Showing posts with label Kpop. Show all posts
Showing posts with label Kpop. Show all posts

30 May 2024

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Melakukan Sesuatu yang Disukai

“Kok elo umur kepala 4 masih nonton konser?”
Bukan cuma nonton konser, tapi mengejar idol sampai ke Korea.

“Lah, kalo lo nonton, Dudu ditinggal?”
Soalnya kalo diajak, dia tidur. Terus habis itu ngomel-ngomel sendiri karena mendingan di rumah main PS atau nonton Netflix.

“Kok tega ninggalin anak?”
Jangankan konser ke kabupaten sebelah, saya pernah nonton konser sendirian di Kuala Lumpur. Dudu ya sama opa omanya di rumah. 

Jalan hidup saya terbalik dengan kebanyakan orang. Ketika yang lain sibuk travelling, party, nonton konser dan mengejar idol-nya, saya sedang jadi ibu tunggal. Nah, sekarang ketika semua orang di sekitar saya sedang fokus berkeluarga, saya malah ada di lokasi konser idol Kpop bersama ribuan anak-anak yang umurnya tidak beda jauh dengan Dudu. Ada emak-emak nyasar yang terlambat ngefans sama Kpop. Eh, memangnya itu terlambat?

Akhirnya nonton konser CNBlue, meski beli tiket H-1.

“Kalo Dudu udah kuliah, lo mau apa?”
“Gue mau kuliah lagi, ambil S2.”

Saya memperhatikan kebingungan di raut wajah lawan bicara saya. Sudahkah terlambat untuk ingin mengambil S2, sekolah lagi mencari gelar yang sesuai passion saya? Banyak tawaran kuliah yang hadir di sepanjang karir saya. Namun jurusannya ya itu, bisnis, marketing dan sejenisnya. Sementara saya inginnya belajar antropologi, ethics atau social work. Tidak nyambung dengan pekerjaan sekarang. 

Apakah saya menyesal?

Sempat terlintas, seandainya saya lebih muda, tentu nonton konser sambil berdiri 3,5 jam bukan hal mustahil. Saya tidak perlu pegal-pegal pegal sampai tiga hari dan tumbang seharian hanya karena terlalu euphoria di konser. Atau mungkin, tidak perlu merasa ilfil ketika idol yang ada di panggung mulai gombal kepada penontonnya hanya karena usia mereka setidaknya 5 tahun lebih muda dari saya. Berondong. Tapi menikmati konser Kpop di usia ini, di mana sudah tidak sanggup antri berjam-jam, juga bukan sebuah keterlambatan.

Soalnya waktu semua orang sibuk dengan idol-nya, saya sibuk membesarkan Dudu. Jadi ya mau bagaimana lagi kalau pilihannya begitu?

Pertemuan saya dengan Idol Kpop yang termasuk terlambat itu membawa dampak besar dalam hidup dan mimpi saya. Di usia 30+, saya belajar lagi bahasa baru, bahasa Korea. Yang kalau dipikir-pikir tahun ini adalah tahun ke-7 tahun saya tekuni. Lalu tahun ini, saya juga mendaftar untuk jadi Honorary Reporter di Koreanet. Hanya karena saya kangen dengan kegiatan sebagai jurnalis, sekaligus ingin melakukan sesuatu sebagai fans Kpop. Belum lagi, akhir tahun lalu saya mulai mencoba menulis fiksi dengan lebih serius. Bisa ditebak, latar belakang dan karakter yang muncul ya lagi-lagi berhubungan dengan Kpop dan Korea. Belajar bahasa dan belajar menulis fiksi, semua di usia yang sepertinya kok terlambat. Soalnya teman-teman yang ikutan, semua umurnya lebih muda. 

Kalo nonton, yang diajak si boneka ini

Hal ini mungkin akan terjadi ketika kelak saya beneran kuliah S2. Teman-teman yang usianya lebih dekat dengan Dudu, masih muda-muda dan mungkin sanggup begadang menyelesaikan thesis. Daya ingat yang lebih kuat, lebih mudah menghafal waktu ujian. Kemampuan analisa yang lebih tajam karena belum lama terjeda dari masa kuliah yang sebelumnya. Tapi ini tentunya bukan alasan bagi saya untuk tidak jadi kuliah lagi. Justru mungkin saya akan lebih santai menjalani kuliah karena tidak ada beban karir yang menanti di ujung jalan. 

