Showing posts with label Food. Show all posts
Showing posts with label Food. Show all posts

13 January 2022

Maaf, Du, Mama Makan Sushi Tidak Ajak Kamu

“Eh kemaren Mama makan sushi enak deh. Murah lagi.”
“Sama siapa? Kok tidak ajak saya?”
“Sama Tante x, deket Citos. Tau gitu kemarin kita makan di sana ya. Next time deh kita nge-date ke sana.”


Namanya Yasami Sushi, lokasinya ada dekat perempatan Fatmawati - TB Simatupang. Di Gedung Beka setelah SPBU Shell. Satu gedung sama Kloop Coffee di Jl Fatmawati Raya 100-D, tapi ngumpet di belakang ke bagian yang menghadap gang, bukan jalan utama R.S. Fatmawati. Pantesan selama ini lewat kok belum pernah lihat restoran ini.



Yang bikin kaget adalah, sudah pesan sampai nambah-nambah, ternyata total bill-nya tidak sampai 200k. Harga di menu sudah termasuk tax dan Ocha-nya refill.

On the bill:
  • Yasami Special Salad (35k)
  • Chicken Katsu (30k)
  • Unamon Roll (36k)
  • Ebi Salmon Roll (42k)
  • Chicken Katsu (30k)
  • Yuki Roll (32k)
Kalau disuruh menjelaskan, seperti apa sushi di Yasami ini, saya akan bilang Sushi rumahan yang rasanya sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Sederhana dan tidak komersil haha. Wasabi dan Gari (alias jahe)nya disajikan di piring Sushi, bukan mengambil sendiri. Unamon Roll adalah gabungan antara unagi dan salmon. Fusion Sushi berisi crabstick dan kyuri, dengan torched salmon dan torched unagi di atasnya. Ebi Salmon Roll isinya jelas sesuai namanya, yang bikin berbeda adalah orange sauce-nya yang pertama saya kira Spicy Mayo. Ternyata yang ini tidak pedas. Sementara Yuki Roll, yang pas dihidangkan terkesan sedikit pucat, berisi salmon tempura, kyuri dan mayo.


Bukan cuma rasa, tapi suasana restoran ini juga homey banget, bikin betah duduk lama. Ngobrol sama Tante x tahu-tahu sudah 2 jam lebih. Jadi, tempat ini pas banget buat yang mau catch up sama teman lama setelah terpisahkan pandemi. Tempatnya tidak ramai dan parkirannya gampang asalkan tidak kelewatan gang-nya. Kalau bablas pun masih bisa parkir di Gedung Beka depan, di Kloop Coffee, lalu jalan 5 menit ke samping.

Nextnya pengen coba Sushi Platter yang harganya mulai 130k sih, tapi saya dan Dudu beda preference kalo makan Sushi. Dudu suka yang nigiri, yang simple cuma nasi sama tamago. Saya suka yang fusion dan fancy, yang pake salmon, keju, kremesan dan lainnya. Sementara kalo liat menunya Yasami tidak punya negiri standar yang hanya satu ingredient aja.


Browsing ke menu lain yang non-sushi, Yasami Sushi juga ternyata punya Donburi. Ada Gyudon dan ada Chicken Katsu yang harganya juga terjangkau. Oke sip, Dudu aman kalo mau diajak makan di sini.

07 January 2022

When Life Gives You Lime

Tambahin yakult, terus masukin kulkas biar segar.

Gara-gara hujan badai yang akhir-akhir ini sering melanda, pohon jeruk di depan rumah jadi panen alias buahnya pada jatuh semua ke bawah. Terus mau diapain, kan ini jeruk nipis?

Bukan cuma jeruk nipis yang dipanen.

Jeruk nipis banyak manfaatnya karena mengandung vitamin C yang tinggi, mulai dari meningkatkan kekebalan tubuh sampai menjaga keremajaan kulit.

Jeruk nipis plus kecap manis ampuh buat batuk. Waktu masih kecil dulu, obat batuk yang saya minum ya racikan ini. Lalu, kalau pas tidak ada yang batuk bagaimana? Mau diminum langsung, rasa asamnya bikin minuman ini dicuekin Dudu. Padahal vitamin C-nya banyak. Lalu saya coba iseng-iseng buka kulkas dan memeriksa lemari untuk mencari bahan racikan minuman yang pas dengan jeruk nipis, kemudian mendapatkan dua ide berikut.


Lime-Yakult
2 buah jeruk nipis plus 1 botol yakult. Dicampur dalam 1 gelas minuman. Masukkan ke kulkas biar dingin baru dinikmati.


Lime-Honey Tea
4 buah jeruk nipis, 2 sendok makan madu dan sebotol teh pahit. Kalau bisa yang rasa tehnya strong. Saya menggunakan loose tea alias daun teh yang tidak di kantongan. Habis itu masukkin ke kulkas biar dingin.

Sudah bikin dua gelas Lime-Yakult, satu botol Lime-Tea-Honey, tapi jeruknya masih sisa banyak. Dibikin apa lagi ya? Bukan tipe yang bisa masak, tapi di kulkas ada ayam karaage beku yang mungkin bisa jadi masakan semi-homemade.


