Showing posts with label Singapore. Show all posts
Showing posts with label Singapore. Show all posts

21 January 2026

Catatan Kecil dari Tempat-Tempat yang Menginspirasi

Hari impian saya adalah memulai pagi dengan kopi, lalu jalan ke tempat-tempat di mana saya bisa menikmati kesendirian. Ini saya lakukan saat perjalanan awal tahun kemarin di Singapura.


National Gallery Singapore

Bagi pencinta seni dan sejarah, tempat yang merupakan bekas dua bangunan bersejarah, Supreme Court dan City Hall, ini wajib dikunjungi. Saya biasanya menyempatkan berkunjung ke sini kalau sedang mampir ke negara tetangga. Buat apa? Buat bengong haha. Sebenarnya, National Gallery Singapore adalah rumah untuk koleksi seni Asia Tenggara dan dunia. Namun, atmosfer tenang dan inspiratif di tengah hiruk-pikuk kota Singapura yang sibuk membuat tempat ini ideal untuk menyendiri. Kalau hendak melihat koleksi dan pameran, tujuan wisata ini berbayar. Ada beberapa area dan koridor yang bisa diakses tanpa harus membayar tiket masuk. Tempat-tempat inilah yang biasanya ideal untuk duduk-duduk, berhenti mengambil jeda dan mencari inspirasi.



Lalu kalau di Indonesia, di mana bisa mendapatkan vibes yang sama?

Museum Nasional

Sejujurnya, Museum Gajah punya vibes yang mirip. Gedung yang juga bersejarah, kursi-kursi di depan pameran, dan atmosfer tenang yang sama. Bedanya, kalau National Gallery Singapore fokus di beragam karya seni, Museum Nasional menyimpan ribuan koleksi berharga mulai dari artefak prasejarah, arca kuno, kain tradisional, hingga peninggalan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia.

Bagaimana dengan cafe?

29 April 2017

Singapura: Perdana Bertamu ke Rumah Saudara

Kalau boleh memilih Negara manapun di dunia untuk jadi tempat tinggal, saya memilih Singapura. Soalnya kalau di Asia Tenggara, Singapura itu ibarat G-Dragon (buat yang ngga paham boleh tanya Google kok haha). Bukan yang paling tua (umurnya), bukan yang paling tinggi (badannya) tapi inovatif, dan meninggalkan kesan mendalam ketika bertemu. Ya semacam kakak pertama yang cool tapi imut-imut gitu.
Taman di Gedung Catatan Sipil Singapura
Singapura ini sudah jadi “saudara” buat saya karena memang banyak kerabat yang pindah ke sana. Adik saya di sana, sepupu saya di sana, dan saya sendiri senang bolak-balik ke sana. Kalau sudah jenuh dengan suasana macet dan panas Jakarta, saya segera browsing tiket untuk berakhir pekan di Negara tetangga itu. Untuk saya dan Dudu, Singapura ini menyenangkan karena kita menemukan hal-hal yang tidak ada (atau masih dalam pembangunan) di Indonesia. Kalau dalam saudara, seperti punya kakak yang lebih pintar dan lebih kaya lalu kita bisa datang bertamu dan numpang ganti suasana di rumahnya.

Saya sering dapat pertanyaan, “kalau pertama ke Singapura, saya sebaiknya ke mana?” Ada banyak faktor yang menentukan tujuan Anda. Sama siapa, sukanya apa, dan berapa lama. Standar kunjungan orang Indonesia ke Singapura biasanya akhir pekan, jadi 3 hari 2 malam. Jadi, coba saya jawab rasa penasarannya ya.

22 October 2016

Halloween Seru di Universal Studios

Halloween Date kali ini sedikit berbeda. Biasanya kita menghabiskan pesta kostum di mall, ikutan trick or treat dan membawa pulang sekeranjang permen. Namun kemarin kita merayakan Halloween lebih awal dengan berkunjung ke dunia lain di Halloween Horror Nights 6, Universal Studio Singapore. Tanpa kostum, tanpa permen, hanya bermodal nekat. Jadi judul posting in harusnya "Halloween terseram di Singapura".

