Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

17 May 2024

Manfaat Mengambil Short Course untuk Blogger

Salah satu ‘me time’ favorit saya adalah belajar. Aneh ya? Well, saya senang ikutan kursus maupun webinar yang memberikan pengalaman dan pengetahuan baru. Biasanya saya mencari materi yang relevan dengan kehidupan dan passion saya. Sebagai seorang blogger dengan beragam tanggung jawab di luar dunia menulis, saya harus bijaksana memanfaatkan waktu 'me time' untuk memulihkan kreativitas saya.

Banyak solusi klasik seperti healing, minum kopi, atau mengubah suasana, setiap penulis memiliki pendekatan uniknya sendiri untuk mengatasi krisis kreativitas. Belajar juga bisa jadi ‘me time’ karena seringkali kegiatannya tidak bisa disambi. Kalau kata anak jaman sekarang namanya “mindful.” Meskipun pertemuan diadakan secara online, ketika belajar kita harus fokus menyimak, berinteraksi dengan guru dan murid, serta sepenuhnya berada di kelas. 

Efeknya agak sedikit mirip dengan membaca buku atau menonton film di bioskop, di mana kita memberikan perhatian penuh pada apa yang sedang kita baca atau tonton. Begitu kembali ke dunia nyata, pikiran kita lebih fresh

(Photo courtesy of Ani Berta)

Belajar Bahasa Inggris Online Bersama TBI Bandung

Kali ini, yang saya ikuti adalah “Blogger Short Course for Creative Writing” bersama The British Institute (TBI) Bandung dan Komunitas ISB. Kelasnya dilaksanakan secara online selama 3 hari berturut-turut pada pukul 10:00 hingga 12:00 WIB. Kenapa short course? Mengikuti short course dapat memberikan insight baru tanpa komitmen jangka panjang. Cocok bagi mereka yang sibuk, namun mencari kegiatan bermanfaat. Selain itu, short courses dengan topik spesifik dapat membantu saya me-refresh skill yang dimiliki.

Minggu ini, jadilah hari Senin saya dimulai dengan mengantar anak sekolah, lalu duduk manis depan laptop bersama secangkir kopi untuk mengikuti kelas. Kelasnya tidak terlalu besar, jadi belajarnya juga efektif. Di kelas yang saya ikuti di 13 - 15 Mei 2024 kemarin, ada 9 orang blogger yang berpartisipasi. Blogger yang biasanya hanya berinteraksi di WAG, sekarang bisa tatap muka dan ngobrol meski virtual

Hari pertama dimulai dengan perkenalan, lalu dilanjutkan dengan jalan-jalan ke South Africa. Hari kedua, kami semua membahas musik dan festival musik. Hari terakhir, topiknya street food. Di setiap kelas, belajar Bahasa Inggris dikemas dengan topik yang seru dan sesi interaktif yang mengajak setiap murid berpartisipasi. Pengenalan adjective atau kata sifat dan passive voice atau kalimat pasif, jadi lebih mudah diingat ketika dibawakan melalui topik-topik yang menarik. 

20 February 2022

Butuh Break? Main Word Game Seru Ini

Ada 10 menit break sisa dari makan siang yang sekarang cuma di meja makan rumah. Tidak perlu jalan dari kantin ke meja, tidak perlu ngobrol bareng teman. Tidak perlu jajan beli kopi juga. Lalu mau ngapain?

“Kenapa Mama tidak bermain game saja?”
Begitu saran si Dudu. Masalahnya, saya bukan tipe yang suka main game di ponsel atau laptop. Dan saya tidak suka game tembak-tembakan juga. Jadi apa dong?


Jaman kuliah dulu, ada 4 koran yang dibagikan secara cuma-cuma di lingkungan sekitar kampus saya: New York Times, USA Today dan 2 koran lokal. Saya sering mengambil edisi hari minggu lalu mengklipping komik dan mengerjakan crossword puzzle. Crossword Puzzle milik New York Times ini terkenal sulit, dan bisa mengisi maksimal 5 saja saya sudah bangga haha. Tapi kalau mengerjakan ini, biasanya saya menghabiskan setengah hari sendiri sebelum menyerah. Kalau digunakan untuk mengisi waktu lunch break, bisa-bisa tidak kembali bekerja dong. So, saya mampir ke website nytimes.com dan merasa menemukan harta karun dengan adanya 3 mini-games berikut yang bukan hanya ‘puzzle’ tapi juga main-main dengan kata.

