Showing posts with label Lomba. Show all posts
Showing posts with label Lomba. Show all posts

24 October 2024

Tahun Ini Adalah Tahun Ke-20 Saya Ngeblog

Tahun ini adalah tahun ke-20 saya ngeblog. Eh, sudah selama itu ya? Ya, Dudu saja sudah 18 tahun, jadi sebenarnya masuk akal sih.

Pada zaman itu, blogging hanyalah sebuah hobby atau diary online. Dan tujuannya blogging, selain curhat adalah untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari Dudu. Makanya nama blognya juga Andrew and me. Dudu dan saya.

Seiring berjalannya waktu, blognya berubah. Saya pulang ke tanah air, Dudu semakin besar dan tulisan semakin banyak. Bukan hanya tentang parenting atau ide nge-date di Jakarta, tetapi juga tentang kehidupan saya sebagai single mom. Lalu, saya mulai ambisi. Ketika menulis sudah tidak lagi menjadi pekerjaan utama, blog saya mulai jadi penghasilan. Alias saya jadi blogger part-time yang happy ketika diundang liputan dengan kewajiban menulis. Namun, karena blog saya adalah blog gratisan, undangannya juga jadi terbatas.



Ambisi yang kedua adalah punya blog lebih dari satu. 

27 September 2023

Cari Peluang Uang Tambahan untuk Ibu Tunggal

Kita selalu mencari peluang untuk mendapatkan uang tambahan. 

Waktu Dudu masih TK dulu, pekerjaan pertama saya tidak menghasilkan banyak uang. Cukup untuk kehidupan sehari-hari tetap sulit menabung untuk liburan dan kelak kalau Dudu mau masuk SD. Terus cari uang tambahan dari mana agar tidak mengganggu cash flow yang ada sekarang jika mau pergi liburan keluarga atau membeli barang yang sedikit mahal, misalnya Dudu perlu punya handphone.


Itu saya, yang full-time bekerja, dan bisa menitipkan Dudu pada orang tua. Bagaimana dengan single moms yang ketika masih berpasangan dulu memilih untuk jadi ibu rumah tangga? Tentunya ada gap year di antara karir, harus catch up dengan banyak hal dan melalui proses panjang untuk kembali ke dunia kerja. Apa yang bisa dilakukan selain mencari pekerjaan tetap agar kembali berpenghasilan?

Kalo orang bilang ada banyak jalan menuju Roma, sebenarnya ada banyak peluang mendapatkan uang tambahan. Apa saja?

Ikut kompetisi ibu dan anak.

Lomba mewarnai, lomba foto, lomba fashion show dan lainnya. Semua kompetisi itu sering diikuti oleh saya dan Dudu ketika dia masih kecil. Kalau menang dapat uang. Kalau tidak? Selain dapat pengalaman, biasanya ada goody bag yang dibagikan dan isinya lumayan untuk kehidupan sehari-hari. Saking seringnya ikut lomba, saya sampai punya IG agregator lomba anak yang masih berjalan sampai sekarang.

Bagaimana caranya ikutan lomba? Dulu saya dan Dudu rajin hadir ke acara anak-anak di akhir pekan. Terutama yang gratisan dan terbuka untuk umum di mall. Kalau ada kompetisinya, ya kita daftar saja ikut. Selain bisa jadi kesempatan bonding bersama anak, kalau menang kan bisa dapat hadiahnya.

26 August 2023

Reza Permadi Menggandeng Teknologi Sebagai Sahabat Pariwisata Lewat Virtual Tour

Traveling adalah bagian dari kegiatan rutin saya dan Dudu. Sebelum pandemi, biasanya kami jalan-jalan setidaknya 2 kali dalam setahun ketika si Dudu libur sekolah. Lalu pandemi datang, dan jalan-jalan jadi tertunda. 

Di rumah saja bosan. Namun apa yang bisa dilakukan? 

Karena sering bermain media sosial, saya jadi paham dengan yang namanya wisata virtual. Beberapa grup travelling dan grup pekerja nomad yang saya ikuti di Facebook mulai mengadakan acara wisata virtual. Ada yang di Jepang, ada yang di Turki dan negara-negara lainnya. Ketika lockdown sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, wisata virtual mulai menjamur di semua platform. Semua orang kangen jalan-jalan tapi masih belum berani ke luar rumah. 

Konsep virtual tour atau wisata virtual ini menarik karena sebenarnya orang seperti saya, yang senang cek lokasi lewat google maps sebelum beneran sampai di tempatnya, secara tidak sadar sudah melakukannya. Saya senang merencanakan perjalanan, membuat itinerary dan mencari informasi tentang tempat yang saya tuju. Apalagi jaman sekarang sudah ada teknologi canggih yang memungkinkan kita “jalan-jalan” di layar laptop. Tinggal klik lalu bisa lihat 360 view dari satu tempat wisata. Atau bisa cek street view dari satu daerah dan menyusuri jalanannya, seakan-akan kita ada di sana. 


Kalau dipikir-pikir, ini jadi mirip main game RPG. 

