Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

29 January 2026

Tidak Apa-Apa Kok Kalau Cuma Punya Target Baca 2 Buku Tahun Ini

Cuma punya target membaca 2 buku. Nggak apa-apa kan?

Tahun kemarin saya bahkan tidak punya target apa-apa. Niat membaca buku hanya berakhir dengan buku yang dibawa ke mana-mana. Padahal list buku yang yang TBR alias menunggu untuk dibaca ada banyak. Tapi dari semuanya, ada satu buku fiksi dan satu buku non-fiksi yang ingin saya baca.


The Great Mental Models: The Simple Tools that Explain the World
Economic and Arts
By Shane Parrish
404 Halaman
2024

Buku ini mengajak pembaca memahami cara berpikir lintas disiplin, dalam hal ini Ekonomi dan Kesenian, melalui kumpulan mental models atau kerangka berpikir sederhana. Bukunya memiliki bahasa yang mudah dipahami dan contoh-contoh praktis dari dunia ekonomi, perilaku manusia, hingga karya seni. Makanya saya jadi tertarik untuk membaca.

Best New Singaporean Short Stories Volume Four
Edited by Pooja Nansi
234 Halaman
2019

Antologi yang merangkum suara-suara kontemporer penulis Singapura melalui cerita-cerita pendek yang tajam, beragam, dan reflektif ini menampilkan potret kehidupan urban Singapura dengan segala lapisannya. Ada cerita relasi keluarga, identitas, kelas sosial, serta kegelisahan personal, yang disajikan lewat gaya bercerita yang berbeda-beda. Buku ini saya beli di salah satu toko buku lokal ketika sedang jalan-jalan di negara tetangga.

Bagaimana saya bisa memastikan bahwa buku-buku yang disebutkan ini bisa dibaca hingga selesai?

24 June 2024

Review Buku: Conscious Diet oleh dr. Yovi

Judul buku ini membuat saya berpikir dua kali. Conscious Diet. Memangnya selama ini kita tidak sadar ya kalau diet? Ternyata artinya lebih dari sekedar sadar bahwa kita sedang menjalani diet, melainkan sadar akan diri kita dan tujuan diet kita. Mengenali diri kita sepenuhnya agar diet yang dilakukan berhasil.

Buku Conscious Diet oleh dr Yovi

Buku setebal 101 halaman ini isinya padat dan praktis. Bukan hanya narasi tapi juga ada rumus BMI, kuis tipe tubuh dan rekomendasi pola diet serta olahraga yang bisa diikuti. Dan karena bukunya juga ringan, jadi bisa dibawa dalam tas untuk bacaan sembari menunggu, atau dijadikan bahan pembicaraan dengan teman.

Mengenali diri sendiri mulai dari mana? Buku Conscious Diet dimulai dengan Bab berjudul “Anda adalah Gaya Hidup Anda.” Pada Bab ini pembaca diajak berkenalan dengan kalori dan BMI. Membahas diet sebagai kalori masuk dan kalori keluar, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hitung-hitungan simple kalori.

“Kenali jenis tubuhmu sebelum mulai diet,” saran dr. Yovi Yoanita, M.Kes (gizi) FAARM, ABRAAM, pengarang buku Conscious Diet pada acara “Brunch Date with dr Yovi” yang digagas oleh Female Digest di YClinic Bintaro beberapa waktu lalu.

“Brunch Date with dr Yovi” yang membahas tentang buku Conscious Diet ini

Bab 4 yang berjudul “Mengenal Diri, Mengenal Tipe Badan,” ada di halaman 75. Bab ini dimulai dengan kuis sederhana yang membantu kita mengenali apa tipe badan kita. Dari sini kita tahu diet apa yang cocok untuk kita jalani.

Saya jadi tahu bahwa tipe tubuh saya adrenal dan dianjurkan untuk melakukan olahraga yang tidak memicu stress, tidak mengurangi porsi makan secara drastis, dan menjaga kuantitas serta kualitas tidur.

06 March 2022

Kenalan dengan Diri Sendiri di Launching Buku Empowered ME

Mengenali diri sendiri itu penting. “Kalau kita nggak benar-benar tahu apa yang sesuai sama kita dan keluarga kita, jadi capek mengejarnya ke mana-mana karena ada banyak referensi di luar sana.” Satu quotes dari Puty Puar, penulis buku Empowered ME (Mother Empowers) memberikan pandangan baru tentang arti perempuan berdaya.

Foto buku by Penerbit GPU

Launching buku Empowered ME (Mother Empowers) yang saya hadiri sore hari itu sedikit berbeda karena bukan hanya ngobrol-ngobrol dan tanya-jawab, tapi ada mini-workshop journaling-nya. Wah, seru. Ini adalah launching buku pertama yang saya hadiri secara online, dan banyak manfaat yang bisa dibawa pulang selepas acara. Bukan cuma manfaat bukunya, tapi juga susunan acara dan ide-idenya. Soalnya, saya juga sedang belajar jadi event dan community planner nih di komunitas yang saya ikuti, jadi virtual launching begini bisa jadi referensi. Sekali hadir, dapat banyak ilmu.