06 September 2021

Menggunakan Podcast Sebagai Alat Bantu Belajar Bahasa Asing

Ketika lagu-lagu patah hati tidak lagi menarik untuk didengarkan, saya beralih ke podcast.

Banyak research yang menemukan bahwa penggunaan aplikasi seperti podcast pada proses belajar Bahasa asing membantu performa dan meningkatkan motivasi untuk menjadi fasih. Jadi, ketika saya hanya bisa mengikuti kelas Bahasa Korea 2x seminggu, dan tidak bisa menemukan waktu luang untuk mengulang pelajaran sebelum kelas berikutnya, saya beralih ke podcast.


Podcast adalah teman terbaik saya ketika menyetir mobil. Soalnya perjalanan 1-2 jam setiap pergi dan pulang kantor berarti extra time untuk saya belajar Bahasa. Tidak mengganggu konsentrasi karena hanya mendengarkan, dan tidak banyak berbeda dengan mendengarkan music. Pelajarannya pun disesuaikan dengan topik yang sedang dibahas di kelas, dan podcastnya dipilih sesuai dengan kemampuan.

Podcast yang sering saya putar adalah Talk to Me in Korean (TTMIK).

Di website TTMIK, para pengajar ini mendeskripsikan dirinya sebagai “orang –orang yang berkumpul untuk mewujudkan ide yang membantu orang-orang yang ingin belajar Bahasa Korea dengan cara yang praktis dan menyenangkan.” Dan mereka punya semuanya mulai dari Youtube, website, buku pelajaran dan sertifikasi kursus. Makanya ketika saya menemukan mereka punya podcast di Spotify, yang bisa diakses gratis, saya seperti menemukan harta karun. Soalnya saya bisa mendengarkan mereka di mobil.

So what are the courses available?

Talk to Me in Korean – Core Korean Grammar

Untuk yang baru belajar, seri Podcast ini cocok untuk didengarkan karena pelajarannya beneran mulai dari awal. Kurikulumnya juga dibagi berdasarkan tingkat kesulitan dan topik yang dipelajari. Saya sering memutar seri ini ketika di kelas kursus sedang membahas topik yang lumayan sulit dihafalkan atau dipahami. Misalnya belajar angka. Mendengarkan pelajaran angka setiap hari di mobil membantu saya menghafal angka lebih cepat dan tidak tertinggal pelajaran di kelas. Seri podcast ini juga berguna ketika saya ingin mengulang topik tertentu karena lupa. Setiap episode panjangnya sekitar 10-20 menit. Ada 10 level yang bisa didengarkan dan setiap levelnya ada 20-30 lesson yang bisa jadi pelajaran.

24 February 2021

Belajar Bahasa Baru di Usia 30

Sering kita dengar bahwa anak-anak belajar bahasa lebih cepat daripada orang dewasa. Bahkan saat mengikuti kursus belajar bahasa Korea beberapa waktu lalu pun saya merasa bahwa saya tertinggal jauh dibandingkan teman-teman satu kelas yang rata-rata masih kuliah atau baru mulai bekerja.

30 adalah usia sebenarnya menjadi dewasa, setidaknya untuk otak kita. Ahli neuroscience dari Harvard, Leah H. Somerville, menulis di jurnal Neuron bahwa volume otak secara keseluruhan berkembang maksimal pada usia 10 tahun, dan otak bagian belakang berkembang sempurna di usia 20-an. Namun bagian otak depan masih membentuk jaringan baru hingga usia 30 tahun. Rasanya lega, soalnya saya masih bisa belajar bahasa Korea meskipun umur sudah mendekati kepala 4.

Saya vs Dudu pernah belajar bahasa Jawa

Kemampuan berbahasa asing penting karena dapat meningkatkan percaya diri, memperluas networking, menjadi nilai tambah saat melamar kerja serta meningkatkan kerja otak. Mark Antoniou, Psycholinguist dari Western Sydney University-Australia menulis di Annual Review of Linguistics, bahwa menguasai dan menggunakan setidaknya dua bahasa secara rutin dapat menunda timbulnya Alzheimer.