Lime-Chicken Sweet Sour
Karaage Chicken, 3 buah jeruk nipis dan 2 sachet saus tomat. Bawang putih dicincang halus. Kalau ada bawang bombay sebaiknya dipakai. Jadi, karaage digoreng dulu, tiriskan. Setelah itu masak bumbunya: bawang putih cincang halus, ditumis. Lalu masukkan air jeruk nipis peras, saus tomat dan bawang bombay. Setelah itu tambahkan ayam karaage dan aduk sampai rata.

Meskipun Dudu suka dua minuman yang saya buat, ayamnya sih tidak disentuh haha.

Tapi mungkin lain kali, kalau jeruk nipis jatuh dari pohon sebanyak ini, saya akan coba bikin skincare. Penggunaan lime untuk kulit masih sedikit kontroversial karena kadar acidity alias keasaman yang bisa bikin kulit jadi perih, tapi saya menemukan beberapa resep yang kayaknya patut dicoba:

Coconut Lime Salt Scrub

2 jeruk nipis, parut kulitnya. Potong lalu peras
1 cup sea salt yang kasar
½ cup coconut oil
1 sdt coconut extract
Cara membuat: Campur semua ingredients kecuali parutan kulit jeruk. Setelah semua diaduk rata, taburkan kulit jeruk di atas adonan. Simpan di toples kedap udara.

Atau ada yang punya resep lain dengan jeruk nipis?

25 April 2021

Yang Ditunggu di Bulan Ramadan Itu Buka Puasa Bareng Teman

“Bukber, yuk!”

Ajakan yang datang di bulan Ramadan ini jadi kebiasaan paling seru, dan buat saya ini salah satu praktek nyata belajar toleransi. Meskipun yang selalu terjadi adalah jumlah yang puasa pada hari itu lebih sedikit daripada yang memang atau sedang tidak berpuasa. Atau malah tidak ada yang lagi puasa sama sekali.

“Hah, jadi yang puasa elo doang nih?”

Saya masih ingat kejadian bukber hampir satu dekade lalu, reuni teman kampus di Jakarta. Perdana kita bertemu lagi setelah lulus dan bekerja. Masing-masing mengenalkan, pasangan dan anaknya. Pas menjelang maghrib baru ketahuan yang hari itu puasa hanya satu orang.

“Ya, elo semua temenin gue buka puasa gitu ceritanya.” Jawab si temen ini sambil tertawa.

Bukber begini selalu bikin kangen

Kebiasaan pertama saya di Bulan Ramadan adalah bikin dan rajin ikutan acara buka puasa biar bisa ngumpul sama teman-teman. Meskipun ternyata satu geng lagi pada tidak puasa, dan kita tetap tidak makan sampai Adzan karena tidak enak sama orang-orang satu food court. Yang ini kejadian beberapa tahun lalu. Rencana bukber di food court Senayan City, datang terlalu mepet dan baru dapat tempat duduk setelah penuh perjuangan. Setelah makanan datang kita semua (termasuk Dudu) ngobrol sambil menunggu adzan.

“Makan aja dulu itu Dudu ntar laper,” kata salah satu teman.
“Eh, ga apa-apa. Ngga enak kan sama kalian yang puasa.”
Dari situ satu-satu mendadak mengaku kalau sedang tidak puasa.
“Jadi kita percuma saja menunggu?” Tanya Dudu.

Kebiasaan kedua saya di Bulan Ramadan adalah mengingatkan kepada Dudu tentang arti toleransi. Sejak kecil, Dudu sudah saya bawa pergi buka puasa. Jadi sudah tahu kalau dia harus menunggu beduk sebelum ikutan makan meskipun tidak puasa. Sudah paham juga kenapa teman-temannya ada yang berpuasa.

Tapi kejadian di food court Senayan City itu mengajarkan satu toleransi tambahan, bahwa “peraturan” menunggu beduk bukan cuma untuk yang satu meja. Tapi satu food court. Toleransi itu bukan hanya untuk teman-teman yang kita kenal, tapi juga orang asing. Jadi tahun-tahun berikutnya, kalau saya makan di depan umum, saya yang ditegur Dudu. Haha.

“Hore udah adzan, kita bisa makan!”
Teman-teman se-geng bukber saya langsung melahap habis makanan satu piring. Sementara saya sibuk dengan kolak.
“Lo kok makan kolak, sih?”
“Loh, bukan katanya berbukalah dengan yang manis?”

Yak, sukses jadi bahan tertawaan satu meja gegara kebiasaan ketiga saya: Makan kolak pas buka puasa.
Kolak Biji Salak favorit
(photo taken from Kompas Travel)

Tapi ini ini memang sudah dilakukan dari kecil sih. Buat saya, buka puasa itu kolak. Jadi meskipun tidak puasa, biasanya saya yang paling heboh cari kolak di tempat buka puasa. Kolak pisang, kolak ubi, atau yang sudah dimodifikasi pakai delima, sagu mutiara dan kolang-kaling. Dan ini berlanjut sampai saat saya bekerja di media. Pergi undangan buka bersama all-you-can-eat di hotel bintang lima. Saat rekan sejawat sudah heboh mengambil nasi kebuli, roast beef dan makanan lainnya, saya malah sibuk dengan semangkuk kolak.

