Showing posts with label Komunitas ISB. Show all posts
Showing posts with label Komunitas ISB. Show all posts

18 March 2026

Kangen Blogging 10 Tahun Lalu? Iya, Saya Juga.

Percaya tidak percaya, 10 tahun lalu saya lebih punya banyak cerita. Saya bisa menulis lebih dari 10 postingan sebulan di blog utama. Blog jalan-jalan pun pasti ada minimal 1 tulisan per bulan. Sekarang ini, ada satu postingan per bulan itu saja sudah untung.

Ketika meninggalkan dunia jurnalistik sebagai pekerjaan tetap, dan pindah haluan ke marketing, blogging jadi salah satu cara mempertahankan hobi menulis saya. Apalagi, ketika itu, Dudu ada di usia pas untuk diajak jalan-jalan dan pergi liputan. Jaman itu, kayaknya saya jadi rajin blogging karena baru saja merelakan menulis sebagai “profesi”, jadi nulisnya bisa tanpa beban dan dengan senang-senang. 10 tahun lalu juga blogging juga lebih populer dan lebih menjamur karena belum ada video pendek. Jadi yang paling keren di jaman itu ya blogging. Karena setiap orang bisa jadi “media”, bisa cerita perspektifnya sendiri, dan ada pembacanya.


Salah satu acara 10 tahun lalu yang didatengin bareng Dudu sebagai blogger

Overall, kalo boleh dirangkum, yang paling dirindukan ya jelas semangat ngeblognya haha.

Soalnya sekarang ini nge-blog jadi prioritas kesekian. Bukan karena nggak cuan. Namun, karena banyak hal lain di hidup ini yang berubah. Pekerjaan tetap yang bikin hati tenang saat ngeblog udah nggak ada, lalu event-event yang biasanya mengundang blogger, sekarang memilih content creator. Yang namanya media sudah bergeser, bukan lagi berupa tulisan panjang tapi berupa video pendek. Saingan sama kecepatan generasi saat ini mengkonsumsi informasi. Sementara yang namanya tulisan kan dibacanya nggak bisa buru-buru.

Dan sekarang ada chat gpt. Ngeblog jadi makin susah, karena sudah setengah mati menulis, eh disangka hasil AI. Kok jadi curhat haha. Soalnya pernah kejadian saya masukin tulisan saya ke AI detector (entah yang mana), eh dibilang 75% AI. Terus sejak itu dongkol sendiri dan nggak pernah ngecek lagi haha. Biarin ajalah yang baca mau bilang apa, toh yang penting saya happy menulisnya. 10 tahun yang lalu, hal begini nggak perlu dipikirin. Ngeblog itu beneran happy-happy saja buat saya.

10 tahun lalu, Hadiah ultah Dudu juga disponsorin sama blogpost.


So, apa kata chat gpt tentang blogging 10 tahun lalu?

Katanya “dulu blog itu kayak diary yang dibuka ke publik. Sekarang banyak yang terasa terlalu ‘rapi’, terlalu strategis.” Well, ada benarnya, dari Blogging yang santai, muncul SEO kemudian muncul ChatGPT dan teman-temannya. Tulisan jadi kurang human. Dulu juga banyak yang sering komentar, dan blogwalking. Sekarang yang suka “jalan-jalan” lebih banyak di media sosial. Jadi, siklusnya memang sama, dan ini berlaku juga buat content video pendek yang sekarang lebih populer.

Awalnya, saya ngeblog buat senang-senang. Lalu, datang monetisasi, dan keseriusan menulis. Penulisan ada arahnya, sesuai brief client, sesuai kebutuhan pasar, sesuai algoritma dan lain sebagainya. Blogging (dan sekarang content creation) jadi kompetisi. Iya, memang ini semua penting kalau mau menghasilkan. Tapi, kalau dipikirkan malah jadi beban. Semua harus ada positioning, harus ada faktor yang bikin viral. Nggak viral berarti gagal. Serba cepat, serba cuan.

Padahal, kalau diingat lagi, awal mula saya blogging kan karena saya ingin melepaskan “cuan” dari hobi menulis saya supaya tidak ada beban. Eh, kok jadi terbeban lagi? Well, sampai sekarang blog saya yang punya domain sendiri hanya 1, yang travelling, dan itu juga karena saya butuh branding namanya. Bukan karena monetisasi.

Sekarang, saya mau mulai rajin blogging lagi. Dengan hidup yang sudah banyak berubah, dengan kepopuleran blog yang sudah menurun dan dengan semangat 10 tahun yang lalu. Ketika sebuah postingan yang published adalah reward yang paling dicari.

26 February 2026

Yessay dan Kekuatan Storytelling: Cara Baru Menikmati Konten Budaya di YouTube

“Yessay wasn’t about me, but rather about cultural contents. I was just the bridge between the two.”

Begitu katanya di Yessay episode 37, di mana Yesung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. YouTube Kpop Idol biasanya diisi dengan kehidupan dan aktivitas sehari-hari mereka. Bentuknya lebih ke variety atau banyak mengundang tawa yang menghibur penggemarnya. Lalu pada tahun 2023, Yessay muncul.

“At first, I wasn’t supposed to be on the video all the time,” katanya. Jadi seharusnya Yessay ini adalah setengah video, setengah narasi. “What used to be ‘Yessay’ was ‘Yesung sees and talks’. Also, ‘I explain with my mouth and express my feelings.’” Sekarang channel ini punya 161 video yang fokusnya ke budaya, travel, sejarah dan art. Di mata saya, Yessay adalah sebuah ruang pribadi di mana ia mengunjungi berbagai galeri seni, museum, tempat bersejarah, dan menyajikannya dalam narasi yang menarik.


Yessay hadir dengan sinematografi yang tenang, lagu yang menggugah dan cerita yang kuat. Kontennya sendiri sangat beragam, mulai dari kunjungan ke museum seni yang nggak mainstream, menelusuri situs warisan budaya di Korea, hingga momen-momen kontemplatif saat si pemilik channel menikmati pemandangan kota. Kadang mereka berhenti untuk “ngobrol” dengan Yesung, dan kadang ceritanya horror. Konten seni budaya dan sejarah dikemas dengan cara yang menarik tanpa kehilangan inti ceritanya.

Namun, kalau saya yang cerita, pasti bias. Soalnya Yesung adalah musisi favorit saya, member idol grup favorit saya. Jadi coba tulisan ini dibaca dengan a pinch of salt, bahwa saya pasti bias. Hahaha.

Menemukan Yessay adalah seperti menemukan harta karun. Kapan lagi bisa punya idola yang punya kesukaan yang sama dan bisa jadi tur guide keliling Korea. Apalagi yang dikunjungi adalah tempat-tempat yang memang jadi tujuan perjalanan saya. Ciri khas utamanya terletak pada narasi suara (voice-over) Yesung yang berat namun menenangkan, memberikan kesan seolah kita sedang mendengarkan sebuah buku audio sambil berjalan-jalan santai di galeri seni.