Di kelas-kelas kursus Bahasa Korea, saya sering jadi murid paling tua. Tapi dengan mengetahui teknik yang tepat, terutama setelah menyadari bahwa kemampuan penyerapan bahasa asing saya tentunya lebih lambat dari “anak-anak muda” ini, saya bisa mengikuti pelajaran dan akhirnya lulus les bahasa Korea dengan nilai tak kalah bagus.

Jadi, apa yang saya lakukan?

Berdamai dengan Ekspektasi

Saya terakhir belajar bahasa asing dengan benar ketika saya SMA. Belajar bahasa Perancis dan lulus ikut ujian standardisasi. Hanya dalam waktu 6 bulan ikut kelas intensif sudah bisa ngobrol kanan kiri. Hampir dua dekade kemudian, saya belajar bahasa Korea karena terjerumus ke dunia Kpop. Eh, kok susah. Ikut kursus sudah 6 bulan baru bisa dasarnya, tulisan Hangul saja tidak hafal-hafal. Apalagi menurut penelitian, untuk jadi fasih, sebaiknya mulai belajar bahasa sebelum usia 18 tahun. Saya auto merasa bodoh.

Idol favorit saya pernah acting jadi guru bahasa.

Ternyata ekspektasi saya ketinggian. Tadinya menyalahkan usia, tapi ternyata kesibukan juga turut menyumbang lambatnya perkembangan bahasa Korea saya. Les bahasa 2x seminggu, terkadang bolos karena lembur. Bikin PR last minute karena tidak sempat mengulang pelajaran di luar les. Tentu saja hasilnya tidak sebanding dengan jaman SMA yang bisa review lebih intense. Jadi, sebelum memulai belajar, lihat ke diri sendiri dan jadwal sehari-hari. Berapa banyak waktu yang ada untuk belajar bahasa asing dan sesuaikan ekspektasi kita.

Set Personalized Target

Ada dua macam target: jangka panjang dan jangka pendek. Ketika memutuskan untuk belajar bahasa Korea, saya punya mimpi harus bisa at least bertanya jalan kalau saya nyasar di Korea pas liburan suatu hari kelak. Target jangka panjang saya tidak ada waktunya. Target jangka pendek ada deadline-nya. Misal, saya harus bisa menghafal 10 karakter Hangul setiap minggunya. Dalam 1 bulan, saya harus menambah 10 kosakata baru.

Lebih seru lagi kalau target-target ini dibuat personalized. Saya follow social media penyanyi Kpop favorit saya dan saya punya target setidaknya dapat membaca postingan mereka yang dalam tulisan hangul tanpa melihat kamus. Ketika saya naik ke level berikutnya di tempat kursus, target saya menjadi ‘memahami postingan idol Kpop tanpa melihat kamus’.

Mencari jalan keliling Korea Selatan

Personalized target juga jadi motivasi tersendiri agar tidak mudah menyerah di tengah jalan karena ada reward yang didapatkan. Misalnya, dengan berhasil me-reply postingan idol favorit di media sosial dengan tulisan Hangul, saya merasa kesempatan untuk dipahami oleh sang idol jadi lebih besar. Atau ketika bisa merespon pertanyaan idol di konser tanpa harus menunggu penerjemah, rasanya sudah seperti dapat sertifikat kelulusan. Motivasi yang sama inilah yang membawa saya belajar bahasa Inggris saat SD dulu.

Belajar Secara Konsisten

Sudah set ekspektasi dan punya motivasi, sekarang saatnya tips belajar bahasa asing yang saya praktekan untuk mengejar ketertinggalan dengan teman-teman sekelas.

Yang pertama adalah mengulang tiap hari. Bekerja full-time dan sering lembur, menyisihkan waktu setiap hari untuk belajar adalah tantangan. Jadi instead of 30 menit fokus belajar setelah pulang kantor dengan keadaan lelah, saya menyisipkan 5-10 menit untuk review vocabulary lewat aplikasi belajar bahasa atau scrolling instagram idol Kpop saat jalan dari meja ke kamar mandi. Jaman masih WFO, saya menghabiskan perjalanan di mobil mendengarkan podcast belajar bahasa Korea di Spotify.

