Showing posts with label Blogging. Show all posts
Showing posts with label Blogging. Show all posts

18 March 2026

Kangen Blogging 10 Tahun Lalu? Iya, Saya Juga.

Percaya tidak percaya, 10 tahun lalu saya lebih punya banyak cerita. Saya bisa menulis lebih dari 10 postingan sebulan di blog utama. Blog jalan-jalan pun pasti ada minimal 1 tulisan per bulan. Sekarang ini, ada satu postingan per bulan itu saja sudah untung.

Ketika meninggalkan dunia jurnalistik sebagai pekerjaan tetap, dan pindah haluan ke marketing, blogging jadi salah satu cara mempertahankan hobi menulis saya. Apalagi, ketika itu, Dudu ada di usia pas untuk diajak jalan-jalan dan pergi liputan. Jaman itu, kayaknya saya jadi rajin blogging karena baru saja merelakan menulis sebagai “profesi”, jadi nulisnya bisa tanpa beban dan dengan senang-senang. 10 tahun lalu juga blogging juga lebih populer dan lebih menjamur karena belum ada video pendek. Jadi yang paling keren di jaman itu ya blogging. Karena setiap orang bisa jadi “media”, bisa cerita perspektifnya sendiri, dan ada pembacanya.


Salah satu acara 10 tahun lalu yang didatengin bareng Dudu sebagai blogger

Overall, kalo boleh dirangkum, yang paling dirindukan ya jelas semangat ngeblognya haha.

Soalnya sekarang ini nge-blog jadi prioritas kesekian. Bukan karena nggak cuan. Namun, karena banyak hal lain di hidup ini yang berubah. Pekerjaan tetap yang bikin hati tenang saat ngeblog udah nggak ada, lalu event-event yang biasanya mengundang blogger, sekarang memilih content creator. Yang namanya media sudah bergeser, bukan lagi berupa tulisan panjang tapi berupa video pendek. Saingan sama kecepatan generasi saat ini mengkonsumsi informasi. Sementara yang namanya tulisan kan dibacanya nggak bisa buru-buru.

Dan sekarang ada chat gpt. Ngeblog jadi makin susah, karena sudah setengah mati menulis, eh disangka hasil AI. Kok jadi curhat haha. Soalnya pernah kejadian saya masukin tulisan saya ke AI detector (entah yang mana), eh dibilang 75% AI. Terus sejak itu dongkol sendiri dan nggak pernah ngecek lagi haha. Biarin ajalah yang baca mau bilang apa, toh yang penting saya happy menulisnya. 10 tahun yang lalu, hal begini nggak perlu dipikirin. Ngeblog itu beneran happy-happy saja buat saya.

10 tahun lalu, Hadiah ultah Dudu juga disponsorin sama blogpost.


So, apa kata chat gpt tentang blogging 10 tahun lalu?

Katanya “dulu blog itu kayak diary yang dibuka ke publik. Sekarang banyak yang terasa terlalu ‘rapi’, terlalu strategis.” Well, ada benarnya, dari Blogging yang santai, muncul SEO kemudian muncul ChatGPT dan teman-temannya. Tulisan jadi kurang human. Dulu juga banyak yang sering komentar, dan blogwalking. Sekarang yang suka “jalan-jalan” lebih banyak di media sosial. Jadi, siklusnya memang sama, dan ini berlaku juga buat content video pendek yang sekarang lebih populer.

Awalnya, saya ngeblog buat senang-senang. Lalu, datang monetisasi, dan keseriusan menulis. Penulisan ada arahnya, sesuai brief client, sesuai kebutuhan pasar, sesuai algoritma dan lain sebagainya. Blogging (dan sekarang content creation) jadi kompetisi. Iya, memang ini semua penting kalau mau menghasilkan. Tapi, kalau dipikirkan malah jadi beban. Semua harus ada positioning, harus ada faktor yang bikin viral. Nggak viral berarti gagal. Serba cepat, serba cuan.

Padahal, kalau diingat lagi, awal mula saya blogging kan karena saya ingin melepaskan “cuan” dari hobi menulis saya supaya tidak ada beban. Eh, kok jadi terbeban lagi? Well, sampai sekarang blog saya yang punya domain sendiri hanya 1, yang travelling, dan itu juga karena saya butuh branding namanya. Bukan karena monetisasi.

Sekarang, saya mau mulai rajin blogging lagi. Dengan hidup yang sudah banyak berubah, dengan kepopuleran blog yang sudah menurun dan dengan semangat 10 tahun yang lalu. Ketika sebuah postingan yang published adalah reward yang paling dicari.

27 October 2025

Kenangan, Prioritas, dan Cerita Baru di Dunia Blogging

Pertama kali ngeblog tahun 2006 waktu anak saya lahir. Ngeblog yang konsisten dan bukan curhat colongan. Kalau yang curhat colongan, lupa dari tahun berapa. Arsipnya juga sudah tidak ada.

Tahun ini berarti sudah 19 tahun saya ngeblog. Wah, hampir dua dekade. Dimulai dengan satu blog untuk mendokumentasikan perkembangan anak, sekarang saya berusaha konsisten mengisi beberapa blog dengan tema berbeda.

Perjalanan ngeblog saya dimulai dengan blog ini, yang diberi nama Andrew and Me, karena isinya tentang saya yang jadi seorang ibu, kegiatan sehari-hari kita berdua dan refleksi saya tentang perubahan yang terjadi dalam hidup ini. Tema-tema yang dibahas sangat beragam, ada traveling tipis-tipis, tips jadi ibu, parenting, literasi digital, mengelola keuangan, dan pengembangan diri.

Blog ini akhirnya jadi dokumentasi perjalanan mengarungi perubahan hidup yang besar dan perubahan karier. Saya menuliskan transisi dari jadi ibu seorang bayi, anak remaja dan akhirnya kuliah. Juga tentang perjalanan karir, perubahan pekerjaan, sampai akhirnya jadi “penganguran”, dan bagaimana blogging berperan di semua zaman. Saya menggunakan blog ini sebagai ruang untuk refleksi finansial, karier, dan pribadi sambil menyeimbangkan kehidupan keluarga.

05 May 2025

Ngeblog Next Level? Siapa Takut?

Kalau ada blogger ngumpul buat bertukar cerita dan silaturahmi, hasilnya apa? Ya, blog post dong. Untuk mengisi blog yang berdebu, makanya pertemuan kemarin jadi tulisan.

Hubungannya apa? Well, 2025 ini entah kenapa saya nggak update blog utama. Hanya update di blog traveling karena ikutan challenge. Itu pun, kejar-kejaran dengan deadline. Blog yang ini berdebu. Draftnya ada beberapa tapi tidak pernah ter-publish. Ketika hadir di kumpul-kumpul blogger di rumah Founder ISB, Teh Ani Berta, ternyata bukan saya saja yang punya masalah “hiatus” ini.


Menjawab apa yang terjadi, saya mencoba merefleksikan dengan kondisi saat ini. Tahun 2025, saya resmi pengangguran. Pekerjaan nggak stabil berarti harus cari yang secara freelance. Freelance ini menyita waktu dan tenaga. Harus pitching, melamar, negosiasi, tambal sulam sana sini. Otomatis kegiatan yang tidak menghasilkan uang langsung jadi prioritas kesekian. Termasuk blogging. Apalagi privilege sebagai blogger sudah banyak berkurang dari zaman kejayaannya dulu.

