Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

09 August 2024

Sebuah Cerita Tentang Keputusan untuk Menunda

Awal tahun ini, Dudu dan saya mengambil sebuah keputusan besar untuk menunda kuliah. Alasannya karena keluarga.

Sebenarnya hal ini wajar, karena di sekeliling saya, dia bukan satu-satunya yang menunda kuliah. Penyebabnya juga banyak. Ada yang karena dana, ada yang ingin langsung mandiri dan ada yang memang mengambil pendidikan tinggi lainnya. Kasus Dudu juga termasuk yang ringan, soalnya menunda kuliahnya cuma 6 bulan, alias berencana masuk di Januari 2025. Yah, saya juga dulu ada “break” 6 bulan dari lulus SMA ke masuk kuliah. Alasannya malah lebih parah, saya capek belajar yang diharuskan dan mau senang-senang saja.

Bisa #DateWithDudu lagi

Jadilah, saya mengambil les Bahasa Perancis selama 6 bulan, sambil menunggu tanggal keberangkatan. Sekarang, Dudu mengambil kursus bahasa Mandarin sambil melanjutkan les gitar.

Jika memutuskan untuk tidak langsung masuk kuliah, bagaimana kita mengisi gap year? Well, ini yang kami lakukan:
  • Ambil kursus dan pelatihan. Karena sudah tidak ada kegiatan sekolah secara rutin, maka sekarang Dudu bisa ikut kelas dan pelatihan. Selain kursus bahasa asing dan les gitar, dia juga jadi sering ikutan workshop yang sesuai dengan jurusan kuliahnya kelak. Misalnya kalau ada kelas menulis script atau kelas tentang film. Kegiatan ini juga bisa jadi latihan untuk kuliah. Maksudnya latihan mengatur jadwal sendiri dan mengambil hanya kelas-kelas yang disuka.
  • Volunteer / Menjadi Relawan. Meskipun menarik, hal ini juga sedikit tricky. Banyak yang membuka posisi relawan namun mengharuskan pelamar sudah masuk kuliah. “Pengangguran” yang hanya punya ijazah SMA seperti Dudu sering kesulitan memposisikan diri. Sebulan terakhir ini, dia sedang gencar mendaftar jadi relawan di beberapa event yang sesuai dengan minatnya. Namun, belum ada yang berhasil diterima.
  • #DateWithDudu. Karena technically dia nganggur, kita jadi bisa nge-date lagi. Jadi waktu gap months ini bisa dipergunakan untuk quality time sebelum dia masuk kuliah. Kita jadi lebih sering mencoba restoran baru, pergi ke event barengan dan nonton film bersama. PRnya tinggal menuliskannya di blog.
  • ‘Me time’. Dudu jadi bisa melakukan hal-hal yang dia sukai seperti menamatkan game PS yang sudah lama ditundanya atau mabar bersama teman-temannya. Menulis script film yang kemarin tertunda karena belajar ujian dan menyelesaikan baca komik yang kemarin ditinggalkannya. Belajar masak untuk siap-siap hidup mandiri dan magang di coffee shop juga jadi pilihannya untuk ‘me time’. Kalau menurutnya, dia lega karena sebelumnya khawatir tidak akan sempat main PS4 lagi sebelum kuliah.

02 September 2023

Makna Merdeka Bagi Ibu Tunggal

Tanggal 30 Agustus kemarin saya menghadiri Diversity, Equity and Inclusion (DEI) Summit yang diselenggarakan oleh Manulife Indonesia. Acara yang saya hadiri sebagai perwakilan Single Moms Indonesia ini membawa pesan “Bring DEI to Life.” 

Hubungannya apa sama merdeka?

Ada satu pesan yang saya dengar di DEI Summit pertama di Indonesia ini yang membuat saya berpikir tentang makna merdeka. Kira-kira begini: Coba bayangkan betapa tidak nyamannya kita ketika harus menyembunyikan sesuatu agar terlihat normal dan tidak dikucilkan oleh orang lain. Apa yang terjadi jika kita harus merahasiakan kondisi kita, dan struggling sendirian. 

Yang dibahas di DEI Summit kemarin lebih kepada disabilitas, terutama disabilitas fisik. Namun memang disebutkan bahwa disabilitas ini bukan hanya fisik tapi juga mental dan kondisi. Perbedaan bukan hanya apa yang terlihat langsung di depan mata. Misalnya seorang karyawan yang memiliki ADHD tentunya akan lebih sulit fokus dibandingkan rekan-rekannya yang tidak ADHD. Namun ADHD yang tidak berani diakui ini menghalangi kinerja dan menyebabkan karyawan tersebut dicap tidak perform. Begitu juga dengan status ibu tunggal. 

Banyak single mom yang menyembunyikan status mereka ketika melamar pekerjaan karena takut diperlakukan berbeda, misalnya diganggu rekan kerja atau atasan lawan jenis. Bisa juga malah jadi tidak diterima karena perusahaan khawatir mereka akan banyak ijin karena harus mengurus anak sendirian. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah menciptakan equity dan melakukan inclusion untuk mereka yang berbeda.

Jadinya ya, para ibu tunggal ini belum merdeka. Bukan hanya dalam pekerjaan, namun juga dalam kehidupan sehari-harinya. Stigma yang muncul membuat mereka kurang nyaman menjadi diri sendiri, dan akhirnya stress karena harus terus berpura-pura. Padahal masih terluka. Karena itulah saya ingin menciptakan sebuah kondisi di mana para ibu tunggal ini bisa merdeka. 

Merdeka yang bagaimana?

24 October 2022

Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Pinjol dan Cara Menghadapinya

Ketika sedang nonton episode terbaru Spy x Family sama Dudu hari Minggu kemarin, saya ditelepon sama seorang ibu yang mengaku dari pinjol bernama Akukaya. Ibu yang tidak sempat saya tangkap namanya ini menanyakan keberadaan seorang teman yang katanya mencantumkan nama saya sebagai kontak darurat. Nada suara si ibu yang khas dari daerah tertentu ini bikin percakapan jadi lebih menarik. Haha.

Biar nggak serius-serius amat, fotonya pake foto Dudu lagi angkat telepon

Yang unik, si ibu penagih pinjol ini pakai memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Saya ibu xx dari Akukaya, Ibu kenalkah dengan yang bernama AABB?”

Setelah beberapa kali konfirmasi, barulah saya sadar kalau nama AABB ini terlalu umum, dan saya punya teman lebih dari 3 dengan nama yang persis sama seperti itu. Ketika si ibu pinjol menyebutkan alamatnya, saya tidak tahu teman-teman saya ini tinggal di mana. Bahkan ketika si ibu pinjol ini menyebutkan “Orangnya ini memakai hijab, Ibu?” Saya juga belum bisa memutuskan, yang mana yang dimaksud si ibu.

Hanya saja, siapapun yang dimaksud, saya sudah bertahun-tahun tidak bertemu mereka semua dan dulu sih semuanya tidak pakai hijab ya haha.
“Teman ibu ini mencantumkan nomor ibu ini sebagai kontak darurat. Dia meminjam uang lalu tidak membayar.”

“Ya terus?”

“Kita akan telepon Ibu untuk menyuruh teman Ibu untuk membayar hutangnya.”

