Showing posts with label Art and Creativity. Show all posts
Showing posts with label Art and Creativity. Show all posts

26 February 2026

Yessay dan Kekuatan Storytelling: Cara Baru Menikmati Konten Budaya di YouTube

“Yessay wasn’t about me, but rather about cultural contents. I was just the bridge between the two.”

Begitu katanya di Yessay episode 37, di mana Yesung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. YouTube Kpop Idol biasanya diisi dengan kehidupan dan aktivitas sehari-hari mereka. Bentuknya lebih ke variety atau banyak mengundang tawa yang menghibur penggemarnya. Lalu pada tahun 2023, Yessay muncul.

“At first, I wasn’t supposed to be on the video all the time,” katanya. Jadi seharusnya Yessay ini adalah setengah video, setengah narasi. “What used to be ‘Yessay’ was ‘Yesung sees and talks’. Also, ‘I explain with my mouth and express my feelings.’” Sekarang channel ini punya 161 video yang fokusnya ke budaya, travel, sejarah dan art. Di mata saya, Yessay adalah sebuah ruang pribadi di mana ia mengunjungi berbagai galeri seni, museum, tempat bersejarah, dan menyajikannya dalam narasi yang menarik.


Yessay hadir dengan sinematografi yang tenang, lagu yang menggugah dan cerita yang kuat. Kontennya sendiri sangat beragam, mulai dari kunjungan ke museum seni yang nggak mainstream, menelusuri situs warisan budaya di Korea, hingga momen-momen kontemplatif saat si pemilik channel menikmati pemandangan kota. Kadang mereka berhenti untuk “ngobrol” dengan Yesung, dan kadang ceritanya horror. Konten seni budaya dan sejarah dikemas dengan cara yang menarik tanpa kehilangan inti ceritanya.

Namun, kalau saya yang cerita, pasti bias. Soalnya Yesung adalah musisi favorit saya, member idol grup favorit saya. Jadi coba tulisan ini dibaca dengan a pinch of salt, bahwa saya pasti bias. Hahaha.

Menemukan Yessay adalah seperti menemukan harta karun. Kapan lagi bisa punya idola yang punya kesukaan yang sama dan bisa jadi tur guide keliling Korea. Apalagi yang dikunjungi adalah tempat-tempat yang memang jadi tujuan perjalanan saya. Ciri khas utamanya terletak pada narasi suara (voice-over) Yesung yang berat namun menenangkan, memberikan kesan seolah kita sedang mendengarkan sebuah buku audio sambil berjalan-jalan santai di galeri seni.

Nam June Paik, a video-artist, proposed the 'Youtube Era'|SuperJunior Yesung|Yessay|EP.01

Episode pertama yang ditayangkan berjudul “Nam June Paik, a video-artist, proposed the 'Youtube Era'” bercerita tentang kunjungannya ke Tate Museum di London beberapa waktu lalu dan pertemuannya dengan karya Nam June Paik. Lalu, diikuti dengan kunjungannya ke Nam June Paik Art Center. Nam June Paik adalah salah satu artist yang menarik untuk dipelajari. Hasil karyanya yang paling iconic adalah Electronic Superhighway yang saat ini dipajang di Smithsonian American Art Museum in Washington, D.C.

Di episode ini, Yesung mengajak kita keliling museum, lalu bercerita tentang karya-karya yang dipajang. Rasanya seperti beneran berkeliling museum dan punya guide pribadi.

Bedanya dengan guide yang ada di museum, di narasi yang diberikan, Yesung juga sering memasukkan pendapat dan pemikiran pribadinya. Kunjungan ke Tate Museum di London membawanya berpikir, seberapa jauh dia mengenal Nam June Paik. Hal itulah yang membawanya mengunjungi Nam June Paik Art Center. Lalu ketika bertemu exhibition robot, Yesung cerita bahwa kadang kalau di rumah dia berpikir kalau dia mirip ini robot yang pakai headphone, nonton film di hape, dan melakukan semuanya dalam satu waktu. Lama-lama jadi kayak nge-date di museum haha.

Manfaat apa yang diberikan?

14 October 2024

Museum Forward and The Adaptive Way to Embrace Changes

Whenever I told people that I want to pursue a degree in Cultural Anthropology, people asked, “what do you want to do with it?” I had no clue. I just love the different cultures, different viewpoints, then eventually translated to arts and museums. I started to wonder how these preservation sites work, the curation and the marketing process. So, when a social media post about Museum Forward, the first international best practice forum on museums and heritage, appeared on my timeline, I signed up.

I attended the Museum Forward 2-day public conference which is an eye-opening matter when it comes to museums. Held at BJ Habibie Building, BRIN (National Research and Innovation Agency), the forum brings together museum and heritage practitioners from all over the world, every session presents an interesting subject. What do I bring home from spending two days among these experts?


Museums used to be pictured as a place to preserve artifacts or history for the future generation, and this is where the problem lies. You’ll see museums usually preserve something by limiting interaction with the objects, while they should have made it accessible. Things like traditional music instruments are more meaningful when it’s played, compared to being displayed in a museum. So, museums nowadays have to go beyond preservation, by becoming a cultural hub to conserve what we have for the future.

Some museums, like the Louvre at Abu Dhabi, are moving away from encyclopedic approach to narrative viewpoint. Manuel Rabaté, Director of Louvre Abu Dhabi, France-UAE, shared that to do this, we must “question what stories can we share with the visitors.” Encourage cultural dialogues by taking in global conversations, and make sure to find the best practices to be implemented. Don’t be afraid to learn from children's museums as they know what they are doing and who their target audiences are.

Then the questions are there: how do you create a new narrative?

Sharmini Pereira, Chief Curator Museum of Modern & Contemporary Art Sri Lanka, Colombo, shared what it means to have a modern and contemporary art museum in Sri Lanka, which is known more for its conflicts. She included artworks, programs and conversations to include everyone on different sides of the conflicts. Her narratives go around the conflict itself, with culture and history as the connecting elements.

A different approach came from Victor Cageao, General Coordinator of Conservation, Museo Nacional del Prado, Madrid. Showing the transformations at the museum, where originally, “Europe has the tendency to accumulate collections,” to the current simplistic look with best or curated items on display. Sculptures and paintings which used to be placed in separate rooms are now put together to create a dialogue. “It’s often said that the museum has improved a lot because it has changed little,” he said.

And no, “creating a new narrative doesn’t mean losing its identity,” he assured. One can incorporate other voices. For example, instead of displaying items only from a certain period, a museum may put together similar arts from different periods and places. A room where golden masks from around the world are seen side by side, may bring new narratives on masks and how they are connected to or very different from one another. Another way is to deepen the creative process, as in introducing the artists not just as part of the artworks displayed but as a person.