Launching buku yang diadakan lewat Zoom pada Sabtu, 5 Maret 2022 jam 3 siang itu dipandu oleh Nathalie Indri dari Inspibook - Inspigo, menghadirkan editor bukunya, Nadira Yasmine dan surprise guest, Yohanes Abdullah, yang adalah ayah dari Puty. Masing-masing punya cerita tentang buku ini dan tentang Puty, yang bikin launching buku Empowered ME (Mother Empowers) jadi makin berwarna.

24 August 2021

5 Komik yang Wajib Jadi Drakor

“Jodoh Mama sudah kelihatan?”

Pertanyaan ini muncul pas makan siang sama Dudu akhir pekan kemarin. Sebagai seorang single mom dari anak yang tahun ini berusia 15 tahun, pertanyaan soal ‘pacar’, ‘jodoh’ dan ‘kriteria cowok seperti apa?’ sudah menjadi topik pembicaraan yang umum. Dan kalau boleh sedikit tidak realistis, cowok-cowok di komik yang sering saya baca inilah yang kayaknya membuat dunia jadi tidak nyata.

Dari semua komik, manhwa, manhua, manga atau apapun itu sebutannya, ada beberapa yang ceritanya (dan tentunya tokoh utama laki-lakinya yang bucin) yang berkesan buat saya. Duh, coba dibuat jadi live action atau drakor. Kan malam minggu saya jadi lebih berwarna dan mungkin bisa jadi teman di saat harus kembali di rumah saja bulan ini.

Remarried Empress / The Second Marriage by Alphatart

Genre: Fantasy, Kerajaan

Pembaca setia Webtoon pasti sudah tidak asing sama kisah yang satu ini. Seorang perempuan yang terlahir untuk menjadi ratu, mendadak diceraikan suaminya karena selir. Namun bukan Navier Trovy namanya kalau tidak punya rencana cadangan, menikah lagi dengan raja negara tetangga.

Yang membuat Webtoon ini menarik adalah bagaimana sang Ratu, Navier, menyikapi suaminya, Soviesch yang membawa pulang selir bernama Rashta. Soviesch dan Navier adalah teman masa kecil, yang dibesarkan untuk menjadi raja dan ratu kerajaan Dongdae. Mereka baru menikah 3 tahun ketika si Selir hadir di tengah mereka. Hubungan keduanya yang tadinya memang bersahabat, menjadi renggang. Apalagi ketika yang namanya penerus raja diharapkan segera hadir, tapi Navier tidak kunjung hamil.

Selain jalan cerita, membaca komentar pembacanya juga menghibur. Jadi kalau baca ini di webtoon, pastikan scroll sampai bawah. Siap-siap ikut emosi sama selirnya, sekaligus ketawa-ketawa baca komen julid pembaca.

24 December 2020

Mengambil Jeda di Tengah Pandemi

Jeda itu perlu. Semua yang dilakukan “from home” memberikan perspektif baru dalam hubungan saya dan Dudu.

Tahun 2020 ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi yang mengharuskan saya Work from Home alias WFH dan Dudu yang sekolah dari rumah, kami jadi punya banyak waktu untuk bertemu. Saya kira semua akan berjalan mulus, senang dan lancar setelah sekian lama bertemu hanya di akhir pekan. Awal-awalnya makan siang bersama satu meja setiap hari terasa seru. Wah, ada waktu untuk keluarga. Lama-lama rutinitas baru ini malah mengganggu.

Saya merasa terpaksa keluar kamar hanya untuk makan siang (dan makan malam) karena anak dan orang tua saya sedang makan bersama di meja. Mama saya sering mengomel juga kalau kami tidak makan di jam yang sama. Sering juga meeting saya terputus karena Dudu ketok-ketok pintu kamar mengajak makan. Ketika saya tidak menjawab, dia masuk dan mengajak makan. Presentasi dan konsentrasi saya, tentu saja, buyar.

Ada yang salah? 


Well, saya menemukan satu buku berjudul “The Things You Can See Only When You Slow Down” karya seorang biksu Buddha bernama Haemin Sunim. Buku yang pertama kali diterbitkan tahun 2012 mengajarkan banyak hal tentang interaksi selama pandemi. Dan bagaimana saya bisa beradaptasi dengan keadaan yang sepertinya masih akan berlangsung selama 2021 ini.


The Art of Maintaining Good Relationship / Menjaga hubungan dengan baik

Di chapter 2 ada quotes yang mengatakan “bahkan musik yang paling indah pun bisa membosankan kalau didengarkan setiap hari. Tapi musik tersebut dapat menjadi indah kembali setelah beberapa waktu. Masalahnya ada bukan pada musik, tapi pada hubungan saya dengan musik tersebut.”

Nah ini dia. Bukan Dudu yang salah. Bukan orang tua saya yang ngaco. Tapi memang saya yang tadinya tidak pernah bertemu mereka selain weekend, mendadak bertemu setiap hari lalu ilfeel. Sekarang, karena semua di rumah, saya jadi tidak pernah cerita tentang hari-hari saya sama orang tua, Dudu jarang update soal sekolah juga. Makan semeja pun tanpa suara. Malah sedih ya?

Jadi, kami kembali ke rutinitas biasa. Ansos, alias anti sosial, di weekdays dan hanya duduk makan semeja di akhir pekan. Di hari-hari sebelum pandemi, saya dan Dudu biasanya spend me-time berdua saja travelling, makan atau staycation. Sekarang waktu kami berduaan hanya pas main PS4 seharian. Tidak benar-benar nge-date. Kalau sudah tidak nyaman di rumah, saya dan Dudu akhirnya ‘staycation’ di rumah adik saya.