Memulai sesuatu belakangan, bukan berarti kita tidak bisa mengejarnya dengan senang hati. Ada kok, kebahagiaan yang hadir ketika kita berada selangkah lebih di belakang. Kita jadi punya waktu untuk mengamati jalan yang akan diambil dengan lebih jelas. Misalnya jadi lebih bisa mengatur prioritas ketika menonton konser. Atau jadi punya semangat dan motivasi lebih untuk mencapainya. Terutama kalau kita orangnya kompetitif. Bisa belajar lebih fleksibel juga. Sebagai ibu-ibu, tentunya saya harus berpikir ke mana Dudu harus saya titipkan kalau saya mau pergi nonton konser selama 4 jam? 

Terlambat atau tepat waktu, yang pasti, nikmati saja perjalanannya. Semua toh akan indah pada waktunya.


02 August 2023

Persiapan Nonton Konser di Usia (Hampir) 40

“Apakah seorang idol harus terus berkarir dan promosi di usia 40?”

Judul berita itu muncul di timeline sosmed saya. Kebetulan idol favorit saya, Super Junior, sudah sampai usia 40 tahun. Saya juga. Soalnya saya dan idol saya memang seumuran. Dudu sering komen soal per-konseran-ini karena sepertinya hanya saya mama-mama yang masih mengejar-ngejar Kpop Idol sampai ke negara tetangga.

Idol saya ini pernah bercanda, membuat konser yang penontonnya duduk semua karena “fans kita sudah tua.” Iya juga. Sementara para idol masih bisa nge-dance berjam-jam dan berlari-lari keliling panggung, para fansnya sudah jompo. Berdiri 3 jam sepanjang Supershow sudah tidak kuat. Apalagi setelah pandemi, badan jadi lebih tidak fit karena kebanyakan rebahan di rumah. 

Sepanjang pandemi, konser diadakan online. Menyaksikan SMTown Live di televisi di tahun baru sudah jadi tradisi beberapa tahun terakhir ini. Belum lagi konser online di beberapa platform yang bisa kita saksikan di layar komputer masing-masing hanya dengan membeli tiket. Idol terlihat lebih jelas, tidak perlu lelah antri masuk karena bisa sambil duduk, dan tidak perlu dandan rapih. Sebenarnya yang seperti ini ideal buat saya yang umurnya sudah mendekati kepala 4. Tapi jadi malu, ya. Masa artisnya sanggup, fans-nya kalah? Hahaha.

Nonton konser di TV tidak seseru nonton aslinya.

Apa yang harus disiapkan ketika mau nonton konser, sementara usia sudah semakin tinggi?

Pertama tentunya uang. 

Meskipun sekarang sudah punya tabungan, tapi pengeluaran dan tanggung jawab juga sudah semakin banyak. Jadi, agar dana konser tidak mengganggu cash flow, sebaiknya kita tetap memiliki pos terpisah untuk konser. Apalagi harga tiket konser kan biasanya juga tidak murah. Begitu juga dengan artis yang ingin didatangi konsernya. Saat ini, saya sendiri hanya membatasi dua artis yang konsernya bisa saya datangi karena keterbatasan dana: Super Junior dan Backstreet Boys. Karena pemberitahuan penjualan tiket konser biasanya mendadak, jadi saya punya tabungan khusus tiket konser yang tidak bisa diganggu gugat. Ketika tiket beserta harganya diumumkan, biasanya saya sudah punya uang untuk membeli. 

Kalau ada rejeki lebih, nonton konsernya sekalian liburan ke negara tetangga. Dudu? Ya dititipkan dulu di rumah adik saya yang kebetulan bermukim di sana haha.

Kedua, jaga kesehatan dan sadar diri. 

Sudah bukan anak kuliahan atau di awal karir yang masih berprinsip “you only live once,” jadi tentukan prioritas. Tidak perlu ikut jemput ke airport, stalking dan keliling kota demi papasan di jalan. Persiapkan diri nonton konsernya. Dari sisi kesehatan dan dari sisi kerjaan. Jangan sampai di hari konser, kita terpaksa lembur, atau sakit karena kebanyakan lembur di minggu sebelumnya. Jangan memaksakan diri ambil kelas yang berdiri kalau memang lebih nyaman duduk. Kalau seat sudah ada numbernya, tidak perlu datang terlalu pagi. Ini yang saya lakukan ketika menonton Super Junior KRY beberapa tahun lalu. Sudah ada seat number, jadi tidak perlu antri sejak pagi.

