Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

21 January 2026

Catatan Kecil dari Tempat-Tempat yang Menginspirasi

Hari impian saya adalah memulai pagi dengan kopi, lalu jalan ke tempat-tempat di mana saya bisa menikmati kesendirian. Ini saya lakukan saat perjalanan awal tahun kemarin di Singapura.


National Gallery Singapore

Bagi pencinta seni dan sejarah, tempat yang merupakan bekas dua bangunan bersejarah, Supreme Court dan City Hall, ini wajib dikunjungi. Saya biasanya menyempatkan berkunjung ke sini kalau sedang mampir ke negara tetangga. Buat apa? Buat bengong haha. Sebenarnya, National Gallery Singapore adalah rumah untuk koleksi seni Asia Tenggara dan dunia. Namun, atmosfer tenang dan inspiratif di tengah hiruk-pikuk kota Singapura yang sibuk membuat tempat ini ideal untuk menyendiri. Kalau hendak melihat koleksi dan pameran, tujuan wisata ini berbayar. Ada beberapa area dan koridor yang bisa diakses tanpa harus membayar tiket masuk. Tempat-tempat inilah yang biasanya ideal untuk duduk-duduk, berhenti mengambil jeda dan mencari inspirasi.



Lalu kalau di Indonesia, di mana bisa mendapatkan vibes yang sama?

Museum Nasional

Sejujurnya, Museum Gajah punya vibes yang mirip. Gedung yang juga bersejarah, kursi-kursi di depan pameran, dan atmosfer tenang yang sama. Bedanya, kalau National Gallery Singapore fokus di beragam karya seni, Museum Nasional menyimpan ribuan koleksi berharga mulai dari artefak prasejarah, arca kuno, kain tradisional, hingga peninggalan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia.

Bagaimana dengan cafe?

26 August 2023

Reza Permadi Menggandeng Teknologi Sebagai Sahabat Pariwisata Lewat Virtual Tour

Traveling adalah bagian dari kegiatan rutin saya dan Dudu. Sebelum pandemi, biasanya kami jalan-jalan setidaknya 2 kali dalam setahun ketika si Dudu libur sekolah. Lalu pandemi datang, dan jalan-jalan jadi tertunda. 

Di rumah saja bosan. Namun apa yang bisa dilakukan? 

Karena sering bermain media sosial, saya jadi paham dengan yang namanya wisata virtual. Beberapa grup travelling dan grup pekerja nomad yang saya ikuti di Facebook mulai mengadakan acara wisata virtual. Ada yang di Jepang, ada yang di Turki dan negara-negara lainnya. Ketika lockdown sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, wisata virtual mulai menjamur di semua platform. Semua orang kangen jalan-jalan tapi masih belum berani ke luar rumah. 

Konsep virtual tour atau wisata virtual ini menarik karena sebenarnya orang seperti saya, yang senang cek lokasi lewat google maps sebelum beneran sampai di tempatnya, secara tidak sadar sudah melakukannya. Saya senang merencanakan perjalanan, membuat itinerary dan mencari informasi tentang tempat yang saya tuju. Apalagi jaman sekarang sudah ada teknologi canggih yang memungkinkan kita “jalan-jalan” di layar laptop. Tinggal klik lalu bisa lihat 360 view dari satu tempat wisata. Atau bisa cek street view dari satu daerah dan menyusuri jalanannya, seakan-akan kita ada di sana. 


Kalau dipikir-pikir, ini jadi mirip main game RPG. 

Eh, di Indonesia juga bisa dong. Apalagi ada banyak daerah yang memiliki pemandangan indah namun sulit dijangkau secara offline. Dengan banyaknya orang jadi melek teknologi ketika pandemi, wisata virtual ke daerah-daerah ini sekarang bukan hanya wacana. Yang penting ada tour guide-nya. Karena biasanya jalan-jalan tanpa cerita itu jadi tidak ada maknanya. Salah satu penyedia jasa layanan virtual tour ini adalah Atourin.

Cerita Reza Permadi dan Atourin

Atourin adalah milik Reza Permadi, salah seorang penerima SATU Indonesia Awards tingkat Provinsi untuk DKI Jakarta di tahun 2021 kemarin. Gagasannya di bidang teknologi, yaitu Atourin, mengusung Wisata Virtual untuk Pegiat Pariwisata. Atourin yang didirikan pada tahun 2019 ini bertekad untuk memajukan industri pariwisata Indonesia sekaligus dapat berkontribusi meningkatkan perekonomian Indonesia melalui implementasi teknologi, mulai dari memberikan pelatihan untuk virtual tour bagi para pemandu wisata di Indonesia ketika pandemi menyerang.

