Showing posts with label Cerita Mama. Show all posts
Showing posts with label Cerita Mama. Show all posts

06 April 2026

Ketika Circle Pertemanan Justru Bertambah di Usia 40+

Di usia 40 tahun, saya kehilangan semuanya.

Ini clickbait yang akhir-akhir ini sering saya pakai kalau cerita. Habis itu biasanya ditimpuk orang haha. Tapi beneran lho. Pas usia 40 itu saya officially yatim piatu, pengangguran dan jadi empty nester. Semua terjadi di tahun yang sama. Ya, di usia 40 itu. Lalu, bagaimana hal ini berpengaruh ke cara saya menyikapi pergaulan?

Banyak studi yang menyatakan bahwa berkurangnya circle pertemanan, baik secara sengaja maupun tidak, di usia 40 tahun adalah karena orang-orang di usia 40-an sering kali memikul banyak tanggung jawab sekaligus, diantaranya: tuntutan karier, pernikahan atau membesarkan anak, merawat orang tua yang lanjut usia, dan komitmen keuangan. Bagaimana dengan saya yang hidupnya terbalik? Eh, terbalik gimana?

Waktu usia 20-an, kesibukan saya begini.

Saya jadi ibu tunggal di usia 22 tahun. Saat itu belum lulus kuliah. Jadi, ketika teman-teman seangkatan saya sibuk lulus, kerja, dan menikmati hasil gaji pertama, saya tidak bisa. Sebelum cerita lebih lanjut, saya mau disclaimer dulu kalau hidup saya tidak menderita ya. Saya baik-baik saja, cuma timeline-nya aja yang terbalik. Jadi usia 20an dan 30an saya dihabiskan untuk bekerja dan membesarkan anak, sekaligus tinggal bersama orang tua. Ketika teman-teman saya menikah dan berkeluarga, anak saya sudah besar.

Puncaknya ya kemarin, pas usia 40, saya balik lagi jadi jomblo. Kalau menurut riset, rata-rata di usia 40, orang menghadapi banyak tanggung jawab, saya sudah “selesai.” Inilah kenapa saya memutuskan untuk menambah circle. Sesuatu yang tidak saya lakukan di usia 20-30, seperti teman-teman saya pada umumnya.

Circle baru itu sebenarnya tidak baru-baru amat

03 February 2026

Keluar Masuk Circle Pertemanan: Dapat Apa Selain Hikmah?

Apa yang pertama kali terpikir kalau mendengar kata “circle pertemanan?” Saya terpikir Komunitas tapi dalam konteks yang lebih general. Misalnya teman-teman ibu tunggal, Teman-teman blogger, dan teman-teman Kpopers. Bayangkan sebuah lingkaran, yang di mana orang-orang di dalamnya merasa terhubung karena kesamaan hobi, pekerjaan, visi, atau sekadar merasa "nyambung."

Kalau ditanya ada berapa, jawabannya ada banyak.
Punya banyak circle pertemanan gitu apa manfaatnya?


Pertama, saya jadi bisa melihat sesuatu dari berbagai perspektif. Ketiga circle yang saya sebutkan di atas tadi semuanya berbeda, tapi ada satu benang merah yang sering jadi penyatu obrolan: sama-sama tinggal di Indonesia. Hahaha. Ya, kalau sudah soal keluh kesah kehidupan, saya jadi melihat banyak perspektif.

Selain itu, punya banyak circle juga memberikan eksposur terhadap hal-hal baru dan membuka pandangan terhadap hobi dan profesi yang ada. Pertanyaan simple seperti, “kerjaan lo apa?” bisa tiba-tiba membuat saya kaget bahwa kok ada pekerjaan itu ya haha. Ada teman yang kerja remote jadi cross-border recruiter. Kliennya di berbagai negara yang mencari orang Indonesia, dan sebaliknya, perusahaan Indonesia yang membutuhkan expat. Tapi kerjaannya freelance alias hanya dikontrak per-project. Menarik juga. Selain eksposur, saya juga dapat banyak kesempatan networking.



Yang ketiga, saya punya alternative geng kalau satu circle sedang tidak nyaman atau tidak aktif. Ada kalanya teman-teman di satu circle ini mendadak sunyi senyap tidak saling menyapa karena kesibukan yang ada. Karena circle saya banyak, saya tinggal pindah main ke circle lain.

Kok bisa punya banyak circle? Lingkaran merepresentasikan pola berulang, tanpa adanya awal dan akhir. Masuk ke satu lingkaran lalu tiba-tiba jadi teman. Biasanya itu yang terjadi sama saya.

27 October 2025

Kenangan, Prioritas, dan Cerita Baru di Dunia Blogging

Pertama kali ngeblog tahun 2006 waktu anak saya lahir. Ngeblog yang konsisten dan bukan curhat colongan. Kalau yang curhat colongan, lupa dari tahun berapa. Arsipnya juga sudah tidak ada.

Tahun ini berarti sudah 19 tahun saya ngeblog. Wah, hampir dua dekade. Dimulai dengan satu blog untuk mendokumentasikan perkembangan anak, sekarang saya berusaha konsisten mengisi beberapa blog dengan tema berbeda.

Perjalanan ngeblog saya dimulai dengan blog ini, yang diberi nama Andrew and Me, karena isinya tentang saya yang jadi seorang ibu, kegiatan sehari-hari kita berdua dan refleksi saya tentang perubahan yang terjadi dalam hidup ini. Tema-tema yang dibahas sangat beragam, ada traveling tipis-tipis, tips jadi ibu, parenting, literasi digital, mengelola keuangan, dan pengembangan diri.

Blog ini akhirnya jadi dokumentasi perjalanan mengarungi perubahan hidup yang besar dan perubahan karier. Saya menuliskan transisi dari jadi ibu seorang bayi, anak remaja dan akhirnya kuliah. Juga tentang perjalanan karir, perubahan pekerjaan, sampai akhirnya jadi “penganguran”, dan bagaimana blogging berperan di semua zaman. Saya menggunakan blog ini sebagai ruang untuk refleksi finansial, karier, dan pribadi sambil menyeimbangkan kehidupan keluarga.

24 October 2024

Tahun Ini Adalah Tahun Ke-20 Saya Ngeblog

Tahun ini adalah tahun ke-20 saya ngeblog. Eh, sudah selama itu ya? Ya, Dudu saja sudah 18 tahun, jadi sebenarnya masuk akal sih.

Pada zaman itu, blogging hanyalah sebuah hobby atau diary online. Dan tujuannya blogging, selain curhat adalah untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari Dudu. Makanya nama blognya juga Andrew and me. Dudu dan saya.

Seiring berjalannya waktu, blognya berubah. Saya pulang ke tanah air, Dudu semakin besar dan tulisan semakin banyak. Bukan hanya tentang parenting atau ide nge-date di Jakarta, tetapi juga tentang kehidupan saya sebagai single mom. Lalu, saya mulai ambisi. Ketika menulis sudah tidak lagi menjadi pekerjaan utama, blog saya mulai jadi penghasilan. Alias saya jadi blogger part-time yang happy ketika diundang liputan dengan kewajiban menulis. Namun, karena blog saya adalah blog gratisan, undangannya juga jadi terbatas.



Ambisi yang kedua adalah punya blog lebih dari satu. 

22 October 2023

Pentingnya Support System Bagi Blogger Pemula

Ketika dulu saya mulai blogging, saya tidak memikirkan yang namanya SEO, Domain Authority, pembacanya siapa dan segala macam hal yang sepertinya sering jadi requirement untuk blog masa kini. Soalnya tujuannya hanya mengupdate kehidupan duduk ke keluarga yang jaraknya jauh. Awal mula ngeblog bener-bener karena malas mengupdate keluarga satu persatu dan banyak juga yang tidak buka email. Whatsapp baru muncul tahun 2009. Sementara Dudu lahir tahun 2006. Jadi ada sekitar 3 tahun di mana Saya tidak tahu bagaimana mengupdate perjalanan saya dan Dudu kepada keluarga. 

Waktu itu hp-nya masih Nokia 3310 yang cuma bisa main game snake aja. 