Ketiga, maksimalkan momen untuk ‘me time’. 

Sebagai seorang ibu, jarang-jarang saya punya waktu heboh sendiri. Dan biasanya ketika sedang ‘me time’ pun, saya tetap membuka handphone memantau keadaan sekitar. Nah, kalo konser, karena sibuk fangirling dan berusaha tidak terhimpit massa, jadi lupa sama yang namanya memeriksa chat. Yang ada handphone dimatikan sinyalnya agar tidak mengganggu atau habis baterai saat merekam aksi idol idaman. Ketika nontonnya di negara tetangga, saya sekalian “solo traveling” meskipun cuma setengah hari di Singapore dan hanya di sekitar tempat konser. Haha.

Jadi, apakah saya akan berhenti nonton konser di usia 40?

Well, sepertinya sih tidak. Kalau para idol saya belum berhenti berkarya, saya sih akan terus menabung untuk menonton konser. Sama waktu Backstreet Boys akhirnya world tour lagi dan nyampe di Jakarta dengan formasi lengkap, bahagianya bisa konser pakai uang gaji sendiri itu tidak terlukiskan. 


24 February 2021

Belajar Bahasa Baru di Usia 30

Sering kita dengar bahwa anak-anak belajar bahasa lebih cepat daripada orang dewasa. Bahkan saat mengikuti kursus belajar bahasa Korea beberapa waktu lalu pun saya merasa bahwa saya tertinggal jauh dibandingkan teman-teman satu kelas yang rata-rata masih kuliah atau baru mulai bekerja.

30 adalah usia sebenarnya menjadi dewasa, setidaknya untuk otak kita. Ahli neuroscience dari Harvard, Leah H. Somerville, menulis di jurnal Neuron bahwa volume otak secara keseluruhan berkembang maksimal pada usia 10 tahun, dan otak bagian belakang berkembang sempurna di usia 20-an. Namun bagian otak depan masih membentuk jaringan baru hingga usia 30 tahun. Rasanya lega, soalnya saya masih bisa belajar bahasa Korea meskipun umur sudah mendekati kepala 4.

Saya vs Dudu pernah belajar bahasa Jawa

Kemampuan berbahasa asing penting karena dapat meningkatkan percaya diri, memperluas networking, menjadi nilai tambah saat melamar kerja serta meningkatkan kerja otak. Mark Antoniou, Psycholinguist dari Western Sydney University-Australia menulis di Annual Review of Linguistics, bahwa menguasai dan menggunakan setidaknya dua bahasa secara rutin dapat menunda timbulnya Alzheimer.

Di kelas-kelas kursus Bahasa Korea, saya sering jadi murid paling tua. Tapi dengan mengetahui teknik yang tepat, terutama setelah menyadari bahwa kemampuan penyerapan bahasa asing saya tentunya lebih lambat dari “anak-anak muda” ini, saya bisa mengikuti pelajaran dan akhirnya lulus les bahasa Korea dengan nilai tak kalah bagus.

Jadi, apa yang saya lakukan?

Berdamai dengan Ekspektasi

Saya terakhir belajar bahasa asing dengan benar ketika saya SMA. Belajar bahasa Perancis dan lulus ikut ujian standardisasi. Hanya dalam waktu 6 bulan ikut kelas intensif sudah bisa ngobrol kanan kiri. Hampir dua dekade kemudian, saya belajar bahasa Korea karena terjerumus ke dunia Kpop. Eh, kok susah. Ikut kursus sudah 6 bulan baru bisa dasarnya, tulisan Hangul saja tidak hafal-hafal. Apalagi menurut penelitian, untuk jadi fasih, sebaiknya mulai belajar bahasa sebelum usia 18 tahun. Saya auto merasa bodoh.

Idol favorit saya pernah acting jadi guru bahasa.

Ternyata ekspektasi saya ketinggian. Tadinya menyalahkan usia, tapi ternyata kesibukan juga turut menyumbang lambatnya perkembangan bahasa Korea saya. Les bahasa 2x seminggu, terkadang bolos karena lembur. Bikin PR last minute karena tidak sempat mengulang pelajaran di luar les. Tentu saja hasilnya tidak sebanding dengan jaman SMA yang bisa review lebih intense. Jadi, sebelum memulai belajar, lihat ke diri sendiri dan jadwal sehari-hari. Berapa banyak waktu yang ada untuk belajar bahasa asing dan sesuaikan ekspektasi kita.

