Showing posts with label sponsored post. Show all posts
Showing posts with label sponsored post. Show all posts

05 March 2022

Serum adalah Senjata Rahasia untuk Kulit Lebih Cerah

Kemarin, saya dan teman-teman satu grup WA ngobrolin skincare lagi. Topik utamanya adalah “gue males make up deh, kan pake masker ya. Cuma kalo pas ketemu klien terus makan bareng, jadi keliatan kucel banget.” Dilema banget kan.

Kemarin pusing gara-gara di rumah terus bikin kulit kering karena berada di ruangan ber-AC sepanjang hari. Sekarang sudah bisa keluar rumah, pakai masker awalnya aman karena hanya meeting. Jadi tidak perlu make up. Lalu semakin ke sini, hidup berdamai dengan pandemi berarti sesekali terpaksa buka masker karena dijamu makan. Pake make up salah karena nempel di masker dan harus touch up, tidak pakai make up juga kucel. Jadi serba salah.

Solusinya gimana?
“Ya skincare-an dong, biar nggak perlu make up.”

Good idea, tapi saya tidak pernah tahu harus memulai dari mana. Jadi saya kembali menyimak obrolan di grup WA dan mulai mendapatkan petunjuk.

“Kan masalah lo kucel, ya lo cari lah yang bisa mencerahkan wajah.”
Oh iya bener.


Apaan nih yang bisa mencerahkan wajah?

Ada Pond’s Triple Glow Serum. Serum dianggap powerful untuk kita yang sedang mencari extra boost di rutinitas skincare yang sudah dijalani sehari-hari. Anggap saja seperti senjata rahasia. Kalau biasanya sudah pakai pembersih wajah, toner dan pelembab, ya tinggal selipkan serum di antara toner dan pelembab. Kenapa serum? Soalnya serum, meskipun mengandung konsentrat yang lebih tinggi, biasanya ringan dan mudah diserap oleh kulit. Nah, sekarang tinggal mencari serum pencerah wajah terbaik yang sesuai kebutuhan.

21 February 2022

Platform Content Creator adalah Peluang di Saat Pandemi

Ada yang bilang kalau pandemi bikin kita jadi lebih kreatif. Ruang gerak yang terbatas karena di rumah aja membuat kita punya waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi sisi kreatif diri kita. Setidaknya, saya merasa, dengan bekerja dari rumah, saya punya ekstra beberapa jam untuk menulis blog, ikutan kelas online, nonton webinar dan video lifehack yang sekarang sepertinya makin beragam. Selain ada waktu, sekarang ada demand, ada supply. Jadi content creator makin banyak juga di sekitar saya.

Dulu, kita suka bikin content juga sih.

Misalnya teman-teman yang tadinya hanya masak, buru-buru menyiapkan bekal anak karena harus segera bertarung dengan kemacetan ibukota untuk berangkat kerja. Sekarang punya ekstra 1 jam untuk menata bekal dengan rapi, difoto dulu atau bahkan bikin video pembuatannya. Semua mendadak jadi sempat. Tidak heran kalau ekonomi kreator jadi bertumbuh pesat.

Beberapa waktu lalu, IDN Media meluncurkan Indonesia Creators Economy (ICE) yang, mengutip penjelasan Winston Utomo, CEO IDN Media, “memiliki visi untuk mendemokratisasi “creators economy” di Indonesia melalui teknologi.” ICE ini sebelumnya dikenal dengan nama IDN Creator Network, yang sudah beroperasi sejak 2017. Jadi mereka bukan pemain baru di dunia content creator.

19 April 2020

Jalani Hidup Apa Adanya Sebagai Orang Tua

Saya tipe orang yang spontan, jadi saya menjalankan no tipu-tipu parenting style. Maksudnya? Contohnya begini, kalo keuangan lagi mepet, ngga pura-pura mampu. Kalo lagi banyak uang juga ngga bilang bokek. Sama Dudu, saya selalu bicara jujur apa adanya. Soalnya buat saya, hubungan sama anak itu harusnya bisa dijalani tanpa syarat ketentuan.

Tapi pertanyaannya, seberapa jauh kita bisa jujur sebagai orang tua?