“Katanya, kalau puasa kan perut seharian kosong, jadi nggak baik kalo langsung diisi makan berat. Makanya ada takjil,” jawab saya ketika seorang teman bertanya. Mengutip apa yang saya dengar dari teman lain beberapa waktu lalu.

“Tapi elo kan ga puasa.”

Ya, iya juga ya hahaha. Susah memang menghilangkan kolak dari waktu buka puasa. Apalagi kolak ubi kuning atau kolak biji salak.

Buka bersama jadi lebih sulit dilakukan di dua Ramadan terakhir karena pandemi. Buka puasa jadi banyak virtualnya dan di rumah, pas buka puasa jadi sepi. Chat kantor hening, grup WA juga tidak ada yang bersuara. Padahal kalau saya di kantor, jam 5 biasanya sudah ikut heboh “mau berbuka dengan apa hari ini?” lalu ikut sumbang suara. Sekarang, karena work from home, kalau adzan maghrib terdengar, saya mencari kegiatan lain. Jadi sepi.

Berharapnya sih Ramadan tahun depan sudah kembali normal dan semua kebiasaan ini bisa dilakukan lagi. Jadi saya bisa berburu kolak di restoran tempat bukber. Soalnya di tiap tempat itu kolaknya berbeda. Yang paling standard ini kolak pisang dan biasanya saya lebih senang beli di pinggir jalan. Lalu ada kolak biji salak atau candil. Yang ini saya agak picky karena susah mendapatkan kekenyalan yang tepat. Yang terbaru, si biji salak ini dibuat pakai ubi ungu jadi warnanya ungu. Yang ini biasanya saya cari di restoran atau food court di mall. Lalu ada kolak ubi biasa, yang hanya dipotong-potong tanpa jadi biji salak dulu, dan kolak singkong.

Duh, menulis blog post ini, jadi kepengen beli kolak.




07 March 2019

Cara Mudah Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Anak

Brokoli? Hiy!

Itu reaksi saya sih haha. 
Anak saya, si Dudu, suka brokoli kok.Tapi saya bukan fans berat sayuran dan ternyata preferensi makanan itu menurun ke anak saya. Apalagi saya sibuk, sebagai ibu bekerja, tidak ada waktu untuk menyiapkan makanan 4 sehat 5 sempurna untuk si Dudu. Untungnya saya menemukan cara mudah untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, yaitu dengan yogurt.


Minum Yogurt sambil main? Bisa dong.
Karena tidak suka sayur, saya jadi malas masak sayur, malas memesan sayur kalau makan di restoran dan yang pasti saya juga jarang makan sayur. Otomatis asupan serat sayur dan buah di keluarga ini jadi berkurang jauh. Kalau pas ada Mama, kadang-kadang Dudu bisa punya brokoli rebus saos mentega atau sop wortel sebagai lauk makan siang. Sop wortel? Yes, Dudu terobsesi dengan wortel karena berusaha mencegah naiknya minus dan keharusan pakai kacamata. Maklum, anak jaman sekarang kan semuanya serba gadget. 

Pada satu kesempatan, kita berdua berkenalan dengan Yo! Yogurt for kids. Awalnya tidak aware kalau ini adalah yogurt anak milik Heavenly Blush. Dudu selalu beli yogurt plain atau greek yogurt. Eh, ternyata
 ada Heavenly Blush Yo! yang lebih menarik dengan rasa yang lebih tepat untuk Mama sibuk macam saya yang mencari cara mudah memenuhi kebutuhan nutrisi anak sehari-hari. 

04 June 2018

Coffeegasm: Coffee Shop Rasa Drama Korea

Pernah terbayang adegan drama Korea di mana si pelanggan cewek masuk ke coffee shop dan disambut sapaan ramah tokoh utama di belakang kasir? Ya kurang lebih begitu rasanya kalau masuk ke Coffeegasm. Hanya saja, coffee shop yang ini adanya di deretan ruko-ruko Mall of Indonesia Kelapa Gading. 


Lokasinya strategis, Coffeegasm terletak persis di sebelah pintu Lobby 8 Mall of Indonesia. Di blok yang sama ada beberapa coffee shop, café dan bakery yang saya pernah kunjungi semuanya karena tempat ngopi langganan di mall persaingannya sengit. Mulai dari anak ABG sekolahan, ibu-ibu arisan dan suster bawa stroller (isinya bayi tidur sementara majikannya belanja) semuanya memenuhi tempat duduk dan ikut sharing wi-fi. Jadilah di satu hari libur, saya dan Dudu keliling Mall of Indonesia dengan misi mencari tempat ngedate alternatif.

26 August 2017

Menyeduh Kopi Modern dan Tradisional di Jogjakarta

Motor mabur setunggal, setunggal, kalih…. Tilu lalu matur nuwun. Pengumuman berbahasa Jawa halus tersebut menjembatani bahasa Indonesia dan Inggris, berkumandang ketika saya menunggu bagasi di Bandara Adi Sutjipto pada 17 Agustus kemarin. Bahasa Jawa (halus) saya hanya sampai sekawan, tapi pengumuman yang saya tidak begitu ingat kalimat persisnya tersebut membuat saya tersenyum sendiri.