Nam June Paik, a video-artist, proposed the 'Youtube Era'|SuperJunior Yesung|Yessay|EP.01

Episode pertama yang ditayangkan berjudul “Nam June Paik, a video-artist, proposed the 'Youtube Era'” bercerita tentang kunjungannya ke Tate Museum di London beberapa waktu lalu dan pertemuannya dengan karya Nam June Paik. Lalu, diikuti dengan kunjungannya ke Nam June Paik Art Center. Nam June Paik adalah salah satu artist yang menarik untuk dipelajari. Hasil karyanya yang paling iconic adalah Electronic Superhighway yang saat ini dipajang di Smithsonian American Art Museum in Washington, D.C.

Di episode ini, Yesung mengajak kita keliling museum, lalu bercerita tentang karya-karya yang dipajang. Rasanya seperti beneran berkeliling museum dan punya guide pribadi.

Bedanya dengan guide yang ada di museum, di narasi yang diberikan, Yesung juga sering memasukkan pendapat dan pemikiran pribadinya. Kunjungan ke Tate Museum di London membawanya berpikir, seberapa jauh dia mengenal Nam June Paik. Hal itulah yang membawanya mengunjungi Nam June Paik Art Center. Lalu ketika bertemu exhibition robot, Yesung cerita bahwa kadang kalau di rumah dia berpikir kalau dia mirip ini robot yang pakai headphone, nonton film di hape, dan melakukan semuanya dalam satu waktu. Lama-lama jadi kayak nge-date di museum haha.

Manfaat apa yang diberikan?

03 February 2026

Keluar Masuk Circle Pertemanan: Dapat Apa Selain Hikmah?

Apa yang pertama kali terpikir kalau mendengar kata “circle pertemanan?” Saya terpikir Komunitas tapi dalam konteks yang lebih general. Misalnya teman-teman ibu tunggal, Teman-teman blogger, dan teman-teman Kpopers. Bayangkan sebuah lingkaran, yang di mana orang-orang di dalamnya merasa terhubung karena kesamaan hobi, pekerjaan, visi, atau sekadar merasa "nyambung."

Kalau ditanya ada berapa, jawabannya ada banyak.
Punya banyak circle pertemanan gitu apa manfaatnya?


Pertama, saya jadi bisa melihat sesuatu dari berbagai perspektif. Ketiga circle yang saya sebutkan di atas tadi semuanya berbeda, tapi ada satu benang merah yang sering jadi penyatu obrolan: sama-sama tinggal di Indonesia. Hahaha. Ya, kalau sudah soal keluh kesah kehidupan, saya jadi melihat banyak perspektif.

Selain itu, punya banyak circle juga memberikan eksposur terhadap hal-hal baru dan membuka pandangan terhadap hobi dan profesi yang ada. Pertanyaan simple seperti, “kerjaan lo apa?” bisa tiba-tiba membuat saya kaget bahwa kok ada pekerjaan itu ya haha. Ada teman yang kerja remote jadi cross-border recruiter. Kliennya di berbagai negara yang mencari orang Indonesia, dan sebaliknya, perusahaan Indonesia yang membutuhkan expat. Tapi kerjaannya freelance alias hanya dikontrak per-project. Menarik juga. Selain eksposur, saya juga dapat banyak kesempatan networking.



Yang ketiga, saya punya alternative geng kalau satu circle sedang tidak nyaman atau tidak aktif. Ada kalanya teman-teman di satu circle ini mendadak sunyi senyap tidak saling menyapa karena kesibukan yang ada. Karena circle saya banyak, saya tinggal pindah main ke circle lain.

Kok bisa punya banyak circle? Lingkaran merepresentasikan pola berulang, tanpa adanya awal dan akhir. Masuk ke satu lingkaran lalu tiba-tiba jadi teman. Biasanya itu yang terjadi sama saya.

29 January 2026

Tidak Apa-Apa Kok Kalau Cuma Punya Target Baca 2 Buku Tahun Ini

Cuma punya target membaca 2 buku. Nggak apa-apa kan?

Tahun kemarin saya bahkan tidak punya target apa-apa. Niat membaca buku hanya berakhir dengan buku yang dibawa ke mana-mana. Padahal list buku yang yang TBR alias menunggu untuk dibaca ada banyak. Tapi dari semuanya, ada satu buku fiksi dan satu buku non-fiksi yang ingin saya baca.


The Great Mental Models: The Simple Tools that Explain the World
Economic and Arts
By Shane Parrish
404 Halaman
2024

Buku ini mengajak pembaca memahami cara berpikir lintas disiplin, dalam hal ini Ekonomi dan Kesenian, melalui kumpulan mental models atau kerangka berpikir sederhana. Bukunya memiliki bahasa yang mudah dipahami dan contoh-contoh praktis dari dunia ekonomi, perilaku manusia, hingga karya seni. Makanya saya jadi tertarik untuk membaca.

Best New Singaporean Short Stories Volume Four
Edited by Pooja Nansi
234 Halaman
2019

Antologi yang merangkum suara-suara kontemporer penulis Singapura melalui cerita-cerita pendek yang tajam, beragam, dan reflektif ini menampilkan potret kehidupan urban Singapura dengan segala lapisannya. Ada cerita relasi keluarga, identitas, kelas sosial, serta kegelisahan personal, yang disajikan lewat gaya bercerita yang berbeda-beda. Buku ini saya beli di salah satu toko buku lokal ketika sedang jalan-jalan di negara tetangga.

Bagaimana saya bisa memastikan bahwa buku-buku yang disebutkan ini bisa dibaca hingga selesai?

21 January 2026

Catatan Kecil dari Tempat-Tempat yang Menginspirasi

Hari impian saya adalah memulai pagi dengan kopi, lalu jalan ke tempat-tempat di mana saya bisa menikmati kesendirian. Ini saya lakukan saat perjalanan awal tahun kemarin di Singapura.


National Gallery Singapore

Bagi pencinta seni dan sejarah, tempat yang merupakan bekas dua bangunan bersejarah, Supreme Court dan City Hall, ini wajib dikunjungi. Saya biasanya menyempatkan berkunjung ke sini kalau sedang mampir ke negara tetangga. Buat apa? Buat bengong haha. Sebenarnya, National Gallery Singapore adalah rumah untuk koleksi seni Asia Tenggara dan dunia. Namun, atmosfer tenang dan inspiratif di tengah hiruk-pikuk kota Singapura yang sibuk membuat tempat ini ideal untuk menyendiri. Kalau hendak melihat koleksi dan pameran, tujuan wisata ini berbayar. Ada beberapa area dan koridor yang bisa diakses tanpa harus membayar tiket masuk. Tempat-tempat inilah yang biasanya ideal untuk duduk-duduk, berhenti mengambil jeda dan mencari inspirasi.



Lalu kalau di Indonesia, di mana bisa mendapatkan vibes yang sama?