Posing in front of the gate at the end of our date
Soalnya rumah hantunya seram banget dan memang sudah dianjurkan tidak bawa anak kecil. Dudu juga takut sampai menangis. Sepupu saya (yang kemarin ikut ke Arts Science Museum juga) sama takutnya. Tapi namanya sudah beli tiket (early bird pula), bahkan sudah sampai bertolak ke negara tetangga demi acara ini, ya masa kita tidak masuk? Hahaha. 

Saat matahari tenggelam, Universal Studios Singapore berubah dari theme park untuk keluarga yang penuh keceriaan menjadi sebuah tempat berhantu yang mengerikan. Semuanya total, dari lighting, kostum dan rumah hantu yang dibangun membuat kita merasa memasuki taman bermain yang berbeda. Dan entah bagaimana, saya lebih suka Universal Studios versi horror ini. Karena lebih seru, lebih sepi (walaupun mau masuk rumah hantu harus antri 30 menit) dan lebih hidup. 

16 October 2016

A Glimpse of Future at ArtScience Museum 

Di antrian imigrasi Changi Airport minggu lalu, Dudu tiba-tiba bertanya, “kapan kita akan kembali ke Singapura lagi?” Well, kalau ArtScience Museum sudah ganti exhibition lagi. Yang mungkin tidak terlalu lama karena kita datang di penghujung pameran Big Bang Data.

Museum yang terletak di kawasan Marina Bay Sands itu adalah salah satu tujuan utama kita di Singapura. Rasanya ada yang kurang kalau belum ke sana, apalagi ketika mereka menghadirkan pameran baru. Kekecewaan dan rasa penasaran karena gagal mengunjungi museum ini ketika Playdate Singapore-Legoland bulan Juni kemarin terbayar dengan kunjungan kali ini.

And guess what, kita masih bisa menyaksikan Big Bang Data sebelum pameran yang satu itu kembali melanglang buana. 



Jumlah foto yang diuplad di Flickr selama 24 jam di thn 2011
Datang di Jumat siang lewat MRT Bayfront, saya yang membawa sepasang anak mau ABG ini memutuskan makan siang di Marina Bay Sands. Ternyata begitu masuk ArtScience Museum, tempat membeli tiket di lantai 1 sudah berubah jadi café yang menggoda untuk mampir. Loketnya sendiri pindah ke basement, yang tadinya digunakan untuk penjualan merchandise. Jumat adalah Family Free Friday, di mana anak-anak berusia 12 tahun ke bawah bisa masuk gratis dengan pembelian 1 tiket dewasa. Jadi saya hanya membayar SGD 30 untuk masuk ke semua bagian. Akibatnya, museum jadi penuh dan beli tiketnya antri panjang.

Baca: 24 Hal gratis untuk wisata keluarga di Singapura 


Banyak yang bilang The Future World adalah “must-visit” (dan saya tidak bisa lebih setuju lagi setelah masuk dan mencobanya sendiri) tapi karena bagian yang ini memiliki jam masuk tertentu (10am, 11.30am, 1pm, 2.30pm, 4pm dan 5.30pm), maka saya memutuskan untuk mampir ke pameran yang sudah hampir berakhir itu: Big Bang Data.

03 July 2016

Playdate With Dudu: Singapura - Legoland

“Ke Singapura yuk.” Ajakan seorang teman di bulan April lalu, imbas euphoria suksesnya jalan-jalan naik kereta ke Malang Imlek kemarin menjadi awal direncanakannya playdate ini. 

Welcome (back) to Singapore!
Tahun ini seperti biasa, Andrew yang warga negara asing harus ke luar negeri untuk perpanjangan ijin tinggal dan saya butuh refreshing. Yuk pergi. Toh ke Singapura lebih seru kalau ada teman yang seumuran.

Gara-gara sharing foto playdate kemarin, ada beberapa teman yang bertanya tentang itinerary dan biaya perjalanan. Biasanya saya tidak sharing rencana perjalanan karena saya tidak detail menuliskan jam berapa mau ke mana dan bagaimana. Biaya perjalanan juga untung-untungan tergantung ada promo apa dan di mana belinya. Tapi boleh dicoba juga sesekali menulis dengan gaya berbeda.