Hore, saya sudah berada di Jogjakarta.



Ada yang semangat banget mau ke Jogja pas 17 Agustus nih. Merdeka!
Ini kunjungan kesekian saya ke propinsi istimewa di selatan Jawa, dan kali ketiga Dudu mampir ke Jogjakarta. Tapi baru sekali ini saya menginjakkan kaki di Bandara Adi Sucipto. Maklum, dengan adanya keluarga yang tersebar di pelosok Jawa, saya sekeluarga lebih sering bepergian dengan mobil. Lewat jalan darat lebih seru. Tapi kalau tidak lewat udara, saya tidak akan terkagum-kagum sendiri dengan pengumuman penerbangan yang menggunakan bahasa daerah di sebuah airport internasional.

Tujuan saya ke Jogja juga sedikit berbeda. Kalau biasanya kami sekeluarga hanya berlibur, kali ini kami mengantar adik terkecil untuk bertemu calon keluarga barunya yang kebetulan berdomisili di Jogja. Tahun depan, Jogja akan menjadi bagian dari keluarga kami. Karena sudah cukup akrab dengan Borobudur, Malioboro dan Sendratari Ramayana, di kunjungan kali ini saya sengaja mencari sesuatu yang bukan tujuan wisata. Sesuatu yang baru, modern tapi tetap bercerita tentang Jogja.

Keluarga dan kopi, dua hal itu yang akhirnya membawa saya mampir ke tempat nongkrong seru di Jogja yang lengkap dengan kopi enak.

29 May 2017

Ngemil Sehat Bersama Cerelac Nutripuffs

Mama ini apa? Adiknya Koko Krunch ya? Boleh disiram susu juga?

Dudu melihat camilan baru saya, yang ada di samping laptop di meja kerja di rumah. 10 menit kemudian, Cerelac Nutripuffs sudah ada di mangkok bersama segelas susu dan dalam sekejap sudah dihabiskan Dudu. Setelah itu barulah anak kelas 5 SD ini melihat bungkusnya.


Dudu: Untuk anak 10 bulan. Ma, tapi aku sudah 10 tahun. 10 dikali 12 bulan jadi 120 bulan. Lalu minus 10 bulan jadi 110 bulan. Aku sudah jauh terlewatkan umurnya.
Mama: Lalu kamu akan tetap makan Cerelac Nutripuffs itu?
Dudu: Ya bisa jadi. Soalnya enak.


14 May 2017

Menemukan Enak, Sehat dan Jus Wortel dalam Satu Botol

Jus wortel itu mengandung vitamin A yang baik untuk mata. Karena teori itulah Dudu, yang hobi main game, jadi terobsesi dengan sayuran yang satu ini. Apalagi ketika iseng ikutan periksa mata sama saya, ternyata dia sudah ada minusnya.

Minusnya masih nol koma sekian, belum signifikan. Tapi anaknya keukeuh kalau dia tidak mau berkacamata karena tidak suka melihat seluruh keluarga yang berkacamata. Jadi jus wortel jadi jawabannya. Sudah sekitar 2 tahun terakhir anak ini rutin konsumsi jus wortel, setidaknya seminggu sekali. Tapi ini bukan berarti lantas saya santai karena kebutuhan serat dan vitamin anak sudah terpenuhi. dr Rida Noor SpGK menjelaskan bahwa “tubuh kita membutuhkan vitamin untuk mencerna dan vitamin ini adanya di buah-buahan dan sayur-sayuran. Setiap buah dan sayur memiliki komposisi yang berbeda-beda, maka itu makan buah dan sayur pun harus beragam.”

Satu botol VegieFruit (300ml) memenuhi 100% kebutuhan vitamin C harian

Lalu saya jadi menghitung jumlah sayuran yang disukai Dudu dan setidaknya yang mau dia makan. Brokoli, Bayam, Kangkung, kadang-kadang kacang panjang dan buncis. Buahnya hanya apel, pir, jeruk dan kalau dicerewetin dia masih mau makan semangka dan pepaya. Selesai menghitung itu saya kembali mendengarkan penjelasan dr Rida, yang merupakan bagian dari acara perkenalan minuman baru milik PT Kalbe Farma bernama Vegie Fruit. Vegie Fruit Premium adalah jus sayur dan buah yang terdiri dari wortel, jeruk dan nanas. Varian yang ini namanya Carrot Squeeze. Kombinasi ketiga buah dan sayur itu dipilih, selain karena vitamin A, C dan Beta Karoten bisa didapatkan di sana, jus buah-sayur ini juga merupakan kombinasi favorit banyak orang. “Berdasarkan survey ke pedagang jus, kombinasi inilah yang banyak dibeli orang,” demikan penjelasan Adelia Pramasita, Brand Manager Juice Category, PT Kalbe Farma. Jadi kombinasi ini enak tapi sehat. Atau kalau mengutip semangat brandnya, “it’s deleasyousvegie – Delicious and easy way to have veggie.”