Soalnya ternyata, jeda itu memang perlu. 

16 February 2019

Tips Anti Kalap di Bazaar Buku

Bazaar buku murah mulai muncul lagi. Weekend ini kita pergi ke Bootopia-nya Periplus di Pulogadung. Bulan depan Big Bad Wolf ada lagi di ICE BSD. Ujung ke ujung. Tapi ya dijalanin, karen buku, terutama yang bahasa Inggris, termasuk sulit ditemukan di Indonesia. Masalahnya saya dan Dudu sering lapar mata kalo lihat buku.

Jadi, gimana caranya biar tidak kalap belanja kalau pergi ke bazaar buku murah sama anak?



Salah satu tempat date favorit kita berhubungan dengan buku. Waktu Dudu balita, kita berdua sering menghabiskan waktu di perpustakaan dan toko buku. Lalu sekarang jadi rajin pergi ke bazaar buku demi mencari buku, terutama buku impor, yang murah. Kalau belanja sendiri, kita hanya perlu menghibur diri kalo memang tidak ada budget untuk beli buku sebanyak itu. Nah, kalau pergi sama anak kan berarti ada satu kepala lagi yang harus dinegosiasikan.

20 November 2018

Stop Mom War: Prioritas Jadi Bahagia

Satu setengah bulan lagi, kita akan masuk tahun baru. Apa kabar resolusi 2018?

Tahun ini saya cukup senang karena resolusi saya menulis buku tercapai. Meskipun secara tidak sengaja karena awalnya saya hanya ikut lomba yang diadakan oleh komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan DivaPress, dan tidak sendirian karena berbagi cerita dengan emak-emak lainnya. Tapi tetap saja, terbitnya buku ini berarti satu resolusi saya tercapai. Hore!



Bukunya berjudul “Stop Mom War”, isinya kumpulan curhat dan cerita para ibu-ibu yang sedang atau pernah terjebak Mom War. Apa sih Mom War? Buat yang belum pernah mendengar istilah ini, Mom War ini adalah pertengkaran (yang menurut saya tidak perlu) antara para mama yang memiliki pola pengasuhan berbeda. Soal ASI atau susu formula, soal jadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, soal melahirkan normal atau operasi dan sejenisnya. Yang satu merasa lebih baik dari yang lainnya.

Sadar atau tidak sadar, kita semua punya sisi kompetitif dalam diri kita sendiri. Dan sebagai seorang mom, kita ingin melakukan yang terbaik bagi anak kita. How do you know you’re the best if you don’t compare it with others? Bagaimana saya tahu kalau saya melakukan yang benar, yang terbaik buat Dudu, kalau tidak ada mama-mama lain sebagai perbandingan. Mengutip tulisan Gail O’Connor di Parents.com, “tidak ada seorang mama pun yang yakin 100% bahwa apa yang dilakukannya ini benar. Dan ketika ada artikel tentang mom war, ibu bekerja vs ibu rumah tangga, kita tidak bisa memungkiri bahwa kita jadi mempertanyakan diri kita sendiri.”


Dari semua war yang pernah saya alami, saya memutuskan untuk menulis tentang gadget. Disebut gawai dalam bahasa Indonesia.

13 May 2018

Book Review: Sad Girls by Lang Leav

“We all need to follow our intuition, even if it takes us down the wrong path. Otherwise, you’ll always be second-guessing yourself.”

Sepotong nasihat tersebut diberikan seorang publisher kepada tokoh utama yang bekerja menjadi seorang jurnalis di korannya. Audrey, sang tokoh utama, saat itu sedang galau dan memutuskan untuk resign dan pergi ke Colorado untuk memulai hidup baru. Sebuah perjalanan jauh mengingat setting cerita ini adalah Sydney, Australia.


Menyelesaikan buku karya Lang Leav ini jadi prestasi sendiri untuk saya, karena saya jarang baca buku yang terlalu cewek. But I think if I can finish this, then the book is not girly enough. Haha. Tokoh utamanya cewek, punya sahabat dekat cewek. Lalu konfliknya seputar pacar, ekspektasi orang tua dan mengejar mimpi. Lah, apa serunya? Yang membedakan buku ini dan mungkin buku-buku “coming-of-age” lainnya adalah di sini ada yang mati. Iya, mati. Dan karena saya selalu bilang kalau saya akan baca buku dan nonton film drama jika ada yang mati atau adegan tembak-tembakannya, saya meniatkan diri baca buku ini. 



Sad Girls
Pengarang: Lang Leav
Halaman: 362
Paperback
Tahun: 2017

Tapi sebelum lanjut, untuk yang sudah pernah baca puisi karya Lang Leav sebelumnya, jangan expect too much dari karya fiksinya. Baca saja, enjoy ceritanya dan abaikan bagian yang menurut kalian aneh.

10 September 2017

Ngedate Seru Bersama Buku di Indonesia International Book Fair 2017

Bagus ngga pameran bukunya? Pertanyaan itu banyak muncul di whatsapp dan social media saya ketika saya posting tengah #DateWithDudu di Indonesia International Book Fair (IIBF) kemarin. Acaranya sendiri berlangsung 6 – 10 September 2017 di JCC Senayan, tapi niat mampir pulang kantor tidak pernah terlaksana. Memang berburu buku itu harus sama Dudu.