07 July 2023

Our Best Family Moment Happens On the Road

“Just how many pictures are you taking on the road?”
Komentar Dudu kesekian kalinya ketika saya memfoto jalanan.
“Well, most of them are. I just love being on the road.”



Setelah lebih dari satu dekade, saya dan Dudu kembali lagi road trip berdua. Jalan-jalan pertama setelah pandemi berakhir dan langsung lompat jauh ke benua seberang. Tapi ya, apalah #DateWithDudu tanpa road trip cross country? Meskipun kali ini cross Texas doang, tapi karena luas negara bagian yang satu ini setara dengan beberapa negara bagian sekaligus, ya anggaplah kita sedang cross country. 

Salah satu yang paling bermakna adalah kemarin, ketika kami pindah kota dari Dallas ke Houston. Perjalanan 3,5 jam yang jadi sedikit lebih panjang karena mampir dulu ke Waco untuk tur keliling Baylor University. Ya, soalnya tujuan utama Dudu mudik kan untuk melihat-lihat universitas di Amerika Serikat. Apa yang membuat road trip tersebut jadi memorable moment buat kami berdua?

Dudu jadi Navigator

Ketika terakhir kami berdua road trip di Midwest, Dudu hanya sebagai penumpang yang duduk di carseat kursi belakang. Sekarang anaknya sudah duduk di kursi penumpang dan bertugas membaca peta di handphone. Mungkin next time kita sudah bisa gantian nyetir. 

Dari masalah baca peta ini kita menemukan banyak insight tentang cara kita berkomunikasi. Ketika Dudu mengarahkan kanan dan kiri, yang kadang terbalik itu, saya lebih paham kalau diarahkan dengan nomor exit serta arah mata angin. Jadi daripada “belok kanan”, biasanya saya lebih paham kalau dibilang “I45 South”. Sempat menimbulkan ketegangan kecil diantara kita berdua karena saya bolak-balik hampir salah exit, tapi kita tetap sampai ke kota tujuan dengan selamat.

Detour sedikit demi pemandangan

Jadi, sebenarnya jalan terdekat dari Waco ke Houston adalah melewati Highway 6S dan US 290E. Namun saya mengambil jalanan yang sedikit memutar agar mendapatkan pemandangan lebih unik dibandingkan naik highway yang besar, yaitu melewati TX-164E.sebelum masuk ke Highway I45. Pemandangan sepanjang jalan ini, selain menunjukkan ke Dudu ada apa di luar sana, juga bisa jadi bahan diskusi karena banyak hal aneh yang ditemui di jalan. Misalnya kincir angin raksasa yang terletak tepat di tepi jalan atau truk macam transformers terdampar. Lalu juga kota-kota kecil yang hanya memiliki beberapa ribu penduduk.


Hujan & Pelangi

“Mah, itu ada rainbow.”

Saya yang sedang menyetir jadi heboh sendiri. Mendekati area greater Houston, pelanginya muncul. Lalu disambut dengan hujan deras dan macet. 

“Aku baru pernah melihat 2 pelangi dengan jelas. Ini yang kedua.”

“Memang satu lagi kapan?”

“Di Apartment.”

“Emang ada di Indonesia?”

Dan ternyata memang dia pernah melihat pelangi dari jendela apartemen kita di Indonesia. Hal-hal seperti ini justru baru ketahuan ketika kita road trip barengan.  

“Ayo kita ke ujung pelangi yang di sana itu, nanti ada emas.”

Dudu menatap saya dengan aneh. Lalu kemudian menjawab, “kenapa tidak ujung yang satunya, Mah? Yang di ujung sana kan gelap pasti hujan.”

Dan sejenak kemudian, kita berdua harus melintasi badai yang mendadak muncul semakin dekatnya kita dengan Houston.


Buat saya, road trip ini seru karena kita berdua stuck dalam satu mobil dan jadi bisa ngobrol. Lalu bisa punya shared memories baru, dan ketika anak sudah sebesar Dudu sekarang, bisa diajak berpartner dalam perjalanan. Baik secara navigasi atau diskusi mau makan apa dan berhenti di mana. Banyak pengalaman baru juga yang bisa didapatkan seperti menyetir dalam hujan, mencari bensin murah dan parkir yang lumayan tricky.