04 September 2016

Jajanan Pasar, Rasa Yang Diwariskan.

Waktu kecil saya picky eater. Lupakan sayur dan Buah (kecuali mangga dan durian), saya karnivora yang lebih memilih daging sebagai lauk. Tapi kalau soal mengemil, saya ratunya. Dan ternyata beberapa kue jajanan pasar kesukaan saya menurun ke Dudu. 


Dudu waktu kecil semangat makan kue lapis 
Yang namanya jajanan pasar itu sesuatu buat saya, yang meskipun bukan fans masakan tradisional seperti opor dan soto, tapi fans berat jajanan tradisional. You name it, I’ve tried it. Dan salah satu misi saya sekarang adalah meneruskan “rasa” ini pada Dudu yang mukanya bule. Kalau kelak dia kembali ke negaranya, dia tidak lupa sama jajanan Indonesia. Kan Barrack Obama juga bisa cerita bakso, sate dan nasi goreng, masa Dudu yang tinggal lebih lama tidak bisa cerita lebih banyak. Memangnya apa sih yang dimakan?

29 March 2016

Kebun, Cafe Idaman dan Jamu Kunyit Asam

Sebenarnya ini salah satu subyek favorit saya, soalnya saya suka penasaran. Tapi entah kenapa menulis tantangan hari kedua One Day One Post, yang menyinggung tanaman obat, apotik hidup, dan bumbu dapur di rumah, kok rasanya sulit benar. Mungkin karena saya tidak punya pengalaman pribadi dengan tanaman obat dan bumbu, kecuali yang sudah berbentuk minuman tradisional.

“Tidak, terima kasih.” Begitu kata Dudu setiap dia mendengar kata “jamu”. Meskipun di mata dia jamu tidak lebih parah dari kopi dan tidak lebih bau dari durian, tapi tetap saja bukan sesuatu yang layak minum. “Lebih baik minum jus wortel dicampur apel, Ma. Itu sudah banyak vitaminnya.”

Dudu yang hobi berkebun sedang panen jeruk.
Sekarang pohon ini sudah ditebang dan ditanam ulang.

09 January 2016

Brunch Date at Two Hands Full

Dua kali ke Two Hands Full, dua kali nyasar karena Cafe di daerah Sukajadi Bandung ini tidak ada plangnya. Tapi karena makanannya enak, saya jadi balik lagi sama Dudu untuk brunch di sini. Sekalian mencoba tipe sarapan yang berbeda.


Banyak yang bilang Cafe ini hits. Dan terbukti ketika kita datang untuk Brunch di hari sebelum Natal kemarin, tempat duduknya penuh. Tapi akhirnya kita dapat meja di dekat jendela belakang. Tempatnya mengecil dan jendelanya berkurang dari terakhir kali saya ke sana karena dia pindah tempat ke Sukajadi no 198A, tapi masih tetap nyaman untuk duduk hangout dan makan sama keluarga. Kalau yang tidak keberatan makan di luar dan kalau pas ngga ada yang smoking, duduk di taman belakang juga asyik lho.


02 January 2016

Romantic Dinner with Dudu at Cocorico

Coba tanya Andrew, apa sih serunya makan di Cocorico Cafe Bandung? “Pemandangannya menakjubkan dan tempatnya tidak panas meskipun tidak pakai AC.”
Pemandangan dari tempat kita duduk
Oalah, yang diingat itu duluan. Maklum, si Jack Frost, alias si Dudu ini paling tidak tahan panas. Jadi, makan malam di restoran dengan pemandangan kota Bandung dari ketinggian, plus angin semilir yang bikin ngantuk memang jadi tidak terlupakan. Ketika reservasi, grup kita yang totalnya ada 6 orang ini dapat di bawah. Soalnya kalau di atas dan dekat jendela rata-rata hanya untuk ber-4. Setelah minta ke waiternya, disarankan naik ke lantai atas dan melihat apakah ada yang kosong. Akhirnya, kita duduk di pinggir, yang tinggal nengok ke kanan langsung bertemu dengan pemandangan kota.

19 December 2015

Yuk Masak di Philips' Mother’s Day Cooking Class

Saya bukan Mama jago masak. Masak buat saya adalah penghilang stress. Jaman kuliah dulu, kalau stress dengan tugas, saya turun ke dapur dan membuat kue. Itu juga hitungannya “baking” bukan “cooking”. Setelah ada Dudu, saya menemukan bahwa memasak bersama anak dapat meningkatkan bonding dan menumbuhkan kebiasaan makan sehat dalam keluarga. So, I guess it’s time to start cooking.

Ibu-ibu yang antusias memasak di acara Philips
Philips Mother’s Day Cooking Class bersama Pak Bondan
Beberapa waktu lalu, Philips Indonesia menyelenggarakan “Philips Mother’s Day Cooking Class” di Pullman hotel Jakarta bersama pakar kuliner Bondan Winarno dan chef Yuda Bustara. Menggunakan peralatan dapur dari Philips, para ibu-ibu yang mengikuti kelas memasak ini dapat mengajak anak mereka untuk memasak dengan lebih aman. 