Yah, pamerannya sih bagus, tergantung kitanya cari apa.

Jawabannya standard. Tapi memang begitu soalnya pameran ini sebenarnya memenuhi ekspektasi pencinta dan pencari buku. Mau buku anak ada. Buku islam ada. Buku bahasa Inggris ada. Buku mainstream ada. Buku teenlit ada. Sampai buku-buku bekas bahasa asing pun ada. Yang terakhir itulah yang mendorong saya mampir ke Indonesia International Book Fair pagi-pagi di hari Sabtu. 



Masuknya gratis. Dan banyak “harta karun” yang kita temukan di sana. Di lobby utama kita disambut oleh robot berbentuk IIBF dan booth KPK yang menawarkan banyak buku gratis tentang anti-korupsi. KPK ini sekarang rajin reach out ke anak-anak. Terbukti selain di luar, booth KPK di dalam juga dipenuhi aktivitas seperti dongeng dan lomba foto. Ada banyak board game yang dipajang, semuanya mengajarkan kejujuran dan anti-korupsi. Sebenarnya Dudu kepengen beli, tapi pas kami sampai di sana, boothnya sedang penuh karena ada acara dongeng anak-anak. Yang ada, Dudu jadi mengambil brosur tentang gratifikasi. 

24 April 2017

Big Bad Wolf 2017: Belanja Buku Bersama Dudu di Jam Dua Pagi

Saya baru pulang dari bergadang (lagi) di Big Bad Wolf Book Sale. Itu lho, bazaar buku import di ICS BSD. Tahun ini saya bawa Dudu. Pergi selepas tengah malam, kami bertahan sampai menjelang matahari terbit. Berangkat dengan komentar Mama Papa yang heran si Dudu yang segar, semangat mau pergi ke book sale malam-malam. 


Bagaimana Dudu, yang selalu tidur on-time jam 9 malam dan bangun jam 6 pagi ini, bisa bergadang? Ini tips bergadang ala Dudu:
  • Pastikan bisa bertahan semalam. Jangan tertidur di bazaar buku.
  • Tidur pagi bangun malam jadi tidak kurang tidur karena kurang tidur tidak baik untuk kesehatan.
  • Bangun malam siapin makanan karena mungkin saja lapar.
  • Jangan bergadang sendirian. Kalau mau pergi malam-malam harus ditemani Mama karena siapa tahu di jalan ketiduran dan harus dibangunin lagi.
  • Coba minum kopi. Kecuali aku. Aku tidak mau hahaha.

30 September 2016

Review Buku: The Naked Traveler Anthology - Horror

Beda traveler, beda gaya, beda tujuan tapi sama seramnya. Buku ini merupakan kumpulan kisah horror yang diceritakan oleh Trinity dan teman-temannya: Ariy, Cipu, Jenny Jusuf, Murni dan Vira (Indohoy), Rini Raharjanti, Rocky Martakusumah, Susan Poskitt, Valiant Vabyo dan Yovita Liwanuru. Meskipun saya bukan pembaca non-fiksi jenis ini, namun karena saya penggemar horor dan misteri, maka buku ini sampai juga ke tangan saya. 
Ilustrasi sampul depan yang seram juga
Sampul belakang buku dan cuplikannya
ISBN: 9786021246528
Rilis: 2015
Halaman: viii + 184
Penerbit: Penerbit B First
Bahasa: Indonesia

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

Sinopsis:
Dibuka dengan petualangan horror Trinity di Jepang lalu cerita horror Valiant tentang nenek-nenek di Edinburgh, cerita ini meski tergolong "seram," bukan cerita seram yang saya harapkan ketika melihat ilustrasi sampul buku. Mungkin karena horor luar negeri biasanya memang lebih tidak menakutkan dibandingan yang setting Indonesia, seperti cerita Jenny Jusuf misalnya. Bali memang sudah banyak cerita mistis dari sananya (yang horor maupun tidak) dan menemukan bahwa hal kecil juga bisa gara-gara diganggu penunggu rasanya jadi tambah seram.

Tapi favorit saya adalah cerita milik duet Indohoy yang berjudul Ternyata Banda Neira! Saya belum pernah ke Banda Neira, dan yang saya senang dari alur ceritanya adalah saya tetap bisa mengikuti ada di di mana kejadian horornya tanpa harus pernah ke sana. Tetap bisa membayangkan indahnya (atau seramnya?) Banda Neira. Apalagi saya penggemar cerita hantu yang jelas asal usul dan tujuannya, bukan hanya kepala sekadar menggelinding tapi kurang jelas milik siapa dan kenapa bisa terpenggal. Di cerita Banda Neira dijelaskan asal muasal cerita seramnya, bahkan ada sejarahnya.

Dan seperti biasa, buat saya buku jenis ini termasuk yang sekali dibaca selesai. Bisa buat selingan dibawa di busway kalau pejalanannya jauh dan macet. Tidak se-horror itu sampai kita cemas sendiri, tapi entah deh kalau pas baca pas lewat daerah seram macam Kota Tua gitu.