Singkatnya, kalau dulu saya punya pekerjaan tetap serta gaji bulanan, jadi bisa curi-curi waktu ngeblog di saat istirahat, sekarang saya nggak punya waktu istirahat. Semua waktu yang tidak digunakan untuk cari uang adalah terbuang percuma.

Wajar kalau dengan berkurangnya semua privilege dan antusiasme di masyarakat, motivasi ngeblog juga jadi hilang. Ketika kumpul-kumpul kemarin, ini salah satu yang jadi topik bahasan kami selain bagaimana cara masak ikan tanpa bawang merah, mau S2 bidang apa, daun kenikir itu bisa dimakan, menghadapi anak remaja, nostalgia kompasiana dan sejuta topik lainnya yang urgensinya agak sedikit di bawah. Hahaha.

Ada beberapa poin yang saya bawa pulang dari diskusi informal sambil ngemil bolu dan cendol keju di dalam kaleng biscuit itu.

Ingat Kembali Alasan Awal kita Ngeblog

“Saya ngeblog karena saya suka nulis.” Pernyataan tersebut menjadi tamparan buat yang blognya mandeg seperti saya. Kalau memang ngeblog musiman, karena sumber uangnya dari sana, ya mau gimana lagi kalo jadi demotivasi. Nah, kalau yang memang blognya nggak monetized seperti saya? Alasannya apa? Kalau menyukai sesuatu kan seharusnya punya waktu.

Kalau alasan awalnya ngeblog karena uang gimana? Pamor blogger turun, nggak ada brand mau bayar post, terus diam saja, pasrah? Ya, nggak dong. Kita jemput bola, menjaga blog tetap aktif lalu bersama-sama membuktikan kalau kita ini masih eksis, masih relevan.

Fokus pada Niche yang Spesifik dan Sesuai Passion  Sekarang. Cari Inspirasi Baru.


Misalnya kalau dulu kita fokus traveling solo karena masih single, sekarang kita fokus ke parenting karena sudah berkeluarga. Dulu kita ngomongin anak, sekarang anaknya sudah besar, kita kuliah lagi. Jadi, blognya banyak membahas edukasi dan dunia pendidikan. Hidup berjalan dan cerita kita berganti. Rasanya sulit menulis yang tidak sesuai dengan keadaan sekarang, jadi ya jangan takut mencari niche atau fokus ke topik baru.


Creating awareness & Interaction

Jangan berhenti branding. Satu pertanyaan yang dilontarkan Teh Ani membuat saya jadi merenung. “Bagaimana caranya agar brand di luar sana tahu bahwa blogger masih ada?”

Salah satunya, yang muncul dari ajang diskusi, adalah dengan eksis lagi, konsisten ngeblog lagi dan memanfaatkan media sosial yang sekarang ada untuk sharing tentang blogging. Ngeblog next level ini bukan hanya tentang saya senang menulis. Tapi bagaimana kita membangun personal branding, meningkatkan awareness dan ketertarikan orang akan blog yang dimiliki.

Tentunya, tidak sendirian dong. Bergabung dengan komunitas blogger, komunitas menulis atau komunitas lainnya yang bergerak di bidang literasi untuk saling menyemangati dan membangun jaringan.

Pulang dari kumpul-kumpul, bukan cuma perut yang penuh karena kebanyakan ngemil, tapi hati dan pikiran juga penuh dengan ketemuan teman serta homework untuk membawa blogging ke level selanjutnya.

Who’s with me?

28 April 2025

Emang ngeblog itu masih relevan ya di 2025?

Pertanyaan inilah yang membawa saya mengikuti sebuah webinar tentang blogging dan travel blogging yang diadakan oleh DailySEO ID bersama komunitas ISB.

Live Webinar berjudul “Is Ngeblog Dead in 2025 bersama Mbak Istiana, seorang travel blogger ini membahas pengalaman ngeblog selama 10 tahun, strategi mendapatkan traffic dan tentunya monetisasi. Webinar yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu penuh dengan ilmu dan diskusi menarik tentang blogging dan relevansinya di 2025.

Bicara relevansi, satu hal yang saya salut dari Mbak Isti adalah keberaniannya mengganti niche blog dari Parenting ke travelling. Pengalamannya itu diceritakan di awal, saat berbagi cerita tentang perjalanan ngeblognya. Hal ini sebenarnya relevan dengan bagaimana kita membranding blog tersebut.


Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah menulis About Me dengan benar. Siapa saya? Blog ini menawarkan apa? Expertise apa yang saya punya? Memindahkan niche pun adalah langkah untuk menaikkan relevansi dan kredibilitas sebuah blog. Mengapa hal ini penting? Karena, biasanya orang juga melihat Siapa yang ada di balik sebuah tulisan. Misalnya Mbak Isti menulis tentang Parenting karena dirinya memang seorang ibu. Lalu, ketika berganti menjadi traveling, ya karena memang dia suka jalan-jalan bareng keluarganya.

14 December 2024

Sejuta Impian 2025

2025 mau apa?

Pertanyaan sulit bagi saya yang tiba-tiba jobless karena PHK di akhir 2024. Cari uang dong. Cari pekerjaan lagi. Itu yang pertama terlintas di pikiran. Namun, ternyata mencari pekerjaan di usia 40 tahun ini tidaklah mudah. Yang lebih muda saja harus melalui belasan interview dan ghosting dari berbagai perusahaan. Saya? Mengirim lamaran, lalu tidak ada kelanjutannya. Balasan yang saya terima biasanya berupa permohonan maaf karena saya tidak sesuai dengan yang mereka cari.

Biasanya ini gara-gara gaji.

Anyway, setelah berpikir ke sana dan sini, ada beberapa ide bagaimana saya mau menjalani 2025. Apa saja?

  • Kuliah lagi. Saya ingin belajar tentang Public Policy, Public Administration terutama soal Non-Profit Management dan Fundraising. Saya sering menemukan lowongan di NGO yang berujung gagal melamar karena kualifikasi pendidikan yang tidak memadai. Di usia 40 ini, saingan saya kebanyakan punya S2. Saya hanya punya S1 yang tidak berhubungan dengan pekerjaan saya sekarang. Sulit bersaingnya.
  • Menggaji diri sendiri. Kalau cari kerja susah, kenapa saya tidak coba menggaji diri sendiri? Bagaimana caranya? Fundraising untuk Yayasan tempat saya jadi relawan sekarang jadi kami punya sumber dana tetap dan bisa menggaji staff. Atau buka usaha laundry di daerah. Hanya saja, merintis sesuatu berarti saya harus punya dana cadangan yang cukup untuk hidup selama usaha saya belum membuahkan hasil. 
  • Cari pekerjaan baru. Iya, ini tetap ada dalam agenda. Tapi saya lebih banyak pesimisnya. Jadi, yang saya lakukan sekarang adalah fokus ke pekerjaan freelance, tapi ada beberapa. Repot memang, tapi setidaknya tetap ada penghasilan tetap dan bisa menabung.
  • Green Card Lottery atau hal sejenisnya. Pindah ke luar negeri adalah impian utama saya. Karena di beberapa negara, umur tidak menjadi halangan seseorang untuk bekerja. Asalkan mau bekerja, dan masih kuat bekerja fisik, pasti bisa dapat penghasilan. Opportunity untuk bekerja freelance dengan kemampuan spesifik yang saya miliki sekarang ini juga lebih banyak. Idealnya sih opsi ini yang diambil, tapi berhasil tidaknya bergantung pada undian yang ada di luar kuasa saya.

Kichi (Kiri) Dan Waco (kanan)

Saya yang senang bekerja dan berkegiatan justru merasa bahwa santai-santai ini berbahaya. Jangan sampai terlena karena ada banyak hal yang sebenarnya bisa dan harus dikerjakan.

