14 December 2023

3 Alasan Wajib Ikut Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Setahun belakangan ini saya sibuk menjalankan berbagai program pemberdayaan di Single Moms Indonesia. Menikmati tahun pertama beneran fokus di acara komunitas di mana saya jadi relawan itu. Lalu, di penghujung tahun adalah saatnya mengevaluasi. Bersamaan itu, datanglah undangan untuk menghadiri Konferensi Perempuan Indonesia 2023 yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional.

Saya pernah ikut konferensi yang diadakan tahunan ini sebelumnya. Waktu itu di tahun 2021, Konferensi Ibu Pembaharu diadakan secara online karena masih dalam masa pandemi. Meskipun online, tetapi karena dilaksanakan secara 3D, jadi serasa ikutan konferensi beneran. Tahun ini konferensinya ada lagi, jadi semangat untuk kembali berpartisipasi. Kenapa? 

  1. Tema-nya keren, yaitu Menguatkan Akar Gerakan Perempuan Indonesia

    Membaca tema Konferensi Perempuan Indonesia 2023, “Menguatkan Akar Gerakan Perempuan Indonesia,” saya jadi mengevaluasi perjalanan saya selama ini di berbagai kegiatan tentang pemberdayaan perempuan. Kembali ke akar berarti adalah sebuah eksplorasi yang tidak hanya menjanjikan penemuan jati diri, namun juga pemahaman yang lebih mendalam tentang kekayaan tradisi, cerita, dan pengalaman yang telah membentuk kehidupan kita.

    Biasanya, karena sudah terlalu heboh dengan daun yang rimbun dan pohon yang tinggi, kita lupa ada akar yang masih harus diberikan pupuk. Kalau akarnya kuat, maka pertumbuhan akan semakin pesat dan tidak tegoyahkan. Untuk itu penting untuk merawat akar yang kita miliki. 

    Ini adalah kesempatan untuk refleksi dengan apa yang sudah dilakukan setahun belakangan. Terutama karena saya pribadi juga aktif di komunitas yang bergerak di pemberdayaan perempuan. Selain itu, acara ini tentunya bisa memberikan inspirasi dan motivasi untuk perempuan agar terus bergerak di tahun selanjutnya.




  2. Soalnya pembicaranya seru!

    Ada banyak narasumber berpengalaman di acara ini misalnya Ibu Guru Kembar dari Sekolah Darurat Kartini, Alimah Fauzan dari Komunitas Perempuan Berkisah, Mawar Firdausi yang seorang penulis buku Parenting, dan lainnya. Membaca daftar nama pembicara dan fasilitator yang akan hadir tentunya menambah alasan untuk tidak melewatkan acara Konferensi Perempuan Indonesia 2023 ini.

    Tentu saja ada Founder Ibu Profesional, Septi Peni Wulandari yang kehadiran dan sharingnya selalu saya tunggu. Sebagai peserta Kelas Literasi Ibu Profesional di dua tahun terakhir, saya menantikan bisa mendengar Ibu Founder bicara langsung.

    Buat yang belum kenal, Ibu Profesional adalah komunitas para Ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan, seorang istri dan seorang ibu. Berdiri sejak 2011, komunitas ini memiliki banyak program. Salah satunya adalah KLIP alias kelas literasi di mana saya bisa menuangkan passion saya di bidang menulis. 


  3. Ada dua jenis kegiatan: Offline dan Online

    Ada yang berbeda dengan pelaksanaan konferensi-konferensi sebelumnya, event akbar untuk perempuan ini digelar secara online dan offline di dua waktu dan tempat yang berbeda. Event online akan dilaksanakan pada tanggal 20-22 Desember 2023. Sementara event offline-nya akan dilaksanakan pada 9-11 Februari 2024 di Royal Orchid Garden Hotel and Condominium, Batu, Malang Jawa Timur.
Daftarnya gimana? Cukup klik link ini dan ikuti petunjuknya. Untuk yang mau ikutan konferensi secara offline, bisa lho sekalian liburan keluarga. 

Wah, pasti seru nih. Selain bertemu narasumber keren, dapat insight bermanfaat, tentunya kita juga bisa berjejaring dengan peserta lainnya. Membangun networking ini penting untuk meningkatkan kompetensi diri dan terus berkarya di bidang pemberdayaan perempuan Indonesia.

25 October 2023

Inilah Kenapa Blogging Masih Relevan di 2024

Di tengah maraknya video pendek dan trend media sosial yang lebih visual, saya masih setia sama yang namanya blogging. Alasan sebenarnya sih karena saya lebih suka membaca daripada menonton. Jadi saya lebih suka menulis daripada membuat video. Menonton itu mengikuti waktu si pembuat video. Membaca bisa disesuaikan dengan kecepatan kita. Intinya mungkin karena saya tidak suka diatur.

Jadi blogging masih relevan. Setidaknya untuk saya.


Yang akan berubah di 2024 adalah kepergian Dudu kuliah ke luar negeri yang berarti saya bakalan tidak punya bahan untuk blogging. Yang ada sepertinya blog ini akan semakin jarang update. Yah, setidaknya saya masih bisa menuliskan beberapa cerita yang belum sempat ditulis, atau laporan event yang saya hadiri. Sisanya akan ada di beberapa blog berbeda. Rasanya di 2024, blog saya yang update adalah yang akan lebih banyak berisi opini, keluh kesah dan cerita curhatan yang disamarkan. 


Eh, blog yang mana tuh ya? Hahahaha.



Oh iya, tanggal 27 Oktober besok adalah Hari Blogger Nasional. Sejarahnya berawal dari tahun 2007, ketika itu Menteri Komunikasi dan Informatika dijabat oleh M. Nuh. Nama Menteri yang termasuk pendek dan mudah dihafal. Sayangnya saya sudah jauh lulus dari SMA dan tidak menghafalkan nama menteri kabinet lagi hehe. Awalnya adalah Pesta Blogger, yaitu acara yang diselenggarakan untuk mewadahi para blogger. Namun oleh bapak Menteri, hari tersebut dicanangkan menjadi Hari Blogger Nasional. 


Enam belas tahun kemudian, kita masih merayakan Hari Blogger Nasional. Hopefully, tahun depan juga masih. Soalnya saya masih mau mencantumkan status “blogger” di profile media sosial saya.

23 October 2023

Terus Menulis Biar Tetap Waras

Kalau minta nasihat ke saya bagaimana menjaga kesehatan mental, kemungkinan besar saya akan menyuruh menulis. Beberapa riset menyebutkan bahwa menulis memberikan dampak baik bagi otak, dan bisa jadi terapi yang terjangkau. Tapi tulisan saya jelek. Saya bukan penulis. Tata bahasa saya berantakan. Eits, menulis untuk kesehatan mental tidak perlu memikirkan apakah tulisan kita jelek atau terlalu personal. Kan, pembacanya hanya kita sendiri.

Pernah dengar tentang expressive writing, yang sering digunakan untuk healing? Menulis tentang pengalaman yang membuat kita stress dalam periode waktu tertentu. Mengungkapkan perasaan dalam bentuk tulisan, seperti menulis diary, dalam jangka waktu tertentu yang berpotensi dapat membantu proses healing.

Tapi saya tidak bisa menulis. Mulai dari mana? 

Ada beberapa cara buat memotivasi kita untuk menulis. Terutama buat yang butuh dorongan lebih untuk menuangkan perasaannya dalam bentuk tulisan.

Ikut challenge menulis. 

Apa itu challenge menulis? Secara umum ini adalah tantangan buat kita ikuti agar menulis setiap hari. Mirip seperti upload IG kompakan, atau challenge lari di aplikasi olahraga. 