Halo Mama, Nokia-nya nggak bisa dipake ngetik blog.

Support system pertama adalah tools dan teknologi yang tersedia. 

Saya mulai blogging serius ketika Dudu lahir. Waktu itu tahun 2006. Sebelumnya, saya menulis blog buat iseng-iseng. Kalau diintip lagi blog yang galau itu sepertinya sudah dari awal tahun 2000an. Haha. Malu ah, membacanya. Support System yang pertama tentu saja internet yang memadai di negara tempat saya kuliah. Adanya laptop dan kamera yang bisa memuat foto membantu saya membuat semacam Buku Harian online. 

Namanya blog kan adanya di dunia maya, tentunya harus ada teknologi yang support. 

Setelah saya pulang ke Indonesia, dan memulai profesi sebagai jurnalis, blog saya mulai terbengkalai. Selain karena si support system yang berubah, alias internet yang terbatas plus gadget yang sudah mulai lelah karena menemani saya sejak kuliah, saya juga mulai bekerja full-time. Waktu mulai tersita. Apalagi bekerjanya juga sebagai jurnalis yang ujung-ujungnya menulis. Pas mau ngeblog, energi sudah habis. 

Support system yang kedua ini tidak kalah pentingnya: Komunitas. 

Energi yang habis ini terselamatkan dengan teman-teman seperjuangan. Bergabung ke komunitas, kenalan dengan blogger lain, ikut hadir di event dan belajar blogging lebih serius, membuat saya semangat lagi. Karena jadi ada a sense of belonging. Punya teman sesama blogger bisa ngobrol, tukar pikiran, dan saling menyemangati kalau sedang stuck adalah sebuah anugerah tersendiri. Belum lagi kalau dapat kesempatan ikut kelas belajar SEO, belajar menulis dengan baik, dan bagaimana memonetisasi blog. Saya merasa tidak menulis sendirian, dan senang bisa bertemu teman yang punya hobi serupa. 

Dari komunitas yang saya ikuti ini, saya juga bisa dapat job. Tidak selalu berupa uang, tetapi juga kesempatan hadir di premier film atau dikirimkan produk untuk dicoba duluan. Dapat undangan acara penting dan jadi merasa dihargai. Akhirnya blog yang saya miliki bisa menghasilkan sesuatu, meskipun terbatas karena alamatnya yang tidak top level domain alias TLD. Habis bagaimana tujuan saya ngeblog kan bukan untuk komersil. Tetapi lebih ke personal branding, dan bercerita tentang pengalaman saya bersama anak saya. 

Sini Ma, saya bantu ketikin blognya

Yang paling penting, ya support system ketiga: Dudu. 

Tentunya support System yang paling utama adalah anak saya, Dudu. Yang adventure-nya saya tulis sebagai cerita utama di blog saya. Ketika dia sudah mulai bisa diajak diskusi, saya bahkan meminta dia untuk Menuliskan beberapa hal di dalam blog atau mencantumkan obrolan kita sebagai tulisan. Dari dulu Dudu bayi hingga sekarang sudah remaja, siap berangkat kuliah tahun depan.

Kalau Dudu sudah kuliah, bagaimana dengan nasib blog ini? Nah ini yang sebenarnya belum saya pikirkan. Tapi yang namanya petualangan jadi ibu tentunya tidak berhenti sampai di sini kan?

Kenapa support system ini penting? 

Jawaban singkatnya ya karena kita jadi tidak merasa sendirian. Dan ini bisa dikembangkan ke mana-mana. Dilansir dari website verywellmind, ada 4 tipe support system: emotional, esteem, informational dan tangible. 

Emotional support memberikan pelukan atau telinga untuk mendengar keluh kesah. Sementara Esteem support ini yang memberikan afirmasi bahwa kita mampu mengerjakan sesuatu. Yang membuat kita jadi lebih pede blogging. Informational support memberikan fakta, informasi atau guide yang kita butuhkan tentang satu subjek tertentu. Tangible support ini adalah tindakan nyata, yang kalau dicontohkan bisa seperti menawarkan jasa babysitting sementara saya menulis. 

Kalau dilihat cerita support system saya sebagai blogger di atas, Dudu adalah emotional support saya. Yang ada dan memberikan semangat untuk terus ngeblog melalui adventure yang kita jalani berdua. Teknologi jadi informational support saya dengan memberikan banyak jawaban dan fasilitas untuk ngeblog. Esteem dan tangible ya jelas komunitas. Dapat feedback, dapat semangat. Dapat blog walking juga. Tangible karena support nyata yang didapat bisa juga berupa job maupun fasilitas untuk belajar lagi. 

Image by Freepik

Bagaimana kita bisa jadi support sistem yang baik? 

Lebih dari satu dekade kemudian, giliran saya yang jadi support system teman-teman yang baru mulai ngeblog. Kalau dulu saya yang banyak dibantu sekarang saya ingin membantu teman-teman yang mau mencoba blogging. 

Kan caranya tinggal Googling? Zaman sekarang memang lebih enak sih semuanya bisa dicari di mesin penelusur. Tinggal buka website, cari di Google bagaimana cara blogging. Tapi buat blogger pemula atau yang benar-benar tidak tahu mau mulai dari mana, adanya teman yang bisa membantu step by step dari awal bisa mendorong mereka untuk beneran punya blog. Tugas saya sebagai support system, biasanya hanya menjawab pertanyaan. 

Mending nulis di blogspot atau di Wordpress? 
Eh ini tuh kayak diary ya? Ada gemboknya? 
Biasanya lu nulis blog berapa panjang sih? 
Fotonya diedit dulu nggak? 
Kalau gue ngeblok dari handphone, bisa nggak? 
Dan sejuta pertanyaan lainnya. 

Terdengar remeh memang, dan benar semuanya ada di Google. Tapi sama seperti dulu saya mendapatkan jawaban dari kelas-kelas yang saya ikuti, ada yang mengarahkan ini membuat kita lebih semangat blogging. Untuk menjadi seorang blogger kita butuh support system. 

Apa yang bisa kita berikan sebagai seorang support system? 

Karena saya tidak punya cukup uang untuk membelikan gadget, atau menjadi inspirasi tulisan si teman, ya saya berperan sebagai 'komunitas' untuk mereka yang baru mulai menulis. Dengan cara berbagi apa yang saya punya. 

  • Berbagi pengetahuan tentang blogging. Pakai platform apa? Menulisnya bagaimana? Apa yang harus ditulis? Bagaimana cara pasang foto? Dan lain sebagainya. 
  • Teman brainstorming. Kadang kalau mentok, ngobrol dengan sesama blogger bisa membuat kita punya ide cemerlang. Buat blogger pemula, yang nulisnya masih setengah-setengah, punya teman yang meng-accourage dia untuk menulis bisa membuatnya lebih konsisten. 
  • Fans nomor 1. Biasanya yang memulai blogging tidak pede sama tulisannya sendiri. Kita sebagai teman yang baik bisa menyediakan waktu untuk mampir ke blognya membaca dan memberikan feedback atas tulisannya. 
  • Pengingat bahwa blog harus diupdate. Yah meskipun ini kembali lagi ke manusianya masing-masing, Apakah mau konsisten blogging atau hanya sekedar mengikuti tren saja. Yang penting tugas saya adalah sesekali mengingatkan "eh blognya udah di-update lagi belum?" 

Baik sebagai ibu, maupun sebagai blogger, support system ini penting. Apalagi sebagai ibu-ibu ngeblog. Harusnya support system kita bisa dikali dua ya. Hahaha



02 August 2023

Persiapan Nonton Konser di Usia (Hampir) 40

“Apakah seorang idol harus terus berkarir dan promosi di usia 40?”

Judul berita itu muncul di timeline sosmed saya. Kebetulan idol favorit saya, Super Junior, sudah sampai usia 40 tahun. Saya juga. Soalnya saya dan idol saya memang seumuran. Dudu sering komen soal per-konseran-ini karena sepertinya hanya saya mama-mama yang masih mengejar-ngejar Kpop Idol sampai ke negara tetangga.