Jadi tidak sabar buat jalan lagi.

 

27 September 2022

Do & Don’t Ketika Menginap di Hostel Bersama Anak

Salah satu pengalaman traveling yang paling berkesan buat saya dan Dudu adalah menginap di Hostel. Dari hostel kita banyak belajar, bukan hanya soal menginap di tempat baru tapi juga berbagi ruang dengan orang lain, menjaga keamanan barang dan tentunya lebih mendapat pengalaman bertemu dengan local culture.

Playdate di hostel

Hubungannya apa sama regenerative travel atau wisata berkelanjutan? Well, kalau dari kita berdua sih ada yang namanya tak kenal maka tak sayang. Wisata berkelanjutan ini kan erat hubungannya dengan bisnis dan usaha lokal, jadi ya minimal tinggal di hostel yang dijalankan oleh warga lokal. Selain memberikan pengalaman baru, tinggal di hostel juga menghemat budget. Bisa kok menemukan hotel murah terbaik yang ramah anak.

Di hostel juga kita akan lebih banyak berinteraksi dengan orang lain terutama saat bertemu di kamar mandi, ruang makan maupun ruang santai (biasanya tempat nonton TV). Ini adalah kesempatan untuk mengajarkan anak berinteraksi yang baik, cara ramah namun tetap waspada pada orang asing. Siapa tahu ada yang bawa anak juga, dan mendapatkan teman baru.

Bagaimana memberikan pengalaman menginap di hostel paling seru untuk anak?

  • Do book the whole room. Saya membooking hostel kalau pergi rame-rame. Waktu itu playdate travelling ala backpacker bersama beberapa keluarga lain. Total ada 3 ibu dan 5 anak. Kita book 1 kamar hostel dengan 4 bunk bed. Jangan lupa memastikan bahwa pihak hostel menerima tamu keluarga dengan anak-anak.

  • Do ajarkan tata kramanya. Misal tidak boleh ribut di lorong. Setiap anak dapat 1 loker, jadi mereka bertanggung jawab atas barang masing-masing. Kalau mandi di shared bathroom harus hati-hati dan menjaga barang-barang yang dibawa. Jangan sampai becek dan banjir karena kamar mandi ini digunakan oleh banyak orang.

13 March 2022

Cerita Nostalgia Tentang si Panda

Perkenalkan ini namanya Panda.
Teddy bear kesayangan, orang ke-3
yang menemani perjalanan saya dan Dudu.

“Mama, ini bukan seekor panda.”
“Iya Mama tau, tapi namanya Panda.”


Long story short, boneka yang konon saya miliki sejak usia 2 tahun, ini warnanya belang-belang. Dulu sih kelihatannya hitam putih. Jadi waktu kecil saya kira ini boneka seekor panda. Sejak itu, namanya Panda. Sejak itu pula, saya harus menjelaskan asal muasalnya karena setiap yang melihat pasti bertanya, “ini kan beruang.”

“Ya, tapi kan beruangnya dua warna, jadi mirip Panda.”
“Di bagian matanya nggak hitam.”
“Soalnya Panda yang ini tidak suka begadang.”
Sampai di sini, biasanya yang bertanya sudah menyerah untuk melanjutkan.

22 November 2018

Liburan Musim Dingin di Provinsi Gangwon-Do, Korea Selatan

Jalan-jalan ke mana lagi kita, Ma?
Wah iya, Du. Sudah waktunya planning traveling lagi. Mau ke mana?
Yang pasti tempat yang cold dan ada saljunya, Ma.

Waduh.

So let's start making a list of places we would like to visit in winter time. Di Korea Selatan. Iya, kita belum puas dan ingin balik lagi.


Pemandangan dari atas bus yang membawa kita ke Sokcho awal tahun kemarin.

Exploring (More) Gangwon-do

Waktu kemarin ke provinsi Gangwon-Do, Korea Selatan, fokusnya hanya Gunung Sorak. Padahal di provinsi kampung halaman Heechul ini ada banyak kegiatan musim dingin yang bisa dilakukan selain berkeliling Sokcho. Dengan status yang sekarang sebagai tuan rumah Winter Olympics, tentunya Pyongchang dan sekitarnya jadi lebih mudah diakses dengan fasilitas lebih lengkap daripada sebelumnya. Jadi masih ada beberapa tempat yang jadi to-do list saya dan Dudu di Korea Selatan.



