Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

26 July 2026

Catatan dari Peluncuran Platform 'Koleksi Jakarta'

Bagaimana jika lukisan di museum A ternyata punya cerita yang berhubungan dengan patung di museum B?

Ketika berkunjung ke sebuah museum atau gallery, biasanya saya cenderung fokus ke koleksi yang ada di tempat itu saja. Biasanya, koleksi yang dipamerkan sudah diatur sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita. Ternyata tidak selalu begitu. Hadir di acara Peluncuran Platform Digital "Koleksi Jakarta" pada 30 Juni 2026 yang lalu di Ruang Teater Museum Sejarah Jakarta, saya jadi mendapat insight baru.

Museum-museum di Jakarta cenderung berdiri sendiri-sendiri. Akibatnya, cerita sejarah Jakarta menjadi tersebar dan pengunjung harus menghubungkan potongan-potongan kisah tersebut secara mandiri. Bukan berarti ketika saya datang ke satu pameran, ceritanya jadi terputus. Tapi ketika ada satu objek sejarah, dan saya wondering benda ini punya cerita apa lagi, saya harus jadi Sherlock Holmes sendiri untuk tracking-nya.

Sekarang ada platform ini, koleksijakarta.id, yang menjadi rumah bagi ribuan koleksi dari 11 museum di Jakarta. Semuanya jadi bisa diakses di satu tempat. Yang dicontohkan di acara misalnya, "Lukisan Pengantin Revolusi" karya Hendra Gunawan (koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik) bukan hanya karya seni yang berdiri sendiri. Di website, saya bisa mencari objek lainnya yang terkait dengan tema Revolusi dan Kemerdekaan seperti wayang perjuangan atau miniatur kapal USS Renville yang ada di museum lain.


Proyek bertajuk Indonesian Museum Documentation Project (Koleksi Kita) yang diinisiasi sejak tahun 2024 ini merupakan buah kolaborasi antara Southeast Asia Museum Services (SEAMS) dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, dengan dukungan pendanaan dari Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) Kedutaan Besar AS.

Acara hari itu dimulai dengan sambutan hangat, pemutaran video peluncuran, penyerahan data secara simbolis, hingga pengenalan platform-nya. Karena saya juga ikut FGD yang diadakan SEAMS untuk uji coba platform ini, jadi ketika melihat websitenya benar-benar launching, rasanya jadi senang. Selain FGD, proses di belakang platform ini juga termasuk sulit.




Tito Apriansyah, Photographer Southeast Asia Museum Services (SEAMS) yang adalah lulusan Arkeologi Universitas Indonesia membagikan ceritanya di sesi "Behind the Lens". Mengingat fisik benda bersejarah sangat rentan rusak, tim bekerja ketat berdasarkan standar FADGI (Federal Agencies Digital Guidelines Initiative). Mereka meminimalkan risiko kerusakan dengan mendirikan studio foto sedekat mungkin dengan ruang penyimpanan (storage) agar objek tidak perlu dipindahkan terlalu jauh.

11 March 2026

Belajar Tentang Perempuan, Uang, dan Identitas di Ngabuburich Vol.01

International Women's Day tahun ini lebih spesial karena sebuah diskusi santai yang digagas Arichsan, dengan tema Women, Money, and Meaning yang diadakan di Selibar Cafe.

Nama acaranya Ngabuburich Vol.01. Acara ini menghadirkan psikolog Offie Dwi Natalia M.Psi., Psikolog dan financial planner Valencia Fabian BA, CFP, QWP, AWP, serta moderator Lala Adani. Formatnya santai seperti arisan. Jadi acara ini hadir sebagai ruang untuk berhenti sejenak, mendengar, belajar, dan merefleksikan diri.

Offie Dwi Natalia M.Psi., Psikolog dan financial planner Valencia Fabian BA, CFP, QWP, AWP, serta moderator Lala Adani di acara Ngabuburich Vol.01.

Perempuan Harus Jadi “Superhero” yang bisa Naik Level


Ada yang pernah bilang ke saya, “kamu tuh punya superhero syndrome ya?” Maksudnya gimana? Tanya saya lagi. “Ya, selalu ingin menolong orang.” Well, di kepala saya, hal tersebut baik. Apa yang salah dengan menolong orang lain? Apalagi konon, sebagai anak perempuan pertama, banyak beban yang tidak sengaja jatuh ke pangkuan saya. Namun, bukan begitu maksudnya.

Menurut Offie, banyak perempuan ingin punya superpower. Punya karier, keluarga harmonis, finansial stabil, dan tetap hadir penuh untuk anak. Kalau dipikir-pikir agak tidak masuk akal ya. Keinginan untuk punya segalanya ini kemudian menimbulkan konflik karena realitanya tidak sesuai dengan harapan. Apa yang kita pikirkan (kognitif) tidak selalu selaras dengan apa yang kita rasakan (afektif) “Peran yang berat, lama-lama malah jadi beban,” kata Offie. Well, memang role kita sebagai perempuan akan bertambah seiring waktu, dan membuat bingung karena tidak tahu siapa kita sebenarnya.

Jujur, saya relate dengan cerita Lala, sang moderator, bahwa sebelum menikah dia adalah “Lala.” Namun setelah menjadi istri dan kemudian menjadi ibu, ada banyak label baru yang membuatnya bingung sendiri. Saya juga sama. Orang tahunya saya “Mama Dudu.” Padahal, harusnya saya punya identitas sendiri ya. Saran Offie, “Sebelum mau jadi apa, kita harus here and now. Sebelum pindah naik level, kita harus bisa menguasai level ini. Kebingungan itu wajar, tapi kita harus bisa mengenal diri sendiri dulu, untuk tahu ke depannya mau gimana, dan mau apa.”

Bagaimana caranya naik level? “Sekarang banyak yang bingung karena kita tidak dibiarkan punya target sesuai level kehidupan kita. Sekolah ada ujian. Setelah dewasa, tolak ukur naik level tidak ada,” cerita Offie. Solusinya adalah dengan menetapkan target yang sepsifik. Misalnya bukan sekadar “ingin jadi ibu bekerja yang sukses”, tapi lebih jelas: bekerja di bidang apa, dengan penghasilan berapa, dan seperti apa kehidupan keluarga yang ingin dibangun.

