Showing posts with label Kenapa ya?. Show all posts
Showing posts with label Kenapa ya?. Show all posts

18 June 2023

Kerokan dalam Bahasa Inggris

“Mau kerokan?”
“Boleh. Sepertinya saya masuk angin.”
“Cuma nanti kalau diliat orang bisa dikira child abuse.”
Dudu cuma angkat bahu.

Hari kelima mudik ke Amerika, dia tidak enak badan. Menjelaskan ke semua orang bahwa masuk angin alias “enter wind” ini ternyata cukup membingungkan. “Feeling under the weather.” atau “just don’t feel well in general” yang biasanya saya gunakan untuk menjawab mereka yang kebingungan. Terus kerokan gimana?

Ini adalah definisi Kerokan menurut beberapa sumber:

  • Kerokan atau Gua Sha (刮痧) adalah “is a traditional Chinese medicine (TCM) practice in which a tool is used to scrape people's skin in order to produce light petechiae.” (Wikipedia).
  • Sebuah jurnal yang dipublikasikan di Sage Publications mendefinisikan Kerokan sebagai “a traditional Indonesian treatment involving abrading the skin over various parts of the body with a blunt object such as a coin or a piece of ginger which may create suspicious injuries.”
  • "Gua sha is an alternative therapy that involves scraping your skin with a massage tool to help improve circulation." (Healthline)
Masuk angin sendiri ternyata lebih sering disebut sebagai “catching a cold” atau “catching a wind” oleh bangsa Vietnam. Jadi bukan “enter wind” ya, teman-teman sekalian. So Kerokan adalah method to “scraping the wind out,” alias mengeluarkan angin yang masuk dengan koin. Banyak juga yang menerjemahkannya dengan coining.

Loh, kok anak bule kerokan.

Nah ya itu masalahnya. Saya saja tidak kuat kerokan karena gampang geli. Kerokan ini pernah bikin berantem sama Mama karena saya susah diam kalo dikerok. Padahal setelahnya, tinggal pakai minyak angin, tidur lalu sembuh.

Apa yang membuat kerokan jadi seampuh itu, dan apakah mereka beneran seampuh itu?

Soalnya, konon, tindakan ini memperbaiki sirkulasi darah. Kerokan memperbaiki chi, membuka energi yang stagnan dan membuat kita jadi lebih sehat. Kerokan dipercaya menjadi penyembuh untuk badan pegal-pegal, masuk angin, sakit kepala dan migrain.

Apa yang dibutuhkan buat kerokan? Di Indonesia, saya bisa menggunakan alat dari besi yang ada pegangannya. Memudahkan untuk membuat garis-garis. Kalau darurat, coining bisa dilakukan dengan koin. Pertanyaannya kemudian berubah jadi koin seperti apa yang bisa digunakan ketika alat kerokan tersebut tidak ada? Yang paling ideal adalah uang 100 Rupiah dengan gambar Rumah Gadang keluaran tahun 1978. Namun ternyata uang dollar 25 sen atau Quarter juga lumayan mudah digunakan untuk kerokan.



Minyak apa yang dipakai? Ada yang pakai minyak angin, minyak kayu putih, pakai Freshcare, dan berbagai minyak lainnya. Setiap orang beda preferensi karena minyak ini berbeda baunya dan tingkat kepanasannya di kulit. Jadi ya tergantung toleransi masing-masing orang.

Yang perlu diperhatikan dari kerokan adalah kenyamanan setiap orang berbeda. Sama seperti saya tidak bisa kerokan karena gampang geli, dan akhirnya malah bikin mama frustasi. Sementara Mama tipe yang kuat banget kerokan, dan sering ngomel kalau saya “gagal” melakukannya dengan benar haha. Habis kan bingung juga ya ke arah mana ini garisnya. Konon kalau emang masuk angin, di tempat angin berkumpul, hasil kerokan akan lebih merah dari bagian tubuh lainnya. Karena di situlah energi kita nyangkut dan dilepaskan oleh kerokan.

Terlepas dari benar tidaknya ini kerokan, Dudu biasanya sembuh habis dikerok.
Jadi kita bisa lanjut jalan-jalan. Untunglah.

02 May 2023

Gabung Komunitas Ibu-Ibu, Emang Perlu?

Kalau saya bilang bahwa saya ini seorang ibu yang introvert, biasanya tidak ada yang percaya. Soalnya saya ikutan banyak komunitas ibu-ibu dan komunitas menulis, yang isinya juga banyak ibu-ibu. Dan karena saya aktif di beberapa komunitas, banyak yang bertanya-tanya, ngapain sih ikutan komunitas ibu-ibu?

Seiring bertambahnya umur, jumlah teman saya berkurang. Kalau membaca studi di luar sana, hal ini disebabkan oleh proses seleksi alam yang terjadi seiring proses menjadi dewasa yang terjadi. Secara alami, kita menyadari apa yang penting dan tidak penting bagi kita, lalu kita akan lebih banyak berinteraksi dengan yang relevan bagi kita. Kita juga memiliki banyak prioritas baru, yang mengurangi waktu kita untuk bersosialisasi. Kalau dulu pulang sekolah bisa bermain karena tidak perlu memikirkan keuangan, sekarang kita kerja dari pagi sampai malam tanpa tahu apakah hari itu sempat bersosialisasi dengan orang sekitar.

Lalu datang pandemi dan jumlah teman saya semakin berkurang. Tidak semua orang bisa dengan luwes berinteraksi secara online, berjam-jam zoom tidak bisa menggantikan tatap muka sambil ngopi.

Menurut psychologist Marisa Franco, seperti yang disebutkan dalam interviewnya dengan Boston NPR, bahwa semakin dewasa, manusia semakin kehilangan kesempatan berteman secara organik, seperti di sekolah atau universitas. Lalu semakin dewasa juga, menurut Marisa, kita lebih nyaman dengan setting grup daripada persahabatan secara individual. Kita cenderung punya satu grup yang kita sering berinteraksi daripada seorang sahabat dekat yang kita percaya sepenuh hati. 

Karena itulah, komunitas menjadi penting.

Saya sering menyarankan "ikut komunitas aja" kepada teman-teman yang mengeluhkan bahwa mereka sekarang tidak punya teman. Atau "kenapa nggak coba volunteer" alias berpartisipasi membantu di kegiatan yang menarik minat secara cuma-cuma. Meskipun biasanya kesempatan volunteering lebih mudah ditemukan kalau kita adalah bagian dari sebuah komunitas. 

Berkomunitas juga harus tepat, alias sesuai minat, tujuan dan kemampuan kita. Kalau kita senang menulis ya bergabung dengan komunitas menulis, jangan komunitas naik gunung. Kalau ingin belajar bahasa asing, kita bisa cari komunitas belajar. Karena saya ibu-ibu, ya saya bergabung dengan komunitas ibu-ibu. Ada 3 komunitas ibu-ibu yang saya ikuti secara aktif: Single Moms Indonesia, Kumpulan Emak2 Bloger dan Ibu Professional.

Berkomunitas di tempat yang tepat, sangat banyak manfaat.