Museum Nasional

Sejujurnya, Museum Gajah punya vibes yang mirip. Gedung yang juga bersejarah, kursi-kursi di depan pameran, dan atmosfer tenang yang sama. Bedanya, kalau National Gallery Singapore fokus di beragam karya seni, Museum Nasional menyimpan ribuan koleksi berharga mulai dari artefak prasejarah, arca kuno, kain tradisional, hingga peninggalan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia.

Bagaimana dengan cafe?

27 October 2025

Kenangan, Prioritas, dan Cerita Baru di Dunia Blogging

Pertama kali ngeblog tahun 2006 waktu anak saya lahir. Ngeblog yang konsisten dan bukan curhat colongan. Kalau yang curhat colongan, lupa dari tahun berapa. Arsipnya juga sudah tidak ada.

Tahun ini berarti sudah 19 tahun saya ngeblog. Wah, hampir dua dekade. Dimulai dengan satu blog untuk mendokumentasikan perkembangan anak, sekarang saya berusaha konsisten mengisi beberapa blog dengan tema berbeda.

Perjalanan ngeblog saya dimulai dengan blog ini, yang diberi nama Andrew and Me, karena isinya tentang saya yang jadi seorang ibu, kegiatan sehari-hari kita berdua dan refleksi saya tentang perubahan yang terjadi dalam hidup ini. Tema-tema yang dibahas sangat beragam, ada traveling tipis-tipis, tips jadi ibu, parenting, literasi digital, mengelola keuangan, dan pengembangan diri.

Blog ini akhirnya jadi dokumentasi perjalanan mengarungi perubahan hidup yang besar dan perubahan karier. Saya menuliskan transisi dari jadi ibu seorang bayi, anak remaja dan akhirnya kuliah. Juga tentang perjalanan karir, perubahan pekerjaan, sampai akhirnya jadi “penganguran”, dan bagaimana blogging berperan di semua zaman. Saya menggunakan blog ini sebagai ruang untuk refleksi finansial, karier, dan pribadi sambil menyeimbangkan kehidupan keluarga.

20 August 2025

Satu Hobi, Satu Circle. Jadi Punya Banyak Cerita

Salah satu besti yang saya miliki adalah seorang mantan rekan sekantor, yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari anak saya. Begitu pun saya, usianya lebih muda beberapa tahun dari ibunya. Di geng ex- teman sekantor yang ini, hanya saya yang lahir di tahun 80an. Jadi kalau kita hangout, kayak mamak-mamak jagain anak-anaknya.

“Tapi nggak kelihatan kok, Kak.”
Begitu kata mereka. Terima kasih lho.

Circle yang ini bertemu cukup rutin. Sebulan sekali. Biasanya makan di restoran yang saya belum pernah dengar namanya, tapi tiba-tiba viral di media sosial. Setelah viral, 3-4 bulan kemudian, circle saya yang sesama millenial ini bakal heboh. Lalu, terkejut karena saya sudah ke sana.

Setiap circle ada maknanya. Dan kebetulan pertemanan saya ada banyak kelompoknya. Saya punya circle pertemanan hobi seperti Detektif Conan, Harry Potter, Kpop dan lain sebagainya. Lalu ada circle pertemanan blogger. Circle para penulis fiksi amatir. Saya juga punya pertemanan sesama ibu tunggal yang saling support dan berdaya bersama. Saya juga masuk di circle gereja dan berusaha aktif di banyak kegiatan yang ada. Bahkan, boneka Panda saya juga punya circle sendiri yang isinya boneka semua.

Saking beranekaragamnya circle pertemanan saya, kalau saya pergi berkegiatan biasanya saya ditanya “sama teman yang mana lagi ini?”


14 July 2025

Jadi Kangen Pelihara Kelinci

“Kalo pelihara kelinci, harus siap patah hati.”
Ini selalu jadi pesan saya bagi mereka yang bertanya. Kelinci ini binatang peliharaan yang lucu dan banyak yang tertarik memeliharanya karena terlihat mudah. Bisa dipelihara di rumah, dan sekilas terlihat harmless alias tidak merepotkan. Lalu, setelah kelincinya ada di rumah, barulah kita sadar bahwa semua ini hanya kamuflase di depan.

Salam kenal Dari Waco

Jadi, ketika memutuskan untuk mengadopsi kelinci, siapkan mental bahwa si kelinci bisa tiba-tiba berpulang, meskipun kita sudah memberikan yang terbaik. Patah hati berkali-kali, dan tendensi menyalahkan diri sendiri biasanya terjadi. Ketika godaan untuk mengadopsi kelinci lucu yang menggemaskan datang, coba pikir sekali lagi. Siapkah untuk patah hati?

Kelinci mengajarkan saya bahwa hidup itu dijalani saja setiap hari dengan senang hati. Kelinci-kelinci yang saya pelihara, keluarganya, dan kelinci lain yang saya kenal punya sejuta alasan untuk meninggalkan dunia. Mulai dari keselek makanan, sakit karena lingkungan yang kotor, sakit ketularan kucing liar yang lewat dekat kandangnya, kena jamur anjing tetangga, berantem sama tikus, berantem sama kucing, kedinginan, kepanasan, kebanyakan makan, masalah pencernaan, kaget, stress dan lain sebagainya.

Kalau kelinci mudah mati, berarti kita wajib memberikan yang terbaik setiap hari. Karena, besok bisa saja dia sudah tidak ada.

Namun, terlepas dari semua hal yang bikin sedih, ada banyak hal menyenangkan yang membuat saya akhirnya tetap memelihara kelinci. Walau dititipkan ke rumah orangtuanya si kelinci.

Yang pertama: Kelinci tidak merepotkan.

Lho, katanya tadi susah memelihara agar tidak mati? Iya, betul, tapi sehari-harinya, kelinci ini tidak merepotkan. Seperti kucing, kelinci ini mandi sendiri. Jadi dia bersih. Almarhum Sentaro adalah kelinci rumah yang super bersih. Tidurnya di kamar saya dan tidak pernah pup sembarangan. Pup dan pipis selalu di kamar mandi, dekat selokan pembuangan air. Dia tidak mau makan dan pup di tempat yang sama. Jadi, kalau saya kasih makanan di kamar mandi, dia akan bawa ke luar makanannya.

Sayangnya, tidak semua kelinci begini karena kelinci saya yang berikutnya, mendiang Kichi, adalah kelinci yang jorok, cuek dan berantakan. Sering bertengkar dengan saya hanya masalah dia tidak “cuci kaki” setelah main di luar dan jejak cokelat bertebaran di lantai rumah yang warnanya putih itu.

Yang kedua: Kelinci biayanya murah.

Yes, banyak yang bilang sebaliknya. Tapi, kelinci saya main di taman, makan rumput, hay dan snack home made. Sesekali ada sih makan pelet, tapi biayanya tidak semahal makanan anjing atau kucing. Karena tidak main ke luar rumah, dan bertemu binatang lain, jadi kelincinya ya tidak vaksin atau steril. Makanya jadi rentan sakit, bahkan ketika papasan sama kucing liar yang lewat di tembok, besoknya tiba-tiba jadi jamuran. Kelinci saya juga tidak ada yang beli baju atau punya kandang mewah sih. Malah, Sentaro tidak punya kandang dan tidurnya di ranjang saya.

