Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

24 June 2024

Review Buku: Conscious Diet oleh dr. Yovi

Judul buku ini membuat saya berpikir dua kali. Conscious Diet. Memangnya selama ini kita tidak sadar ya kalau diet? Ternyata artinya lebih dari sekedar sadar bahwa kita sedang menjalani diet, melainkan sadar akan diri kita dan tujuan diet kita. Mengenali diri kita sepenuhnya agar diet yang dilakukan berhasil.

Buku Conscious Diet oleh dr Yovi

Buku setebal 101 halaman ini isinya padat dan praktis. Bukan hanya narasi tapi juga ada rumus BMI, kuis tipe tubuh dan rekomendasi pola diet serta olahraga yang bisa diikuti. Dan karena bukunya juga ringan, jadi bisa dibawa dalam tas untuk bacaan sembari menunggu, atau dijadikan bahan pembicaraan dengan teman.

Mengenali diri sendiri mulai dari mana? Buku Conscious Diet dimulai dengan Bab berjudul “Anda adalah Gaya Hidup Anda.” Pada Bab ini pembaca diajak berkenalan dengan kalori dan BMI. Membahas diet sebagai kalori masuk dan kalori keluar, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hitung-hitungan simple kalori.

“Kenali jenis tubuhmu sebelum mulai diet,” saran dr. Yovi Yoanita, M.Kes (gizi) FAARM, ABRAAM, pengarang buku Conscious Diet pada acara “Brunch Date with dr Yovi” yang digagas oleh Female Digest di YClinic Bintaro beberapa waktu lalu.

“Brunch Date with dr Yovi” yang membahas tentang buku Conscious Diet ini

Bab 4 yang berjudul “Mengenal Diri, Mengenal Tipe Badan,” ada di halaman 75. Bab ini dimulai dengan kuis sederhana yang membantu kita mengenali apa tipe badan kita. Dari sini kita tahu diet apa yang cocok untuk kita jalani.

Saya jadi tahu bahwa tipe tubuh saya adrenal dan dianjurkan untuk melakukan olahraga yang tidak memicu stress, tidak mengurangi porsi makan secara drastis, dan menjaga kuantitas serta kualitas tidur.

16 March 2022

3 Film Bertema Keluarga Rekomendasi Dudu

Karena saya akhir-akhir ini jarang nonton film, jadi blog post ini yang nulis si Dudu. Tadi siang saya minta dia menuliskan 3 film yang dia baru tonton akhir-akhir ini, ceritanya apa, moral of the story dan kenapa orang harus menonton film-film ini. Ini hasil tulisannya (dengan minimal edit dari Mamanya):

Encanto (2021)
Durasi: 1 jam 49 menit
Rating: PG

Encanto itu adalah film yang ada di Disney+, tentang keluarga yang masing-masing mempunyai kekuatan ajaib, kecuali satu anak bernama Mirabel, yang tinggal di rumah ajaib. Suatu hari rumah mereka mulai retak dan keluarga Mirabel mulai kehilangan kekuatanya. Ini membuat Mirabel mencari tau alasan mengapa hal ini terjadi. Film ini mempunyai tema keluarga dan memiliki pelajaran untuk kenapa melambangkan(1) seorang anak special bisa mempunyai dampak negative. Orang-orang seperti orang tua atau anak anak pun bisa menonton film ini, dan mendapatkan pelajaran yang berharga, dan mendengarkan lagu lagu yang mudah diingat dan mau didengarkan berkali kali kapan saja.


Black Widow (2021)
Durasi: 2 jam 13 menit
Rating: PG-13

Black Widow adalah film Marvel yang ada di Disney+ dimana Natasha Romanof a.k.a. Black Widow bersama keluarga tirinya melawan organisasi Red Room, di mana Natasha dilatih menjadi pembunuh. Dari deskripsi itu bisa diketahui film ini bertema keluarga. Loh kok temanya sama dengan film sebelumnya? He he he, interaksi Natasha sama keluarganya bagus dan benar-benar membuat kita peduli sama mereka, terutama interaksi adiknya Natasha Yelena. Meskipun menurutku film ini seharusnya dirilis duluan lebih tepatnya sebelum Endgame. Tapi selain itu filmnya ini menunjukan banyak hal baru untuk MCU, dan musti untuk ditonton kalau salah satu fans Marvel dan mempunyai Disney plus.


Turning Red (2022)
Duration: 1 jam 40 menit
Rating: PG

Turning Red itu film yang baru saja keluar di Disney+, di mana ada anak SD di China yang berubah menjadi panda merah besar saat mempunyai emosi kuat, dan dia bilang ini terjadi karena keturunan dia meminta kekuatan untuk menjaga desa dia. Film ini tentang menjadi dirimu sendiri dan jangan membuang dirimu sendiri hanya untuk membuat keluargamu senang, karena kamu itu orang kamu(2) sendiri. Kita ditunjukan seperti apa ibu yang percaya anaknya tidak pernah bersalah, dan mempermalukan anaknya(3), karena dia percaya dia melakukan hal yang benar. Film ini juga bisa menjadi tontonan anak anak dan orang tua untuk pelajaran untuk menjadi kamu sendiri(4).