Dan semuanya butuh uang.

Berkumpul merayakan International Women's Day bersama Arichsan.

Perempuan Bisa Bicara Uang Tanpa Drama

28 April 2025

Emang ngeblog itu masih relevan ya di 2025?

Pertanyaan inilah yang membawa saya mengikuti sebuah webinar tentang blogging dan travel blogging yang diadakan oleh DailySEO ID bersama komunitas ISB.

Live Webinar berjudul “Is Ngeblog Dead in 2025 bersama Mbak Istiana, seorang travel blogger ini membahas pengalaman ngeblog selama 10 tahun, strategi mendapatkan traffic dan tentunya monetisasi. Webinar yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu penuh dengan ilmu dan diskusi menarik tentang blogging dan relevansinya di 2025.

Bicara relevansi, satu hal yang saya salut dari Mbak Isti adalah keberaniannya mengganti niche blog dari Parenting ke travelling. Pengalamannya itu diceritakan di awal, saat berbagi cerita tentang perjalanan ngeblognya. Hal ini sebenarnya relevan dengan bagaimana kita membranding blog tersebut.


Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah menulis About Me dengan benar. Siapa saya? Blog ini menawarkan apa? Expertise apa yang saya punya? Memindahkan niche pun adalah langkah untuk menaikkan relevansi dan kredibilitas sebuah blog. Mengapa hal ini penting? Karena, biasanya orang juga melihat Siapa yang ada di balik sebuah tulisan. Misalnya Mbak Isti menulis tentang Parenting karena dirinya memang seorang ibu. Lalu, ketika berganti menjadi traveling, ya karena memang dia suka jalan-jalan bareng keluarganya.

12 June 2024

Rahasia Sukses Diet Itu Ada di Mindset

Pernah gagal diet? Tenang, kamu tidak sendirian. Banyak yang sudah semangat untuk diet, namun tetap saja ngemil tengah malam sambil nonton Drakor favorit dengan alasan reward. Saya tidak pernah mencoba diet, karena tahu akan gagal duluan dengan keribetan yang datang bersama pola makan sehat. Kemarin, saya mendapatkan sudut pandang baru tentang diet, yang mengajarkan bahwa diet bukan hanya menghitung kalori, tetapi juga cara memahami diri sendiri. Kok bisa?

“Brunch Date with dr. Yovi” bersama Female Digest (photo: Female Digest)

Pada hari Minggu, 9 Juni 2024 saya menghadiri acara “Brunch Date with dr. Yovi” yang digagas oleh Female Digest. Acara yang diselenggarakan di YClinic Bintaro ini dimulai dengan sharing session & bedah buku Conscious Diet oleh dr. Yovi Yoanita, M.Kes (gizi) FAARM, ABRAAM, lalu diikuti assessment pengembangan kepribadian ditinjau dari sisi kesehatan, clinic tour dan ditutup dengan makan siang bersama. Acara yang interaktif ini dihadiri sekitar 20 orang blogger dari Jabodetabek, semuanya antusias untuk sharing dan belajar lebih banyak tentang wellness.

Acara ini juga didukung oleh Radiant, yang mengenalkan produk probiotik serta peranannya dalam membantu menjaga berat badan. Apt. Sylvia Kartika Anggraini, S. Farm menjelaskan bahwa "penurunan berat badan itu harus diperbaiki dari berbagai sisi, misalnya apakah pencernaan saya bagus, supaya apapun yang kita makan itu penyerapannya bisa optimal atau apapun yang kita makan itu bisa dibuang sisanya dengan optimal." Di sinilah probiotik berperan.

Apt. Sylvia Kartika Anggraini S. Farm dari Radiant

Di acara ini, saya belajar bahwa diet bukan semata-mata mengurangi kalori biar cepat kurus. Biasanya orang yang mencoba diet akan terperangkap dalam lingkaran setan, yaitu merasa bentuk tubuh kurang ideal, melakukan diet, frustrasi, gagal diet dan tubuh kembali ke bentuk semula. “Diet itu bukan nggak makan, tetapi mengatur ulang pola makan,” kata dr. Yovi, lalu menjelaskan bahwa biasanya orang tidak bertahan karena memang dietnya salah. Lalu gagal dan kembali lagi ke awal, yaitu tidak happy sama tubuhnya sendiri.

Di sinilah pentingnya kita, sebagai yang punya wacana diet, untuk memahami diri sendiri. Apa bentuk tubuh kita? Lalu, BMI kita berapa? Alasan diet kita apa? Bukan hanya ingin kurus lalu auto mengurangi makan. Bedanya apa dengan diet biasa? Jika kita mengenal diri sendiri, mengurangi kalori yang berlebihan dapat dilakukan dengan tepat dan tanpa tekanan. Semuanya bisa ditemukan di buku Conscious Diet yang ditulis dr. Yovi.

24 February 2024

Konferensi Perempuan Indonesia dan Akar Permainan Tradisional

Diadakan pada 9 - 11 Februari 2024 di Royal Orchid Garden Hotel and Condominium, Batu, Malang, Jawa Timur, Konferensi Perempuan Indonesia (KPI) offline masih mengangkat tema “Menguatkan Akar Gerakan Perempuan Indonesia”. Mendengar KPI diadakan secara offline tahun ini oleh Ibu Profesional, sebenarnya saya ingin ikut. Namun, karena lokasinya yang cukup jauh dari domisili saya saat ini, dan waktunya yang bertepatan dengan Chinese New Year, saya jadi hanya bisa memantau lewat beritanya. 

Yang membedakan kedua konferensi tentunya adalah pertemuan tatap muka dan sejumlah kegiatan seru yang diadakan di lokasi. Misalnya prosesi SARUNGAN (SAmbutan dan ngeRiUNG awalAN) yang mengawali kegiatan ini, di mana masing-masing peserta mengenakan kain tradisional yang dibawa dari rumah. 