Pertama, kita punya tempat untuk "escape" dari rutinitas dan kehidupan sehari-hari. Sebagai ibu bekerja, hidup saya biasanya hanya seputar rumah dan kantor. Apalagi saya termasuk punya anak lumayan early, pas kuliah. Jadi single mom pula. Kalau mau cari teman 'senasib' dalam lingkungan pertemanan yang ada, sepertinya lumayan sulit. Ketika kuliah dulu, saya ikut komunitas single mom di kampus. Lalu ketika bekerja, teman-teman saya kebanyakan fresh graduate yang berfokus pada karir, sementara saya sudah jadi ibu-ibu cari uang. Jadi, saya seperti menemukan dunia baru di komuntas.

Di tempat bernama komunitas ini, saya juga bisa jadi diri sendiri. Di rumah, saya Mama Dudu. Di kantor, saya karyawan. Di komunitas, ya saya jadi diri sendiri. Jadi blogger di Emak2 Blogger, jadi ibu tunggal di Single Moms Indonesia dan jadi penulis di Ibu Professional. Komunitas jadi tempat kita mengekspresikan satu bagian dari diri kita.

Kedua, ada support system yang bisa membuat kita tetap waras. Bagaimana orang yang bukan penulis memahami writers' block, atau saat mood menulis muncul, kita tidak bisa diganggu kegiatan lain? Bagaimana kita bisa menyeimbangkan peran antara ibu dan blogger? Atau, kadang saya ingin melakukan sesuatu bagi para ibu tunggal yang membutuhkan bantuan namun tidak menemukan lewat mana. Sekedar ingin sharing kalimat motivasi atau tips yang kebetulan kita miliki. Di sinilah komunitas berperan sebagai support system yang memfasilitasi passion dan keinginan kita tanpa keluar jalur, serta memberikan rasa percaya diri.

Bisa belajar, dan bisa mendapatkan achievement.

Ketiga, bisa belajar hal baru. Di Komunitas bukan hanya dapat teman, tapi dapat ilmu. Bisa ikut kelas dengan berbagai macam topik, mulai dari digital marketing, freewriting, public speaking, hingga bisnis. Bisa learning by doing juga. Sebagai seorang pegawai kantoran, saya bekerja sesuai job description. Tapi, di komunitas, saya bisa jadi tim event, belajar koordinasi dan menjadi tim lapangan. Komunitas jadi tempat belajar dan praktek, sekalian mencari pengalaman. Siapa tahu kita mau pindah kerjaan. 

Jadi, kalau ditanya emang perlu, gabung komunitas ibu-ibu? Jawabannya ya perlu. Komunitas ibu-ibu yang kayak apa, ya yang tepat dan dapat memberikan manfaat. 


21 August 2022

Hidup ini Bukan Kompetisi, Fokus Pada Diri Sendiri

Kamu kapan?
Gondok denger pertanyaan itu? Iya saya juga.


"Si A udah punya anak dua, kamu gak mau kasih adik buat Dudu?"
"Kenapa nggak nikah lagi aja kayak si B, kasian kan anakmu?"
Atau satu pertanyaan yang terlontar di komunitas saya, yang membuat saya berpikir untuk menuliskan postingan ini:
"Kok sepertinya saya lama banget move on dari mantan suami? Teman saya bahkan sudah menikah lagi dan bahagia. Apa yang salah dengan saya?"

Jawabannya, ya tidak ada yang salah.

Kan hidup ini bukan kompetisi.

Kompetisi pertama yang diikuti Dudu, nggak jadi juara 1

Okelah, kita tidak bicara soal ranking di sekolah atau performance di kantor. Tapi yang namanya healing, move on dan perjalanan hidup tidak bisa dipandang sebagai sebuah kompetisi. Menurut saya, setiap orang ada timeline-nya sendiri dan kita bisa memilih untuk menghindari kompetisi. Apalagi kalau berpartisipasi di kompetisi perjalanan hidup ini membuat kita makin down.

Bagaimana kalau orang terdekat kita yang sibuk 'mendaftarkan' kita ke kompetisi? Orang tua yang menjodohkan kita dengan anak temannya atau circle pertemanan yang selalu membahas anaknya sudah bisa apa seperti sebuah lomba parenting. Mau quit susah, mau ikut juga salah.

20 March 2022

Menjawab Pertanyaan dan Rasa Penasaran tentang Inner Child

“Kayaknya gue punya inner child belum selesai deh. Gimana cara menyelesaikannya ya?”

Topik yang muncul di salah satu grup WA baru-baru ini membuat saya penasaran juga. Apa itu inner child? Soalnya topik Inner Child ini memang lagi banyak jadi topik obrolan. Percakapan di WA pun jadi panjang.

“Kayaknya kita perlu tahu dulu inner child artinya apa.”
“Iya bener, lalu perlu dilihat apakah inner child kita terluka sebelum pergi healing-healing.”

Emang ada inner child yang tidak terluka? Lalu, healing-nya gimana?


Daripada banyak pertanyaan dan salah pengertian, saya langsung mendaftar acara #BincangISB yang berjudul “Bertemu dengan Inner Child,” yang diadakan pada Sabtu, 19 Maret kemarin. Acara yang menghadirkan Psikolog Diah Mahmudah S.Psi, dan Psikoterapis Dandi Birdy S. Psi, para founder Biro Psikologi Dandiah ini memberikan pencerahan tentang inner child.

Menurut Teh Diah, inner child ini adalah sosok anak kecil, yang memiliki sisi happy dan sisi unhappy pada orang dewasa di masa kini. Biasanya baru bisa disebut inner child pada orang yang sudah dianggap dewasa, pada usia minimal 21 tahun. Dalam psikologi, definisi inner child ini dijelaskan oleh John Bradshaw, salah satu tokoh di dunia psikologi dan penyembuhan yang menuliskan tentang inner child di bukunya “Homecoming: Reclaiming and Healing Your Inner Child,” sebagai pengalaman masa lalu yang belum atau tidak mendapatkan penyelesaian yang baik. Jadi bisa negatif bisa positif.

06 May 2020

Awas, Biawak Masuk Rumah!

Salah satu fenomena ‘alam’ yang sering muncul jadi meme di masa pandemic Corona adalah kembalinya binatang-binatang ke alam bebas. Lumba-lumba dan angsa yang muncul lagi di Italy (yang lalu dibantah sebagai fake news oleh National Geographic) atau cerita tentang gajah masuk perkampungan (yang dibantah media Tiongkok). Lalu ada cerita lumba-lumba di Turki, babi hutan di tengah kota Israel dan kambing gunung yang muncul di Wales (yang ini diverifikasi BBC, katanya benar).

Semua itu di luar negeri.

Yang paling dekat (dan penting) buat saya dan Dudu adalah Biawak. 

Yang pertama heboh, ya siapa lagi kalo bukan Dudu! Coba cek chatnya di Whatsapp Grup keluarga yang membanggakan binatang peliharaan barunya ini. 

Semangatnya Dudu pamer Biawak
Astaga gede banget! 