Idol saya ini pernah bercanda, membuat konser yang penontonnya duduk semua karena “fans kita sudah tua.” Iya juga. Sementara para idol masih bisa nge-dance berjam-jam dan berlari-lari keliling panggung, para fansnya sudah jompo. Berdiri 3 jam sepanjang Supershow sudah tidak kuat. Apalagi setelah pandemi, badan jadi lebih tidak fit karena kebanyakan rebahan di rumah. 

Sepanjang pandemi, konser diadakan online. Menyaksikan SMTown Live di televisi di tahun baru sudah jadi tradisi beberapa tahun terakhir ini. Belum lagi konser online di beberapa platform yang bisa kita saksikan di layar komputer masing-masing hanya dengan membeli tiket. Idol terlihat lebih jelas, tidak perlu lelah antri masuk karena bisa sambil duduk, dan tidak perlu dandan rapih. Sebenarnya yang seperti ini ideal buat saya yang umurnya sudah mendekati kepala 4. Tapi jadi malu, ya. Masa artisnya sanggup, fans-nya kalah? Hahaha.

Nonton konser di TV tidak seseru nonton aslinya.

Apa yang harus disiapkan ketika mau nonton konser, sementara usia sudah semakin tinggi?

Pertama tentunya uang. 

Meskipun sekarang sudah punya tabungan, tapi pengeluaran dan tanggung jawab juga sudah semakin banyak. Jadi, agar dana konser tidak mengganggu cash flow, sebaiknya kita tetap memiliki pos terpisah untuk konser. Apalagi harga tiket konser kan biasanya juga tidak murah. Begitu juga dengan artis yang ingin didatangi konsernya. Saat ini, saya sendiri hanya membatasi dua artis yang konsernya bisa saya datangi karena keterbatasan dana: Super Junior dan Backstreet Boys. Karena pemberitahuan penjualan tiket konser biasanya mendadak, jadi saya punya tabungan khusus tiket konser yang tidak bisa diganggu gugat. Ketika tiket beserta harganya diumumkan, biasanya saya sudah punya uang untuk membeli. 

Kalau ada rejeki lebih, nonton konsernya sekalian liburan ke negara tetangga. Dudu? Ya dititipkan dulu di rumah adik saya yang kebetulan bermukim di sana haha.

Kedua, jaga kesehatan dan sadar diri. 

Sudah bukan anak kuliahan atau di awal karir yang masih berprinsip “you only live once,” jadi tentukan prioritas. Tidak perlu ikut jemput ke airport, stalking dan keliling kota demi papasan di jalan. Persiapkan diri nonton konsernya. Dari sisi kesehatan dan dari sisi kerjaan. Jangan sampai di hari konser, kita terpaksa lembur, atau sakit karena kebanyakan lembur di minggu sebelumnya. Jangan memaksakan diri ambil kelas yang berdiri kalau memang lebih nyaman duduk. Kalau seat sudah ada numbernya, tidak perlu datang terlalu pagi. Ini yang saya lakukan ketika menonton Super Junior KRY beberapa tahun lalu. Sudah ada seat number, jadi tidak perlu antri sejak pagi.

Ketiga, maksimalkan momen untuk ‘me time’. 

Sebagai seorang ibu, jarang-jarang saya punya waktu heboh sendiri. Dan biasanya ketika sedang ‘me time’ pun, saya tetap membuka handphone memantau keadaan sekitar. Nah, kalo konser, karena sibuk fangirling dan berusaha tidak terhimpit massa, jadi lupa sama yang namanya memeriksa chat. Yang ada handphone dimatikan sinyalnya agar tidak mengganggu atau habis baterai saat merekam aksi idol idaman. Ketika nontonnya di negara tetangga, saya sekalian “solo traveling” meskipun cuma setengah hari di Singapore dan hanya di sekitar tempat konser. Haha.

Jadi, apakah saya akan berhenti nonton konser di usia 40?

Well, sepertinya sih tidak. Kalau para idol saya belum berhenti berkarya, saya sih akan terus menabung untuk menonton konser. Sama waktu Backstreet Boys akhirnya world tour lagi dan nyampe di Jakarta dengan formasi lengkap, bahagianya bisa konser pakai uang gaji sendiri itu tidak terlukiskan. 


31 July 2023

Satu Catatan Berkesan Seorang Ibu-Ibu Banyak Mau

Membuka kembali buku harian lama berarti membaca kembali mimpi yang tertunda. 

Puitis ya hehe.

Satu cerita lama yang saya baca ulang adalah mimpi saya buat kuliah lagi. Ketika saya punya anak kemarin, yang namanya kuliah S2 jadi prioritas kesekian. Soalnya jurusan kuliah yang saya mau bukan jurusan yang akan membuat karir lebih maju atau jurusan komersil. Jurusannya dipilih karena saya ingin belajar ilmu itu. Makanya jadi hal yang tidak urgent. Lalu ketika si Dudu mau kuliah, kita pergi college shopping. Saya jadi keingetan kalau saya pernah punya mimpi mau kuliah lagi.

Ternyata selama bertahun-tahun ini, jurusan yang saya inginkan tidak berubah. Antara melanjutkan studi master di bidang Religious Studies atau Cultural Anthropology.

Ketika saya utarakan itu, sekeliling saya menanyakan kenapa saya tidak mau ambil MBA. Alasannya, saya sekarang bekerja di bidang marketing. Tentunya gelar MBA akan sangat membantu karir dan gaji, sehingga finansial saya bisa membaik juga. Lah, tapi itu tadi. Saya mau kuliah mengambil jurusan yang saya suka lalu mencari karir yang sesuai dengan jurusan tersebut. Bukan sebaliknya. Lalu karirnya bagaimana? 

Membuka kembali catatan lama, saya jadi sadar kalau memang saya belum memikirkan karir mau jadi apa kalau sudah lulus S2. Dan itu dulu, ketika saya baru lulus S1. Sekarang, setelah lebih dari 15 tahun malang melintang jadi karyawan dan berpindah karir dari jurnalis ke marketing, jadi kepikiran juga. Mau jadi apa kalo sudah S2?

Google jadi tujuan. 

What can you do with a Religious Studies degree?

Sebelum masuk ke karir, Religious Studies adalah jurusan yang mempelajari agama dan kepercayaan di seluruh dunia. Mempelajari hubungan kepercayaan (termasuk agama) dan aspek sosial, politik serta budaya. 

Melirik website karir di beberapa universitas, lulusan Religious Studies biasanya jadi guru atau researcher. Banyak yang menggabungkan jurusan ini dengan bidang studi lain seperti sosiologi, jurnalistik, pendidikan, hukum dan social work. Meskipun kebanyakan mengarah ke karir yang berhubungan dengan agama, seperti evangelist, tapi banyak juga pekerjaan lebih netral yang bisa dilamar. Misalnya, community outreach, yang berhubungan dengan komunitas, dan non-profit administrator, yang berhubungan dengan organisasi kemanusiaan. 

Bagaimana dengan Cultural Anthropology? 

Cultural Anthropology adalah jurusan yang berfokus pada aspek masyarakat dan budaya manusia, termasuk dengan perkembangannya. Kalau tinggal di Indonesia, rasanya jurusan ini menarik banget ya. Cultural Anthropology mempelajari interaksi manusia dan bagaimana “peraturan” serta norma dibuat. Bagaimana dengan karirnya? Bisa di bidang kemanusiaan, misalnya di dinas sosial, peneliti atau guru, di museum sebagai juru arsip, kurator hingga direktur museum. Bisa jadi ahli sejarah, program manager dan pindah sedikit ke HRD bidang people & culture.

Setelah melihat karir choice yang ada untuk kedua jurusan itu, saya malah makin mantap untuk mengejar studi lebih lanjut. Soalnya, karir yang ada, sesuai dengan passion saya sekarang di bidang komunitas dan organisasi non-profit. Banting setir lagi dong dari marketing. Yah, namanya juga mimpi yang tertunda. Sayangnya, mungkin di Indonesia, karir di bidang ini masih sangat jarang. Karir di Dinas Sosial dan organisasi non-profit memang kurang populer dan kalaupun ada, gaji yang didapat pastinya tidak sebanyak kalau berkarir di start-up. 