When day one is about best practices and perspectives, day two highlights collaborative approaches to museums and cultural heritage. What kind of collaborative approach? Indonesia Bertutur brings performances to museums, while Indonesian Heritage Society gathers up the communities for collaboration. M+, Hong Kong hosts experiences to encourage the younger generation to play an active role in protecting, developing and utilizing the cultural heritage.


Collaborative approach is also crucial in building the museum’s brand, which is a public perception of the museum. Some rules to brand-related:
  • You can’t satisfy everybody, so focus on differentiating yourself instead. How? You only get one idea; if you add “and,” the effectiveness evaporates. Narrow down the focus.
  • Add more human interaction because it deepens the belonging.
  • Pay attention to your museum’s communication through different channels like architecture, lighting and atmosphere, art arrangements or label and interpretation.
So, it was a fruitful session, on interesting topics. While I’m simply just a museum enthusiast, most insights are actually applicable in my industry of non-profit organization. How to do branding and what we should shout in our messages. The sessions got me to reflect on how I did my campaigns and developed my programs. Something to keep for 2025.

23 October 2023

Terus Menulis Biar Tetap Waras

Kalau minta nasihat ke saya bagaimana menjaga kesehatan mental, kemungkinan besar saya akan menyuruh menulis. Beberapa riset menyebutkan bahwa menulis memberikan dampak baik bagi otak, dan bisa jadi terapi yang terjangkau. Tapi tulisan saya jelek. Saya bukan penulis. Tata bahasa saya berantakan. Eits, menulis untuk kesehatan mental tidak perlu memikirkan apakah tulisan kita jelek atau terlalu personal. Kan, pembacanya hanya kita sendiri.

Pernah dengar tentang expressive writing, yang sering digunakan untuk healing? Menulis tentang pengalaman yang membuat kita stress dalam periode waktu tertentu. Mengungkapkan perasaan dalam bentuk tulisan, seperti menulis diary, dalam jangka waktu tertentu yang berpotensi dapat membantu proses healing.

Tapi saya tidak bisa menulis. Mulai dari mana? 

Ada beberapa cara buat memotivasi kita untuk menulis. Terutama buat yang butuh dorongan lebih untuk menuangkan perasaannya dalam bentuk tulisan.

Ikut challenge menulis. 

Apa itu challenge menulis? Secara umum ini adalah tantangan buat kita ikuti agar menulis setiap hari. Mirip seperti upload IG kompakan, atau challenge lari di aplikasi olahraga. 

Ada dua keuntungan mengikuti challenge menulis. Yang pertama adalah adanya tema. Di challenge menulis, kita bersama-sama menulis sesuai tema yang ditentukan setiap harinya. Ini bisa membantu kita di kala stuck, tidak tahu menulis apa karena sudah ada promptnya. Maka dari itu penting untuk memilih challenge menulis yang sesuai dengan interest dan kesanggupan kita sehari-hari. Saya kemarin iseng-iseng mengikuti challenge menulis fiksi 15 hari dan akhirnya stress sendiri karena tidak bisa menulis cinta-cintaan. Padahal sudah sampai bikin IG baru khusus untuk ikutan challenge tersebut. Haha. Karena pada dasarnya saya adalah penulis non-fiksi, ya saya akhirnya kembali ke jalur awal, mengikuti challenge di blog (bukan IG) dengan tema-tema yang lebih dekat dengan kehidupan saya.

Itu pun saya masih struggling karena ada beberapa tema yang benar-benar tidak bisa saya tulis. Lalu gimana? Well, ini kan menulis untuk kesehatan mental, jadi ya ditulis saja sebisanya.

Lalu keuntungan kedua adalah adanya teman. Sesama peserta challenge yang saling menyemangati. Kalau di IG biasanya ada comment dan likes, kalau di blog biasanya lewat blogwalking atau satu Whatsapp group khusus di mana kita bisa share linknya. Jadi saya tidak merasa menulis sendirian dan jadi terpacu untuk melanjutkan ketika teman-teman sudah mulai ngelist. Mau malas jadi malu. Tidak ada alasan untuk stuck karena ada teman-teman seperjuangan yang terus maju.

16 October 2022

Bikin Podcast Gimana Caranya?

Beberapa waktu lalu, ketika Dudu membuka sesi tanya jawab di grup Single Moms Indonesia, ada yang menyarankan untuk membuat podcast. Ini bukan pertama kalinya ada yang melemparkan ide bikin podcast kepada saya dan Dudu. Tapi sampai sekarang, ide ini belum terlaksana.

Padahal katanya bikin podcast gampang.

Ada teman saya yang punya podcast hanya dengan monologue iseng yang direkam. Lalu ada juga yang merekam obrolan berdua sahabatnya lalu diupload. Tidak pakai studio, tidak pakai peralatan profesional. Hanya pakai hape. Tanpa di-edit. Jadi, ini saya yang overthinking atau terlalu perfeksionis?

Pernahnya jadi penyiar Radio

Ketika ada seseorang yang meminta saya jadi project manager buat podcast-nya, saya mencari insight yang lebih serius tentang bagaimana seharusnya kita memulai sebuah podcast. Selain teknis, seperti equipment, ada beberapa hal yang memang perlu diperhatikan.

Misalnya bertanya pada diri sendiri, apa tujuannya bikin podcast? 


Apa yang kita mau share? Ada tidak audiencenya? Menjawab pertanyaan ini cukup mudah buat saya dan Dudu. Sama seperti status Facebook yang sering saya tuliskan, atau isi blog ini, podcast kami bisa jadi obrolan seru ibu dan anak tentang isi dunia. Tujuannya tentu saja berbagi, sharing tentang perspektif ibu dan anak. Audience-nya juga sudah pasti ada, karena sudah ada demand-nya. Banyak yang penasaran dan ingin mendengarkan dari sudut pandang anak namun tidak berani bertanya sama anak sendiri.

Setelah yakin bahwa kita mau memulai podcast, waktunya memilih nama.


Kalau saya, sudah pasti pakai #DateWithDudu. Karena memang sudah menjadi brandingan sejak awal. Namun bagaimana caranya memilih nama podcast? Kalau kita adalah publik figure terkenal, nama kita bisa langsung digunakan karena selain sudah punya fans militan yang akan mendengarkan, nama kita juga sudah menarik general public buat klik. 