Aplikasi kesukaan saya buat belajar Bahasa Korea adalah memrise

Yang kedua, bergabung dengan komunitas di Facebook Group atau mengikuti media sosial komunitas sambil rajin memberikan comment dan interaksi. Kalau ada temannya, belajar jadi lebih mudah dan semangat. Yang terakhir adalah jangan lupa praktek. Menulis dan membaca bisa dari media sosial. Mendengar bisa lewat nonton IG Live atau Youtube idol Kpop. Kalau speaking? Saya mau tidak mau harus ikut kelas untuk bisa ngobrol. Sejak pandemi, banyak conversation class lewat zoom, yang bisa diikuti untuk latihan berbicara.

Buat saya yang lebih suka boyband daripada film, karaoke jadi cara paling efektif buat belajar bahasa. Karena saat karaoke, kita bisa belajar 2 hal sekaligus yaitu membaca dan melafalkan kata dengan benar.

Let me end this story with a happy ending.

Saya akhirnya jalan-jalan ke Korea, setahun setelah saya memutuskan untuk belajar bahasanya. Di sana saya berhasil bukan hanya bertanya jalan seperti target semula tapi bisa mengarahkan supir taksi di Seoul, menjelaskan masalah kepada petugas bandara di Jeju, memesan makanan serta membeli tiket bus di Sokcho yang penduduknya mayoritas tidak mengerti bahasa Inggris.


Akhirnya kami berdua mendarat juga di Korea - dan bisa praktek bahasanya

Intinya, jangan menyerah walaupun progress kita mungkin tidak secepat anak-anak remaja yang baru dengar sekali lagu Kpop bisa langsung hafal liriknya. Belajar bahasa baru sampai lancar di usia lebih dari 30 tahun itu mungkin karena memang tidak ada kata terlambat untuk belajar.

03 April 2019

Belajar Menulis Nama Dengan Aksara Jawa

“Kalau orang tuanya memberi nama yang panjang, anaknya merasa seperti dikhianati.”

Kalimat itu keluar ketika saya dan Dudu duduk barengan di kelas Aksara Jawa, belajar menulis nama dengan Hanacaraka. Kok bisa? 



Alkisah di satu Sabtu yang random tapi cerah, kita berdua mampir ke Astori Coffee di pom bensin Pertamina jl. Antasari untuk belajar menulis Aksara Jawa dan pasangannya. Sama-sama mulai dari nol. Gurunya adalah anak muda lulusan Sastra Jawa bernama Sekar. Kelasnya gratis, tapi kita diminta bawa buku dan alat tulis sendiri. Buat yang tidak bisa Bahasa Jawa gimana? Ya tetap bisa ikutan, soalnya kelasnya ini menulis Aksara Jawa tapi bahasanya tetap Indonesia. Misalkan kita menulis “tawa”, yang digunakan adalah huruf “ta” dan “wa” tanpa perlu menterjemahkan kata tersebut ke dalam Bahasa Jawa. Dudu juga tidak bisa Bahasa Jawa kok.

(Baca review Astori Coffee di sini ya)

Berbeda dengan huruf Mandarin, Hiragana Jepang dan Hanggul Korea, aksara Jawa ini lebih mirip melukis dan harus dituliskan dalam sekali coret.Tantangan terbesarnya adalah menghafal huruf yang terlalu mirip satu dengan yang lainnya. Selama 2 jam kita belajar sekitar 20 huruf, 20 aksara Pasangan dan 10 Sandhangan alias aksara tambahan. Pusing tapi seru! 

Aksara Jawa kayak apa sih?

25 February 2019

Melestarikan Bahasa Ibu Dimulai dari Orang Tua

“Nomor tujuhnya ada di atas.”
Weekend kemarin Dudu (hampir 13 tahun) mengarahkan seorang kakek yang kebingungan menekan tombol lift. Si kakek salah menekan angka 5 dan 3 sebelum akhirnya Dudu membantu menekan nomor 7.
“Thank you. Eyes no good.”
Itu yang diucapkan anak si kakek kepada Dudu, meskipun Dudu dari tadi berbicara bahasa Indonesia. Cuma karena muka si Dudu terlihat bule.

“Anaknya bisa Bahasa Indonesia, Bu?”
Saya sering dapat pertanyaan seperti itu, yang terkadang dijawab langsung sama Dudu, “saya bisa Bahasa Indonesia.”


(Baca Juga: Anak saya Bilingual)

Dudu sekolah di international school, di mana bahasa Indonesia hanya digunakan untuk bicara dengan pak supir, satpam atau cleaner sekolah. Mbak dan suster bisa bahasa Inggris, bahkan Mandarin. Semua percakapan di sekolah menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia hanya materi pembelajaran seperti kita belajar bahasa Inggris di sekolah dulu. 