Makanya kalau saya menyebutkan jurusan-jurusan yang ingin saya ambil, banyak yang mengernyitkan dahi. Tapi, ya, kenapa nggak? Ada banyak jurusan di luar sana. Temukan yang memang sesuai kebutuhan dan keinginan. 

02 May 2023

Gabung Komunitas Ibu-Ibu, Emang Perlu?

Kalau saya bilang bahwa saya ini seorang ibu yang introvert, biasanya tidak ada yang percaya. Soalnya saya ikutan banyak komunitas ibu-ibu dan komunitas menulis, yang isinya juga banyak ibu-ibu. Dan karena saya aktif di beberapa komunitas, banyak yang bertanya-tanya, ngapain sih ikutan komunitas ibu-ibu?

Seiring bertambahnya umur, jumlah teman saya berkurang. Kalau membaca studi di luar sana, hal ini disebabkan oleh proses seleksi alam yang terjadi seiring proses menjadi dewasa yang terjadi. Secara alami, kita menyadari apa yang penting dan tidak penting bagi kita, lalu kita akan lebih banyak berinteraksi dengan yang relevan bagi kita. Kita juga memiliki banyak prioritas baru, yang mengurangi waktu kita untuk bersosialisasi. Kalau dulu pulang sekolah bisa bermain karena tidak perlu memikirkan keuangan, sekarang kita kerja dari pagi sampai malam tanpa tahu apakah hari itu sempat bersosialisasi dengan orang sekitar.

Lalu datang pandemi dan jumlah teman saya semakin berkurang. Tidak semua orang bisa dengan luwes berinteraksi secara online, berjam-jam zoom tidak bisa menggantikan tatap muka sambil ngopi.

Menurut psychologist Marisa Franco, seperti yang disebutkan dalam interviewnya dengan Boston NPR, bahwa semakin dewasa, manusia semakin kehilangan kesempatan berteman secara organik, seperti di sekolah atau universitas. Lalu semakin dewasa juga, menurut Marisa, kita lebih nyaman dengan setting grup daripada persahabatan secara individual. Kita cenderung punya satu grup yang kita sering berinteraksi daripada seorang sahabat dekat yang kita percaya sepenuh hati. 

Karena itulah, komunitas menjadi penting.

Saya sering menyarankan "ikut komunitas aja" kepada teman-teman yang mengeluhkan bahwa mereka sekarang tidak punya teman. Atau "kenapa nggak coba volunteer" alias berpartisipasi membantu di kegiatan yang menarik minat secara cuma-cuma. Meskipun biasanya kesempatan volunteering lebih mudah ditemukan kalau kita adalah bagian dari sebuah komunitas. 

Berkomunitas juga harus tepat, alias sesuai minat, tujuan dan kemampuan kita. Kalau kita senang menulis ya bergabung dengan komunitas menulis, jangan komunitas naik gunung. Kalau ingin belajar bahasa asing, kita bisa cari komunitas belajar. Karena saya ibu-ibu, ya saya bergabung dengan komunitas ibu-ibu. Ada 3 komunitas ibu-ibu yang saya ikuti secara aktif: Single Moms Indonesia, Kumpulan Emak2 Bloger dan Ibu Professional.

Berkomunitas di tempat yang tepat, sangat banyak manfaat.

Pertama, kita punya tempat untuk "escape" dari rutinitas dan kehidupan sehari-hari. Sebagai ibu bekerja, hidup saya biasanya hanya seputar rumah dan kantor. Apalagi saya termasuk punya anak lumayan early, pas kuliah. Jadi single mom pula. Kalau mau cari teman 'senasib' dalam lingkungan pertemanan yang ada, sepertinya lumayan sulit. Ketika kuliah dulu, saya ikut komunitas single mom di kampus. Lalu ketika bekerja, teman-teman saya kebanyakan fresh graduate yang berfokus pada karir, sementara saya sudah jadi ibu-ibu cari uang. Jadi, saya seperti menemukan dunia baru di komuntas.

Di tempat bernama komunitas ini, saya juga bisa jadi diri sendiri. Di rumah, saya Mama Dudu. Di kantor, saya karyawan. Di komunitas, ya saya jadi diri sendiri. Jadi blogger di Emak2 Blogger, jadi ibu tunggal di Single Moms Indonesia dan jadi penulis di Ibu Professional. Komunitas jadi tempat kita mengekspresikan satu bagian dari diri kita.

Kedua, ada support system yang bisa membuat kita tetap waras. Bagaimana orang yang bukan penulis memahami writers' block, atau saat mood menulis muncul, kita tidak bisa diganggu kegiatan lain? Bagaimana kita bisa menyeimbangkan peran antara ibu dan blogger? Atau, kadang saya ingin melakukan sesuatu bagi para ibu tunggal yang membutuhkan bantuan namun tidak menemukan lewat mana. Sekedar ingin sharing kalimat motivasi atau tips yang kebetulan kita miliki. Di sinilah komunitas berperan sebagai support system yang memfasilitasi passion dan keinginan kita tanpa keluar jalur, serta memberikan rasa percaya diri.

Bisa belajar, dan bisa mendapatkan achievement.

Ketiga, bisa belajar hal baru. Di Komunitas bukan hanya dapat teman, tapi dapat ilmu. Bisa ikut kelas dengan berbagai macam topik, mulai dari digital marketing, freewriting, public speaking, hingga bisnis. Bisa learning by doing juga. Sebagai seorang pegawai kantoran, saya bekerja sesuai job description. Tapi, di komunitas, saya bisa jadi tim event, belajar koordinasi dan menjadi tim lapangan. Komunitas jadi tempat belajar dan praktek, sekalian mencari pengalaman. Siapa tahu kita mau pindah kerjaan. 

Jadi, kalau ditanya emang perlu, gabung komunitas ibu-ibu? Jawabannya ya perlu. Komunitas ibu-ibu yang kayak apa, ya yang tepat dan dapat memberikan manfaat. 


14 December 2022

Setiap Blog Post Ada Perjuangannya

“Gue mau jadi blogger dong kayak lo.”

Bukan sekali dua kali saya mendapat komentar seperti ini, karena teman yang melihat blog saya berdua Dudu. Namun memang konsistensi itu sulit. Lalu, setelah mengatasi rasa malas dan niat meluangkan waktu menulis, masih ada hal-hal lain yang harus dikerjakan sampai sebuah blog post yang baik itu ter-publish.


Blog buat saya adalah ‘reportase’, meskipun terkadang tulisannya opini atau pengalaman sendiri. Tapi yang ideal tetap saja perlu research atau setidaknya hadir event/ melakukan kegiatannya sendiri. Dan ketika dilakukan berdua anak, ternyata prosesnya tidak seindah hasil tulisannya haha.


Kok gitu?
Soalnya Blog ini melibatkan si anak yang berarti kalau bikin postingan ya menunggu mood si anak bagus, atau momen yang tepat. Tidak bisa posting setiap saat, setiap waktu juga.

Lalu, apa dong reportase yang berkesan?
Saya dan Dudu pernah ikutan acara launching susu UHT. Sebenarnya tidak ada kewajiban apa-apa dari acara tersebut, tapi saya merasa bahwa ceritanya seru dan bisa jadi cerita lebih panjang. Jadilah selesai acara tersebut, saya dan Dudu hunting kemasan susu UHT demi sebuah postingan yang lebih memuaskan target pribadi.

Perjuangannya lumayan. Saya meluangkan waktu seharian di akhir pekan untuk berburu bahan tulisan dan mengabadikan gambarnya. Tapi worth it banget, kan demi #DateWithDudu juga.

Yang tidak kalah berkesannya adalah ketika saya menulis tentang pengalaman journaling beberapa waktu lalu. Penuh perjuangan karena sebelum membuat postingan itu saya harus beneran journaling, bikin gratitude journal dan daily habit journal selama setidaknya sebulan penuh. Setelah itu, barulah saya tulis reportasenya. 