Yang ketiga: Kelinci tidak butuh perhatian sepanjang waktu.

Cocok buat saya yang cuek. Mereka asyik sendiri bermain, dan banyak menghabiskan waktu buat tidur di siang hari. Kalau saya pulang kantor, mereka akan menyambut dan minta makan. Downside-nya, mengajak bermain kelinci ini agak challenging karena mereka sulit dilatih. Ya, setidaknya kelinci-kelinci yang saya pelihara adalah kelinci yang asyik sendiri. Bukan yang seperti anjing bisa dilempar bola lalu dikejar.

Kangen sebenernya untuk pelihara kelinci sendiri, tapi punya pets adalah sebuah tanggung jawab besar. Kita tidak bisa meninggalkan kelinci lebih dari 24 jam tanpa pengawasan karena mereka jarang bisa mengontrol makanan. Mereka juga hewan pengerat, kalau ditinggal sama kursi rotan, kayu bahkan tembok, semua bisa habis digigitin.


"Kamu Manggil?"


28 April 2025

Emang ngeblog itu masih relevan ya di 2025?

Pertanyaan inilah yang membawa saya mengikuti sebuah webinar tentang blogging dan travel blogging yang diadakan oleh DailySEO ID bersama komunitas ISB.

Live Webinar berjudul “Is Ngeblog Dead in 2025 bersama Mbak Istiana, seorang travel blogger ini membahas pengalaman ngeblog selama 10 tahun, strategi mendapatkan traffic dan tentunya monetisasi. Webinar yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu penuh dengan ilmu dan diskusi menarik tentang blogging dan relevansinya di 2025.

Bicara relevansi, satu hal yang saya salut dari Mbak Isti adalah keberaniannya mengganti niche blog dari Parenting ke travelling. Pengalamannya itu diceritakan di awal, saat berbagi cerita tentang perjalanan ngeblognya. Hal ini sebenarnya relevan dengan bagaimana kita membranding blog tersebut.


Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah menulis About Me dengan benar. Siapa saya? Blog ini menawarkan apa? Expertise apa yang saya punya? Memindahkan niche pun adalah langkah untuk menaikkan relevansi dan kredibilitas sebuah blog. Mengapa hal ini penting? Karena, biasanya orang juga melihat Siapa yang ada di balik sebuah tulisan. Misalnya Mbak Isti menulis tentang Parenting karena dirinya memang seorang ibu. Lalu, ketika berganti menjadi traveling, ya karena memang dia suka jalan-jalan bareng keluarganya.

14 December 2024

Sejuta Impian 2025

2025 mau apa?

Pertanyaan sulit bagi saya yang tiba-tiba jobless karena PHK di akhir 2024. Cari uang dong. Cari pekerjaan lagi. Itu yang pertama terlintas di pikiran. Namun, ternyata mencari pekerjaan di usia 40 tahun ini tidaklah mudah. Yang lebih muda saja harus melalui belasan interview dan ghosting dari berbagai perusahaan. Saya? Mengirim lamaran, lalu tidak ada kelanjutannya. Balasan yang saya terima biasanya berupa permohonan maaf karena saya tidak sesuai dengan yang mereka cari.

Biasanya ini gara-gara gaji.

Anyway, setelah berpikir ke sana dan sini, ada beberapa ide bagaimana saya mau menjalani 2025. Apa saja?

  • Kuliah lagi. Saya ingin belajar tentang Public Policy, Public Administration terutama soal Non-Profit Management dan Fundraising. Saya sering menemukan lowongan di NGO yang berujung gagal melamar karena kualifikasi pendidikan yang tidak memadai. Di usia 40 ini, saingan saya kebanyakan punya S2. Saya hanya punya S1 yang tidak berhubungan dengan pekerjaan saya sekarang. Sulit bersaingnya.
  • Menggaji diri sendiri. Kalau cari kerja susah, kenapa saya tidak coba menggaji diri sendiri? Bagaimana caranya? Fundraising untuk Yayasan tempat saya jadi relawan sekarang jadi kami punya sumber dana tetap dan bisa menggaji staff. Atau buka usaha laundry di daerah. Hanya saja, merintis sesuatu berarti saya harus punya dana cadangan yang cukup untuk hidup selama usaha saya belum membuahkan hasil. 
  • Cari pekerjaan baru. Iya, ini tetap ada dalam agenda. Tapi saya lebih banyak pesimisnya. Jadi, yang saya lakukan sekarang adalah fokus ke pekerjaan freelance, tapi ada beberapa. Repot memang, tapi setidaknya tetap ada penghasilan tetap dan bisa menabung.
  • Green Card Lottery atau hal sejenisnya. Pindah ke luar negeri adalah impian utama saya. Karena di beberapa negara, umur tidak menjadi halangan seseorang untuk bekerja. Asalkan mau bekerja, dan masih kuat bekerja fisik, pasti bisa dapat penghasilan. Opportunity untuk bekerja freelance dengan kemampuan spesifik yang saya miliki sekarang ini juga lebih banyak. Idealnya sih opsi ini yang diambil, tapi berhasil tidaknya bergantung pada undian yang ada di luar kuasa saya.

Kichi (Kiri) Dan Waco (kanan)

Saya yang senang bekerja dan berkegiatan justru merasa bahwa santai-santai ini berbahaya. Jangan sampai terlena karena ada banyak hal yang sebenarnya bisa dan harus dikerjakan.

  • Saya ingin traveling, pergi nonton konser dan healing. Tapi, ya tidak bisa hanya traveling saja dong. Kenapa tidak saya mencoba cari pekerjaan di Korea? Siapa tahu ada yang tidak mementingkan umur dan bisa saya lamar.
  • Saya ingin membereskan rumah. Ada banyak barang “peninggalan” keluarga dan kedua orang tua yang sebenarnya bisa berguna bagi orang lain. Saya ingin membereskan dan menyumbangkan yang masih layak. 
  • Saya ingin pelihara kelinci lagi. Ini yang paling sulit untuk dilakukan. Soalnya saya ingin traveling, dan akan sulit meninggalkannya di rumah sendirian. Punya binatang peliharaan berarti punya tanggung jawab lebih. Apalagi kelinci ini rentan sakit dan mudah meninggal. Harus benar-benar siap mengurusnya.

Satu-satu kita coba capai mimpi. Semoga 2025 jadi tahun yang baik buat saya. 


30 November 2024

Ternyata Anak Saya Juga Gen Z

 “Mama ini bagaimana sih, aku kan Gen Z.”

Protes Dudu sering terjadi ketika saya komen soal kelakuan anak Gen Z. 

“Loh, emang Gen Z itu tahun berapa?” 