(ternyata Dudu mengawasi saya menulis blog ini dari belakang)
Dudu: Memasak dengan anak bukan menjadi tambah stress ya, Ma?
Mama: Ngga dong. Itu ngga baca di atas, tulisannya bonding?
Dudu: Apa itu Bonding Ma?
Mama: Jadi lebih dekat dan lebih kompak.

11 December 2015

The Breakfast Basic and How To Avoid the Battle

I have to admit, Andrew woke up a lot earlier than I do and my Mom is the one preparing breakfast for him. It’s listed on the house rules that no one can leave through the front door before eating breakfast. That’s how my mom raising her three children and, now, her grandson as well.

When the invitation arrived on my inbox from The Urban Mama, Andrew was sold right away and half-begging me to go. So, on behalf of this Koko Krunch fan, I was set to arrive early on Sunday at Pipiltin Cocoa Senopati. He bailed on me last minute with a message: “Don’t forget to bring home Koko Krunch, Mom!”


Dudu and Koko Krunch

02 December 2015

Dudu Masak Sendiri

Entah sejak kapan Dudu ingin masak. Memaksa semua orang di rumah untuk menemani masak buat saya makan malam (duh terharu). Dan baru kesampaian ketika Om Onda (adik saya yang paling kecil) pulang dari Belanda. Karena si Om Onda ini memang senang masak dan senang makan, maka Dudu langsung memaksa buat menemaninya masak. Memangnya mau masak apa sih, Du?

Dudu: Masak sop.
Mama: Sop doang gitu?
Dudu: Bukan sop saja, tapi ada wortelnya, kentangnya, dagingnya, baksonya...
Mama: Ya itu namanya sop.
Jadi, pada suatu hari kerja, saya pulang disambut oleh semangkuk sup seperti ini (ini Dudu juga yang foto makanya buram):


Sup campur-campur ala Dudu

25 October 2015

Berkenalan Dengan Korean Food

Ada yang bilang dari perut sampai ke hati. Well, kalau Korean Food alias K-Food, sebenarnya agak terbalik. Anyway, minggu lalu, saya dan Dudu nge-date di acara K-Food Fair 2015 di Kota Kasablanka.


30 July 2015

RoCa: Artistic Eatery

Kalau ke RoCa, harus cobain Nasi Goreng Kemangi nya. Begitu kata hampir semua orang. So, why don't we give it a try? Thanks to Tante MJ yang suka jalan-jalan, kita jadi bisa mampir ke restoran yang terletak di ArtOtel Thamrin, Jakarta, ini untuk dinner. Diantar pakai Mini Cooper pula datangnya karena menang kuis #JAKEATwithMini.
Dekorasi RoCa restaurant yang artistik
Hotel ini banyak kenangan. Terakhir kali ke sini adalah untuk ikutan workshop blogging dari Mommies Daily. Sendirian tentunya. Waktu itu saya berpikir, wah, Andrew pasti suka nih exploring hotel ini dengan segala keunikan dan dekorasinya. Ternyata dugaan saya tepat. Begitu turun dari mobil dia sudah heboh dengan "ini hotel ya, Ma? Tembok luarnya seperti bergambar. Bolehkah kita menginap di sini?". Yah, masuk ke lobby juga belum.

Duduk manis di meja pojokan, kita mulai order. Dan di tengah memilih makanan, terjadi percakapan begini:
Dudu: Tante, apakah hotel ini memiliki wi-fi?
Manager Resto: Ada.
Dudu: Passwordnya apa, Tante?
Manager Resto: Sini coba HPnya Tante connect-in.
Dudu: (menyerahkan HP)
Manager Resto: (Sibuk menyambungkan wi-fi).
Dudu: Jam yang tante pakai bagus juga (sambil nunjuk ke jam warna putih yang dipakai si tante manager)

Satu meja jadi ngakak. Dan saya dituduh mengajarkan anak godain tante-tante. Padaha dari sananya saja ini anak sudah pinter ngomong dan mengumpulkan massa... sampai saya yakin suatu hari nanti dia bakalan kampanye jadi presiden.

So, what do we order?
Mama: Chicken Spaghetti Basil Pesto
Dudu: Roasted Chicken + vanilla milkshake
Tante MJ: Nasi Goreng Kemangi Teri
Impulsive order karena tergoda: Chocolate Melt 



Chicken Spaghetti Basil Pesto

Nasi Goreng Kemangi Teri yang jadi menu andalan
Range harga di sini ternyata tidak terlalu mahal. Makanan yang kami pesan berkisar antara 50-60 ribuan. Surprise juga sih.

Sambil menunggu makanan datang, Andrew mainan dengan tempat garam dan lada yang berbentuk orang. Yup, si Andrew kan paling suka main action figure. Dan karena dia lupa bawa mainannya, jadilah si garam dan lada jagoan cerita dia malam itu. 



