Showing posts with label Restaurant/Cafe. Show all posts
Showing posts with label Restaurant/Cafe. Show all posts

21 January 2026

Catatan Kecil dari Tempat-Tempat yang Menginspirasi

Hari impian saya adalah memulai pagi dengan kopi, lalu jalan ke tempat-tempat di mana saya bisa menikmati kesendirian. Ini saya lakukan saat perjalanan awal tahun kemarin di Singapura.


National Gallery Singapore

Bagi pencinta seni dan sejarah, tempat yang merupakan bekas dua bangunan bersejarah, Supreme Court dan City Hall, ini wajib dikunjungi. Saya biasanya menyempatkan berkunjung ke sini kalau sedang mampir ke negara tetangga. Buat apa? Buat bengong haha. Sebenarnya, National Gallery Singapore adalah rumah untuk koleksi seni Asia Tenggara dan dunia. Namun, atmosfer tenang dan inspiratif di tengah hiruk-pikuk kota Singapura yang sibuk membuat tempat ini ideal untuk menyendiri. Kalau hendak melihat koleksi dan pameran, tujuan wisata ini berbayar. Ada beberapa area dan koridor yang bisa diakses tanpa harus membayar tiket masuk. Tempat-tempat inilah yang biasanya ideal untuk duduk-duduk, berhenti mengambil jeda dan mencari inspirasi.



Lalu kalau di Indonesia, di mana bisa mendapatkan vibes yang sama?

Museum Nasional

Sejujurnya, Museum Gajah punya vibes yang mirip. Gedung yang juga bersejarah, kursi-kursi di depan pameran, dan atmosfer tenang yang sama. Bedanya, kalau National Gallery Singapore fokus di beragam karya seni, Museum Nasional menyimpan ribuan koleksi berharga mulai dari artefak prasejarah, arca kuno, kain tradisional, hingga peninggalan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia.

Bagaimana dengan cafe?

11 June 2024

Cafe Inspirasi Latar Belakang Cerita Fiksi

Ini adalah sebuah cerita fiksi.

Awal tahun ini, saya memutuskan untuk membuat sebuah cerita dengan latar belakang cafe sebagai partisipasi dalam tantangan menulis 30 Hari Bercerita di Instagram. Cafe yang ada di bayangan saya adalah sebuah tempat sederhana, alias neighborhood coffee shop, yang terletak di suburban Midwest Amerika. Pengunjungnya adalah para mahasiswa yang sedang menimba ilmu, dan penduduk setempat di sana. Lalu keterusan dan cerita Fresh Start Cafe ini permanen ada di Instagram Fiksi saya.

Kenapa cafe? Selain karena cafe adalah tempat banyak orang bertemu, cafe juga bisa menghadirkan beragam makanan dan minuman yang unik. Saya tidak bisa masak. Tapi bisa membuat makanan dengan bantuan Bing haha.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di cafe, mulai dari membaca buku, bertemu teman, belajar ujian, hingga mengerjakan tulisan. Setiap cafe punya ceritanya sendiri, dan cafe-cafe inilah yang menjadi inspirasi saya membangun Fresh Start Cafe.

13 January 2022

Maaf, Du, Mama Makan Sushi Tidak Ajak Kamu

“Eh kemaren Mama makan sushi enak deh. Murah lagi.”
“Sama siapa? Kok tidak ajak saya?”
“Sama Tante x, deket Citos. Tau gitu kemarin kita makan di sana ya. Next time deh kita nge-date ke sana.”


Namanya Yasami Sushi, lokasinya ada dekat perempatan Fatmawati - TB Simatupang. Di Gedung Beka setelah SPBU Shell. Satu gedung sama Kloop Coffee di Jl Fatmawati Raya 100-D, tapi ngumpet di belakang ke bagian yang menghadap gang, bukan jalan utama R.S. Fatmawati. Pantesan selama ini lewat kok belum pernah lihat restoran ini.



Yang bikin kaget adalah, sudah pesan sampai nambah-nambah, ternyata total bill-nya tidak sampai 200k. Harga di menu sudah termasuk tax dan Ocha-nya refill.