Ada dua keuntungan mengikuti challenge menulis. Yang pertama adalah adanya tema. Di challenge menulis, kita bersama-sama menulis sesuai tema yang ditentukan setiap harinya. Ini bisa membantu kita di kala stuck, tidak tahu menulis apa karena sudah ada promptnya. Maka dari itu penting untuk memilih challenge menulis yang sesuai dengan interest dan kesanggupan kita sehari-hari. Saya kemarin iseng-iseng mengikuti challenge menulis fiksi 15 hari dan akhirnya stress sendiri karena tidak bisa menulis cinta-cintaan. Padahal sudah sampai bikin IG baru khusus untuk ikutan challenge tersebut. Haha. Karena pada dasarnya saya adalah penulis non-fiksi, ya saya akhirnya kembali ke jalur awal, mengikuti challenge di blog (bukan IG) dengan tema-tema yang lebih dekat dengan kehidupan saya.

Itu pun saya masih struggling karena ada beberapa tema yang benar-benar tidak bisa saya tulis. Lalu gimana? Well, ini kan menulis untuk kesehatan mental, jadi ya ditulis saja sebisanya.

Lalu keuntungan kedua adalah adanya teman. Sesama peserta challenge yang saling menyemangati. Kalau di IG biasanya ada comment dan likes, kalau di blog biasanya lewat blogwalking atau satu Whatsapp group khusus di mana kita bisa share linknya. Jadi saya tidak merasa menulis sendirian dan jadi terpacu untuk melanjutkan ketika teman-teman sudah mulai ngelist. Mau malas jadi malu. Tidak ada alasan untuk stuck karena ada teman-teman seperjuangan yang terus maju.

22 October 2023

Pentingnya Support System Bagi Blogger Pemula

Ketika dulu saya mulai blogging, saya tidak memikirkan yang namanya SEO, Domain Authority, pembacanya siapa dan segala macam hal yang sepertinya sering jadi requirement untuk blog masa kini. Soalnya tujuannya hanya mengupdate kehidupan duduk ke keluarga yang jaraknya jauh. Awal mula ngeblog bener-bener karena malas mengupdate keluarga satu persatu dan banyak juga yang tidak buka email. Whatsapp baru muncul tahun 2009. Sementara Dudu lahir tahun 2006. Jadi ada sekitar 3 tahun di mana Saya tidak tahu bagaimana mengupdate perjalanan saya dan Dudu kepada keluarga. 

Waktu itu hp-nya masih Nokia 3310 yang cuma bisa main game snake aja. 

Halo Mama, Nokia-nya nggak bisa dipake ngetik blog.

Support system pertama adalah tools dan teknologi yang tersedia. 

Saya mulai blogging serius ketika Dudu lahir. Waktu itu tahun 2006. Sebelumnya, saya menulis blog buat iseng-iseng. Kalau diintip lagi blog yang galau itu sepertinya sudah dari awal tahun 2000an. Haha. Malu ah, membacanya. Support System yang pertama tentu saja internet yang memadai di negara tempat saya kuliah. Adanya laptop dan kamera yang bisa memuat foto membantu saya membuat semacam Buku Harian online. 

Namanya blog kan adanya di dunia maya, tentunya harus ada teknologi yang support. 

Setelah saya pulang ke Indonesia, dan memulai profesi sebagai jurnalis, blog saya mulai terbengkalai. Selain karena si support system yang berubah, alias internet yang terbatas plus gadget yang sudah mulai lelah karena menemani saya sejak kuliah, saya juga mulai bekerja full-time. Waktu mulai tersita. Apalagi bekerjanya juga sebagai jurnalis yang ujung-ujungnya menulis. Pas mau ngeblog, energi sudah habis. 

Support system yang kedua ini tidak kalah pentingnya: Komunitas. 

Energi yang habis ini terselamatkan dengan teman-teman seperjuangan. Bergabung ke komunitas, kenalan dengan blogger lain, ikut hadir di event dan belajar blogging lebih serius, membuat saya semangat lagi. Karena jadi ada a sense of belonging. Punya teman sesama blogger bisa ngobrol, tukar pikiran, dan saling menyemangati kalau sedang stuck adalah sebuah anugerah tersendiri. Belum lagi kalau dapat kesempatan ikut kelas belajar SEO, belajar menulis dengan baik, dan bagaimana memonetisasi blog. Saya merasa tidak menulis sendirian, dan senang bisa bertemu teman yang punya hobi serupa. 

Dari komunitas yang saya ikuti ini, saya juga bisa dapat job. Tidak selalu berupa uang, tetapi juga kesempatan hadir di premier film atau dikirimkan produk untuk dicoba duluan. Dapat undangan acara penting dan jadi merasa dihargai. Akhirnya blog yang saya miliki bisa menghasilkan sesuatu, meskipun terbatas karena alamatnya yang tidak top level domain alias TLD. Habis bagaimana tujuan saya ngeblog kan bukan untuk komersil. Tetapi lebih ke personal branding, dan bercerita tentang pengalaman saya bersama anak saya. 

Sini Ma, saya bantu ketikin blognya

Yang paling penting, ya support system ketiga: Dudu. 

Tentunya support System yang paling utama adalah anak saya, Dudu. Yang adventure-nya saya tulis sebagai cerita utama di blog saya. Ketika dia sudah mulai bisa diajak diskusi, saya bahkan meminta dia untuk Menuliskan beberapa hal di dalam blog atau mencantumkan obrolan kita sebagai tulisan. Dari dulu Dudu bayi hingga sekarang sudah remaja, siap berangkat kuliah tahun depan.

Kalau Dudu sudah kuliah, bagaimana dengan nasib blog ini? Nah ini yang sebenarnya belum saya pikirkan. Tapi yang namanya petualangan jadi ibu tentunya tidak berhenti sampai di sini kan?

Kenapa support system ini penting? 

Jawaban singkatnya ya karena kita jadi tidak merasa sendirian. Dan ini bisa dikembangkan ke mana-mana. Dilansir dari website verywellmind, ada 4 tipe support system: emotional, esteem, informational dan tangible. 

Emotional support memberikan pelukan atau telinga untuk mendengar keluh kesah. Sementara Esteem support ini yang memberikan afirmasi bahwa kita mampu mengerjakan sesuatu. Yang membuat kita jadi lebih pede blogging. Informational support memberikan fakta, informasi atau guide yang kita butuhkan tentang satu subjek tertentu. Tangible support ini adalah tindakan nyata, yang kalau dicontohkan bisa seperti menawarkan jasa babysitting sementara saya menulis. 

Kalau dilihat cerita support system saya sebagai blogger di atas, Dudu adalah emotional support saya. Yang ada dan memberikan semangat untuk terus ngeblog melalui adventure yang kita jalani berdua. Teknologi jadi informational support saya dengan memberikan banyak jawaban dan fasilitas untuk ngeblog. Esteem dan tangible ya jelas komunitas. Dapat feedback, dapat semangat. Dapat blog walking juga. Tangible karena support nyata yang didapat bisa juga berupa job maupun fasilitas untuk belajar lagi. 

Image by Freepik

Bagaimana kita bisa jadi support sistem yang baik? 

Lebih dari satu dekade kemudian, giliran saya yang jadi support system teman-teman yang baru mulai ngeblog. Kalau dulu saya yang banyak dibantu sekarang saya ingin membantu teman-teman yang mau mencoba blogging. 

Kan caranya tinggal Googling? Zaman sekarang memang lebih enak sih semuanya bisa dicari di mesin penelusur. Tinggal buka website, cari di Google bagaimana cara blogging. Tapi buat blogger pemula atau yang benar-benar tidak tahu mau mulai dari mana, adanya teman yang bisa membantu step by step dari awal bisa mendorong mereka untuk beneran punya blog. Tugas saya sebagai support system, biasanya hanya menjawab pertanyaan. 

Mending nulis di blogspot atau di Wordpress? 
Eh ini tuh kayak diary ya? Ada gemboknya? 
Biasanya lu nulis blog berapa panjang sih? 
Fotonya diedit dulu nggak? 
Kalau gue ngeblok dari handphone, bisa nggak? 
Dan sejuta pertanyaan lainnya. 