Set Personalized Target

Ada dua macam target: jangka panjang dan jangka pendek. Ketika memutuskan untuk belajar bahasa Korea, saya punya mimpi harus bisa at least bertanya jalan kalau saya nyasar di Korea pas liburan suatu hari kelak. Target jangka panjang saya tidak ada waktunya. Target jangka pendek ada deadline-nya. Misal, saya harus bisa menghafal 10 karakter Hangul setiap minggunya. Dalam 1 bulan, saya harus menambah 10 kosakata baru.

Lebih seru lagi kalau target-target ini dibuat personalized. Saya follow social media penyanyi Kpop favorit saya dan saya punya target setidaknya dapat membaca postingan mereka yang dalam tulisan hangul tanpa melihat kamus. Ketika saya naik ke level berikutnya di tempat kursus, target saya menjadi ‘memahami postingan idol Kpop tanpa melihat kamus’.

Mencari jalan keliling Korea Selatan

Personalized target juga jadi motivasi tersendiri agar tidak mudah menyerah di tengah jalan karena ada reward yang didapatkan. Misalnya, dengan berhasil me-reply postingan idol favorit di media sosial dengan tulisan Hangul, saya merasa kesempatan untuk dipahami oleh sang idol jadi lebih besar. Atau ketika bisa merespon pertanyaan idol di konser tanpa harus menunggu penerjemah, rasanya sudah seperti dapat sertifikat kelulusan. Motivasi yang sama inilah yang membawa saya belajar bahasa Inggris saat SD dulu.

Belajar Secara Konsisten

Sudah set ekspektasi dan punya motivasi, sekarang saatnya tips belajar bahasa asing yang saya praktekan untuk mengejar ketertinggalan dengan teman-teman sekelas.

Yang pertama adalah mengulang tiap hari. Bekerja full-time dan sering lembur, menyisihkan waktu setiap hari untuk belajar adalah tantangan. Jadi instead of 30 menit fokus belajar setelah pulang kantor dengan keadaan lelah, saya menyisipkan 5-10 menit untuk review vocabulary lewat aplikasi belajar bahasa atau scrolling instagram idol Kpop saat jalan dari meja ke kamar mandi. Jaman masih WFO, saya menghabiskan perjalanan di mobil mendengarkan podcast belajar bahasa Korea di Spotify.

Aplikasi kesukaan saya buat belajar Bahasa Korea adalah memrise

Yang kedua, bergabung dengan komunitas di Facebook Group atau mengikuti media sosial komunitas sambil rajin memberikan comment dan interaksi. Kalau ada temannya, belajar jadi lebih mudah dan semangat. Yang terakhir adalah jangan lupa praktek. Menulis dan membaca bisa dari media sosial. Mendengar bisa lewat nonton IG Live atau Youtube idol Kpop. Kalau speaking? Saya mau tidak mau harus ikut kelas untuk bisa ngobrol. Sejak pandemi, banyak conversation class lewat zoom, yang bisa diikuti untuk latihan berbicara.

Buat saya yang lebih suka boyband daripada film, karaoke jadi cara paling efektif buat belajar bahasa. Karena saat karaoke, kita bisa belajar 2 hal sekaligus yaitu membaca dan melafalkan kata dengan benar.

Let me end this story with a happy ending.

Saya akhirnya jalan-jalan ke Korea, setahun setelah saya memutuskan untuk belajar bahasanya. Di sana saya berhasil bukan hanya bertanya jalan seperti target semula tapi bisa mengarahkan supir taksi di Seoul, menjelaskan masalah kepada petugas bandara di Jeju, memesan makanan serta membeli tiket bus di Sokcho yang penduduknya mayoritas tidak mengerti bahasa Inggris.


Akhirnya kami berdua mendarat juga di Korea - dan bisa praktek bahasanya

Intinya, jangan menyerah walaupun progress kita mungkin tidak secepat anak-anak remaja yang baru dengar sekali lagu Kpop bisa langsung hafal liriknya. Belajar bahasa baru sampai lancar di usia lebih dari 30 tahun itu mungkin karena memang tidak ada kata terlambat untuk belajar.