“Ya, saya tidak bisa bantu apa-apa sih, Bu. Saya tidak tahu yang mana yang dimaksud. Dan semuanya sudah tahunan tidak kontak dengan saya.”

“Oh begitu?”

“Nomornya tidak bisa di-blok saja?”

“Nomor ini tidak bisa di-blok, Ibu?”
Nada suara si ibu ini selalu berakhir naik. Kayak artis yang kemarin pernikahannya ribut-ribut karena tanpa restu dari pihak orang tua perempuan itu. Jadi menarik.
“Kalau gitu saya laporkan saja ya.”

“Silahkan dilaporkan, Ibu, tapi nanti teman-teman saya akan tetap menelepon Ibu sampai teman Ibu lunas sudah hutangnya.”

“Oh ya nggak apa-apa sih. Kalau saya mood, nanti saya jelaskan lagi. Kalau nggak ya saya tutup aja teleponnya dan blok lagi.”

“Nomor ini tidak bisa di-blok, Ibu.”

“Oh, maksud saya nomor teman-teman Ibu yang saya blok kalau mereka telepon.”

“Oh iya silahkan, ibu.”

Aneh percakapannya mendadak jadi sopan haha.

Sepertinya karena saya cuek, si Ibu juga bingung sendiri. Toh, maksud dia menelepon sudah tersampaikan, dan saya tidak bisa membantu juga. Terus gimana? Mau mengancam juga, ya saya pikir itu SOP-nya mereka. Kalau mengganggu tinggal saya blok dan report.

Bagaimana mengajarkan konsep pinjol kepada anak?

Daripada pertanyaan si Ibu tersebut, lebih susah pertanyaan si Dudu.

Dudu: Pinjol itu apa?
Mama: Pinjaman online, jadi bisa hutang tapi bukan dari bank gitu kalau butuh uang.
Dudu: Lalu kenapa Mama ditelepon?
Mama: Jadi ada teman Mama yang pinjam uang, lalu tidak bayar. Katanya nomor Mama dicantumkan jadi kotak darurat. Lalu ya ditelepon.
Dudu: Terus bagaimana?
Mama: Ya, Mama tidak tau siapa yang dimaksud, kalau pun tahu juga terus benefitnya apa buat Mama? Kan si Pinjol tidak kasih Mama incentive untuk ikut bantu kejar-kejar client mereka bayar hutang. Mereka bayar orang-orang itu untuk telepon teman-teman si peminjam.

Dudu mengangguk-angguk saja sih sampai sini. Nonton lagi, lalu tahu-tahu bertanya,

Dudu: Itu bukannya data breach?
Mama: Ya, mau gimana lagi, memang pinjol kan begitu business modelnya. They lent some money but got access to your contacts. Just in case kamu tidak bayar, ya mereka bisa meneror teman-teman dan bikin kamu malu.

Bagaimana menghadapi pinjol?

Lalu saya posting kejadian ini di Facebook dan mendapatkan beberapa insight dari teman-teman.

  1. Bisa gunakan apps truecaller dan sejenisnya buat mendeteksi telepon dari nomor yang tidak dikenal. Apalagi kalau kita sudah pakai nomor ini sejak lama atau menggunakan nomor ini untuk point of contact online shop kita, networking dan sejenisnya, di mana potensi tersebar lumayan luas.
  2. Jangan langsung percaya sama si pinjol. Biasanya mereka menghubungi semua nomor yang ada di kontak tersebut dan bilang kalau dipasang sebagai nomor darurat, nomor penjamin dan sebagainya. Padahal tidak juga, ini hanya cara mereka untuk membuat kasusnya terdengar urgent.
  3. Kalau mendapatkan pesan lewat WA (bukan telepon langsung), segera blok dan report.
  4. Kalau terlanjur diangkat gimana? Ya kalau tahu ini pinjol, segera matikan dan blok nomornya. Atau ya, seperti saya tadi, tetap tenang lalu jawab tidak tahu. Para penagih ini memang bekerja sebagai penagih hutang. Mereka karyawan. Saya bukan karyawan pinjol jadi ya buat apa saya terlibat? Kecuali kalau ketika si teman saya bayar hutangnya, saya dapat incentive juga gitu karena bantuin nagih.
  5. Jangan takut kalau dapat message/ telepon dari tagihan pinjol milik “teman”. Kita tidak bisa mengatur apa yang dilakukan si pinjol dan apa yang dilakukan si teman, tapi kita bisa mengatur apa yang kita mau lakukan. Tutup aja teleponnya. Beres.
So, what we can do adalah bagaimana kita menyikapi situasi ini. Si temen bakal tetap pinjam uang, si pinjol tetap harus menagih, tapi kita tidak harus menjawab atau meladeni telponnya.

21 August 2022

Hidup ini Bukan Kompetisi, Fokus Pada Diri Sendiri

Kamu kapan?
Gondok denger pertanyaan itu? Iya saya juga.


"Si A udah punya anak dua, kamu gak mau kasih adik buat Dudu?"
"Kenapa nggak nikah lagi aja kayak si B, kasian kan anakmu?"
Atau satu pertanyaan yang terlontar di komunitas saya, yang membuat saya berpikir untuk menuliskan postingan ini:
"Kok sepertinya saya lama banget move on dari mantan suami? Teman saya bahkan sudah menikah lagi dan bahagia. Apa yang salah dengan saya?"

Jawabannya, ya tidak ada yang salah.

Kan hidup ini bukan kompetisi.

Kompetisi pertama yang diikuti Dudu, nggak jadi juara 1

Okelah, kita tidak bicara soal ranking di sekolah atau performance di kantor. Tapi yang namanya healing, move on dan perjalanan hidup tidak bisa dipandang sebagai sebuah kompetisi. Menurut saya, setiap orang ada timeline-nya sendiri dan kita bisa memilih untuk menghindari kompetisi. Apalagi kalau berpartisipasi di kompetisi perjalanan hidup ini membuat kita makin down.

Bagaimana kalau orang terdekat kita yang sibuk 'mendaftarkan' kita ke kompetisi? Orang tua yang menjodohkan kita dengan anak temannya atau circle pertemanan yang selalu membahas anaknya sudah bisa apa seperti sebuah lomba parenting. Mau quit susah, mau ikut juga salah.

18 August 2022

Basic Skills for Boys: Belajar Tanggung Jawab

Seorang single mom dengan anak laki-laki mengutarakan kekhawatirannya tentang membesarkan anak tanpa figur Ayah. Flashback ke belasan tahun lalu, mungkin saya juga mengalami fase yang sama. Sebagai seorang single mom by choice, alias memilih untuk tidak menikah, sosok ayah untuk si Dudu ya tidak ada.

Tanggung jawab cuci mobil

Beruntung saya masih punya adik laki-laki dan almarhum Papa masih ada saat itu, masih sempat mendampingi Dudu hingga usia remaja. Sampai suatu hari Dudu bilang "Mama ini seperti ayah, kerjanya cari uang dan main game bersama saya. Yang jadi Mama itu Oma, soalnya Oma memasak dan mengurus rumah. Well, kenyataannya memang begitu sih. Walaupun rambut saya panjang dan saya lebih sering pakai rok ala Disney Princess, tapi saya tomboy. Saking tomboynya, sampai pernah dapat nasihat biar lebih feminin dikit dari seorang peramal nasib biar jodohnya segera mendekat.