Pertanyaan saya malah membuat dia tambah kesal. Haha. Yah, habis gimana dong. Saya berpikir Gen Z ini adalah teman-teman di kantor, yang senang bicara mental health dan jajan kopi kekinian. Anak-anak di tim saya yang kerja keras di weekdays, tapi weekend-nya having fun gila-gilaan. Senang belajar hal baru, FOMO dan gampang overthinking. 

Kadang saya berpikir Gen Z seperti kelinci. Foto hanya pemanis.

Kalau ditanya apa yang saya dapatkan dari interaksi dengan Gen Z, ini adalah jawabannya: 

Mental Health itu bukan penyakit yang harus disembunyikan.

Generasi yang ini lebih berani dan terbuka soal kesehatan mental mereka. Dosis obat anti-anxiety, rekomendasi psikolog dan psikiater jadi bahan diskusi seperti makanan dan restoran. Dari mereka jugalah, saya memahami bahwa psikiater memang dibutuhkan dan dapat membantu memecahkan masalah. 

Ketika Mama diagnosa kanker dan sulit berkomunikasi, saya memanggil psikiater rumah sakit untuk berkunjung dan memberikan obat. Hasilnya, Mama jadi sempat pamit dan ngobrol sebelum akhirnya berpulang. Mental Health awareness berguna bukan hanya bagi anak muda, tetapi juga orang tua. Post-power syndrome bagi pekerja pensiun atau lansia aktif yang terkena penyakit berat dan harus bed rest. Ini semua sering membutuhkan bantuan mental health expert, dan saya belajar dari para Gen Z ini untuk tidak mengabaikan kemungkinan ini. 

Overthinking dulu Insecure kemudian. 

Saya langsung merasa overthinking saya normal. Beberapa rekan dan kenalan yang Gen Z. memiliki kemampuan overthinking yang membuat saya jadi overthinking juga. Ini saya yang “normal” atau saya memang kurang memikirkan segala sesuatunya dengan baik? 

Overthinking bukan hal positif jika dilakukan secara berlebihan, tapi ini sebenarnya adalah self-defense mechanism yang dimiliki manusia untuk meminimalisir resiko. Atau setidaknya begitulah yang saya pikirkan. Yang penting jangan sampai kedua hal ini menghambat saya dalam berkembang dan belajar. 

Work-Life Balance itu Penting

Kerja memang harus, tapi bersenang-senang juga jalan terus. Uang kalau hanya mengendap di tabungan juga buat apa? Meskipun ini bukan mindset general Gen Z, beberapa teman saya memilikinya. Gadget dicicil. Ketika cicilannya lunas, sebulan dua bulan kemudian tukar tambah dengan yang baru dan mulai mencicil lagi. Saya yang terbiasa membayar lunas semuanya jadi membandingkan gaya hidup saya juga. 

Menabung itu perlu. Banyak Gen Z yang saya kenal punya emergency fund cukup besar. Soalnya mereka pernah kena layoff dan faham resiko kerja di perusahaan startup. Yes, biasanya mereka kerja di startup karena tantangan dan gaji yang besar. Namun, pengeluaran mereka juga cenderung besar karena mereka suka pakai gadget terbaru. Beberapa juga menghabiskan uang di skincare dan liburan ke luar negeri. Intinya ya itu, ada alokasi dana untuk bersenang-senang. 

Menghadapi rekan kerja yang semakin hari semakin muda, bahkan saya pernah punya intern yang umurnya hanya beda beberapa tahun dengan Dudu, membuat saya berpikir bahwa saya semakin tua haha. Untungnya gap antar generasi biasanya tidak terlalu terasa, dan saya seringkali bisa menyesuaikan diri. 

Kuncinya hanya satu: mau berpikiran terbuka. 


17 November 2024

Sebuah Refleksi tentang Literasi Digital untuk Perempuan

 “Bisa dicek emailnya ya, Mbak.” 

Kalimat ini terdengar sederhana tapi tidak semua bisa melakukannya. Kok gitu? Iya, jadi sepanjang perjalanan saya mengurus komunitas, yang baru 3 tahun kemarin itu, saya menemukan bahwa literasi digital ini penting adaya.

Di sebuah hasil polling Apps Populix, sebagian besar responden bilang kalau mereka malas buka email karena terlalu banyak yang isinya promosi. Lalu muncul Gmail yang memisahkan email pribadi dan promosi atau Outlook yang punya folder “focused” untuk memfilter email langganan. Lah, ini berarti sebenarnya literasi digital kita sudah maju dong.

Mungkin.

Kenapa saya bilang mungkin? Soalnya kalau saya mengirimkan email zoom link event komunitas, banyak yang kebinggungan mencari folder spam/junk atau di mana bisa lihat email yang masuk ke “update”. Belum lagi kalau ternyata email di ponsel dan laptop tidak sync, jadi pas dicari ya emailnya tidak ditemukan. Jadi literasi digital bukan sekedar tahu cara membuka email. Tetapi juga memilah isinya dan menemukan pesan yang dicari.

Kenapa tujuannya perempuan? Sebenarnya ini ya karena dunia saya banyak berurusan dengan perempuan dan terbentur kemampuan mereka untuk memanfaatkan teknologi. Termasuk saya.

Ketika Dudu mendaftar kuliah menggunakan “Common App,” saya culture shock. Jaman dulu kita manual mengirimkan berkas lewat email atau pos. Sekarang dia mengisi semuanya secara online, sekolahnya mengupload nilai secara online juga dan decision dari kampus tujuan juga diberikan secara online. Cuma pakai satu app.

Ini, lho. Dari bayi sudah pegang komputer.

24 October 2024

Tahun Ini Adalah Tahun Ke-20 Saya Ngeblog

Tahun ini adalah tahun ke-20 saya ngeblog. Eh, sudah selama itu ya? Ya, Dudu saja sudah 18 tahun, jadi sebenarnya masuk akal sih.

Pada zaman itu, blogging hanyalah sebuah hobby atau diary online. Dan tujuannya blogging, selain curhat adalah untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari Dudu. Makanya nama blognya juga Andrew and me. Dudu dan saya.

Seiring berjalannya waktu, blognya berubah. Saya pulang ke tanah air, Dudu semakin besar dan tulisan semakin banyak. Bukan hanya tentang parenting atau ide nge-date di Jakarta, tetapi juga tentang kehidupan saya sebagai single mom. Lalu, saya mulai ambisi. Ketika menulis sudah tidak lagi menjadi pekerjaan utama, blog saya mulai jadi penghasilan. Alias saya jadi blogger part-time yang happy ketika diundang liputan dengan kewajiban menulis. Namun, karena blog saya adalah blog gratisan, undangannya juga jadi terbatas.



Ambisi yang kedua adalah punya blog lebih dari satu. 

24 June 2024

Review Buku: Conscious Diet oleh dr. Yovi

Judul buku ini membuat saya berpikir dua kali. Conscious Diet. Memangnya selama ini kita tidak sadar ya kalau diet? Ternyata artinya lebih dari sekedar sadar bahwa kita sedang menjalani diet, melainkan sadar akan diri kita dan tujuan diet kita. Mengenali diri kita sepenuhnya agar diet yang dilakukan berhasil.