Pemandangan dari atas kereta Chuncheon - Seoul. Jadi pengen turun kan?

08 April 2018

Merencanakan Playdate Jelajah Nusantara dengan Fitur Eksplor Skyscanner

Saya sedang mentok mau liburan ke mana lagi.

Baru juga awal tahun kemarin saya dan geng Mama Playdate pulang dari Korea, tapi kami sudah mau merencanakan liburan berikutnya. Dan tidak seperti playdate sebelumnya, kali ini kami bertiga mentok ide.


Singapore mahal, kata teman saya. Dalam negeri aja gimana?
Tapi dalam negeri mau ke mana? Bromo lagi? 



Beberapa tahun lalu, kami bertiga beserta keluarga masing-masing pernah “terjebak” 16 jam di gerbong kereta Gajayana menuju Malang. Trip playdate perdana keliling Malang, Batu dan niat melihat sunset di Gunung Bromo. Tidak kesampaian karena terlalu berkabut. Dari situ, playdate dalam bentuk liburan jadi semacam tradisi. Kemudian para Mama dan anak-anak Playdate ke Singapura. Main-main ke Universal Studio di Pulau Sentosa, Legoland di Malaysia dan menginap ramai-ramai di satu hostel dengan bunk bed. Awal tahun ini, berkat tiket pesawat Garuda Indonesia dengan harga terjangkau yang kebetulan available pas malam Tahun Baru, kita berangkat Playdate ke Korea.

Sekarang kita blank mau pergi ke mana lagi buat Playdate berikutnya. Tapi tujuannya sudah pasti: dalam negeri alias jelajah nusantara aja.

Udahlah, Bromo lagi aja kan kemaren kena kabut jadi belom liat matahari terbit. Mending kita beli tiket pesawat ke Surabaya trus nyewa mobil ke Malang.


Not a bad idea sih.

Tapi tetap saja saya merasa basi kalau harus mengulang satu destinasi. Terus, mau dibawa ke mana dong liburan kita? Dalam merencanakan #DateWithDudu versi liburan, saya selalu mulai dari tanggal. Setelah tahu ada berapa hari yang bisa digunakan jalan-jalan, maka saya baru memilih destinasi. Selalu begitu sampai saya mengenal fitur eksplor yang ada di Skyscanner. 

06 April 2018

K-Drama with Dudu Episode 2: Menuju Matahari Terbit di Laut Musim Dingin

Sokcho?

Ahjumma penjaga loket bis sampai bengong dan menuliskan S-O-K-C-H-O dengan alfabet. Tidak yakin bahwa tujuan kami memang ke sana. Buat yang penasaran, tulisan Sokcho dalam Hangul itu
 속초.

Ne, Sokcho.

Oh, mungkin karena hari itu 1 Januari dan udaranya minus beberapa derajat. Makanya aneh kalau ada yang mau ke pantai. Maka saya segera menambahkan,

Seorak-san-e kago shipoyo. 

Kita mau ke Gunung Sorak. Barulah si Ahjumma menanyakan jumlah tiket yang akan dibeli, dan mengarahkan kami untuk kembali ke tempat menunggu bis sekitar 30 menit sebelum jam keberangkatan. Setelah mengucapkan terima kasih, kami (rombongan 9 orang dengan 4 anak kecil super excited dengan udara winter Korea ini) segera menyeberang kembali dari platform 9C ke dalam arrival hall di Incheon Airport. 





Soalnya badannya masih kaget dari cuaca Jakarta yang super panas. Dan berharap kali aja berpapasan dengan bias kesayangan di airport, meskipun dari instagram postnya saya tahu mereka semua ada di rumah. 

06 February 2018

K-Drama With Dudu Episode 1: Bukan Winter Sonata

Akhirnya saya dan Dudu ke Korea juga.

Pas winter.
Pas suhu di Korea Selatan sedang dibawah 0 derajat.


Dengan segala drama akhir tahun mulai dari asam lambung yang kambuh H-1 dan membuat saya harus minum 3 macam obat sebelum makan kimchi, sampai packing dan pembuatan itinerary yang tidak selesai-selesai karena pekerjaan saya yang mendadak menumpuk di bulan Desember.


But let me start with how it all began: teman seperjalanan.

Kita berdua pergi ber-9, dengan tim yang sama dengan Playdate ke Singapura 2 tahun lalu. Harusnya ber-10, tapi yang satu gagal dapat visa dan kalau saya ceritain di sini nanti orangnya baper lagi haha. Total 5 dewasa 4 anak dengan persiapan khusus karena kita perginya 1 Januari 2018.