Well, pada awalnya, saya berpikir bahwa jadi seorang ibu itu harus jadi supermom. Harus bisa segalanya. Harus sempurna. Bisa masak, bisa mengurus anak, dan bisa mengatur rumah tangga. Di beberapa kejadian, saya bertemu para supermoms ini, yang sambil kerja masih bisa menelepon ke rumah memastikan si mbak masak dengan benar, si supir menjemput anak dari sekolah dan si anak sore-sore mengerjakan PR. Saya? Telepon ke rumah pun tidak. Mama macam apa? Begitu biasanya saya bercanda. Saya tidak bisa masak, tidak pernah mengingatkan anak bikin PR lewat telepon, dan tidak ambil pusing juga. 


Anaknya belajar sendiri ngga perlu diingetin hehe
Pura-pura menyiapkan bekal anak atau pun mengajari anak belajar ujian pernah saya lakukan haha. Terpengaruh postingan para mama lain di media sosial, yang selalu menunjukkan gambar seorang ibu yang sempurna. Yang tetap cantik pas masak dan yang anak-anaknya selalu dapat nilai sempurna. Tapi ya, setelah dicoba, ternyata itu bukan saya banget.

Bagian paling sulit dari menjalani hidup apa adanya adalah ketika saya ditanya tentang status sebagai orang tua tunggal. Pada awalnya saya sulit terbuka karena faktor lingkungan dan orang tua. Di Indonesia, status single mom juga masih terdengar tabu. Kalau saya jujur, dampaknya bukan hanya ke saya, tapi ke Dudu juga. Waktu awal-awal jadi single mom, media social belum sebanyak ini, jadi tidak ada peer-pressure buat posting foto bagus. Sekarang, bukan hanya saya yang punya akun, Dudu pun punya akun Instagram (yang dia abaikan karena katanya “tidak menarik posting seperti itu”). Jadi, bagaimana membangun citra sebagai ibu tunggal yang baik di tengah postingan keluarga lengkap dan bahagia. Kan saya juga mau posting?

Lama-lama saya lelah sendiri dan memutuskan untuk ya sudah cerita saja, posting saja apa adanya. Kalau kata salah satu videonya IM3 Ooredoo, “tanpa tedeng aling-aling.” Saya sering dengar istilah itu, cuma baru kali ini paham dengan interpretasinya. Jujur sama diri sendiri, hidup apa adanya tanpa ada yang ditutupin. Daripada posting quotes galau, mendingan posting foto jalan-jalan sama anak. Ya kan? 



Saya tipe yang berteman sama anak. Kami berdua bisa menghabiskan waktu jalan-jalan, makan atau main PS4 seharian. Sama anak tidak perlu basa-basi. Apa adanya saja. Kalau saya sedih karena ulangan Bahasa Indonesianya bukan yang paling tinggi di kelas, ya saya bilang. Kalau saya senang karena ulangan matematikanya pas-pasan, saya ungkapkan juga. Meskipun bingung kenapa saya anti-mainstream dan lebih care terhadap ulangan Bahasa daripada matematika, tapi Dudu jadi tau ekspektasi saya.

Karena saya selalu jujur sama dia, dia pun kalo ngomong tanpa basa-basi sama saya dan teman-teman saya. Pernah suatu kali Dudu bilang (kurang lebih begini): orang dewasa itu berbohong supaya anak-anak menurut. Perkaranya cuma karena dia mau berenang sama teman-temannya, sementara cuaca gerimis, trus dilarang dengan alasan belum makan dan lain sebagainya. Kenapa tidak terus terang saja kalau memang tidak boleh berenang?

Begitu juga dengan tidak adanya wi-fi di rumah, jadi hidup kita bergantung pada kuota internet yang mengakibatkan Dudu tidak main game online bersama teman-teman sekolahnya. Semua orang ngumpul di PUBG atau Clash Royal atau Mobile Legend, sementara Dudu lebih suka nonton Youtube dan main RPG. Bermain dengan teman sebaya bukan lagi ketemu di mall atau nonton bioskop tapi mabar. Dudu jadi kurang akrab dengan teman-teman sekelasnya karena obrolannya tidak nyambung. 