Buku Conscious Diet oleh dr Yovi

Buku setebal 101 halaman ini isinya padat dan praktis. Bukan hanya narasi tapi juga ada rumus BMI, kuis tipe tubuh dan rekomendasi pola diet serta olahraga yang bisa diikuti. Dan karena bukunya juga ringan, jadi bisa dibawa dalam tas untuk bacaan sembari menunggu, atau dijadikan bahan pembicaraan dengan teman.

Mengenali diri sendiri mulai dari mana? Buku Conscious Diet dimulai dengan Bab berjudul “Anda adalah Gaya Hidup Anda.” Pada Bab ini pembaca diajak berkenalan dengan kalori dan BMI. Membahas diet sebagai kalori masuk dan kalori keluar, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hitung-hitungan simple kalori.

“Kenali jenis tubuhmu sebelum mulai diet,” saran dr. Yovi Yoanita, M.Kes (gizi) FAARM, ABRAAM, pengarang buku Conscious Diet pada acara “Brunch Date with dr Yovi” yang digagas oleh Female Digest di YClinic Bintaro beberapa waktu lalu.

“Brunch Date with dr Yovi” yang membahas tentang buku Conscious Diet ini

Bab 4 yang berjudul “Mengenal Diri, Mengenal Tipe Badan,” ada di halaman 75. Bab ini dimulai dengan kuis sederhana yang membantu kita mengenali apa tipe badan kita. Dari sini kita tahu diet apa yang cocok untuk kita jalani.

Saya jadi tahu bahwa tipe tubuh saya adrenal dan dianjurkan untuk melakukan olahraga yang tidak memicu stress, tidak mengurangi porsi makan secara drastis, dan menjaga kuantitas serta kualitas tidur.

12 June 2024

Rahasia Sukses Diet Itu Ada di Mindset

Pernah gagal diet? Tenang, kamu tidak sendirian. Banyak yang sudah semangat untuk diet, namun tetap saja ngemil tengah malam sambil nonton Drakor favorit dengan alasan reward. Saya tidak pernah mencoba diet, karena tahu akan gagal duluan dengan keribetan yang datang bersama pola makan sehat. Kemarin, saya mendapatkan sudut pandang baru tentang diet, yang mengajarkan bahwa diet bukan hanya menghitung kalori, tetapi juga cara memahami diri sendiri. Kok bisa?

“Brunch Date with dr. Yovi” bersama Female Digest (photo: Female Digest)

Pada hari Minggu, 9 Juni 2024 saya menghadiri acara “Brunch Date with dr. Yovi” yang digagas oleh Female Digest. Acara yang diselenggarakan di YClinic Bintaro ini dimulai dengan sharing session & bedah buku Conscious Diet oleh dr. Yovi Yoanita, M.Kes (gizi) FAARM, ABRAAM, lalu diikuti assessment pengembangan kepribadian ditinjau dari sisi kesehatan, clinic tour dan ditutup dengan makan siang bersama. Acara yang interaktif ini dihadiri sekitar 20 orang blogger dari Jabodetabek, semuanya antusias untuk sharing dan belajar lebih banyak tentang wellness.

Acara ini juga didukung oleh Radiant, yang mengenalkan produk probiotik serta peranannya dalam membantu menjaga berat badan. Apt. Sylvia Kartika Anggraini, S. Farm menjelaskan bahwa "penurunan berat badan itu harus diperbaiki dari berbagai sisi, misalnya apakah pencernaan saya bagus, supaya apapun yang kita makan itu penyerapannya bisa optimal atau apapun yang kita makan itu bisa dibuang sisanya dengan optimal." Di sinilah probiotik berperan.

Apt. Sylvia Kartika Anggraini S. Farm dari Radiant

Di acara ini, saya belajar bahwa diet bukan semata-mata mengurangi kalori biar cepat kurus. Biasanya orang yang mencoba diet akan terperangkap dalam lingkaran setan, yaitu merasa bentuk tubuh kurang ideal, melakukan diet, frustrasi, gagal diet dan tubuh kembali ke bentuk semula. “Diet itu bukan nggak makan, tetapi mengatur ulang pola makan,” kata dr. Yovi, lalu menjelaskan bahwa biasanya orang tidak bertahan karena memang dietnya salah. Lalu gagal dan kembali lagi ke awal, yaitu tidak happy sama tubuhnya sendiri.

Di sinilah pentingnya kita, sebagai yang punya wacana diet, untuk memahami diri sendiri. Apa bentuk tubuh kita? Lalu, BMI kita berapa? Alasan diet kita apa? Bukan hanya ingin kurus lalu auto mengurangi makan. Bedanya apa dengan diet biasa? Jika kita mengenal diri sendiri, mengurangi kalori yang berlebihan dapat dilakukan dengan tepat dan tanpa tekanan. Semuanya bisa ditemukan di buku Conscious Diet yang ditulis dr. Yovi.

30 May 2024

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Melakukan Sesuatu yang Disukai

“Kok elo umur kepala 4 masih nonton konser?”
Bukan cuma nonton konser, tapi mengejar idol sampai ke Korea.

“Lah, kalo lo nonton, Dudu ditinggal?”
Soalnya kalo diajak, dia tidur. Terus habis itu ngomel-ngomel sendiri karena mendingan di rumah main PS atau nonton Netflix.

“Kok tega ninggalin anak?”
Jangankan konser ke kabupaten sebelah, saya pernah nonton konser sendirian di Kuala Lumpur. Dudu ya sama opa omanya di rumah. 

Jalan hidup saya terbalik dengan kebanyakan orang. Ketika yang lain sibuk travelling, party, nonton konser dan mengejar idol-nya, saya sedang jadi ibu tunggal. Nah, sekarang ketika semua orang di sekitar saya sedang fokus berkeluarga, saya malah ada di lokasi konser idol Kpop bersama ribuan anak-anak yang umurnya tidak beda jauh dengan Dudu. Ada emak-emak nyasar yang terlambat ngefans sama Kpop. Eh, memangnya itu terlambat?

Akhirnya nonton konser CNBlue, meski beli tiket H-1.

“Kalo Dudu udah kuliah, lo mau apa?”
“Gue mau kuliah lagi, ambil S2.”

Saya memperhatikan kebingungan di raut wajah lawan bicara saya. Sudahkah terlambat untuk ingin mengambil S2, sekolah lagi mencari gelar yang sesuai passion saya? Banyak tawaran kuliah yang hadir di sepanjang karir saya. Namun jurusannya ya itu, bisnis, marketing dan sejenisnya. Sementara saya inginnya belajar antropologi, ethics atau social work. Tidak nyambung dengan pekerjaan sekarang. 

Apakah saya menyesal?