Eh, di Indonesia juga bisa dong. Apalagi ada banyak daerah yang memiliki pemandangan indah namun sulit dijangkau secara offline. Dengan banyaknya orang jadi melek teknologi ketika pandemi, wisata virtual ke daerah-daerah ini sekarang bukan hanya wacana. Yang penting ada tour guide-nya. Karena biasanya jalan-jalan tanpa cerita itu jadi tidak ada maknanya. Salah satu penyedia jasa layanan virtual tour ini adalah Atourin.

Cerita Reza Permadi dan Atourin

Atourin adalah milik Reza Permadi, salah seorang penerima SATU Indonesia Awards tingkat Provinsi untuk DKI Jakarta di tahun 2021 kemarin. Gagasannya di bidang teknologi, yaitu Atourin, mengusung Wisata Virtual untuk Pegiat Pariwisata. Atourin yang didirikan pada tahun 2019 ini bertekad untuk memajukan industri pariwisata Indonesia sekaligus dapat berkontribusi meningkatkan perekonomian Indonesia melalui implementasi teknologi, mulai dari memberikan pelatihan untuk virtual tour bagi para pemandu wisata di Indonesia ketika pandemi menyerang.

27 September 2022

Do & Don’t Ketika Menginap di Hostel Bersama Anak

Salah satu pengalaman traveling yang paling berkesan buat saya dan Dudu adalah menginap di Hostel. Dari hostel kita banyak belajar, bukan hanya soal menginap di tempat baru tapi juga berbagi ruang dengan orang lain, menjaga keamanan barang dan tentunya lebih mendapat pengalaman bertemu dengan local culture.

Playdate di hostel

Hubungannya apa sama regenerative travel atau wisata berkelanjutan? Well, kalau dari kita berdua sih ada yang namanya tak kenal maka tak sayang. Wisata berkelanjutan ini kan erat hubungannya dengan bisnis dan usaha lokal, jadi ya minimal tinggal di hostel yang dijalankan oleh warga lokal. Selain memberikan pengalaman baru, tinggal di hostel juga menghemat budget. Bisa kok menemukan hotel murah terbaik yang ramah anak.

Di hostel juga kita akan lebih banyak berinteraksi dengan orang lain terutama saat bertemu di kamar mandi, ruang makan maupun ruang santai (biasanya tempat nonton TV). Ini adalah kesempatan untuk mengajarkan anak berinteraksi yang baik, cara ramah namun tetap waspada pada orang asing. Siapa tahu ada yang bawa anak juga, dan mendapatkan teman baru.

Bagaimana memberikan pengalaman menginap di hostel paling seru untuk anak?

  • Do book the whole room. Saya membooking hostel kalau pergi rame-rame. Waktu itu playdate travelling ala backpacker bersama beberapa keluarga lain. Total ada 3 ibu dan 5 anak. Kita book 1 kamar hostel dengan 4 bunk bed. Jangan lupa memastikan bahwa pihak hostel menerima tamu keluarga dengan anak-anak.

  • Do ajarkan tata kramanya. Misal tidak boleh ribut di lorong. Setiap anak dapat 1 loker, jadi mereka bertanggung jawab atas barang masing-masing. Kalau mandi di shared bathroom harus hati-hati dan menjaga barang-barang yang dibawa. Jangan sampai becek dan banjir karena kamar mandi ini digunakan oleh banyak orang.

10 August 2022

Keseruan Quality Bonding Time di Oreo 110th Birthday Celebration

"Du, mau snack apa?"
"Oreo saja deh, Ma."

Dari kecil begitu. Salah satu snack yang bertahan dari bekal TK sampai sekarang anaknya sudah SMA ya Oreo. Ulang tahun kemarin mintanya Oreo Cheesecake. Kalau Mama beli kopi, dia pesan Oreo Milkshake. Kalau jalan-jalan, yang dibawa ya Oreo Mini. Oreo semua ya.

'bonding time' bareng Oreo

Oreo kemarin mengeluarkan varian baru spesial ulang tahun, Oreo Birthday Cake Flavor. Bungkusnya lebih berwarna-warni daripada Oreo Classic yang biasanya kita beli.

"Ini kue ulang tahun di dalam Oreo?"

Dudu bingung. Saya juga. Jadi kita beli buat mencoba. Ternyata rasanya enak juga. Masih biskuit Oreo Classic yang sama, bedanya hanya di bagian icing putih di tengah ada sprinkle-nya. Rasanya sedikit banyak memang seperti kue ulang tahun. Oh, enak juga.

"Harusnya Oreo bikin yang icingnya cheesecake ya, jadi kamu kemarin tidak usah beli kue," kata saya.
“Tapi bagaimana saya bisa menaruh lilin di atas Oreo?”



Yang berbeda dari bungkus Oreo Birthday Cake Flavor selain kemasannya yang lebih ceria adalah QR Code di bagian kanan bawah. Oh ternyata kalo di-scan bisa langsung masuk ke filter Instagram Oreo yang bentuknya augmented reality (AR). Filter ini memungkinkan kita untuk meniup lilin yang jumlahnya banyak itu untuk merayakan #UlangTahunOreo bersama-sama. Jadi kalau mau tiup lilin tidak perlu menaruh lilin beneran di atas biskuit Oreo-nya. Hahaha. Kembali lagi ke masalah birthday cheesecake, Oreo sebenarnya juga melakukan kolaborasi dengan beberapa F&B outlet seperti Bittersweet by Najla yang mengeluarkan dessert box spesial bertajuk Cookies and Cream Special Anniversary. Semua keseruan ini adalah bagian dari rangkaian perayaan berjudul #WishOreo110.