Official Poster UNESCO
ada yang bisa temukan Bahasa Indonesia di situ?
Tanggal 21 Februari kemarin adalah Hari Bahasa Ibu Internasional sesuai ketetapan UNESCO, berdasarkan hari Gerakan Bahasa di Bangladesh yang merupakan perjuangan untuk pengakuan bahasa ibu mereka di dunia. Tujuan dirayakannya Hari Bahasa Ibu Internasional ini adalah mencegah punahnya bahasa-bahasa di dunia karena ketertarikan generasi millenial dalam mempelajari bahasa asing. Selain itu,dunia yang semakin terbuka, dengan internet dan media sosial, membuat bahasa asing jadi semakin penting untuk komunikasi.

Eh, tapi Dudu masuk generasi millenial tidak ya? Well, millenial ini lahir di pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Dudu lahir 2006 jadi mungkin masih borderline millenial ya. Yang agak menyedihkan, kalau saya mampir ke sekolah Dudu adalah banyaknya anak yang lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Padahal mereka semua orang Indonesia, lahir di Indonesia dalam keluarga Indonesia.

Percaya atau tidak, si bule di rumah saya ini bahasa ibu-nya adalah Bahasa Indonesia. Saya pernah beberapa kali curhat soal ini di blog. Bahasa Indonesia Dudu baku, jadi banyak yang menyangka dia sulit berbahasa Indonesia. Padahal itu gara-gara waktu kecil, dia keseringan nonton Spongebob dan Doraemon. Ups. Tapi seiring pergaulan yang banyak menggunakan bahasa asing, saya harus tetap menjaga Bahasa Indonesia agar tidak ‘dilupakan’ oleh generasi anak saya ini.


16 August 2018

Tentang Menulis Sebuah Perjalanan

“It doesn’t matter if your writing is good, if your journey isn’t good, it’ll be hard to come out with a good travel writing.”

Begitu kata Agustinus Wibowo, seorang travel writer sekaligus penulis buku Ground Zero: When the Journey Takes You Home, di Travel Writing Workshop bersama The Jakarta Post Writing Center yang saya ikuti weekend kemarin. Setelah lama absen dari event dan kelas menulis, saya mulai sign up lagi. Kangen belajar, kangen ketemuan teman-teman baru.


Courtesy of The Jakarta Post Writing Center
Apa itu “Good Journey”? Harap diperhatikan bahwa good journey bukan berarti perjalanan mahal super mewah maupun perjalanan murah meriah ala backpacker. Yang memutuskan apakah sebuah perjalanan adalah good journey adalah kita sendiri. Dalam hal ini, saya dan Dudu. Ada 4 hal yang saya catat, yang bisa membuat perjalanan jadi sebuah good journey.

13 May 2018

Book Review: Sad Girls by Lang Leav

“We all need to follow our intuition, even if it takes us down the wrong path. Otherwise, you’ll always be second-guessing yourself.”

Sepotong nasihat tersebut diberikan seorang publisher kepada tokoh utama yang bekerja menjadi seorang jurnalis di korannya. Audrey, sang tokoh utama, saat itu sedang galau dan memutuskan untuk resign dan pergi ke Colorado untuk memulai hidup baru. Sebuah perjalanan jauh mengingat setting cerita ini adalah Sydney, Australia.


Menyelesaikan buku karya Lang Leav ini jadi prestasi sendiri untuk saya, karena saya jarang baca buku yang terlalu cewek. But I think if I can finish this, then the book is not girly enough. Haha. Tokoh utamanya cewek, punya sahabat dekat cewek. Lalu konfliknya seputar pacar, ekspektasi orang tua dan mengejar mimpi. Lah, apa serunya? Yang membedakan buku ini dan mungkin buku-buku “coming-of-age” lainnya adalah di sini ada yang mati. Iya, mati. Dan karena saya selalu bilang kalau saya akan baca buku dan nonton film drama jika ada yang mati atau adegan tembak-tembakannya, saya meniatkan diri baca buku ini. 