Photo: Warta Jatim

Selain Sarungan, ada banyak kegiatan lain yang mengajak para peserta untuk kembali ke akarnya masing-masing. Sama dengan KPI Online yang diadakan pada 20-22 Desember 2023, ada Forest Walk yang dibuat peserta, bedanya kali ini peserta bisa beneran jalan-jalan melihat peta konsep yang dipajang di papan. 

Sesi Betengan yang dibawakan oleh Pak Dodik Maryanto, Founder dan Inisiator Komunitas Ibu Profesional bersama Istrinya Ibu Septi Peni Wulandari, memberikan pengetahuan sejarah pergerakan perempuan di Indonesia kepada para peserta. Di sesi Bekelan, para peserta mengumpulkan makanan khas daerah masing-masing di sebuah meja panjang sambil saling berkenalan satu dengan yang lainnya. 


Photo: Instagram KPI

Hari kedua, games Sapintrong yang dibawakan Fasilitator sekaligus Ketua Yayasan Ibu Professional, Dzikra Ulya mengajak peserta untuk maju merencanakan masa depan. Lalu diikuti sesi pembelajaran lainnya yang terinspirasi dari permainan tradisional seperti Congklak, Balapan, Galasin, Bakiak dan lain sebagainya. Bukan hanya membawa pulang ilmu, tetapi para peserta juga membawa pulang networking serta relasi baru dari konferensi tersebut. 

Melalui KPI, Ibu Septi mengajak para perempuan Indonesia untuk bersama-sama membangun ekosistem yang sehat melalui akar peran kita sebagai individu, sebagai bagian dari keluarga maupun sebagai anggota komunitas.

Yang menarik dari Konferensi Perempuan Indonesia ini, selain menggunakan permainan tradisional yang tentunya akrab dengan para peserta, peserta juga diajak bertukar layangan di akhir sesi. Kalau biasanya kita bertukar post-it, notes atau surat, sekarang bentuknya layangan. Kenapa layangan? Tentunya agar mimpi dan harapan para perempuan Indonesia ini dapat diterbangkan tinggi ke atas awan.

KPI Offline ini dihadiri oleh 130 peserta dari seluruh Indonesia dan luar negeri. 

Photo: Instagram KPI

Mengintip keseruan acara Konferensi Perempuan Indonesia, saya merasa bahwa pertemuan seperti ini memang diperlukan setidaknya setahun sekali. Kok begitu? Yang biasanya terjadi adalah kita sibuk dengan kegiatan dan gerakan masing-masing, lalu jalan terus tanpa perencanaan yang matang. Padahal, jika mengambil jeda lalu menelaah kembali akar gerakan, kita bisa membuat dampak yang lebih besar. Kenapa harus konferensi offline? Soalnya kalau online, biasanya saya suka tidak fokus. Namanya ibu-ibu kan multitasking ya. Nonton Netflix saja suka disambi kegiatan lain, bisa bahaya kan kalau materinya serius dan saya malah tidak bisa konsentrasi. Nah, kalau offline kan biasanya ponsel masuk tas dan bisa hadir secara penuh di acara.

Melihat jalannya acara yang menggunakan permainan tradisional itu, saya jadi paham kenapa tema itu yang dipilih. Waktu kecil, saya tidak punya gadget. Ponsel pertama saya adalah ketika saya kuliah. Otomatis ketika tumbuh besar, mainan saya adalah bekel, congklak, lompat karet dan layangan. Meskipun katanya layang-layang lebih banyak dimainkan anak laki-laki. Semua permainan ini akrab dalam diri saya, dan merupakan bagian dari akar gerakan saya juga. Seperti yang diingatkan pada KPI Online yang saya ikuti beberapa waktu lalu, untuk mengenali diri sendiri, saya harus banyak berinteraksi dengan diri sendiri. Salah satunya ya lewat permainan itu.

Konferensi Perempuan Indonesia diadakan setiap 2 tahun sekali. Karena terlewat tahun ini, sepertinya saya harus menunggu yang berikutnya diadakan. Semoga lain kali bisa ikutan.


15 January 2024

Oleh-oleh dari Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Konferensi Perempuan Indonesia 2023 versi online, yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional memang sudah berakhir. Banyak manfaat yang dibawa pulang dari kesempatan menghadiri tema Konferensi Perempuan Indonesia 2023, “Menguatkan Akar Gerakan Perempuan Indonesia,” ini.

Meskipun dilaksanakan secara online, keseruan acara KPI tidak berkurang karena dilaksanakan secara interaktif. Ada tanya jawab dan ada diskusi langsung antar peserta lewat chat dan pengisian peta konsep yang dilakukan secara bertahap setiap selesai acara.

Di bidang pendidikan ada sebanyak 75 peta konsep yang dibuat, lalu di bidang kesehatan ada 33 peta konsep. Selanjutnya di bidang ekonomi ada 16 peta konsep, bidang sosial budaya ada 6 peta konsep, dan di bidang lainnya ada 35 peta konsep yang terkumpul. Saya ada di “bidang lainnya” karena bingung mau menempatkan peta konsep saya yang berhubungan dengan pemberdayaan perempuan khususnya ibu tunggal ini di sebelah mana.



Selain peta konsep, ada juga padlet sinergi, yaitu diskusi dengan sesama peserta yang memiliki peta konsep di bidang yang sama. Bersinergi ini seru karena kita yang ada di dalam kelompok, merencanakan gerakan dan berdiskusi dalam waktu 3 jam saja. Kolaborasi ini menghasilkan 18 aksi yang siap dieksekusi. Meskipun dilaksanakan secara online, ternyata bisa juga membuat sebuah rencana nyata.

14 December 2023

3 Alasan Wajib Ikut Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Setahun belakangan ini saya sibuk menjalankan berbagai program pemberdayaan di Single Moms Indonesia. Menikmati tahun pertama beneran fokus di acara komunitas di mana saya jadi relawan itu. Lalu, di penghujung tahun adalah saatnya mengevaluasi. Bersamaan itu, datanglah undangan untuk menghadiri Konferensi Perempuan Indonesia 2023 yang diselenggarakan oleh Ibu Profesional.