"Oreo-nya sedang berulang tahun ya, Ma?"
"Iya, ke-110."
"Ternyata Oreo sudah sangat tua ya."
Oreo masuk ke Indonesia di tahun 1994, saya masih SD. Sekarang sudah punya anak, dan Oreo masih ada di rumah saya.

Yang namanya ngemil, tidak bisa dipisahkan dari saya. Dan ternyata, kebiasaan ini menurun juga ke anak saya. Meskipun si Dudu tidak se-lebay saya kalau beli dan makan snack, tapi dia tetap ada jadwal ngemil rutin di sore hari. Apalagi kalau sedang #DatewithDudu di rumah alias main PS4 seharian pas weekend. Yang namanya cemilan jelas tidak boleh absen. Enaknya Oreo, karena dia snack manis, jadi bisa sekalian dianggap pengganti dessert. Selain itu, Oreo juga bisa jadi teman baik saya kalau sedang ngopi. Lebih cocok daripada snack asin atau snack micin.

Ulang tahun Dudu kemarin pakai Oreo Cheesecake


Meskipun Dudu baru berusia 16 tahun, kemarin perayaan ulang tahunnya tidak kalah seru dengan Oreo. Tahun ini sedikit spesial karena biasanya hanya dirayakan secara sederhana di rumah, tiup lilin dan makan bakmi goreng bersama keluarga. Soalnya ulang tahun Dudu jatuh di pertengahan Juli, di mana tahun ajaran baru dimulai. Mau merayakan bareng teman-teman sekolah juga jadi sulit. Namun kali ini saya memutuskan untuk mengajak teman-teman se-gengnya untuk pergi birthday trip ke Bandung. Pengalaman pertama bawa anak-anak ABG jalan-jalan dan menginap semalam. Meskipun mereka tidak kemana-mana alias semalaman main PS4 saja, tapi Dudu bilang dia senang. Yang penting quality bonding time-nya terwujud.


Quality time itu penting untuk membangun ikatan emosional, dan snacking alias ngemil bisa jadi faktor penting dalam melakukan bonding. Merayakan momen spesial seperti ulang tahun juga salah satu cara untuk mendapatkan quality time dengan orang-orang tercinta. Dalam hal ini ya termasuk ikutan berpartisipasi dalam rangkaian #WishOreo110 yang merupakan bagian dari selebrasi #UlangTahunOreo.

17 March 2022

Kalah, Menang dan Cerita tentang Terbang

“Si Dudu masih mau lomba ya, Mom?”
“Iya nih.”
“Anak saya udah nggak mau, dia kecewa kemarin kalah.”

Dulu, Dudu sering ikut lomba. Lomba fashion show, lomba foto, casting, bahkan kompetisi jadi penyiar radio cilik. Kalau dia menang, saya ikut bangga. Soalnya biasanya, saya juga yang sepihak mendaftarkan anaknya setelah setengah memaksa, “kamu ikut lomba ini ya.” Hahaha. Tapi efeknya, kalau dia kalah, saya juga ikutan kecewa.

Kenang-kenangan lomba Kartini di TK 

Tapi, yang namanya kompetisi kan ada menang, ada kalah. Sebenarnya juga si Dudu banyakan kalahnya, sih. Sebagai emak-emak kompetitif (katanya), saya pernah ditanya gimana caranya mengajarkan anak agar tidak putus asa ketika kalah lomba.

Saya pakai perbandingan dengan ketika saya mau “terbang.”

Saya senang travelling, naik pesawat lalu terbang dan mendarat di tempat yang berbeda. Percaya nggak percaya, pas hamil si Dudu, saya pernah stress berat. Sampai ke psikolog kampus dan mulai journaling untuk menemukan penyebabnya. Ternyata jawabannya adalah “kurang sering terbang.” Saya yang tinggal di kota kecil pas kuliah, lalu sering terbang ke kota besar pas liburan semester, atau terbang pulang ke Indonesia. Karena hamil, saya memilih stay di kota saya, mengambil summer jobs atau liburan ke daerah yang bisa dicapai dengan mobil. Lalu saya stress. Hidup kurang seru kalau tidak “terbang.”

Emangnya, apa yang membuat terbang begitu special?

1. Terbang perlu persiapan

13 February 2022

Sepucuk Surat Cinta Buat Dudu

Kemarin saya menulis surat cinta, yang sebenernya gara-gara mau ikut lomba. Karena single, awalnya bingung mau menulis buat siapa. Apalagi saya bukan tipe gombal yang bisa menulis berbunga-bunga. Tipe Mama anti basa-basi. Jadi akhirnya nulis surat cinta yang straightforward buat anak kesayangan.

Tapi, habis posting di IG story ada yang komen terharu, ada yang bertanya apa ini sungguhan. Haha. Soalnya surat cintanya bukan buat ayang, tapi anak semata wayang. Kalo disingkat Ayang juga sih, jadi tidak apa-apa lah ya.