Balik lagi ke soal figur ayah. Masih di percakapan yang sama dengan teman-teman sesama ibu tunggal, ada yang beropini kalau anak laki-laki harus diajarkan basic skills agar kelak dapat bertanggung jawab terhadap keluarganya saat menjadi seorang ayah kelak.

Kalau harapannya adalah agar anak laki-laki dapat jadi pria bertanggung jawab, ya berarti anak wajib diajarkan tanggung jawab. Caranya?

05 June 2022

Mengajarkan Anak Agar Waspada Pesan Scam

Kemarin Dudu dapet pesan WA yang isinya spam. Menang giveaway dari Rans Entertainment dan diminta menghubungi nomor tertentu dengan menyerahkan pin yang dicantumkan.

“Who’s Raffi, Ma?”
“Oh, itu artis sinetronnya Oma.

Untungnya Dudu tidak kenal Raffi Nagita dan spam message tersebut tidak mention zombie.

Pesan scam yang diterima Dudu

Tapi hal ini membuat saya jadi waspada, karena ternyata spam tidak pilih-pilih tujuan. Hadiahnya juga uang, sesuatu yang membuat anak seumuran Dudu mudah tergiur. Soalnya dia sering butuh uang untuk beli diamond dan perlengkapan main game-nya. Meskipun karena dia tidak punya uang, mungkin penipunya juga tidak bisa apa-apa.

“Who wants to give up their pin?”

Komentar pertama Dudu ketika membaca pesan tersebut membuat saya lumayan lega. Soalnya dia sudah memahami keamanan digital. Setidaknya, scam model straightforward begitu tidak akan lolos. Namun bagaimana dengan pesan spam dan scam jenis lain, misalnya yang menganjurkan dia klik link tertentu lalu membuat akunnya jadi korban hacker? Terutama karena anak seumuran dia berkeliaran di dunia digital hampir 24 jam sehari. Iklan palsu, tawaran menggiurkan bahkan phising yang muncul di antara level game yang dimainkan juga bisa menjadi masalah.

“Kemarin teman saya ada yang terjebak scam.”
Ini cerita Dudu beberapa tahun yang lalu, sebelum pandemi. Ada satu teman sekelasnya yang tergiur iklan undian iPhone. Yang ada, setelah klik link, akunnya jadi kena hack dan ponselnya error. Scam tidak melulu soal uang, kadang yang dicuri adalah data pribadi. Kalau anak login dengan akun kita, atau shared account, bisa jadi data kita yang dicuri kan.
“Kok kamu tidak terjebak?”
“Karena itu too good to be true. Tidak ada yang mau membagikan iPhone dengan gratis.”

29 May 2022

Pilah-pilih Graduation Quotes untuk di Buku Tahunan

Minggu lalu, saya dan Dudu berdiskusi soal Graduation Quotes untuk ditaruh di bawah fotonya, di graduation album. Dudu mau yang lucu, sedikit nyeleneh dengan smart jokes. Dan Mama-nya yang overthinking takut kalau graduation quotes yang agak ngasal jadi jejak digital. Meskipun maksudnya main-main, quotes macam, “they say cheaters never win, but I graduated,” kan berbahaya kalau suatu hari muncul di google search.

Graduation quotes yang saya ajukan semuanya datang dari game. Yang pertama tentu saja dari Horizon Zero Dawn.
“She said, "Elisabet, being smart will count for nothing if you don't make the world better. You have to use your smarts to count for something, to serve life, not death." ~Elisabet Sobeck
Tapi Dudu tidak tertarik. Soalnya nilai dia pas-pasan hahahaha.

Lalu ada satu quotes dari Dragon Quest XI, yang menurut saya lumayan pas karena pas SD dia sering kena bully, bahkan kena cubit teman perempuannya sampai biru tanpa alasan. Yang waktu saya tertawakan, saya bilang si classmates naksir, dia malah marah ke saya hahahaha.


“Don’t waste your time bearing grudges, and live life with love in your heart.” ~Chalky
Lalu ada beberapa quotes lain yang datang sebagai inspirasi seperti “We must never give up the fight. The minute we do, we have lost.” Ezio Auditore da Firenze. Bahkan saya dan Dudu sampai mencarinya di buku jokes yang kami temukan di coffee shop. Tapi belum ada yang beneran cocok untuk dia kirimkan sebagai graduation quotes.

Emangnya, apa sih yang dibutuhkan untuk memilih graduation quotes?

Kalau Googling, saya tidak menemukan dos and don’ts untuk graduation quotes, jadi agak bingung juga. Apalagi graduation quotes ini biasanya tempat anak-anak remaja menulis dan mengekspresikan diri sebebas-bebasnya. Tetap saja, buat saya, ada beberapa peraturan yang saya pegang, meskipun akhirnya ya terserah Dudu saja.

Graduation quotes harus memorable. Diingat orang, tapi kalau viral jangan sampai merusak reputasi di masa depan. Kalau bisa lucu, smart tapi tidak garing atau terlalu standard sampai sering ditemukan di buku tahunan lain. Susah kan ya? Sebisa mungkin jangan offensive.

Akhirnya Dudu pilih apa?
Quotes setengah ironis macam: “I’ll see you at McDonald’s. Be sure to say ‘hi’ and I’ll give you extra ketchup.”

Hah? Maksudnya gimana tuh?
Buat yang tidak paham, jadi kadang Dudu suka bercanda kalau nanti sulit dapat pekerjaan karena nilai dia yang pas-pasan dan akan terpaksa kerja di McD buat membayar student loans. Ya udahlah, lebih mendingan daripada dia menulis quotes tentang how he cheated to graduate atau yang aneh-aneh semacam “what if you woke up tomorrow and you’re a chicken nugget?”


26 March 2022

Bahagia Jadi Ibu Tunggal Berdaya

“Halo, Mama Dudu.”

Tahun ini adalah tahun ke-16 saya menjadi seorang ibu tunggal. Jadi Mama Dudu. Sapaan di atas sudah jadi identitas kedua buat saya. Identitas yang saya banggakan juga, meskipun kadang menimbulkan pertanyaan buat teman yang baru kenal. Soalnya sebagai single mom, saya suka terlihat single beneran. Haha. Terlihat happy-go-lucky belum punya anak, belum punya tanggungan. Masih senang-senang sendiri. Sampai kita tukeran IG. Lalu muncul pertanyaan pertanyaan beruntun karena akun IG saya namanya Date with Dudu.


Siapa Dudu? Anak gue. Anak lo umur berapa? 16 tahun.
Hah?


Saya hamil saat kuliah dan karena satu dan lain hal memutuskan untuk jadi seorang ibu tunggal. Ketika saya lulus, Dudu sudah berumur 1 tahun. Mulai dari kuliah sambil mengasuh bayi, lalu mencari kerja sambil membesarkan anak. Tahu-tahu anaknya sudah jadi remaja tahun ini, dan kita sudah melaluinya berdua saja. Saya tidak pernah punya pasangan lagi, si Dudu juga (katanya) belum mau pacaran karena masih mau main game. Hahaha.


Bahagia jadi berdaya

Kehadiran Dudu memberikan saya pelajaran bahwa tidak ada kata terlambat untuk bahagia, meskipun apa yang terjadi ini sebenarnya di luar rencana semula. Saya memulainya dengan menjadi seorang ibu tunggal berdaya. Apa itu? Berdaya, kalau dalam KBBI diartikan sebagai (1) berkekuatan; berkemampuan; bertenaga; dan (2) mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu dan sebagainya.

