16 February 2019

Tips Anti Kalap di Bazaar Buku

Bazaar buku murah mulai muncul lagi. Weekend ini kita pergi ke Bootopia-nya Periplus di Pulogadung. Bulan depan Big Bad Wolf ada lagi di ICE BSD. Ujung ke ujung. Tapi ya dijalanin, karen buku, terutama yang bahasa Inggris, termasuk sulit ditemukan di Indonesia. Masalahnya saya dan Dudu sering lapar mata kalo lihat buku.

Jadi, gimana caranya biar tidak kalap belanja kalau pergi ke bazaar buku murah sama anak?



Salah satu tempat date favorit kita berhubungan dengan buku. Waktu Dudu balita, kita berdua sering menghabiskan waktu di perpustakaan dan toko buku. Lalu sekarang jadi rajin pergi ke bazaar buku demi mencari buku, terutama buku impor, yang murah. Kalau belanja sendiri, kita hanya perlu menghibur diri kalo memang tidak ada budget untuk beli buku sebanyak itu. Nah, kalau pergi sama anak kan berarti ada satu kepala lagi yang harus dinegosiasikan.

07 February 2019

Tantangan Jadi Seorang Introvert Mom

Kalo saya mengaku Introvert, tidak ada yang percaya. Padahal berdasarkan test 16 kepribadian alias MBTI ( Myers–Briggs Type Indicator) itu, saya masuk kategori INFP (introversion, intuition, feeling, perception). Orang-orang di kategori ini termasuk idealis, selalu berusaha melihat kebaikan dari setiap orang atau kejadian, dan berusaha mencari jalan agar semuanya lebih baik. 



Apa pengaruhnya kepribadian ini buat peran saya sebagai orang tua? Menurut website 16personalities.com, orang tua yang berkepribadian INFP ini tipe yang hangat dan selalu mendukung anaknya. Biasanya mereka cenderung membiarkan anak bertumbuh dan mengeksplorasi tanpa banyak campur tangan. Anak-anak bisa mencari jati diri sendiri dengan bebas, walaupun masih dalam guidance yang ditetapkan orang tuanya. Biasanya rumah orang tua INFP ini cinta damai. Agak kurang sesuai sebenarnya karena saya dan Dudu kerjanya berantem melulu haha. 


30 January 2019

Pentingnya Membuat Vision Board Bareng Anak

Saya hobi scrapbooking. Ngeprint foto, gunting-gunting, nempel-nempel lalu masukin album. Jadi, waktu Komunitas Single Moms Indonesia mengadakan acara membuat "Vision Board", saya dan Dudu langsung ikutan. Ya, berguna banget karena kita berdua suka art and craft.

Ini Vision Board kita!
Hm... Apa bedanya sama Scrapbook?

Kalau scrapbook biasanya 'preserving memories' alias album kenangan. Kalau vision board ini planning ke depan. Mimpi dan rencana yang ingin dicapai setahun ke depan. Eh, setahun doang? Waduh salah dong. Soalnya saya dan Dudu sibuk memproyeksikan visi kita tanpa jangka waktu. Dudu bahkan sudah memilih gambar visi "lulus kuliah" untuk ditempelkan. Haha. Ya sudahlah.

Ini adalah bahan-bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat vision board:

  • Gunting
  • Papan
  • Lem (atau dobel tape)
  • Gambar-gambar dari majalah, koran, brosur atau print sendiri dari internet yang merupakan visi dan mimpi setahun ke depan.
  • Hiasan (ini tidak wajib tapi saya kebiasaan Scrapbooking)

Cara Membuat:

Gambar digunting lalu ditempelkan ke papan. Sebenarnya hanya begitu saja. Tapi buat yang hidupnya lebih teratur, vision board bisa dibuat per-kategori misalnya uang, cinta, jalan-jalan, pendidikan, karir dan lain sebagainya. Ada juga yang membaginya berdasarkan bulan atau prioritas. Misalnya gambar rumah dan sekolah ada di paling atas, berarti yang jadi prioritas adalah tinggal di rumah sendiri dan sekolah anak.