Isinya begini:

To the boy who has everything,

It's been a fantastic 16 years to spend with you. Each year, you have always been my Valentine and I'm really thankful I have you around.

But soon, you'll find another girl you'd adore and take her to date instead. Before that happen, I want to treat you on a nice dine in, which has been delayed ever since.

There's nothing in this world that means to me more than you do. Always in love with you.

Sincerely,
Mom



Ini postingan IG-nya

Menang? Nggak tuh, soalnya kan memang hadiahnya adalah romantic fine dining. Haha. Meskipun bohong kalau saya bilang tidak berharap menang, soalnya pengen banget mengajak Dudu makan di restoran hotel.

Kenapa? Ya balik lagi ke surat cinta di atas. Sebagai orang tua, saya selalu mendengar nasihat bahwa it’s better to show than to tell karena katanya anak-anak akan meniru apa yang orang tuanya lakukan. Karena itulah, sebelum Dudu beneran bawa cewek lain dinner romantis, saya duluan yang harus tunjukin caranya. This is how you treat someone. Ini cara makan di hotel, ini cara yang sopan dan percakapan kayak apa yang bisa dibawa ke meja dinner romantis macam begini. Maklum, biasanya saya dan Dudu kan cuma ke cafe atau restoran random aja haha. Kalau pun ke restoran yang sedikit fancy, seperti Couz Steak House beberapa waktu lalu itu, biasanya dalam settingan family dinner dan bukan beneran berduaan.

Date-nya black and white

Tapi karena tidak menang, sepertinya saya harus menabung untuk beneran makan di restoran fine dining. Hm… restoran apa ya? Ada saran?

By the way, si Dudu-nya belum tahu soal ini hihihi.

29 September 2021

Ibu di Era Digital: Berteman dengan Game dan Gadget

Akhir-akhir ini, bahasan yang lagi seru di circle pertemanan saya adalah 'kecanduan' gadget. Sekolah dari rumah atau yang resminya disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mewajibkan para siswa memiliki gadget dan akses Internet. Jadi, mau tidak mau anak-anak jadi memiliki gadget sendiri dan screen time jadi lebih banyak dari biasanya.

Saya, Mama yang tidak pernah mempermasalahkan penggunaan gadget anaknya, merasa bingung bagaimana mau sumbang suara untuk masalah ini. Tapi saya menyadari, adalah tantangan tersendiri buat para Mama untuk mengurangi ketergantungan gadget pada anak-anaknya. Terutama ketika gadget sudah menjadi kebutuhan utama untuk belajar. Lalu apa yang harus dilakukan para Mama, yang notabene adalah perempuan di era digital.
Salah satu moment favorit saya adalah saat main game berdua

Sebagai ibu yang memiliki pemahaman literasi digital, kita memiliki potensi besar untuk mendukung anak bersahabat dengan gadget. Tantangan pertama yang muncul biasanya adalah cepatnya teknologi berubah. Dari yang hampir tidak pernah video call hingga paham cara pakai filter di zoom. Apalagi kalau ternyata anak kita lebih canggih.

Ada yang bilang, tak kenal maka tak sayang. Jangan langsung kontra. Jangan panik dan memusuhi gadgetnya. Pahami dulu kebutuhan PJJ anak dan kenali teknologi yang dibutuhkan.

Selain karena PJJ, pandemi ini juga membatasi pilihan hiburan untuk anak. Yang biasanya bisa ke mall, sekarang hanya bisa bermain di rumah. Di tengah kesibukan sebagai ibu bekerja dan ibu professional, diskusi di circle pertemanan saya berkembang menjadi game online dan YouTube. Di sini selain teknologi yang berubah, ada tantangan lain yang harus dihadapi yaitu game-nya itu sendiri. Saya dan anak semata wayang saya punya interest yang sama, jadi mudah bagi saya untuk mendampingi anak main game atau nonton YouTube. Bagaimana dengan yang tidak sejalan?

Kata anak saya, si Dudu, “Main game untuk have fun. Untuk keluar dari kehidupan mereka dan menjadi sesuatu yang lebih keren di dunia lain.”

Dari rumah untuk dunia. Dunia lain, sih. Tapi bukan berarti kita tidak bisa cari tahu ada apa di sana. Kalau saya bisa bertanya tentang bagaimana hari si anak di sekolah hari ini, saya juga bisa bertanya sudah berhasil mancing ikan berapa di Genshin Impact hari ini. Sama juga dengan membatasi waktu main game. Waktu kecil saya merasa kesal karena ketika Mama saya kesal melihat saya main game, saya harus mematikan game saat itu juga. Sementara saya sudah dekat sekali dengan save point berikutnya dan harus mengulang jauh ketika saya main lagi.


Jadi ketika Dudu main game, dan saya mau dia berhenti, saya tidak langsung menyuruh dia berhenti. Saya pasti tanya, “ini kapan bisa di-save?” Setelah itu baru saya minta dia berhenti main. Dan Dudu selalu berhenti main setelah di-save. Karena sama dengan saya yang kalau sedang mood menulis, atau Mama saya ketika dia masak, kita tidak suka diganggu tengah-tengah. Ketika saya berusaha memahami hobi si Dudu, dia juga jadi lebih terbuka dan cerita banyak tentang kehidupannya di dunia nyata. 