Sempat terlintas, seandainya saya lebih muda, tentu nonton konser sambil berdiri 3,5 jam bukan hal mustahil. Saya tidak perlu pegal-pegal pegal sampai tiga hari dan tumbang seharian hanya karena terlalu euphoria di konser. Atau mungkin, tidak perlu merasa ilfil ketika idol yang ada di panggung mulai gombal kepada penontonnya hanya karena usia mereka setidaknya 5 tahun lebih muda dari saya. Berondong. Tapi menikmati konser Kpop di usia ini, di mana sudah tidak sanggup antri berjam-jam, juga bukan sebuah keterlambatan.

Soalnya waktu semua orang sibuk dengan idol-nya, saya sibuk membesarkan Dudu. Jadi ya mau bagaimana lagi kalau pilihannya begitu?

Pertemuan saya dengan Idol Kpop yang termasuk terlambat itu membawa dampak besar dalam hidup dan mimpi saya. Di usia 30+, saya belajar lagi bahasa baru, bahasa Korea. Yang kalau dipikir-pikir tahun ini adalah tahun ke-7 tahun saya tekuni. Lalu tahun ini, saya juga mendaftar untuk jadi Honorary Reporter di Koreanet. Hanya karena saya kangen dengan kegiatan sebagai jurnalis, sekaligus ingin melakukan sesuatu sebagai fans Kpop. Belum lagi, akhir tahun lalu saya mulai mencoba menulis fiksi dengan lebih serius. Bisa ditebak, latar belakang dan karakter yang muncul ya lagi-lagi berhubungan dengan Kpop dan Korea. Belajar bahasa dan belajar menulis fiksi, semua di usia yang sepertinya kok terlambat. Soalnya teman-teman yang ikutan, semua umurnya lebih muda. 

Kalo nonton, yang diajak si boneka ini

Hal ini mungkin akan terjadi ketika kelak saya beneran kuliah S2. Teman-teman yang usianya lebih dekat dengan Dudu, masih muda-muda dan mungkin sanggup begadang menyelesaikan thesis. Daya ingat yang lebih kuat, lebih mudah menghafal waktu ujian. Kemampuan analisa yang lebih tajam karena belum lama terjeda dari masa kuliah yang sebelumnya. Tapi ini tentunya bukan alasan bagi saya untuk tidak jadi kuliah lagi. Justru mungkin saya akan lebih santai menjalani kuliah karena tidak ada beban karir yang menanti di ujung jalan. 

Memulai sesuatu belakangan, bukan berarti kita tidak bisa mengejarnya dengan senang hati. Ada kok, kebahagiaan yang hadir ketika kita berada selangkah lebih di belakang. Kita jadi punya waktu untuk mengamati jalan yang akan diambil dengan lebih jelas. Misalnya jadi lebih bisa mengatur prioritas ketika menonton konser. Atau jadi punya semangat dan motivasi lebih untuk mencapainya. Terutama kalau kita orangnya kompetitif. Bisa belajar lebih fleksibel juga. Sebagai ibu-ibu, tentunya saya harus berpikir ke mana Dudu harus saya titipkan kalau saya mau pergi nonton konser selama 4 jam? 

Terlambat atau tepat waktu, yang pasti, nikmati saja perjalanannya. Semua toh akan indah pada waktunya.


27 May 2024

Creating Healthy Boundaries Starts With Me

How often are we hesitating to say no to a request? Just because we want to prevent inconveniencing others. Or we want to be seen as this helpful person. How often are we doing things beyond our abilities? Just to prove that we're strong enough. Well, I'm sure you're not alone. I struggled with that too.

3 Things We Should Have to Create Healthy Boundaries:

  1. Self-Awareness
  2. Clear Expectation
  3. Communication

Self Awareness

Setting a healthy boundary starts with knowing who we are, what we want and what our preferences are. We need a clear understanding of our thoughts, emotions, and behaviors. How can we create a boundary when we don't know where to draw the line? So, it starts with self awareness. For example, we're not fond of smoke and alcohol. When our circle invites us to go clubbing or hanging out in a lounge, we can comfortably reject them and say we'll join next time they're in a coffee shop. When we have firm boundaries, know what we want and who we are, people come to respect our choices. 

Recognize the different roles we play everyday, healthy boundaries may vary depending on which hat we're wearing. As a mom, for example, healthy boundaries may be our limit, both physical and emotional. Knowing my patience limit may help me say “no” when needed. I can courageously reject additional responsibilities, admit I’m overwhelmed, take a break and ask for help as needed. Realize that we are responsible for how we feel, and we can’t blame others because they made us feel this way. This goes for the opposite, that we’re not responsible for other people’s emotions.

Clear expectation

This should be a two-way interaction. Expectations towards others and expectations to ourselves. An article published by Joe Sanok on Harvard Business Review, titled “A Guide to Setting Better Boundaries,” mentioned two types of boundaries. Hard boundaries are the one we can't compromise and soft boundaries where things are more flexible. Knowing whether it's hard or soft boundaries that we exercise will help us manage our expectations.

For example, a friend of mine has this rule of no smoking near her children. Upon the birth of her third child, she is asked to move back to her parents house to help care for them. It's also easier for her, who is considering going back to work. The problem is, her father is a rather heavy smoker. 

With a hard boundary regarding smoking, she knows that moving back is impossible. Her expectation of her father taking the cigarettes out to the porch every time he wants to smoke might not be fulfilled. Her father expects her to be lenient, while she expects her father to strictly follow the smoking rule. 

Soft boundaries might be about meeting time or what food to eat. Despite not agreeing to move back due to cigarette presence, her parents are still seeing their grandchildren. While they were with their grandparents, she couldn’t strictly enforce what they should eat. The menu is a soft boundary she could compromise.

Communicating clear expectation like this message

Communication

When we know ourselves, and have set a clear expectation, what’s left is communicating them to the outside world. Boundaries aren’t always as clear as a police line. People may not recognize them and accidentally trespass those lines. Therefore, we have to communicate our boundaries clearly. 

Expressing these boundaries needs some degree of assertiveness. Not everyone has this capability and is comfortable establishing boundaries without feeling aggressive or selfish. So, the first thing we do is stating the facts. In my friend’s case, she can say to her father that “I can’t tolerate smoking around children, therefore I can’t move back home unless you stop smoking.” Add an alternative if setting the boundary makes you feel bad. Something like, “but we can visit on weekends.”

As a mom, I can feel exhausted. When a fellow mom starts a conversation, and I don’t feel like listening to their problems, I should be able to say “As much as I want to help, I don’t have the capacity to listen to your problem right now. I’m really sorry.” The same with unsolicited advice. We have the right to reject them, after saying that we respect their opinion.

Boundaries are indeed important. 

I lost several friends due to the boundaries that I set to myself. Mostly because of communication and time boundaries. I don’t usually reply to chat right away. If it’s urgent and if you want a conversation, you should call. Or we can meet and have a chit chat at a cafe. Some of my friends disagreed and went overboard with my late reply. One of them went berserk over how I managed to add a new admin on a group chat I’m responsible for, while ignoring her request for a phone call. I just don’t have the energy to argue with her. I apologize if I made her uncomfortable, told her what she should have done and ignored her ever since. That’s where I drew the line. 