  • Saya ingin traveling, pergi nonton konser dan healing. Tapi, ya tidak bisa hanya traveling saja dong. Kenapa tidak saya mencoba cari pekerjaan di Korea? Siapa tahu ada yang tidak mementingkan umur dan bisa saya lamar.
  • Saya ingin membereskan rumah. Ada banyak barang “peninggalan” keluarga dan kedua orang tua yang sebenarnya bisa berguna bagi orang lain. Saya ingin membereskan dan menyumbangkan yang masih layak. 
  • Saya ingin pelihara kelinci lagi. Ini yang paling sulit untuk dilakukan. Soalnya saya ingin traveling, dan akan sulit meninggalkannya di rumah sendirian. Punya binatang peliharaan berarti punya tanggung jawab lebih. Apalagi kelinci ini rentan sakit dan mudah meninggal. Harus benar-benar siap mengurusnya.

Satu-satu kita coba capai mimpi. Semoga 2025 jadi tahun yang baik buat saya. 


24 October 2024

Tahun Ini Adalah Tahun Ke-20 Saya Ngeblog

Tahun ini adalah tahun ke-20 saya ngeblog. Eh, sudah selama itu ya? Ya, Dudu saja sudah 18 tahun, jadi sebenarnya masuk akal sih.

Pada zaman itu, blogging hanyalah sebuah hobby atau diary online. Dan tujuannya blogging, selain curhat adalah untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari Dudu. Makanya nama blognya juga Andrew and me. Dudu dan saya.

Seiring berjalannya waktu, blognya berubah. Saya pulang ke tanah air, Dudu semakin besar dan tulisan semakin banyak. Bukan hanya tentang parenting atau ide nge-date di Jakarta, tetapi juga tentang kehidupan saya sebagai single mom. Lalu, saya mulai ambisi. Ketika menulis sudah tidak lagi menjadi pekerjaan utama, blog saya mulai jadi penghasilan. Alias saya jadi blogger part-time yang happy ketika diundang liputan dengan kewajiban menulis. Namun, karena blog saya adalah blog gratisan, undangannya juga jadi terbatas.



Ambisi yang kedua adalah punya blog lebih dari satu. 

17 May 2024

Manfaat Mengambil Short Course untuk Blogger

Salah satu ‘me time’ favorit saya adalah belajar. Aneh ya? Well, saya senang ikutan kursus maupun webinar yang memberikan pengalaman dan pengetahuan baru. Biasanya saya mencari materi yang relevan dengan kehidupan dan passion saya. Sebagai seorang blogger dengan beragam tanggung jawab di luar dunia menulis, saya harus bijaksana memanfaatkan waktu 'me time' untuk memulihkan kreativitas saya.

Banyak solusi klasik seperti healing, minum kopi, atau mengubah suasana, setiap penulis memiliki pendekatan uniknya sendiri untuk mengatasi krisis kreativitas. Belajar juga bisa jadi ‘me time’ karena seringkali kegiatannya tidak bisa disambi. Kalau kata anak jaman sekarang namanya “mindful.” Meskipun pertemuan diadakan secara online, ketika belajar kita harus fokus menyimak, berinteraksi dengan guru dan murid, serta sepenuhnya berada di kelas. 

Efeknya agak sedikit mirip dengan membaca buku atau menonton film di bioskop, di mana kita memberikan perhatian penuh pada apa yang sedang kita baca atau tonton. Begitu kembali ke dunia nyata, pikiran kita lebih fresh

(Photo courtesy of Ani Berta)

Belajar Bahasa Inggris Online Bersama TBI Bandung

Kali ini, yang saya ikuti adalah “Blogger Short Course for Creative Writing” bersama The British Institute (TBI) Bandung dan Komunitas ISB. Kelasnya dilaksanakan secara online selama 3 hari berturut-turut pada pukul 10:00 hingga 12:00 WIB. Kenapa short course? Mengikuti short course dapat memberikan insight baru tanpa komitmen jangka panjang. Cocok bagi mereka yang sibuk, namun mencari kegiatan bermanfaat. Selain itu, short courses dengan topik spesifik dapat membantu saya me-refresh skill yang dimiliki.

Minggu ini, jadilah hari Senin saya dimulai dengan mengantar anak sekolah, lalu duduk manis depan laptop bersama secangkir kopi untuk mengikuti kelas. Kelasnya tidak terlalu besar, jadi belajarnya juga efektif. Di kelas yang saya ikuti di 13 - 15 Mei 2024 kemarin, ada 9 orang blogger yang berpartisipasi. Blogger yang biasanya hanya berinteraksi di WAG, sekarang bisa tatap muka dan ngobrol meski virtual

Hari pertama dimulai dengan perkenalan, lalu dilanjutkan dengan jalan-jalan ke South Africa. Hari kedua, kami semua membahas musik dan festival musik. Hari terakhir, topiknya street food. Di setiap kelas, belajar Bahasa Inggris dikemas dengan topik yang seru dan sesi interaktif yang mengajak setiap murid berpartisipasi. Pengenalan adjective atau kata sifat dan passive voice atau kalimat pasif, jadi lebih mudah diingat ketika dibawakan melalui topik-topik yang menarik. 

25 October 2023

Inilah Kenapa Blogging Masih Relevan di 2024

Di tengah maraknya video pendek dan trend media sosial yang lebih visual, saya masih setia sama yang namanya blogging. Alasan sebenarnya sih karena saya lebih suka membaca daripada menonton. Jadi saya lebih suka menulis daripada membuat video. Menonton itu mengikuti waktu si pembuat video. Membaca bisa disesuaikan dengan kecepatan kita. Intinya mungkin karena saya tidak suka diatur.

Jadi blogging masih relevan. Setidaknya untuk saya.


Yang akan berubah di 2024 adalah kepergian Dudu kuliah ke luar negeri yang berarti saya bakalan tidak punya bahan untuk blogging. Yang ada sepertinya blog ini akan semakin jarang update. Yah, setidaknya saya masih bisa menuliskan beberapa cerita yang belum sempat ditulis, atau laporan event yang saya hadiri. Sisanya akan ada di beberapa blog berbeda. Rasanya di 2024, blog saya yang update adalah yang akan lebih banyak berisi opini, keluh kesah dan cerita curhatan yang disamarkan. 


Eh, blog yang mana tuh ya? Hahahaha.



Oh iya, tanggal 27 Oktober besok adalah Hari Blogger Nasional. Sejarahnya berawal dari tahun 2007, ketika itu Menteri Komunikasi dan Informatika dijabat oleh M. Nuh. Nama Menteri yang termasuk pendek dan mudah dihafal. Sayangnya saya sudah jauh lulus dari SMA dan tidak menghafalkan nama menteri kabinet lagi hehe. Awalnya adalah Pesta Blogger, yaitu acara yang diselenggarakan untuk mewadahi para blogger. Namun oleh bapak Menteri, hari tersebut dicanangkan menjadi Hari Blogger Nasional. 


Enam belas tahun kemudian, kita masih merayakan Hari Blogger Nasional. Hopefully, tahun depan juga masih. Soalnya saya masih mau mencantumkan status “blogger” di profile media sosial saya.