Saya pernah ikut konferensi yang diadakan tahunan ini sebelumnya. Waktu itu di tahun 2021, Konferensi Ibu Pembaharu diadakan secara online karena masih dalam masa pandemi. Meskipun online, tetapi karena dilaksanakan secara 3D, jadi serasa ikutan konferensi beneran. Tahun ini konferensinya ada lagi, jadi semangat untuk kembali berpartisipasi. Kenapa? 

  1. Tema-nya keren, yaitu Menguatkan Akar Gerakan Perempuan Indonesia

    Membaca tema Konferensi Perempuan Indonesia 2023, “Menguatkan Akar Gerakan Perempuan Indonesia,” saya jadi mengevaluasi perjalanan saya selama ini di berbagai kegiatan tentang pemberdayaan perempuan. Kembali ke akar berarti adalah sebuah eksplorasi yang tidak hanya menjanjikan penemuan jati diri, namun juga pemahaman yang lebih mendalam tentang kekayaan tradisi, cerita, dan pengalaman yang telah membentuk kehidupan kita.

    Biasanya, karena sudah terlalu heboh dengan daun yang rimbun dan pohon yang tinggi, kita lupa ada akar yang masih harus diberikan pupuk. Kalau akarnya kuat, maka pertumbuhan akan semakin pesat dan tidak tegoyahkan. Untuk itu penting untuk merawat akar yang kita miliki. 

    Ini adalah kesempatan untuk refleksi dengan apa yang sudah dilakukan setahun belakangan. Terutama karena saya pribadi juga aktif di komunitas yang bergerak di pemberdayaan perempuan. Selain itu, acara ini tentunya bisa memberikan inspirasi dan motivasi untuk perempuan agar terus bergerak di tahun selanjutnya.




  2. Soalnya pembicaranya seru!

    Ada banyak narasumber berpengalaman di acara ini misalnya Ibu Guru Kembar dari Sekolah Darurat Kartini, Alimah Fauzan dari Komunitas Perempuan Berkisah, Mawar Firdausi yang seorang penulis buku Parenting, dan lainnya. Membaca daftar nama pembicara dan fasilitator yang akan hadir tentunya menambah alasan untuk tidak melewatkan acara Konferensi Perempuan Indonesia 2023 ini.

    Tentu saja ada Founder Ibu Profesional, Septi Peni Wulandari yang kehadiran dan sharingnya selalu saya tunggu. Sebagai peserta Kelas Literasi Ibu Profesional di dua tahun terakhir, saya menantikan bisa mendengar Ibu Founder bicara langsung.

    Buat yang belum kenal, Ibu Profesional adalah komunitas para Ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan, seorang istri dan seorang ibu. Berdiri sejak 2011, komunitas ini memiliki banyak program. Salah satunya adalah KLIP alias kelas literasi di mana saya bisa menuangkan passion saya di bidang menulis. 


  3. Ada dua jenis kegiatan: Offline dan Online

    Ada yang berbeda dengan pelaksanaan konferensi-konferensi sebelumnya, event akbar untuk perempuan ini digelar secara online dan offline di dua waktu dan tempat yang berbeda. Event online akan dilaksanakan pada tanggal 20-22 Desember 2023. Sementara event offline-nya akan dilaksanakan pada 9-11 Februari 2024 di Royal Orchid Garden Hotel and Condominium, Batu, Malang Jawa Timur.
Daftarnya gimana? Cukup klik link ini dan ikuti petunjuknya. Untuk yang mau ikutan konferensi secara offline, bisa lho sekalian liburan keluarga. 

Wah, pasti seru nih. Selain bertemu narasumber keren, dapat insight bermanfaat, tentunya kita juga bisa berjejaring dengan peserta lainnya. Membangun networking ini penting untuk meningkatkan kompetensi diri dan terus berkarya di bidang pemberdayaan perempuan Indonesia.

04 February 2023

Berjejak dan Berbagi di Ulang Tahun KEB ke-11

Menjejakkan kaki di acara offline pertama bareng teman-teman komunitas Kumpulan Emak Blogger, setelah sekian tahun nyaman bersembunyi di balik layar laptop ternyata bikin panik juga. Banyak amat orangnya hahaha. Tapi ya memang ini kan acara Syukuran KEB 11 Tahun.



Acara Syukuran KEB 11 Tahun: Berjejak dan Berbagi berlangsung di Bali Notes Terrace, Jl. Prof. Joko Sutono SH No.15, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada hari Sabtu siang, tanggal 28 Januari 2023 yang lalu. Overthinking sudah dimulai dari sejak menembus hujan dan macet Jakarta. Gimana kalau saya lupa ini emak siapa, itu emak yang mana? Ntar awkward nggak yah, sudah lama tidak bertemu. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti karena meskipun lama tidak jumpa, kita semua masih ngobrol seru kayak ketemu teman lama.

“Dudu apa kabar?”

Banyak yang menanyakan Dudu hahahaha. Lebih dicariin daripada mama-nya nih. Maklum, Kumpulan Emak Blogger ini bukan sekedar komunitas Blogger buat saya, tapi juga tempat saya sharing soal Dudu di blog saya. Kumpulan Emak Blogger bukan hanya mengajarkan saya cara ngeblog, tapi juga bagaimana cara berkomunitas. Terbukti meski sudah berjalan 11 tahun, dan saya termasuk yang tidak aktif sejak Dudu “sulit diajak kerja sama” jadi bahan tulisan, semuanya tetap ramah dan menyambut dengan tangan terbuka. Tau gitu Dudu diajak ya, Mak. Hahahaha.

Ada apa sih emangnya di acara Syukuran KEB 11 Tahun?

Temanya “Berjejak dan Berbagi.” Acaranya sendiri diisi oleh mini workshop dengan narasumber Ali Muakhir (Penulis) dan Oktora Irahadi (CEO INFINA) yang membawakan materi praktis buat emak-emak.


Oktora Irahadi membawakan tema “Cara Cuan Masa Kini” yang memberikan bocoran tentang bagaimana mendapatkan penghasilan tambahan buat para emak, tentunya dengan bermodalkan apa yang dipunya saat ini. Bisa nulis, ya jadi freelance writer. Mau jualan tapi bingung modal, ya coba jadi dropshipper. Ada banyak cara cuan di luar sana. "Kita bisa memanfaatkan jarak, ruang dan waktu untuk mendapatkan cuan," jelas Oktora.