I don’t say what I did was right, but that’s my boundary. I know enough that responding to her negative energy will just exhaust me. I managed my expectations and told her what she could expect of me. Then I communicate those feelings and expectations. I’m done. I felt bad at first because I tend to be a people pleaser. But then, boundaries aren’t meant to include everyone anyway.


17 May 2024

Manfaat Mengambil Short Course untuk Blogger

Salah satu ‘me time’ favorit saya adalah belajar. Aneh ya? Well, saya senang ikutan kursus maupun webinar yang memberikan pengalaman dan pengetahuan baru. Biasanya saya mencari materi yang relevan dengan kehidupan dan passion saya. Sebagai seorang blogger dengan beragam tanggung jawab di luar dunia menulis, saya harus bijaksana memanfaatkan waktu 'me time' untuk memulihkan kreativitas saya.

Banyak solusi klasik seperti healing, minum kopi, atau mengubah suasana, setiap penulis memiliki pendekatan uniknya sendiri untuk mengatasi krisis kreativitas. Belajar juga bisa jadi ‘me time’ karena seringkali kegiatannya tidak bisa disambi. Kalau kata anak jaman sekarang namanya “mindful.” Meskipun pertemuan diadakan secara online, ketika belajar kita harus fokus menyimak, berinteraksi dengan guru dan murid, serta sepenuhnya berada di kelas. 

Efeknya agak sedikit mirip dengan membaca buku atau menonton film di bioskop, di mana kita memberikan perhatian penuh pada apa yang sedang kita baca atau tonton. Begitu kembali ke dunia nyata, pikiran kita lebih fresh

(Photo courtesy of Ani Berta)

Belajar Bahasa Inggris Online Bersama TBI Bandung

Kali ini, yang saya ikuti adalah “Blogger Short Course for Creative Writing” bersama The British Institute (TBI) Bandung dan Komunitas ISB. Kelasnya dilaksanakan secara online selama 3 hari berturut-turut pada pukul 10:00 hingga 12:00 WIB. Kenapa short course? Mengikuti short course dapat memberikan insight baru tanpa komitmen jangka panjang. Cocok bagi mereka yang sibuk, namun mencari kegiatan bermanfaat. Selain itu, short courses dengan topik spesifik dapat membantu saya me-refresh skill yang dimiliki.

Minggu ini, jadilah hari Senin saya dimulai dengan mengantar anak sekolah, lalu duduk manis depan laptop bersama secangkir kopi untuk mengikuti kelas. Kelasnya tidak terlalu besar, jadi belajarnya juga efektif. Di kelas yang saya ikuti di 13 - 15 Mei 2024 kemarin, ada 9 orang blogger yang berpartisipasi. Blogger yang biasanya hanya berinteraksi di WAG, sekarang bisa tatap muka dan ngobrol meski virtual

Hari pertama dimulai dengan perkenalan, lalu dilanjutkan dengan jalan-jalan ke South Africa. Hari kedua, kami semua membahas musik dan festival musik. Hari terakhir, topiknya street food. Di setiap kelas, belajar Bahasa Inggris dikemas dengan topik yang seru dan sesi interaktif yang mengajak setiap murid berpartisipasi. Pengenalan adjective atau kata sifat dan passive voice atau kalimat pasif, jadi lebih mudah diingat ketika dibawakan melalui topik-topik yang menarik. 

20 March 2022

Menjawab Pertanyaan dan Rasa Penasaran tentang Inner Child

“Kayaknya gue punya inner child belum selesai deh. Gimana cara menyelesaikannya ya?”

Topik yang muncul di salah satu grup WA baru-baru ini membuat saya penasaran juga. Apa itu inner child? Soalnya topik Inner Child ini memang lagi banyak jadi topik obrolan. Percakapan di WA pun jadi panjang.

“Kayaknya kita perlu tahu dulu inner child artinya apa.”
“Iya bener, lalu perlu dilihat apakah inner child kita terluka sebelum pergi healing-healing.”

Emang ada inner child yang tidak terluka? Lalu, healing-nya gimana?


Daripada banyak pertanyaan dan salah pengertian, saya langsung mendaftar acara #BincangISB yang berjudul “Bertemu dengan Inner Child,” yang diadakan pada Sabtu, 19 Maret kemarin. Acara yang menghadirkan Psikolog Diah Mahmudah S.Psi, dan Psikoterapis Dandi Birdy S. Psi, para founder Biro Psikologi Dandiah ini memberikan pencerahan tentang inner child.

Menurut Teh Diah, inner child ini adalah sosok anak kecil, yang memiliki sisi happy dan sisi unhappy pada orang dewasa di masa kini. Biasanya baru bisa disebut inner child pada orang yang sudah dianggap dewasa, pada usia minimal 21 tahun. Dalam psikologi, definisi inner child ini dijelaskan oleh John Bradshaw, salah satu tokoh di dunia psikologi dan penyembuhan yang menuliskan tentang inner child di bukunya “Homecoming: Reclaiming and Healing Your Inner Child,” sebagai pengalaman masa lalu yang belum atau tidak mendapatkan penyelesaian yang baik. Jadi bisa negatif bisa positif.

06 March 2022

Kenalan dengan Diri Sendiri di Launching Buku Empowered ME

Mengenali diri sendiri itu penting. “Kalau kita nggak benar-benar tahu apa yang sesuai sama kita dan keluarga kita, jadi capek mengejarnya ke mana-mana karena ada banyak referensi di luar sana.” Satu quotes dari Puty Puar, penulis buku Empowered ME (Mother Empowers) memberikan pandangan baru tentang arti perempuan berdaya.

Foto buku by Penerbit GPU

Launching buku Empowered ME (Mother Empowers) yang saya hadiri sore hari itu sedikit berbeda karena bukan hanya ngobrol-ngobrol dan tanya-jawab, tapi ada mini-workshop journaling-nya. Wah, seru. Ini adalah launching buku pertama yang saya hadiri secara online, dan banyak manfaat yang bisa dibawa pulang selepas acara. Bukan cuma manfaat bukunya, tapi juga susunan acara dan ide-idenya. Soalnya, saya juga sedang belajar jadi event dan community planner nih di komunitas yang saya ikuti, jadi virtual launching begini bisa jadi referensi. Sekali hadir, dapat banyak ilmu.

Launching buku yang diadakan lewat Zoom pada Sabtu, 5 Maret 2022 jam 3 siang itu dipandu oleh Nathalie Indri dari Inspibook - Inspigo, menghadirkan editor bukunya, Nadira Yasmine dan surprise guest, Yohanes Abdullah, yang adalah ayah dari Puty. Masing-masing punya cerita tentang buku ini dan tentang Puty, yang bikin launching buku Empowered ME (Mother Empowers) jadi makin berwarna.