaikan misi tepat waktu dan unlock secret passengers. Agak sulit karena kalau mau belok di tengah perjalanan, sering terlewat. Jadi kita harus memikirkan strategi agar bisa mengantarkan semuanya dalam waktu singkat. Game ini orangnya agak pixelated, tapi tetep fun kok.



Dudu Says: Aku paling suka bisa custom characters dan gerobaknya. Aku belajar tentang macam-macam orang yang ada di Singapore. Dari game ini yang susah adalah kamu harus cepat-cepat untuk mengantar VIP guests karena mereka akan marah dalam waktu 6 detik.

18 April 2015

Pelajaran Belanja dari The Walking Dead's Andrea

Alkisah Mama dan Dudu pergi ke sebuah bazaar mainan di Balai Kartini. Jakarta Toys and Comic Fair (atau yang lebih dikenal dengan JakToysFair) ini sudah kita datangi tiap tahun dan kali ini saking semangatnya kita sampai beli tiket pre-sale di mini market 24 jam.

Pemandangan dari atas, demi mencari Andrea
Soalnya ada percakapan seperti ini terjadi sebelum Imlek.
Mama: Mau ada toys fair loh, Du.
Dudu: Oh ya?
Mama: Simpen angpaonya ya.
Dan angpaonya beneran disimpen sama si Dudu karena dia mau cari action figure The Walking Dead favoritnya.

Ternyata itu bukan perkara mudah, mencegah anak 8 tahun membeli action figure koleksi yang biasanya buat investasi dijual lagi, dan mengalihkannya untuk cari mainan yang memang buat dimainin. Permintaannya spesifik pula: harus cewek dan harus bawa pistol. Soalnya dari mainan yang dia punya, hanya karakter itu yang kurang. Cape dehhhh...

Kalau begini jadi mirip garage sale mainan
Koleksi Star Wars yang bikin kita berdua berhenti
Dari awal sudah bilang:
Mama: Kalau tidak ketemu jangan memaksa ya.
Dudu: Pasti ada, Ma. Toys fairnya kan besar.
Mama: Kalau mahal juga jangan dibeli.
Dudu: Kan duit aku.
Mama: Tetap saja. Belanja harus masuk akal.

Ngomong-ngomong masuk akal, barang pertama yang kita beli adalah NERF gun sebesar bazooka ala Ceras Victoria-nya Hellsing. Dan itu Mamanya yang beli (ups) karena harganya yang turun drastis hingga hanya Rp100rb..
Dudu: Kok jadi murah, Ma?
Mama: Soalnya ngga ada kardusnya.
Dudu: Ooo... Jadi harga kardus itu sampai 800rb ya. Mahal ya kardus. Kalau gitu kita cari mainan yang sudah berpisah dengan kardusnya saja. Aku tidak pakai kardusnya.



Lalu kita bertemu dengan Princess Leia yang punya 2 pistol dan tidak punya kardus. Sayang ukuran jagoan perempuan Starwars ini terlalu kecil. Andrew tetep ngotot mau cari Andrea sampai bertanya ke setiap penjual yang ada. Lalu kita bertemu seri Resident Evil yang harganya 750rb per-buah. Dudu ngobrol asyik dengan penjualnya lalu pengen beli.

Dudu: Aku punya uang kan, Ma?
Mama: Tapi langsung habis loh.
Dudu: Tidak apa-apa.
Mama: Itu bisa dapat 2-3 Andrea loh. Yakin ngga mau muter dulu?
Dudu: Kita sudah muter kan tadi tidak ada.

Dan memang tempat acara yang super penuh tidak membantu kita mencari dengan seksama. Padahal kita sudah datang jam 9 dan masuk tempat acara untuk tukar tiket jam 10 teng. Tapi tetap saja karena harus mengikuti antrian yang sudah sampai tempat parkir, kita jadi baru bisa belanja pas sudah lewat setengah jam. Oh iya, Balai Kartini sekarang ada tempat parkir tambahan di belakang, tidak terlalu jauh jalan dari gedung utama juga meskipun yang ini outdoor. Jadi tidak perlu terlalu was was soal parkir lagi.


Mama: Gimana kalau muter sekali lagi? Kalau tidak ada baru menyerah.
Dudu: Baiklah.
Mama: Tapi kamu tetap tidak boleh beli mainan yang 750rb itu. Itu buat koleksi. Nanti buat dijual lagi tahun depan trus dapat untung. Kalau kamu kan dimainin trus nanti ada yang hilang... Ngga jadi dijual.
Dudu: Mainan ngga ada kardusnya jadi murah ya Ma?

Dari situ Dudu belajar soal beli barang untuk dipakai sendiri dan beli barang untuk dijual lagi. Meskipun...
Dudu: Kan bisa dijual di garage sale.
Mama: Tapi garage sale kan murah.
Dudu: Jadi rugi ya, Ma.
Mama: Itu tahu.

Long story short, kita ketemu sama Andrea di satu booth di pojokan yang pada putaran pertama kita lewatin karena penuh banget. Harganya Rp200rb. Fiuh, Mama jadi tidak perlu debat cari alasan kenapa mainan yang mahal tidak boleh dibeli padahal itu duit dia sendiri,

Mission accomplished.