22 October 2023

Pentingnya Support System Bagi Blogger Pemula

Ketika dulu saya mulai blogging, saya tidak memikirkan yang namanya SEO, Domain Authority, pembacanya siapa dan segala macam hal yang sepertinya sering jadi requirement untuk blog masa kini. Soalnya tujuannya hanya mengupdate kehidupan duduk ke keluarga yang jaraknya jauh. Awal mula ngeblog bener-bener karena malas mengupdate keluarga satu persatu dan banyak juga yang tidak buka email. Whatsapp baru muncul tahun 2009. Sementara Dudu lahir tahun 2006. Jadi ada sekitar 3 tahun di mana Saya tidak tahu bagaimana mengupdate perjalanan saya dan Dudu kepada keluarga. 

Waktu itu hp-nya masih Nokia 3310 yang cuma bisa main game snake aja. 

Halo Mama, Nokia-nya nggak bisa dipake ngetik blog.

Support system pertama adalah tools dan teknologi yang tersedia. 

Saya mulai blogging serius ketika Dudu lahir. Waktu itu tahun 2006. Sebelumnya, saya menulis blog buat iseng-iseng. Kalau diintip lagi blog yang galau itu sepertinya sudah dari awal tahun 2000an. Haha. Malu ah, membacanya. Support System yang pertama tentu saja internet yang memadai di negara tempat saya kuliah. Adanya laptop dan kamera yang bisa memuat foto membantu saya membuat semacam Buku Harian online. 

Namanya blog kan adanya di dunia maya, tentunya harus ada teknologi yang support. 

Setelah saya pulang ke Indonesia, dan memulai profesi sebagai jurnalis, blog saya mulai terbengkalai. Selain karena si support system yang berubah, alias internet yang terbatas plus gadget yang sudah mulai lelah karena menemani saya sejak kuliah, saya juga mulai bekerja full-time. Waktu mulai tersita. Apalagi bekerjanya juga sebagai jurnalis yang ujung-ujungnya menulis. Pas mau ngeblog, energi sudah habis. 

Support system yang kedua ini tidak kalah pentingnya: Komunitas. 

Energi yang habis ini terselamatkan dengan teman-teman seperjuangan. Bergabung ke komunitas, kenalan dengan blogger lain, ikut hadir di event dan belajar blogging lebih serius, membuat saya semangat lagi. Karena jadi ada a sense of belonging. Punya teman sesama blogger bisa ngobrol, tukar pikiran, dan saling menyemangati kalau sedang stuck adalah sebuah anugerah tersendiri. Belum lagi kalau dapat kesempatan ikut kelas belajar SEO, belajar menulis dengan baik, dan bagaimana memonetisasi blog. Saya merasa tidak menulis sendirian, dan senang bisa bertemu teman yang punya hobi serupa. 

Dari komunitas yang saya ikuti ini, saya juga bisa dapat job. Tidak selalu berupa uang, tetapi juga kesempatan hadir di premier film atau dikirimkan produk untuk dicoba duluan. Dapat undangan acara penting dan jadi merasa dihargai. Akhirnya blog yang saya miliki bisa menghasilkan sesuatu, meskipun terbatas karena alamatnya yang tidak top level domain alias TLD. Habis bagaimana tujuan saya ngeblog kan bukan untuk komersil. Tetapi lebih ke personal branding, dan bercerita tentang pengalaman saya bersama anak saya. 

Sini Ma, saya bantu ketikin blognya

Yang paling penting, ya support system ketiga: Dudu. 

Tentunya support System yang paling utama adalah anak saya, Dudu. Yang adventure-nya saya tulis sebagai cerita utama di blog saya. Ketika dia sudah mulai bisa diajak diskusi, saya bahkan meminta dia untuk Menuliskan beberapa hal di dalam blog atau mencantumkan obrolan kita sebagai tulisan. Dari dulu Dudu bayi hingga sekarang sudah remaja, siap berangkat kuliah tahun depan.

Kalau Dudu sudah kuliah, bagaimana dengan nasib blog ini? Nah ini yang sebenarnya belum saya pikirkan. Tapi yang namanya petualangan jadi ibu tentunya tidak berhenti sampai di sini kan?

Kenapa support system ini penting? 

Jawaban singkatnya ya karena kita jadi tidak merasa sendirian. Dan ini bisa dikembangkan ke mana-mana. Dilansir dari website verywellmind, ada 4 tipe support system: emotional, esteem, informational dan tangible. 

Emotional support memberikan pelukan atau telinga untuk mendengar keluh kesah. Sementara Esteem support ini yang memberikan afirmasi bahwa kita mampu mengerjakan sesuatu. Yang membuat kita jadi lebih pede blogging. Informational support memberikan fakta, informasi atau guide yang kita butuhkan tentang satu subjek tertentu. Tangible support ini adalah tindakan nyata, yang kalau dicontohkan bisa seperti menawarkan jasa babysitting sementara saya menulis. 

Kalau dilihat cerita support system saya sebagai blogger di atas, Dudu adalah emotional support saya. Yang ada dan memberikan semangat untuk terus ngeblog melalui adventure yang kita jalani berdua. Teknologi jadi informational support saya dengan memberikan banyak jawaban dan fasilitas untuk ngeblog. Esteem dan tangible ya jelas komunitas. Dapat feedback, dapat semangat. Dapat blog walking juga. Tangible karena support nyata yang didapat bisa juga berupa job maupun fasilitas untuk belajar lagi. 

Image by Freepik

Bagaimana kita bisa jadi support sistem yang baik? 

Lebih dari satu dekade kemudian, giliran saya yang jadi support system teman-teman yang baru mulai ngeblog. Kalau dulu saya yang banyak dibantu sekarang saya ingin membantu teman-teman yang mau mencoba blogging. 

Kan caranya tinggal Googling? Zaman sekarang memang lebih enak sih semuanya bisa dicari di mesin penelusur. Tinggal buka website, cari di Google bagaimana cara blogging. Tapi buat blogger pemula atau yang benar-benar tidak tahu mau mulai dari mana, adanya teman yang bisa membantu step by step dari awal bisa mendorong mereka untuk beneran punya blog. Tugas saya sebagai support system, biasanya hanya menjawab pertanyaan. 

Mending nulis di blogspot atau di Wordpress? 
Eh ini tuh kayak diary ya? Ada gemboknya? 
Biasanya lu nulis blog berapa panjang sih? 
Fotonya diedit dulu nggak? 
Kalau gue ngeblok dari handphone, bisa nggak? 
Dan sejuta pertanyaan lainnya. 

Terdengar remeh memang, dan benar semuanya ada di Google. Tapi sama seperti dulu saya mendapatkan jawaban dari kelas-kelas yang saya ikuti, ada yang mengarahkan ini membuat kita lebih semangat blogging. Untuk menjadi seorang blogger kita butuh support system. 

Apa yang bisa kita berikan sebagai seorang support system? 

Karena saya tidak punya cukup uang untuk membelikan gadget, atau menjadi inspirasi tulisan si teman, ya saya berperan sebagai 'komunitas' untuk mereka yang baru mulai menulis. Dengan cara berbagi apa yang saya punya. 

  • Berbagi pengetahuan tentang blogging. Pakai platform apa? Menulisnya bagaimana? Apa yang harus ditulis? Bagaimana cara pasang foto? Dan lain sebagainya. 
  • Teman brainstorming. Kadang kalau mentok, ngobrol dengan sesama blogger bisa membuat kita punya ide cemerlang. Buat blogger pemula, yang nulisnya masih setengah-setengah, punya teman yang meng-accourage dia untuk menulis bisa membuatnya lebih konsisten. 
  • Fans nomor 1. Biasanya yang memulai blogging tidak pede sama tulisannya sendiri. Kita sebagai teman yang baik bisa menyediakan waktu untuk mampir ke blognya membaca dan memberikan feedback atas tulisannya. 
  • Pengingat bahwa blog harus diupdate. Yah meskipun ini kembali lagi ke manusianya masing-masing, Apakah mau konsisten blogging atau hanya sekedar mengikuti tren saja. Yang penting tugas saya adalah sesekali mengingatkan "eh blognya udah di-update lagi belum?" 