Singapore itinerary
Rencana ke Singapore

03 June 2016

24 Free Fun Things to Do in Singapore for Family

Singapore is a fine city. Pernah lihat kaos bertuliskan begitu dengan gambar daftar denda? Tapi buat saya, kata "fine" di sini bermakna positif. Jadi, daripada membuat list denda, saya membuat list hal-hal gratis yang bisa dinikmati di Singapura. Let's get started!

With love from Fort Canning Park Singapore
Singapura juga identik dengan negara (atau kota?) ramah anak yang banyak sekali fasilitas gratisan untuk keluarga. Liburan sekolah yang sudah di depan mata, biasanya negara tetangga yang satu ini menjadi destinasi liburan favorit. Termasuk saya dan Dudu. 

MARINA BAY

Dulu tempat ini hanya satu mall. Lalu muncul F1, Singapore Flyer dan yang terakhir Marina Bay Sands dengan segala kemegahannya.Walaupun tidak hobi belanja, tapi berjalan dan foto-foto di dalam Marina Bay Sands kerap jadi aktivitas favorit kita berdua. Apalagi menyusuri kanal yang seperti di Macau itu. Mungkin seuatu hari kita bisa menyempatkan naik juga. Marina Bay Sands juga tempat kita nonton The Lion King bertahun-tahun lalu, dan sejak itu masih tersimpan rasa ingin nonton musical lain yang belum kesampaian.



Marina Bay at Sundown
Marina Bay Sands memang mewah, tapi bukan berarti kita harus menghabiskan banyak uang di sana. Saat membuat list “Free stuffs in Singapore with Kids,” saya terkejut sendiri melihat banyaknya hal seru yang bisa dilakukan di Marina Bay (exit Bayfront). 

1. Nonton laser show di malam hari. Ada 3 pertunjukan: 8.00, 9.30 dan 11.00. Setiap pertunjukan sekitar 15-20 menit dan ada baiknya hadir lebih dulu agar dapat tempat pas. Pertunjukan ini outdoor ya, jadi tergantung cuaca juga.

2. ArtScience Museum Free Friday. Setiap hari Jumat, 4 orang anak-anak gratis masuk ke museum di Marina Bay ini hanya dengan membayar tiket 1 orang dewasa. Jadi, untuk yang ke Singapura, atur jadwalnya agar bisa mampir di hari Jumat. Lumayan bisa hemat 19 SGD/anak untuk tiket all access.



3. Far East Organization’s Children’s Garden menyediakan waterpark dan rumah pohon gratis untuk anak-anak. Buka hingga jam 9 malam pada akhir pekan.


03 April 2016

Liburan Hemat ala Mama dan Dudu

Kalau Dudu bertanya, “Ma, kapan kita liburan lagi?” jawaban saya biasanya standard, “nabung dulu ya, Du.” 

Soalnya liburan ternyata mahal. Terbayang jaman dulu Papa-Mama saya bisa bawa anaknya 3 orang liburan kemana-mana. Kadang malah sekalian ada Opa-Oma saya juga. Jaman sudah berubah, jadi sekarang kita harus pintar-pintar mengakali supaya liburan bisa jadi murah-meriah. Jadi, gimana caranya supaya bisa liburan hemat?

Rame-rame lebih seru
Menurut Dudu, kalau ada teman, liburan jadi lebih seru.
Kalau liburannya seru, kan kita jadi lebih ikhlas bayarnya haha. Tidak begitu juga sih. Kalau ada teman jalan itu berarti bisa berbagi cost. Misalnya saya, kalau pergi hanya berdua Dudu kan harus book satu kamar hotel. Kalau saya dapat teman jalan yang tidak berkeberatan share room sama Dudu, atau another single parent yang pergi dengan anaknya, kan harga kamar bisa dibagi dua. Apalagi kalau banyak jumlahnya, kita bisa minta harga grup atau rombongan. Jadi lebih hemat kan liburannya?

Kenapa tidak cari yang gratisan?
Di Singapura ada banyak tempat gratisan untuk anak-anak. Saya pernah menulis listnya di blognya Reservasi.com (boleh dong promo sedikit). Harta karun yang saya temukan di kunjungan terakhir adalah Children’s Garden yang free kalau kita datang bawa anak dibawah 12 tahun. Di daerah Marina Bay Sands ada banyak juga yang gratisan. Pertunjukan laser di Marina, Children’s Garden di Garden’s By The Bay (yang ini harus bawa baju ganti karena main air) dan kegiatan gratis di Art Science Museum setiap hari Jumat.