Bagaimana kalau kita nobody alias bukan siapa-siapa. Nama podcast sebaiknya dicari yang catchy dan bikin orang penasaran namun masih sesuai konsep yang kita tetapkan. Apa niche podcast-mu? Bisnis? Lifestyle? Komedi? Bentuknya apa? Interview atau monologue atau ngobrol bareng co-host. Dari kedua hal tersebut, nama podcast bisa ditemukan. Kalau saya tidak menggunakan nama #DateWithDudu misalnya, mungkin saya akan memberikan nama "Podcast Bareng Anak" atau "Perspective Anak" atau "Oh, Ternyata Begitu" yang merepresentasikan isi podcast saya.

Terus bisa mulai?

Sebenarnya bisa, jika bikin podcast-nya buat happy-happy tanpa beban. Tapi jika ingin membuat podcast jadi sesuatu yang serius dan dimonetisasi, memulai episode nol atau episode pilot ini berarti sudah siap konsisten update episode secara berkala.

Ada yang bilang podcast ini mirip sama blog.


Saya sendiri menemukan setidaknya dua kesamaan, hal-hal yang saya kerjakan di blog ternyata bisa diaplikasikan ketika merencanakan sebuah podcast. Sama seperti ketika mau memulai one day one post, ketika hendak bikin podcast ya saya menuliskan 10 episode pertama yang mau saya rekam. Topiknya apa, mau membahas apa dan kira-kira perlukah saya mengundang pembicara lain. Semacam content plan beserta timelinenya.

Begitu juga dengan marketingnya. Sharing podcast itu ya per-episode. Sama seperti meninggalkan link blog ketika blogwalking atau sharing postingan di komunitas, yang saya share ya yang relevan dengan audience-nya. Sepertinya podcast juga sama. Setiap episode bisa jadi kesan pertama pendengarnya, dan setiap episode bisa di-share secara mandiri ke komunitas berbeda.

Jadi, kendalanya apa buat saya (dan Dudu)?

Yang pertama sekarang adalah waktu. Podcast membutuhkan komitmen berdua untuk bertemu, ngobrol, briefing, latihan dan akhirnya rekaman. Belum lagi kalau ternyata perlu editing, misalnya ada kata-kata kasar, nama orang lain yang tidak sengaja kesebut. Jadi, dibandingkan dengan blog, podcast tentunya membutuhkan investasi waktu yang cukup besar.

To recap apakah Podcast ini medium yang tepat untuk #DateWithDudu? Tujuan sudah ada, nama juga sudah dapat, yang belum tinggal menyediakan waktu untuk planning dan eksekusinya. Jadi, kayaknya belum sekarang deh.

07 April 2022

Mengenal Jenis Jurnal dan Manfaatnya dalam Kehidupan Sehari-Hari

Konon, journaling itu baru terasa manfaatnya kalau konsisten. Jadi, sebulan kemarin saya coba untuk konsisten.

Ada dua jenis jurnal yang saya buat: Progress Tracker Journal, yang saya modifikasi jadi Daily Habit Journal, dan Gratitude Journal. Keduanya adalah oleh-oleh dari acara yang saya ikuti. Beda jurnal, beda isi, beda fungsinya juga. Coba kita telaah lebih jauh bedanya masing-masing jurnal.



Daily Habit Journal
Idealnya jurnal ini dibikin di buku tulis, digambar dan dikasih warna agar terasa personal. Saya bikin di Excel online, dan terbagi ke dalam beberapa kategori. Kenapa di Excel? Soalnya nggak punya spidol warna-warni yang memadai. Lagipula pilihan warnanya lebih banyak di excel juga kan. Ide untuk membuat Daily Habit Journal datang dari Progress Tracker Journal yang saya lihat di acara launching buku Empowered ME (Mother Empowers) oleh Puty Puar bulan lalu. Ada beberapa tipe jurnal lain yang dibahas di acara tersebut seperti Action Plan Tracker atau Wheel of Life, tapi Progress Tracker inilah yang paling do-able, alias mudah dilakukan untuk saya.

Kalau Progress Tracker lebih spesifik, misalnya ketika saya sedang belajar Bahasa Korea maka saya akan pakai tipe jurnal ini untuk melihat seberapa jauh ‘perjalanan’ saya. Namun karena saya masih building habit, alias membangun kebiasaan belajar Bahasa Korea secara rutin, jadi yang saya gunakan adalah Daily Habit Journal. Tujuan saya membuat Daily Habit Journal ini juga sedikit berbeda di bulan pertama, karena saya sebenarnya ingin melihat habit apa yang sudah terbentuk dan apa yang sulit dimulai

Dari Daily Habit Journal yang saya buat selama sebulan kemarin ini, saya melihat bahwa ada beberapa hal yang sudah mengalir dengan sendirinya. Seperti minum air putih setiap pagi. Atau menulis blog dan baca komik yang meskipun tidak teratur tapi sering dilakukan. Sementara masak dan stretching sudah masuk kategori tidak ada harapan, dan saya berencana mengganti kedua hal tersebut dengan habit lain yang mungkin lebih doable, seperti mulai menulis fiksi.

Daily Habit Tracker Journal saya di bulan Maret kemarin

Ketika kemarin saya evaluasi, saya mencoba mencari pola dan menemukan bahwa di akhir pekan, saya cenderung lebih tidak produktif haha. Lupa minum vitamin, ngeblog juga bolong, belajar juga tidak. Yang dilakukan di Sabtu-Minggu biasanya hanya baca komik dan rebahan. Wah, jadi kepikiran. Akhir pekan ini ‘me time’ dan sering dihabiskan untuk bepergian atau event komunitas. Tapi seharusnya ada hal-hal yang ingin tetap saya lakukan seperti ngeblog atau minum vitamin agar waktu yang digunakan berasa optimal.

Gratitude Journal

Yang ini saya bikin di buku catatan. Minimal menuliskan satu hal yang membuat saya bersyukur setiap hari. Kebiasaan ini dimulai ketika mengikuti workshop bertema “Gali Potensi Diri” dari Komunitas Single Moms Indonesia di bulan Februari. Mengusung tema ‘self love’, Gratitude Journal mengajarkan kita bersyukur atas kebahagiaan yang diterima hari itu. Kesempatan mengapresiasi dan berterima kasih pada diri sendiri. Cara ini lumayan berguna menetralisir hal-hal negatif yang terjadi di sekitar saya.