Baik sebagai ibu, maupun sebagai blogger, support system ini penting. Apalagi sebagai ibu-ibu ngeblog. Harusnya support system kita bisa dikali dua ya. Hahaha



20 October 2023

Nyaman Berteman Tanpa Beban Dalam Rangkaian Tulisan

Punya banyak teman? Kalau bilang tidak punya, rasanya saya bohong. Kalau bilang punya, saya ini sebenarnya introvert jadi saya merasa kalau temannya tidak banyak. Alasan klasik, social battery saya gampang habis. Tapi biasanya tidak ada yang percaya.

Beda ceritanya dengan komunitas blog. Apa yang membuat saya nyaman punya teman di komunitas blog? Atau setidaknya begitu. 

Pertama ya jelas karena kita punya kesenangan yang sama alias ngeblog. Biasanya di komunitas ada challenge atau tantangan tertentu yang diikuti bersama-sama. Diskusi tema, curhat writer's block, maupun saling menyemangati agar bisa menyelesaikan challenge, biasanya membuat teman-teman di komunitas blog menjadi akrab. Itu baru secara online di grup chat atau virtual di media sosial. Dulu zaman masih banyak event offline teman ngeblog saya lebih banyak lagi. Sejak masih jadi wartawan, sampai akhirnya pensiun dan jadi blogger full-time. 

Dari semua teman yang ada, adakah yang akrab? Jujur untuk sekarang ini sepertinya tidak ada yang benar-benar akrab sampai jalan bareng atau curhat japri via whatsapp. Meskipun Kalau bertemu offline rasanya seperti bertemu teman lama. Eh, tapi kita memang temanan sudah lama ya hahaha. Dari jaman Dudu masih TK, sampai sekarang sudah mau kuliah.

Kedua, pertemanan ini tidak membebani. Seperti ketika acara ulang tahun Kumpulan Emak2 Blogger (KEB) di awal tahun 2023 ini. Acara tersebut adalah acara offline blogger pertama yang saya datangi lagi setelah sekian lama terjebak pandemi. Tidak janjian dengan siapa-siapa karena memang sudah jarang berhubungan lagi dengan teman-teman blogger lama. Nekat datang sendiri, berpikir "Wah nggak ada temennya nih". Ternyata begitu hadir, malah seperti reuni SMA. Terlalu banyak yang dikenal dan harus diajak bicara, sampai beberapa tidak sempat disapa. Ah, jadi kangen. 

Saya nyaman berteman dengan sesama blogger. Balik lagi, karena saya introvert. Pertemanan lewat bertukar tulisan, mampir pun lewat blog walking. Jadi social battery saya tidak habis. 

Bukan cuma yang akrab, dalam satu komunitas pun ada yang datang dan pergi. Beberapa blogger jadi tidak seaktif dulu karena kesibukannya. Saya pun sempat begitu. Meskipun masih menulis, tapi tidak segila dulu dalam mengejar job atau mendaftar event. Seiring dengan berkembangnya zaman, yang baru mulai ngeblog juga semakin banyak. Jadi kalau bergabung ke komunitas ngeblog, saya bisa dapat banyak teman baru. Yang masih semangat atau yang baru belajar. Namun mereka-mereka yang baru ini justru membuat saya semangat untuk ngeblog lagi. 

Makanya jadi ikutan challenge KEB ini hahaha.

04 February 2023

Berjejak dan Berbagi di Ulang Tahun KEB ke-11

Menjejakkan kaki di acara offline pertama bareng teman-teman komunitas Kumpulan Emak Blogger, setelah sekian tahun nyaman bersembunyi di balik layar laptop ternyata bikin panik juga. Banyak amat orangnya hahaha. Tapi ya memang ini kan acara Syukuran KEB 11 Tahun.



Acara Syukuran KEB 11 Tahun: Berjejak dan Berbagi berlangsung di Bali Notes Terrace, Jl. Prof. Joko Sutono SH No.15, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada hari Sabtu siang, tanggal 28 Januari 2023 yang lalu. Overthinking sudah dimulai dari sejak menembus hujan dan macet Jakarta. Gimana kalau saya lupa ini emak siapa, itu emak yang mana? Ntar awkward nggak yah, sudah lama tidak bertemu. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti karena meskipun lama tidak jumpa, kita semua masih ngobrol seru kayak ketemu teman lama.

“Dudu apa kabar?”

Banyak yang menanyakan Dudu hahahaha. Lebih dicariin daripada mama-nya nih. Maklum, Kumpulan Emak Blogger ini bukan sekedar komunitas Blogger buat saya, tapi juga tempat saya sharing soal Dudu di blog saya. Kumpulan Emak Blogger bukan hanya mengajarkan saya cara ngeblog, tapi juga bagaimana cara berkomunitas. Terbukti meski sudah berjalan 11 tahun, dan saya termasuk yang tidak aktif sejak Dudu “sulit diajak kerja sama” jadi bahan tulisan, semuanya tetap ramah dan menyambut dengan tangan terbuka. Tau gitu Dudu diajak ya, Mak. Hahahaha.

Ada apa sih emangnya di acara Syukuran KEB 11 Tahun?

Temanya “Berjejak dan Berbagi.” Acaranya sendiri diisi oleh mini workshop dengan narasumber Ali Muakhir (Penulis) dan Oktora Irahadi (CEO INFINA) yang membawakan materi praktis buat emak-emak.


Oktora Irahadi membawakan tema “Cara Cuan Masa Kini” yang memberikan bocoran tentang bagaimana mendapatkan penghasilan tambahan buat para emak, tentunya dengan bermodalkan apa yang dipunya saat ini. Bisa nulis, ya jadi freelance writer. Mau jualan tapi bingung modal, ya coba jadi dropshipper. Ada banyak cara cuan di luar sana. "Kita bisa memanfaatkan jarak, ruang dan waktu untuk mendapatkan cuan," jelas Oktora.

Tapi tidak asal 'jualan' juga sih. "Waktu saya mencari orang yang cocok untuk sebuah Brand, saya melihat 3R," kata Oktora memberikan bocoran. Apa tuh 3R? Reach, Resonance dan Relevant. Siapakah target yang bisa dijangkau oleh orang tersebut? Cocok tidak personality-nya dengan pesan yang harus dibawakan? Apakah orang tersebut relevan di dunianya?

Kata Oktora, "kalau kita bisa menulis dengan cara berbeda, tulisan kita akan lebih terlihat." Lalu penulis, content creator dan influencer Ali Muakhir memberikan tips dan trik menulis kisah inspiratif dengan metode Emak..

Kisah inspiratif inilah yang akan membuat kita unik. Tapi Metode Emak ini apa? Dan apa yang membuatnya jadi berbeda? Menurut Ali Muakhir, ada 4 hal yang sebaiknya dilakukan terus menerus agar bisa menjadi penulis kisah inspiratif. Endapkan rasa, mulai dengan struktur, cari 1 pesan yang bisa dijadikan penutup kisah dan buat jadwal tulisan agar kisah kita tuntas.

Bukan hanya workshop, seru-seruannya juga banyak!