Lebih besar dan gemuk dari terakhir bertemu sebelum Corona, meskipun sebenarnya tidak yakin juga kalau ini biawak yang sama. Bahkan saya juga tidak yakin ini biawak, kadal, buaya (buaya darat mungkin haha)? 

18 January 2015

Ikutan Garage Sale

Nothing to do, nowhere to go... liburan yang “di rumah saja” enaknya ngapain ya? Ikutan garage sale jadi pilihan.

Dimulai ketika Mama sudah tidak tahan sama begitu banyaknya mainan yang numpuk di rumah. Andrew yang libur 32 hari untuk akhir tahun (ini dia yang hitung sendiri lho), dan mulai membongkar mainannya karena bosan dengan apa yang ada. BUSED DAH!

Barang jualan kita yang sudah habis diserbu baru sempet difoto
Buku kita kumpulkan dan dibagi ke teman-teman saya yang anaknya baru masuk playgroup. Mainan disumbangin ke kotak-kotak di mall seperti yang sering kita lakukan. Lha kok tetap ngga habis-habis. Akhirnya, ketika sebuah twit muncul di timeline saya tentang garage sale, kita langsung daftar.
Mama: Kita ikut Garage Sale ya.
Dudu: Apa tuh?
Mama: Jualan mainan kamu yang sudah tidak terpakai
Dudu: Emang mainan bekas ada yang mau?
Mama: Ada dong. Garage sale itu khusus mainan bekas yang mau dijual murah.

Pada akhir minggu terkumpullah 3 box besar dan satu tas baju bayi si Andrew yang siap untuk dijual. Kita berangkat pagi-pagi dan mulai jualan pukul 9. Sebenarnya sih Garage Sale-nya baru buka pukul 10, tapi ternyata orang sudah datang menyerbu dan tempat kita jualan sudah kacau balau. Mainan segera laku dan habis sebelum pukul 10. Andrew takjub.

Lupa melayani pelanggan karena sibuk baca buku jualan
Menjelang siang, buku dan baju mulai diminati pengunjung, walaupun tidak segila mainan. Membuat saya bertekad akan segera beres-beres lagi.
Dudu: Kenapa sudah tidak ada yang mau beli lagi?
Mama: Karena barang kita sudah habis, tinggal baju saja.
Dudu: Kalau begitu ayo kita pulang.
Jam 3 kita selesai. Barang berkurang 2 kotak dan kita jadi lebih kaya sedikit. Si Dudu sih happy begitu tahu hasil penjualannya. Meskipun tempat Garage Sale tidak kids friendly karena pengap dan penuh debu (maklum di ruang tamu rumah tua), juga toilet yang tidak memadai, tapi ini jadi pengalaman berharga. Andrew bahkan dapat teman baru yang ditinggal ibunya berbelanja. Semoga ketemu lagi sama anak ini ya. Siapa tahu ibunya suka blogwalking hehe.

Andrew ketemu temen baru pas Garage Sale -- main puzzle bareng nih.
Pelajaran dari Garage Sale:
  1. Merelakan barang – ngga gampang loh untuk anak-anak merelakan mainannya “diambil” oleh anak lain. Namun dari awal, ketika menyisihkan mainan, saya sudah bolak-balik bilang bahwa “mainan ini dijual ya, dan kamu akan mendapatkan uang sebagai gantinya”. Jadi sejak memisahkan mainan, saya sudah menekankan bahwa mainan yang dia sisihkan adalah mainan yang dia rela untuk “berikan ke orang lain.”
  2. Mengerti arti uang, dalam hal ini “harga barang”. Setiap barang (meskipun bekas) tetap ada harganya. Barang yang untuk kita sudah tidak berguna pun, dapat membuat anak lain tersenyum. Jadi dengan begitu dia jadi tahu bahwa uang bukan sekedar alat penukar yang keluar dari mesin ATM Mama, tapi harga barang, plus harga memasarkan barang itu.
  3. Marketing dan lobbying. Hah? Berat amat? Ngga juga sih. Andrew belajar memasarkan barang yang sesuai dengan targetnya. Misalkan anak ibu-ibu bawa anak, langsung ditawarin buku. Atau ada anak beli buku 10 dikasi bonus 1. Ada juga yang anaknya diajak main, sementara si Ibu ngelayap belanja di tempat lain. Segala “trik promosi” bahkan sampai ala Mangga Dua yang teriak-teriak “mainan murah-mainan murah” dijalanin sama Andrew. 
Sayangnya, beberapa barang yang kita bawa tidak sesuai degan “target market” yang ternyata kalangan menengah ke bawah. Parkir juga cukup ribet dan barang pribadi harus benar-benar dijaga karena terlalu kacau balau di awal penjualan. Pengunjung biasanya tidak menunggu kita selesai membereskan meja namun langsung menyerbu barang-barang yang masih di kotaknya. Untuk yang ikut Garage Sale ini sih saya sarankan semua sudah dibereskan di rumah (kalau bisa pas datang sudah tinggal buka kotak) dan bawa bala bantuan untuk mengawasi barang. Datang pagian jam 8 (meski di briefingnya jam 9) supaya bisa lebih leluasa parkir dan menata barang.

Tapi kita tidak kapok kok. Next time mau ikutan lagi, kalau mainan bekas sudah banyak dan menumpuk di kotaknya.

01 December 2014

#DibalikSecangkirKopi

“If you're a cappuccino drinker, you're probably creative, and if you take your coffee black, you're likely very straightforward” – Time Magazine

It takes two to coffee
Hidup itu sudah manis, makanya saya minum kopi pahit.

Jawaban template (yang kadang terucap dengan nada jutek kadang nada bercanda) setiap ada yang tanya, cukup membuat lawan bicara mengrenyitkan dahi melihat warna hitam pekat di cangkir saya. Kopi hitam sudah jadi trademark saya. Setiap pindah kantor, semua orang selalu ingat saya sebagai pencinta kopi hitam yang tidak pernah memasukkan gula ataupun creamer ke adonan kopi di pantry. Hadiah ulang tahun saya kopi. Mama kalau membelikan saya “oleh-oleh” dari supermarket juga kopi. Bahkan sekarang setiap weekend, anak saya selalu membuatkan saya kopi di pagi hari.

So, apa arti kopi buat saya?

Kopi itu seperti teman, yang diam-diam memberikan support tanpa bertanya. Kalau kita ngantuk dia yang bangunkan, kalau dia suntuk dia yang segarkan. Kalau kehidupan kita terlalu manis dan kita keenakan, dia yang ‘menegur’ lewat pahitnya rasa kopi hitam.

Filosofis banget ya?


=============
Tulisan ini diikutkan Kompetisi Tulisan Pendek #DibalikSecangkirKopi

14 July 2014

“Ini Boleh Diminum Ngga, Ma?”

Travelling sama anak pasti seru. Soalnya pasti dapat banyak pertanyaan dari si kecil. Salah satunya tentang perbedaan kebiasaan. Jadi boleh deh kali ini kita ngeblog tentang salah satu pertanyaan itu: misteri air minum.