Tapi tidak asal 'jualan' juga sih. "Waktu saya mencari orang yang cocok untuk sebuah Brand, saya melihat 3R," kata Oktora memberikan bocoran. Apa tuh 3R? Reach, Resonance dan Relevant. Siapakah target yang bisa dijangkau oleh orang tersebut? Cocok tidak personality-nya dengan pesan yang harus dibawakan? Apakah orang tersebut relevan di dunianya?

Kata Oktora, "kalau kita bisa menulis dengan cara berbeda, tulisan kita akan lebih terlihat." Lalu penulis, content creator dan influencer Ali Muakhir memberikan tips dan trik menulis kisah inspiratif dengan metode Emak..

Kisah inspiratif inilah yang akan membuat kita unik. Tapi Metode Emak ini apa? Dan apa yang membuatnya jadi berbeda? Menurut Ali Muakhir, ada 4 hal yang sebaiknya dilakukan terus menerus agar bisa menjadi penulis kisah inspiratif. Endapkan rasa, mulai dengan struktur, cari 1 pesan yang bisa dijadikan penutup kisah dan buat jadwal tulisan agar kisah kita tuntas.

Bukan hanya workshop, seru-seruannya juga banyak!

Selain mini-workshop, Syukuran KEB 11 Tahun juga menjadi ajang peluncuran e-book yang ditulis oleh para makmin Kumpulan Emak Blogger berjudul “Warna-warni Dunia Blogging dan Cerita di Balik Dapur Komunitas,” dan penyerahan secara simbolis #KEBPeduli melalui kampanye #KEBCharity11KRun dalam rangka KEB 11 Tahun sebesar Rp. 2.500.000 kepada RA Miftahul Jannah, Noborejo, Salatiga. Sesuai dengan semangat KEB Berjejak dan Berbagi, rangkaian kegiatan Ulang Tahun Kumpulan Emak Blogger ini berlangsung meriah.



Hari Sabtu sore itu, Bali Notes Terrace juga jadi panggung fashion show Komunitas Perempuan Pelestari Budaya Nusantara (PPBN) yang membawakan parade kebaya nasional. Siapa bilang pakai kain itu ribet? Bahkan sebenarnya dress code acaranya juga kain dan kebaya. Dukungan KEB terhadap Gerakan Nasional Literasi Digital - Siberkreasi juga mengingatkan emak-emak untuk check dan recheck sebelum membagikan informasi. Apalagi menurut CEO INFINA Oktora Irahadi di sesi workshopnya, sumber informasi tercepat ini sebenarnya adalah emak-emak. Jangan sampai kita ikut menyebarkan hoax ya.


Pas pulang, rasanya belum puas haha. Belum rela bubar karena merasa belum selesai ngobrol, belum menyapa beberapa orang di acara. Boleh dong, KEB bikin acara rasa reuni nostalgia lagi. Lumayan mengobati rasa kangen berkomunitas, bertemu teman lama dan jadi makin semangat blogging lagi karena diingatkan bahwa blogging itu adalah salah satu cara "Berjejak dan Berbagi." 

Syukuran KEB 11 Tahun didukung oleh Siberkreasi, Kominfo RI, INFINA dan Bali Notes.

06 July 2022

Cara Merubah Mindset untuk Berkembang

Adalah suatu kebanggaan melihat rekan sekerja saya di Single Moms Indonesia, Sagita Ajeng, naik panggung mewakili komunitas di acara Grab Access hari Sabtu, 2 Juli kemarin. Acara yang berjudul “Building an Inclusive Digital Economy for Indonesia,” ini menggandeng para ibu tunggal untuk bergabung bersama Grab, baik sebagai merchant maupun driver. Harapannya, kesempatan kolaborasi yang diberikan oleh Grab Indonesia ini dapat dimanfaatkan oleh para ibu tunggal untuk semakin berdaya.


Dari menjalankan program ini saya belajar tentang mindset dan prioritas.

Di bulan-bulan awal saya mencoba volunteer di bagian Learning & Development komunitas Single Moms Indonesia, saya sempat frustasi sendiri. Bikin program, yang dateng cuma sedikit. Tapi kalau tidak ada program juga kapan majunya? Bikin workshop soft skill salah, hard skill juga tidak mempan. Bikin acara curhat dan gathering online pun banyak yang hanya sekedar daftar lalu hilang ketika hari H datang. Padahal segala cara untuk reminder sudah dilakukan. Yang ada saya penasaran. Apalagi ketika menyadari bahwa masalah ini bukan hanya ada di komunitas saya.

“Tidak ada gunanya kita offer kelas pengembangan diri, kalau yang diajakin ikutan belum punya mindset untuk berdaya.” Begitu kata salah seorang teman saya. Maksudnya gimana tuh? Ya, mindset si ibu tunggal ini masih meratapi nasib jadi ‘korban keadaan.’ Mempertanyakan kenapa hidup saya begini, dan bagaimana saya bisa hidup untuk esok hari. Menyalahkan sekeliling dan lupa bahwa untuk merubah nasib itu perlu dorongan dari diri sendiri. Proses semua orang beda-beda lamanya. Ada yang beruntung bisa cepat move on dan fokus untuk berkembang, ada juga yang membutuhkan waktu lebih untuk berduka.

Apa yang harus kita lakukan agar tidak nyaman menjadi korban keadaan, dan mampu bangkit untuk masa depan? Change our mindset. Merubah cara pandang. Mindset ini adalah cara pandang kita terhadap dunia luar. Misalnya kalau kita memandang dunia ini jahat dan kita selalu menjadi korbannya lantas ketakutan untuk keluar, ya selamanya kita ada di rumah dan pasrah menerima nasib. Ini victim mindset. Atau yang paling sering didengar adalah fixed mindset versus growth mindset. Yang pertama adalah pasrah dengan kemampuan (“saya bisanya hanya ini”), sementara yang kedua ini mau berkembang (“saya bisa belajar hal baru dan menjadi lebih baik”).