Tidak mudah buat cari teman seperjalanan yang cocok, apalagi kalau kita jalan bawa keluarga masing-masing. Untungnya kita ber-9 survive perjalanan ke Korea ini haha. Ya kita sudah survive Playdate ke Singapura dan 16 Jam stuck di kereta Gajayana jadi kayaknya winter sonata di Korea tidak sesulit itu.

Januari 2017, sebuah tawaran tiket murah datang menghampiri. Ke Korea PP naik Garuda hanya 3,5jt/orang. Mau dilewatkan sayang, mau diambil juga tanggalnya masih jauh banget: 31 Desember 2017 malam. That means kita akan tahun baruan di pesawat. Things might change over the year and we might not depart at all. Tapi yang namanya resiko harus diambil dan akhirnya kita ber-10 nekat beli tiket.

25 July 2017

Bermain (Lebih) Murah di Jakarta

Saya percaya hak anak adalah bermain. Saat ini, hal yang merupakan kebutuhan dasar dan sebenarnya mudah dilakukan ini semakin mendapatkan banyak halangan dari semua sudut pembangunan ibukota. Masa kecil saya yang penuh dengan petualangan bermain sepeda di komplek rumah sudah tidak bisa diwariskan ke Dudu yang kini tinggal di apartment. Harga bermain sekarang ini semakin mahal, meskipun permainannya semakin beragam.

Dengan mahalnya harga tiket masuk indoor playground di sekitar tempat tinggal saya, gadget terlihat sebagai alternative yang lebih praktis dan terjangkau. Namun saya masih mencoba mencari cara agar Dudu juga bisa bermain seperti saya dulu, ketika yang namanya HP belum lahir. Caranya? Ya kita rajin cari promo dong.


Dufan Saat Lebaran
Ketika bulan puasa tiba, beberapa taman bermain seperti Dufan mulai mengeluarkan harga promonya termasuk untuk annual pass yang dapat digunakan sepanjang tahun. Tahun lalu saya mendapatkan annual pass seharga Rp. 270,000/orang. Meskipun akhirnya kita tidak sesering itu ke Dufan karena musim hujan yang tak kunjung reda keburu datang, tapi kita senang memiliki alternatif ke Dufan kalau sudah stuck entah mau ke mana lagi. Masuk ancolnya mahal? Coba masuk pagi-pagi sekitar jam 7, lalu duduk nongkrong buka laptop di Pasar Seni atau jalan pagi berkeliling Ecopark. Selain cari parkir lebih mudah untuk yang bawa kendaraan pribadi, tiket masuk Ancol juga lebih murah.

18 July 2017

Seperti apa Museum Nasional Saat Ini?

“This museum is testing my patience,” ujar seorang anak bule yang diminta menitipkan backpacknya sebelum memasuki ruangan pameran. Itu terjadi setelah kita tidak bisa masuk lewat pintu parkiran, melainkan harus naik lewat jalan keluar mobil karena loket ada di atas dan pintu yang ke parkiran hanya digunakan untuk keluar. Museum yang aneh ini adalah museum tempat saya field trip waktu SMP. Namanya Museum Gajah. Familiar?



Dan sekali itu saya mengajak si anak bule, alias Dudu, ke Museum Nasional karena kita sudah mentok tidak tahu mau pergi ke mana lagi. Ah, kenapa harus dimulai dengan Dudu yang ngedumel? Untungnya seiring perjalanan dari satu lantai ke lantai berikutnya, Dudu sudah ceria lagi. Sudah lupa sama hal—hal yang merepotkan di depan tadi. Dari sini saya belajar satu hal: kalau masuk tempat wisata di Indonesia, jangan keburu jadi ilfil dengan apa yang ada di depan, tapi coba nekat masuk terus ke dalam karena bisa saja kita bertemu banyak benda dan pengalaman berharga.

Karena itu saya dan Dudu bertekad untuk lebih sering bermain ke museum yang ada di Indonesia.

01 May 2017

Traveling Berdua Anak itu Lebih dari Sekedar Jalan-Jalan

Sama seperti kata pepatah bahwa gunung biasanya mengungkap sifat asli seseorang, sebuah perjalanan pun biasanya dapat membuat kita lebih mengenal satu sama lain. Jadi, apa yang lebih baik daripada traveling berdua anak, terutama untuk mama bekerja seperti saya. 