Jadi, meskipun interestnya tidak sama, saya masih bisa menggunakan gadget dan game sebagai teman, yang membantu saya berkomunikasi dengan anak. Apalagi di era digital ini saya harus waspada karena akses menjadi mudah dan sebagai ibu bekerja, saya tidak bisa selalu mengawasi anak. Kalau bukan karena Dudu yang cerita, saya tidak tahu dia bertemu siapa di Co-Op Genshin Impact-nya, atau sedang ngobrol sama siapa di discord.

Tapi, gimana kalo kecanduan?
Kalau nasihat Dudu sih, “maybe tell them that playing games are fun but don't let it affect your real life. Sometimes you have to sacrifice what's fun with what's important.” 

Tulisan ini diikutkan di Sayembara Catatan Perempuan untuk Konferensi Ibu Pembaharu oleh Kelas Literasi Ibu Professional.

13 February 2021

Mengenalkan Peluang Kerja Green Jobs Kepada Anak Indonesia

Beberapa waktu lalu, saya dan Dudu ngobrolin cita-cita. Pertanyaan yang akan terus selalu ada. “Kamu mau jadi apa?” Waktu TK, Dudu mau jadi Nelayan (atau yang dia sebut Pemancing). Waktu SD pindah haluan jadi Youtuber Game karena dia suka main game. Spesifik banget ya. Sekarang sudah SMP malah tidak tahu mau jadi apa. 

Menyadari bahwa cita-cita seorang anak muncul dari hal-hal yang ada di sekelilingnya, saya merasa wajib mengenalkan konsep dan peluang green jobs kepada Dudu, anak saya yang sekarang sudah berusia 14 tahun ini. Soalnya, tak kenal maka tak sayang.
Mama: Mau coba di sektor green jobs?
Dudu: Apa itu green jobs?
Mama: Yang berhubungan dengan sustainability.
Dudu: Tukang sampah?
Mama: Nggak harus sampah sih.
Dudu: Kalau begitu petani?
Mama: Urban Farming dong. Kan di tengah kota, di atap rumah gitu keren.
Dudu: Itu tetap saja disebut dengan petani, Ma.

Petani kebun sendiri sedang panen jeruk

Perubahan cita-cita si Dudu yang lumayan drastis dari Nelayan jadi Youtuber ini tentunya tidak lepas dari perkembangan teknologi. Anak saya masih merasakan jaman Nokia 3310, ketika telepon ya kalo nggak buat telepon ya buat SMS sama main game snake. Sekarang Dudu yang SMP mau naik SMA ini belum punya cita-cita baru yang dia yakin pasti mau diikuti. Makanya, begitu saya mendengar tentang green jobs ini saya merasa harus ikut webinarnya dan memperkenalkan jenis pekerjaan ini ke Dudu.

07 March 2019

Cara Mudah Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Anak

Brokoli? Hiy!

Itu reaksi saya sih haha. 
Anak saya, si Dudu, suka brokoli kok.Tapi saya bukan fans berat sayuran dan ternyata preferensi makanan itu menurun ke anak saya. Apalagi saya sibuk, sebagai ibu bekerja, tidak ada waktu untuk menyiapkan makanan 4 sehat 5 sempurna untuk si Dudu. Untungnya saya menemukan cara mudah untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, yaitu dengan yogurt.


Minum Yogurt sambil main? Bisa dong.
Karena tidak suka sayur, saya jadi malas masak sayur, malas memesan sayur kalau makan di restoran dan yang pasti saya juga jarang makan sayur. Otomatis asupan serat sayur dan buah di keluarga ini jadi berkurang jauh. Kalau pas ada Mama, kadang-kadang Dudu bisa punya brokoli rebus saos mentega atau sop wortel sebagai lauk makan siang. Sop wortel? Yes, Dudu terobsesi dengan wortel karena berusaha mencegah naiknya minus dan keharusan pakai kacamata. Maklum, anak jaman sekarang kan semuanya serba gadget. 

Pada satu kesempatan, kita berdua berkenalan dengan Yo! Yogurt for kids. Awalnya tidak aware kalau ini adalah yogurt anak milik Heavenly Blush. Dudu selalu beli yogurt plain atau greek yogurt. Eh, ternyata
 ada Heavenly Blush Yo! yang lebih menarik dengan rasa yang lebih tepat untuk Mama sibuk macam saya yang mencari cara mudah memenuhi kebutuhan nutrisi anak sehari-hari. 

10 October 2018

Blogging dan Impian Masa Depan

“Kenapa nge-blog?”Pertanyaan standar yang malah bikin bingung setelah sekian lama malang melintang di dunia blogging. 

Alasan kenapa saya ngeblog sama dengan alasan kenapa saya makan. Saya makan karena saya lapar, dan kalau tidak makan nanti maagnya kambuh. Saya ngeblog karena saya ingin menulis, dan kalau tidak nulis nanti saya stress. Semacam maag gitu. Jadi tidak konsentrasi mengerjakan hal lain, just because I felt the urge to write the thoughts I have in mind. Sama saja kan? Kalau lapar juga tidak punya energi untuk mengerjakan hal lain.