Para ibu tunggal dari Single Moms Indonesia yang gathering di acara Grab kemarin

Okelah, kalau begini, saya jadi paham kenapa terkadang sulit maju. Tapi, mendengar cerita inspiratif para Lady Grab yang naik panggung juga hari Sabtu kemarin itu, mau tidak mau kita semua jadi merubah mindset. Salah satu mitra pengemudi, yang juga seorang ibu tunggal, menceritakan kisahnya membiayai 2 orang anak. Satu diantaranya penyandang disabilitas cerebral palsy yang butuh perhatian setiap saat. Namun si ibu ini sudah tidak meratapi nasib dan menemukan bahwa dengan menjadi mitra Grab, beliau bisa mendapatkan penghasilan sekaligus menjaga anak-anaknya. Kalau ada kemauan ya ada jalan.

Bagaimana caranya merubah mindset?
  • Apresiasi diri sendiri. Celebrate small victories. Jangan terlalu sering melihat keluar lalu jadi minder. Bisa bangun pagi setiap hari buat kita yang sering depresi adalah kemenangan yang bisa dirayakan.
  • Be thankful. Ini terkadang susah karena kita sering fokus untuk apa yang menjadi kekurangan kita. Uang kurang banyak, waktu tidak ada. Coba dibalik mindsetnya jadi bersyukur masih bisa jajan atau masih punya waktu untuk anak-anak. Rasanya hidup jadi sedikit lebih enteng.
  • Mau belajar dan nikmati prosesnya. Seringkali saya tidak sabaran dan ingin semua muncul secara instant. Padahal proses belajar ini juga sebuah bagian dari hidup yang bisa kita nikmati. Soalnya, kalau maunya instant, lama-lama kita jadi malas belajar karena tidak sabar. Padahal dengan belajar, kita bisa membuka peluang baru, mendapatkan keterampilan baru. Intinya sih jadi punya growth mindset dan tidak pasrah pada keadaan.
Sarananya sudah ada, seperti Grab Access yang membuka peluang bagi para ibu tunggal untuk mendapatkan penghasilan. Sekarang tinggal mindsetnya.

20 March 2022

Menjawab Pertanyaan dan Rasa Penasaran tentang Inner Child

“Kayaknya gue punya inner child belum selesai deh. Gimana cara menyelesaikannya ya?”

Topik yang muncul di salah satu grup WA baru-baru ini membuat saya penasaran juga. Apa itu inner child? Soalnya topik Inner Child ini memang lagi banyak jadi topik obrolan. Percakapan di WA pun jadi panjang.

“Kayaknya kita perlu tahu dulu inner child artinya apa.”
“Iya bener, lalu perlu dilihat apakah inner child kita terluka sebelum pergi healing-healing.”

Emang ada inner child yang tidak terluka? Lalu, healing-nya gimana?


Daripada banyak pertanyaan dan salah pengertian, saya langsung mendaftar acara #BincangISB yang berjudul “Bertemu dengan Inner Child,” yang diadakan pada Sabtu, 19 Maret kemarin. Acara yang menghadirkan Psikolog Diah Mahmudah S.Psi, dan Psikoterapis Dandi Birdy S. Psi, para founder Biro Psikologi Dandiah ini memberikan pencerahan tentang inner child.

Menurut Teh Diah, inner child ini adalah sosok anak kecil, yang memiliki sisi happy dan sisi unhappy pada orang dewasa di masa kini. Biasanya baru bisa disebut inner child pada orang yang sudah dianggap dewasa, pada usia minimal 21 tahun. Dalam psikologi, definisi inner child ini dijelaskan oleh John Bradshaw, salah satu tokoh di dunia psikologi dan penyembuhan yang menuliskan tentang inner child di bukunya “Homecoming: Reclaiming and Healing Your Inner Child,” sebagai pengalaman masa lalu yang belum atau tidak mendapatkan penyelesaian yang baik. Jadi bisa negatif bisa positif.

06 March 2022

Kenalan dengan Diri Sendiri di Launching Buku Empowered ME

Mengenali diri sendiri itu penting. “Kalau kita nggak benar-benar tahu apa yang sesuai sama kita dan keluarga kita, jadi capek mengejarnya ke mana-mana karena ada banyak referensi di luar sana.” Satu quotes dari Puty Puar, penulis buku Empowered ME (Mother Empowers) memberikan pandangan baru tentang arti perempuan berdaya.

Foto buku by Penerbit GPU

Launching buku Empowered ME (Mother Empowers) yang saya hadiri sore hari itu sedikit berbeda karena bukan hanya ngobrol-ngobrol dan tanya-jawab, tapi ada mini-workshop journaling-nya. Wah, seru. Ini adalah launching buku pertama yang saya hadiri secara online, dan banyak manfaat yang bisa dibawa pulang selepas acara. Bukan cuma manfaat bukunya, tapi juga susunan acara dan ide-idenya. Soalnya, saya juga sedang belajar jadi event dan community planner nih di komunitas yang saya ikuti, jadi virtual launching begini bisa jadi referensi. Sekali hadir, dapat banyak ilmu.

Launching buku yang diadakan lewat Zoom pada Sabtu, 5 Maret 2022 jam 3 siang itu dipandu oleh Nathalie Indri dari Inspibook - Inspigo, menghadirkan editor bukunya, Nadira Yasmine dan surprise guest, Yohanes Abdullah, yang adalah ayah dari Puty. Masing-masing punya cerita tentang buku ini dan tentang Puty, yang bikin launching buku Empowered ME (Mother Empowers) jadi makin berwarna.

08 February 2022

Ketika Suka Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menjadikannya Kebiasaan

Saya suka menulis!

Tapi blog kok berdebu? Buka laptop kok langsung blank dan malah nonton Youtube? Buka hape malah cek Instagram? Hm… Ada yang pernah ngalamin?

Kehabisan ide, writer’s block atau hilang mood biasanya jadi alasan klasik saya tidak kunjung menulis. Belum lagi kalo nge-blog pakai malas ngedit fotonya haha. Di dua kelas persiapan Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) yang saya ikuti minggu lalu, ada banyak tips dan trick yang bisa saya lakukan supaya bisa terus lancar menulis setiap hari. Penasaran?