On the bill:
  • Yasami Special Salad (35k)
  • Chicken Katsu (30k)
  • Unamon Roll (36k)
  • Ebi Salmon Roll (42k)
  • Chicken Katsu (30k)
  • Yuki Roll (32k)
Kalau disuruh menjelaskan, seperti apa sushi di Yasami ini, saya akan bilang Sushi rumahan yang rasanya sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Sederhana dan tidak komersil haha. Wasabi dan Gari (alias jahe)nya disajikan di piring Sushi, bukan mengambil sendiri. Unamon Roll adalah gabungan antara unagi dan salmon. Fusion Sushi berisi crabstick dan kyuri, dengan torched salmon dan torched unagi di atasnya. Ebi Salmon Roll isinya jelas sesuai namanya, yang bikin berbeda adalah orange sauce-nya yang pertama saya kira Spicy Mayo. Ternyata yang ini tidak pedas. Sementara Yuki Roll, yang pas dihidangkan terkesan sedikit pucat, berisi salmon tempura, kyuri dan mayo.


Bukan cuma rasa, tapi suasana restoran ini juga homey banget, bikin betah duduk lama. Ngobrol sama Tante x tahu-tahu sudah 2 jam lebih. Jadi, tempat ini pas banget buat yang mau catch up sama teman lama setelah terpisahkan pandemi. Tempatnya tidak ramai dan parkirannya gampang asalkan tidak kelewatan gang-nya. Kalau bablas pun masih bisa parkir di Gedung Beka depan, di Kloop Coffee, lalu jalan 5 menit ke samping.

Nextnya pengen coba Sushi Platter yang harganya mulai 130k sih, tapi saya dan Dudu beda preference kalo makan Sushi. Dudu suka yang nigiri, yang simple cuma nasi sama tamago. Saya suka yang fusion dan fancy, yang pake salmon, keju, kremesan dan lainnya. Sementara kalo liat menunya Yasami tidak punya negiri standar yang hanya satu ingredient aja.


Browsing ke menu lain yang non-sushi, Yasami Sushi juga ternyata punya Donburi. Ada Gyudon dan ada Chicken Katsu yang harganya juga terjangkau. Oke sip, Dudu aman kalo mau diajak makan di sini.

02 January 2022

Mencari Comfort Food di Claypot Popo

Makanan di sini comfort food banget!

Begitu komentar yang kerap mucul waktu mendengar soal Claypot Popo. Tempatnya selalu ramai, harganya murah dan makanannya sederhana. Jadi penasaran mau coba.

Emang apaan sih Comfort food?


“Makanan yang disiapkan secara tradisional, biasanya memiliki nilai sentimental atau nostalgia.” (https://www.merriam-webster.com/)

Setiap orang punya comfort food yang berbeda. Kalau saya, karena dari kecil suka makan nasi anget, telor kecap dan cumi asin, kayaknya itu deh comfort food saya. Kalau Dudu? Hm… Kalau ditanya “mau makan apa?” seringnya dijawab Hoka-hoka Bento. Chicken Katsu. Atau Sosis goreng biasa. Comfort food memang biasanya simple.

Claypot Popo sedikit berbeda dengan claypot yang saya kenal. Claypot sendiri ada teknik memasak dengan mangkuk tanah liat yang mampu menjaga rasa dan aroma makanannya. Biasanya dihidangkan panas dalam mangkuk tertutup. Lalu makannya jadi harus menunggu karena nasi-nya tak kunjung dingin haha. Karena itulah pas mampir ke Claypot Popo dan mencoba makanannya, saya sedikit bingung. Makanan disajikan di claypot terbuka, lalu selain nasi, ada menu misua dan locupan juga.


Lokasinya di Blok M Square, dari luar seperti hidden gem kaki lima di Hongkong. Pintunya kecil dan mau masuk harus mengantri. Restorannya ada di lantai dua. Di tengah pandemi seperti ini, di mana kapasitas restoran dibatasi hanya setengahnya, jadi lebih sulit mendapatkan tempat duduk. Tapi yang namanya masakan claypot kan harus dimakan selagi hangat dan di mangkuk tanah liatnya ya. Jadi, buat saya pesan antar bukan pilihan. Kecuali saya punya claypot sendiri di rumah.