Kalau gambarnya kurang, kita bisa gambar sendiri lalu ditempelkan. Setidaknya itu yang saya lakukan bersama Dudu. Kita bahkan membawa stiker bundar yang bisa ditempel dan disusun menjadi huruf. Tidak yakin apakah vision board ini lebih efektif polos atau dihias-hias karena tujuannya kan memvisualisasikan mimpi, dan bisa saja dekorasi lucu-lucu itu jadi mengalihkan perhatian dari gambar utamanya. 

But again, I did scrapbooking dan Dudu juga senang menggambar. Jadi vision board kita pasti penuh dekorasi. Haha.



Kenapa seru dilakukan sama anak?

Soalnya kita jadi punya kesempatan diskusi. Apalagi kalau anaknya sudah seumuran Dudu dan punya visi "lulus kuliah". Diskusi ini dimulai dari perencanaan vision board. Selain mencari gambar untuk diri sendiri, saya juga mencarikan keinginan Dudu. Mau tidak mau kita ngobrol dan diskusi. Sambil menempel pun kita ngobrol (dan berantem) tentang apa mau ditempel di mana, gambar mana yang utama dan lain sebagainya. Hasilnya bisa dilihat sendiri, kita ternyata mirip, kebanyakan mimpi jalan-jalan. Bahkan nabung pun untuk jalan-jalan. Ketika menurut dia saya kurang banyak ngeprint gambar, yang Dudu buat sendiri adalah gambar pesawat terbang dan motor boat.


"Ini kapal apa, Du?"
"Itu lho, Ma, seperti yang kita naikin ketika ke Ujung Kulon."

Jangan khawatir kalau anaknya masih terlalu kecil, menurut saya anak TK pun bisa diajak membuat vision board karena mereka pasti sudah punya pendapat. Sudah bisa ditanya lebih suka A atau B, mau pergi ke tempat X atau Y.

Ada beberapa tips membuat vision board yang saya temukan di internet. Awalnya iseng, ternyata malah jadi serius. Yang pertama adalah jelas dan spesifik. Mau traveling? Boleh. Ke negara apa? Kapan? Bukan cuma sekedar rencana jalan-jalan. Dudu bahkan sudah menggambarkan mau naik pesawat dan motor boat. Saya mau road trip di Amerika, menyurusi Route 66 dari Chicago. Kedua, gunakan kata-kata untuk memperjelas. Saya bahkan menempelkan resep masakan yang mau saya coba. Ketiga, taruh goal yang paling utama, yang paling diinginkan, di tengah papan. Tidak selalu harus goal yang paling duluan dicapai secara prioritas, tapi goal besar yang butuh waktu mewujudkannya.

Menggunting dan menempel pun seru buat melatih motorik anak, dan kita yang sudah terlalu sering menggunakan gadget. Saya dan Dudu paling senang art and craft yang menghasilkan sesuatu seperti ini. Apalagi kalau setelah vision boardnya jadi, kita bisa sharing dengan peserta lainnya.


Oh iya, komunitas Single Moms Indonesia ini adalah support group untuk para ibu tunggal di Indonesia. Awalnya saya ikutan hanya iseng-iseng karena diajakin teman blogger yang ternyata foundernya haha. Terus ketagihan karena selain inspiratif dan empowering, membernya juga seru-seru. Kapan-kapan ya saya cerita.

Setelah semua keluarga selesai presentasi, saya baru sadar kalau di vision board saya tidak ada rencana tentang jodoh. Bahkan foto Super Junior yang disebelin Dudu juga tidak ada di board itu. Entah bagaimana, belajar bahasa asing, rencana naik Train to Busan, hidup sehat dan bisa masak malah jadi lebih prioritas. Dan semesta sibuk mengingatkan kalau saya lupa nempelin jodoh di vision board. Soalnya, di weekend yang sama, banyak yang mendadak ribut kalau saya kurang sosialisasi, malas kenalan sama cowok, dan egois karena meskipun saya happy sendirian, anak saya kan butuh sosok bapak.

Yah, tahun depan deh. Udah jadi tuh papan-nya.