Main di pantai juga gratis lho.

31 March 2016

Singapura Dulu dan Sekarang

Setiap boarding di Changi, orang tua saya selalu bilang “kamu inget ngga, waktu pertama kali keluar negeri, kamu nangis ngga mau pulang di airport?” Ingat! Salah satu kenangan masa kecil yang tidak terlupakan adalah perasaan sedih karena harus meninggalkan Singapura. 

Sayangnya tidak semua hal tentang kunjungan perdana naik pesawat dengan paspor yang masih nebeng orang tua itu karena sudah lebih dari 20 tahun berlalu. Tapi ada empat tempat yang menjadi tempat nostalgia, meski saya belum tua-tua amat.

Lobby Singapore Science Center (2014)
Singapore Science Center
Tempat ini adalah destinasi wajib di Singapura. Ibarat cinta pertama, museum yang interaktif ini cepat mendapatkan tempat di hati anak-anak termasuk saya dan kedua adik saya. Dari stasiun MRT Jurong East, kami semua harus berjalan kaki menerobos rusun dan pasar untuk sampai ke sana selama 15 menit. Pada jaman itu, yang namanya jalan kaki tidak ada dalam kamus kami yang selalu diantar jemput naik mobil. Science Center sendiri sudah banyak berubah meskipun bagian basic science dan tipuan mata yang ada di bagian paling depan termasuk lobby utama yang banyak pintunya, masih kurang lebih sama dengan yang ada di ingatan kita.

15 November 2015

Menginap di Royal Plaza on Scotts Singapore

Back to Orchard. Setelah dulu nginep di bilangan Dhoby Ghaut, lalu sempat ke Farrer Park dan Lavender, sekarang kita balik lagi ke surga shopping Singapore untuk menginap di Royal Plaza on Scotts yang lokasinya di sebelah Shaw House, seberang Tang dan cuma 5 Menit jalan kaki dari ION Orchard. Semua itu hanya untuk tidak belanja apa-apa hahaha. 

Lobby Royal Plaza on Scotts

20 September 2015

ArtScience Museum: Mengunjungi Laut Dalam dan Masa Lalu

Dudu and science are two things that can't be separated. Jadi, dia senang banget waktu kita pindah ke exhibition The Deep dari Dreamworks karena yang ini tentang kehidupan di dalam laut.

Ini adalah cerita bagian dua dari #DateWithDudu di ArtScience Museum Singapore di mana kita mengunjungi tiga exhibitions sekaligus: Dreamworks (sampai 27 September), The Deep (Sampai 27 Oktober)dan The Singapore Story (Sampai 4 Oktober). Tiket masuk ArtScience Museum untuk Dreamworks dan The Deep adalah SGD 30 (dewasa) dan SGD 18 (anak-anak).




The Deep Menyelam ke Laut Dalam

Masuk ke laut dalam semuanya gelap. Udaranya dingin, mencekam dan susah foto tanpa blitz (soalnya dilarang ambil video dan Foto pake flash). Dan sebagai orang Indonesia pemakan segala, melihat ikan (walaupun wujudnya seram) pada jam mendekati makan siang, saya jadi lapar. Tapi antusiasme Dudu mencari tahu tentang ikan-ikan dan rasa penasaran nya tentang kehidupan dalam laut membuat suasana suram di dasar laut jadi ceria.


Dasar laut adalah tempat misterius. Mengutip pernyataan Dr. Cindy Lee Van Dover, seorang ahli biologi laut dalam, “More men have walked on the moon than have dived to the deepest part of our oceans.” Lebih banyak manusia yang menjejakkan kaki ke bulan daripada ke dalam laut. Jadi bagian pertama exhibition ini adalah tentang bagaimana manusia memulai perjalanan menjelajah bawah laut. Dimulai dari kapsul kedap air sampai expedisi yang menggunakan kapal selam. 