Sad Girls
Pengarang: Lang Leav
Halaman: 362
Paperback
Tahun: 2017

Tapi sebelum lanjut, untuk yang sudah pernah baca puisi karya Lang Leav sebelumnya, jangan expect too much dari karya fiksinya. Baca saja, enjoy ceritanya dan abaikan bagian yang menurut kalian aneh.

18 August 2017

Bahasa Baku Si Dudu di Training Dubbing dan Voice Over

Familiar dengan Bahasa Indonesia super baku ala film kartun dubbingan? Yes, saya mendengar itu setiap hari dari si Dudu yang kalau berbicara pakai “saya” dan tata Bahasa yang baik dan benar. Semua itu terjadi bukan karena Dudu tidak bisa Bahasa Indonesia seperti yang dikira semua orang selama ini. Tapi karena anaknya belajar bicara bersama Spongebob dan Doraemon di TV. Kita semua tahu kalau anak kecil adalah peniru yang ulung.

Contohnya seperti ini: “Mama ayo bangun. Aku tidak mau tahu kalau Mama jadi terlambat bekerja karena tidak bangun-bangun juga.”



Bahasa Indonesia itu Bahasa pertama si Dudu kok. Dia native speaker Indonesia meskipun sekarang lebih banyak berbicara dan mensulih suarakan cerita action figurenya dalam Bahasa Inggris.

Pendek cerita, poster In House Training Blogger Reporter ID muncul di timeline social media saya. Temanya Dubbing dan Voice Over Bersama Kak Agus Nurhasan yang mengisi suara Suneo di Doraemon (2006 – 2008) dan Pria Bertopi Kuning di Curious George. Ikutan Training BRID ini ada perjuangannya sendiri. Mulai dari request approval untuk bergabung BRID yang ternyata masih digantung (maaf ya, saya memang jarang share link blog di FB karena di sana banyak sanak saudara dan teman masa lalu hahaha) hingga lokasi yang tidak familiar.

23 November 2016

Belajar Bahasa Korea: Dari Aplikasi Seru Hingga Pusat Kebudayaan

Memutuskan belajar bahasa baru di usia kepala 3 memang sulit dengan adanya kesibukan yang sudah segudang dan kemampuan menyerap bagai spons sudah berkurang jauh. Bermula dengan belajar sendiri lewat aplikasi, saya kemudian menyerah dan mencari tempat belajar yang serius karena saya percaya kalau tidak dipaksa, maka bahasa tidak akan terucap dari mulut. Tapi di mana? Ternyata meskipun yang namanya K-Pop dan K-Drama sudah menjamur dimana-mana, mencari kursus Bahasa Korea yang cocok dengan kebutuhan ternyata tidak semudah dugaan saya.


Dudu belajar bahasa Inggris di sekolah. Sempat les di Pingu, lalu pas masuk SD berhenti karena sekolahnya internasional dengan bahasa pengantar Inggris. Tidak sampai setahun dia sudah lancar dengan bahasa kedua. Sekarang Dudu sedang belajar bahasa Mandarin. Masih dari sekolah juga, dan sedang cari les. Kalau penasaran tentang Dudu dan dunia bilingualnya, bisa baca postingan tentang membesarkan anak bilingual ya.

Mencari kursus bahasa Inggris dan Mandarin termasuk gampang. Apalagi saya tinggal di Jakarta Utara, di sebuah apartment di atas mall. Jadi kalau bicara kebutuhan les bahasa si Dudu, saya tidak seberapa khawatir. Nah, begitu saya mantap mau belajar bahasa Korea, saya bingung setengah mati mau kursus di mana. Bahkan ada satu bulan habis Lebaran yang saya sempat sebal karena sudah ada niat kok tidak ada jalannya. Step pertama browsing, muncul beberapa nama yang kemudian saya stalking social media dan websitenya. Dari social media dan websitenya saya lihat lokasinya. Yang jauh-jauh juga terpaksa saya coret. Soalnya saya mau les pulang kantor, jadi kalau tidak dapat dicapai dalam waktu 1-2 jam dari kantor ya tidak mungkin diikuti. Beberapa yang ada emailnya, saya coba hubungi menanyakan apakah kursus bahasa Korea masih ada dan kapan ada pendaftaran murid baru.

Setelah melalui proses eliminasi awal, saya menemukan beberapa tempat kursus Bahasa Korea, yang kemudian saya bawa diskusi dengan beberapa teman saya. Akhirnya inilah tempat yang jadi pilihan utama.