26 August 2016

My Curious Encounter with Indonesian Books

I read books, that's why I wear glasses. I spent my hours, drowned in library stacks. Something that I can proudly say, I passed on to Dudu. But when it comes to Indonesian writers, I have to admit I'm clueless. I find my comfort in English books that I usually skip the aisles with my own languages at the bookstore. I don't have anything beyond high school mandatory readings. I figure it's not fair.

The topic thrown at BEC discussion on their Facebook group page is challenging, not because I don't know any Indonesian writers, but because I'm not familiar enough with anyone to write a blog post about. Because I never buy a book in Bahasa Indonesia on purpose, my encounter with local books are always a pleasant surprise. Like what happened with these ones 

Ocean Melody
Ocean Melody by Gemala Hanafiah
Paperback, 282 pages

The book arrived on my hand one weekend, when I attended a travel blogger event. Didn't really know what to expect from this book, especially when I read the synopsis on the back and realized it talks about surfing. But the cover is compelling and after I followed Gemala on twitter and instagram, I started to flip the pages before long. An interesting story about an amateur going on surfing for the first time and her struggle to ride the largest wave out there. There's even a surfing 101 step-by-step guide inside the book. Ocean Melody takes you to the most beautiful (and memorable beaches, along the shoreline of our archipelago. I would never do surfing myself, so reading Gemala's book is like stepping into a thrilling adventure and the feeling of victory as you managed to finish the book. 

12 June 2016

Memahami Ide Stimulasi Usia Dini lewat Indonesia Montessori

Sebagai seseorang yang sudah bolak balik menulis artikel tentang pendidikan anak usia dini, saya termasuk awam tentang konsep Montessori. Apalagi anak saya sudah mau naik kelas 5 SD, dan Montessori yang saya kenal kerap identik dengan anak balita. Penasaran tapi bingung mau cari tahu dari mana. Sampai suatu hari, sebuah undangan launching buku dari founder Indonesia Montessori mendarat di kotak surat saya. 



Dikenal dengan nama Mom C, Elvina Lim, mendirikan Indonesia Montessori dari Amerika. Mengasuh anak tanpa pembantu membuatnya jadi kreatif. Montessori ala Mom C adalah yang bisa dilakukan di rumah. Bukan berarti anak tidak boleh sekolah di luar. Tapi tidak semua anak mempunyai akses dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan usia dini yang memadai. Nah, anak-anak bisa belajar dengan Montessori di rumah. Kalau yang sekolah PAUD di luar? Ya sepulang sekolah bisa melakukan Montessori ini. Membolak-balik bukunya, saya jadi paham. Montesorri di rumah ala Mom C ini seperti bermain dengan alat-alat yang bisa ditemukan di sekitar kita dan dalam kegiatan sehari-hari.

30 April 2016

Buku Murah Big Bad Wolf Book Sale: Mulai dari Mana?

"Ma, kita mulai dari mana?"
Nekat menerobos macetnya Jakarta di hari Jumat sore akhir bulan, kita sampai juga di preview Big Bad Wolf Book Sale, ICE BSD jam 8.30 malem. Horeee buku murah. Yuk siap-siap belanja.



Where? 
Lokasinya di hall 10, yang paling ujung dari ICE. Dudu sampai bilang "Mom, why are we on the countryside like this?" Haha. Bagusnya ya dekat dengan parkir mobil. Kendaraan umum susah ke sini tapi nya.

Ada apa saja? Buku anak-anak mulai dari board book sampai buku mewarnai. Buat orang tuanya ada buku fiksi, romance, movie dan lainnya. Ada banyak komik juga, dari Garfield sampai Avengers. Buat yang anaknya mau ABG seperti saya dan sering kesulitan cari buku untuk dibawa ke sekolah untuk reading time, book sale ini seperti harta karun. Lumayanlah daripada harus berburu buku ke Singapura.

Harganya? Rata-rata 30rb sampai 70rb untuk buku dan yang berupa box bisa sampai 200rb. Komik impor seperti Avengers, Captain America dan IronMan harganya sekitar 150rb. Bisa bikin kalap sih. Pembayaran bisa dengan cash, debit dan credit card kecuali Debit BCA. Karena atm terdekat ada di kampus sebelah, sebaiknya datang ke sini sudah siap bayar.

29 February 2016

Cerita Hobi Membaca

Andrew selalu bawa buku (komik) di dalam tasnya. Selain action figure dan gadget yang namanya bacaan tidak pernah ditinggalkan. Sekolahnya mewajibkan murid yang menunggu kelas mulai dan menunggu dijemput setelah pelajaran usai untuk membaca buku. Jadi ada 1 buku yang dibawa untuk dibaca ke sekolah. Kenapa sih, harus segitu niatnya dalam membaca?


22 April 2015

Kota Lama dan Sepotong Cerita Cinta

Beberapa waktu lalu saya ikutan acara klub buku dari Gagas Media. Membahas sebuah buku yang ditulis oleh salah seorang sahabat saya, Herdiana Hakim. Bukunya berjudul “Kota Lama dan Sepotong Cerita Cinta”, sebuah buku historical fiction dengan plot time travel yang membawa kita mengenal sosok Kartini. 