Dari sesi Ibu Septi Peni Wulandari, Founder Ibu Professional yang berjudul “Pentingnya Mengenal Diri Sendiri dan Peran Keluarga dalam Berkarya,” saya menemukan beberapa tips.

Yang pertama, kita harus tau apa yang kita sukai. Saya suka menulis. Iya, menulis apa? Pendek, panjang, serius, fiksi, non-fiksi, blog? How to identify them? “Kuncinya adalah kebahagiaan,” begitu saran Ibu Septi. “Tulisan sebagus apapun, kalau tidak ada hatinya, tidak sampai ke pembacanya.” Ini bener banget, soalnya kalau tidak suka dengan apa yang kita tuliskan, bagaimana bisa ide muncul dan menulis bisa lancar?

15 June 2021

Perempuan & Menulis di HUT IIDN: Arti Tanggung Jawab terhadap Hasil Karya

Menulis buku itu seperti melahirkan anak. Sesuatu yang harus diperjuangkan, dibesarkan dan diberi asupan gizi.

Sebagai seorang ibu, tentunya saya bisa relate dengan statement dari narasumber talkshow “Perempuan dan Menulis” yang merupakan bagian Festival Perempuan Indonesia Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis 11 Tahun IIDN Berkarya
 bulan Mei lalu. IIDN yang didirkan di Bandung tahun 2010 oleh Indari Mastuti menghadirkan kegiatan kepenulisan setiap harinya di FB grup, dan juga mendukung anggotanya dengan menerbitkan antologi secara indie.


Menghadirkan dua perempuan penulis dengan latar belakang sarjana eksakta, talkshow ini memberikan padangan yang berbeda untuk saya dan kenapa saya, sebagai seorang perempuan, memilih untuk menulis. Dua narasumber yang hadir di Sabtu pagi itu memiliki banyak kesamaan. Kirana Kejora, seorang scriptwriter dan Founder Elang Tempur, dan Widyanti Yuliandari, Ketua Umum IIDN yang juga seorang writer dan blogger, bertemu dengan tulisan ketika sedang self-healing.

Masuk di jurusan yang bukan passionnya, Key, panggilan akrab Kirana Kejora, melepas keinginannya masuk sastra berhasil tamat dengan gelar insinyur demi memenuhi amanat ibunda. Tidak tanggung-tanggung bidang yang ditekuni adalah Kelautan. Dalam salah satu perjalanan risetnya ke Raja Ampat, Mbak Key merasa bahwa kok mubazir jika tidak dituangkan dalam tulisan. Dari setiap perjalanan risetnya kemudian lahirlah novel-novel yang berlatar belakang kekayaan alam dan budaya Indonesia. Novel-novel yang kemudian dijadikan film.

“Menulis itu self-healing. Bagi saya, 15-16 tahun lalu menulis itu obat sakit jiwa,” kenangnya saat berbagi pengalaman hidup di talkshow. “Daripada ‘sakit jiwa’ lebih baik menulis. Karena kalo jiwanya sehat, fisiknya bisa bekerja.”

18 April 2019

Tips Mengatur Keuangan Untuk Single Mom

Perempuan perlu paham tentang mengelola keuangan. Soalnya sebagai Single Mom, sayalah yang harus mengatur pengeluaran dan saya juga yang bertanggung jawab atas pemasukan keluarga. Keluarganya hanya saya dan Dudu sih.

Buat yang bertanya-tanya, saya selalu bilang pasti sanggup kok membiayai semuanya ini meskipun sendirian. Tapi, seumur hidup, keuangan saya diatur Mama yang memang seorang akuntan. Saya cuma tau cari uang dan spending aja. Tidak tau bagaimana menghitungnya. Jadi, sekarang saya bingung mulai dari mana kalau disuruh mengatur keuangan. 


Sebelum mulai acara, kita menuliskan kendala keuangan dan ditempel di tembok.
Pas banget ada acara Planning A Better You dari Single Moms Indonesia dan QM Financial di 13 April kemarin. Bertempat di Ruang Komunal Facebook Indonesia, acara ini menghadirkan Financial Planner handal, Ligwina Hananto. Kenapa perempuan perlu belajar keuangan? Karena kebanyakan perempuan diajarkan bahwa “someone will take care of you.“ Masalahnya, ketika pada akhirnya semua harus dikerjakan sendiri dan tidak ada yang membantu, kita jadi bingung.

Yuk kita duduk manis menyimak tips mengatur keuangan untuk para single moms dari Teteh Wina ini.

16 February 2019

Tips Anti Kalap di Bazaar Buku

Bazaar buku murah mulai muncul lagi. Weekend ini kita pergi ke Bootopia-nya Periplus di Pulogadung. Bulan depan Big Bad Wolf ada lagi di ICE BSD. Ujung ke ujung. Tapi ya dijalanin, karen buku, terutama yang bahasa Inggris, termasuk sulit ditemukan di Indonesia. Masalahnya saya dan Dudu sering lapar mata kalo lihat buku.

Jadi, gimana caranya biar tidak kalap belanja kalau pergi ke bazaar buku murah sama anak?



Salah satu tempat date favorit kita berhubungan dengan buku. Waktu Dudu balita, kita berdua sering menghabiskan waktu di perpustakaan dan toko buku. Lalu sekarang jadi rajin pergi ke bazaar buku demi mencari buku, terutama buku impor, yang murah. Kalau belanja sendiri, kita hanya perlu menghibur diri kalo memang tidak ada budget untuk beli buku sebanyak itu. Nah, kalau pergi sama anak kan berarti ada satu kepala lagi yang harus dinegosiasikan.

30 December 2017

Bicara Nutrisi, Gizi dan Susu Kental Manis

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh perkumpulan dokter gigi Indonesia, penggunaan susu kental manis yang salah kaprah itu malah lebih banyak terjadi di kota besar.

Kok bisa?