19 September 2015

ArtScience Museum: Mengintip Dapur Dreamworks

Hore! Akhirnya kita kesampaian pergi #DateWithDudu ke ArtScience Museum Singapore. Tidak tanggung-tanggung kita pergi mengunjungi tiga exhibition sekaligus: Dreamworks (sampai 27 September), The Deep (Sampai 27 Oktober)dan The Singapore Story (Sampai 4 Oktober). Yang terakhir ini exhibition gratis yang diadakan The Strait Times dalam rangka merayakan ulang tahun Singapura ke-50.


Tiket masuk ArtScience Museum untuk Dreamworks dan The Deep adalah SGD 30 (dewasa) dan SGD 18 (anak-anak) dan dapat soda gratis yang bisa diambil di toko souvenirnya. Kalau yang hanya mau masuk satu exhibition saja, bisa beli tiket satuan, kok.

Dudu langsung mengeluarkan gadgetnya untuk foto-foto.

16 September 2015

A Fun Afternoon at Jacob Ballas Children's Garden

Singapore on a budget? Well, mampir saja ke Jacob Ballas Children's Garden yang terletak di komplek Singapore Botanic Garden. Selain buka dari pagi, jadi bisa datang sebelum mulai berkeliling Singapura, taman ini juga gratis. Bisa jadi alternatif untuk yang mencari liburan murah di Singapura dengan anak. Eits, tapi ada syaratnya: setiap orang dewasa yang masuk wajib ditemani anak usia 0-12 tahun.

Dudu: Jadi Mama bisa masuk karena aku ya. Kalau orang dewasa saja tidak boleh masuk. Ini taman anak-anak
Mama: Kalo ngga ada Mama, kamu juga ngga bisa masuk kali. Anak-anak ngga boleh masuk sendirian.


Jacob Ballas Children's Garden

Jacob Ballas Children's Garden entrance
Pintu masuk ke Jacob Ballas Children's Garden ada di balik pintu ini
Gerbang masuk Jacob Ballas Children's Garden

11 September 2015

Menemukan Arti Transit di Changi Airport

Changi Airport is the happiest place on earth… at least buat saya dan Dudu. Soalnya menunggu (yang biasanya super nyebelin) jadi seru dan bermanfaat. Maka, ketika pesawat yang akan menerbangkan kita kembali ke Jakarta di-delay hampir 2 jam lebih, Dudu malah happy.


There's something for everyone at Changi Airport Singapore. Mulai dari makan, nonton, bermain, belanja, hingga jalan-jalan di taman. Dijamin tidak bosan dan tidak bangkrut karena semua free (kecuali makan dan belanja). Yang ada kita malah sengaja check in duluan atau keluar belakangan karena mau "jalan-jalan" dulu di sana.



10 September 2015

Malam Hari Di Marina Bay

Menjelajah sendirian di Singapore tanpa Dudu sebenarnya agak garing. Maklum, terbiasa berpetualang berdua. Tapi saya jadi bisa berkeliling menikmati indahnya malam hari di Marina Bay tanpa harus pusing ada yang bosan karena saya hanya melihat matahari terbenam dan menunggu lampu menyala.


Sekali-kali yang punya blog mejeng sendirian
Saya sampai di Marina Bay sebenarnya karena janjian dengan seorang teman blogger, Mba Suci yang perdana pergi ke Singapura. Tapi apa daya kita belum jodoh bertemu di negara tetangga. Haha. Nah karena sudah terlanjur ada di Marina sini, dan saya sendirian, kesempatan ini saya gunakan untuk berkeliling dan foto-foto. Toh, Dudu bukan penyuka bangunan historis jadi dia ngga akan ketinggalan apa-apa.

Marina Bay Sands

Berjalan keluar dari Bayfront MRT yang terhubung dengan Marina Bay Sands di lantai basement, saya langsung memanfaatkan waktu untuk berkeliling. Karena bukan pencinta shopping, saya memutuskan untuk keluar dan mengunjungi ArtScience Museum untuk melihat exhibition apa yang bisa saya kunjungi bersama Dudu ketika dia sudah sampai keesokan harinya. Ketika berjalan keluar dari Museum jam 7 malam (yes, matahari Singapura terbenam agak lambat), pemandangan skyline Singapore mencuri perhatian saya.