Jujur saya belum pernah membahas buku. Meskipun tertarik dengan issue tentang perempuan, gender dan sejenisnya, saya jarang menuliskan tentang itu di sini. Yah, secara general kan blog ini tentang petualangan saya bersama si Dudu, jadi sudut pandang seorang ibu sudah mewakili gender dan perempuan. Hehehe. Tapi karena ini postingan hari Kartini, bolehlah kita meleset sedikit dari postingan yang biasanya.

Oh ya, Dudu tidak kenal Kartini. Waktu TK sih sering ikut lomba baju daerah pas hari Kartini. Tapi sekarang, sejak masuk sekolah internasional, dia sudah tidak dekat lagi dengan yang namanya sejarah dan budaya Indonesia. Mungkin nanti akan saya kenalkan kepada sosok perempuan Jepara yang satu ini.

Balik lagi ke klub buku. “Kota Lama dan Sepotong Cerita Cinta” menceritakan tentang petualangan Jenny, seorang perempuan modern yang tergolong sukses dengan karir di bidang IT. Perempuan tegar dengan jiwa kompetitif yang tinggi. Suatu kejadian mempertemukannya dengan Diana, anak HRD yang mengidolakan Kartini. Ketika masalah datang bertubi-tubi, Jenny menggunakan tur napak tilas Kartini yang diikuti Diana untuk lari dari semuanya. Yang ada, dia malah “lari” ke tahun 1900 dan bertemu dengan Kartini dan keluarganya. Nasib membawa Jenny menemukan kebahagiaan di masa Kartini dan membuatnya enggan kembali ke masa depan? Jadi, apakah si perempuan modern ini akan tinggal selamanya di jaman Kartini?

Apa yang membuat buku ini menarik? Kartini sebagai sosok perempuan terlalu modern untuk jamannya, bertemu Jenny yang beneran dari jaman modern. Dan mereka cocok karena mirip. Sama-sama alpha female kalau kata sang pengarang buku. Di klub buku sih saya tidak mengakui kalau saya juga alpha female (minus jiwa kompetitif yang tinggi karena dalam hal ini saya merasa lebih mirip tokoh Kardinah dan sikap “ya sudahlah” ala Bondan Fade2Black). Soalnya orang tua saya mengajarkan bahwa perempuan harus bisa berdiri dengan kedua kaki sendiri. Terbukti, saya sekarang seorang single parent dengan satu anak, hidup tenang-tenang saja berpetualang berdua dengan si Dudu.

Sosok yang menarik di buku ini, menurut saya, justru Kardinah. Adik Kartini yang lincah dan ceria, yang menikah duluan namun tidak melihat pernikahan itu sebagai beban. Di klub buku, ada perbincangan bahwa Kardinah-lah yang punya happy ending. Saya penasaran tapi jujur belum sempat research. Sosok Jenny mewakili perempuan modern masa kini yang kadang terjebak oleh stereotype perempuan modern, dan Kartini adalah perempuan modern yang terjebak dalam lingkungan tradisi. So which one are we?



Grup Kartini modern saya :)
Hari itu, seperti cerita dalam buku, kita semua juga dipertemukan oleh seorang figur Kartini.

19 July 2014

Berburu Buku di Singapura

Untuk kesekian kalinya, duet Mama dan Dudu mendarat di negara tetangga. Universal sudah pernah, SEA Aquarium sudah pernah, dan akhirnya kita bingung mau pergi ke mana lagi. Lalu terbesit satu ide: Berburu buku.
Sit down and read - at Jurong Regional Library
Satu hal yang saya senangi dari Singapura adalah buku. Pulang dari negara berbahasa Inggris, koper saya kerap overweight dengan yang namanya buku. Kebiasaan saya sejak pertama ke Amerika 20 tahun yang lalu. Ternyata kegilaan saya berburu buku menurun ke Dudu yang juga senang membaca. 

(photo: kinokuniya.com.sg )
Singapore Main Store
391 Orchard Road ,#03-09/10/15 Ngee Ann City
Takashimaya Shopping Centre, Singapore 238872
Tel: +65 6737-5021 / Fax: +65 6738-0487
Opening hours: Sun to Fri: 10am to 9.30pm & Sat:10am to 10pm
Tujuan pertama tentu saja Kinokuniya Ngee Ann City, Orchard. Toko buku yang besarnya satu lantai sendiri ini memiliki children section yang sangat lengkap. Saya tinggalkan Andrew di situ lalu sibuk mondar mandir di bagian fiction. Ngga berapa lama terdengar panggilan untuk datang ke informasi. Rupanya si Andrew sudah selesai browsing buku dan sudah menemukan mana yang hendak dia beli. Apalagi kalau bukan Geronimo Stilton. Dibandingkan Indonesia (Rp80,000an), di sini buku Geronimo sedikit lebih mahal: SGD10. Ya tergantung kurs juga. Kalo SGD jadi Rp7,000 jelas murahan di sini.