Gratitude Journal saya di bulan Maret

Saya menuliskan Gratitude Journal ini ketika hendak menutup laptop dan mengakhiri hari. Meskipun sebenarnya tidak ada waktu khusus untuk menuliskan jurnal ini, tapi ketika hari berakhir dan menuliskan 1-2 hal baik yang ingin saya syukuri hari itu, hati jadi lebih tenang. Mengakhiri hari dengan hal-hal baik. Menulis isi Gratitude Journal juga tidak perlu kebanyakan mikir. Bersyukur bisa dimulai dari hal kecil, misalnya bisa punya waktu mandi lebih lama atau kebagian hibah durian dari tetangga. Tidak perlu menunggu menang undian dulu untuk bisa menuliskan isi Gratitude Journal.

Gratitude Journal tidak saya evaluasi. Hanya saya baca ulang di akhir bulan agar menyadari bahwa bulan kemarin itu not so bad dan bulan depan bisa lebih optimis lagi. Dari peserta workshop kemarin itu, ada yang cerita kalau Gratitude Journal yang dijalankan membawa positivity dan optimisme dalam hidupnya, lalu ada saja rejeki yang datang. Wah, hebat!

Tapi selain kedua jurnal tadi, saya juga keep jurnal yang isinya curhatan kalau sedang galau. Haha. Yang itu fungsinya untuk materi buku fiksi saya suatu hari kelak. Lalu ada juga healing jurnal, yang biasanya berisi pertanyaan-pertanyaan terhadap diri sendiri yang perlu dijawab. Misalnya “apakah yang membuatmu kecewa?” atau “apa yang membuatmu tidak bisa memaafkan diri sendiri?” Jenis jurnal yang terakhir ini tidak secara rutin saya gunakan, hanya ketika sedang dibutuhkan saja. Misalnya ketika habis patah hati. Eh?

Bisakah digunakan untuk anak?

Saya baru mau menyarankan ke Dudu untuk pakai tracker seperti ini. Tapi kalau untuk Dudu sepertinya lebih cocok yang digital atau bentuknya apps ya. Kalau untuk anak yang lebih kecil, bisa dijadikan permainan dan diberikan reward ketika berhasil dilakukan. Misalnya puasa. Bisa dibuatkan papan untuk ditempelkan stiker di hari-hari si anak berhasil puasa. Lalu di akhir bulan sama-sama dievaluasi dan kalau memang ada reward yang dijanjikan di awal ya bisa diberikan.

Wah, bisa jadi proyek liburan sekolah bersama Dudu nih!

Apapun jenis jurnalnya, yang penting adalah konsistensi dan evaluasi. Kalau tidak konsisten, agak sulit mencari pola di Daily Habit Journal dan biasanya impact Gratitude Journal juga kurang terasa. Jadi memang harus konsisten setiap hari.

15 February 2022

Self-Love dengan Menuliskan Gratitude Journal

 Ada pepatah mengatakan “count your blessings,” atau hitung berkatmu. Dengan melakukan ini, kita dapat menjadi lebih positif dalam hidup, jarang stress dan jarang sakit. Kayaknya penting banget di jaman pandemi ketika kata “positif” malah jadi menyeramkan. 

Akhir pekan kemarin, saya belajar bersyukur. Menuliskan 10 hal yang membuat saya berterima kasih hari itu. Mulai dari hal kecil kayak bisa ngopi sampai yang besar seperti menyelesaikan pekerjaan. Tulisan yang jadi Gratitude Journal atau Jurnal Syukur ini adalah salah satu yang saya lakukan dalam rangka self-love. 


Jurnal syukur yang lucu-lucu begini bisa bikin tambah motivasi

Apa sih jurnal syukur? Seperti namanya, jurnal syukur adalah tempat (bisa buku, bisa app, bisa blog dan lainnya) di mana kita menuliskan hal-hal yang kita syukuri setiap harinya. Berbeda dengan diary, jurnal syukur ini tidak perlu panjang-panjang menulis dan tidak perlu detail. Dalam positive psychology, jurnal syukur digunakan untuk mereka yang ingin memfokuskan diri pada hal-hal positif dan disyukuri dalam hidup ini.

23 January 2022

Konsistensi Menulis untuk Diri Sendiri

Di awal January kemarin, saya memutuskan untuk ikut sebuah writing challenge dari Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) untuk menulis setiap hari selama setahun. Nekat memang. Soalnya saya sering ikutan challenge yang sebulan, bahkan seminggu dan gagal. Ini adalah postingan ke-20 dari challenge tersebut, sebuah achievement yang mau saya rayakan. Meskipun bukan daily post karena ada beberapa hari yang bolong-bolong, tapi tetap saja konsistensi menulisnya ada.

Apa yang berubah? Apa yang saya lakukan berbeda dari challenge-challenge sebelumnya?


Pertama, kebebasan memilih platform. Di semua challenge sebelumnya yang saya ikuti, saya selalu fokus ke blog. Selain karena tujuan ikutan challenge adalah mengisi dan menghidupkan kembali blog yang sering hiatus dan berdebu ini, saya juga hanya konsisten menulis di blog sendiri. Akun UGC ada, akun semacam storial dan wattpad juga ada. Tapi apa yang saya tulis di UGC macam Kompasiana biasanya saya tulis juga di blog, akun UGC saya jadi ikut berdebu. Lalu fiksi bukan kekuatan saya, dan membutuhkan waktu lama untuk menulisnya. Jadi akun-akun storial dan wattpad ya debuan juga.

Di challenge ini saya mencoba tidak membatasi platform yang digunakan. Tidak melulu harus blog, yang penting menulis. Ternyata ini membantu saya konsisten menuangkan tulisan karena fokusnya berpindah dari media yang saya gunakan ke something as simple as “menulis.” Blogging butuh gambar, dan biasanya mengedit gambar atau menemukan ilustrasi yang cocok sering jadi kendala tersendiri.

03 January 2022

Mengawali Tahun Baru Dengan Membuat Vision Board di Canva

Hari ke-3 di tahun 2022, hari Senin pertama. Yuk, belum terlambat bikin resolusi dan gol tahun baru!

Setiap tahun, saya selalu berpikir ingin melakukan sesuatu yang baru. Harus ada yang berbeda yang dilakukan tahun ini. Awal tahun jadi kesempatan untuk me-reset semua yang sudah lalu. Begitu juga dengan 2022, yang baru hari ini kepikiran mau bikin apa.

Vision Board
Ini favorit saya. Sebelum pandemi, saya pernah ikutan kegiatan membuat vision board bareng Dudu di acara komunitas Single Moms Indonesia. Tahun kemarin nggak bikin sih. Tahun ini akhirnya bikin sendiri di aplikasi Canva.