Selain mini-workshop, Syukuran KEB 11 Tahun juga menjadi ajang peluncuran e-book yang ditulis oleh para makmin Kumpulan Emak Blogger berjudul “Warna-warni Dunia Blogging dan Cerita di Balik Dapur Komunitas,” dan penyerahan secara simbolis #KEBPeduli melalui kampanye #KEBCharity11KRun dalam rangka KEB 11 Tahun sebesar Rp. 2.500.000 kepada RA Miftahul Jannah, Noborejo, Salatiga. Sesuai dengan semangat KEB Berjejak dan Berbagi, rangkaian kegiatan Ulang Tahun Kumpulan Emak Blogger ini berlangsung meriah.



Hari Sabtu sore itu, Bali Notes Terrace juga jadi panggung fashion show Komunitas Perempuan Pelestari Budaya Nusantara (PPBN) yang membawakan parade kebaya nasional. Siapa bilang pakai kain itu ribet? Bahkan sebenarnya dress code acaranya juga kain dan kebaya. Dukungan KEB terhadap Gerakan Nasional Literasi Digital - Siberkreasi juga mengingatkan emak-emak untuk check dan recheck sebelum membagikan informasi. Apalagi menurut CEO INFINA Oktora Irahadi di sesi workshopnya, sumber informasi tercepat ini sebenarnya adalah emak-emak. Jangan sampai kita ikut menyebarkan hoax ya.


Pas pulang, rasanya belum puas haha. Belum rela bubar karena merasa belum selesai ngobrol, belum menyapa beberapa orang di acara. Boleh dong, KEB bikin acara rasa reuni nostalgia lagi. Lumayan mengobati rasa kangen berkomunitas, bertemu teman lama dan jadi makin semangat blogging lagi karena diingatkan bahwa blogging itu adalah salah satu cara "Berjejak dan Berbagi." 

Syukuran KEB 11 Tahun didukung oleh Siberkreasi, Kominfo RI, INFINA dan Bali Notes.

14 December 2022

Setiap Blog Post Ada Perjuangannya

“Gue mau jadi blogger dong kayak lo.”

Bukan sekali dua kali saya mendapat komentar seperti ini, karena teman yang melihat blog saya berdua Dudu. Namun memang konsistensi itu sulit. Lalu, setelah mengatasi rasa malas dan niat meluangkan waktu menulis, masih ada hal-hal lain yang harus dikerjakan sampai sebuah blog post yang baik itu ter-publish.


Blog buat saya adalah ‘reportase’, meskipun terkadang tulisannya opini atau pengalaman sendiri. Tapi yang ideal tetap saja perlu research atau setidaknya hadir event/ melakukan kegiatannya sendiri. Dan ketika dilakukan berdua anak, ternyata prosesnya tidak seindah hasil tulisannya haha.


Kok gitu?
Soalnya Blog ini melibatkan si anak yang berarti kalau bikin postingan ya menunggu mood si anak bagus, atau momen yang tepat. Tidak bisa posting setiap saat, setiap waktu juga.

Lalu, apa dong reportase yang berkesan?
Saya dan Dudu pernah ikutan acara launching susu UHT. Sebenarnya tidak ada kewajiban apa-apa dari acara tersebut, tapi saya merasa bahwa ceritanya seru dan bisa jadi cerita lebih panjang. Jadilah selesai acara tersebut, saya dan Dudu hunting kemasan susu UHT demi sebuah postingan yang lebih memuaskan target pribadi.

Perjuangannya lumayan. Saya meluangkan waktu seharian di akhir pekan untuk berburu bahan tulisan dan mengabadikan gambarnya. Tapi worth it banget, kan demi #DateWithDudu juga.

Yang tidak kalah berkesannya adalah ketika saya menulis tentang pengalaman journaling beberapa waktu lalu. Penuh perjuangan karena sebelum membuat postingan itu saya harus beneran journaling, bikin gratitude journal dan daily habit journal selama setidaknya sebulan penuh. Setelah itu, barulah saya tulis reportasenya. 

Bagaimana kabar teman-teman saya?
“Duh, gue mau update tapi malas menulis.”
“Ngedit foto ternyata lama ya.”
“Gimana sih caranya biar bisa rapih gitu tulisannya? Harus dari laptop ya?”
Nah kan. Hahahaha.

Ini bukan berarti saya tidak pernah malas. Buktinya blog ini juga bolak-balik vakum. Dengan makin besar-nya si Dudu plus pandemi yang di rumah aja itu, bingung mau menulis apa. Ada ide, malas mengejar fotonya, malas ngedit layoutnya. In the end, ya jangan biarkan rasa malas itu menghalangi postingan blog di depan mata sih.

Kalau tulisan tentang liburan sama Dudu gimana?

“Kebanyakan foto, lo enjoy jalan-jalannya nggak sih?”
Pertanyaan penasaran dari seorang teman yang bikin saya berpikir juga. Kalo liputan event kan kerja ya, wajar kalau foto sana sini, mencatat semuanya dan mengamati sekitar. Gimana kalau liburan, kan kita maunya enjoy tanpa beban. Eh, ini malah ada PR untuk bikin tulisan perjalanan.



Menulis perjalanan dan tidak melupakan detailnya adalah sebuah perjuangan juga. Untungnya sekarang internet bisa banyak membantu. Informasi tinggal di Google search aja lalu muncul semua jawabannya. Biasanya saya memfoto informasi, mengambil brosur atau menandai sebuah tempat di Google Maps. Lalu yang saya catat adalah rasa, kesan dan hal-hal yang terpikirkan saat berada di tempat tersebut. Mungkin celoteh si Dudu, mungkin ada milestones dia waktu kecil yang terjadi ketika jalan-jalan. Soalnya yang itu kan tidak ada di internet. Justru sayalah yang mau menuliskannya di internet.

Setiap tulisan adalah perjuangan.
Tapi yang bikin blogging jadi seru dan berkesan ya cerita keribetannya itu kan.

24 November 2022

Menjawab Penasaran Tentang Blogger Itu Apa Sih?

Title “blogger” biasanya saya gunakan ketika saya tidak ingin atau tidak bisa menyebutkan pekerjaan utama yang sedang dilakukan sekarang. Soalnya Blogger ini adalah satu “pekerjaan tetap” yang sudah saya lakukan sejak sebelum Dudu lahir. Bahkan beberapa kali, pekerjaan ini lah yang Dudu sebutkan ketika ditanya Mama-nya kerja apa.

Terus reaksinya gimana?


Yuk kita mulai bloggingnya

Generasi Opa-Oma

Kalau cerita ke generasi orde lama dan orde baru, misalnya orang tua dan om tante saya, ya kata “blogger” ini masih sangat asing. Jadi, kalau ditanya sama temannya Mama atau sama orang tua teman saya, awalnya saya bilang “jurnalis tapi punya website sendiri.” Lalu ketika saya tunjukin blog saya, mereka biasanya komentar “oh, penulis ya.”

Jadi Blogger adalah Penulis.

Yang jadi masalah adalah ketika mereka bertanya lebih lanjut, “terus kamu dapat uangnya dari mana?” Soalnya para oma-opa ini kurang paham soal endorsement, paid promote dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya bilang kalau ada brand yang kerjasama, kita dapat uang untuk menuliskan tentang produk mereka. Ya, kurang lebih sama seperti iklan.

Generasi Saya

Yang ini lebih mudah karena tidak perlu menjelaskan arti blogger dan diskusinya bisa lebih seru. Reaksi pertama biasanya bertanya, apa isi blognya. Lalu berujung minta alamat blog-nya karena penasaran dengan tulisannya, atau penasaran dengan Dudu. Lumayan dong, jadi nambah traffic. Yang lebih penasaran akan bertanya awal mula bikin blog, susah atau nggak, lalu berujung konsultasi tentang blogging.