Air minum itu penting buat anak saya. Soalnya, ngga seperti saya yang peminum kopi, bubble tea dan jus, Dudu hanya suka air putih. Saya harus mencontoh dia nih sepertinya. Saat pertama kali ke Singapore, Andrew kehabisan air minum. Maklum, banyak aktivitas dan seringnya kita jalan kaki membuat kita jadi cepat haus. Kalau si oma sering mengingatkan untuk minum minimal 8 gelas sehari, Mayo Clinic merekomendasikan extra 1,5-2,5 gelas untuk memenuhi kebutuhan cairan kita.

Minum air keran, jadi tidak usah beli air botolan
Saya kemudian menyuruhnya mengisi botolnya dengan air keran. 

Dudu: Loh kok air keran? Kan air keran bikin sakit perut.
Mama: Air keran di Singapore bersih kok. Boleh diminum.
Dudu: Kok bisa? Kok kalau di rumah cuma boleh buat cuci piring sama cuci tangan?
Mama: (bingung) Soalnya...
Dudu: Kan sama-sama bersih, Ma. Ngga ada warnanya.

Saya jadi harus putar otak menjawab pertanyaan dia: Apa sih syarat air minum layak konsumsi? Yup, jaman sekolah dulu kan kita belajar tentang air yang layak dikonsumsi: tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa. Yang saya ingat cuma 3 syarat itu. Selain bahwa sumur harus berjarak minimal 15 meter dari kamar mandi. Jadi, ya itulah yang saya jelaskan ke Dudu waktu dia bertanya soal kenapa kalau minum air harus dari air botol yang dibeli di supermarket. Lalu kita bertemu air keran yang bisa diminum di Singapore. Jadilah saya terpaksa konsultasi dengan Mbah Google tentang air minum

Sertifikasi air aman untuk diminum
yang ada di kaca wastafel kamar hotel kita
Ternyata ada hal-hal yang tidak kasat mata. Misalnya, derajat keasaman atau mineral yang terkandung di dalamnya. Kesadahan air harus rendah (tidak mengandung kalsium dan magnesium) karena kandungannya berbahaya bagi tubuh kita. Tingkat kesadahan air juga dapat merubah rasa. Sebaiknya air juga bebas E.Coli karena bakteri yang satu ini bisa bikin sakit perut. Semua itu gimana liatnya? Selain melihat sertifikasi pemerintah tentang air (tiap negara ada sertifikasinya), kita juga harus menggunakan 3 syarat pertama itu. Kalau agak keruh atau berbau aneh kita harus curiga duluan.

Dudu: Kalau minum air keran kok tetep haus ya?
Mama: Ya soalnya air kan buat dehidrasi. Kalau air keran kan ngga ada mineral penghilang haus seperti air botolan

Si Dudu bengong. Ngga ngerti. Buat dia, mineral, bakteri, virus dan kandungan air itu semua sama saja. Yang dia tahu, kalau sudah lewat Pure It, air jadi bisa diminum.

Kok anak saya tahu Pure It? Ternyata dia sering nonton Iklan Pure It, yang ibu hamil minum air itu lho.

Ini yang namanya Pure it 
(photo: http://www.pureitwater.com)
Saya yang ngga pernah ngeh sama produk seperti ini jadi ketika Dudu bisa menyebutkan bahwa Pure It menghilangkan kotoran dan filter karbon aktifnya membantu menghilangkan parasit dan pestisida berbahaya, saya jadi kaget. Dari mana dia tau kata macam pestisida. Sebelum saya tanya, dia sudah tanya duluan...

Dudu: Apa itu pestisida, Ma?
Mama: Pestisida itu pembunuh kuman, tapi ya itu tadi, termasuk dalam hal-hal yang tidak terlihat namun bisa ada di air dan berbahaya jika kita minum.

Selain dua tekhnologi di atas, Pure it juga memiliki prosesor pembunuh kuman dan penjernih air. Ternyata kalau shopping ke supermarket dia suka mampir ke counter Pure It, minum air dan ngobrol sama mbak SPG. Sekarang dia jadi fasih menjelaskan kenapa air Pure It aman untuk dikonsumsi.

Teknologi Pure it
(photo: http://www.pureitwater.com)
Anak saya mau jadi professor… dan menurutnya Pure It ini salah satu ciptaan yang keren banget. “Dengan 4 tahap pemurnian air, air dari Pure It ini jadi bisa diminum. Kan hemat, Ma, praktis lagi ngga usah gotong air gentong.” 

Oke deh Professor Andrew…


===============================

Blog entry ini diikutkan lomba blog Pure It Indonesia dan merupakan bagian dari rangkaian blog posting Libur Telah Tiba yang menceritakan kegiatan kita selama liburan sekolah 21 Juni -13 Juli 2014 kemarin.

09 January 2014

Biarin Aja (Bagian 2) "Tapi Aku Kan Cuma Mau Bantu..."

Pernah dapet protes itu dari anak?
Saya sering.

Saat anak saya menjatuhkan barang yang dibawanya, menumpahkan makanan bahkan memecahkan gelas yang sudah saya bilang "Mama aja yang bawa, Du, ntar pecah loh". Giliran kejadian, saya marah, dia protes "Kan aku cuma mau bantu Mama."

Lalu muncullah dilemma itu: to help or not to help?


Aku mau bantu Mama bawa koper dong!
Membiarkan anak membantu kadang membutuhkan extra kesabaran... dan extra energi untuk membereskan semuanya yang sering malah jadi kacau. Belum lagi kalau kejadiannya kayak kemarin. Sudah anak memecahkan gelas, kaki-nya kena beling pula. Sudah harus nyapu, harus ngurusin anak yang berdarah. Hal yang harusnya selesai dalam waktu 5 menit jadi selesai dalam waktu 30 menit.

Tapi saya sudah memutuskan untuk membiarkan si anak membantu semampunya. Kalau dia mau bantu bawa tas silahkan, bantu bawa gelas juga boleh tapi hati-hati. Itu pun kadang masih salah... soalnya apa yg menurut saya dia ngga mampu lakukan, menurut dia gampang aja dilakukan. Trus kejadian deh kayak kasus gelas itu.

*fiuh*

Tapi daripada dia berhenti membantu... menyerah menolong orang karena selalu dilarang, atau takut melakukan kesalahan saat membantu orang, saya lebih baik membereskan a mess he made for helping me. Soalnya bukan seberapa besar bantuan yang diberikan yang penting, tapi seberapa besar niat Andrew untuk membantu orang. Banyak yang akhirnya bilang anak saya terlalu baik. Dia bisa mendadak turun tangan membantu si Opa bawa tas, meskipun pas dia bawa tasnya malah jatuh trus kotor. 

Ada kalanya bantuan itu salah dan saya takut Andrew dibilang kaypoh (suka ikut campur urusan orang). Misalnya kalau ada anak nangis lalu Andrew sibuk menghibur. Atau kalau ada anak yang nakal lalu dia mengadu ke Miss wali kelasnya. Saya protes keras takut dia dicap tukang ngadu.
Mama: Nanti kamu kayak smurf kacamata. Tukang ngadu.
Dudu: Tapi aku cuma mau bantu Miss. Kasian anak murid Miss nakal-nakal semua.

Pokoknya tidak ada kata terlambat atau gagal dalam menolong orang lain. Semua cara halal!