06 April 2018

K-Drama with Dudu Episode 2: Menuju Matahari Terbit di Laut Musim Dingin

Sokcho?

Ahjumma penjaga loket bis sampai bengong dan menuliskan S-O-K-C-H-O dengan alfabet. Tidak yakin bahwa tujuan kami memang ke sana. Buat yang penasaran, tulisan Sokcho dalam Hangul itu
 속초.

Ne, Sokcho.

Oh, mungkin karena hari itu 1 Januari dan udaranya minus beberapa derajat. Makanya aneh kalau ada yang mau ke pantai. Maka saya segera menambahkan,

Seorak-san-e kago shipoyo. 

Kita mau ke Gunung Sorak. Barulah si Ahjumma menanyakan jumlah tiket yang akan dibeli, dan mengarahkan kami untuk kembali ke tempat menunggu bis sekitar 30 menit sebelum jam keberangkatan. Setelah mengucapkan terima kasih, kami (rombongan 9 orang dengan 4 anak kecil super excited dengan udara winter Korea ini) segera menyeberang kembali dari platform 9C ke dalam arrival hall di Incheon Airport. 





Soalnya badannya masih kaget dari cuaca Jakarta yang super panas. Dan berharap kali aja berpapasan dengan bias kesayangan di airport, meskipun dari instagram postnya saya tahu mereka semua ada di rumah. 

06 February 2018

K-Drama With Dudu Episode 1: Bukan Winter Sonata

Akhirnya saya dan Dudu ke Korea juga.

Pas winter.
Pas suhu di Korea Selatan sedang dibawah 0 derajat.


Dengan segala drama akhir tahun mulai dari asam lambung yang kambuh H-1 dan membuat saya harus minum 3 macam obat sebelum makan kimchi, sampai packing dan pembuatan itinerary yang tidak selesai-selesai karena pekerjaan saya yang mendadak menumpuk di bulan Desember.


But let me start with how it all began: teman seperjalanan.

Kita berdua pergi ber-9, dengan tim yang sama dengan Playdate ke Singapura 2 tahun lalu. Harusnya ber-10, tapi yang satu gagal dapat visa dan kalau saya ceritain di sini nanti orangnya baper lagi haha. Total 5 dewasa 4 anak dengan persiapan khusus karena kita perginya 1 Januari 2018.

Tidak mudah buat cari teman seperjalanan yang cocok, apalagi kalau kita jalan bawa keluarga masing-masing. Untungnya kita ber-9 survive perjalanan ke Korea ini haha. Ya kita sudah survive Playdate ke Singapura dan 16 Jam stuck di kereta Gajayana jadi kayaknya winter sonata di Korea tidak sesulit itu.

Januari 2017, sebuah tawaran tiket murah datang menghampiri. Ke Korea PP naik Garuda hanya 3,5jt/orang. Mau dilewatkan sayang, mau diambil juga tanggalnya masih jauh banget: 31 Desember 2017 malam. That means kita akan tahun baruan di pesawat. Things might change over the year and we might not depart at all. Tapi yang namanya resiko harus diambil dan akhirnya kita ber-10 nekat beli tiket.

02 September 2017

Tips Merubah Fanwar jadi Fangirling Bermanfaat

Ketika nonton konser Spotify on Stage 9 Agustus kemarin saya baru menyadari betapa tuanya saya sebagai fans K-Pop. Meskipun saya di situ karena Joe Jonas dan DNCE (itu juga tetep ketuaan sih kan angkatan saya Michael Learns to Rock), tapi saya takjub dengan semangat fans yang masih muda-muda ini, hadir dengan legal guardian, demi NCT 127 yang hanya menyanyikan segelintir lagu.

NCT 127 di Spotify on Stage

Di tengah kericuhan itu saya iseng mencolek anak setinggi bahu saya, yang kebetulan terdesak ke belakang bersama saya saat NCT 127 diumumkan akan hadir sesaat lagi.

“Dek, umur berapa?”

Si Adek bingung. Lalu ada anak perempuan lebih besar di sebelahnya yang tadi asyik main HP, lalu berhenti dan memandangi saya. Tapi si Adek akhirnya menjawab.

“Umur 11, Kak.”

Wait, si Adek ini seumuran Dudu, anak saya. Astaga.


Saya dalam hati tetap salut, sampai segitunya si adek datang demi NCT 127. It’s amazing what K-Pop Fans do to support their idol.