Perjalanan setiap orang untuk jadi blogger itu berbeda. Ada yang menggunakannya untuk buku harian, seperti saya pada awalnya, dan ada yang memang ingin mendapatkan penghasilan. Tapi, satu yang pasti, blogging membutuhkan komitmen. Saya baru benar-benar menggunakan title “Blogger” ini setelah blog saya berjalan beberapa tahun. Dan tidak ada yang instan, kalau mau bangun audience dan dapat penghasilan. Ini yang perlu diingat ketika hendak memulai sebuah blog.

Kalau jadi blogger bisa kumpul-kumpul dan ketemu banyak teman baru

Generasi Dudu

Karena Dudu sudah tahu saya ini penulis, dan sebagai generasi yang lahir tahun 2000an, tentunya sudah familiar dengan kata “blog,” maka tidak sulit menjelaskan ke orang-orang seumurannya tentang blogging. Berbanding terbalik dengan generasi opa-oma yang merasa bahwa blogging ini super advanced technology, buat para anak ABG ini, blogging itu ketinggalan jaman.

Sekarang jamannya short video, yang tentunya lebih cocok untuk attention span mereka yang singkat.

Jadi, bagaimana menjelaskan kepada mereka yang awam tentang profesi blogger? 

Selain menunjukan wujud nyata si blog kepada mereka yang bertanya, saya biasanya cenderung menjelaskan apa yang saya lakukan dan biarkan mereka membuat definisinya sendiri. Blogger bisa jadi penulis untuk para opa-oma, atau citizen journalist buat teman-teman saya, ataupun journal online buat anak-anak remaja masa kini.

Kenapa blogging? Kenapa bukan vlog atau podcast?


Jawabannya ya karena saya adalah seorang penulis, jadi menuangkan sesuatu pasti dalam bentuk tulisan. Lebih bisa merangkai kata daripada mengucapkannya.

Menulis blog juga bisa jadi terapi murah dan mudah yang bisa dilakukan kapan saja oleh siapa saja. Soalnya blog ini mirip sama jurnal, bisa jadi tempat mencurahkan isi hati dan mengenal diri sendiri. Ada banyak journal prompts di luar sana yang bisa digunakan sebagai ide menulis, yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan mental health kita misalnya self-healing journal, forgiveness journal atau gratitude journal. Yang tematik seperti ini juga bisa dikelompokkan menjadi satu blog bertema.

Bagaimana dengan blog yang menghasilkan uang? Kalau isinya curhat ya tidak bisa dimonetisasi dong. Well, karena tujuan saya blogging ini curhat, alias berbagi cerita saya dan Dudu, saya tidak begitu ambil pusing dengan pendapatan sebagai blogger. Tapi bukan berarti saya tidak menjaga image blog agar konsisten dan selalu ter-update. Niche blog-nya jelas: parenting. Lalu idealnya sih, bisa update sekali sebulan.

Ada yang tertarik mencoba jadi blogger juga?

08 February 2022

Ketika Suka Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menjadikannya Kebiasaan

Saya suka menulis!

Tapi blog kok berdebu? Buka laptop kok langsung blank dan malah nonton Youtube? Buka hape malah cek Instagram? Hm… Ada yang pernah ngalamin?

Kehabisan ide, writer’s block atau hilang mood biasanya jadi alasan klasik saya tidak kunjung menulis. Belum lagi kalo nge-blog pakai malas ngedit fotonya haha. Di dua kelas persiapan Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) yang saya ikuti minggu lalu, ada banyak tips dan trick yang bisa saya lakukan supaya bisa terus lancar menulis setiap hari. Penasaran?



Dari sesi Ibu Septi Peni Wulandari, Founder Ibu Professional yang berjudul “Pentingnya Mengenal Diri Sendiri dan Peran Keluarga dalam Berkarya,” saya menemukan beberapa tips.

Yang pertama, kita harus tau apa yang kita sukai. Saya suka menulis. Iya, menulis apa? Pendek, panjang, serius, fiksi, non-fiksi, blog? How to identify them? “Kuncinya adalah kebahagiaan,” begitu saran Ibu Septi. “Tulisan sebagus apapun, kalau tidak ada hatinya, tidak sampai ke pembacanya.” Ini bener banget, soalnya kalau tidak suka dengan apa yang kita tuliskan, bagaimana bisa ide muncul dan menulis bisa lancar?

26 January 2022

Hore, Menang!

How do you measure winning? Apa itu menang?

Kalo kata KBBI ada beberapa arti. Yang pertama adalah mengalahkan musuh. Yang kedua adalah mendapatkan sesuatu, bisa hadiah dari sayembara ataupun reward setelah mengalahkan lawan. Yang ketiga adalah melebihi dari sesuatu, dan yang keempat adalah dinyatakan benar dalam sebuah perkara.

Lalu gimana bisa ada kemenangan kecil dan kemenangan besar? Gimana ngukurnya?

Di postingan sebelumnya, saya menulis kalau ikutan challenge membuat saya berhasil menulis fiksi dan mempublikasikannya di Wattpad. Padahal saya bukan penulis fiksi dan belum pernah menulis fiksi secara serius. Ini adalah sebuah kemenangan buat saya. Lalu entah gimana, “buku” yang isinya 3 bab itu dapat ranking #7 di kategori kecil. Tapi itu juga sebuah kemenangan buat saya. Lalu tadi pagi ada pesan masuk, yang bilang bahwa satu cerita fiksi yang saya tulis di situ terpilih jadi pemenang kontes yang diadakan oleh salah satu Wattpad ambassador. Ini beneran menang.

Menang perdana pakai tulisan nama pena

Besarnya sebuah kemenangan, ya kita sendiri yang tentukan karena faktornya juga banyak. Ada hadiah, ada lawan dan ada konteksnya. Semua kemenangan yang didapat dari menulis fiksi di atas adalah kemenangan besar. Bukan karena hadiahnya atau siapa yang dikalahkan, tetapi konteksnya. Menulis fiksi, bahkan cerpen, adalah sesuatu yang tidak pernah saya lakukan dan cenderung maju mundur mengerjakannya. Jadi, ketika berhasil meraih semacam apresiasi yang tidak diduga seperti kontes ini ya kemenangannya jadi terasa besar.

Proses menulis fiksi ini jadi sebuah prestasi tersendiri, karena saya berhasil mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran tentang menulis cerita fiksi, bahkan akhirnya mendapatkan reward.

Sama dengan menulis in general. Berhasil menulis (hampir) setiap hari juga sebuah prestasi, karena yang dikalahkan adalah rasa malas diri sendiri.

So, semuanya balik lagi ke diri sendiri, what’s important for you? Apa yang saya anggap penting. Kemenangan yang saya anggap besar ini, sampai saya cerita ke semua orang, mungkin tidak ada apa-apanya jika dibandingkan teman-teman saya yang sudah berhasil menulis novel, bahkan bisa mendapatkan penghasilan tetap dari sana. Begitu juga dengan teman saya yang lain, yang cerita kalau berhasil untung banyak dari main saham dan habis itu kaget sendiri karena kemenangan dia ternyata tidak ada artinya buat saya yang belum paham investasi. Haha.

Winning is rather personal. Jadi saya juga berusaha tidak membandingkan “prestasi” saya sebagai ibu dengan emak-emak dan mama-mama lainnya. Saya berhasil membesarkan Dudu sendirian selama 15 tahun, berarti saya sudah menang. Dari apa? Tidak tahu juga sih, mungkin dari kekhawatiran diri sendiri atau dari stigma masyarakat. Tapi yang jelas bisa bilang, hore, saya menang!