Status single mom di usia 21 tahun tidak menjadikan saya terlambat untuk mengejar mimpi dan melakukan hal-hal yang disuka, karena tinggal ditukar saja rencananya. Yang seharusnya dikerjakan pada umur 20-an, ya dilakukan di umur 30-an setelah anak lebih mandiri. Jadi, berdaya versi saya berarti menyadari bahwa saya punya kekuatan, kemampuan, tenaga dan akal untuk menjadi seorang ibu yang bahagia. Jangan sampai terjebak victim mindset alias berpikir bahwa saya ini korban yang tersandera anak dan takdir. Apalagi saya menjalani peran sebagai orang tua tunggal, semakin banyaklah alasan untuk jadi ibu berdaya.

Bahagia mengejar karir

Ketika Dudu masuk SD, saya pindah dari media ke e-commerce karena mengejar gaji yang lebih besar untuk kebutuhan hidup yang juga meningkat. Dunia e-commerce yang fast-pace mungkin tidak cocok buat seorang single mom usia 30-an seperti saya, bersaing dengan anak muda yang sebagian besar adalah fresh graduate berambisi. Bagaimana saya, yang fokusnya terbagi dengan anak, bisa mengejar karir di dunia ini?

Di sini, cara saya untuk mengatasi persaingan adalah dengan menunjukkan kemampuan. Menjadi seorang ibu berarti saya mampu bertanggung jawab atas kehidupan orang lain, dalam hal ini anak. Dan sebagai seorang single mom, saya mampu melakukan hal tersebut sendirian. Dudu adalah bukti ‘kesuksesan’ saya. Weekend saya memang buat nge-date sama Dudu. Tapi weekdays saya, bisa dipakai fokus mengejar karir dan mimpi di industri yang sekarang. Dan saya bahagia.


Bahagia melakukan hobi

Dudu yang semakin besar, berarti saya punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Waktu ini saya gunakan untuk melakukan hobi, yang kemarin sempat terbengkalai. Misalnya dengan ikut les bahasa, nonton konser Kpop di Youtube, volunteer di komunitas, atau ikut online event. Loh, terus Dudu ditinggal? Yah, anak ABG ini sekarang lebih memilih main game sama teman-temannya dibandingkan nge-date sama Mama. Tapi karena pandemi ini membuat kita di rumah saja, saya masih berusaha makan siang dan makan malam bersama Dudu. Sekarang saya bahagia karena melakukan semua hal yang saya suka, tanpa kehilangan waktu bersama Dudu.

Kalau ditanya apa rasanya jadi seorang ibu, jawabannya saya adalah “seru”. Loh kok seru? Nggak susah? Mungkin ada susahnya, tapi saya lupa. Lebih banyak kenangan seru dan bahagianya. Yang diingat cuma sering traveling sama Dudu, sering keliling kota mencoba restoran baru dan pergi event seru. Kok bisa? Ya soalnya saya kan ibu tunggal berdaya. Hahaha.


17 March 2022

Kalah, Menang dan Cerita tentang Terbang

“Si Dudu masih mau lomba ya, Mom?”
“Iya nih.”
“Anak saya udah nggak mau, dia kecewa kemarin kalah.”

Dulu, Dudu sering ikut lomba. Lomba fashion show, lomba foto, casting, bahkan kompetisi jadi penyiar radio cilik. Kalau dia menang, saya ikut bangga. Soalnya biasanya, saya juga yang sepihak mendaftarkan anaknya setelah setengah memaksa, “kamu ikut lomba ini ya.” Hahaha. Tapi efeknya, kalau dia kalah, saya juga ikutan kecewa.

Kenang-kenangan lomba Kartini di TK 

Tapi, yang namanya kompetisi kan ada menang, ada kalah. Sebenarnya juga si Dudu banyakan kalahnya, sih. Sebagai emak-emak kompetitif (katanya), saya pernah ditanya gimana caranya mengajarkan anak agar tidak putus asa ketika kalah lomba.

Saya pakai perbandingan dengan ketika saya mau “terbang.”

Saya senang travelling, naik pesawat lalu terbang dan mendarat di tempat yang berbeda. Percaya nggak percaya, pas hamil si Dudu, saya pernah stress berat. Sampai ke psikolog kampus dan mulai journaling untuk menemukan penyebabnya. Ternyata jawabannya adalah “kurang sering terbang.” Saya yang tinggal di kota kecil pas kuliah, lalu sering terbang ke kota besar pas liburan semester, atau terbang pulang ke Indonesia. Karena hamil, saya memilih stay di kota saya, mengambil summer jobs atau liburan ke daerah yang bisa dicapai dengan mobil. Lalu saya stress. Hidup kurang seru kalau tidak “terbang.”

Emangnya, apa yang membuat terbang begitu special?

1. Terbang perlu persiapan

16 March 2022

3 Film Bertema Keluarga Rekomendasi Dudu

Karena saya akhir-akhir ini jarang nonton film, jadi blog post ini yang nulis si Dudu. Tadi siang saya minta dia menuliskan 3 film yang dia baru tonton akhir-akhir ini, ceritanya apa, moral of the story dan kenapa orang harus menonton film-film ini. Ini hasil tulisannya (dengan minimal edit dari Mamanya):

Encanto (2021)
Durasi: 1 jam 49 menit
Rating: PG

Encanto itu adalah film yang ada di Disney+, tentang keluarga yang masing-masing mempunyai kekuatan ajaib, kecuali satu anak bernama Mirabel, yang tinggal di rumah ajaib. Suatu hari rumah mereka mulai retak dan keluarga Mirabel mulai kehilangan kekuatanya. Ini membuat Mirabel mencari tau alasan mengapa hal ini terjadi. Film ini mempunyai tema keluarga dan memiliki pelajaran untuk kenapa melambangkan(1) seorang anak special bisa mempunyai dampak negative. Orang-orang seperti orang tua atau anak anak pun bisa menonton film ini, dan mendapatkan pelajaran yang berharga, dan mendengarkan lagu lagu yang mudah diingat dan mau didengarkan berkali kali kapan saja.


Black Widow (2021)
Durasi: 2 jam 13 menit
Rating: PG-13

Black Widow adalah film Marvel yang ada di Disney+ dimana Natasha Romanof a.k.a. Black Widow bersama keluarga tirinya melawan organisasi Red Room, di mana Natasha dilatih menjadi pembunuh. Dari deskripsi itu bisa diketahui film ini bertema keluarga. Loh kok temanya sama dengan film sebelumnya? He he he, interaksi Natasha sama keluarganya bagus dan benar-benar membuat kita peduli sama mereka, terutama interaksi adiknya Natasha Yelena. Meskipun menurutku film ini seharusnya dirilis duluan lebih tepatnya sebelum Endgame. Tapi selain itu filmnya ini menunjukan banyak hal baru untuk MCU, dan musti untuk ditonton kalau salah satu fans Marvel dan mempunyai Disney plus.