Bagaimana kabar teman-teman saya?
“Duh, gue mau update tapi malas menulis.”
“Ngedit foto ternyata lama ya.”
“Gimana sih caranya biar bisa rapih gitu tulisannya? Harus dari laptop ya?”
Nah kan. Hahahaha.

Ini bukan berarti saya tidak pernah malas. Buktinya blog ini juga bolak-balik vakum. Dengan makin besar-nya si Dudu plus pandemi yang di rumah aja itu, bingung mau menulis apa. Ada ide, malas mengejar fotonya, malas ngedit layoutnya. In the end, ya jangan biarkan rasa malas itu menghalangi postingan blog di depan mata sih.

Kalau tulisan tentang liburan sama Dudu gimana?

“Kebanyakan foto, lo enjoy jalan-jalannya nggak sih?”
Pertanyaan penasaran dari seorang teman yang bikin saya berpikir juga. Kalo liputan event kan kerja ya, wajar kalau foto sana sini, mencatat semuanya dan mengamati sekitar. Gimana kalau liburan, kan kita maunya enjoy tanpa beban. Eh, ini malah ada PR untuk bikin tulisan perjalanan.



Menulis perjalanan dan tidak melupakan detailnya adalah sebuah perjuangan juga. Untungnya sekarang internet bisa banyak membantu. Informasi tinggal di Google search aja lalu muncul semua jawabannya. Biasanya saya memfoto informasi, mengambil brosur atau menandai sebuah tempat di Google Maps. Lalu yang saya catat adalah rasa, kesan dan hal-hal yang terpikirkan saat berada di tempat tersebut. Mungkin celoteh si Dudu, mungkin ada milestones dia waktu kecil yang terjadi ketika jalan-jalan. Soalnya yang itu kan tidak ada di internet. Justru sayalah yang mau menuliskannya di internet.

Setiap tulisan adalah perjuangan.
Tapi yang bikin blogging jadi seru dan berkesan ya cerita keribetannya itu kan.

21 August 2022

Hidup ini Bukan Kompetisi, Fokus Pada Diri Sendiri

Kamu kapan?
Gondok denger pertanyaan itu? Iya saya juga.


"Si A udah punya anak dua, kamu gak mau kasih adik buat Dudu?"
"Kenapa nggak nikah lagi aja kayak si B, kasian kan anakmu?"
Atau satu pertanyaan yang terlontar di komunitas saya, yang membuat saya berpikir untuk menuliskan postingan ini:
"Kok sepertinya saya lama banget move on dari mantan suami? Teman saya bahkan sudah menikah lagi dan bahagia. Apa yang salah dengan saya?"

Jawabannya, ya tidak ada yang salah.

Kan hidup ini bukan kompetisi.

Kompetisi pertama yang diikuti Dudu, nggak jadi juara 1

Okelah, kita tidak bicara soal ranking di sekolah atau performance di kantor. Tapi yang namanya healing, move on dan perjalanan hidup tidak bisa dipandang sebagai sebuah kompetisi. Menurut saya, setiap orang ada timeline-nya sendiri dan kita bisa memilih untuk menghindari kompetisi. Apalagi kalau berpartisipasi di kompetisi perjalanan hidup ini membuat kita makin down.

Bagaimana kalau orang terdekat kita yang sibuk 'mendaftarkan' kita ke kompetisi? Orang tua yang menjodohkan kita dengan anak temannya atau circle pertemanan yang selalu membahas anaknya sudah bisa apa seperti sebuah lomba parenting. Mau quit susah, mau ikut juga salah.

17 June 2022

Meskipun Hujan, Cucian Tetap Wangi di Bulan Juni

Ahhh, hujan lagi.

Sama seperti ending Korean Drama, langit bulan Juni tidak bisa diprediksi. Katanya summer, ternyata pancaroba. Hujan bisa datang sewaktu-waktu. Saya menyukai hujan, karena bau tanah yang basah itu menyegarkan. Namun hujan itu indah hanya ketika kita duduk sambil ngopi di dekat jendela, dan romantis hanya ketika payungan berdua dengan si dia. Kalau kita sedang mencuci baju di pagi hari lalu mendung datang, yang ada jadi sebal.

Soalnya cucian jadi belum tentu kering menjelang petang dan ada resiko cucian akan bau apek.

Baru-baru ini saya mencoba pewangi pakaian Korea. Apaan tuh? Ini pasti karena suka K-pop? Atau karena senang nonton K-Drama? Well, sebenarnya cuma karena penasaran sama wanginya. Haha. Bau apek adalah salah satu dari 7 bau membandel yang bisa dihilangkan oleh pelembut dan pewangi pakaian Molto Korean Strawberry. Yang lainnya adalah bau keringat, bau asap, bau polusi, bau badan, bau bawang, dan bau amis. Lumayan untuk menjamin bahwa pakaian yang dicuci di musim pancaroba ini tidak bau meskipun mataharinya menghilang setengah jalan.


Di rumah, keputusan tentang pembelian sabun cuci, pelembut pakaian, obat pel dan segala macam pembersih lainnya ada di tangan Oma. Saya dan Dudu biasanya tidak terlalu pusing dengan apa yang dibeli. Jadi, cucian bulan ini bisa bau bunga, bulan depan bau fresh, dan bulan depannya lagi bau buah. Karena Dudu terlibat dalam pekerjaan rumah, termasuk menjemur pakaian, dia akan laporan sehabis menjemur baju kalau “baju-bajunya kali ini tercium seperti bunga, Ma.” Tapi karena peraturan pertama dalam membeli pelembut pakaian keluarga adalah wanginya tidak diprotes satu rumah, maka terkadang saya atau Dudu juga ikutan sumbang saran bulan depan mau wangi apa. Sama seperti waktu mau mencoba Molto Korean Strawberry ini.

Peraturan kedua dalam membeli sabun cuci adalah produknya tidak menimbulkan iritasi. Soalnya kulit Dudu sensitif sama beberapa jenis chemical dan waktu dia balita dulu, mencari sabun cuci dan pelembut pakaian yang tidak menyebabkan iritasi lumayan challenging. Untungnya setelah dia besar, kulit sensitifnya banyak berkurang dan satu rumah bisa pakai sabun cuci yang sama. Jadi, biasanya saya mencari rekomendasi pewangi pakaian dari teman-teman lain yang sudah duluan menggunakan.


Kenapa perlu menggunakan pewangi pakaian terbaik? Pelembut dan pewangi pakaian ini ibaratnya kondisioner yang digunakan kalau kita keramas. Bikin pakaian jadi lembut dan wangi. Sekolah online sudah dimulai lagi, dan kegiatan mencuci seragam setiap hari juga sudah dilakukan lagi. Kerja juga sudah mulai WFO dan bau asap serta polusi tidak bisa dihindari. Jadi memang harus mencari pelembut pakaian terbaik dengan wangi yang segar. Selain itu pelembut pakaian juga membantu menghilangkan statis yang sering muncul ketika menggunakan dryer. Jaman masih anak kuliahan, pelembut pakaian adalah senjata andalan agar pakaian yang kering keluar wangi, segar dan tidak perlu disetrika lagi haha.

Ngobrolin soal Korean Strawberry, yang memang populer sebagai salah satu icon Korea itu, jadi teringat kalau salah satu member boyband K-Pop kesukaan saya senengnya minum susu strawberry haha. Jadi memang se-iconic itu Korean Strawberry ya.

Kalau sudah pakai Molto Korean Strawberry, kenapa tidak sekalian sabun cuci bajunya? Rinso Korean Strawberry terbukti ampuh menghilangkan noda membandel dan menjaga warna tetap cemerlang. Soalnya brand ini sudah ada di rumah sedari saya kecil. Seperti ilustrasi tadi di atas, deterjen dan pelembut pakaian ini seperti shampoo dan conditioner. Yang satu membersihkan noda dan bau tidak enak, sementara yang satunya lagi melindungi dan melembutkan pakaian. So, kenapa tidak dipakai bersamaan?