Traveling berdua anak... eh, bertiga sama boneka Panda itu.
Partner traveling saya adalah seorang anak laki-laki yag gila zombie. Kita sering traveling berdua. Kalaupun akhirnya ada ketempelan teman dan saudara, kita selalu punya momen yang kita melipir kabur berdua saja. Soalnya, di tengah rutinitas yang semakin sibuk, traveling berdua bagi saya adalah cara untuk bonding dan membangun kenangan bersama Dudu.

Traveling hanya berdua anak, apa tidak dua kali lebih repot? Well, sebenarnya, buat saya justru lebih mudah karena kita tidak melulu harus kompromi tujuan wisata karena toh si anak akan mengikuti saja. Tidak perlu sungkan kalau nyasar, tidak perlu dilemma kalau mau pergi ke tujuan wisata dan tidak pusing menyusun itinerary. Komprominya lebih ke jadwal makan dan tidur siang haha. Setelah anak besar, mungkin ada negosiasi sedikit di sini dan di sana. Misalnya ketika saya merencanakan trip ke Korea, Dudu yang fans berat zombie ini minta mencoba naik KTX ke Busan. 

Coba tanya Vita Masli bagaimana rasanya ngetrip berdua teman.

Saya dan Dudu lebih sering pergi backpackeran. Naik pesawat budget, nginep di hostel, jajan di pinggir jalan, jalan kaki dan naik transportasi umum ke mana-mana. Jaman di Amerika dulu lebih extreme sih, kita sering roadtrip berdua, tanpa booking hotel, lalu begitu gelap kita belok ke motel terdekat. Jaman masih pakai peta dan belum ada GPS jadi ya tinggal di penginapan seadanya, yang penting chain motel dan tidak terlihat seram. Tambah repot dong? Well, ini triknya:

Pergi Backpacker berdua anak, mulai dari mana?

29 April 2017

Singapura: Perdana Bertamu ke Rumah Saudara

Kalau boleh memilih Negara manapun di dunia untuk jadi tempat tinggal, saya memilih Singapura. Soalnya kalau di Asia Tenggara, Singapura itu ibarat G-Dragon (buat yang ngga paham boleh tanya Google kok haha). Bukan yang paling tua (umurnya), bukan yang paling tinggi (badannya) tapi inovatif, dan meninggalkan kesan mendalam ketika bertemu. Ya semacam kakak pertama yang cool tapi imut-imut gitu.
Taman di Gedung Catatan Sipil Singapura
Singapura ini sudah jadi “saudara” buat saya karena memang banyak kerabat yang pindah ke sana. Adik saya di sana, sepupu saya di sana, dan saya sendiri senang bolak-balik ke sana. Kalau sudah jenuh dengan suasana macet dan panas Jakarta, saya segera browsing tiket untuk berakhir pekan di Negara tetangga itu. Untuk saya dan Dudu, Singapura ini menyenangkan karena kita menemukan hal-hal yang tidak ada (atau masih dalam pembangunan) di Indonesia. Kalau dalam saudara, seperti punya kakak yang lebih pintar dan lebih kaya lalu kita bisa datang bertamu dan numpang ganti suasana di rumahnya.

Saya sering dapat pertanyaan, “kalau pertama ke Singapura, saya sebaiknya ke mana?” Ada banyak faktor yang menentukan tujuan Anda. Sama siapa, sukanya apa, dan berapa lama. Standar kunjungan orang Indonesia ke Singapura biasanya akhir pekan, jadi 3 hari 2 malam. Jadi, coba saya jawab rasa penasarannya ya.

23 March 2017

Travel Writing Secrets by Marischka Prudence

Saya selalu ingin punya blog khusus travel yang suatu hari nanti bisa jadi buku. Tapi maju mundur terus karena blog yang utamanya aja tidak terurus dengan baik. Lalu kemarin, demi menyemangati diri, saya ikut Arisan Ilmu KEB bersama Travel Blogger Marischka Prudence yang di akhir kisahnya curhat hal yang sama. Yang sulit itu memang konsistensi.

Well, saya senang ternyata saya tidak sendirian. Haha.