Turning Red (2022)
Duration: 1 jam 40 menit
Rating: PG

Turning Red itu film yang baru saja keluar di Disney+, di mana ada anak SD di China yang berubah menjadi panda merah besar saat mempunyai emosi kuat, dan dia bilang ini terjadi karena keturunan dia meminta kekuatan untuk menjaga desa dia. Film ini tentang menjadi dirimu sendiri dan jangan membuang dirimu sendiri hanya untuk membuat keluargamu senang, karena kamu itu orang kamu(2) sendiri. Kita ditunjukan seperti apa ibu yang percaya anaknya tidak pernah bersalah, dan mempermalukan anaknya(3), karena dia percaya dia melakukan hal yang benar. Film ini juga bisa menjadi tontonan anak anak dan orang tua untuk pelajaran untuk menjadi kamu sendiri(4).


Buat yang bingung dengan Bahasa Indonesia si Dudu, ini ada kamusnya:
(1) Labelling - alias memberi label
(2) You are who you are, kamu ya kamu
(3) Si ibu cenderung menyalahkan lingkungan di sekitar anaknya, namun tindakannya malah mempermalukan si anak.
(4)Maksudnya becomes who you are, alias menjadi diri sendiri.

(Cek cara melihat rating film di sini)

Entah karena nontonnya Disney+ atau memang anaknya selalu fascinated dengan hubungan keluarga, ini sebenarnya semua satu tema. Well, dari ketiga film ini, saya paling pengen nonton Black Widow, sih. Tapi ya, kemarin nonton Loki saja belum selesai.

04 March 2022

Pentingnya Memahami Peranmu Hadir di Dunia

Siapa saya?

Kalau ditanya begitu ya jawabannya “Mama Dudu” hahaha. Di biodata, title “Mama Dudu” ini mutlak ada. Tapi sekarang Dudu sudah teenager, peran saya sebagai seorang Mama juga sudah tidak sesibuk dulu. Lalu sekarang, saya siapa?


Untuk saya, memahami peran dalam hidup ini penting. Karena biasanya saya lupa bahwa peran saya di dunia ada lebih dari satu. Kalau peran sebagai warga negara mungkin tidak sebesar atlet yang menyumbang medali emas, tapi sebagai Mama Dudu, peran saya paling besar. Malah cuma satu-satunya, soalnya si Dudu cuma punya satu ibu. Jadi, ketika saya merasa sebagai “remahan rengginang,” perasaan minder dan insecure itu tidak tahan lama. Soalnya saya suka rengginang sih, jadi emang sampai remahannya juga saya makan hahaha. Well, on a more serious note, mengenali siapa saya di adegan mana adalah hal penting karena hidup saya jadi lebih baik dan teratur. Kok bisa?

03 March 2022

Tebak-tebak Pekerjaan Mama

Dudu sering bilang kalo saya tidak seperti Mama pada umumnya. Saya tidak bersih-bersih rumah dan saya tidak masak.
“Kalau begitu Mama apa dong?”
“Mama ini seperti ayah, cari uang dan bekerja. Lalu main game sama saya.”


Hal ini membuat saya berpikir ulang tentang role sebagai orang tua. Stereotypical banget ya. Papa kerja, Mama urus rumah. Dan saya, yang selalu ngaku tomboy sampai ada orang pintar yang suruh saya jadi feminin dikit biar dapet jodoh ini, memang prefer role yang pertama. Saya pikir yang namanya tomboy berhenti di manjat pagar, naik ke genteng sampai diomelin nenek tetangga atau se-simple pergi cuma bawa dompet sama hape dikantongin haha. Ternyata terbawa ke kehidupan sehari-hari juga.

Bukan hanya saya perempuan yang bekerja. Mama yang cari uang untuk anaknya. Beberapa waktu lalu, saya pernah bertanya di komunitas Single Mom yang saya ikuti, bagaimana anak mendeskripsikan pekerjaan si Mama. Dan jawabannya lumayan seru-seru. Dimulai dari Dudu ya.

“Mama kerjaannya apa?”
“Yang sekarang?”
“Iya.”
“Editor? Copywriter?”
“Ya itu dulu sih.”
“Sekarang Mama bekerja sebagai apa?”
“Livestreaming Campaign.”
Anaknya bengong sesaat sih. Lalu saya balik bertanya.
“Emangnya editor kerjaannya ngapain?”
“Membetulkan tulisan orang lain, lalu mengomel saat ada spelling yang salah.”

Hahahaha. Kok begitu?

Udah cocok jadi blogger belum anaknya?

Bagaimana dengan anak lain? Kemudian, saya melemparkan pertanyaan ke grup komunitas emak-emak yang saya ikuti dan jawabannya lucu-lucu. Coba disimak di sini:

29 September 2021

Ibu di Era Digital: Berteman dengan Game dan Gadget

Akhir-akhir ini, bahasan yang lagi seru di circle pertemanan saya adalah 'kecanduan' gadget. Sekolah dari rumah atau yang resminya disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mewajibkan para siswa memiliki gadget dan akses Internet. Jadi, mau tidak mau anak-anak jadi memiliki gadget sendiri dan screen time jadi lebih banyak dari biasanya.

Saya, Mama yang tidak pernah mempermasalahkan penggunaan gadget anaknya, merasa bingung bagaimana mau sumbang suara untuk masalah ini. Tapi saya menyadari, adalah tantangan tersendiri buat para Mama untuk mengurangi ketergantungan gadget pada anak-anaknya. Terutama ketika gadget sudah menjadi kebutuhan utama untuk belajar. Lalu apa yang harus dilakukan para Mama, yang notabene adalah perempuan di era digital.
Salah satu moment favorit saya adalah saat main game berdua

Sebagai ibu yang memiliki pemahaman literasi digital, kita memiliki potensi besar untuk mendukung anak bersahabat dengan gadget. Tantangan pertama yang muncul biasanya adalah cepatnya teknologi berubah. Dari yang hampir tidak pernah video call hingga paham cara pakai filter di zoom. Apalagi kalau ternyata anak kita lebih canggih.

Ada yang bilang, tak kenal maka tak sayang. Jangan langsung kontra. Jangan panik dan memusuhi gadgetnya. Pahami dulu kebutuhan PJJ anak dan kenali teknologi yang dibutuhkan.

Selain karena PJJ, pandemi ini juga membatasi pilihan hiburan untuk anak. Yang biasanya bisa ke mall, sekarang hanya bisa bermain di rumah. Di tengah kesibukan sebagai ibu bekerja dan ibu professional, diskusi di circle pertemanan saya berkembang menjadi game online dan YouTube. Di sini selain teknologi yang berubah, ada tantangan lain yang harus dihadapi yaitu game-nya itu sendiri. Saya dan anak semata wayang saya punya interest yang sama, jadi mudah bagi saya untuk mendampingi anak main game atau nonton YouTube. Bagaimana dengan yang tidak sejalan?

Kata anak saya, si Dudu, “Main game untuk have fun. Untuk keluar dari kehidupan mereka dan menjadi sesuatu yang lebih keren di dunia lain.”

Dari rumah untuk dunia. Dunia lain, sih. Tapi bukan berarti kita tidak bisa cari tahu ada apa di sana. Kalau saya bisa bertanya tentang bagaimana hari si anak di sekolah hari ini, saya juga bisa bertanya sudah berhasil mancing ikan berapa di Genshin Impact hari ini. Sama juga dengan membatasi waktu main game. Waktu kecil saya merasa kesal karena ketika Mama saya kesal melihat saya main game, saya harus mematikan game saat itu juga. Sementara saya sudah dekat sekali dengan save point berikutnya dan harus mengulang jauh ketika saya main lagi.