Menulis sudah jadi bagian dari hidup saya sejak SD. Meneruskan kuliah di jurusan jurnalistik, kemudian bekerja jadi wartawan, membuat menulis berubah dari hobi jadi beban studi dan pekerjaan. Di sinilah blog berperan. Ketika menulis jadi terbatas oleh banyak syarat & ketentuan, ngeblog menyelamatkan passion saya yang satu itu. Saya jadi bisa menuliskan hal-hal di luar yang disuruh editor atau yang dimandatkan masyarakat. Bahkan ketika saya sudah tidak lagi jadi kuli tinta, blog tetap setia menemani saya menuangkan ide dan curhatan hati.

I blog because I love to write. And I have to write those stuffs down. 

30 August 2018

3 Cara Sederhana Hidup Asyik Tanpa Toxic

Capek. Yang namanya kerja di Jakarta pasti akrab dengan macet, perjalanan jauh dan polusi udara. Tiga bulan terakhir ini saya bekerja di kantor baru, dan jadi bertemu dengan keseruan peraturan ganjil genap. Berangkat lebih pagi, pulang lebih malam dengan pekerjaan yang tidak lebih mudah. Untungnya saya belum sempat sakit.

Kalau saya cerita tentang pekerjaan, banyak yang menyarankan “start you day with honey lemon”. Mulai harimu dengan minuman madu lemon. Rutinitas yang sempat viral di Instagram dan sempat juga diikuti teman-teman saya. Bahkan ada satu mom yang saya kenal selalu menyempatkan diri menyeduh segelas air hangat dengan campuran madu dan lemon untuk keluarganya sebelum mulai beraktivitas. Kalau melihat dia dan keluarganya jadi jarang sakit sih sepertinya beneran pengaruh.

Tapi kalau saya punya waktu untuk duduk dan menyeduh sesuatu setiap pagi, saya memilih untuk membuat kopi.

06 August 2018

Mewarnai dengan Augmented Reality Bersama Faber-Castell Colour To Life

Weekend ini ngapain ya, Du?

Pertanyaan itu sekarang sering muncul karena saya dan Dudu kehabisan ide. Kalau tidak ada event seru atau film bagus, saya dan Dudu kerjanya main PS4 di akhir pekan. Itu juga kalau ada game yang bisa dimainkan berdua seperti Overcooked atau Dragon Quest Builders. Kalau tidak ya kita beraktivitas masing-masing dengan gadget masing-masing.

Lalu saya kena judge netijen: kok main gadget terus? Hahaha...

Saya pertama kali melihat Faber-Castell Colour to Life saat sedang mampir ke acara Game Prime. Mewarnai? Hm… back to basic. Mungkin menyenangkan? Tapi saya dan Dudu bukan fans mewarnai. Dudu sering menggambar sejenis komik sih, tapi gambarnya juga tidak pernah diwarnai. Tapi mungkin, kita perlu melakukan hal-hal yang dulu sering dilakukan waktu Dudu kecil. Salah satunya ya mewarnai.

Seriusan? Buat anak SMP kayak Dudu?


Dudu: "Rambutnya harus pirang"

08 April 2018

Merencanakan Playdate Jelajah Nusantara dengan Fitur Eksplor Skyscanner

Saya sedang mentok mau liburan ke mana lagi.

Baru juga awal tahun kemarin saya dan geng Mama Playdate pulang dari Korea, tapi kami sudah mau merencanakan liburan berikutnya. Dan tidak seperti playdate sebelumnya, kali ini kami bertiga mentok ide.


Singapore mahal, kata teman saya. Dalam negeri aja gimana?
Tapi dalam negeri mau ke mana? Bromo lagi? 



Beberapa tahun lalu, kami bertiga beserta keluarga masing-masing pernah “terjebak” 16 jam di gerbong kereta Gajayana menuju Malang. Trip playdate perdana keliling Malang, Batu dan niat melihat sunset di Gunung Bromo. Tidak kesampaian karena terlalu berkabut. Dari situ, playdate dalam bentuk liburan jadi semacam tradisi. Kemudian para Mama dan anak-anak Playdate ke Singapura. Main-main ke Universal Studio di Pulau Sentosa, Legoland di Malaysia dan menginap ramai-ramai di satu hostel dengan bunk bed. Awal tahun ini, berkat tiket pesawat Garuda Indonesia dengan harga terjangkau yang kebetulan available pas malam Tahun Baru, kita berangkat Playdate ke Korea.

Sekarang kita blank mau pergi ke mana lagi buat Playdate berikutnya. Tapi tujuannya sudah pasti: dalam negeri alias jelajah nusantara aja.

Udahlah, Bromo lagi aja kan kemaren kena kabut jadi belom liat matahari terbit. Mending kita beli tiket pesawat ke Surabaya trus nyewa mobil ke Malang.


Not a bad idea sih.

Tapi tetap saja saya merasa basi kalau harus mengulang satu destinasi. Terus, mau dibawa ke mana dong liburan kita? Dalam merencanakan #DateWithDudu versi liburan, saya selalu mulai dari tanggal. Setelah tahu ada berapa hari yang bisa digunakan jalan-jalan, maka saya baru memilih destinasi. Selalu begitu sampai saya mengenal fitur eksplor yang ada di Skyscanner. 