Banyak yang jogging, naik sepeda atau sekedar berjalan-jalan sambil mendorong stroller di daerah sini. Selain karena sejuk, jalanannya juga kids friendly, alias aman dan cukup luas untuk anak-anak berlarian. Favorit saya tentu saja kumpulan pohon palem yang dijajarkan rapi. Seperti Los Angeles, tapi versi yang bisa dilewati dengan jalan kaki. Haha.




Menyenangkan melihat langit berubah diantara gedung-gedung tinggi dan Fullerton Hotel dengan desain klasiknya, tapi begitu gelap, perhatian kita beralih ke light and laser show yang dimulai jam 8 setiap harinya. Buat yang kelewatan, masih ada show jam 9.30 dan extra jam 11 malam khusus Jumat dan Sabtu malam. Shownya gratis, dan kita tinggal duduk di tempat yang sudah disediakan. 





Wah, Andrew pasti suka nih!

Fullerton

Sebenarnya Andrew sudah pernah nonton laser show secara tidak sengaja waktu kita pergi bersama para sepupu. Tapi kita nonton dari sisi seberang, alias sisi Fullerton, jadi tidak jelas seperti apa aslinya light and laser show ini. Hanya terlihat permainan lampu dari atas Marina Bay Sands.

Merlion yang jadi Icon Singapore

Kalau dari Fullerton yang kelihatan cuma ini
Fullerton sendiri hidup pada waktu malam. Dekat dengan exit MRT Raffles Place, One Fullerton yang letaknya mepet dengan Merlion yang menjadi Icon Singapura ini adalah sekumpulan restoran, cafe dan bar outdoor yang meriah ketika malam datang. Masih di Fullerton juga, ada banyak sejarah yang dapat dinikmati di sini. The Fullerton Hotel Singapore adalah hotel bintang lima yang dulunya adalah gedung Kantor Pos Pusat Singapura. Selain itu ada Fullerton Bay Hotel yang berbentuk kubus unik dengan interior indah. Hotel ini membuka lantai lobby-nya untuk dilalui umum jadi kita tidak perlu berpanas-panasan di siang hari. Kalau beruntung, sambil jalan kita bisa mendengarkan live music dari restoran hotel.


Singapore Flyer, Helix Bridge, ArtScience Museum, Marina Bay Sands


Dari sisi sebelah sini, kita bisa berdiri di dermaga dan melihat lampu-lampu Marina Bay Sands, Singapore Flyer dan Helix Bridge.

Lau Pa Sat

Restoran yang ada di seputaran Marina Bay lebih cocok untuk special occasion atau hang out bersama teman-teman. Jadi saya berjalan sedikit ke Lau Pa Sat, yang katanya adalah food court tertua di Singapore. Sejarahnya sudah dimulai pada awal 1900 ketika Telok Ayer Market dibangun. Beberapa kali mengalami renovasi (terakhir pada tahun 2014), food court ini masih terasa seperti gedung lama dengan arsitektur Victorian. Dalamnya panas. Yes, meskipun malam hari, sepertinya angin tidak bisa lewat jadi udaranya tidak sesegar ketika kita berada di luar. 




Lau Pa Sat

Tapi dentingan lonceng yang tiap 15 menit dan banyaknya jenis makanan di Lau Pa Sat membuat saya tetap duduk manis dan makan sampai habis. Harganya juga tidak mahal, mirip dengan food court pada umumnya. Jenisnya banyak. Selain dari masakan chinese yang selalu ada (seperti sup ikan dan nasi ayam hainam), ada masakan India, Vietnam, Korea, Jepang dan lainnya). Ada masakan Indonesia juga lho.



Lau Pa Sat

Vietnamese Roll at Lau Pa Sat
Vietnamese Roll at Lau Pa Sat
Menemukan sebuah bangunan klasik satu lantai peninggalan jaman penjajahan di tengah gedung-gedung tinggi dan modern rasanya menarik. A mix between history and contemporary. Jalan keliling Marina Bay Sands gratis lho, bisa jadi alternatif kalau ingin liburan murah di Singapura.