Pesanan kami ada Claypot Sapi Cah Bawang Putih (42k) dan Claypot Misua Tahu Telor Asin (28k) yang katanya paling recommended. Mau pesan kopi tarik, sayangnya hari itu sold out. Kedua makanan tersebut datang dalam claypot terbuka berwarna biru sedikit abu-abu. Kesan pertamanya “kok beda?” haha. Tapi ternyata rasanya enak. Yang Claypot Sapi Cah Bawang Putih lebih mengena buat saya dan Dudu karena pakai nasi hangat, daging plus saus yang membuat nasinya jadi lebih lembek. Yang Claypot Misua Tahu Telor Asin, meskipun katanya ini yang paling populer dan paling value for money karena harganya murah, agak asing di lidah. Buat yang penasaran, Claypot Popo ini halal ya.


Worth it? Well, kita berdua sih suka. Meskipun bukan "comfort food" buat saya dan Dudu. Tapi kalau datang ke sini mungkin lain kali perlu cari waktu yang lebih tepat agar tidak ramai. Datang jangan weekend pas jam makan siang. Kalau bawa mobil sendiri mendingan parkir di gedung lalu jalan kaki daripada muter-muter Blok M Square cari parkiran.

Atau, beli claypot. Jadi bisa makan di rumah.

04 June 2018

Coffeegasm: Coffee Shop Rasa Drama Korea

Pernah terbayang adegan drama Korea di mana si pelanggan cewek masuk ke coffee shop dan disambut sapaan ramah tokoh utama di belakang kasir? Ya kurang lebih begitu rasanya kalau masuk ke Coffeegasm. Hanya saja, coffee shop yang ini adanya di deretan ruko-ruko Mall of Indonesia Kelapa Gading. 


Lokasinya strategis, Coffeegasm terletak persis di sebelah pintu Lobby 8 Mall of Indonesia. Di blok yang sama ada beberapa coffee shop, café dan bakery yang saya pernah kunjungi semuanya karena tempat ngopi langganan di mall persaingannya sengit. Mulai dari anak ABG sekolahan, ibu-ibu arisan dan suster bawa stroller (isinya bayi tidur sementara majikannya belanja) semuanya memenuhi tempat duduk dan ikut sharing wi-fi. Jadilah di satu hari libur, saya dan Dudu keliling Mall of Indonesia dengan misi mencari tempat ngedate alternatif.

26 August 2017

Menyeduh Kopi Modern dan Tradisional di Jogjakarta

Motor mabur setunggal, setunggal, kalih…. Tilu lalu matur nuwun. Pengumuman berbahasa Jawa halus tersebut menjembatani bahasa Indonesia dan Inggris, berkumandang ketika saya menunggu bagasi di Bandara Adi Sutjipto pada 17 Agustus kemarin. Bahasa Jawa (halus) saya hanya sampai sekawan, tapi pengumuman yang saya tidak begitu ingat kalimat persisnya tersebut membuat saya tersenyum sendiri.

Hore, saya sudah berada di Jogjakarta.



Ada yang semangat banget mau ke Jogja pas 17 Agustus nih. Merdeka!
Ini kunjungan kesekian saya ke propinsi istimewa di selatan Jawa, dan kali ketiga Dudu mampir ke Jogjakarta. Tapi baru sekali ini saya menginjakkan kaki di Bandara Adi Sucipto. Maklum, dengan adanya keluarga yang tersebar di pelosok Jawa, saya sekeluarga lebih sering bepergian dengan mobil. Lewat jalan darat lebih seru. Tapi kalau tidak lewat udara, saya tidak akan terkagum-kagum sendiri dengan pengumuman penerbangan yang menggunakan bahasa daerah di sebuah airport internasional.

Tujuan saya ke Jogja juga sedikit berbeda. Kalau biasanya kami sekeluarga hanya berlibur, kali ini kami mengantar adik terkecil untuk bertemu calon keluarga barunya yang kebetulan berdomisili di Jogja. Tahun depan, Jogja akan menjadi bagian dari keluarga kami. Karena sudah cukup akrab dengan Borobudur, Malioboro dan Sendratari Ramayana, di kunjungan kali ini saya sengaja mencari sesuatu yang bukan tujuan wisata. Sesuatu yang baru, modern tapi tetap bercerita tentang Jogja.

Keluarga dan kopi, dua hal itu yang akhirnya membawa saya mampir ke tempat nongkrong seru di Jogja yang lengkap dengan kopi enak.