Terdengar remeh memang, dan benar semuanya ada di Google. Tapi sama seperti dulu saya mendapatkan jawaban dari kelas-kelas yang saya ikuti, ada yang mengarahkan ini membuat kita lebih semangat blogging. Untuk menjadi seorang blogger kita butuh support system. 

Apa yang bisa kita berikan sebagai seorang support system? 

Karena saya tidak punya cukup uang untuk membelikan gadget, atau menjadi inspirasi tulisan si teman, ya saya berperan sebagai 'komunitas' untuk mereka yang baru mulai menulis. Dengan cara berbagi apa yang saya punya. 

  • Berbagi pengetahuan tentang blogging. Pakai platform apa? Menulisnya bagaimana? Apa yang harus ditulis? Bagaimana cara pasang foto? Dan lain sebagainya. 
  • Teman brainstorming. Kadang kalau mentok, ngobrol dengan sesama blogger bisa membuat kita punya ide cemerlang. Buat blogger pemula, yang nulisnya masih setengah-setengah, punya teman yang meng-accourage dia untuk menulis bisa membuatnya lebih konsisten. 
  • Fans nomor 1. Biasanya yang memulai blogging tidak pede sama tulisannya sendiri. Kita sebagai teman yang baik bisa menyediakan waktu untuk mampir ke blognya membaca dan memberikan feedback atas tulisannya. 
  • Pengingat bahwa blog harus diupdate. Yah meskipun ini kembali lagi ke manusianya masing-masing, Apakah mau konsisten blogging atau hanya sekedar mengikuti tren saja. Yang penting tugas saya adalah sesekali mengingatkan "eh blognya udah di-update lagi belum?" 

Baik sebagai ibu, maupun sebagai blogger, support system ini penting. Apalagi sebagai ibu-ibu ngeblog. Harusnya support system kita bisa dikali dua ya. Hahaha



20 October 2023

Nyaman Berteman Tanpa Beban Dalam Rangkaian Tulisan

Punya banyak teman? Kalau bilang tidak punya, rasanya saya bohong. Kalau bilang punya, saya ini sebenarnya introvert jadi saya merasa kalau temannya tidak banyak. Alasan klasik, social battery saya gampang habis. Tapi biasanya tidak ada yang percaya.

Beda ceritanya dengan komunitas blog. Apa yang membuat saya nyaman punya teman di komunitas blog? Atau setidaknya begitu. 

Pertama ya jelas karena kita punya kesenangan yang sama alias ngeblog. Biasanya di komunitas ada challenge atau tantangan tertentu yang diikuti bersama-sama. Diskusi tema, curhat writer's block, maupun saling menyemangati agar bisa menyelesaikan challenge, biasanya membuat teman-teman di komunitas blog menjadi akrab. Itu baru secara online di grup chat atau virtual di media sosial. Dulu zaman masih banyak event offline teman ngeblog saya lebih banyak lagi. Sejak masih jadi wartawan, sampai akhirnya pensiun dan jadi blogger full-time. 

Dari semua teman yang ada, adakah yang akrab? Jujur untuk sekarang ini sepertinya tidak ada yang benar-benar akrab sampai jalan bareng atau curhat japri via whatsapp. Meskipun Kalau bertemu offline rasanya seperti bertemu teman lama. Eh, tapi kita memang temanan sudah lama ya hahaha. Dari jaman Dudu masih TK, sampai sekarang sudah mau kuliah.

Kedua, pertemanan ini tidak membebani. Seperti ketika acara ulang tahun Kumpulan Emak2 Blogger (KEB) di awal tahun 2023 ini. Acara tersebut adalah acara offline blogger pertama yang saya datangi lagi setelah sekian lama terjebak pandemi. Tidak janjian dengan siapa-siapa karena memang sudah jarang berhubungan lagi dengan teman-teman blogger lama. Nekat datang sendiri, berpikir "Wah nggak ada temennya nih". Ternyata begitu hadir, malah seperti reuni SMA. Terlalu banyak yang dikenal dan harus diajak bicara, sampai beberapa tidak sempat disapa. Ah, jadi kangen. 

Saya nyaman berteman dengan sesama blogger. Balik lagi, karena saya introvert. Pertemanan lewat bertukar tulisan, mampir pun lewat blog walking. Jadi social battery saya tidak habis. 

Bukan cuma yang akrab, dalam satu komunitas pun ada yang datang dan pergi. Beberapa blogger jadi tidak seaktif dulu karena kesibukannya. Saya pun sempat begitu. Meskipun masih menulis, tapi tidak segila dulu dalam mengejar job atau mendaftar event. Seiring dengan berkembangnya zaman, yang baru mulai ngeblog juga semakin banyak. Jadi kalau bergabung ke komunitas ngeblog, saya bisa dapat banyak teman baru. Yang masih semangat atau yang baru belajar. Namun mereka-mereka yang baru ini justru membuat saya semangat untuk ngeblog lagi. 

Makanya jadi ikutan challenge KEB ini hahaha.

27 September 2023

Cari Peluang Uang Tambahan untuk Ibu Tunggal

Kita selalu mencari peluang untuk mendapatkan uang tambahan. 

Waktu Dudu masih TK dulu, pekerjaan pertama saya tidak menghasilkan banyak uang. Cukup untuk kehidupan sehari-hari tetap sulit menabung untuk liburan dan kelak kalau Dudu mau masuk SD. Terus cari uang tambahan dari mana agar tidak mengganggu cash flow yang ada sekarang jika mau pergi liburan keluarga atau membeli barang yang sedikit mahal, misalnya Dudu perlu punya handphone.


Itu saya, yang full-time bekerja, dan bisa menitipkan Dudu pada orang tua. Bagaimana dengan single moms yang ketika masih berpasangan dulu memilih untuk jadi ibu rumah tangga? Tentunya ada gap year di antara karir, harus catch up dengan banyak hal dan melalui proses panjang untuk kembali ke dunia kerja. Apa yang bisa dilakukan selain mencari pekerjaan tetap agar kembali berpenghasilan?

Kalo orang bilang ada banyak jalan menuju Roma, sebenarnya ada banyak peluang mendapatkan uang tambahan. Apa saja?

Ikut kompetisi ibu dan anak.

Lomba mewarnai, lomba foto, lomba fashion show dan lainnya. Semua kompetisi itu sering diikuti oleh saya dan Dudu ketika dia masih kecil. Kalau menang dapat uang. Kalau tidak? Selain dapat pengalaman, biasanya ada goody bag yang dibagikan dan isinya lumayan untuk kehidupan sehari-hari. Saking seringnya ikut lomba, saya sampai punya IG agregator lomba anak yang masih berjalan sampai sekarang.

Bagaimana caranya ikutan lomba? Dulu saya dan Dudu rajin hadir ke acara anak-anak di akhir pekan. Terutama yang gratisan dan terbuka untuk umum di mall. Kalau ada kompetisinya, ya kita daftar saja ikut. Selain bisa jadi kesempatan bonding bersama anak, kalau menang kan bisa dapat hadiahnya.

02 September 2023

Makna Merdeka Bagi Ibu Tunggal

Tanggal 30 Agustus kemarin saya menghadiri Diversity, Equity and Inclusion (DEI) Summit yang diselenggarakan oleh Manulife Indonesia. Acara yang saya hadiri sebagai perwakilan Single Moms Indonesia ini membawa pesan “Bring DEI to Life.” 

Hubungannya apa sama merdeka?

Ada satu pesan yang saya dengar di DEI Summit pertama di Indonesia ini yang membuat saya berpikir tentang makna merdeka. Kira-kira begini: Coba bayangkan betapa tidak nyamannya kita ketika harus menyembunyikan sesuatu agar terlihat normal dan tidak dikucilkan oleh orang lain. Apa yang terjadi jika kita harus merahasiakan kondisi kita, dan struggling sendirian. 