Jadi ketika Dudu main game, dan saya mau dia berhenti, saya tidak langsung menyuruh dia berhenti. Saya pasti tanya, “ini kapan bisa di-save?” Setelah itu baru saya minta dia berhenti main. Dan Dudu selalu berhenti main setelah di-save. Karena sama dengan saya yang kalau sedang mood menulis, atau Mama saya ketika dia masak, kita tidak suka diganggu tengah-tengah. Ketika saya berusaha memahami hobi si Dudu, dia juga jadi lebih terbuka dan cerita banyak tentang kehidupannya di dunia nyata. 

Jadi, meskipun interestnya tidak sama, saya masih bisa menggunakan gadget dan game sebagai teman, yang membantu saya berkomunikasi dengan anak. Apalagi di era digital ini saya harus waspada karena akses menjadi mudah dan sebagai ibu bekerja, saya tidak bisa selalu mengawasi anak. Kalau bukan karena Dudu yang cerita, saya tidak tahu dia bertemu siapa di Co-Op Genshin Impact-nya, atau sedang ngobrol sama siapa di discord.

Tapi, gimana kalo kecanduan?
Kalau nasihat Dudu sih, “maybe tell them that playing games are fun but don't let it affect your real life. Sometimes you have to sacrifice what's fun with what's important.” 

Tulisan ini diikutkan di Sayembara Catatan Perempuan untuk Konferensi Ibu Pembaharu oleh Kelas Literasi Ibu Professional.

04 July 2021

5 Ide Self Love untuk Ibu Tunggal: Jangan Lupa Bahagia

“Loh, kok lo pergi sendiri, Dudu ditinggal?”

Pernah dapat pertanyaan yang biasanya memicu rasa bersalah ini? Saya sering. Apalagi, sebagai ibu tunggal, saya sering dapat wejangan kalau anak saya hanya punya ibu. Jangan sampai dia kekurangan kasih sayang dan perhatian. Hadeeh. Tunggu dulu, melakukan self-love bukan berarti kita sebagai ibu meninggalkan kewajiban mengurus anak.

Memangnya apa sih Self Love itu?

Basically, self-love itu mencintai diri sendiri. Bukan berarti egois, tapi menerima diri sendiri apa adanya dan mengutamakan kebahagiaan diri. Sebagai ibu tunggal, seringkali saya lupa bahwa saya juga berhak bahagia. Sibuk mengurus anak, mengurus rumah dan kerja cari uang, yang semuanya buat orang lain. At the end of the day, jadi lelah, capek, dan akhirnya anak juga yang jadi korban emosi.

Yuk, dimakan roti curhatnya biar tenang

“Duh, gw udah lama nggak nge-gym nih,” komentar seorang teman beberapa waktu lalu. Pas itu gym baru dibuka lagi setelah pandemi. Membership si teman masih aktif. Masalahnya sekarang adalah seorang bayi berusia 3 bulan yang butuh segenap perhatian. Ketika saya tanya “kenapa nggak?” Jawabannya standard “gue nggak mungkin ninggalin anak gue dong.” Well, tadi yang kepengen nge-gym dan sayang sama membership-nya kan dia juga ya.

Tapi bisa ya, melakukan self-love tanpa meninggalkan anak?

Di masa pandemi begini, 'me time' bisa dilakukan di rumah. Misalnya ganti sabun dan jadikan waktu mandi lebih seru atau nonton drakor dengan tema Single MomMeskipun menurut saya ‘me time’ adalah self-love terbaik karena kita benar-benar bisa fokus pada diri sendiri, namun ada beberapa hal yang bisa kita lakukan tanpa benar-benar berpisah dengan anak. Fokusnya lebih kepada merubah mindset dan memulainya dari hal kecil atau yang terlihat remeh.

5 hal berikut ini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.
  1. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ini termasuk dengan pasangan baru mantan suami, kakak atau adik yang juga sudah menjadi seorang ibu, dan teman-teman lain di sekeliling saya yang mungkin keluarganya utuh. Dan termasuk juga membandingan gaya parenting saya dengan ibu-ibu lain, atau dengan orang tua kita dulu.

  2. Punya target dan berikan reward untuk diri sendiri setiap berhasil mencapainya. Targetnya tidak harus besar, tapi rewardnya adalah sesuatu yang kita memang sukai. Contohnya, kalau hari ini berhasil menyelesaikan tumpukan setrikaan, maka saya berhak atas 30 menit duduk menikmati kopi. Dengan begini, rasa bersalah akan ‘me time’ bisa berkurang. Dan rewardnya sebisa mungkin harus segera diambil di hari yang sama.

  3. Berani menolak dan mengatakan ‘tidak’ pada hal-hal yang memang tidak sesuai dengan kemampuan dan keinginan kita. Misalnya ada teman pinjam uang atau orang tua menyuruh kita menikah lagi padahal kita belum siap. Sadar bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang dan ketika kita harus punya prioritas, tentunya diri sendiri (dan anak) yang jadi prioritasnya.

  4. Memaafkan diri sendiri. Stop menyalahkan diri sendiri untuk hal-hal yang sudah terjadi dan memang di luar kendali seperti “anak kurang kasih sayang karena ayahnya tidak ada”. Yang namanya manusia tentunya tidak luput dari kesalahan, dan kalau kita bisa memaafkan orang lain, kenapa tidak dengan diri sendiri? Memaafkan diri sendiri pun dimulai dari yang kecil, misalnya memaafkan kalau hari ini jadi pesan makanan daripada masak sendiri karena kita sedang lelah.

  5. Jangan takut untuk mengambil keputusan untuk kebahagiaan diri sendiri, termasuk memutuskan hubungan dengan toxic people. Dulu waktu masih anak-anak, sering kali orang tua yang memutuskan segala sesuatunya. Saat menikah, banyak teman saya yang ‘mengikuti suami’ dan memberikan hak tersebut pada orang lain lagi. Dan setelah jadi ibu tunggal, kita secara tidak sadar membiarkan anak dan lingkungan yang memegang kendali. Coba sempatkan berpikir, apa yang bisa kita putuskan sendiri. Kalau masih belum pede memutuskan hal besar seperti mau pindah tempat tinggal, bisa dimulai dari hal yang terjadi sehari-hari tapi cukup berpengaruh dalam parenting. Misalnya, kapan anak boleh pegang gadget.
Mudah untuk disebutkan, tapi saya sadar hal-hal ini sulit untuk dilakukan. Soalnya begitu jadi ibu, otomatis saya fokus ke semua kebutuhan anak. Belum lagi saya juga sandwich generation yang juga mengurus orang tua di rumah. Mulai saja dari hal-hal kecil yang memang terjadi sehari-hari dan tidak akan menimbulkan gonjang-ganjing bila dilakukan. Soalnya, biar bagaimana pun, self-love itu penting buat ibu tunggal. 

Soalnya kalau ibunya tidak bahagia, gimana anaknya mau bahagia?

19 May 2021

Single Mom dan Parental Burnout

Pernah merasa lelah jadi orang tua? Saya pernah. Dan nggak seperti pekerjaan yang bisa ‘ditinggal’, jadi orang tua itu komitmen sepanjang jaman.