Kayak kejadian baru-baru ini.
Melihat saya kerepotan menata makanan buat bekal road trip, Andrew buru-buru membantu, mencarikan sebuah kotak makan diantara tumpukan tas yang sudah rapi di bagasi mobil. 
Mama: Du, ngga usah, nanti berantakan lagi.
Dudu: Bentar, Ma. Hampir ketemu nih!
Mama: Ngga usah.
Dudu: Yah Mama. Kan aku cuma mau bantu.
Dan dia terus berjuang mencari kotak bekal itu (padahal di dapur juga ada). Saya yang mau ngomel karena pasti harus menata ulang bagasi mobil, ngga jadi marah begitu dia kembali bersama kotak makanan sambil tersenyum ceria karena berhasil membantu orang.


Begitu saya mau protes soal akibat dari bantuannya....
 Saya harus menghadapi muka seperti ini:
"Kan aku cuma mau bantu..."

Gagal deh marahnya...
Ya udah biarin aja



26 September 2013

Hand In Hand: Together We Can

Waktu nonton video Tango Hand in Hand For Nias (http://www.youtube.com/watch?v=Jdy2FdXO1ZM), untuk penulisan blog ini, ternyata diam-diam, anak saya, Andrew (7thn) memperhatikan dari belakang. Selang berapa lama muncul pertanyaan “Itu si Brian kenapa, Ma?” Saya pikir ini kesempatan untuk cerita tentang semangat berbagi.



Buat yang sudah punya anak balita pasti mengalami susahnya mengajarkan “sharing” alias “berbagi” kepada anak kita. Mainan dipinjam lima menit sama si kakak atau si adik saja anak bisa marah, apalagi kalau kita bilang akan diambil untuk diberikan kepada orang lain. Yap, mainan/buku bekas layak pakai. Kalau sudah ada yang baru, anak mau melepas yang lama? Ngga juga deh ternyata.

“Nias? Yang kena tsunami itu ya, Ma?”
“Iya. Makanya mereka butuh buku dan mainan, soalnya kan kemarin semuanya hanyut.”
(Sebenarnya mungkin ngga gitu sih, tapi ya gimana lagi yang masuk akal anak saya?)
“Jadi mereka ngga punya buku?”
“Ngga punya.”
“Ngga punya mainan?”
“Ngga punya.”
Anak saya terdiam. Mikir.
“Enak kan jadi kamu, mau beli mainan tinggal ke toko trus minta Mama beliin.”
“Trus kenapa kita yang harus kasih mainan sama buku ke mereka? Orang tuanya kok ngga perduli?”

Nah Loh!

Di situ saya jelaskan bahwa kehidupan mereka berbeda dengan yang kita jalani di sini. Mainan dan buku bukan kebutuhan yang terpenting untuk mereka karena dana yang ada digunakan untuk makan dan pengobatan. Ya seperti Brian itu contohnya. Bukannya ngga perduli, tapi ada hal-hal yang memang ngga bisa dilakukan sendirian. Karena itu mereka butuh bantuan orang lain, ngga bisa sendirian. Dan kita harus gotong royong ( #HandinHand) membantu mereka.

Alasan “kotak mainan kamu sudah penuh, kalo yang sudah tidak terpakai dikasi ke anak lain, kan kamu punya tempat untuk mainan baru,” biasanya ampuh untuk mengajak anak ‘membersihkan’ kotak mainan dan rak bukunya. Tapi buat saya yang lebih bagus lagi ya kalau kita memberi karena ingin melihat orang yang diberi bahagia.

“Ngga bisa beli mainan?”
“Kan uangnya habis buat beli makan.”
“Kalo aku kasi mainan mereka senang?”
“Ya senang dong. Kamu kalo dapat mainan senang ngga?”
“Senang.”
“Kalo liat orang lain yang kamu kasi mainan senang, kamu senang ngga?”
Dia terdiam lagi. Mikir lagi.
“Kayak waktu si Gracia ulang tahun trus aku kasi kado dia senang banget itu ya?”
“Ya gitu deh kira-kira.”
“Aku senang juga.”
“Trus Gracia yang kasih mainan satu apa banyak?”
“Banyak dong, kan dari teman sekelas.”
“Kamu kalo dapet mainan banyak senang ngga?”
“Senang banget.”
“Nah, makanya kita harus ikut perduli, soalnya kalo kita ikut kasi kan mainan mereka jadi banyak dan mereka jadi tambah seneng.”
“Iya ya Ma.”

Tuh kan kita harus ikut perduli dan berbagi. Karena memberikan sesuatu dengan ikhlas (dan bisa berguna bagi orangnya) kita juga bakalan senang. Kan waktu berniat memberi, kita pasti memikirkan si penerima. Toh suatu hari nanti aka nada giliran kita menerima kebaikan orang lain.

Jadi, tunggu apa lagi? 
It’s simple to lend a helping hand and give them a smile.
Donasikan buku dan mainan layak pakai ke kantor Tango Wafer, Jl Lingkar Luar Barat Kav 35-36, Cengkareng, Jakarta Barat 11740

18 June 2013

Boy of Steel

 “People are afraid of things they don’t understand.”

– Jonathan Kent

Superman was never my favorite super hero. So when he’s back on screen with his latest gig, I didn’t plan to join the crowd. Then come this conversation, 

Dudu: Ma, aren’t we going to watch Superman?
Me: Yeah… (not excited).
Dudu: Let’s go. I wanna know how he became Superman…. And we have to buy that Superman cup.
Me: Okay… (still not excited) 


  
That Superman Cup!


Andrew/Dudu is always curious on how someone can become a super hero. This past years, he’d been watching Batman (not The Dark Knight though), Spiderman, Thor, Iron Man (so far his favorite) and The Avengers. Now, I guess, it’s Superman’s turn. 

So we ended up going, fighting the crowd and managed to score a seat in the front row to watch the (supposedly handsome) Superman. What got me wasn’t what the screen was saying but the conversation we had afterwards. Cos, he, somehow has that “Superman” syndrome. An alien stranded in a different world, with different language and different culture.


Dudu in Metropolis
Dudu: How far is Kansas from my home town?
Me: Well, 2-hour drive.
Dudu: Oh, it’s not that far.
Me: You’ve been to Kansas, you know. You’ve been to Metropolis. I’ve shown you the pictures.
Dudu: I don’t remember.
(Yeah, he was a little over 1 then)
Dudu: They have corn field.

Me: Missouri has corn field too. 

After seeing the tornado scene... and having a brief thought about Dorothy, Toto and the Wizard of Oz, he asked...
Dudu: What’s wrong with Kansas?
Me: There’s nothing there…

(and there’s almost nothing in Missouri too haha…) 
 
Dudu: Why did he cry after killing the bad guy, Ma?
Me: It’s the last person from his planet. His ‘brother’.
Dudu: But this ‘brother’ is a bad guy.
Me: Put it this way… what if you have to kill a fellow American… the only American you know here, to save me, your Indonesian Mom, or your Indonesian friends. Would you do it?
Dudu: (thinking) Yeah, that’s tough.