Selain Molto dan Rinso, Unilever juga mengeluarkan varian Korean Strawberry untuk Sunlight dan Superpell juga. Keduanya ikut masuk di peraturan pertama sabun cuci yang berbunyi “satu rumah harus tidak protes dengan wanginya,” karena saya dan Dudu juga kebagian tugas nyuci piring dan ngepel. Sunlight Extra Korean Strawberry membersihkan lemak membandel pada piring dan peralatan makan lainnya dengan ekstrak jeruk nipis asli dan memberikan wangi strawberry yang segar. Sementara Superpell Korean Strawberry membuat rumah jadi segar dan wangi seharian karena tahan lama hingga 8 jam. Plus teknologi power clean yang membuat lantai berkilau higienis maksimal.

Konon katanya buah strawberry biasanya dipanen di bulan Juni. Jadi, bolehlah kita ikutan euphoria kesegaran buah musim panas ini, sambil menunggu jemuran kering. Hujan bulan Juni, rumah jadi wangi strawberry.

20 May 2022

Jadi Mama Sambil Kerja: 13 Ide Freelance dari Rumah

“Kerja apa ya yang bisa sambil mengurus anak?”

Selama 16 tahun jadi Mama Dudu, saya cukup beruntung punya support system yang memungkinkan saya bisa kerja kantoran. Tapi bagaimana dengan yang harus mengurus anak atau membawa anak ke kantor? Ada beberapa yang juga cukup beruntung bisa bekerja di sekolahan, yang sambil anaknya sekolah, ibunya juga bekerja sebagai guru atau tata usaha. Atau ada juga perusahaan yang menyediakan daycare, sehingga anak bisa dititipkan selama ibunya bekerja.

Oh, Mama lagi freelance?

Tapi bagaimana dengan yang ingin mengurus anak secara full-time? Pekerjaan freelance apa saja yang bisa dikerjakan seorang ibu? Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan dari rumah sambil mengurus anak. Idealnya pekerjaan bisa dikerjakan di waktu senggang, seperti ketika anak di sekolah atau ketika anak sedang tidur siang. Kalau anaknya sudah cukup besar, bisa dikerjakan bersama anak juga. Yuk, kita list down.

26 March 2022

Bahagia Jadi Ibu Tunggal Berdaya

“Halo, Mama Dudu.”

Tahun ini adalah tahun ke-16 saya menjadi seorang ibu tunggal. Jadi Mama Dudu. Sapaan di atas sudah jadi identitas kedua buat saya. Identitas yang saya banggakan juga, meskipun kadang menimbulkan pertanyaan buat teman yang baru kenal. Soalnya sebagai single mom, saya suka terlihat single beneran. Haha. Terlihat happy-go-lucky belum punya anak, belum punya tanggungan. Masih senang-senang sendiri. Sampai kita tukeran IG. Lalu muncul pertanyaan pertanyaan beruntun karena akun IG saya namanya Date with Dudu.


Siapa Dudu? Anak gue. Anak lo umur berapa? 16 tahun.
Hah?


Saya hamil saat kuliah dan karena satu dan lain hal memutuskan untuk jadi seorang ibu tunggal. Ketika saya lulus, Dudu sudah berumur 1 tahun. Mulai dari kuliah sambil mengasuh bayi, lalu mencari kerja sambil membesarkan anak. Tahu-tahu anaknya sudah jadi remaja tahun ini, dan kita sudah melaluinya berdua saja. Saya tidak pernah punya pasangan lagi, si Dudu juga (katanya) belum mau pacaran karena masih mau main game. Hahaha.


Bahagia jadi berdaya

Kehadiran Dudu memberikan saya pelajaran bahwa tidak ada kata terlambat untuk bahagia, meskipun apa yang terjadi ini sebenarnya di luar rencana semula. Saya memulainya dengan menjadi seorang ibu tunggal berdaya. Apa itu? Berdaya, kalau dalam KBBI diartikan sebagai (1) berkekuatan; berkemampuan; bertenaga; dan (2) mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu dan sebagainya.

Status single mom di usia 21 tahun tidak menjadikan saya terlambat untuk mengejar mimpi dan melakukan hal-hal yang disuka, karena tinggal ditukar saja rencananya. Yang seharusnya dikerjakan pada umur 20-an, ya dilakukan di umur 30-an setelah anak lebih mandiri. Jadi, berdaya versi saya berarti menyadari bahwa saya punya kekuatan, kemampuan, tenaga dan akal untuk menjadi seorang ibu yang bahagia. Jangan sampai terjebak victim mindset alias berpikir bahwa saya ini korban yang tersandera anak dan takdir. Apalagi saya menjalani peran sebagai orang tua tunggal, semakin banyaklah alasan untuk jadi ibu berdaya.

Bahagia mengejar karir

Ketika Dudu masuk SD, saya pindah dari media ke e-commerce karena mengejar gaji yang lebih besar untuk kebutuhan hidup yang juga meningkat. Dunia e-commerce yang fast-pace mungkin tidak cocok buat seorang single mom usia 30-an seperti saya, bersaing dengan anak muda yang sebagian besar adalah fresh graduate berambisi. Bagaimana saya, yang fokusnya terbagi dengan anak, bisa mengejar karir di dunia ini?

Di sini, cara saya untuk mengatasi persaingan adalah dengan menunjukkan kemampuan. Menjadi seorang ibu berarti saya mampu bertanggung jawab atas kehidupan orang lain, dalam hal ini anak. Dan sebagai seorang single mom, saya mampu melakukan hal tersebut sendirian. Dudu adalah bukti ‘kesuksesan’ saya. Weekend saya memang buat nge-date sama Dudu. Tapi weekdays saya, bisa dipakai fokus mengejar karir dan mimpi di industri yang sekarang. Dan saya bahagia.


Bahagia melakukan hobi

Dudu yang semakin besar, berarti saya punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Waktu ini saya gunakan untuk melakukan hobi, yang kemarin sempat terbengkalai. Misalnya dengan ikut les bahasa, nonton konser Kpop di Youtube, volunteer di komunitas, atau ikut online event. Loh, terus Dudu ditinggal? Yah, anak ABG ini sekarang lebih memilih main game sama teman-temannya dibandingkan nge-date sama Mama. Tapi karena pandemi ini membuat kita di rumah saja, saya masih berusaha makan siang dan makan malam bersama Dudu. Sekarang saya bahagia karena melakukan semua hal yang saya suka, tanpa kehilangan waktu bersama Dudu.

Kalau ditanya apa rasanya jadi seorang ibu, jawabannya saya adalah “seru”. Loh kok seru? Nggak susah? Mungkin ada susahnya, tapi saya lupa. Lebih banyak kenangan seru dan bahagianya. Yang diingat cuma sering traveling sama Dudu, sering keliling kota mencoba restoran baru dan pergi event seru. Kok bisa? Ya soalnya saya kan ibu tunggal berdaya. Hahaha.


20 March 2022

Menjawab Pertanyaan dan Rasa Penasaran tentang Inner Child

“Kayaknya gue punya inner child belum selesai deh. Gimana cara menyelesaikannya ya?”

Topik yang muncul di salah satu grup WA baru-baru ini membuat saya penasaran juga. Apa itu inner child? Soalnya topik Inner Child ini memang lagi banyak jadi topik obrolan. Percakapan di WA pun jadi panjang.

“Kayaknya kita perlu tahu dulu inner child artinya apa.”
“Iya bener, lalu perlu dilihat apakah inner child kita terluka sebelum pergi healing-healing.”

Emang ada inner child yang tidak terluka? Lalu, healing-nya gimana?


Daripada banyak pertanyaan dan salah pengertian, saya langsung mendaftar acara #BincangISB yang berjudul “Bertemu dengan Inner Child,” yang diadakan pada Sabtu, 19 Maret kemarin. Acara yang menghadirkan Psikolog Diah Mahmudah S.Psi, dan Psikoterapis Dandi Birdy S. Psi, para founder Biro Psikologi Dandiah ini memberikan pencerahan tentang inner child.

Menurut Teh Diah, inner child ini adalah sosok anak kecil, yang memiliki sisi happy dan sisi unhappy pada orang dewasa di masa kini. Biasanya baru bisa disebut inner child pada orang yang sudah dianggap dewasa, pada usia minimal 21 tahun. Dalam psikologi, definisi inner child ini dijelaskan oleh John Bradshaw, salah satu tokoh di dunia psikologi dan penyembuhan yang menuliskan tentang inner child di bukunya “Homecoming: Reclaiming and Healing Your Inner Child,” sebagai pengalaman masa lalu yang belum atau tidak mendapatkan penyelesaian yang baik. Jadi bisa negatif bisa positif.