Tapi tunggu dulu, perjalanan jadi fans Kpop tidak melulu mulus. Ikut berebutan tiket Spotify on Stage, lalu tiket KBEE baru-baru ini, saya menyadari banyak yang bersitegang di media social. Alias, ribut. Yang tidak dapat tiket ada yang “menyarankan,” agar teman se-Fandomnya yang mampu untuk beli tiket Music Bank saja dan berhenti berebutan tiket gratisan. Yes, NCT 127 termasuk di line up Music Bank Jakarta tanggal 2 September. Dan sebagai fans yang baik memang seharusnya kita beli tiket dan mendukung performance artis kesayangan kita dong.

14 July 2017

THR itu Yang Penting Bahagia

Sebagai seorang single parent, yang namanya THR itu harus disayang-sayang. Tapi saya bukan orang yang bisa mengelola uang. Hidup saya simple: Pengeluaran, Tabungan dan Deposito.

Setiap gajian datang, langsung saya bagi untuk ketiga pos tersebut. Pengeluaran itu yang wajib ada seperti makan, transport dan biaya nge-#DateWithDudu setiap minggunya. Tabungan adalah untuk pengeluaran daurat misalnya ada yang ulang tahun harus urunan kado, mendadak harus bayar tiket atau hotel karena mau jalan-jalan. Sementara deposito adalah yang tidak bisa diutak-atik untuk keperluan yang lebih besar seperti biaya sekolah anak atau sebagai modal jika kelak ingin pindah ke luar negeri. Haha.

Kalau ada kebutuhan di luar itu seperti si Dudu yang minta PS4 sebagai hadiah atau saya ingin ganti HP, maka saya harus cari uang tambahan (atau yang jatuh dari langit). Dengan adanya THR berarti bisa bernafas sedikit lebih lega.

Lalu, tahun ini, THR saya digunakan untuk apa?





19 March 2017

Fangirling dari Sudut Pandang Seorang Mama

Saya menyebutnya “gila karena idola”. Bukan hal baru karena 20 tahun lalu saya juga sibuk ngefans parah sama Backstreet Boys, yang berlarut-larut sampai kuliah saja maksa harus ke Amerika. Lalu ada F4, yang sempat membuat saya ganti selera, plus maksa kalau mudik itu transitnya pasti di Taiwan. Sekarang namanya “fangirling,” dan yang diikuti adalah artis Korea. Same phenomenon, same style, same effect. Ada positif, ada juga negatifnya, apalagi buat saya yang punya tugas tanggung jawab sebagai Mama Dudu.

Ketika mention-mentionan di Twitter berlanjut di Whatsapp dan akhirnya menetapkan Fangirling sebagai tema postingan bersama Vita Masli, saya jadi merenung. Di usia yang sudah mendekati 35 ini memangnya masih pantas fangirling ya? Hahaha. Well, just like how boys will be boys, I believe there’s a little girl in every woman. 


Baca postingan Vita Masli tentang Fangirling dulu dan sekarang


Positifnya:

Motivasi Belajar Bahasa Baru
Saya punya bucket list belajar 7 bahasa sebelum usia 30 dan di tengah kerja, ngurus anak dan lainnya saya lupa sama tekad yang satu itu. Sampai akhirnya saya jadi ELF yang putus asa dengan terjemahan di konser dan lelah menanti subtitle drama serta variety show. Apalagi setelah menyadari bahwa bias saya bahasa Inggrisnya hampir tidak ada. Apalah arti 4 jam seminggu dan 800rb/semester untuk bahasa baru yang memungkinkan saya komen di sosial media bias dan paham celetukan dia. Jadilah di usia ini saya ikut kursus Bahasa Korea dan sekarang sudah masuk level 2. 

Berharap yang mengajar bahasa Korea itu begini gurunya. 
(photo: My Korean Teacher movie)

23 November 2016

Belajar Bahasa Korea: Dari Aplikasi Seru Hingga Pusat Kebudayaan

Memutuskan belajar bahasa baru di usia kepala 3 memang sulit dengan adanya kesibukan yang sudah segudang dan kemampuan menyerap bagai spons sudah berkurang jauh. Bermula dengan belajar sendiri lewat aplikasi, saya kemudian menyerah dan mencari tempat belajar yang serius karena saya percaya kalau tidak dipaksa, maka bahasa tidak akan terucap dari mulut. Tapi di mana? Ternyata meskipun yang namanya K-Pop dan K-Drama sudah menjamur dimana-mana, mencari kursus Bahasa Korea yang cocok dengan kebutuhan ternyata tidak semudah dugaan saya.