Dudu: Why Superman doesn’t kill zombies?
Me: Alice (Resident Evil) will be out of job. Everyone has his/her own role in Hollywood.

Eventually, I got to ask questions.
Me: So, do you want to be Superman?
Dudu: I can’t. He’s not human. But I can be Iron Man. I can be smart, rich and inventing stuffs…
(Hopefully minus the playboy part)

Me: I don’t want you to be Superman either. He’s 33, single, jobless and living off his mother.
Dudu: But he has a job, Ma… Superman is saving the world.
(Well… if you call that a job)

But the best part came in the end.
Dudu: The captain said Superman is sexy.
Me: Yeah, I’d agree with her. Superman is hot.
Dudu: But this time he doesn’t wear his underwear outside…

I’m glad I watched Superman. 


29 December 2010

Pelajaran Berharga Tentang Bumi Kita

Semua ini bermula dari semua pertanyaan:

"Ma, global warming itu apa sih?"
Tanya anak saya, Andrew, yang masih berusia 4 tahun setelah nonton film Ice Age. Entah dari mana dia dengar konsep itu, yang jelas, saya bingung menjelaskannya. Akhirnya jawaban saya simpel, "global warming itu kalau buminya rusak karena kepanasan."


Dia sih puas dengan jawaban itu, saya yang jadi tidak puas. Masa sih hanya itu yang bisa saya ajarkan kepada anak saya tentang global warming? Saya terus mencari, apa lagi ya yang bisa saya 'wariskan' pada anak saya ini, yang notabene generasi masa datang? Tinggal di apartment di tengah ibukota membuat semuanya jadi lebih sulit. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya macet, gedung-gedung yang tinggi menjulang dan langit yang kerap menghitam karena polusi. Kemarin, kesempatan tersebut datang bersama dengan pulangnya kedua adik saya dari kuliah di luar negeri. Kami sekeluarga pergi mengunjungi pulau Belitung.

Pelajaran #1: Deforestasi vs Reboisasi

Sebelum mendarat pun, Andrew sudah semangat melihat ke
jendela. "Laut, Ma, laut!" "Pulau, Ma, pulau!" teriaknya memberikan laporan pandangan mata tentang apa yang ada di bawah sana. Mendekati Belitung, Andrew semakin semangat. "Ma, ada hutan! Gede banget! Pasti banyak monyetnya ya!"
Maklum saja, itu pertama kalinya anak saya melihat hutan. Lalu, dahinya berkerut, berpikir, "Ma, kenapa di Jakarta ngga ada hutan ya? Pantesan di Jakarta ngga ada monyet." Yah, memang. Banyaknya hutan yang ditebang dan dialihfungsikan untuk tempat tinggal tanpa sadar bisa membahayakan manusia itu sendiri.

Saya jadi ingat satu buku yang sering saya bacakan sebelum Andrew tidur berjudul "Knuffel Bear" yang mengisahkan tentang beruang yang suka memeluk binatang hutan dan pepohonan. Saat seorang penebang liar hendak merusak hutan, beruang tersebut mengaum dan mengakut-nakuti si penebang tanpa hasil. Akhirnya dia memeluk si penebang dan berhasil membuatnya lari ketakutan. Intinya, si beruang menyelamatkan hutan dengan pelukannya. (Hm... ternyata tanpa sadar saya sudah sering bercerita tentang hutan kepada Andrew.) Dari situ saya bercerita pada Andrew kenapa hutan tidak boleh ditebang sembarangan walaupun kita (manusia) membutuhkan kayunya. Sekarang dia tahu kalau penebangan hutan sembarangan tanpa adanya penghijauan kembali bisa menimbulkan tanah longsor dan, tentu saja, global warming.

Pelajaran #2: Ikan dan Sampah

Hari ke-2 di Belitung, kami pergi snorkling. Andrew yang suka petualangan ikut serta. Karena belum berani menyelam dia melihat ikan-ikan dari kotak kaca yang dibawa adik saya. Kotak tersebut di pegang untuk memecah permukaan air laut sehingga Andrew bisa melihat ikan berenang diantara terumbu karang dan rumput laut. Sayangnya di tengah indahnya pemandangan, ada sebuah botol plastik yang terbawa ombak lewat di tengah-tengah kami. "Ma, ada sampah. Tempat sampahnya di mana ya?" Tanya Andrew spontan. Lah, di tengah laut mana ada tempat sampah?

Memang, saya selalu mengajarkan pada Andrew untuk membuang sampah pada tempatnya. Dia bahkan pernah memarahi seorang ibu yang membuang sampah di rumput. Saya jadi sedih kalau ingat laut-laut Indonesia yang indah seringkali sudah dicemari sampah. Pantai-pantai yang sudah komersil apalagi. Tidak ada bedanya sama jalanan di kota besar. Yang lebih parah, gara-gara menemani anak saya nonton film animasi kura-kura, saya jadi melihat sendiri bagaimana perjuangan seekor kura-kura membebaskan dirinya dari jeratan kantong plastik yang dibuang sembarangan oleh manusia. Atau bagaimana seekor gurita harus sembunyi dari minyak tumpah yang mengotori tempat tinggalnya. Miris banget jadinya. Moga-moga, laut yang indah ini masih bisa Andrew tunjukkan ke anak cucunya kelak.


Pelajaran #3: Panas vs Hujan

"Kenapa sih aku harus pake sunscreen terus, Ma?" Tanya Andrew saat untuk kesekian kalinya saya membuka tube tabir surya itu dan mengoleskannya ke badan dan mukanya sebelum kita keluar hotel.
"Soalnya panas. Nanti kulit kamu terbakar." Jawab saya.
"Gara-gara global warming ya?"

Iya. Gara-gara global warming, bukan hanya bumi saja yang rusak, tapi kita juga jadi kepanasan. Kulit bisa terbakar kalau tidak pakai tabir surya. Bisa dehidrasi kalau tidak sering minum. Semua hanya karena bumi ini jadi panas banget. Kayaknya, waktu saya kecil dulu, saya masih bisa keliling kompleks rumah naik sepeda tanpa topi, tanpa repot pakai sunscreen... sekarang, anak saya main sepeda di dalam rumah. Kalau mau keluar, harus pagi, sebelum pukul 9 atau sesudah pukul 5. Di luar itu, panasnya tak tertahankan. Demikian juga dengan Belitung. Angin pantai yang semilir tidak sanggup mengalahkan teriknya matahari.

Antara panas sekali begitu atau hujan tiada henti. Saya sekarang bingung kalau ditanya, "kita sedang musim apa, Ma?" Soalnya musimnya sudah tidak jelas lagi. Seharusnya sudah masuk musim panas pun, hujan masih datang tiada henti.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Saya selalu mengajarkan kepada Andrew untuk mulai dari hal kecil. Soal sampah misalnya. Selama di Belitung, saya kerap mengingatkan dia untuk tidak buang sampah sembarangan. Terutama jika kita berada dekat pantai. Soalnya agak susah bagi Andrew mengenali mana sampah yang dibuang manusia (botol kosong, plastik, kaleng soda, dll) dan mana 'sampah' yang datang dari laut (rumput laut, pecahan kerang, dll). Habis makan kelapa pun, semuanya harus kita bereskan kembali. Atau saat pergi ke tempat yang tidak seberapa jauh, kita sering jalan kaki berdua. Bisa juga dengan mendaur ulang karton bekas sereal dan botol bekas jus menjadi mainan. Kalau dipikir-pikir, banyak juga yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk bumi kita ini.