Bonus Trip: 
Far East Organization Children's Garden

Kalau ada Dudu, mungkin saya akan menghabiskan waktu di Garden By The Bay seperti waktu itu. Walaupun jadi tidak masuk ke dome-dome yang ada, tapi di sana ada Far East Organization Children's Garden yang gratis untuk anak-anak bermain. Water play yang terlihat begitu kita masuk langsung menarik anak-anak untuk main air. Kalau ke Singapura memang sebaiknya bawa handuk dan baju ganti kemana-mana karena water playground bisa muncul di mana saja. 





Tapi jangan berhenti di main air, children's garden ini juga punya hidden playground yang tertutup pohon rindang dan semak-semak di sekitar water playgroundnya. Sementara para orang tua duduk manis di ampitheatre, anak-anak bisa bermain di rumah pohon alias Rainforest Treehouse. Kalau malam jadi lebih sejuk soalnya Singapura kadang lebih panas dari Jakarta. Tapi kalau siang lebih kelihatan dan untuk foto-foto juga akan lebih bagus hasilnya. Haha. Jadi dilema ya.

Far East Organization Children's Garden ini dibuka hingga jam 7 malam pada hari biasa dan jam 9 malam pada akhir pekan. Namun tutup pada hari Senin seperti banyak tempat lainnya di Singapura. 

Rumah Pohon di Garden By The Bay
Aman? pasti aman. Pulangnya gampang? Well, MRT dan bis ada sampai tengah malam. So, jangan berhenti berkeliling Singapura ketika matahari terbenam karena petualangan baru saja dimulai, terutama di Marina Bay. Andrew justru senang kalau jalan malam karena tidak panas. 

Let's walk around and discover a different side of Singapore.

23 August 2015

Liburan Seru Ke Singapura Dengan Sepupu

Bukan fans travelling rame-rame, walaupun pada beberapa kesempatan kita pergi juga dengan anggota keluarga yang lainnya. Sudah terbiasa jalan berdua Dudu tanpa ribet tanpa harus banyak kompromi. Apalagi kalau pergi dengan keluarga besar, makin banyak peserta, makin banyak ide dan menyatukan banyak kepala itu tidak mudah. Tapi sekali ini saya mengiyakan tawaran Tante saya dan keluarga nya untuk jadi tur guide dalam perjalanan perdana mereka ke luar negeri.

Sebenarnya Dudu paling muda. Tapi badannya bongsor.
Tantangan tersendiri buat saya yang egois ini untuk mengikuti itinerary orang. Tapi buat si Dudu makin banyak orang memang makin asyik. Karena biasanya jadi peserta paling muda dan satu-satunya Anak kecil di acara travelling keluarga. Andrew senang karena ada tiga sepupu saya yang seumuran dia ikutan dalam travelling kali ini.

Mendarat di Changi pagi-pagi, kami berdua harus menunggu pesawat Tante saya mendarat dari kota lain. Untungnya Bandara Singapura ini terkenal canggih dan memiliki banyak fasilitas. Jadi menunggu 5 jam itu tidak terasa karena banyak hal yang bisa dilakukan mulai dari main, jalan-jalan di Taman hingga nonton TV. Buat yg suka shopping, Changi juga banyak pilihan. Nah keseruan dimulai di sini ketika keluarga Tante mendarat dan sibuk dengan segala fasilitas yang ada di Changi sampai lupa keluar dari airport.


Mencari hotel murah untuk keluarga, sebuah hostel backpacker di daerah Lavender juga jadi tantangan soalnya ketika para sepupu saya yang seumuran Dudu ini jarang jalan Kaki. Maklum di Indonesia kan susah trotoar. Jadi begitu jalan beberapa Blok dari MRT, mereka mulai lelah. Tapi karena Dudu semangat dan terlihat santai, mereka jadi tidak mau kalah. Yang ada malah Tante dan Om saya yang kerap tertinggal saat jalan kaki. Tapi enaknya tinggal di hostel, selain murah, jumlah kita pas untuk book satu kamar, jadi tidak perlu khawatir tercampur dengan orang asing.

Seru karena banyak hal baru yang butuh penyesuaian. Mulai dari hal paling simple seperti menyebrang jalan pada tempatnya hingga membeli dan menggunakan karcis MRT. Dudu jadi tur guide dadakan. Jadi setiap kali kita naik MRT, Dudu akan masuk duluan sambil menunjukkan caranya dan saya akan masuk paling akhir karena harus memastikan bahwa semua anggota rombongan bisa melewati gate dengan aman.