Yang dibahas di DEI Summit kemarin lebih kepada disabilitas, terutama disabilitas fisik. Namun memang disebutkan bahwa disabilitas ini bukan hanya fisik tapi juga mental dan kondisi. Perbedaan bukan hanya apa yang terlihat langsung di depan mata. Misalnya seorang karyawan yang memiliki ADHD tentunya akan lebih sulit fokus dibandingkan rekan-rekannya yang tidak ADHD. Namun ADHD yang tidak berani diakui ini menghalangi kinerja dan menyebabkan karyawan tersebut dicap tidak perform. Begitu juga dengan status ibu tunggal. 

Banyak single mom yang menyembunyikan status mereka ketika melamar pekerjaan karena takut diperlakukan berbeda, misalnya diganggu rekan kerja atau atasan lawan jenis. Bisa juga malah jadi tidak diterima karena perusahaan khawatir mereka akan banyak ijin karena harus mengurus anak sendirian. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah menciptakan equity dan melakukan inclusion untuk mereka yang berbeda.

Jadinya ya, para ibu tunggal ini belum merdeka. Bukan hanya dalam pekerjaan, namun juga dalam kehidupan sehari-harinya. Stigma yang muncul membuat mereka kurang nyaman menjadi diri sendiri, dan akhirnya stress karena harus terus berpura-pura. Padahal masih terluka. Karena itulah saya ingin menciptakan sebuah kondisi di mana para ibu tunggal ini bisa merdeka. 

Merdeka yang bagaimana?

29 August 2023

Apakah Kelinci Cocok Sebagai Peliharaan Pertama Anak?

Sejak saya dan Dudu memelihara kelinci, beberapa orang tua bertanya pada saya tentang kelinci. Anaknya ingin punya kelinci. Daripada kucing atau anjing, lebih baik kelinci dulu sebagai peliharaan pertama anak. Apakah benar kelinci cocok buat jadi peliharaan pertama anak? Coba kita telusuri pro dan kontranya sebelum memutuskan untuk memelihara.

Sulitkah memelihara kelinci?

Dibandingkan anjing dan kucing, kelinci termasuk mudah dipelihara karena herbivora. Kebetulan lingkungan rumah mendukung dengan adanya taman di belakang. Ukuran kelinci yang tidak terlalu besar dan tidak berisik juga membuat kelinci jadi mudah untuk dirawat dan dipelihara. Karena itulah, ketika Dudu ingin punya binatang peliharaan, kelinci jadi pilihan pertama saya. 

Apa saja yang harus diperhatikan ketika memelihara kelinci?

Jika mengenalkan kelinci sebagai binatang peliharaan anak yang pertama, harap diingat bahwa kelinci mudah mati. Kepanasan mati, kedinginan juga mati. Kebanyakan makan mati. Salah makan mati. Kaget juga bisa mati. Jadi, persiapkan anak dan diri anda sendiri untuk menghadapi kematian kelinci sejak mulai memelihara.

Meskipun terlihat jinak dan lucu, kelinci saya dulu pernah menang berantem lawan kucing liar. Kelinci memiliki cakar tajam dan gigi yang kuat. Selain itu, tendangan kaki belakangnya juga tidak boleh diremehkan. Jadi, ketika mengenalkan kelinci pada anak, awasi juga interaksi mereka. Kelinci tidak boleh dipegang kupingnya, jadi jangan sampai anak yang masih kecil menarik kuping kelinci. Selain itu, kelinci dewasa juga bisa tumbuh besar dan berat. Hati-hati saat menggendongnya.

26 August 2023

Reza Permadi Menggandeng Teknologi Sebagai Sahabat Pariwisata Lewat Virtual Tour

Traveling adalah bagian dari kegiatan rutin saya dan Dudu. Sebelum pandemi, biasanya kami jalan-jalan setidaknya 2 kali dalam setahun ketika si Dudu libur sekolah. Lalu pandemi datang, dan jalan-jalan jadi tertunda. 

Di rumah saja bosan. Namun apa yang bisa dilakukan? 

Karena sering bermain media sosial, saya jadi paham dengan yang namanya wisata virtual. Beberapa grup travelling dan grup pekerja nomad yang saya ikuti di Facebook mulai mengadakan acara wisata virtual. Ada yang di Jepang, ada yang di Turki dan negara-negara lainnya. Ketika lockdown sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, wisata virtual mulai menjamur di semua platform. Semua orang kangen jalan-jalan tapi masih belum berani ke luar rumah. 

Konsep virtual tour atau wisata virtual ini menarik karena sebenarnya orang seperti saya, yang senang cek lokasi lewat google maps sebelum beneran sampai di tempatnya, secara tidak sadar sudah melakukannya. Saya senang merencanakan perjalanan, membuat itinerary dan mencari informasi tentang tempat yang saya tuju. Apalagi jaman sekarang sudah ada teknologi canggih yang memungkinkan kita “jalan-jalan” di layar laptop. Tinggal klik lalu bisa lihat 360 view dari satu tempat wisata. Atau bisa cek street view dari satu daerah dan menyusuri jalanannya, seakan-akan kita ada di sana. 


Kalau dipikir-pikir, ini jadi mirip main game RPG. 

Eh, di Indonesia juga bisa dong. Apalagi ada banyak daerah yang memiliki pemandangan indah namun sulit dijangkau secara offline. Dengan banyaknya orang jadi melek teknologi ketika pandemi, wisata virtual ke daerah-daerah ini sekarang bukan hanya wacana. Yang penting ada tour guide-nya. Karena biasanya jalan-jalan tanpa cerita itu jadi tidak ada maknanya. Salah satu penyedia jasa layanan virtual tour ini adalah Atourin.

Cerita Reza Permadi dan Atourin

Atourin adalah milik Reza Permadi, salah seorang penerima SATU Indonesia Awards tingkat Provinsi untuk DKI Jakarta di tahun 2021 kemarin. Gagasannya di bidang teknologi, yaitu Atourin, mengusung Wisata Virtual untuk Pegiat Pariwisata. Atourin yang didirikan pada tahun 2019 ini bertekad untuk memajukan industri pariwisata Indonesia sekaligus dapat berkontribusi meningkatkan perekonomian Indonesia melalui implementasi teknologi, mulai dari memberikan pelatihan untuk virtual tour bagi para pemandu wisata di Indonesia ketika pandemi menyerang.

17 August 2023

Tujuhbelasan Berkesan dan Pesan untuk Indonesia

Sudah puluhan kali melewati 17 Agustus, namun entah kenapa tidak ada acara berkesan yang muncul di kepala. Ketika sekolah dulu, 17-an identik dengan upacara. Baik ikutan secara langsung di sekolah atau nonton TV. Lalu ketika mulai bekerja, maknanya mulai hilang karena saya seringnya bekerja di tanggal merah. Pertama ketika bekerja sebagai wartawan, harus menghadiri event 17-an dan menuliskan reportasenya. Lalu saya pindah ke e-commerce, di mana kemerdekaan ini adalah waktunya promosi dan diskon belanja. Ujung-ujungnya ya 17an dihabiskan dengan bekerja.

Karena bukan tim aktif lomba, saya juga jarang berpartisipasi di perlombaan selain yang ada di sekolah. Sekolahan Dudu yang internasional juga tidak terlalu punya perayaan 17 Agustus yang meriah. Lalu momen berkesannya apa? 

Setelah browsing foto, ternyata ada dua momen yang unik di perayaan 17 Agustus sepanjang hidup saya.

Momen pertama adalah jalan-jalan. Kita pernah naik pesawat pas 17 Agustus. Haha. Jadi spesial karena Halim Perdana Kusuma waktu itu dihias dengan bendera merah putih. Dudu juga ikutan excited dengan semangat kemerdekaan, mau saja disuruh foto-foto pakai ikat kepala merah putih. Yang lebih memorable-nya lagi, karena kita penerbangan dari Halim Perdana Kusuma, semua pesawat delay. Baru bisa terbang setelah pesawat tempur selesai acara 17an. Airportnya ramai tapi tidak ada yang protes.