13 March 2022

Cerita Nostalgia Tentang si Panda

Perkenalkan ini namanya Panda.
Teddy bear kesayangan, orang ke-3
yang menemani perjalanan saya dan Dudu.

“Mama, ini bukan seekor panda.”
“Iya Mama tau, tapi namanya Panda.”


Long story short, boneka yang konon saya miliki sejak usia 2 tahun, ini warnanya belang-belang. Dulu sih kelihatannya hitam putih. Jadi waktu kecil saya kira ini boneka seekor panda. Sejak itu, namanya Panda. Sejak itu pula, saya harus menjelaskan asal muasalnya karena setiap yang melihat pasti bertanya, “ini kan beruang.”

“Ya, tapi kan beruangnya dua warna, jadi mirip Panda.”
“Di bagian matanya nggak hitam.”
“Soalnya Panda yang ini tidak suka begadang.”
Sampai di sini, biasanya yang bertanya sudah menyerah untuk melanjutkan.

05 March 2022

Serum adalah Senjata Rahasia untuk Kulit Lebih Cerah

Kemarin, saya dan teman-teman satu grup WA ngobrolin skincare lagi. Topik utamanya adalah “gue males make up deh, kan pake masker ya. Cuma kalo pas ketemu klien terus makan bareng, jadi keliatan kucel banget.” Dilema banget kan.

Kemarin pusing gara-gara di rumah terus bikin kulit kering karena berada di ruangan ber-AC sepanjang hari. Sekarang sudah bisa keluar rumah, pakai masker awalnya aman karena hanya meeting. Jadi tidak perlu make up. Lalu semakin ke sini, hidup berdamai dengan pandemi berarti sesekali terpaksa buka masker karena dijamu makan. Pake make up salah karena nempel di masker dan harus touch up, tidak pakai make up juga kucel. Jadi serba salah.

Solusinya gimana?
“Ya skincare-an dong, biar nggak perlu make up.”

Good idea, tapi saya tidak pernah tahu harus memulai dari mana. Jadi saya kembali menyimak obrolan di grup WA dan mulai mendapatkan petunjuk.

“Kan masalah lo kucel, ya lo cari lah yang bisa mencerahkan wajah.”
Oh iya bener.


Apaan nih yang bisa mencerahkan wajah?

Ada Pond’s Triple Glow Serum. Serum dianggap powerful untuk kita yang sedang mencari extra boost di rutinitas skincare yang sudah dijalani sehari-hari. Anggap saja seperti senjata rahasia. Kalau biasanya sudah pakai pembersih wajah, toner dan pelembab, ya tinggal selipkan serum di antara toner dan pelembab. Kenapa serum? Soalnya serum, meskipun mengandung konsentrat yang lebih tinggi, biasanya ringan dan mudah diserap oleh kulit. Nah, sekarang tinggal mencari serum pencerah wajah terbaik yang sesuai kebutuhan.

04 March 2022

Pentingnya Memahami Peranmu Hadir di Dunia

Siapa saya?

Kalau ditanya begitu ya jawabannya “Mama Dudu” hahaha. Di biodata, title “Mama Dudu” ini mutlak ada. Tapi sekarang Dudu sudah teenager, peran saya sebagai seorang Mama juga sudah tidak sesibuk dulu. Lalu sekarang, saya siapa?


Untuk saya, memahami peran dalam hidup ini penting. Karena biasanya saya lupa bahwa peran saya di dunia ada lebih dari satu. Kalau peran sebagai warga negara mungkin tidak sebesar atlet yang menyumbang medali emas, tapi sebagai Mama Dudu, peran saya paling besar. Malah cuma satu-satunya, soalnya si Dudu cuma punya satu ibu. Jadi, ketika saya merasa sebagai “remahan rengginang,” perasaan minder dan insecure itu tidak tahan lama. Soalnya saya suka rengginang sih, jadi emang sampai remahannya juga saya makan hahaha. Well, on a more serious note, mengenali siapa saya di adegan mana adalah hal penting karena hidup saya jadi lebih baik dan teratur. Kok bisa?

26 January 2022

Hore, Menang!

How do you measure winning? Apa itu menang?

Kalo kata KBBI ada beberapa arti. Yang pertama adalah mengalahkan musuh. Yang kedua adalah mendapatkan sesuatu, bisa hadiah dari sayembara ataupun reward setelah mengalahkan lawan. Yang ketiga adalah melebihi dari sesuatu, dan yang keempat adalah dinyatakan benar dalam sebuah perkara.

Lalu gimana bisa ada kemenangan kecil dan kemenangan besar? Gimana ngukurnya?

Di postingan sebelumnya, saya menulis kalau ikutan challenge membuat saya berhasil menulis fiksi dan mempublikasikannya di Wattpad. Padahal saya bukan penulis fiksi dan belum pernah menulis fiksi secara serius. Ini adalah sebuah kemenangan buat saya. Lalu entah gimana, “buku” yang isinya 3 bab itu dapat ranking #7 di kategori kecil. Tapi itu juga sebuah kemenangan buat saya. Lalu tadi pagi ada pesan masuk, yang bilang bahwa satu cerita fiksi yang saya tulis di situ terpilih jadi pemenang kontes yang diadakan oleh salah satu Wattpad ambassador. Ini beneran menang.

Menang perdana pakai tulisan nama pena

Besarnya sebuah kemenangan, ya kita sendiri yang tentukan karena faktornya juga banyak. Ada hadiah, ada lawan dan ada konteksnya. Semua kemenangan yang didapat dari menulis fiksi di atas adalah kemenangan besar. Bukan karena hadiahnya atau siapa yang dikalahkan, tetapi konteksnya. Menulis fiksi, bahkan cerpen, adalah sesuatu yang tidak pernah saya lakukan dan cenderung maju mundur mengerjakannya. Jadi, ketika berhasil meraih semacam apresiasi yang tidak diduga seperti kontes ini ya kemenangannya jadi terasa besar.

Proses menulis fiksi ini jadi sebuah prestasi tersendiri, karena saya berhasil mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran tentang menulis cerita fiksi, bahkan akhirnya mendapatkan reward.

Sama dengan menulis in general. Berhasil menulis (hampir) setiap hari juga sebuah prestasi, karena yang dikalahkan adalah rasa malas diri sendiri.

So, semuanya balik lagi ke diri sendiri, what’s important for you? Apa yang saya anggap penting. Kemenangan yang saya anggap besar ini, sampai saya cerita ke semua orang, mungkin tidak ada apa-apanya jika dibandingkan teman-teman saya yang sudah berhasil menulis novel, bahkan bisa mendapatkan penghasilan tetap dari sana. Begitu juga dengan teman saya yang lain, yang cerita kalau berhasil untung banyak dari main saham dan habis itu kaget sendiri karena kemenangan dia ternyata tidak ada artinya buat saya yang belum paham investasi. Haha.

Winning is rather personal. Jadi saya juga berusaha tidak membandingkan “prestasi” saya sebagai ibu dengan emak-emak dan mama-mama lainnya. Saya berhasil membesarkan Dudu sendirian selama 15 tahun, berarti saya sudah menang. Dari apa? Tidak tahu juga sih, mungkin dari kekhawatiran diri sendiri atau dari stigma masyarakat. Tapi yang jelas bisa bilang, hore, saya menang!

03 January 2022

Mengawali Tahun Baru Dengan Membuat Vision Board di Canva

Hari ke-3 di tahun 2022, hari Senin pertama. Yuk, belum terlambat bikin resolusi dan gol tahun baru!

Setiap tahun, saya selalu berpikir ingin melakukan sesuatu yang baru. Harus ada yang berbeda yang dilakukan tahun ini. Awal tahun jadi kesempatan untuk me-reset semua yang sudah lalu. Begitu juga dengan 2022, yang baru hari ini kepikiran mau bikin apa.