3 hari di sebuah pulau kecil yang tidak jauh dari Jakarta sudah memberikan banyak pelajaran untuk Andrew dan untuk saya. Yang jelas, saya tidak boleh berhenti mengajarkan konsep peduli lingkungan pada anak saya. Terutama karena kami tinggal di kota besar yang dengan mudah bisa lupa dengan yang namanya hutan, pantai, gunung dan semua alamnya.

"Bye bye pulau. Kapan-kapan Andrew main lagi ya sama ikannya!"





23 December 2010

Kenapa Ya?

Buat saya, yang paling susah bagi seorang ibu adalah menjawab “kenapa?”

Kalau logis sih bisa langsung dijawab. Kalau soal kapan Batman tidur karena siang harus kerja, malam memburu penjahat, saya juga bingung jawabnya. Akhirnya, menjadi seorang ibu membuat saya harus kreatif, selain menjelaskan jawaban, saya juga harus yakin anak saya mengerti istilahnya. Sering kali saya mati kutu karena tidak bisa memprediksi pertanyaan anak saya.

“Ma, kenapa Rabu libur kok mama ngomel?”

“Hari kejepit.”

“Kenapa kejepit Ma? Hari Rabunya tidak hati-hati ya jadi kejepit pintu?”

Lha, jawabnya gimana nih?


(Tulisan ini diikutkan ke "berbagi pengalaman menjadi ibu" Radio A untuk memperingati Hari Ibu Desember 2010)

01 December 2010

Ngapain Sih Ikutan Lomba?

Baru-baru ini saya ditanya "kamu ikutan lomba tujuannya apa sih?"

Saya bingung jawabnya.Emang ikutan lomba harus ada tujuannya ya? Saya pribadi ngga suka kompetisi. Buat saya lebih baik menghindari persaingan daripada harus berjuang. Piala saya cuman 1, itu pun saya ngga tau kalau ternyata karya saya dilombakan. Plus, saya dulu kurus makanya yang ngga pernah menang lomba balita sehat cuman saya hehehe... Tapi anak saya senang bersaing. Sedikit-sedikit bilang, "ayo, Ma, kita lomba siapa yang menang." Makan lomba, bikin PR lomba, nonton TV lomba, mandi aja lomba. Tinggal tidur aja nih yang belum dilombakan. Kalo yang terakhir itu seh jelas saya yang menang, lha wong saya senang tidur hihihihi.

Tapi ternyata sifat bersaing anak saya itu (yang jelas-jelas nurun dari keluarga daddy-nya), merambah sampe ke lomba yang lebih dari sekedar siapa yang bisa menghabiskan makanan duluan. Ikut lomba A, cuman sampe final. Masih dapat hadiah hiburan sih, cuman saya kok tidak kecewa ya? Apa karena saya memang tidak berharap banyak? Ikut lomba B, menang. Tapi kok tidak excited banget ya? Ikut lomba C, kalah... yang nangis malah anaknya. Gimana sih?


Saya pikir-pikir, ternyata saya masih tidak suka kompetisi. Cuma, karena ngikutin anak yang kompetitif aja, saya jadi ada di ajang lomba ini. Kembali ke pertanyaan yang sempet bikin saya bingung itu. Kalau begitu, ngapain saya ikut lomba segala macam? Kadang-kadang sampai niat cari baju, property, foto... cari mood anak yang pas, cari waktu yang pas, nyetak foto, beli produk, ngisi formulir, and ngirim berkas. Masa semua repot-repot begitu cuman untuk iseng doang?

Saya tanya anak saya habis sebuah lomba fashion show, "kamu ngapain sih ikutan lomba fashion show?" Jawabannya simpel, "karena aku suka." "Suka apanya?" Ngga bisa jawab juga dia. Lama-lama saya pikir, ikutan lomba itu sarana saya buat bersama anak. Waktu sama-sama yang tidak bisa tergantikan. Senang bareng, sedih bareng, cape bareng, bosan bareng. Semuanya sama-sama. Bukan buat menang, bukan buat juara... tapi karena di lomba-lomba itu saya bisa belajar untuk berjuang. Sukur-sukur menang.

Kalau anda? Tujuan ikut lomba apa?


30 November 2010

Tuhan, Tolong Jawab Pertanyaan Ini…

Anak saya, Andrew, ikut Sekolah Minggu sejak bayi. Berdoa sudah lancar dan baca alkitab hampir setiap malam. Dia bahkan punya sebuah alkitab bergambar untuk anak-anak. Sekarang anak saya duduk di TK-A dan rajin membaca STAR. Alkitabnya juga masih dibaca. Bagus dong, mengenalkan cerita Tuhan Yesus sejak dini…. Eits… ternyata tidak segampang yang anda bayangkan loh.

Setiap malam, saat hendak baca alkitab, saya selalu was-was. Anak saya ini terhitung banyak bicara dan banyak bertanya. Tidak ada yang lolos dari pengamatannya. Setiap kali membaca alkitab, ada saja yang ditanyakannya. Saya berasa seperti tua-tua Farisi yang sedang ditanya-tanya sama Tuhan Yesus kecil. Coba simak pertanyaan berikut:

“Ma, bintang orang Majus sama ngga dengan second star to the right?”

“Lain dong,” jawab saya. “Bintang orang majus kan menunjukan tempat Tuhan Yesus lahir.” Second star to the right adalah lokasi Neverland berdasarkan cerita Peter Pan karya J.M. Barrie. Dan kasus bintang orang Majus bukan yang pertama dan terakhir yang berkaitan dengan pop culture. Melihat raja Mesir yang jahat dalam cerita Musa, anak saya langsung komentar, “Oh… seperti yang di Little Einstein ya, Ma? Yang ke Egypt itu loh…” Little Einstein adalah salah satu cerita Playhouse Disney favoritnya. Atau ketika saat saya mencoba menjelaskan bedanya malaikat dengan Tinkerbell.

Tapi itu masih masalah mudah. Membaca perjanjian lama biasanya lebih menantang buat saya. Apalagi kalau ceritanya ada adegan berantemnya seperti Daud dan Goliath. Goliath digambarkan sebagai orang jahat yang besar dan membawa pedang dan perisai. Halaman pertama menggambarkan orang Israel yang lari ketakutan karena kalah dari Goliath. Halaman kedua menggambarkan Daud yang sedang mengambil batu di tepi sungai. Berikutnya… anda sudah tahu dong, Daud mengalahkan Goliath pake apa…

“Ma, Daud kok ambil batu? Kok batunya dilempar ke orang jahat? Jadi kalau ada orang jahat, Andrew boleh lempar batu ya?”