Lalu saya galau lagi, travel blog yang saya belikan domain berbayar itu maunya pakai bahasa Inggris. Tapi gimana ya? Kan pembaca saya juga kebanyakan orang Indonesia. Entah bagaimana, Prue, begitu biasanya travel blogger yang satu ini dipanggil, juga memberikan jawabannya. “Dengan menjadi spesifik, kita harus tahu apa yang kita lepaskan,” begitu katanya, tapi dengan tambahan yang melegakan hati karena kita juga mendapatkan something in return. “Blogging tentang traveling adalah berbagi kesenangan. Kalau kita berhasil membuat orang lain pergi itu juga berbagi kesenangan.”

Tapi, berbagi kesenangan juga bukan berarti asal cerita. Harus ada manfaatnya bagi orang lain. Karena itulah, Sabtu pagi kemarin saya duduk manis mendengarkan cerita Prue tentang travel writing. Where to start, what to do and how to make the most out of your journey. Who knows, you learn a new knowledge everytime.

01 February 2017

Staycation at Double Tree Jakarta

Melewati gerbang masuk hotel ini seperti melewati pintu kemana saja milik Doraemon, yang dalam sekejap mengubah hiruk pikuk kawasan Cikini menjadi kedamaian ala private resort di Bali. Ini cerita staycation favorit kita. Welcome, to paradise, maksud saya, Welcome to Double Tree by Hilton Hotel Jakarta – Diponegoro.




Flashback beberapa tahun yang lalu, ketika Dudu dapat panggilan photoshoot majalah wedding, di sebuah hotel di Cikini. Serius nih? Ketika membayangkan Cikini, yang ada di kepala saya ya, TIM, Stasiun, Cikini Gold Center, Pasar Bunga dan Megaria. Sederetan coffee shop dan restoran Indonesia berderet di sepanjang jalan satu arah itu. Entah bagaimana, di tengah-tengah itu semua ada satu hotel bintang lima yang bersembunyi. Tidak heran kalau photoshoot cover majalah wedding pun dilakukan di hotel itu. Dan ketika saya mengantar Dudu bekerja itulah, saya jadi punya cita-cita mau staycation di hotel ini.

22 October 2016

Halloween Seru di Universal Studios

Halloween Date kali ini sedikit berbeda. Biasanya kita menghabiskan pesta kostum di mall, ikutan trick or treat dan membawa pulang sekeranjang permen. Namun kemarin kita merayakan Halloween lebih awal dengan berkunjung ke dunia lain di Halloween Horror Nights 6, Universal Studio Singapore. Tanpa kostum, tanpa permen, hanya bermodal nekat. Jadi judul posting in harusnya "Halloween terseram di Singapura".

Posing in front of the gate at the end of our date
Soalnya rumah hantunya seram banget dan memang sudah dianjurkan tidak bawa anak kecil. Dudu juga takut sampai menangis. Sepupu saya (yang kemarin ikut ke Arts Science Museum juga) sama takutnya. Tapi namanya sudah beli tiket (early bird pula), bahkan sudah sampai bertolak ke negara tetangga demi acara ini, ya masa kita tidak masuk? Hahaha. 

Saat matahari tenggelam, Universal Studios Singapore berubah dari theme park untuk keluarga yang penuh keceriaan menjadi sebuah tempat berhantu yang mengerikan. Semuanya total, dari lighting, kostum dan rumah hantu yang dibangun membuat kita merasa memasuki taman bermain yang berbeda. Dan entah bagaimana, saya lebih suka Universal Studios versi horror ini. Karena lebih seru, lebih sepi (walaupun mau masuk rumah hantu harus antri 30 menit) dan lebih hidup. 

16 October 2016

A Glimpse of Future at ArtScience Museum 

Di antrian imigrasi Changi Airport minggu lalu, Dudu tiba-tiba bertanya, “kapan kita akan kembali ke Singapura lagi?” Well, kalau ArtScience Museum sudah ganti exhibition lagi. Yang mungkin tidak terlalu lama karena kita datang di penghujung pameran Big Bang Data.

Museum yang terletak di kawasan Marina Bay Sands itu adalah salah satu tujuan utama kita di Singapura. Rasanya ada yang kurang kalau belum ke sana, apalagi ketika mereka menghadirkan pameran baru. Kekecewaan dan rasa penasaran karena gagal mengunjungi museum ini ketika Playdate Singapore-Legoland bulan Juni kemarin terbayar dengan kunjungan kali ini.

And guess what, kita masih bisa menyaksikan Big Bang Data sebelum pameran yang satu itu kembali melanglang buana. 