Jadi tambah spesial karena perjalanan kita saat itu adalah ke Jogjakarta untuk lamaran adik saya, sekaligus survey lokasi pernikahannya. Seru!

Momen yang kedua adalah ketika secara random, kami sekeluarga memutuskan untuk mengadakan Korean BBQ di rumah. Saat itu masih pandemi dan PPKM masih lumayan ketat. Kami memesan peralatan BBQ mulai dari kompor gas, panggangan, daging dan bumbu dari toko online. Lalu, mulai mencari side dish dari restoran favorit yang untungnya berhasil survive selama pandemi. Setelah lockdown dan kemudian PPKM, 17an tahun itu terasa lebih merdeka.

Berkumpul bersama keluarga, menikmati hidangan setelah sekian lama terperangkap di rumah masing-masing selama pandemi.


Harapan untuk Indonesia

Almarhum Papa selalu bilang kalau orang tambah tua jadi tambah kuno. Kalah cepat dengan teknologi dan perkembangan zaman. Semakin ketinggalan dalam hal ilmu. Mau belajar pun, sudah tua dan otak terkadang sudah tidak mampu. Sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.

Nenek saya yang usianya 92 tahun masih bisa belajar belanja online. Sekarang dia bisa browsing aplikasi e-commerce dan shopping sendiri. Tante saya yang usianya 70an punya instagram sendiri. Meskipun masih sering terjebak hoax yang beredar di grup keluarga, namun para lansia ini mau maju dan belajar dengan caranya.

Saya berharap Indonesia juga begitu.

78 tahun bukan usia muda. Indonesia akan terus bertambah tua. Namun bukan berarti negara ini akan jadi gaptek, kolot dan terjebak nostalgia. Manusia berubah. Zaman dan teknologi jadi maju. Saya berharap Indonesia mau belajar mengerti, mau menerima edukasi sebelum menghakimi. Jangan takut akan sesuatu yang baru, lalu membatasi kreativitas dengan alasan melindungi generasi penerus bangsa. Sebaiknya Indonesia belajar memahami, dan bersama-sama mencari solusi yang tepat. 

Jangan jadi nenek-nenek yang merasa internet itu ancaman. Teman bule cucunya sebagai keturunan kompeni yang harus dicurigai. Sulit menerima ketika anak cucu punya moral compass yang berbeda akibat mudahnya akses eksposure ke negara asing. 

Semoga Indonesia bisa semakin bijak menyikapi transformasi dalam negeri. Mampu merangkul perbedaan yang ada dan setia pada semangat bhineka tunggal ika. Keras tak harus benci. Jangan sampai anak cucu pergi dan tak kembali, lalu Indonesia terpaksa menghabiskan masa tuanya di panti jompo. Jadilah sosok yang bijak seiring bertambahnya usia, orang tua yang mencintai dan dicintai.

Ah, kalau menulis begini jadi mellow sendiri. Saya memiliki love-hate relationship dengan tanah air tercinta. Yang sudah banyak berkontribusi pada hidup saya, tapi banyak juga memberikan kekecewaannya. 

 

02 August 2023

Persiapan Nonton Konser di Usia (Hampir) 40

“Apakah seorang idol harus terus berkarir dan promosi di usia 40?”

Judul berita itu muncul di timeline sosmed saya. Kebetulan idol favorit saya, Super Junior, sudah sampai usia 40 tahun. Saya juga. Soalnya saya dan idol saya memang seumuran. Dudu sering komen soal per-konseran-ini karena sepertinya hanya saya mama-mama yang masih mengejar-ngejar Kpop Idol sampai ke negara tetangga.

Idol saya ini pernah bercanda, membuat konser yang penontonnya duduk semua karena “fans kita sudah tua.” Iya juga. Sementara para idol masih bisa nge-dance berjam-jam dan berlari-lari keliling panggung, para fansnya sudah jompo. Berdiri 3 jam sepanjang Supershow sudah tidak kuat. Apalagi setelah pandemi, badan jadi lebih tidak fit karena kebanyakan rebahan di rumah. 

Sepanjang pandemi, konser diadakan online. Menyaksikan SMTown Live di televisi di tahun baru sudah jadi tradisi beberapa tahun terakhir ini. Belum lagi konser online di beberapa platform yang bisa kita saksikan di layar komputer masing-masing hanya dengan membeli tiket. Idol terlihat lebih jelas, tidak perlu lelah antri masuk karena bisa sambil duduk, dan tidak perlu dandan rapih. Sebenarnya yang seperti ini ideal buat saya yang umurnya sudah mendekati kepala 4. Tapi jadi malu, ya. Masa artisnya sanggup, fans-nya kalah? Hahaha.

Nonton konser di TV tidak seseru nonton aslinya.

Apa yang harus disiapkan ketika mau nonton konser, sementara usia sudah semakin tinggi?

Pertama tentunya uang. 

Meskipun sekarang sudah punya tabungan, tapi pengeluaran dan tanggung jawab juga sudah semakin banyak. Jadi, agar dana konser tidak mengganggu cash flow, sebaiknya kita tetap memiliki pos terpisah untuk konser. Apalagi harga tiket konser kan biasanya juga tidak murah. Begitu juga dengan artis yang ingin didatangi konsernya. Saat ini, saya sendiri hanya membatasi dua artis yang konsernya bisa saya datangi karena keterbatasan dana: Super Junior dan Backstreet Boys. Karena pemberitahuan penjualan tiket konser biasanya mendadak, jadi saya punya tabungan khusus tiket konser yang tidak bisa diganggu gugat. Ketika tiket beserta harganya diumumkan, biasanya saya sudah punya uang untuk membeli. 

Kalau ada rejeki lebih, nonton konsernya sekalian liburan ke negara tetangga. Dudu? Ya dititipkan dulu di rumah adik saya yang kebetulan bermukim di sana haha.

Kedua, jaga kesehatan dan sadar diri. 

Sudah bukan anak kuliahan atau di awal karir yang masih berprinsip “you only live once,” jadi tentukan prioritas. Tidak perlu ikut jemput ke airport, stalking dan keliling kota demi papasan di jalan. Persiapkan diri nonton konsernya. Dari sisi kesehatan dan dari sisi kerjaan. Jangan sampai di hari konser, kita terpaksa lembur, atau sakit karena kebanyakan lembur di minggu sebelumnya. Jangan memaksakan diri ambil kelas yang berdiri kalau memang lebih nyaman duduk. Kalau seat sudah ada numbernya, tidak perlu datang terlalu pagi. Ini yang saya lakukan ketika menonton Super Junior KRY beberapa tahun lalu. Sudah ada seat number, jadi tidak perlu antri sejak pagi.

Ketiga, maksimalkan momen untuk ‘me time’. 

Sebagai seorang ibu, jarang-jarang saya punya waktu heboh sendiri. Dan biasanya ketika sedang ‘me time’ pun, saya tetap membuka handphone memantau keadaan sekitar. Nah, kalo konser, karena sibuk fangirling dan berusaha tidak terhimpit massa, jadi lupa sama yang namanya memeriksa chat. Yang ada handphone dimatikan sinyalnya agar tidak mengganggu atau habis baterai saat merekam aksi idol idaman. Ketika nontonnya di negara tetangga, saya sekalian “solo traveling” meskipun cuma setengah hari di Singapore dan hanya di sekitar tempat konser. Haha.

Jadi, apakah saya akan berhenti nonton konser di usia 40?

Well, sepertinya sih tidak. Kalau para idol saya belum berhenti berkarya, saya sih akan terus menabung untuk menonton konser. Sama waktu Backstreet Boys akhirnya world tour lagi dan nyampe di Jakarta dengan formasi lengkap, bahagianya bisa konser pakai uang gaji sendiri itu tidak terlukiskan. 


31 July 2023

Satu Catatan Berkesan Seorang Ibu-Ibu Banyak Mau

Membuka kembali buku harian lama berarti membaca kembali mimpi yang tertunda. 