Dudu belajar bahasa Inggris di sekolah. Sempat les di Pingu, lalu pas masuk SD berhenti karena sekolahnya internasional dengan bahasa pengantar Inggris. Tidak sampai setahun dia sudah lancar dengan bahasa kedua. Sekarang Dudu sedang belajar bahasa Mandarin. Masih dari sekolah juga, dan sedang cari les. Kalau penasaran tentang Dudu dan dunia bilingualnya, bisa baca postingan tentang membesarkan anak bilingual ya.

Mencari kursus bahasa Inggris dan Mandarin termasuk gampang. Apalagi saya tinggal di Jakarta Utara, di sebuah apartment di atas mall. Jadi kalau bicara kebutuhan les bahasa si Dudu, saya tidak seberapa khawatir. Nah, begitu saya mantap mau belajar bahasa Korea, saya bingung setengah mati mau kursus di mana. Bahkan ada satu bulan habis Lebaran yang saya sempat sebal karena sudah ada niat kok tidak ada jalannya. Step pertama browsing, muncul beberapa nama yang kemudian saya stalking social media dan websitenya. Dari social media dan websitenya saya lihat lokasinya. Yang jauh-jauh juga terpaksa saya coret. Soalnya saya mau les pulang kantor, jadi kalau tidak dapat dicapai dalam waktu 1-2 jam dari kantor ya tidak mungkin diikuti. Beberapa yang ada emailnya, saya coba hubungi menanyakan apakah kursus bahasa Korea masih ada dan kapan ada pendaftaran murid baru.

Setelah melalui proses eliminasi awal, saya menemukan beberapa tempat kursus Bahasa Korea, yang kemudian saya bawa diskusi dengan beberapa teman saya. Akhirnya inilah tempat yang jadi pilihan utama.

14 November 2016

Delicious Musical Bibap in Jakarta

Kemarin mungkin adalah hari Sabtu dengan paling banyak tawa yang pernah terjadi. Mulai dari reuni teman kuliah saat makan siang, yang namanya ketawa, tidak berhenti sampai berakhirnya show Musical Bibap di jam makan malam. Bibap? Yes, yang tahu Nanta Show wajib nonton Bibap juga.

Thanks To Tiwi for the picture :)
Ini Bibap menurut Dudu:"Bibap adalah permainan musik dengan tema memasak dan lucu juga dari korea. Di sini ada dua Master Chef: Green Chef dan Red Chef. Mereka bertanding memasak Japanese sushi, Italian pizza, Chinese Chicken rice dan korean Bibimbap. Pemenangnya tergantung pilihan penonton bisa jadi Green Chef atau Red Chef. Ada scene dodge ball dengan bantal. Sesungguhnya aku berharap Green Chef yang menang. Setelah kemenangan ada beat box bermain music rock."

05 September 2016

Train To Busan, Sebuah Film Zombie yang Berkesan

Kita selalu berpisah jalan ketika Dudu sibuk dengan zombie dan T-virus, sementara Mama setengah mati berusaha mengerti itu boyband K-pop menyanyi lagu apa. Minggu ini keduanya bergabung jadi satu di Train to Busan.

Menyaksikan trailer film ini ketika nonton Detective Conan, kita berencana nonton di Sweetbox lagi. Jadilah malam Minggu kemarin kita kembali ke Slipi Jaya untuk ngedate. “Aku harap film ini ada subtitle bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Kalau tidak aku tidak tahu mereka bicara apa.” Lha sama juga dengan Mama.


Train to Busan bercerita tentang seorang single dad (Gong Yoo) yang mengantarkan putrinya (Kim Soo Ahn) untuk bertemu sang ibu. Perceraian mereka, di mata si anak, adalah karena sang ayah terlalu sibuk bekerja hingga melupakan keluarganya, termasuk kebahagiaan si anak. Bahkan pada awalnya, untuk mengantarkan si anak ke Busan pun, ayahnya tak ada waktu. Perjalanan dengan kereta yang seharusnya hanya 1 jam itu berubah jadi seharian plus pertarungan melawan zombie yang tanpa sengaja naik ke gerbong kereta dan menginfeksi semua orang.