Ini Vision Board Saya buat 2022

Eh, tapi vision board itu apa? Sekilas terlihat seperti sebuah papan penuh gambar-gambar dan tulisan. Tapi sebenarnya vision board ini merupakan visualisasi rencana dan mimpi kita. Membuatnya seru, dan setelah jadi, sebaiknya ditaruh di tempat terlihat. Biar kita ingat terus sama goal kita selama setahun penuh, membantu kita fokus dan berusaha mencapainya.

Meskipun nggak se-seru kalau menggunting dan menempel sendiri di papan, digital vision board juga banyak gunanya. Yang pertama tentunya nggak banyak sampah hehe. Karena bikinnya di laptop. Lalu hasilnya bisa dipajang jadi wallpaper laptop biar setiap hari diingatkan. Selain itu, vision board digital juga lebih awet. Kalau yang fisik bisa kotor dan bisa rusak, yang digital bisa disimpan selamanya.

Caranya gimana?
Pertama, pilih aplikasinya.


Yang pasti ada di laptop, dan paling mudah digunakan adalah Powerpoint. Tinggal copy paste gambar-gambar ke sana dan tambahkan tulisan. Tidak perlu sign-up atau mendaftar. Bahkan bisa dikerjakan tanpa koneksi internet karena aplikasinya kan biasanya sudah satu paket dengan MS Office yang ter-install di laptop kita. Downside-nya hanya, ya kurang keren hasilnya kalau dibandingkan dengan yang dibuat lewat aplikasi kekinan seperti Canva hehe.

Di Canva ada banyak template Vision Board yang dapat digunakan, namun sayangnya banyak yang berbayar atau khusus pelanggan Canva Pro.

Jangan khawatir, ada banyak template lain yang dapat digunakan sebagai template vision board. Contohnya Facebook Post (ukuran 940px x 788px) atau ukuran Postcard (148mm x 105mm), lalu cari tema dan element scrapbook untuk mempercantik hasilnya.

Pilihan template Vision Board di Canva

Kedua tentukan tema yang paling mengena, goal yang harus dicapai.
Meskipun vision board umum juga dapat membantu, tapi fokus yang spesifik dapat membuat goal kita lebih mudah tercapai. Cari satu bagian dari hidupmu yang ingin diubah di 2022. Misalnya ingin jalan-jalan, ingin kuliah lagi, ingin karir lebih baik, ingin lebih punya waktu bersama keluarga, atau ingin punya bisnis sendiri. Hm… saya ingin apa ya?

Ketiga, cari gambar yang sesuai.
Kalau mimpi kita ada lebih dari 1, misalnya ingin jalan-jalan dan punya bisnis sendiri, sebaiknya gambar-gambar yang kita temukan dikumpulkan sesuai tema. Yang sebelah kanan bisa penuh dengan gambar pantai, gunung, Jepang, Korea dan negara lainnya. Sementara yang kiri bisa gambar orang presentasi, klien, co-working space incaran dan lain sebagainya.

Jangan lupa pakai tema & element "scrapbook" biar lebih cantik

Setelah semua lengkap, barulah mulai men-desain.

Satu hal yang harus dilakukan adalah meletakkan Vision Board ini di tempat yang kita bisa lihat setiap hari. Makanya kalau digital ya jadikan wallpaper laptop atau ponsel.

Sebenarnya lebih seru lagi kalau bisa dilakukan bersama anak sih.

30 January 2019

Pentingnya Membuat Vision Board Bareng Anak

Saya hobi scrapbooking. Ngeprint foto, gunting-gunting, nempel-nempel lalu masukin album. Jadi, waktu Komunitas Single Moms Indonesia mengadakan acara membuat "Vision Board", saya dan Dudu langsung ikutan. Ya, berguna banget karena kita berdua suka art and craft.

Ini Vision Board kita!
Hm... Apa bedanya sama Scrapbook?

Kalau scrapbook biasanya 'preserving memories' alias album kenangan. Kalau vision board ini planning ke depan. Mimpi dan rencana yang ingin dicapai setahun ke depan. Eh, setahun doang? Waduh salah dong. Soalnya saya dan Dudu sibuk memproyeksikan visi kita tanpa jangka waktu. Dudu bahkan sudah memilih gambar visi "lulus kuliah" untuk ditempelkan. Haha. Ya sudahlah.

Ini adalah bahan-bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat vision board:

  • Gunting
  • Papan
  • Lem (atau dobel tape)
  • Gambar-gambar dari majalah, koran, brosur atau print sendiri dari internet yang merupakan visi dan mimpi setahun ke depan.
  • Hiasan (ini tidak wajib tapi saya kebiasaan Scrapbooking)

Cara Membuat:

Gambar digunting lalu ditempelkan ke papan. Sebenarnya hanya begitu saja. Tapi buat yang hidupnya lebih teratur, vision board bisa dibuat per-kategori misalnya uang, cinta, jalan-jalan, pendidikan, karir dan lain sebagainya. Ada juga yang membaginya berdasarkan bulan atau prioritas. Misalnya gambar rumah dan sekolah ada di paling atas, berarti yang jadi prioritas adalah tinggal di rumah sendiri dan sekolah anak.


Kalau gambarnya kurang, kita bisa gambar sendiri lalu ditempelkan. Setidaknya itu yang saya lakukan bersama Dudu. Kita bahkan membawa stiker bundar yang bisa ditempel dan disusun menjadi huruf. Tidak yakin apakah vision board ini lebih efektif polos atau dihias-hias karena tujuannya kan memvisualisasikan mimpi, dan bisa saja dekorasi lucu-lucu itu jadi mengalihkan perhatian dari gambar utamanya. 

But again, I did scrapbooking dan Dudu juga senang menggambar. Jadi vision board kita pasti penuh dekorasi. Haha.



Kenapa seru dilakukan sama anak?

Soalnya kita jadi punya kesempatan diskusi. Apalagi kalau anaknya sudah seumuran Dudu dan punya visi "lulus kuliah". Diskusi ini dimulai dari perencanaan vision board. Selain mencari gambar untuk diri sendiri, saya juga mencarikan keinginan Dudu. Mau tidak mau kita ngobrol dan diskusi. Sambil menempel pun kita ngobrol (dan berantem) tentang apa mau ditempel di mana, gambar mana yang utama dan lain sebagainya. Hasilnya bisa dilihat sendiri, kita ternyata mirip, kebanyakan mimpi jalan-jalan. Bahkan nabung pun untuk jalan-jalan. Ketika menurut dia saya kurang banyak ngeprint gambar, yang Dudu buat sendiri adalah gambar pesawat terbang dan motor boat.


"Ini kapal apa, Du?"
"Itu lho, Ma, seperti yang kita naikin ketika ke Ujung Kulon."