(Photo: www.popular.com.sg)
BRAS BASAH COMPLEX - POP@Central
Blk 231 Bain Street level 2 to 5 Bras Basah Complex Singapore 180231
Tel: +65 6338 2339 / Fax : +65 6339 2103
Email : popcentral@popularworld.com
Opening Hours: Mon - Thu : 10.00am - 07.00pm, Fri - Sun & PH : 10.00am - 09.00pm
Lain hari saya mampir Popular. Toko buku yang isinya banyak buku pelajaran ini juga seru untuk dikunjungi karena stationary-nya yang lucu-lucu. Harga buku cerita juga sama (sepertinya standard negara kali ya). Tapi tujuan saya ke sini tak lain adalah untuk borong soal latihan UAN si Dudu yang naik ke kelas 3, terutama untuk mata pelajaran Mandarin. Maklum... sekolahnya kurikulum Singapore. Kalau mau cari buku bahasa Mandarin, termasuk kamus sederhana dan buku bacaan anak, Popular adalah tempatnya. Popular ada di banyak mall (saya mampir ke Union Square, Novena dan Northpoint, Yishun), tapi yang terbesar tentu saja di Bras Basah Complex.

“Aku paling senang beli buku.”

(eh anaknya muncul dari kamar nih, ikut nongkrongin saya yang lagi ngetik)

Ngomong-ngomong soal Bras Basah, buat saya dan Dudu ini surga buku. Popular di sini besar dan banyak toko buku bekas di sekelilingnya. Nah, di toko buku bekas inilah kita dapat banyak harta karun. Buku Geronimo Stilton (yang dibeli itu melulu yak) hanya SGD5-7 tergantung kondisi dan ada tambahan diskon 20%. Total belanja saya di situ SGD28 untuk 5 buah buku. Lumayan. Hanya saja kita harus benar-benar jeli, mau bongkar-bongkar rak dan mengaduk-aduk bak untuk menemukan buku idaman. Siap-siap bersin-bersin juga hahaha...

Berburu buku bekas di Bras Basah
Tapi yang paling membahagiakan adalah menemukan public library yang kids friendly. Gedung utama National Public Library ada di sebelah Bras Basah Complex. Cuma 5 menit jalan kaki dari MRT Bras Basah. Kalau mau naik bis bisa berhenti di depannya. Public Library buka sampai jam 9 malam dan koleksinya lengkap. Banyak juga aktivitas anak-anak di sana. Selain library utama, ada regional library dan perpustakaan lainnya yang lebih kecil. Kami sempat mampir ke Jurong Regional Library yang letaknya diantara Jurong East MRT dan Singapore Science Center. Lantai Basementnya dibuat khusus untuk anak-anak, dari bayi hingga 12 tahun dengan koleksi buku lengkap bahasa Inggris, India, Mandarin dan Melayu. Ada stage juga dan ruangan khusus untuk poetry reading. Wow!
Jurong Regional Library - tempatnya kids friendly banget!
Lantai Basement yang khusus anak-anak dan pre-teen.
Banyak anak sekolah belajar di sini juga.
“Di library aku membaca buku tentang bio superdog yang ada musuhnya. Musuhnya itu kebalikannya dari mereka. Kalau si Bio Superdog bisa mengeluarkan es dari mulutnya, musuhnya bisa mengeluarkan api. Musuhnya punya sayap yang berlobang-lobang, sementara yang baiknya punya sayap yang rapi.”

Kita juga sempat duduk berdua membaca komik Sherlock Holmes.

Dudu senang menemukan perpustakaan... saya juga senang karena saya sempat mengajarkan etika pergi ke perpustakaan. Next time mungkin kita bisa cek duluan kegiatan di library dan ikutan storytelling.

Saya jadi kangen pinjam buku nih!


=============================================
Blog entry ini merupakan bagian dari rangkaian blog posting Libur Telah Tiba yang menceritakan kegiatan kita selama liburan sekolah 21 Juni -13 Juli 2014 kemarin.

22 February 2014

Geronimo Stilton and The Kingdom of Fantasy (Series)

Pertama kali ‘berjumpa’ dengan tokoh tikus yang satu ini saya langsung jatuh cinta. Ketika itu anak saya kena ‘wajib baca’ dari sekolahnya dan tidak boleh lagi membawa komik Smurf kesayangannya. Mencari buku berbahasa Inggris yang banyak tulisannya tapi menarik buat anak lower primary (SD 1-3) agak susah. Untungnya salah satu teman Andrew ada yang bawa Geronimo Stilton, dan sejak itu buku itu jadi favorit kita bersama.

Siapa Geronimo Stilton?
Geronimo adalah seekor tikus jurnalis dari New Mouse City. Meskipun penakut dan takut ketinggian, tikus ini sering mengalami berbagai macam petualngan. Seri The Kingdom of Fantasy menceritakan petualangan Geronimo di dunia lain yaitu Kingdom of Fantasy.




Berikut hasil “interview” saya dengan Andrew soal buku kesayangannya, Geronimo Stilton: The Kingdom of The Fantasy The Series (sekarang sudah mencapai buku ke-5).

The Story

(Geronimo ceritanya tentang apa sih Du?) Ada 5 buku tentang Kingdom of Fantasy. Di setiap buku Geronimo menjadi pahlawan di Kingdom of Fantasy dengan mengalahkan Queen of the Witches dan menyelamatkan Blossom, Queen of the Fairies. Tujuan Queen of the Witches adalah mengambil alih Kingdom of Fantasy, tetapi Geronimo selalu berhasil mengalahkannya. Geronimo selalu dibantu oleh teman-temannya, yaitu King Thunderhorn dan adiknya Princess Emerald, Sterling the Princess of the Silver Dragon, Strongheart the Giant dan penyair kodok bernama Scribblehopper.