Kalau boleh memilih, saya pilih menggantikan Daud melempar Goliath dengan batu saja deh. Masalahnya anak saya belum mengerti konsep “jahat.” Orang yang tidak mau mengikuti kemauannya juga sering dibilang “jahat” sama anak saya. Apalagi dia belum bisa membedakan antara nakal dan jahat. Kalau mengikuti petunjuk Daud, bisa-bisa teman sekelasnya yang kena lemparan batu. Soalnya pernah suatu kali dia pulang sekolah dan bercerita: “Ma, tadi Kevin jahat. Soalnya pas miss cerita, dia ngobrol.” Nah loh…. Kena timpuk deh Goliath, eh Kevin…

Alkitab juga mengenalkan bahwa Tuhan Allah itu maha kuasa. Tuhan Allah memang hebat. Bisa menciptakan alam semesta dan isinya… masalahnya, di alkitab anak saya, Tuhan Allah lupa menciptakan baju untuk Adam dan Hawa.

“Ma, kok cewek dan cowoknya telanjang?”
Waduh… bagaimana menjelaskannya pada anak 3,5 tahun? “Soalnya Adam dan Hawa belum makan buah yang dilarang, jadi mereka belum tahu malu…” Untuk anak saya “oh… oh… “saja mendengar penjelasan saya yang tidak menjelaskan sama sekali itu. Ketika lain waktu dia bertanya lagi, saya sudah menemukan jawaban yang lebih simple, “kalau jaman dahulu belum ada baju jadi mereka pakai daun.” Masalah Adam dan Hawa yang “lupa” digambar bajunya itu pun selesai.

Masih masalah baju… Begitu Tuhan Yesus besar dan masuk ke Yerusalem menggunakan keledai, anak saya mulai mengerutkan dahi. Sejenak kemudian dia bertanya, “Ma, kenapa Tuhan Yesus pake rok? Kan Tuhan Yesus cowok.” Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya segera menjawab, “soalnya jaman dulu belum ada celana,” sambil menunjukkan banyaknya bapak-bapak pake rok yang sedang menebar daun palem untuk jalan lewat Tuhan Yesus.

Ngomong-ngomong soal jaman dahulu, hari Natal ini anak saya belajar tentang cerita Tuhan Yesus. Selain dapat dari Sekolah Minggu, dia juga lihat di alkitabnya. Lalu timbullah pertanyaan:

“Ma, kok Tuhan Yesus lahirnya di kandang domba?”

Waduh, jawab apa lagi saya? Untungnya, kali ini sebelum saya kehabisan akal, anak saya sudah menjawab sendiri “Oh, soalnya jaman dulu ngga ada rumah sakit ya.”

Terima kasih, Tuhan.
Amin.

18 November 2010

The Joy of Giving


Minggu lalu saya mengajak anak untuk memilih mainan yang sudah tidak dimainkannya lagi untuk disumbangkan.

"Kenapa, Ma?"

"Soalnya banyak anak yang membutuhkan mainan, tapi tidak mampu beli."

Ternyata dia senang -- walaupun kesulitan memilih mainan mana yang akan direlakan untuk disumbang. Tapi, saya mudah memberikan pengertian menyumbang karena dia sudah nonton TOY STORY 3. Haha. Jadi dia tahu mainan yang akan disumbang itu berarti untuk di mainkan kembali. Moga-moga di tempat baru tidak ada LOTSOnya ya hehehe...

Buat saya, susahnya menyumbang dimulai dari tidak adanya figur yang jelas: siapa yang dapat mainan. Mungkin karena anak saya orangnya visual, jadi kalo menyumbang, dia tanya "siapa yang dapat mainan saya nanti, Ma?" Agak susah jawabnya karena kebetulan, tempat yang menerima sumbangan hanya menuliskan sebuah nama Yayasan. Jadi, menyumbang bisa jadi lebih efektif kalau ada figur yang kids can relate to.

Kan lebih enak bilang "Itu loh, buat kakak yang itu." (sambil menunjuk gambar). Daripada hanya mengatakan hal yang abstrak. Well, namanya juga sama-sama belajar. Anak saya belajar menyumbang, saya bejalar menjelaskan kenapa kita harus berbagi.

05 August 2010

Kenapa oh Kenapa?

1. Ma, kenapa dia ngga mau pinjemin mainannya, kan cuman sebentar trus aku kembalikan lagi?

2. Ma, kenapa jalanan kita (trotoar) diparkirin mobil, sementara di Madrid ngga?(jawaban si Mama: yah, namanya juga Indonesia, nak...)

3. Ma, kenapa orang kerja ada yang punya bos ada yang ngga?

4. Ma, kenapa baby ngga bisa jalan?

5. Kalau masi pakai pampers, namanya baby ya, Ma? (susah dijawab karena anak tersebut seumuran dengan si penanya yang dengan suksesnya nunjuk sambil nanya kenceng-kenceng).

6. Ma, kenapa ibu itu buang sampah sembarangan? Kacau dia, Ma!

7. Ma, kenapa pesawat kalau mau blast off, sayapnya memanjang? (susah dijawab karena Mamanya anak IPS yang passionnya di Bahasa. Untung ada Om Meh yang Mechanical Eng ahahahahaha)

8. Ma, kenapa Spanyol bisa menang Piala Dunia? Aku juga mau dong, Ma!

9. Ma, kapan kita ke Egypt? (waduhhhh kapan ya Nak? Susah dijawab karena Mamanya ngga punya duit hahahaha...)

10. Ma, kenapa anak kecil tidak boleh pegang pisau? Kan aku pasti hati-hati supaya tidak kepotong?

Nah lohhhhhhh.....
Anak pendiam, puyeng. Anak banyak nanya juga sama pusingnya.... dari A-Z ditanya semuanya.

17 December 2009

Alkitab dan Anak Kecil

Andrew punya bible.
Dan yang namanya baca... wuah bisa tiap malem minta dibacain.
Ceritanya? Ya apa aja yang ada di Bible itu...
But then the bible created more problems than solutions.

Dudu: "Mah, kenapa Adam dan Hawa ngga pake baju? Kan malu..."
Mama: "Ya soalnya Adam dan Hawa belum makan buah yang dilarang itu, jadi blom malu..."

Ngga menjawab sih, ngga nyambung juga, tapi dia udah oooh.... jadi ya I left that at it.
Moving on to the next pages

Dudu: "Mah, kok Daud ambil batu?"
Mama: "Iya, buat lawan Goliath."
Dudu: "Goliath jahat ya, Ma? Jadi kalo ada orang jahat, boleh dilempar batu ya Mah?"

Waduh...
Si Daud sih pake lempar batu....

Mama: "Kalo Daud kan lawan orang jahat. Dudu lempar batunya ke danau aja ya...."

Untung dia ngerti....
Kalo ngga kan gawat tuh... jadi anarkis.

Begitu sampe cerita Tuhan Yesus...
Dudu: "Mah, kenapa Tuhan Yesus lahirnya di kandang domba?"
Blom sempet gw jawab, dia dah nambahin sendiri...
Dudu: "Oh... karena ngga ada rumah sakit ya?"
Iya aja deh, Du...
Daripada pusing.

Kita ngomongin yang lain aja yuk, Du!