09 January 2016

Brunch Date at Two Hands Full

Dua kali ke Two Hands Full, dua kali nyasar karena Cafe di daerah Sukajadi Bandung ini tidak ada plangnya. Tapi karena makanannya enak, saya jadi balik lagi sama Dudu untuk brunch di sini. Sekalian mencoba tipe sarapan yang berbeda.


Banyak yang bilang Cafe ini hits. Dan terbukti ketika kita datang untuk Brunch di hari sebelum Natal kemarin, tempat duduknya penuh. Tapi akhirnya kita dapat meja di dekat jendela belakang. Tempatnya mengecil dan jendelanya berkurang dari terakhir kali saya ke sana karena dia pindah tempat ke Sukajadi no 198A, tapi masih tetap nyaman untuk duduk hangout dan makan sama keluarga. Kalau yang tidak keberatan makan di luar dan kalau pas ngga ada yang smoking, duduk di taman belakang juga asyik lho.


02 January 2016

Romantic Dinner with Dudu at Cocorico

Coba tanya Andrew, apa sih serunya makan di Cocorico Cafe Bandung? “Pemandangannya menakjubkan dan tempatnya tidak panas meskipun tidak pakai AC.”
Pemandangan dari tempat kita duduk
Oalah, yang diingat itu duluan. Maklum, si Jack Frost, alias si Dudu ini paling tidak tahan panas. Jadi, makan malam di restoran dengan pemandangan kota Bandung dari ketinggian, plus angin semilir yang bikin ngantuk memang jadi tidak terlupakan. Ketika reservasi, grup kita yang totalnya ada 6 orang ini dapat di bawah. Soalnya kalau di atas dan dekat jendela rata-rata hanya untuk ber-4. Setelah minta ke waiternya, disarankan naik ke lantai atas dan melihat apakah ada yang kosong. Akhirnya, kita duduk di pinggir, yang tinggal nengok ke kanan langsung bertemu dengan pemandangan kota.

30 July 2015

RoCa: Artistic Eatery

Kalau ke RoCa, harus cobain Nasi Goreng Kemangi nya. Begitu kata hampir semua orang. So, why don't we give it a try? Thanks to Tante MJ yang suka jalan-jalan, kita jadi bisa mampir ke restoran yang terletak di ArtOtel Thamrin, Jakarta, ini untuk dinner. Diantar pakai Mini Cooper pula datangnya karena menang kuis #JAKEATwithMini.
Dekorasi RoCa restaurant yang artistik
Hotel ini banyak kenangan. Terakhir kali ke sini adalah untuk ikutan workshop blogging dari Mommies Daily. Sendirian tentunya. Waktu itu saya berpikir, wah, Andrew pasti suka nih exploring hotel ini dengan segala keunikan dan dekorasinya. Ternyata dugaan saya tepat. Begitu turun dari mobil dia sudah heboh dengan "ini hotel ya, Ma? Tembok luarnya seperti bergambar. Bolehkah kita menginap di sini?". Yah, masuk ke lobby juga belum.

Duduk manis di meja pojokan, kita mulai order. Dan di tengah memilih makanan, terjadi percakapan begini:
Dudu: Tante, apakah hotel ini memiliki wi-fi?
Manager Resto: Ada.
Dudu: Passwordnya apa, Tante?
Manager Resto: Sini coba HPnya Tante connect-in.
Dudu: (menyerahkan HP)
Manager Resto: (Sibuk menyambungkan wi-fi).
Dudu: Jam yang tante pakai bagus juga (sambil nunjuk ke jam warna putih yang dipakai si tante manager)

Satu meja jadi ngakak. Dan saya dituduh mengajarkan anak godain tante-tante. Padaha dari sananya saja ini anak sudah pinter ngomong dan mengumpulkan massa... sampai saya yakin suatu hari nanti dia bakalan kampanye jadi presiden.

So, what do we order?
Mama: Chicken Spaghetti Basil Pesto
Dudu: Roasted Chicken + vanilla milkshake
Tante MJ: Nasi Goreng Kemangi Teri
Impulsive order karena tergoda: Chocolate Melt 



Chicken Spaghetti Basil Pesto

Nasi Goreng Kemangi Teri yang jadi menu andalan
Range harga di sini ternyata tidak terlalu mahal. Makanan yang kami pesan berkisar antara 50-60 ribuan. Surprise juga sih.