Soalnya keluarga Tante ini tidak bisa bahasa Inggris.

Penyesuaian berikutnya adalah kemana bisa pergi? Soalnya saya dan Dudu biasanya keluar jalur dan bahkan pernah muter-muter Singapura hanya untuk berburu buku. Lalu, objek wisata apa yang menjadi lebih seru ketika dikunjungi bersama?

Malam pertama kita ke Orchard. Soalnya si Tante tidak mau ke zoo. Buat apa jauh-jauh ke Singapore kok malah ke kebun binatang, mendingan kita lihat yang di Indonsia tidak ada. Jadilah kita ke Orchard, mondar-mandir antara ION dan Takashimaya sambil foto-foto lalu makan es potong. Lha tadi katanya mau cari yang di Indonesia tidak ada? Alasannya, es potong itu jadi berbeda karena makan di depan ION Orchard. 

Makan Es Potong
Hari kedua kita ke SEA Aquarium di Pulau Sentosa. Thanks to si Tante yang sudah langsung beli tiket sepaketan, kita jadi mampir ke SEA Aquarium yang ternyata bagus sekali. Sorenya kita main di pantai sambil menuggu Songs of The Sea mulai (yap, waktu itu masih Songs of The Sea). Dan karena ada temannya inilah, Andrew jadi semangat main di pantai meskipun cucaca mendadak mendung. Pertunjukan pertama jam 7.40 kita sudah antri dari jam 6 sore, yang menyebabkan tante saya terheran-heran kenapa kita antrinya sepagi seperti mau beli barang diskonan di mall. Haha.

SEA Aquarium dalamnya luas dan bisa lari-larian
Memanfaatkan waktu antri dengan foto-foto
Hari berikutnya, kita mengunjungi Singapore Science Center. Meski sudah bolak balik ke sini, ini pertama kalinya kita pergi bersama dengan anak-anak lainnya. Dudu senang karena ada teman untuk bermain. Apalagi beberapa permainan memang harus dikerjakan beramai-ramai. Tidak heran kalau tempat ini populer sebagai tujuan karyawisata anak. Om saya yang malas ikutan memutuskan buat duduk di restoran cepat saji di depan sementara saya dan Tante saya ikutan masuk dan bermain.



Full-day terakhir kita habiskan di Universal Studios. Ke theme park seperti ini, semakin rame rombongan semakin seru karena biasanya euphorianya jadi lebih terasa. Bisa gantian foto-foto jika tongsis dilarang dan kalau naik wahana tidak perlu sharing dengan orang lain. Dudu juga senang karena ada beberapa wahana khusus anak-anak yang bisa dia naikin bersama seorang teman. Hebohnya bisa dua kali jika dibandingkan dengan kalau naik sendiri!

Beruntung bisa foto bareng The Mummy Returns
Karena ada temannya, Mama ngga perlu temenin Dudu naik ginian
Tapi cerita paling seru terjadi di Food Court. Yah yang ini memang bukan objek wisata tapi, food court dan Kopitiam jadi ajang belajar praktek Bahasa Inggris buat para sepupu saya. Mendekati hari terakhir kunjungan kita ke Singapore, sepupu saya yang paling besar sudah berani memesan makanan sendiri. Soalnya, sebelum ini sayalah yang harus memesankan makanan untuk semuanya. Belum lagi kalau ada yang picky eater lalu mogok makan. Atau yang stress karena saya bolak-balik makan Indian Food yang baunya lumayan menyengat haha.

Anak-anak ini cuma diam kalau lagi makan
Kapok?

Tidak tuh. Si Tante malah sudah mengajak kembali mau ke Singapura. Alasannya? Ternyata sewaktu pulang ke kotanya, orang tua murid di sekolah sepupu saya bertanya kenapa tidak ke kebun binatang kan Singapore Zoo bagus dan terkenal. Jadi sekarang saya diuber-uber sama si Tante (dan ketiga anaknya) buat ke Singapore lagi demi mampir ke kebun binatang tersebut. Waduh.

Tulisan ini diikutsertakan di Lomba Menulis Kompas Travel Fair 2015