04 September 2017

Transit Dua Jam di EV Hive Satellite SCBD

Sebagai seorang pekerja kantoran, saya baru ganti wujud jadi blogger dan freelancer setelah jam kerja usai, atau di akhir pekan. Tapi bukan berarti saya tidak bisa ikut mendapatkan manfaat dari menjamurnya coworking space di Jabodetabek.

Di era teknologi sekarang ini, networking sudah menjadi satu kebutuhan tersendiri. Karena itulah coworking space hadir sebagai salah satu penunjang bisnis, baik startup maupun freelance, yang kita sedang kita jalankan.




Tempat apa? Coworking space? Begitu tanya beberapa orang teman ketika saya bercerita tentang plan mampir ke EV Hive minggu lalu. Meskipun ketika saya menyebutkan beberapa cabangnya seperti The Maja, JSC Kuningan dan Dimo Menteng semua langsung paham tempat apa yang dimaksud. Lalu muncul pertanyaan berikutnya: “itu bukannya buat event?” Meskipun sering ada event, tapi coworking space pada dasarnya adalah tempat bekerja, dimana kita bisa berbagi area kantor dengan banyak orang.

EV Hive Satellite SCBD

Hari itu saya pulang lebih cepat supaya bisa mampir ke EV Hive di Equity Tower lantai 8, suite 8A, SCBD Sudirman. Cabang terbaru EV Hive coworking space, yang diberi nama Satellite ini, memiliki ruangan cukup luas dengan jendela besar menghadap ke gedung-gedung tinggi di area SCBD dan membuat saya serasa memiliki kantor sungguhan di pusat kota.

31 August 2017

Cerita dan Harapan untuk MRT Jakarta

Weekend itu seperti biasa saya dan Dudu pergi ngedate. Di perjalanan, menjelang keluar jalan tol yang tersumbat karena lampu merah, saya iseng-iseng bertanya, “bagaimana ya supaya Jakarta tidak macet lagi?”

“Kalau Jakarta punya MRT yang selalu tepat waktu nanti juga tidak ada yang mau naik mobil lagi seperti di Singapura,” jawab Dudu cuek sambil main Minecraft di tabletnya. 


Mencoba naik MRT di Jakarta Fair


Naik busway dong. Naik Commuter Line juga sudah enak sekarang. Saya sering bertanya-tanya sendiri kenapa saya masih memilih menyetir mobil menembus kemacetan, dan bersusah-susah cari parkir. Saat ngobrol-ngobrol dengan adik saya, tentang pengalamannya naik busway, saya menemukan alasannya: saya tidak percaya transportasi umum Jakarta. Saya pernah naik busway ke satu interchange hanya untuk menemukan bahwa bus di koridor satunya sudah tidak ada lagi, padahal masih 30 menit dari jam koridor tersebut berhenti beroperasi. Masalahnya, ketika saya bertanya di halte tempat saya naik, si petugas meyakinkan bahwa bus di koridor sana masih ada.

Saya lalu kembali ke halte awal dan mencari jalur lain untuk tiba di halte dekat rumah saya. Perjalanan saya jadi ekstra 30 menit dan saya kehilangan kepercayaan dengan busway. Kalau busway yang menurut saya paling reliable dan comfortable saja begitu, bagaimana yang lainnya? Karena itulah saya masih memilih memegang kemudi.

Lalu apa yang saya tunggu dari MRT Jakarta? Transportasi umum yang dapat diandalkan. Karena itu kita harus bekerja bersama #UbahJakarta

26 August 2017

Menyeduh Kopi Modern dan Tradisional di Jogjakarta

Motor mabur setunggal, setunggal, kalih…. Tilu lalu matur nuwun. Pengumuman berbahasa Jawa halus tersebut menjembatani bahasa Indonesia dan Inggris, berkumandang ketika saya menunggu bagasi di Bandara Adi Sutjipto pada 17 Agustus kemarin. Bahasa Jawa (halus) saya hanya sampai sekawan, tapi pengumuman yang saya tidak begitu ingat kalimat persisnya tersebut membuat saya tersenyum sendiri.

Hore, saya sudah berada di Jogjakarta.



Ada yang semangat banget mau ke Jogja pas 17 Agustus nih. Merdeka!
Ini kunjungan kesekian saya ke propinsi istimewa di selatan Jawa, dan kali ketiga Dudu mampir ke Jogjakarta. Tapi baru sekali ini saya menginjakkan kaki di Bandara Adi Sucipto. Maklum, dengan adanya keluarga yang tersebar di pelosok Jawa, saya sekeluarga lebih sering bepergian dengan mobil. Lewat jalan darat lebih seru. Tapi kalau tidak lewat udara, saya tidak akan terkagum-kagum sendiri dengan pengumuman penerbangan yang menggunakan bahasa daerah di sebuah airport internasional.

Tujuan saya ke Jogja juga sedikit berbeda. Kalau biasanya kami sekeluarga hanya berlibur, kali ini kami mengantar adik terkecil untuk bertemu calon keluarga barunya yang kebetulan berdomisili di Jogja. Tahun depan, Jogja akan menjadi bagian dari keluarga kami. Karena sudah cukup akrab dengan Borobudur, Malioboro dan Sendratari Ramayana, di kunjungan kali ini saya sengaja mencari sesuatu yang bukan tujuan wisata. Sesuatu yang baru, modern tapi tetap bercerita tentang Jogja.

