04 March 2022

Pentingnya Memahami Peranmu Hadir di Dunia

Siapa saya?

Kalau ditanya begitu ya jawabannya “Mama Dudu” hahaha. Di biodata, title “Mama Dudu” ini mutlak ada. Tapi sekarang Dudu sudah teenager, peran saya sebagai seorang Mama juga sudah tidak sesibuk dulu. Lalu sekarang, saya siapa?


Untuk saya, memahami peran dalam hidup ini penting. Karena biasanya saya lupa bahwa peran saya di dunia ada lebih dari satu. Kalau peran sebagai warga negara mungkin tidak sebesar atlet yang menyumbang medali emas, tapi sebagai Mama Dudu, peran saya paling besar. Malah cuma satu-satunya, soalnya si Dudu cuma punya satu ibu. Jadi, ketika saya merasa sebagai “remahan rengginang,” perasaan minder dan insecure itu tidak tahan lama. Soalnya saya suka rengginang sih, jadi emang sampai remahannya juga saya makan hahaha. Well, on a more serious note, mengenali siapa saya di adegan mana adalah hal penting karena hidup saya jadi lebih baik dan teratur. Kok bisa?

Iya, soalnya dengan memahami setiap peran saya di dunia, saya jadi sadar bahwa setiap peran itu penting. Hidup itu seimbang. Ketika sekarang peran kita kecil, mungkin nanti ada peran besar yang sedang direncanakan, atau bisa jadi sebenarnya kita kemarin sudah berperan besar untuk sesuatu dan sekarang waktunya istirahat. Atau ada peran baru yang akan muncul, yang tugas-tugasnya akan cukup menyita waktu.

Peran yang kita jalani tidak selalu sama. Perubahan peran berarti perubahan dalam hidup. Misalnya dulu peran saya sebagai anak dari orang tua saya jauh lebih besar dibandingkan sekarang. Soalnya sejak punya anak sendiri, saya jadi punya peran baru: Mama Dudu. Nah, sekarang Dudu sudah besar, peran saya sebagai “Mama Dudu” sudah mulai berkurang. Peran saya berubah lagi. Mau kembali jadi anak atau mungkin saya bisa cari uang dan membuat peran sebagai karyawan jadi membesar? Atau karena mau mengejar passion menulis, peran sebagai blogger justru yang menjadi besar?

Kadang-kadang bisa berperan jadi pemburu zombie

Satu hal yang saya sadari dari perubahan peran yang saya alami adalah “embrace the changes.” Tidak semua perubahan peran bisa kita antisipasi. Dan, sama seperti main drama, peran yang jatuh ke pangkuan kita adalah peran yang seharusnya bisa kita mainkan. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita memainkannya. Saya berpegang pada quotes dari salah satu tokoh fiksi favorit saya.

“You should do your job right, and you should do it well, simply because you can, without looking for notice or reward.”
~Jack Reacher, Nothing to Lose

Ah, tapi gue capek berperan jadi ibu, kayaknya butuh me time deh.

Akhir-akhir ini, terutama sejak semua orang bekerja dan belajar dari rumah karena pandemi, saya jadi sering mendengar curhatan tersebut. Lalu bagaimana? Ketika saya memahami sebuah peran, ada beberapa “tugas-tugas” yang muncul bersama peran tersebut. Nah, ini biasanya saya gunakan untuk mengatur skala prioritas agar tidak burnout. Misalnya untuk peran kecil, meskipun tugasnya terlihat penting, saya tidak akan invest sebesar kalau tugas tersebut ada di peran yang besar. Kalau capek jadi Ibu (dan ini boleh loh ya), ya take a step back, ganti baju dan nikmati waktu jadi diri sendiri. Seperti kata Jack Reacher kan, “hanya karena kamu bisa bukan karena notice atau reward” yang datang bersama peran dan pekerjaan itu. Kalau nggak bisa? Ya istirahat dong.

Gampang ditulisnya, pas dipraktekin bingung haha.

Coba saya break down peran saya di dunia ini, selain jadi Mama Dudu. Sehari-hari saya karyawan. Saya anak dari orang tua saya, kakak dari adik-adik saya dan teman dari teman-teman saya. Saya juga blogger, penulis freelance di waktu senggang. Saya juga volunteer di komunitas Single Moms Indonesia, bagian learning and development. Saya bagian dari beberapa komunitas blogger dan penulis. Ada banyak topi yang bisa saya pakai bergantian. Bahkan di peran yang pertama, sebagai karyawan, juga ada banyak pilihan. Jadi leader, jadi peer atau jadi anak buah.

Komposisinya saya atur biar sesuai dengan apa yang bisa saya lakukan dan apa yang senang saya lakukan. Remahan rengginang semua? Ya nggak apa-apa. Kalo dikumpulin kan itu jadi satu kantong plastik gede juga. Terus pas dipajang di samping rengginangnya di toko, jadi beda sendiri dan orang bisa tertarik dan bertanya, “itu apa?”

Trus dijawab, “itu saya.”



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.