12 July 2016

Kisah Kamera Ponsel, Konser K-Pop dan Saya


Saya tim kamera digital. Jadi kamera ponsel bukan kebutuhan utama. Sampai saya berada di pintu masuk sebuah museum yang mengharuskan pengunjungnya membayar untuk membawa kamera digital masuk ke dalam. Kamera jenis apapun bayar kecuali kamera ponsel. Dan mendengar penyesalan saya, si Dudu komentar, “Mama sih, kamera ponselnya jelek.”

ARGH!



Jadi ini foto "selfie" kita yang harus dipindahkan dulu sebelum diupload.

31 October 2015

Kpop vs Zombie: Sebuah Cerita Toleransi

We agree to disagree. Mama dan Dudu tidak selalu kompak dalam segala hal. Salah satunya adalah masalah idola. Dudu yang fanatik zombie dan Mama yang ngefans Kpop sering tidak menemukan titik tengah. Jadi? Ya kita belajar toleransi. Setidaknya boyband Kpop kesukaan saya itu ada kesamaannya dengan zombie. Selain jumlahnya yang banyak dan gerakan yang sinkron, sekali terinfeksi biasanya kita tidak bisa kembali lagi jadi normal.

Coba bayangkan kalau suatu hari, anak Anda mendadak cerita begini,
Dudu: Tadi di the Walking Dead, Rick menembak zombie terus kepalanya hancur.
Mama: Hiyyyyy... jijik.
Dudu: Tidak jijik Ma. Kan itu sudah jadi zombie.

Andrew jadi zombie buat Halloween

21 August 2014

Dear Leader

When asked who my favorite leader is, I would say “Park Jungsu”. 
Then people go “who?”

Park Jungsu is someone who taught me that a leader doesn’t mean he’s perfect. A leader doesn’t mean he has to be on top of everything. But a leader should stay and fit right in the middle of the things, balancing every brain, every charisma and every talent existed within the team. He should know who would do what and how he would do it.

I looked up to him when I was a leader.

Now that I’m not leading a team anymore, I passed the wisdom to my son. He has the leader quality and kept “organizing” people around him. He has the charm and likes to put things into order. But he has many weaknesses that he often worried about.





“I can’t run fast.”

He once told me the reason he didn’t want to sign up for futsal. I told him it’s okay and he can go play the goalkeeper. You don’t have to be the one scoring the goals and be the hero… a captain can also be a goalkeeper *ehm Buffon*.


“I can’t pronounce the letter R”

He said the other day when I told him to try a debate competition. Yes, he sounded bad on radio – and working in the entertainment/media industry for over 5 years had taught me that inability of pronouncing the letter “R” can be a major problem that would strip you off a beauty queen title or scoring a top presenting/acting job. But I told him it’s okay. He doesn’t sound that bad speaking English.

Park Jungsu isn’t a tough leader, he shed more tears than all of his subordinates. He never covered his funny, stupid and clumsy image from the public. Yet, he’s still one respected leader. So I told Andrew it’s okay to be yourself and be a leader. Imperfection isn’t what stopping you from being a leader, because with imperfections, you know you need your team mates. Find someone who can run fast for your futsal team, find a good spoke person for your debate team, find someone who can fill your weaknesses and you’ll be the one arranging your team achieving the goal.

Park Jungsu may only be 30 and he’s just out of his mandatory military service. But he was a good leader, even before he wore the army uniform. Someone who has the determination to go, the motivation big enough for the whole team, and the strength to push every single one of his team member back up when they fail.

I was his leader before, a mom, a guide... but now that he's 8, he can learn to lead his life, make his own decision and negotiate me into following his lead.



Football team anyone?
So Andrew would be my team leader, the one saying, “It’s okay, Mom, we’ll try again next time,” whenever we lost another competition. The one challenging me “why don’t we do this?” when I was too lazy to grab my camera and snap pictures for competitions. The one who wouldn’t give up and leave until all winners had been announced (I usually quit at 3rd place announcement).

Then you all can go "what, this is about K-Pop?" Nope, this is about the story of an imperfect leader haha.

Thank you, Park Jungsu. Welcome back to the entertainment world. Please lead us once again.


Park Jungsu's comeback stage last week
“Thank you for following this fool’s lead. I never know what leadership is, all I know is how to keep Super Junior as one family.” - Park Jungsu (Leeteuk)