Puitis ya hehe.

Satu cerita lama yang saya baca ulang adalah mimpi saya buat kuliah lagi. Ketika saya punya anak kemarin, yang namanya kuliah S2 jadi prioritas kesekian. Soalnya jurusan kuliah yang saya mau bukan jurusan yang akan membuat karir lebih maju atau jurusan komersil. Jurusannya dipilih karena saya ingin belajar ilmu itu. Makanya jadi hal yang tidak urgent. Lalu ketika si Dudu mau kuliah, kita pergi college shopping. Saya jadi keingetan kalau saya pernah punya mimpi mau kuliah lagi.

Ternyata selama bertahun-tahun ini, jurusan yang saya inginkan tidak berubah. Antara melanjutkan studi master di bidang Religious Studies atau Cultural Anthropology.

Ketika saya utarakan itu, sekeliling saya menanyakan kenapa saya tidak mau ambil MBA. Alasannya, saya sekarang bekerja di bidang marketing. Tentunya gelar MBA akan sangat membantu karir dan gaji, sehingga finansial saya bisa membaik juga. Lah, tapi itu tadi. Saya mau kuliah mengambil jurusan yang saya suka lalu mencari karir yang sesuai dengan jurusan tersebut. Bukan sebaliknya. Lalu karirnya bagaimana? 

Membuka kembali catatan lama, saya jadi sadar kalau memang saya belum memikirkan karir mau jadi apa kalau sudah lulus S2. Dan itu dulu, ketika saya baru lulus S1. Sekarang, setelah lebih dari 15 tahun malang melintang jadi karyawan dan berpindah karir dari jurnalis ke marketing, jadi kepikiran juga. Mau jadi apa kalo sudah S2?

Google jadi tujuan. 

What can you do with a Religious Studies degree?

Sebelum masuk ke karir, Religious Studies adalah jurusan yang mempelajari agama dan kepercayaan di seluruh dunia. Mempelajari hubungan kepercayaan (termasuk agama) dan aspek sosial, politik serta budaya. 

Melirik website karir di beberapa universitas, lulusan Religious Studies biasanya jadi guru atau researcher. Banyak yang menggabungkan jurusan ini dengan bidang studi lain seperti sosiologi, jurnalistik, pendidikan, hukum dan social work. Meskipun kebanyakan mengarah ke karir yang berhubungan dengan agama, seperti evangelist, tapi banyak juga pekerjaan lebih netral yang bisa dilamar. Misalnya, community outreach, yang berhubungan dengan komunitas, dan non-profit administrator, yang berhubungan dengan organisasi kemanusiaan. 

Bagaimana dengan Cultural Anthropology? 

Cultural Anthropology adalah jurusan yang berfokus pada aspek masyarakat dan budaya manusia, termasuk dengan perkembangannya. Kalau tinggal di Indonesia, rasanya jurusan ini menarik banget ya. Cultural Anthropology mempelajari interaksi manusia dan bagaimana “peraturan” serta norma dibuat. Bagaimana dengan karirnya? Bisa di bidang kemanusiaan, misalnya di dinas sosial, peneliti atau guru, di museum sebagai juru arsip, kurator hingga direktur museum. Bisa jadi ahli sejarah, program manager dan pindah sedikit ke HRD bidang people & culture.

Setelah melihat karir choice yang ada untuk kedua jurusan itu, saya malah makin mantap untuk mengejar studi lebih lanjut. Soalnya, karir yang ada, sesuai dengan passion saya sekarang di bidang komunitas dan organisasi non-profit. Banting setir lagi dong dari marketing. Yah, namanya juga mimpi yang tertunda. Sayangnya, mungkin di Indonesia, karir di bidang ini masih sangat jarang. Karir di Dinas Sosial dan organisasi non-profit memang kurang populer dan kalaupun ada, gaji yang didapat pastinya tidak sebanyak kalau berkarir di start-up. 

Makanya kalau saya menyebutkan jurusan-jurusan yang ingin saya ambil, banyak yang mengernyitkan dahi. Tapi, ya, kenapa nggak? Ada banyak jurusan di luar sana. Temukan yang memang sesuai kebutuhan dan keinginan. 

07 July 2023

Our Best Family Moment Happens On the Road

“Just how many pictures are you taking on the road?”
Komentar Dudu kesekian kalinya ketika saya memfoto jalanan.
“Well, most of them are. I just love being on the road.”



Setelah lebih dari satu dekade, saya dan Dudu kembali lagi road trip berdua. Jalan-jalan pertama setelah pandemi berakhir dan langsung lompat jauh ke benua seberang. Tapi ya, apalah #DateWithDudu tanpa road trip cross country? Meskipun kali ini cross Texas doang, tapi karena luas negara bagian yang satu ini setara dengan beberapa negara bagian sekaligus, ya anggaplah kita sedang cross country. 

Salah satu yang paling bermakna adalah kemarin, ketika kami pindah kota dari Dallas ke Houston. Perjalanan 3,5 jam yang jadi sedikit lebih panjang karena mampir dulu ke Waco untuk tur keliling Baylor University. Ya, soalnya tujuan utama Dudu mudik kan untuk melihat-lihat universitas di Amerika Serikat. Apa yang membuat road trip tersebut jadi memorable moment buat kami berdua?

Dudu jadi Navigator

Ketika terakhir kami berdua road trip di Midwest, Dudu hanya sebagai penumpang yang duduk di carseat kursi belakang. Sekarang anaknya sudah duduk di kursi penumpang dan bertugas membaca peta di handphone. Mungkin next time kita sudah bisa gantian nyetir. 

Dari masalah baca peta ini kita menemukan banyak insight tentang cara kita berkomunikasi. Ketika Dudu mengarahkan kanan dan kiri, yang kadang terbalik itu, saya lebih paham kalau diarahkan dengan nomor exit serta arah mata angin. Jadi daripada “belok kanan”, biasanya saya lebih paham kalau dibilang “I45 South”. Sempat menimbulkan ketegangan kecil diantara kita berdua karena saya bolak-balik hampir salah exit, tapi kita tetap sampai ke kota tujuan dengan selamat.

Detour sedikit demi pemandangan

Jadi, sebenarnya jalan terdekat dari Waco ke Houston adalah melewati Highway 6S dan US 290E. Namun saya mengambil jalanan yang sedikit memutar agar mendapatkan pemandangan lebih unik dibandingkan naik highway yang besar, yaitu melewati TX-164E.sebelum masuk ke Highway I45. Pemandangan sepanjang jalan ini, selain menunjukkan ke Dudu ada apa di luar sana, juga bisa jadi bahan diskusi karena banyak hal aneh yang ditemui di jalan. Misalnya kincir angin raksasa yang terletak tepat di tepi jalan atau truk macam transformers terdampar. Lalu juga kota-kota kecil yang hanya memiliki beberapa ribu penduduk.


Hujan & Pelangi

“Mah, itu ada rainbow.”

Saya yang sedang menyetir jadi heboh sendiri. Mendekati area greater Houston, pelanginya muncul. Lalu disambut dengan hujan deras dan macet. 

“Aku baru pernah melihat 2 pelangi dengan jelas. Ini yang kedua.”

“Memang satu lagi kapan?”

“Di Apartment.”

“Emang ada di Indonesia?”

Dan ternyata memang dia pernah melihat pelangi dari jendela apartemen kita di Indonesia. Hal-hal seperti ini justru baru ketahuan ketika kita road trip barengan.  

“Ayo kita ke ujung pelangi yang di sana itu, nanti ada emas.”

Dudu menatap saya dengan aneh. Lalu kemudian menjawab, “kenapa tidak ujung yang satunya, Mah? Yang di ujung sana kan gelap pasti hujan.”

Dan sejenak kemudian, kita berdua harus melintasi badai yang mendadak muncul semakin dekatnya kita dengan Houston.