Bulan depan, saya 15 tahun jadi single mom. Takjub juga bisa bertahan segitu lama, padahal tidak sekali dua kali saya merasa capek, merasa sendirian dan kayaknya mau udahan aja. Seperti waktu saya nonton konser NKOTBSB tahun 2012 lalu. Anak saya masih 5 tahun, saya tinggal menggejar impian ketemu Nick Carter. Tentu saja kepergian itu diiringi “cibiran tetangga” dan “komentar tante” yang merasa saya egois.


Di tempat konser, saya bertemu banyak mama-mama seumuran yang tiba-tiba kembali jadi ABG. Dan percakapan mereka begini:

“Eh, anak gimana?”
“Gue titip laki gue lah.”


Kalau yang punya pasangan, anak bisa dioper. Kalo yang single mom kayak saya, ada siapa? Kalau ibu bekerja yang punya pasangan, uang bisa dipakai beli tiket konser. Ada pasangan yang bantu beli susu. Kalo saya, mau berbagi biaya sama siapa?

Eits, ini bukan berarti saya lantas sedih lalu lelah dengan keadaan dan pasrah ketika burnout. Soalnya, sama seperti burnout yang lainnya, parental burnout ini juga berbahaya. Lebih berbahaya malah, karena efeknya bisa ke anak.

Apa itu Parental Burnout? Psikolog Herbert Freudenberger mendifinisikan burnout sebagai "kondisi kelelahan mental dan fisik yang disebabkan oleh kehidupan profesional seseorang". Parental Burnout dijelaskan sebagai rasa lelah fisik, mental, dan emosional pada orang tua saat mengasuh anak. Hal ini terjadi ketika rasa lelah melebihi kebahagiaan mengasuh dan memiliki anak. Di tengah pandemi begini, ketika kita harus 24 jam bersama anak di rumah, parental burnout dapat terjadi.

Kebanyakan orang tua, termasuk saya, biasanya tidak berani mengaku karena akan menghadapi judgement dan tekanan masyarakat. Masa mengurus anak sendiri bisa burnout? Well, lihat ke diri sendiri dan akui kalau memang burn out. Burnout-nya memang sementara, tapi efeknya ke anak bisa selamanya. Trus gimana dong?

Ada beberapa hal yang saya lakukan:

19 April 2020

Jalani Hidup Apa Adanya Sebagai Orang Tua

Saya tipe orang yang spontan, jadi saya menjalankan no tipu-tipu parenting style. Maksudnya? Contohnya begini, kalo keuangan lagi mepet, ngga pura-pura mampu. Kalo lagi banyak uang juga ngga bilang bokek. Sama Dudu, saya selalu bicara jujur apa adanya. Soalnya buat saya, hubungan sama anak itu harusnya bisa dijalani tanpa syarat ketentuan.

Tapi pertanyaannya, seberapa jauh kita bisa jujur sebagai orang tua?

Well, pada awalnya, saya berpikir bahwa jadi seorang ibu itu harus jadi supermom. Harus bisa segalanya. Harus sempurna. Bisa masak, bisa mengurus anak, dan bisa mengatur rumah tangga. Di beberapa kejadian, saya bertemu para supermoms ini, yang sambil kerja masih bisa menelepon ke rumah memastikan si mbak masak dengan benar, si supir menjemput anak dari sekolah dan si anak sore-sore mengerjakan PR. Saya? Telepon ke rumah pun tidak. Mama macam apa? Begitu biasanya saya bercanda. Saya tidak bisa masak, tidak pernah mengingatkan anak bikin PR lewat telepon, dan tidak ambil pusing juga. 


Anaknya belajar sendiri ngga perlu diingetin hehe
Pura-pura menyiapkan bekal anak atau pun mengajari anak belajar ujian pernah saya lakukan haha. Terpengaruh postingan para mama lain di media sosial, yang selalu menunjukkan gambar seorang ibu yang sempurna. Yang tetap cantik pas masak dan yang anak-anaknya selalu dapat nilai sempurna. Tapi ya, setelah dicoba, ternyata itu bukan saya banget.

Bagian paling sulit dari menjalani hidup apa adanya adalah ketika saya ditanya tentang status sebagai orang tua tunggal. Pada awalnya saya sulit terbuka karena faktor lingkungan dan orang tua. Di Indonesia, status single mom juga masih terdengar tabu. Kalau saya jujur, dampaknya bukan hanya ke saya, tapi ke Dudu juga. Waktu awal-awal jadi single mom, media social belum sebanyak ini, jadi tidak ada peer-pressure buat posting foto bagus. Sekarang, bukan hanya saya yang punya akun, Dudu pun punya akun Instagram (yang dia abaikan karena katanya “tidak menarik posting seperti itu”). Jadi, bagaimana membangun citra sebagai ibu tunggal yang baik di tengah postingan keluarga lengkap dan bahagia. Kan saya juga mau posting?

Lama-lama saya lelah sendiri dan memutuskan untuk ya sudah cerita saja, posting saja apa adanya. Kalau kata salah satu videonya IM3 Ooredoo, “tanpa tedeng aling-aling.” Saya sering dengar istilah itu, cuma baru kali ini paham dengan interpretasinya. Jujur sama diri sendiri, hidup apa adanya tanpa ada yang ditutupin. Daripada posting quotes galau, mendingan posting foto jalan-jalan sama anak. Ya kan? 



Saya tipe yang berteman sama anak. Kami berdua bisa menghabiskan waktu jalan-jalan, makan atau main PS4 seharian. Sama anak tidak perlu basa-basi. Apa adanya saja. Kalau saya sedih karena ulangan Bahasa Indonesianya bukan yang paling tinggi di kelas, ya saya bilang. Kalau saya senang karena ulangan matematikanya pas-pasan, saya ungkapkan juga. Meskipun bingung kenapa saya anti-mainstream dan lebih care terhadap ulangan Bahasa daripada matematika, tapi Dudu jadi tau ekspektasi saya.

Karena saya selalu jujur sama dia, dia pun kalo ngomong tanpa basa-basi sama saya dan teman-teman saya. Pernah suatu kali Dudu bilang (kurang lebih begini): orang dewasa itu berbohong supaya anak-anak menurut. Perkaranya cuma karena dia mau berenang sama teman-temannya, sementara cuaca gerimis, trus dilarang dengan alasan belum makan dan lain sebagainya. Kenapa tidak terus terang saja kalau memang tidak boleh berenang?

Begitu juga dengan tidak adanya wi-fi di rumah, jadi hidup kita bergantung pada kuota internet yang mengakibatkan Dudu tidak main game online bersama teman-teman sekolahnya. Semua orang ngumpul di PUBG atau Clash Royal atau Mobile Legend, sementara Dudu lebih suka nonton Youtube dan main RPG. Bermain dengan teman sebaya bukan lagi ketemu di mall atau nonton bioskop tapi mabar. Dudu jadi kurang akrab dengan teman-teman sekelasnya karena obrolannya tidak nyambung. 


Tapi waktu ditanya apakah kita perlu punya wi-fi, jawabannya, “Tidak perlu, Ma. Saya tidak membutuhkan acknowledgement from my friends hanya karena sebuah game. Mereka juga akan cepat bosan kalau main game.” So, kita berdua masih bertahan dengan kuota paket data masing-masing.