Dudu, Vanilla Milkshake dan tempat garam-lada
Makanan paling enak bagi saya jelas punya Andrew. Roasted Chickennya empuk dan saosnya enak. Pas sekali jika dikombinasikan dengan sausnya. Si Andrew tidak habis karena porsi ayamnya besar. Agak shock sih pas datang ke meja ternyata sebesar itu. Roasted chicken ini datang terakhir - mungkin karena masaknya paling susah. Sementara saya hanya memesan pasta, yang sebenarnya enak juga tapi kalah berkesan sama roasted chickennya. Milkshake Andrew habis dalam sekejap. Soalnya enak. Wah, jarang-jarang dia memuji milkshake.


Roasted Chicken Favorit Dudu. Hadir dengan wedges dan salad
Nasi Goreng Kemangi Terinya memang sesuai yang dibicarakan orang. Rasanya agak campur-campur tapi pas. Kalau untuk Andrew yang suka plain flavor sih ini pasti terlalu complicated. Tapi buat pencinta makanan seperti si Mama ini, nasi goreng ini bisa jadi pilihan menu kalau ke RoCa lagi. Ingin mencoba breakfastnya sih. Chocolate Melt sebenarnya orderan nekat karena kita sudah kenyang. Tapi akhirnya habis juga because it's really tasty with melted chocolate trapped in the middle.


The Chocolate Melt!
Habis makan belum selesai. Andrew masih harus exploring hotel dan melihat ke kamar mandi. Kamar mandinya ada di lantai mezzanine dan unik banget. Sayangnya lantai mezzanine itu sedan digunakan untuk acara, jadi kita kalau mau naik dari tangga harus nyelip-nyelip diantara tamu. Andrew sih cuek saja. Dia naik dengan lift dan turun dengan tangga melingkar. Penasaran, dia naik tangga melingkar sampai mentok.

Mama: Ada apa di atas, Du?
Dudu: Ada kamar, Ma. Sayangnya pintunya dikunci, jadi aku tidak bisa masuk. Padahal aku ingin sekali melihat isi kamarnya.
Mama: Mama sudah pernah lihat. Nanti ditunjukin fotonya.
Dudu: Bagaimana kalau kita menginap saja? Hotel ini sepertinya bagus. Restorannya juga enak.

Let's put this hotel on our staycation list.

26 July 2015

Rahasia Kepiting RM Prima Comal

Keluarga saya jarang naik transport umum ke Jawa. Jakarta-Semarang selalu naik mobil. Alasannya karena kita mau berhenti di Comal untuk makan kepiting. Restoran Kepiting Prima dan Lesehan Pondok Bambu yang sudah terkenal ini sudah seperti hidden gem di tengah panjangnya (dan sometimes rusaknya) jalanan Pantura. 

Masuk restoran disambut oleh mural kepiting
Masakan andalannya tentu saja kepiting yang harganya bikin bahagia orang Jakarta (Rp.90,000 - Rp.180,000/kg, 1kg ada 3-4 kepiting). Bisa makan sepuasnya! Kepiting Prima yang dimasak dengan saos pedas manis seperti rendang jadi favorit saya. Andrew yang tidak suka pedas lebih memilih Kepiting Saus Tiram yang juga tidak kalah enaknya. Selain kedua saus tersebut ada bermacam saus lainnya yang harus dicoba juga seperti Saus Padang dan Lada Hitam.

Kepiting Saos Tiram. Yang di belakangnya adalah Kepiting Prima
Selain kepiting ada Cumi dan Ikan juga
Kalau kepiting bukan favorit Anda, jangan khawatir, rumah makan ini juga memiliki banyak pilihan menu seafood termasuk ikan, udang dan cumi-cumi yang tidak kalah enaknya. Sayuran pun lengkap. Untuk minuman, coba pesan kelapa muda batok. Ada sih menu ayam di sini, cuma ya masa di rumah makan kepiting kita pesan ayam ya?

Setiap kali berhenti di sini, Andrew pasti semangat, "tempat kepiting ini lagi ya, Ma." Lalu dia akan hilang, sibuk bermain dan berkeliling rumah makan. Ada banyak indoor dan outdoor playground yang bisa membuat anak-anak tidak keberatan menunggu makanan datang dan lupa kalau mereka sudah lapar.

Jangan khawatir tidak ketemu, kalau dari arah Pekalongan, banyak plang nama yang menunjuk ke arah restoran ini. Kalau dari arah Pekalongan, begitu sampai pertigaan Comal kita belok kiri. Tidak lama nanti di kiri jalan kelihatan deh pintu masuk restorannya. Meskipun agak tersembunyi, tapi restoran ini memiliki parkiran yang luas. Ketika kami pertama ke sini, mereka hanya punya satu gedung restoran di depan. Sekarang, selain punya lesehan, tempat main anak-anak, mini zoo dan kebun sayur, mereka juga punya toko oleh-oleh. Semakin senang kita mampirnya.