Jumlah foto yang diuplad di Flickr selama 24 jam di thn 2011
Datang di Jumat siang lewat MRT Bayfront, saya yang membawa sepasang anak mau ABG ini memutuskan makan siang di Marina Bay Sands. Ternyata begitu masuk ArtScience Museum, tempat membeli tiket di lantai 1 sudah berubah jadi café yang menggoda untuk mampir. Loketnya sendiri pindah ke basement, yang tadinya digunakan untuk penjualan merchandise. Jumat adalah Family Free Friday, di mana anak-anak berusia 12 tahun ke bawah bisa masuk gratis dengan pembelian 1 tiket dewasa. Jadi saya hanya membayar SGD 30 untuk masuk ke semua bagian. Akibatnya, museum jadi penuh dan beli tiketnya antri panjang.

Baca: 24 Hal gratis untuk wisata keluarga di Singapura 


Banyak yang bilang The Future World adalah “must-visit” (dan saya tidak bisa lebih setuju lagi setelah masuk dan mencobanya sendiri) tapi karena bagian yang ini memiliki jam masuk tertentu (10am, 11.30am, 1pm, 2.30pm, 4pm dan 5.30pm), maka saya memutuskan untuk mampir ke pameran yang sudah hampir berakhir itu: Big Bang Data.

15 July 2016

8 Alasan Kita Menginap di The Sunan Hotel Solo

Selalu ada yang pertama. Selama 30 tahun saya bolak-balik ke Jawa, baru kali ini saya menggunakan pesawat terbang dan mendarat di Adi Sumarmo. Baru kali ini juga booking hotelnya lewat apps. Kami menginap di The Sunan Hotel Solo, baru kali menginap dan sepertinya akan kembali lagi. Why? Please read along our reasons below. 



1. Datang pagi bisa registrasi. 
Karena harus menghadiri kebaktian pemberkatan nikah sebelum jam makan siang, saya datang jauh sebelum jam check in. Tapi Mbak Resepsionis The Sunan Hotel dengan ramahnya mencatat nama untuk registrasi terlebih dahulu jadi sepulang kebaktian saya hanya tinggal minta kunci di resepsionis. Memesan hotel lewat apps Traveloka, saya tidak perlu print konfirmasi. Cukup menyebutkan nama pemesan dan resepsionis bisa langsung mencarikan pesanan kita untuk check in.

03 July 2016

Playdate With Dudu: Singapura - Legoland

“Ke Singapura yuk.” Ajakan seorang teman di bulan April lalu, imbas euphoria suksesnya jalan-jalan naik kereta ke Malang Imlek kemarin menjadi awal direncanakannya playdate ini. 

Welcome (back) to Singapore!
Tahun ini seperti biasa, Andrew yang warga negara asing harus ke luar negeri untuk perpanjangan ijin tinggal dan saya butuh refreshing. Yuk pergi. Toh ke Singapura lebih seru kalau ada teman yang seumuran.

Gara-gara sharing foto playdate kemarin, ada beberapa teman yang bertanya tentang itinerary dan biaya perjalanan. Biasanya saya tidak sharing rencana perjalanan karena saya tidak detail menuliskan jam berapa mau ke mana dan bagaimana. Biaya perjalanan juga untung-untungan tergantung ada promo apa dan di mana belinya. Tapi boleh dicoba juga sesekali menulis dengan gaya berbeda.

Singapore itinerary
Rencana ke Singapore

28 June 2016

Legoland Malaysia: Our 8 Awesome Rides

Tadinya kita pikir Legoland itu untuk anak kecil dan Dudu sudah terlalu besar untuk menikmati permainan yang ada. Apalagi dia bukan fans berat Lego. Tapi ternyata setengah hari di taman bermain itu (setengah hari lagi kita ada di Water Park) membuktikan bahwa kita harus kembali lagi. Karena belum puas main. Bukan cuma Dudu tapi Mamanya juga.



Memang permainannya tidak sekeren Universal Studios Singapore, dan kita baru mampir ke sana di hari sebelumnya, tapi Legoland Malaysia menawarkan keseruan berbeda. Bukan sekedar thrill, tapi juga edukatif. Plus antriannya tidak panjang, jadi kita bisa bebas memilih permainan apa dan berapa kali mau bermainnya tanpa harus khawatir kehabisan waktu karena mengantri.


Baca itinerary lengkap Playdate With Dudu Singapore - Legoland di sini ya.

Jadi, inilah 8 wahana favorit pilihan Mama dan Dudu