Sambil menunggu makanan datang, Andrew mainan dengan tempat garam dan lada yang berbentuk orang. Yup, si Andrew kan paling suka main action figure. Dan karena dia lupa bawa mainannya, jadilah si garam dan lada jagoan cerita dia malam itu. 



Dudu, Vanilla Milkshake dan tempat garam-lada
Makanan paling enak bagi saya jelas punya Andrew. Roasted Chickennya empuk dan saosnya enak. Pas sekali jika dikombinasikan dengan sausnya. Si Andrew tidak habis karena porsi ayamnya besar. Agak shock sih pas datang ke meja ternyata sebesar itu. Roasted chicken ini datang terakhir - mungkin karena masaknya paling susah. Sementara saya hanya memesan pasta, yang sebenarnya enak juga tapi kalah berkesan sama roasted chickennya. Milkshake Andrew habis dalam sekejap. Soalnya enak. Wah, jarang-jarang dia memuji milkshake.


Roasted Chicken Favorit Dudu. Hadir dengan wedges dan salad
Nasi Goreng Kemangi Terinya memang sesuai yang dibicarakan orang. Rasanya agak campur-campur tapi pas. Kalau untuk Andrew yang suka plain flavor sih ini pasti terlalu complicated. Tapi buat pencinta makanan seperti si Mama ini, nasi goreng ini bisa jadi pilihan menu kalau ke RoCa lagi. Ingin mencoba breakfastnya sih. Chocolate Melt sebenarnya orderan nekat karena kita sudah kenyang. Tapi akhirnya habis juga because it's really tasty with melted chocolate trapped in the middle.


The Chocolate Melt!
Habis makan belum selesai. Andrew masih harus exploring hotel dan melihat ke kamar mandi. Kamar mandinya ada di lantai mezzanine dan unik banget. Sayangnya lantai mezzanine itu sedan digunakan untuk acara, jadi kita kalau mau naik dari tangga harus nyelip-nyelip diantara tamu. Andrew sih cuek saja. Dia naik dengan lift dan turun dengan tangga melingkar. Penasaran, dia naik tangga melingkar sampai mentok.

Mama: Ada apa di atas, Du?
Dudu: Ada kamar, Ma. Sayangnya pintunya dikunci, jadi aku tidak bisa masuk. Padahal aku ingin sekali melihat isi kamarnya.
Mama: Mama sudah pernah lihat. Nanti ditunjukin fotonya.
Dudu: Bagaimana kalau kita menginap saja? Hotel ini sepertinya bagus. Restorannya juga enak.

Let's put this hotel on our staycation list.

10 June 2015

Visiting Traffique Coffee

Mama dan Dudu punya kebiasaan keliling kota (tidak selalu hari Minggu dan kita tidak naik delman istimewa) untuk mencari tempat mengerjakan PR, belajar buat ujian, ngopi dan ngeblog. Kali ini kita mampir di Traffique Coffee.


Sudah lama dengar tentang coffee shop ini, pertama Mama mampir karena menghadiri acara. Lalu yang kedua beneran datang bersama Dudu, di Minggu sore selesai menghadiri pernikahan teman, untuk mengerjakan PR. Tempatnya lega dan ada meja besar buat menebar buku dan kertas PR di seluruh penjuru. Wi-fi nya juga lancar.




Uniknya, tempat ini punya taman kecil di belakang -- yang jadi sejuk banget pasti begitu hujan turun. Sayangnya karena di luar sepertinya untuk smoking, kita tidak duduk di luar dan malah jadi akrab dengan deretan headphone yang ada di bar. Karena datang hari Minggu sore yang cukup sepi, kita tidak kesulitan dengan parkir.

Mama pesan coffee, lalu beberapa saat kemudian karena lapar melanda jadi pesan banana bread dan croissant.




Tempat ini cepat jadi favorit Dudu. Ketika kita stuck, bingung mau ke mana lagi, Dudu langsung bilang "Traffique lagi aja, Ma!" Saya tanya emang Traffique yang mana, dia jawab "yang ada mesin pembuat kopi tinggi sekali dan banyak earphone berderet dekat tembok." Ternyata beneran berkesan.

Visit the Place!
Traffique Coffee
Jalan Hang Tuah Raya No. 9, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12120
0878-8984-8004
trafiquecoffee.com