Tapi waktu ditanya apakah kita perlu punya wi-fi, jawabannya, “Tidak perlu, Ma. Saya tidak membutuhkan acknowledgement from my friends hanya karena sebuah game. Mereka juga akan cepat bosan kalau main game.” So, kita berdua masih bertahan dengan kuota paket data masing-masing.

Sebagai pengguna IM3 Ooredoo, saya mensyukuri kehadiran produk telekomunikasi yang simple dan bebas syarat ketentuan seperti Freedom Internet. Jadi ngga pusing harus nunggu tengah malam kalau mau posting di sosmed atau download game karena sayang sama kuota utamanya. Sebagai orang yang jarang ngecek kuota, fitur Pulsa Safe dari Freedom Internet membantu banget biar pulsa ngga kepotong saat kuota habis. Soalnya saya paling kesel kalo ngga sadar kuota habis, trus baru sadarnya setelah pulsa kepotong, ikut habis dan internetnya putus. Padahal ya, salah sendiri juga ngga ngecek haha.

Ngomong-ngomong soal main PS4, pernah ada temannya Dudu yang bilang kalo dia iri karena Dudu bisa main PS4 sama Mamanya. Soalnya kebanyakan Mama yang ada ngomel saat anaknya nempel sama game dan gadget. Jadi, seharusnya dari awal saja ya jujurnya. Haha.

06 February 2017

Vitamin C Penyelamat di Saat Harus Jadi Sehat

Musim hujan yang tadinya seperti ragu-ragu jadi yakin pasti mendung tiap hari sejak Imlek minggu lalu. Pokoknya tiada hari tanpa awan abu-abu bertengger mengikuti perjalanan saya. Hanya butuh 3 hari buat saya jadi demam dan tumbang, padahal pekerjaan kantor sedang demanding. “Makanya jangan lupa minum vitamin C,” begitu omelan Mama setiap kali di rumah ada yang bersin, batuk, bibirnya merah atau mulai terlihat tidak sehat.

Nasihat itu membuat saya berpikir kalau vitamin C adalah obat ajaib segala penyakit haha. Mungkin ada benarnya ya. Asupan dosis Vitamin C yang tepat memang dapat meningkatkan system kekebalan tubuh dan menjaga elastisitas kulit. Lalu, bagaimana kita tahu sudah mengkonsumsi dosis yang tepat? Mama biasanya membekalkan suplemen vitamin pada saya.




Pilihannya ya CNI Ester-C Plus, yang mengandung dosis yang dianjurkan penelitian yaitu 625mg Ester C atau setara dengan 500mg Vitamin C. Dan menurut studi yang dilakukan para peneliti University of Michigan, dosis ini dibutuhkan bahkan bagi mereka yang mengkonsumsi sayur dan buah secara rutin. Melihat rekomendasi jumlah sayur dan buah untuk konsumsi sehari-hari, saya sudah jelas jauh dari angka tersebut. Ada sayur dan buah di porsi makanan saya saja sudah untung. Maka dari itu, omelan Mama sebenarnya benar haha.

29 August 2016

Kekuatan Super Sebuah Pulpen

Setengah dekade sebagai jurnalis lifestyle, “nasihat” yang sering saya dengar adalah tentang sepatu. “Good shoes will take you to good places.” Atau quote Marilyn Monroe yang terkenal itu: “Give a girl the right shoes, and she can conquer the world.” Tapi buat saya, yang penting itu bukan sepatu tapi pulpen.



Saya selalu pakai sepatu high heels andalan ketika harus bertemu petinggi perusahaan dan negara, yang sebagian datang dari luar negeri itu. Ketika ngobrol sambil berdiri memang lebih membawa percaya diri, namun ketika kita duduk terpisahkan meja untuk interview, sepatu sudah terlupakan. Yang terlihat di atas meja, selain rekorder adalah notepad dan pulpen. Saat itulah, memiliki pulpen istimewa lebih mengena daripada sepasang sepatu mahal yang tersembunyi di kolong meja. Untuk saya, pulpen adalah nyawa dan saya biasanya lebih panik kalau ballpoint.macet daripada rekoder (atau jalanan) macet. Dan sudah jadi kebiasaan dalam tas saya selalu ada pen dan notebook, just in case ada ide mendadak muncul di jalan yang harus segera ditulis. 