Sebagai pengguna IM3 Ooredoo, saya mensyukuri kehadiran produk telekomunikasi yang simple dan bebas syarat ketentuan seperti Freedom Internet. Jadi ngga pusing harus nunggu tengah malam kalau mau posting di sosmed atau download game karena sayang sama kuota utamanya. Sebagai orang yang jarang ngecek kuota, fitur Pulsa Safe dari Freedom Internet membantu banget biar pulsa ngga kepotong saat kuota habis. Soalnya saya paling kesel kalo ngga sadar kuota habis, trus baru sadarnya setelah pulsa kepotong, ikut habis dan internetnya putus. Padahal ya, salah sendiri juga ngga ngecek haha.

Ngomong-ngomong soal main PS4, pernah ada temannya Dudu yang bilang kalo dia iri karena Dudu bisa main PS4 sama Mamanya. Soalnya kebanyakan Mama yang ada ngomel saat anaknya nempel sama game dan gadget. Jadi, seharusnya dari awal saja ya jujurnya. Haha.

03 April 2019

Belajar Menulis Nama Dengan Aksara Jawa

“Kalau orang tuanya memberi nama yang panjang, anaknya merasa seperti dikhianati.”

Kalimat itu keluar ketika saya dan Dudu duduk barengan di kelas Aksara Jawa, belajar menulis nama dengan Hanacaraka. Kok bisa? 



Alkisah di satu Sabtu yang random tapi cerah, kita berdua mampir ke Astori Coffee di pom bensin Pertamina jl. Antasari untuk belajar menulis Aksara Jawa dan pasangannya. Sama-sama mulai dari nol. Gurunya adalah anak muda lulusan Sastra Jawa bernama Sekar. Kelasnya gratis, tapi kita diminta bawa buku dan alat tulis sendiri. Buat yang tidak bisa Bahasa Jawa gimana? Ya tetap bisa ikutan, soalnya kelasnya ini menulis Aksara Jawa tapi bahasanya tetap Indonesia. Misalkan kita menulis “tawa”, yang digunakan adalah huruf “ta” dan “wa” tanpa perlu menterjemahkan kata tersebut ke dalam Bahasa Jawa. Dudu juga tidak bisa Bahasa Jawa kok.

(Baca review Astori Coffee di sini ya)

Berbeda dengan huruf Mandarin, Hiragana Jepang dan Hanggul Korea, aksara Jawa ini lebih mirip melukis dan harus dituliskan dalam sekali coret.Tantangan terbesarnya adalah menghafal huruf yang terlalu mirip satu dengan yang lainnya. Selama 2 jam kita belajar sekitar 20 huruf, 20 aksara Pasangan dan 10 Sandhangan alias aksara tambahan. Pusing tapi seru! 

Aksara Jawa kayak apa sih?

26 March 2019

Mencari Arti Panggilan Mama

Kemarin sore, saya iseng bertanya sama Dudu, kenapa panggil ‘Mama’? Dan jawabannya simple: “I think that’s appropriate.”

Panggilan "Mama" dari Anak ini.
Sejak punya anak, saya otomatis bergelar ‘Mama Dudu’. Kalau ditanya kenapa panggilnya ‘Mama’ bukan Ummi, Bunda, Ibu, Mami, sejujurnya saya juga tidak tahu. It just happens. Sama seperti tugas dan tanggung jawab yang datang bersama panggilan itu. Saya tidak pernah memikirkan mau dipanggil apa. Sebutan ‘Mama’ datang karena saya memanggil orang tua saya dengan Mama-Papa, jadi otomatis keluarga dekat saya juga menggunakan title ‘Mama’ kepada saya.

Tapi saya iseng. Ada apa dibalik panggilan ini, selain lagu Spice Girls, acara penghargaan musik di Korea dan film horor yang dibintangi Jessica Chastain. Menurut Urban Dictionary, Mama adalah panggilan untuk (1) a very attractive woman; (2) the woman who brought you into this world; (3) a strong matriarchal figure who rules with an iron fist. Bukan sesuatu yang patut dibanggakan sih sepertinya, tapi boleh lah ya dibilang menarik meskipun saya yakin ini konotasinya lebih ke arah ‘negatif’ alias seksi. Hahaha.

07 February 2019

Tantangan Jadi Seorang Introvert Mom

Kalo saya mengaku Introvert, tidak ada yang percaya. Padahal berdasarkan test 16 kepribadian alias MBTI ( Myers–Briggs Type Indicator) itu, saya masuk kategori INFP (introversion, intuition, feeling, perception). Orang-orang di kategori ini termasuk idealis, selalu berusaha melihat kebaikan dari setiap orang atau kejadian, dan berusaha mencari jalan agar semuanya lebih baik. 



Apa pengaruhnya kepribadian ini buat peran saya sebagai orang tua? Menurut website 16personalities.com, orang tua yang berkepribadian INFP ini tipe yang hangat dan selalu mendukung anaknya. Biasanya mereka cenderung membiarkan anak bertumbuh dan mengeksplorasi tanpa banyak campur tangan. Anak-anak bisa mencari jati diri sendiri dengan bebas, walaupun masih dalam guidance yang ditetapkan orang tuanya. Biasanya rumah orang tua INFP ini cinta damai. Agak kurang sesuai sebenarnya karena saya dan Dudu kerjanya berantem melulu haha. 


20 November 2018

Stop Mom War: Prioritas Jadi Bahagia

Satu setengah bulan lagi, kita akan masuk tahun baru. Apa kabar resolusi 2018?

Tahun ini saya cukup senang karena resolusi saya menulis buku tercapai. Meskipun secara tidak sengaja karena awalnya saya hanya ikut lomba yang diadakan oleh komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan DivaPress, dan tidak sendirian karena berbagi cerita dengan emak-emak lainnya. Tapi tetap saja, terbitnya buku ini berarti satu resolusi saya tercapai. Hore!



Bukunya berjudul “Stop Mom War”, isinya kumpulan curhat dan cerita para ibu-ibu yang sedang atau pernah terjebak Mom War. Apa sih Mom War? Buat yang belum pernah mendengar istilah ini, Mom War ini adalah pertengkaran (yang menurut saya tidak perlu) antara para mama yang memiliki pola pengasuhan berbeda. Soal ASI atau susu formula, soal jadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, soal melahirkan normal atau operasi dan sejenisnya. Yang satu merasa lebih baik dari yang lainnya.

Sadar atau tidak sadar, kita semua punya sisi kompetitif dalam diri kita sendiri. Dan sebagai seorang mom, kita ingin melakukan yang terbaik bagi anak kita. How do you know you’re the best if you don’t compare it with others? Bagaimana saya tahu kalau saya melakukan yang benar, yang terbaik buat Dudu, kalau tidak ada mama-mama lain sebagai perbandingan. Mengutip tulisan Gail O’Connor di Parents.com, “tidak ada seorang mama pun yang yakin 100% bahwa apa yang dilakukannya ini benar. Dan ketika ada artikel tentang mom war, ibu bekerja vs ibu rumah tangga, kita tidak bisa memungkiri bahwa kita jadi mempertanyakan diri kita sendiri.”


Dari semua war yang pernah saya alami, saya memutuskan untuk menulis tentang gadget. Disebut gawai dalam bahasa Indonesia.