23 January 2022

Konsistensi Menulis untuk Diri Sendiri

Di awal January kemarin, saya memutuskan untuk ikut sebuah writing challenge dari Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) untuk menulis setiap hari selama setahun. Nekat memang. Soalnya saya sering ikutan challenge yang sebulan, bahkan seminggu dan gagal. Ini adalah postingan ke-20 dari challenge tersebut, sebuah achievement yang mau saya rayakan. Meskipun bukan daily post karena ada beberapa hari yang bolong-bolong, tapi tetap saja konsistensi menulisnya ada.

Apa yang berubah? Apa yang saya lakukan berbeda dari challenge-challenge sebelumnya?


Pertama, kebebasan memilih platform. Di semua challenge sebelumnya yang saya ikuti, saya selalu fokus ke blog. Selain karena tujuan ikutan challenge adalah mengisi dan menghidupkan kembali blog yang sering hiatus dan berdebu ini, saya juga hanya konsisten menulis di blog sendiri. Akun UGC ada, akun semacam storial dan wattpad juga ada. Tapi apa yang saya tulis di UGC macam Kompasiana biasanya saya tulis juga di blog, akun UGC saya jadi ikut berdebu. Lalu fiksi bukan kekuatan saya, dan membutuhkan waktu lama untuk menulisnya. Jadi akun-akun storial dan wattpad ya debuan juga.

Di challenge ini saya mencoba tidak membatasi platform yang digunakan. Tidak melulu harus blog, yang penting menulis. Ternyata ini membantu saya konsisten menuangkan tulisan karena fokusnya berpindah dari media yang saya gunakan ke something as simple as “menulis.” Blogging butuh gambar, dan biasanya mengedit gambar atau menemukan ilustrasi yang cocok sering jadi kendala tersendiri.

19 September 2021

Anti-Panik Saat Bertemu Deadline

Mama: Du, bagaimana kamu mengatur deadline?
Dudu: Deadline? What do you mean by deadline?
Mama: Kalau ada yang harus dilakukan dan di submit, bagaimana kamu tahu mana yang dikerjakan duluan? Yang penting atau tidak penting
Dudu: Saya kerjakan yang mudah lebih dulu, meskipun not important. Biar cepat selesai.
Mama: Lah, kalau begitu nanti yang sulit tidak keburu terselesaikan?
Dudu: Tapi yang selesai jadi bisa lebih banyak.

Hm… cara saya dan Dudu mengatur deadline alias tenggat waktu memang berbeda. Tapi sebenarnya ada tidak sih cara yang salah dan benar untuk managing deadlines?

1. Bikin to-do list
Saya jarang membuat to-do list secara tertulis. Karena biasanya kalau banyak yang harus dilakukan, yang ada malah waktunya habis untuk bikin to-do list. To-do list bisa menjadi distraction sendiri. Jadi, to-do list hanya saya buat ketika yang harus dilakukan benar-benar banyak sampai saya takut lupa, atau ketika hal-hal tersebut banyak detailnya hingga takut terlewatkan.


Kapan waktu yang tepat untuk membuat to-do list? Kalau saya pagi-pagi sebelum memulai hari. Sisihkan 10-15 menit untuk menuliskan apa yang harus dilakukan 1-2 hari ke depan. Menulis to-do list sebaiknya tidak disambi mengerjakan hal lain, apalagi sambil mengerjakan hal yang ada di to-do list itu sendiri. Begitu juga sebaliknya. Sebisa mungkin jangan menulis to-do list di tengah-tengah bekerja, karena biasanya malah jadi nambah to-do listnya. Haha.

10 October 2018

Blogging dan Impian Masa Depan

“Kenapa nge-blog?”Pertanyaan standar yang malah bikin bingung setelah sekian lama malang melintang di dunia blogging. 

Alasan kenapa saya ngeblog sama dengan alasan kenapa saya makan. Saya makan karena saya lapar, dan kalau tidak makan nanti maagnya kambuh. Saya ngeblog karena saya ingin menulis, dan kalau tidak nulis nanti saya stress. Semacam maag gitu. Jadi tidak konsentrasi mengerjakan hal lain, just because I felt the urge to write the thoughts I have in mind. Sama saja kan? Kalau lapar juga tidak punya energi untuk mengerjakan hal lain.


Menulis sudah jadi bagian dari hidup saya sejak SD. Meneruskan kuliah di jurusan jurnalistik, kemudian bekerja jadi wartawan, membuat menulis berubah dari hobi jadi beban studi dan pekerjaan. Di sinilah blog berperan. Ketika menulis jadi terbatas oleh banyak syarat & ketentuan, ngeblog menyelamatkan passion saya yang satu itu. Saya jadi bisa menuliskan hal-hal di luar yang disuruh editor atau yang dimandatkan masyarakat. Bahkan ketika saya sudah tidak lagi jadi kuli tinta, blog tetap setia menemani saya menuangkan ide dan curhatan hati.

I blog because I love to write. And I have to write those stuffs down. 

16 August 2018

Tentang Menulis Sebuah Perjalanan

“It doesn’t matter if your writing is good, if your journey isn’t good, it’ll be hard to come out with a good travel writing.”

Begitu kata Agustinus Wibowo, seorang travel writer sekaligus penulis buku Ground Zero: When the Journey Takes You Home, di Travel Writing Workshop bersama The Jakarta Post Writing Center yang saya ikuti weekend kemarin. Setelah lama absen dari event dan kelas menulis, saya mulai sign up lagi. Kangen belajar, kangen ketemuan teman-teman baru.


Courtesy of The Jakarta Post Writing Center
Apa itu “Good Journey”? Harap diperhatikan bahwa good journey bukan berarti perjalanan mahal super mewah maupun perjalanan murah meriah ala backpacker. Yang memutuskan apakah sebuah perjalanan adalah good journey adalah kita sendiri. Dalam hal ini, saya dan Dudu. Ada 4 hal yang saya catat, yang bisa membuat perjalanan jadi sebuah good journey.

17 June 2018

4 Website Seru Yang Bikin Semangat Menulis

Jenuh menulis? 100 kata saja tidak sampai-sampai? Well, saya sempat dan masih mengalami hal itu. Padahal ide dan tema ada banyak bertebaran, tapi menulisnya kok berat. Sudah pindah cafĂ© dan ganti suasana juga tidak membantu. Lalu gimana? I forced myself to write. Saya mengharuskan diri sendiri menulis sesuatu setiap harinya. 


Ada beberapa fun “free writing” tools yang bisa membantu kita membiasakan diri menulis setiap hari. Kalaupun tidak jadi satu blogpost, tulisan-tulisan random tersebut bisa kita simpan untuk “dilanjutkan” di kemudian hari ketika ada mood dan waktu posting yang tepat.

750words.com

Website buatan suami istri, Buster & Kellianne, ini menantang kita menulis setidaknya 750 kata setiap harinya (24 jam menggunakan timezone Amerika jadi dimulai jam 12 siang WIB). Tampilan websitenya minimalis. Halaman Homenya hanya berupa penjelasan tentang 750words.com dan siapa saja yang sedang menulis, lalu siapa saja yang sedang ikutan tantangan menulis setiap hari selama sebulan dan lain sebagainya. Kalau kita sudah sign up dan login, kita akan berhadapan dengan halaman kosong hanya berisikan tanggal jumlah huruf yang berubah sesuai dengan ketikan kita.