The Good

(Kenapa buku Geronimo Stilton menarik untuk anak-anak?) Karena buku itu tentang perjalanan menemukan dunia baru yang ada di Kingdom of Fantasy. Buku ini menceritakan tentang persahabatan mereka, petualangan dan juga sihir. Geronimo adalah tikus yang lucu dan memiliki sifat yang menarik. Bukunya penuh warna-warni dan gambar-gambar menarik, hingga peta dan bahasa khusus Kingdom of Fantasy sehingga mudah untuk membayangkan perjalanan Geronimo Stilton.






The Bad
Aku tidak suka Ogre, soalnya giginya bolong-bolong dan ada tikus mati disangkutkan di bajunya.
(Tapi bukunya sendiri bagus ngga?) Bukunya sendiri sih bagus. (Kalau ditanya ke Mama-nya, yang jelek dari buku ini adalah harganya… karena satu buku hardcover full-color bisa mencapai 250 ribu).

Andrew dan Koleksi Geronimo Stiltonnya
Jadi? Sejak ada buku ini, Andrew jadi rajin membaca dan tidak takut sama buku yang isinya hanya tulisan saja. Geronimo Stilton merupakan salah satu buku terbaik untuk transisi dari buku bayi/balita dan komik ke buku novel orang dewasa. Terutama jika diharuskan membaca dalam bahasa Inggris. Tidak harus beli series yang Kingdom of Fantasy kok, petualangan si tikus jurnalis ini banyak juga yang lebih pendek (dengan buku lebih tipis dan harga lebih murah, sekitar 80 ribu) dan ada juga petualangan adiknya Thea Stilton (bagi anak perempuan ini lebih menarik) dan teman-temannya. Semua dikemas dalam bentuk yang sama.

21 September 2013

Men-SMURF Buku

Anak saya susah banget disuruh membaca. Guru TK-nya bilang dia susah konsentrasi. Kalau sedang diajarkan guru di depan, pikirannya suka melayang ke dunia khayalan di mana zombie bertarung melawan dinosaurus dan Power Rangers. 


Masuk SD saya pusing. Selain karena dia harus bisa baca, dia harus bisa baca bahasa Inggris. Sekolahnya mengharuskan setiap murid membawa satu buku untuk dibaca setiap pagi pada saat reading time sebelum masuk sekolah, dan sepulang sekolah saat mereka menunggu jemputan. Saya senang sih, soalnya membaca adalah salah satu hobi saya. Tapi anak saya yang susah konsentrasi itu mengeluh.

Sampai saya menemukan sekumpulan makhluk biru yang tinggal di rumah jamur.
Ini bukan pertama kalinya anak saya mengenal SMURF. Tahun lalu, waktu Smurf yang pertama diputar di bioskop kita nonton. Dia juga koleksi bonus manian murf dari salah satu resto cepat saji. Tapi saya serasa pengen teriak “Eureka!” waktu melihat komik Smurf di salah satu toko buku import.

“Ma, aku mau Smurf.” Andrew sudah mengambil salah satu buku dari rak.

“Itu bahasa Inggris loh. Emang kamu bisa baca?”

Lama dia menatap buku itu, mengambil yang sudah tidak ada plastiknya, melihat isinya dan menimbang-nimbang. Saya tinggal dia untuk berpikir sambil melipir ke bagian buku diskon hehe. Begitu kembali, saya menemukan dia membaca serius komik itu sambil duduk di lantai. Waduh.

Dalam hitungan menit, sebuah komik berjudul “Purple Smurf” sukses menjadi milik kami, eh milik Andrew maksudnya. Singkat cerita, Andrew yang awalnya hanya liat gambar, mulai bisa membaca tulisan “Pow” “Dor” dan sound effect lainnya. Dari situ mulai bisa membaca sepotong-sepotong dan melafalkan nama Smurf satu per satu. Dalam 3 bulan, saya bangkrut membelikan semua komik itu untuknya. Dia mulai bersaing dengan teman-teman sekelasnya, siapa punya Smurf apa dan heboh tukar-tukaran sampai wali kelasnya ngomel. Saat film Smurf 2 keluar, dia sudah habis membaca komik yang bahasa Inggris dan mulai mengkoleksi yang bahasa Indonesia.

Sekarang dia sudah kelas 2, komik sudah tidak boleh dibawa, jadi Smurfnya semua ditinggal di rumah. Belakangan ini Andrew mulai beralih ke gadget. Saya sampai kesal kalau memanggil dia ngga pernah nengok (aduh anak masa depan emang tobat deh). Suatu hari saya pulang bawa dua buku Smurf terbaru yang berbahasa Inggris.

“Apa itu Ma? Smurf baru?”
Dalam hitungan detik si gadget langsung dilupakan. Masalahnya, saya panggil juga tetep ngga nengok, tenggelam dalam komiknya. Komik itu sampai dibawa ke kamar mandi, ke meja makan demi menyelesaikan ceritanya. Habis itu masih dibaca ulang. Hh... dasar. Ya sudahlah kalo buku.

Tapi masalah baru muncul. Anak saya mulai bicara bahasa SMURF.
"Mama, tolong smurf-kan handukku."
"Mama, kita mau smurf ke mana?"
"Mama, Smurf yuk!"

Dan kemarin saya dapat laporan kalo ujian bahasa Inggrisnya FAIL lagi.
HADEUH!