Jangan khawatir kalau anaknya masih terlalu kecil, menurut saya anak TK pun bisa diajak membuat vision board karena mereka pasti sudah punya pendapat. Sudah bisa ditanya lebih suka A atau B, mau pergi ke tempat X atau Y.

Ada beberapa tips membuat vision board yang saya temukan di internet. Awalnya iseng, ternyata malah jadi serius. Yang pertama adalah jelas dan spesifik. Mau traveling? Boleh. Ke negara apa? Kapan? Bukan cuma sekedar rencana jalan-jalan. Dudu bahkan sudah menggambarkan mau naik pesawat dan motor boat. Saya mau road trip di Amerika, menyurusi Route 66 dari Chicago. Kedua, gunakan kata-kata untuk memperjelas. Saya bahkan menempelkan resep masakan yang mau saya coba. Ketiga, taruh goal yang paling utama, yang paling diinginkan, di tengah papan. Tidak selalu harus goal yang paling duluan dicapai secara prioritas, tapi goal besar yang butuh waktu mewujudkannya.

Menggunting dan menempel pun seru buat melatih motorik anak, dan kita yang sudah terlalu sering menggunakan gadget. Saya dan Dudu paling senang art and craft yang menghasilkan sesuatu seperti ini. Apalagi kalau setelah vision boardnya jadi, kita bisa sharing dengan peserta lainnya.


Oh iya, komunitas Single Moms Indonesia ini adalah support group untuk para ibu tunggal di Indonesia. Awalnya saya ikutan hanya iseng-iseng karena diajakin teman blogger yang ternyata foundernya haha. Terus ketagihan karena selain inspiratif dan empowering, membernya juga seru-seru. Kapan-kapan ya saya cerita.

Setelah semua keluarga selesai presentasi, saya baru sadar kalau di vision board saya tidak ada rencana tentang jodoh. Bahkan foto Super Junior yang disebelin Dudu juga tidak ada di board itu. Entah bagaimana, belajar bahasa asing, rencana naik Train to Busan, hidup sehat dan bisa masak malah jadi lebih prioritas. Dan semesta sibuk mengingatkan kalau saya lupa nempelin jodoh di vision board. Soalnya, di weekend yang sama, banyak yang mendadak ribut kalau saya kurang sosialisasi, malas kenalan sama cowok, dan egois karena meskipun saya happy sendirian, anak saya kan butuh sosok bapak.

Yah, tahun depan deh. Udah jadi tuh papan-nya.

11 June 2017

Pesan Budaya End of Black Era

End of Black Era adalah film bergenre fantasi yang hadir dengan sebuah misi untuk memperkenalkan budaya Indonesia, dalam hal ini kain lurik dan kerajinan tembaga dari Jogjakarta, kepada anak muda Indonesia. Minggu lalu, saya dan Dudu nge-date sambil memenuhi undangan menyaksikan screening film pendek dari seorang costume designer bernama Aryanna Yuris. Film pendek yang setelah selesai nonton jadi pengen ngomel-ngomel minta lanjutannya dibuat segera hahaha. 


Cerita End of Black Era termasuk sederhana. Neewa melarikan diri dari sang Malapetaka dengan membawa Talisman yang diwariskan kepadanya. Ketika putus asa, Neewa memohon untuk diselamatkan. Namun bukanya selamat, Neewa malah terperosok ke dalam jurang. Kalau dilihat lagi, jurang itu justru menyelamatkan Neewa karena si Malapetaka jadi lewat begitu saja dan tidak melihatnya. Di jurang itu juga Neewa bertemu 4 orang dengan kostum aneh yang hubungannya bisa dilihat di episode berikutnya.

Pesan yang ingin disampaikan film pendek ini cukup jelas, terkadang apa yang kita lihat sebagai kemalangan adalah upaya yang maha kuasa untuk menolong kita. Ketika kita bertemu malapetaka, bukan berarti lantas kita dapat cobaan, karena kadang melalui malapetaka itulah kita mendapat jawaban, jelas Yongki.

Kalau mengikuti Oscar alias Academy Awards, yang saya tunggu-tunggu bukan pengumuman Best Picture, Best Actress atau Best Actor tapi Best Costume, Best Soundtrack dan Best Screenplay. Soalnya, meskipun aktornya penting, tapi saya lebih senang memperhatikan kostum dan properti pendukung lainnya karena mereka pasti punya cerita dan pesan sendiri yang ingin disampaikan.

Sama seperti End of Black Era, yang ketika kita bertemu Neewa dan penduduk desanya, kita paham makna dan cerita yang ingin disampaikan kain lurik dan hiasan telinga yang merupakan detail kostumnya. Soalnya sebelum kita dipertemukan dengan Neewa, sang tokoh utama, di screening ini kita bertemu dengan dua tokoh dibalik kostumnya.

05 April 2017

One Afternoon at Peter Pan On Ice

Sederetan anak yang duduk di depan saya dan Dudu ribut sendiri. Padahal babak kedua Peter Pan on Ice sudah mau mulai. Masalahnya ada murid cewek yang tidak mau duduk sebelahan sama murid cowok. Biasalah, umur mendekati ABG, duduk sebelahan saja sudah “cieee.” Lalu pindah lagi, berdiri lagi, minta temannya tukaran tempat duduk lagi. Hadeeh.

Dudu:
Kenapa mereka, Ma?
Mama: Biasa, Du, seumuran kamu pasti itu. Kalo sama cowok sok jijik.
Dudu: Seperti teman-temanku kalau aku pegang langsung lari.
Mama: Iya, lagi jamannya. Nanti 10 tahun lagi bakalan meluk cowok ngga mau lepas seperti perangko.
Dudu: Ooo sudah pacaran ya, Ma?

Dan sepertinya percakapan kami terdengar oleh anak-anak tersebut karena mereka langsung duduk rapi sambil takut-takut menoleh ke belakang, mencari Mama edan yang membahas topik pacaran dengan anaknya seperti membahas mau makan apa malam itu.




Lalu Babak keduanya dimulai, tapi drama muncul di sekitar kita berdua yang mungkin salah pilih tempat duduk. Soalnya kanan kiri dan belakang penuh anak-anak cowok seumuran Dudu yang berisik ngobrol sendiri. Sampai saya menoleh terus bilang “Ini anak sekolah mana ya? Bisa tenang?” Lalu semuanya berusaha duduk diam, meskipun masih ada beberapa adegan “sst… sst” dari teman-temannya. Setidaknya setelah itu saya lebih fokus nonton Peter Pan on Ice.