Buat saya, road trip ini seru karena kita berdua stuck dalam satu mobil dan jadi bisa ngobrol. Lalu bisa punya shared memories baru, dan ketika anak sudah sebesar Dudu sekarang, bisa diajak berpartner dalam perjalanan. Baik secara navigasi atau diskusi mau makan apa dan berhenti di mana. Banyak pengalaman baru juga yang bisa didapatkan seperti menyetir dalam hujan, mencari bensin murah dan parkir yang lumayan tricky.

Jadi tidak sabar buat jalan lagi.

 

18 June 2023

Kerokan dalam Bahasa Inggris

“Mau kerokan?”
“Boleh. Sepertinya saya masuk angin.”
“Cuma nanti kalau diliat orang bisa dikira child abuse.”
Dudu cuma angkat bahu.

Hari kelima mudik ke Amerika, dia tidak enak badan. Menjelaskan ke semua orang bahwa masuk angin alias “enter wind” ini ternyata cukup membingungkan. “Feeling under the weather.” atau “just don’t feel well in general” yang biasanya saya gunakan untuk menjawab mereka yang kebingungan. Terus kerokan gimana?

Ini adalah definisi Kerokan menurut beberapa sumber:

  • Kerokan atau Gua Sha (刮痧) adalah “is a traditional Chinese medicine (TCM) practice in which a tool is used to scrape people's skin in order to produce light petechiae.” (Wikipedia).
  • Sebuah jurnal yang dipublikasikan di Sage Publications mendefinisikan Kerokan sebagai “a traditional Indonesian treatment involving abrading the skin over various parts of the body with a blunt object such as a coin or a piece of ginger which may create suspicious injuries.”
  • "Gua sha is an alternative therapy that involves scraping your skin with a massage tool to help improve circulation." (Healthline)
Masuk angin sendiri ternyata lebih sering disebut sebagai “catching a cold” atau “catching a wind” oleh bangsa Vietnam. Jadi bukan “enter wind” ya, teman-teman sekalian. So Kerokan adalah method to “scraping the wind out,” alias mengeluarkan angin yang masuk dengan koin. Banyak juga yang menerjemahkannya dengan coining.

Loh, kok anak bule kerokan.

Nah ya itu masalahnya. Saya saja tidak kuat kerokan karena gampang geli. Kerokan ini pernah bikin berantem sama Mama karena saya susah diam kalo dikerok. Padahal setelahnya, tinggal pakai minyak angin, tidur lalu sembuh.

Apa yang membuat kerokan jadi seampuh itu, dan apakah mereka beneran seampuh itu?

Soalnya, konon, tindakan ini memperbaiki sirkulasi darah. Kerokan memperbaiki chi, membuka energi yang stagnan dan membuat kita jadi lebih sehat. Kerokan dipercaya menjadi penyembuh untuk badan pegal-pegal, masuk angin, sakit kepala dan migrain.

Apa yang dibutuhkan buat kerokan? Di Indonesia, saya bisa menggunakan alat dari besi yang ada pegangannya. Memudahkan untuk membuat garis-garis. Kalau darurat, coining bisa dilakukan dengan koin. Pertanyaannya kemudian berubah jadi koin seperti apa yang bisa digunakan ketika alat kerokan tersebut tidak ada? Yang paling ideal adalah uang 100 Rupiah dengan gambar Rumah Gadang keluaran tahun 1978. Namun ternyata uang dollar 25 sen atau Quarter juga lumayan mudah digunakan untuk kerokan.



Minyak apa yang dipakai? Ada yang pakai minyak angin, minyak kayu putih, pakai Freshcare, dan berbagai minyak lainnya. Setiap orang beda preferensi karena minyak ini berbeda baunya dan tingkat kepanasannya di kulit. Jadi ya tergantung toleransi masing-masing orang.

Yang perlu diperhatikan dari kerokan adalah kenyamanan setiap orang berbeda. Sama seperti saya tidak bisa kerokan karena gampang geli, dan akhirnya malah bikin mama frustasi. Sementara Mama tipe yang kuat banget kerokan, dan sering ngomel kalau saya “gagal” melakukannya dengan benar haha. Habis kan bingung juga ya ke arah mana ini garisnya. Konon kalau emang masuk angin, di tempat angin berkumpul, hasil kerokan akan lebih merah dari bagian tubuh lainnya. Karena di situlah energi kita nyangkut dan dilepaskan oleh kerokan.

Terlepas dari benar tidaknya ini kerokan, Dudu biasanya sembuh habis dikerok.
Jadi kita bisa lanjut jalan-jalan. Untunglah.

02 May 2023

Gabung Komunitas Ibu-Ibu, Emang Perlu?

Kalau saya bilang bahwa saya ini seorang ibu yang introvert, biasanya tidak ada yang percaya. Soalnya saya ikutan banyak komunitas ibu-ibu dan komunitas menulis, yang isinya juga banyak ibu-ibu. Dan karena saya aktif di beberapa komunitas, banyak yang bertanya-tanya, ngapain sih ikutan komunitas ibu-ibu?

Seiring bertambahnya umur, jumlah teman saya berkurang. Kalau membaca studi di luar sana, hal ini disebabkan oleh proses seleksi alam yang terjadi seiring proses menjadi dewasa yang terjadi. Secara alami, kita menyadari apa yang penting dan tidak penting bagi kita, lalu kita akan lebih banyak berinteraksi dengan yang relevan bagi kita. Kita juga memiliki banyak prioritas baru, yang mengurangi waktu kita untuk bersosialisasi. Kalau dulu pulang sekolah bisa bermain karena tidak perlu memikirkan keuangan, sekarang kita kerja dari pagi sampai malam tanpa tahu apakah hari itu sempat bersosialisasi dengan orang sekitar.

Lalu datang pandemi dan jumlah teman saya semakin berkurang. Tidak semua orang bisa dengan luwes berinteraksi secara online, berjam-jam zoom tidak bisa menggantikan tatap muka sambil ngopi.

Menurut psychologist Marisa Franco, seperti yang disebutkan dalam interviewnya dengan Boston NPR, bahwa semakin dewasa, manusia semakin kehilangan kesempatan berteman secara organik, seperti di sekolah atau universitas. Lalu semakin dewasa juga, menurut Marisa, kita lebih nyaman dengan setting grup daripada persahabatan secara individual. Kita cenderung punya satu grup yang kita sering berinteraksi daripada seorang sahabat dekat yang kita percaya sepenuh hati. 

Karena itulah, komunitas menjadi penting.

Saya sering menyarankan "ikut komunitas aja" kepada teman-teman yang mengeluhkan bahwa mereka sekarang tidak punya teman. Atau "kenapa nggak coba volunteer" alias berpartisipasi membantu di kegiatan yang menarik minat secara cuma-cuma. Meskipun biasanya kesempatan volunteering lebih mudah ditemukan kalau kita adalah bagian dari sebuah komunitas. 

Berkomunitas juga harus tepat, alias sesuai minat, tujuan dan kemampuan kita. Kalau kita senang menulis ya bergabung dengan komunitas menulis, jangan komunitas naik gunung. Kalau ingin belajar bahasa asing, kita bisa cari komunitas belajar. Karena saya ibu-ibu, ya saya bergabung dengan komunitas ibu-ibu. Ada 3 komunitas ibu-ibu yang saya ikuti secara aktif: Single Moms Indonesia, Kumpulan Emak2 Bloger dan Ibu Professional.

Berkomunitas di tempat yang tepat, sangat banyak manfaat.

Pertama, kita punya tempat untuk "escape" dari rutinitas dan kehidupan sehari-hari. Sebagai ibu bekerja, hidup saya biasanya hanya seputar rumah dan kantor. Apalagi saya termasuk punya anak lumayan early, pas kuliah. Jadi single mom pula. Kalau mau cari teman 'senasib' dalam lingkungan pertemanan yang ada, sepertinya lumayan sulit. Ketika kuliah dulu, saya ikut komunitas single mom di kampus. Lalu ketika bekerja, teman-teman saya kebanyakan fresh graduate yang berfokus pada karir, sementara saya sudah jadi ibu-ibu cari uang. Jadi, saya seperti menemukan dunia baru di komuntas.