Lalu saya gantung sepatu. Pensiun jadi jurnalis dengan high heels. Tapi saya tidak gantung pulpen. 

Setiap pen ada special giftboxnya

24 August 2016

Sukses di Disney, Chilla Kiana Rilis A Copy of You

Dalam acara launching Disney Time Please kemarin, ada satu penyanyi muda yang menarik perhatian saya dan Dudu saat makan siang. Kebetulan kami makan di pinggir panggung dan si penyanyi sedang sound check. Rambutnya panjang dan wajahnya cantik. Apalagi dia menyanyikan lagu kesukaan semua anak, “Let It Go.” Ternyata namanya Chilla Kiana.


Lalu siapa Chilla Kiana? Setelah sukses besar bekerjasama dengan Disney dalam project lagu “The Glow”, Chilla Kiana kembali membuktikan kemampuan bernyanyinya dengan sebuah single baru berjudul “A Copy Of You”, dengan menggandeng label rekaman Universal Music Group. Video Klipnya bisa dilihat di Youtube.

17 August 2016

Menciptakan Ulang Tahun yang Berkesan

Saya pernah menulis sebuah renungan tentang “how far would you go for your child’s birthday?” Saya sendiri pernah mengubah itinerary liburan keluarga, demi merayakan ulang tahun Dudu yang jatuh pada tanggal 14 Juli di Paris. Tapi kalau ditanya ke anaknya, ya ulang tahun ke-4 itulah yang paling dia ingat. “Tiup lilin di bawah Eiffel Tower, Ma.” Jadi rencana saya sukses.

Tapi masa iya harus sejauh itu merayakan ulang tahun agar berkesan? Ulang tahun Dudu yang jatuh pada hari libur sekolah biasanya tidak dipestakan. Hanya tahun pertama yang ada pesta kecil-kecilan dengan keluarga besar di rumah. Ulang tahun ke 10 kemarin bahkan hanya tiup lilin di atas puding melon. Tidak ada kue. Dan karena ulang tahun yang jatuh pas liburan inilah, saya selalu berusaha mencari hal-hal kecil yang bisa menjadi kenangan indah untuk ulang tahun Dudu.

Ini ide saya:


29 July 2016

The Quest to Find a Birthday Present

Yang kenal Dudu pasti tahu bahwa dia selalu membawa satu tas yang penuh dengan action figure dan Nerf Gun, senjata ampuh Dudu ketika harus menunggu. Koleksi action figurenya banyak, tapi tidak semua lolos seleksi untuk masuk ke tasnya dan mendapatkan peran di cerita pertempuran melawan zombie yang selalu menjadi plotnya.

Satu per satu action figure keluar dan ada 2 pirates hadiah ulang tahun dari grandparentsnya di Amerika, dan 2 Power Rangers. Teman-teman saya biasanya bertanya, “ini Power Rangers ya? Kamu suka Power Rangers?” Dan Dudu akan menjawab bukan. Si Power Rangers hanya satu dari action figure pemeran utama cerita karangannya. 

Jadi, ketika ditanya mau hadiah apa untuk ulang tahunnya yang ke-10 kemarin, jawaban Dudu hanya 2 macam: Nerf Gun dan Action Figure. Koleksi Nerf Gunnya sudah lumayan, jadi saya memilih membelikan action figure baru. Tapi belanja action figure sama Dudu sama dengan ketika saya mencari sepatu. Susah cocoknya karena terlalu spesifik. Meskipun kita selalu pergi #DateWithDudu setiap weekend, tapi capek juga keliling mall hanya untuk mencari action figure tertentu, dengan harga terjangkau kantong. 

Akhirnya si anak yang browsing sendiri
Ini yang membuat saya jadi sering browsing online shop. Lalu saya bertemu DotsTOYLAND.com. Dots merupakan singkatan dari Delivery on the spot. Jadi barang-barang yang tesedia di sini merupakan ready stock, siap dikirim ke customer. Barang-barangnya juga asli dan masih tersegel rapi. Nah, pas deh, saya mencoba browsing.