28 November 2016

Cerita Rumah Idaman Generasi Philips Hue

“Jika rumahku menggunakan Philips Hue, aku mau mengubah warna lampunya dengan tema game atau filmnya. Jadi misalnya aku nonton Smurfs, akan ku ubah warnanya menjadi biru biar ada sensasinya. Bukan cuma Smurf, Trolls, Transformers, film Zombie dan lain-lain. Juga karena Omaku suka tidur sebelum matikan lampu, kalau ada Philips Hue bisa mati otomatis dan kita tidak akan membuang-buang listrik.” – Dudu, 10 tahun




Bicara Philips Hue dengan Dudu, yang kalau menurut istilah sekarang adalah seorang digital native, memang tidak ada habisnya. Dari lahir sudah connect to wi-fi. Philips Hue juga begitu. Philips Hue adalah sistem pencahayaan terkoneksi yang memungkinkan kita bermain dengan warna menggunakan teknologi yang ada. Inovasi terbaru lampu Philips Lighting ini sebenarnya sudah dikenal pasar luar negeri selama 2 tahun, dengan 5.6 juta lightpoints di seluruh dunia, namun Philips Hue di Indonesia baru memasuki pasar di minggu lalu.

14 November 2016

Delicious Musical Bibap in Jakarta

Kemarin mungkin adalah hari Sabtu dengan paling banyak tawa yang pernah terjadi. Mulai dari reuni teman kuliah saat makan siang, yang namanya ketawa, tidak berhenti sampai berakhirnya show Musical Bibap di jam makan malam. Bibap? Yes, yang tahu Nanta Show wajib nonton Bibap juga.

Thanks To Tiwi for the picture :)
Ini Bibap menurut Dudu:"Bibap adalah permainan musik dengan tema memasak dan lucu juga dari korea. Di sini ada dua Master Chef: Green Chef dan Red Chef. Mereka bertanding memasak Japanese sushi, Italian pizza, Chinese Chicken rice dan korean Bibimbap. Pemenangnya tergantung pilihan penonton bisa jadi Green Chef atau Red Chef. Ada scene dodge ball dengan bantal. Sesungguhnya aku berharap Green Chef yang menang. Setelah kemenangan ada beat box bermain music rock."

16 October 2016

A Glimpse of Future at ArtScience Museum 

Di antrian imigrasi Changi Airport minggu lalu, Dudu tiba-tiba bertanya, “kapan kita akan kembali ke Singapura lagi?” Well, kalau ArtScience Museum sudah ganti exhibition lagi. Yang mungkin tidak terlalu lama karena kita datang di penghujung pameran Big Bang Data.

Museum yang terletak di kawasan Marina Bay Sands itu adalah salah satu tujuan utama kita di Singapura. Rasanya ada yang kurang kalau belum ke sana, apalagi ketika mereka menghadirkan pameran baru. Kekecewaan dan rasa penasaran karena gagal mengunjungi museum ini ketika Playdate Singapore-Legoland bulan Juni kemarin terbayar dengan kunjungan kali ini.

And guess what, kita masih bisa menyaksikan Big Bang Data sebelum pameran yang satu itu kembali melanglang buana. 



Jumlah foto yang diuplad di Flickr selama 24 jam di thn 2011
Datang di Jumat siang lewat MRT Bayfront, saya yang membawa sepasang anak mau ABG ini memutuskan makan siang di Marina Bay Sands. Ternyata begitu masuk ArtScience Museum, tempat membeli tiket di lantai 1 sudah berubah jadi café yang menggoda untuk mampir. Loketnya sendiri pindah ke basement, yang tadinya digunakan untuk penjualan merchandise. Jumat adalah Family Free Friday, di mana anak-anak berusia 12 tahun ke bawah bisa masuk gratis dengan pembelian 1 tiket dewasa. Jadi saya hanya membayar SGD 30 untuk masuk ke semua bagian. Akibatnya, museum jadi penuh dan beli tiketnya antri panjang.

Baca: 24 Hal gratis untuk wisata keluarga di Singapura 


Banyak yang bilang The Future World adalah “must-visit” (dan saya tidak bisa lebih setuju lagi setelah masuk dan mencobanya sendiri) tapi karena bagian yang ini memiliki jam masuk tertentu (10am, 11.30am, 1pm, 2.30pm, 4pm dan 5.30pm), maka saya memutuskan untuk mampir ke pameran yang sudah hampir berakhir itu: Big Bang Data.

31 August 2016

Ayo Ikut Belanja Seru di Ikea Indonesia

Hej!

Jauh sebelum tulisan itu terpampang di pintu masuk IKEA Indonesia, saya pernah melihatnya di kertas surat dari sahabat pena pertama saya jaman SMA yang berasal dari Malmö, Swedia. Setelah hampir 10 tahun hilang kontak, kami bertemu lagi di media sosial dan tiga huruf itu kembali muncul di hadapan saya. I truly missed talking to her, like I missed walking through the aisle of IKEA. Buat saya, keduanya membawa kembali kenangan masa lalu saya, yang tertinggal di belahan bumi sebelah sana. 



Saya dan Andrew sudah merencanakan mau ke IKEA Indonesia berdua, sarapan meatball lalu belanja. Tapi Andrew keburu pergi duluan dengan orang tua saya (yang waktu itu sudah super tidak sabar mau ke IKEA 
Indonesia), sementara saya baru kesampaian berbulan-bulan kemudian ketika ada talkshow rumah ramah anak dari The Urban Mama. Kata orang "there's a will, there's a way," jadi pada suatu pagi saya berhasil pergi ngedate sama Dudu ke IKEA Indonesia.

Varför? Kenapa?
Ini adalah 5 itinerary kita di IKEA Indonesia


29 August 2016

Kekuatan Super Sebuah Pulpen

Setengah dekade sebagai jurnalis lifestyle, “nasihat” yang sering saya dengar adalah tentang sepatu. “Good shoes will take you to good places.” Atau quote Marilyn Monroe yang terkenal itu: “Give a girl the right shoes, and she can conquer the world.” Tapi buat saya, yang penting itu bukan sepatu tapi pulpen.



Saya selalu pakai sepatu high heels andalan ketika harus bertemu petinggi perusahaan dan negara, yang sebagian datang dari luar negeri itu. Ketika ngobrol sambil berdiri memang lebih membawa percaya diri, namun ketika kita duduk terpisahkan meja untuk interview, sepatu sudah terlupakan. Yang terlihat di atas meja, selain rekorder adalah notepad dan pulpen. Saat itulah, memiliki pulpen istimewa lebih mengena daripada sepasang sepatu mahal yang tersembunyi di kolong meja. Untuk saya, pulpen adalah nyawa dan saya biasanya lebih panik kalau ballpoint.macet daripada rekoder (atau jalanan) macet. Dan sudah jadi kebiasaan dalam tas saya selalu ada pen dan notebook, just in case ada ide mendadak muncul di jalan yang harus segera ditulis. 