Di tempat bernama komunitas ini, saya juga bisa jadi diri sendiri. Di rumah, saya Mama Dudu. Di kantor, saya karyawan. Di komunitas, ya saya jadi diri sendiri. Jadi blogger di Emak2 Blogger, jadi ibu tunggal di Single Moms Indonesia dan jadi penulis di Ibu Professional. Komunitas jadi tempat kita mengekspresikan satu bagian dari diri kita.

Kedua, ada support system yang bisa membuat kita tetap waras. Bagaimana orang yang bukan penulis memahami writers' block, atau saat mood menulis muncul, kita tidak bisa diganggu kegiatan lain? Bagaimana kita bisa menyeimbangkan peran antara ibu dan blogger? Atau, kadang saya ingin melakukan sesuatu bagi para ibu tunggal yang membutuhkan bantuan namun tidak menemukan lewat mana. Sekedar ingin sharing kalimat motivasi atau tips yang kebetulan kita miliki. Di sinilah komunitas berperan sebagai support system yang memfasilitasi passion dan keinginan kita tanpa keluar jalur, serta memberikan rasa percaya diri.

Bisa belajar, dan bisa mendapatkan achievement.

Ketiga, bisa belajar hal baru. Di Komunitas bukan hanya dapat teman, tapi dapat ilmu. Bisa ikut kelas dengan berbagai macam topik, mulai dari digital marketing, freewriting, public speaking, hingga bisnis. Bisa learning by doing juga. Sebagai seorang pegawai kantoran, saya bekerja sesuai job description. Tapi, di komunitas, saya bisa jadi tim event, belajar koordinasi dan menjadi tim lapangan. Komunitas jadi tempat belajar dan praktek, sekalian mencari pengalaman. Siapa tahu kita mau pindah kerjaan. 

Jadi, kalau ditanya emang perlu, gabung komunitas ibu-ibu? Jawabannya ya perlu. Komunitas ibu-ibu yang kayak apa, ya yang tepat dan dapat memberikan manfaat. 


31 March 2023

Kelinci Boleh Makan Apa?

Beberapa bulan yang lalu, saya dan Dudu mulai pelihara kelinci. Ada dua kelincinya, namanya Sentaro dan Arisu. Memelihara kelinci ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Kebetulan karena kami juga punya kebun, memelihara kelinci juga jadi murah. Tidak perlu sering-sering beli makanan, tinggal ambil rumput dan daun yang ada di kebun belakang. Atau berikan lalapan yang biasanya datang bersama makan siang.


Memangnya kelinci makan apa saja sih?

Selain rumput, ada beberapa jenis daun dan bunga yang bisa dimakan oleh kelinci. Yuk, coba kita cek.

Daun pisang.

Selain mudah didapat, daun ini konon ampuh buat kelinci yang sedang terganggu pencernaannya. Jadi kalau kelinci sembelit atau diare, bisa memberikan daun pisang. Daun pisang yang disukai kelinci adalah daun yang tidak terlalu muda. Setidaknya Sentaro dan Arisu suka daun pisang yang keras dan berwarna hijau tua. Pokoknya, kalau yang dimakan ada bunyi kres. Satu lembar daun dengan ukuran besar cukup untuk seharian. Jadi, kalau bingung tidak punya makanan tinggal potong daun pisang dari tanah kosong sebelah.



Daun Petai Cina atau Lamtoro.

Ini awalnya secara tidak sengaja diberikan, dan ternyata mereka suka banget. Kalau ada bermacam makanan, yang pertama dimakan adalah daun Lamtoro alias Leucaena leucocephala ini. Sayangnya, daun Lamtoro lebih cepat layu daripada daun pisang. Paling hanya bertahan dua hari. Daun lamtoro mudah ditemukan di mana-mana dan biasanya adalah tumbuhan liar yang ada dekat sumber air. Pohon ini sebenarnya berfungsi mencegah erosi. Daunnya buat kelinci, Petai Cina yang ikut terpetik katanya bisa buat masak Botok.

Kulit Buah

Ini salah satu makanan favorit Sentaro dan Arisu. Mulai dari kulit buah pir dan apel, hingga kulit buah pepaya dan Kiwi. Awalnya mereka juga mau makan kulit buah sawo, tetapi begitu tahu ada pir dan apel, ya sawonya selamat jalan deh. Bukan cuma kulitnya, kelinci bisa juga makan buahnya. Tetapi hati-hati dengan buah yang padat seperti pepaya, karena dapat menyebabkan kelinci kekenyangan. Pir dan apel banyak kandungan air, sehingga baik untuk kelinci, tetapi karena manis sebaiknya juga tidak diberikan dalam jumlah yang banyak.



Sayuran

Kangkung, bayam, caisim, pakcoy dan sawi atau selada bisa diberikan kepada kelinci. Di depan rumah ada pohon kangkung, jadi Sentaro dan Arisu paling sering makan kangkung. Yang jadi masalah adalah kangkung ini membuat pipis kelinci jadi bau pesing. Beberapa sayuran lain juga membuat pipis kelinci jadi berwarna merah atau orange kemerahan yang jika terkena keramik lantai bisa meninggalkan bekas. Sayuran yang tidak berdaun, seperti Kol dan timun, juga bisa diberikan kepada kelinci. Kol tidak dianjurkan diberikan dalam jumlah banyak karena menimbulkan gas di perut. Ada yang bilang asparagus juga boleh diberikan ke kelinci, cuma ya jadi mahalan makanan kelincinya daripada makanan saya dong.


Makanan Kelinci apa lagi ya?


Sentaro dan arisu suka makan daun pepaya, daun pepaya Jepang, dan daun pandan. Serta beberapa tanaman liar lain yang saya tidak ketahui namanya. Mereka juga suka makan bunga dan ginseng Jawa. Pernah makan Bunga Kamboja sebelum ketahuan kalau itu sebenarnya beracun untuk kelinci. Lalu Melati jepang (Carruthers’ Falseface) Daun jambu, daun mangga dan daun serai juga pernah. Lalu kulit pisang dan buah pisang pun mereka suka. Beberapa waktu lalu Bahkan mereka makan batang pepaya. sepertinya sih untuk mengasah gigi agar tidak terlalu panjang.



Ini adalah makanan utama Kelinci.


Makanan mereka yang terutama adalah Hay, alias rumput yang dikeringkan. Biasanya Hay ini bisa dibeli di pet shop atau toko online dengan harga sekitar Rp 40.000 sampai Rp 60.000 per kilonya. Harganya tergantung jenis, namun yang paling disukai Sentaro dan Arisu adalah Hay jenis Timothy.

Saya juga membeli snack buat kelinci. yaitu Hay yang dikeringkan lalu diberi rasa bunga seperti Bunga Telang, Marigold dan Rose. Kalau sudah ada snack mereka rebutan. Harga snack ini sekitar Rp4.000 satunya atau 10.000 sampai 15.000 untuk satu pak.

1 kilo Hay biasanya habis untuk 2 minggu atau lebih cepat jika tidak ada sayuran lain. Jadi biaya memelihara kelinci, untuk makanannya, bisa habis sekitar sekitar Rp 100.000 sebulan. Saya jarang memberi Sentaro dan Arisu makanan pelet. Mereka lebih mudah dipancing dengan daun Lamtoro atau kulit buah.


Intinya memelihara kelinci jadi lebih murah, karena makanan mereka ada di sekitar kita. Saya sering memberikan daun yang saya temukan untuk melihat apakah mereka suka. Kalau Sentaro dan Arisu suka ya besoknya diambilkan lagi. Dengan begitu mereka hanya makan Hay di malam hari ketika ada di dalam kandang. Itu juga kalau Dudu tidak lupa memasukkan mereka ke kandang. Lebih hemat kan?


Mau mencoba pelihara kelinci?