Kebun sayur depan lesehan. Di belakang lesehan ada tempat main lagi.
Playground untuk anak-anak. Kalau weekend ramai sekali
Siapa yang sudah pernah dengar tentang Comal? Kota kecil ini terletak di antara Pemalang dan Pekalongan. Nama Comal diambil dari nama sungai yang mengalir di daerah tersebut. Kuliner kota Comal yang terkenal adalah nasi tahu dan kue apem yang saya malah belum pernah cobain karena sibuk dengan kepiting.Biasanya kedua kota ini jadi tempat perhentian kita kalau Pantura sudah menolak untuk lancar. Daripada lelah di jalan dan sampai Jakarta/Semarang terlalu malam, kita mencari hotel untuk menginap semalam.

Nah, mencari hotelnya bisa di Travelio, website yang menawarkan konsep seru dalam mencari hotel. Kalau biasanya kita harus browsing beberapa website untuk membandingkan harga, di Travelio sudah ada harga rata-rata online. Nah, harga rata-rata online ini yang kemudian jadi patokan kita untuk menawar harga hotel. Ditawar? Yup, travelio memberikan kesempatan customer untuk menawar harga hotel yang diinginkan. Jadi seru kan. Ada indikasinya juga, jadi kalau kita menawar kerendahan ya kesempatan untuk mendapatkan harga tersebut juga akan jadi lebih rendah. 

Begini penampakan hotel di Travelio, fasilitasnya langsung terlihat semua
Fitur favorit saya di Travelio, langsung tersambung ke Tripadvisor,
jadi benar-benar one-stop-shopping
Di Travelio bisa memilih hotel sesuai daerah, bintang dan harga
Lalu bagaimana supaya dapat harga murah?

Langganan newsletter dan tungguin happy hournya haha. Tapi kalau sudah urgent dan harus pesan sekarang, coba pilih kota yang kita mau lalu perluas hasil searchnya terutama jika Anda mencari hotel di kota besar. Jangan membatasi diri hanya dengan beberapa hotel pilihan saja. Kalau saya yang mencari di sekitaran Pekalongan, Pemalang dan paling jauh Tegal, ya memang pilihan hotelnya masih sedikit sekali. Tapi coba digunakan untuk Cirebon atau Semarang, pasti pilihannya jadi lebih beragam. Tapi tentu saja lebih jauh dari RM Kepiting Prima ini. Yah, namanya juga mencicipi kepiting kesukaan yang setahun belum tentu dua kali bisa mampir. 

Membuat Es Krim Vanilla Sendiri

Masakan apa yang bisa dibuat dalam 15 menit... oleh seorang Mama yang tidak bisa masak? "Aku bisa buat es krim, Ma. Mudah. Hanya 15 menit," Si anak (yang sudah tidak) kecil lagi itu nyeletuk dari belakang, ketika saya sedang berdiskusi dengan Mama saya soal ikutan lomba masak memasak di instagram ini. Seriusan?

Es krim vanilla buatan sendiri yang dimakan dengan biskuit
Dan ternyata Andrew serius. Es krim vanilla yang dibuatnya berdasarkan percobaan science yang dia saksikan di TV beberapa waktu lalu ternyata sungguh-sungguh bisa terwujud. Tanpa ice cream maker, tanpa freezer juga. Mengakhiri liburan panjang kenaikan kelasnya, Andrew mempraktekkan cara membuat es krim vanilla kreasinya kepada saya.

Bahan-bahan membuat es krim
Bahan-bahannya: 
  • Susu cair plain (susu segar atau UHT tapi jangan yang low fat)
  • Vanilla Essence (di sini saya pakai yang cair)
  • Gula pasir 
  • Es Batu
  • Garam
  • Ziplock Bag
  • Toples
Cara membuat:
  • Masukkan Susu cair, vanilla essence dan gula pasir secukupnya ke dalam ziplock bag. Gula pasir dan vanilla essence dapat diatur sesuai selera. Untuk yang ini, setengah gelas bisa untuk 2 cup es krim. Banyak juga ya ternyata.
  • Aduk semua bahan hingga rata.
Masukkan susu ke dalam ziplock

  • Masukkan es batu ke dalam toples sehingga penuh 3/4nya.

  • Tambahkan garam. Kocok sebentar hingga es agak cair.

  • Tutup ziplock bag dengan rapat lalu masukkan ke dalam toples berisi es.

  • Kocok hingga beku. Proses ini memakan waktu sekitar 10 menit. Dan karena capek, Dudu gantian dengan saya untuk mengocok toples ini.
  • Sendok dan sajikan.
Untuk anak balita, bagian mengocok toples bisa jadi kegiatan seru sendiri. Bungkus toples dengan serbet atau handuk jika terlalu dingin untuk tangan. Hati-hati tangan licin dan toples terlempar ya.

Habis semangat mengocok es krim, tangannya kedinginan
Sebenarnya saya penasaran dengan es krim rasa lain karena susu kan banyak juga rasanya. Coklat, strawberry, mocca. Tapi Andrew hanya suka es krim vanilla, jadi ya vanilla-lah yang kita buat. Ternyata proses "memasak" es krim ini dapat jadi kegiatan seru berdua anak di akhir pekan. Yang asyiknya lagi, kita bisa mengontrol rasa dan kandungan es krim ini, jadi tidak perlu khawatir bahan apa saja yang dimasukkan ke dalam es krim. Bisa jadi healthy treat untuk anak juga!

Selamat mencoba.