Vision Board
Ini favorit saya. Sebelum pandemi, saya pernah ikutan kegiatan membuat vision board bareng Dudu di acara komunitas Single Moms Indonesia. Tahun kemarin nggak bikin sih. Tahun ini akhirnya bikin sendiri di aplikasi Canva.

Ini Vision Board Saya buat 2022

Eh, tapi vision board itu apa? Sekilas terlihat seperti sebuah papan penuh gambar-gambar dan tulisan. Tapi sebenarnya vision board ini merupakan visualisasi rencana dan mimpi kita. Membuatnya seru, dan setelah jadi, sebaiknya ditaruh di tempat terlihat. Biar kita ingat terus sama goal kita selama setahun penuh, membantu kita fokus dan berusaha mencapainya.

Meskipun nggak se-seru kalau menggunting dan menempel sendiri di papan, digital vision board juga banyak gunanya. Yang pertama tentunya nggak banyak sampah hehe. Karena bikinnya di laptop. Lalu hasilnya bisa dipajang jadi wallpaper laptop biar setiap hari diingatkan. Selain itu, vision board digital juga lebih awet. Kalau yang fisik bisa kotor dan bisa rusak, yang digital bisa disimpan selamanya.

Caranya gimana?
Pertama, pilih aplikasinya.


Yang pasti ada di laptop, dan paling mudah digunakan adalah Powerpoint. Tinggal copy paste gambar-gambar ke sana dan tambahkan tulisan. Tidak perlu sign-up atau mendaftar. Bahkan bisa dikerjakan tanpa koneksi internet karena aplikasinya kan biasanya sudah satu paket dengan MS Office yang ter-install di laptop kita. Downside-nya hanya, ya kurang keren hasilnya kalau dibandingkan dengan yang dibuat lewat aplikasi kekinan seperti Canva hehe.

Di Canva ada banyak template Vision Board yang dapat digunakan, namun sayangnya banyak yang berbayar atau khusus pelanggan Canva Pro.

Jangan khawatir, ada banyak template lain yang dapat digunakan sebagai template vision board. Contohnya Facebook Post (ukuran 940px x 788px) atau ukuran Postcard (148mm x 105mm), lalu cari tema dan element scrapbook untuk mempercantik hasilnya.

Pilihan template Vision Board di Canva

Kedua tentukan tema yang paling mengena, goal yang harus dicapai.
Meskipun vision board umum juga dapat membantu, tapi fokus yang spesifik dapat membuat goal kita lebih mudah tercapai. Cari satu bagian dari hidupmu yang ingin diubah di 2022. Misalnya ingin jalan-jalan, ingin kuliah lagi, ingin karir lebih baik, ingin lebih punya waktu bersama keluarga, atau ingin punya bisnis sendiri. Hm… saya ingin apa ya?

Ketiga, cari gambar yang sesuai.
Kalau mimpi kita ada lebih dari 1, misalnya ingin jalan-jalan dan punya bisnis sendiri, sebaiknya gambar-gambar yang kita temukan dikumpulkan sesuai tema. Yang sebelah kanan bisa penuh dengan gambar pantai, gunung, Jepang, Korea dan negara lainnya. Sementara yang kiri bisa gambar orang presentasi, klien, co-working space incaran dan lain sebagainya.

Jangan lupa pakai tema & element "scrapbook" biar lebih cantik

Setelah semua lengkap, barulah mulai men-desain.

Satu hal yang harus dilakukan adalah meletakkan Vision Board ini di tempat yang kita bisa lihat setiap hari. Makanya kalau digital ya jadikan wallpaper laptop atau ponsel.

Sebenarnya lebih seru lagi kalau bisa dilakukan bersama anak sih.

29 September 2021

Ibu di Era Digital: Berteman dengan Game dan Gadget

Akhir-akhir ini, bahasan yang lagi seru di circle pertemanan saya adalah 'kecanduan' gadget. Sekolah dari rumah atau yang resminya disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mewajibkan para siswa memiliki gadget dan akses Internet. Jadi, mau tidak mau anak-anak jadi memiliki gadget sendiri dan screen time jadi lebih banyak dari biasanya.

Saya, Mama yang tidak pernah mempermasalahkan penggunaan gadget anaknya, merasa bingung bagaimana mau sumbang suara untuk masalah ini. Tapi saya menyadari, adalah tantangan tersendiri buat para Mama untuk mengurangi ketergantungan gadget pada anak-anaknya. Terutama ketika gadget sudah menjadi kebutuhan utama untuk belajar. Lalu apa yang harus dilakukan para Mama, yang notabene adalah perempuan di era digital.
Salah satu moment favorit saya adalah saat main game berdua

Sebagai ibu yang memiliki pemahaman literasi digital, kita memiliki potensi besar untuk mendukung anak bersahabat dengan gadget. Tantangan pertama yang muncul biasanya adalah cepatnya teknologi berubah. Dari yang hampir tidak pernah video call hingga paham cara pakai filter di zoom. Apalagi kalau ternyata anak kita lebih canggih.

Ada yang bilang, tak kenal maka tak sayang. Jangan langsung kontra. Jangan panik dan memusuhi gadgetnya. Pahami dulu kebutuhan PJJ anak dan kenali teknologi yang dibutuhkan.

Selain karena PJJ, pandemi ini juga membatasi pilihan hiburan untuk anak. Yang biasanya bisa ke mall, sekarang hanya bisa bermain di rumah. Di tengah kesibukan sebagai ibu bekerja dan ibu professional, diskusi di circle pertemanan saya berkembang menjadi game online dan YouTube. Di sini selain teknologi yang berubah, ada tantangan lain yang harus dihadapi yaitu game-nya itu sendiri. Saya dan anak semata wayang saya punya interest yang sama, jadi mudah bagi saya untuk mendampingi anak main game atau nonton YouTube. Bagaimana dengan yang tidak sejalan?

Kata anak saya, si Dudu, “Main game untuk have fun. Untuk keluar dari kehidupan mereka dan menjadi sesuatu yang lebih keren di dunia lain.”

Dari rumah untuk dunia. Dunia lain, sih. Tapi bukan berarti kita tidak bisa cari tahu ada apa di sana. Kalau saya bisa bertanya tentang bagaimana hari si anak di sekolah hari ini, saya juga bisa bertanya sudah berhasil mancing ikan berapa di Genshin Impact hari ini. Sama juga dengan membatasi waktu main game. Waktu kecil saya merasa kesal karena ketika Mama saya kesal melihat saya main game, saya harus mematikan game saat itu juga. Sementara saya sudah dekat sekali dengan save point berikutnya dan harus mengulang jauh ketika saya main lagi.


Jadi ketika Dudu main game, dan saya mau dia berhenti, saya tidak langsung menyuruh dia berhenti. Saya pasti tanya, “ini kapan bisa di-save?” Setelah itu baru saya minta dia berhenti main. Dan Dudu selalu berhenti main setelah di-save. Karena sama dengan saya yang kalau sedang mood menulis, atau Mama saya ketika dia masak, kita tidak suka diganggu tengah-tengah. Ketika saya berusaha memahami hobi si Dudu, dia juga jadi lebih terbuka dan cerita banyak tentang kehidupannya di dunia nyata. 

Jadi, meskipun interestnya tidak sama, saya masih bisa menggunakan gadget dan game sebagai teman, yang membantu saya berkomunikasi dengan anak. Apalagi di era digital ini saya harus waspada karena akses menjadi mudah dan sebagai ibu bekerja, saya tidak bisa selalu mengawasi anak. Kalau bukan karena Dudu yang cerita, saya tidak tahu dia bertemu siapa di Co-Op Genshin Impact-nya, atau sedang ngobrol sama siapa di discord.

Tapi, gimana kalo kecanduan?
Kalau nasihat Dudu sih, “maybe tell them that playing games are fun but don't let it affect your real life. Sometimes you have to sacrifice what's fun with what's important.” 

Tulisan ini diikutkan di Sayembara Catatan Perempuan untuk Konferensi Ibu Pembaharu oleh Kelas Literasi Ibu Professional.