Well, kalau melihat iklannya, susu kental manis (yang seharusnya disebut krimer kental manis itu) memang terlihat menyasar keluarga menengah di kota besar. Padahal harganya relatif murah. Inilah yang kemudian menjadi concern dalam Fun Discussion yang diadakan oleh Kelompok Kerja Jurnalis Penulis Kesehatan (K2JPK) bersama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI pada 14 Desember yang lalu. Dengan tema “Cukupi Kebutuhan Gizi Keluarga, Jangan Salah Pilih Susu. Bunda Indonesia Bisa!” diskusi yang melibatkan berbagai kalangan ini bicara masalah nutrisi dan tumbuh kembang anak.


Lenny N. Rosalin, Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak

21 December 2017

Menjadikan Gadget Sebagai Teman Belajar Lewat Quipper Video

Akhir pekan kemarin, saya dan Dudu mencoba Quipper Video. Penasaran soalnya.

“Keponakan gue pakai Quipper tuh,” begitu komentar seorang teman waktu saya cerita. “Sekarang ada yang buat anak SD juga?”


Awalnya saya juga bingung, bagaimana menggunakan Quipper Video ini untuk Dudu. Selain karena dia masih SD, kurikulumnya yang internasional juga sedikit berbeda. Lalu saya ingat kata kunci dari Dra. Itje Chodijah, M.A., Education Expert yang hadir di acara TUM Luncheon Bersama Quipper hari itu: “Quipper bukan pengganti sekolah tapi pasangan sekolah. Teknologi ini adalah pelengkap pendidikan.” Jadi, untuk kita berdua, Quipper Video jadi sarana belajar sejarah dan budaya Indonesia yang otherwise bakalan terlewat dari kehidupan Dudu seperti kemerdekaan Indonesia dan zaman kerajaan-kerajaan itu. 



"Pelajarannya yang di Quipper, aku belum sampai sih, belum diajarkan di sekolah. Tapi aku bisa belajar yang lain-lain, yang tidak diajarkan di sekolah aku," begitu komentar si Dudu waktu saya tanya gimana rasanya belajar pakai Quipper Video. "Kurasa bagus untuk belajar dari video, karena kalau kamu tidak mengerti kamu bisa ulang lagi terus dan gurunya tidak akan marah karena disuruh ulang-ulang."

29 October 2017

Kolaborasi Philips dan KAMI di Jakarta Fashion Week

“Nyetrika baju suami? Nggak, di rumah gue, kita semua menyetrika baju sendiri-sendiri. Termasuk anak gue,” begitu kata teman saya.

Ketika saya tanya kenapa, jawabannya klasik: mereka semua tidak suka menyetrika. Tapi ketika ada yang berbaik hati menyetrikakan bajunya, pasti kena complain. Yang ini kerahnya tidak boleh disetrika, yang itu suhu setrikaannya kepanasan dan membuat bahan bajunya rusak, yang satu lagi salah setrika lipatan celananya. Menyetrikanya saja sudah was-was, bagaimana mau dengan senang hati?




Di Jakarta Fashion Week 2018 minggu kemarin, Philips menghadirkan setrika uap Perfect Care Optimal TEMP GC3920 dan Garment Steamer Easy Touch Plus GC524. Dua benda ini bikin saya jadi pengen ngomongin setrika lagi nih. Soalnya kata Yongky Sentosa, Head of Personal Health Philips Indonesia, “produk ini memberikan garansi kalau pakaian (yang disetrika) tidak akan terbakar.” Meskipun yang namanya baju gosong untuk saya hanya ada sebagai lelucon klasik di TV, tapi adegan salah suhu dan bahan yang rusak sudah jadi pengalaman sehari-hari. Tidak heran, soalnya, beda bahan memang beda kebutuhan.

10 September 2017

Ngedate Seru Bersama Buku di Indonesia International Book Fair 2017

Bagus ngga pameran bukunya? Pertanyaan itu banyak muncul di whatsapp dan social media saya ketika saya posting tengah #DateWithDudu di Indonesia International Book Fair (IIBF) kemarin. Acaranya sendiri berlangsung 6 – 10 September 2017 di JCC Senayan, tapi niat mampir pulang kantor tidak pernah terlaksana. Memang berburu buku itu harus sama Dudu.

Yah, pamerannya sih bagus, tergantung kitanya cari apa.

Jawabannya standard. Tapi memang begitu soalnya pameran ini sebenarnya memenuhi ekspektasi pencinta dan pencari buku. Mau buku anak ada. Buku islam ada. Buku bahasa Inggris ada. Buku mainstream ada. Buku teenlit ada. Sampai buku-buku bekas bahasa asing pun ada. Yang terakhir itulah yang mendorong saya mampir ke Indonesia International Book Fair pagi-pagi di hari Sabtu. 



Masuknya gratis. Dan banyak “harta karun” yang kita temukan di sana. Di lobby utama kita disambut oleh robot berbentuk IIBF dan booth KPK yang menawarkan banyak buku gratis tentang anti-korupsi. KPK ini sekarang rajin reach out ke anak-anak. Terbukti selain di luar, booth KPK di dalam juga dipenuhi aktivitas seperti dongeng dan lomba foto. Ada banyak board game yang dipajang, semuanya mengajarkan kejujuran dan anti-korupsi. Sebenarnya Dudu kepengen beli, tapi pas kami sampai di sana, boothnya sedang penuh karena ada acara dongeng anak-anak. Yang ada, Dudu jadi mengambil brosur tentang gratifikasi. 

29 May 2017

Ngemil Sehat Bersama Cerelac Nutripuffs

Mama ini apa? Adiknya Koko Krunch ya? Boleh disiram susu juga?

Dudu melihat camilan baru saya, yang ada di samping laptop di meja kerja di rumah. 10 menit kemudian, Cerelac Nutripuffs sudah ada di mangkok bersama segelas susu dan dalam sekejap sudah dihabiskan Dudu. Setelah itu barulah anak kelas 5 SD ini melihat bungkusnya.


Dudu: Untuk anak 10 bulan. Ma, tapi aku sudah 10 tahun. 10 dikali 12 bulan jadi 120 bulan. Lalu minus 10 bulan jadi 110 bulan. Aku sudah jauh terlewatkan umurnya.
Mama: Lalu kamu akan tetap makan Cerelac Nutripuffs itu?
Dudu: Ya bisa jadi. Soalnya enak.