Keluarga dan kopi, dua hal itu yang akhirnya membawa saya mampir ke tempat nongkrong seru di Jogja yang lengkap dengan kopi enak.

09 April 2017

Memesona Itu Mengapresiasi Keunikan Diri Sendiri

Ternyata jaman sekarang, cantik saja tidak laku. Kita juga harus memesona agar bisa dilirik, stand out dari ribuan orang yang ada di sekitar kita. Memesona itu bagaimana maksudnya? Kalau ditanya begitu, saya jadi bingung juga. Memesona itu bisa membuat orang (saya) berhenti sejenak, tertegun, menghargai apa yang dilihat atau didengarnya, dan tersenyum kembali ketika mengingatnya.


Menjadi diri sendiri bisa berarti mendadak menemani Dudu cosplay (abaikan zombienya)
Kemarin, saya dan Dudu melihat pelangi muncul dari atas billboard di tengah kemacetan. Saking terpesonanya kita sibuk foto-foto lalu diklakson orang karena tidak kunjung maju padahal di depan sudah kosong. Ups. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, memesona itu juga bisa hadir dalam bentuk benda atau pemandangan. Yang penting adalah hal-hal yang stand out dari kerumunan. Dan saya sadar bahwa setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang memesona bagi mereka. Kasus pelangi di atas, kebetulan saja saya dan Dudu memiliki pendapat yang sama. Seperti ketika kita nonton acara pemilihan putri dan miss kecantikan yang sering ditayangkan di TV itu, jagoan kita seringkali berbeda dengan orang lain. Bahkan dengan jagoan yang ada di kepala juri. Yang memesona kita belum tentu memesona juri dan pentonton di studio. Jadi memesona itu sebenarnya subjektif juga ya.

Contohnya? Astaga, apa ya?

12 December 2016

Menang Pesona Sisterhood dan Langkah Keluar dari Zona Nyaman

Define friendship. Thanks to Pesona, saya jadi berkesempatan pergi seharian dengan tiga sahabat saya. Tiga orang ini saya temukan karena Dudu berteman dengan anak-anak mereka, dan sering bertemu di tempat lomba. Awalnya “saingan”, akhirnya jadi teman playdate. And when we outgrew the competitions, we become best friends in life. 



Ketika “geng” kami terpilih sebagai salah satu pemenang Pesona Sisterhood, saya keluar dari rutinitas dan zona nyaman. Kok bisa? Pesona Sisterhood adalah ajang kompetisi bertema persahabatan yang diadakan 2x setahun oleh majalah Pesona. Begitu jelas Zornia Harisantoso, Editor-in-Chief Pesona, di tengah makan siang kami di Cheesecake Factory/Almond Tree Cikini. Kompetisi ini diadakan di sosial media, di mana kita bisa mengirimkan foto bersama sahabat untuk memenangkan one-day pampered trip. Buat ibu bekerja seperti kita, yang namanya makeover, jalan-jalan, makan dan shopping ini memang kesempatan langka.

30 November 2016

Switchable (Super) Hero: Mudahnya Bertukar Hobi dan Profesi

Berubah. Di kepala saya, kata itu hanya milik Power Rangers dan Ksatria Baja Hitam. Atau mungkin juga Ultraman. Sehari-harinya bolehnya berprofesi macam-macam, mulai dari murid SMA hingga tim SAR. Tapi kalau passion menyelamatkan dunia muncul, langsung switch, berubah, jadi sosok yang dapat diandalkan untuk 10 menit terakhir episode hari itu. Inginnya sih, dalam kehidupan nyata, saya juga bisa begitu. Bisa berubah. Switchable Me.

Sekilas Acer Switch Alpha 12 (photo by AcerID)
Nyatanya, profesi ya harus dilakukan saat weekdays jam 8 sampai 5 atau 9 sampai 6 (tergantung seberapa pagi saya bangun) dan hobi tergeser ke pinggiran kalender alias weekend. Dulu, hobi saya jadi profesi. Saya termasuk beruntung bahwa saya bisa kuliah di jurusan yang saya sukai, bekerja di bidang yang sejalan dan mendapatkan pengalaman. Lalu saya jenuh. Hobi yang jadi profesi ternyata malah membunuh passion saya. Jadi, well, saya menemukan pekerjaan baru yang sesuai dengan dunia saya sekarang, dunia seorang ibu.

Sekarang saya seorang content strategist yang urusannya lebih banyak tentang digital promotion. Menulis sudah kembali jadi hobi, plus karena ini kerja kantoran dengan jam kerja tetap, saya jadi bisa jalan-jalan sama anak yang sudah mulai besar itu. Lalu dengan anak mulai besar, saya jadi ada waktu untuk diri sendiri lalu bisa mengerjakan hobi-hobi yang lain: travelling dan belajar bahasa asing. Hobi saya banyak ya. Haha. Lalu apa hubungannya semua itu dengan sebuah notebook.


Ringan dan ada kickstand-nya (photo by AcerID)