Lalu saya gantung sepatu. Pensiun jadi jurnalis dengan high heels. Tapi saya tidak gantung pulpen. 

Setiap pen ada special giftboxnya

22 July 2016

Kumpulan Cerita Kreatif Kita

Pertanyaan yang sering muncul ketika saya melihat anak belasan tahun sudah berprestasi adalah: “saya ngapain saja umur segitu?” Sekarang saya dihadapkan dengan anak pra-remaja, umur Dudu sudah 2 digit lho, dan mungkin saya harus mempersiapkan anak ini untuk jadi remaja kreatif. Caranya?

Waktu SMA dulu saya pernah bikin tabloid gossip dong. Yang digambar layout, ditulis tangan, difotokopi dan disebarkan ke satu angkatan. Kolaborasi sama teman yang bisa gambar kartun. Gosip kakak kelas, adik kelas, gosip guru, gosip pengurus yayasan sekolah, pokoknya semua kena jadi bahan. Tapi tidak berlangsung lama karena saya capek buatnya manual, meski penulisannya juga sudah dibantu teman. Fotokopinya juga repot.

Jaman sekarang Dudu lebih enak. Katanya dia mau jadi pemain walkthrough di Youtube. Sekarang juga anaknya sudah sering minta masuk video sedang menjelaskan objek wisata. Sayangnya, sama seperti si Mama dulu, kita tidak punya sumber daya yang memadai (maksudnya kamera dan mic) untuk membuat video yang bagus. Jadi kreativitas Dudu sebagai Vlogger berhenti di rekaman standard yang menjamur di hard disk komputer Mamanya.

Dari hobi nulis, jadi ikut lomba dan masuk booklet salah satu susu formula
Jaman SMP, saya juga sering menulis dan mengirimkannya ke majalah sampai dimusuhi teman sebangku. Soalnya dia kira dongeng yang dimuat di majalah sekolah itu terinspirasi dari perseteruan kita beberapa hari sebelumnya. Sebenarnya memang iya. Kan ide bisa datang dari mana saja ya, dan sebagai penulis kita bebas menentukan sudut pandang. Bebas dong siapa yang jadi serigala dan siapa yang jadi domba di fabel tulisan saya itu. Untungnya kita sudah baikan ketika si teman mau pindah sekolah.

Mungkin itu hal ter-kreatif yang pernah saya lakukan ketika remaja. Dan gara-gara itulah saya jadi cinta sama yang namanya menulis. Disuruh 1 halaman folio, essay saya luber sampai ke lembar berikutnya. Saya sampai berdebat dengan guru Bahasa Indonesia bahwa tulisan yang belum selesai itu harus dilanjutkan sampai tamat meskipun panjangnya melebihi ketentuan. Kebiasaan ini saya bawa sampai sekarang dan saya jadi repot kalau ada pembatasan jumlah kata dalam sebuah lomba atau postingan. Kalau tulisan lepas bebas seperti yang ini bisa sekali jadi, tulisan yang memberikan batasan jumlah kata harus 2-3 hari karena selesai saya tulis, saya diamkan dulu baru kemudian diedit.

Jaman Dudu remaja besok, pasti sudah bukan menulis lagi. Meskipun Dudu senang membuat cerita, tapi dia tidak suka duduk mengetik terlalu lama. 1-2 paragraf habis itu dia bosan. Tapi kalau disuruh bicara, dari matahari terbit sampai terbenam dijamin belum selesai. Ceritanya selalu tentang game, jadi Dudu saya masukkan kelas coding. Okelah kalau dia malas menulis yang terlalu panjang, tapi kalau belajar coding dia betah duduk manis mengotak-atik hingga gamenya jadi sesuai keinginan dia. Jadi mungkin ketika dia remaja kelak, dia bisa menuangkan kreativitasnya dengan game.

Ini buatan Dudu (dan saya) lho.
Oh, ada satu lagi yang terlewat. Once upon a time, saya bercita-cita mau jadi fashion designer. Ya macam Tex Saverio begitu. Tapi saya tidak bisa menggambar, mewarnai dan hanya bisa membayangkan ide-ide di kepala. Saya suka membuat tambahan baju sendiri untuk boneka kertas bahkan menjahit baju barbie dari kain perca. Lalu suatu hari saya ikut lomba desain baju barbie dari Toys R Us dan entah bagaimana saya dapat juara 3. Senang memang, meskipun ketika melihat hasil karya juara satu, saya langsung hilang mood menggambar. Soalnya sementara saya hanya pakai pensil 2B dan pensil warna biasa, si juara satu sudah pakai spidol emas dan perak yang saat itu tidak terbeli oleh saya. Sedih juga rasanya seperti kalah modal dan usaha, bukan kalah kreativitas.

Sampai di sini saya jadi berhenti sejenak. Tenyata ada toh yang saya hasilkan ketika remaja dulu. Ada juga hasil kreativitas yang bisa diceritakan dan dibanggakan, meskipun tidak harus ditiru si Dudu. Agak bertanya-tanya juga kok saya malah sibuk aneh-aneh bukannya pacaran ketika remaja dulu? 

Pas punya anak jadi senang scrapbooking
Last but not least, let me end this creativity rambling with a story. Jadi ketika saya mengikuti ujian kenaikan kelas saat SMP, guru penjaganya bukan dari SMP saya. Tapi tukaran dengan guru dari SMP lain. Ujian ini diberikan waktu pengerjaan dan murid yang sudah selesai tidak boleh keluar kelas. Harus menunggu sampai waktunya habis. Jadilah karena saya bosan, saya mulai membawa setumpuk kertas origami ke dalam kelas, yang kemudian disita guru penjaga. Ketika saya sudah selesai mengerjakan ujian, saya hampiri guru penjaga, saya tukar kertas ujian saya dengan kertas origami. Bisa ditebak kalau sisa waktu ujian itu dihabiskan dengan membuat burung, bunga, kupu-kupu dan segala macam bentuk yang bisa saya hafalkan lipatannya. Kreatif mengisi waktu daripada bengong menunggu bel tanda waktu habis berbunyi.

Pantesan sekarang si Dudu juga suka aneh-aneh. Ternyata saya dulu juga macam-macam kelakuannya.