Buat yang bingung dengan Bahasa Indonesia si Dudu, ini ada kamusnya:
(1) Labelling - alias memberi label
(2) You are who you are, kamu ya kamu
(3) Si ibu cenderung menyalahkan lingkungan di sekitar anaknya, namun tindakannya malah mempermalukan si anak.
(4)Maksudnya becomes who you are, alias menjadi diri sendiri.

(Cek cara melihat rating film di sini)

Entah karena nontonnya Disney+ atau memang anaknya selalu fascinated dengan hubungan keluarga, ini sebenarnya semua satu tema. Well, dari ketiga film ini, saya paling pengen nonton Black Widow, sih. Tapi ya, kemarin nonton Loki saja belum selesai.

13 January 2022

Maaf, Du, Mama Makan Sushi Tidak Ajak Kamu

“Eh kemaren Mama makan sushi enak deh. Murah lagi.”
“Sama siapa? Kok tidak ajak saya?”
“Sama Tante x, deket Citos. Tau gitu kemarin kita makan di sana ya. Next time deh kita nge-date ke sana.”


Namanya Yasami Sushi, lokasinya ada dekat perempatan Fatmawati - TB Simatupang. Di Gedung Beka setelah SPBU Shell. Satu gedung sama Kloop Coffee di Jl Fatmawati Raya 100-D, tapi ngumpet di belakang ke bagian yang menghadap gang, bukan jalan utama R.S. Fatmawati. Pantesan selama ini lewat kok belum pernah lihat restoran ini.



Yang bikin kaget adalah, sudah pesan sampai nambah-nambah, ternyata total bill-nya tidak sampai 200k. Harga di menu sudah termasuk tax dan Ocha-nya refill.

On the bill:
  • Yasami Special Salad (35k)
  • Chicken Katsu (30k)
  • Unamon Roll (36k)
  • Ebi Salmon Roll (42k)
  • Chicken Katsu (30k)
  • Yuki Roll (32k)
Kalau disuruh menjelaskan, seperti apa sushi di Yasami ini, saya akan bilang Sushi rumahan yang rasanya sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Sederhana dan tidak komersil haha. Wasabi dan Gari (alias jahe)nya disajikan di piring Sushi, bukan mengambil sendiri. Unamon Roll adalah gabungan antara unagi dan salmon. Fusion Sushi berisi crabstick dan kyuri, dengan torched salmon dan torched unagi di atasnya. Ebi Salmon Roll isinya jelas sesuai namanya, yang bikin berbeda adalah orange sauce-nya yang pertama saya kira Spicy Mayo. Ternyata yang ini tidak pedas. Sementara Yuki Roll, yang pas dihidangkan terkesan sedikit pucat, berisi salmon tempura, kyuri dan mayo.


Bukan cuma rasa, tapi suasana restoran ini juga homey banget, bikin betah duduk lama. Ngobrol sama Tante x tahu-tahu sudah 2 jam lebih. Jadi, tempat ini pas banget buat yang mau catch up sama teman lama setelah terpisahkan pandemi. Tempatnya tidak ramai dan parkirannya gampang asalkan tidak kelewatan gang-nya. Kalau bablas pun masih bisa parkir di Gedung Beka depan, di Kloop Coffee, lalu jalan 5 menit ke samping.

Nextnya pengen coba Sushi Platter yang harganya mulai 130k sih, tapi saya dan Dudu beda preference kalo makan Sushi. Dudu suka yang nigiri, yang simple cuma nasi sama tamago. Saya suka yang fusion dan fancy, yang pake salmon, keju, kremesan dan lainnya. Sementara kalo liat menunya Yasami tidak punya negiri standar yang hanya satu ingredient aja.


Browsing ke menu lain yang non-sushi, Yasami Sushi juga ternyata punya Donburi. Ada Gyudon dan ada Chicken Katsu yang harganya juga terjangkau. Oke sip, Dudu aman kalo mau diajak makan di sini.

02 January 2022

Mencari Comfort Food di Claypot Popo

Makanan di sini comfort food banget!

Begitu komentar yang kerap mucul waktu mendengar soal Claypot Popo. Tempatnya selalu ramai, harganya murah dan makanannya sederhana. Jadi penasaran mau coba.

Emang apaan sih Comfort food?


“Makanan yang disiapkan secara tradisional, biasanya memiliki nilai sentimental atau nostalgia.” (https://www.merriam-webster.com/)

Setiap orang punya comfort food yang berbeda. Kalau saya, karena dari kecil suka makan nasi anget, telor kecap dan cumi asin, kayaknya itu deh comfort food saya. Kalau Dudu? Hm… Kalau ditanya “mau makan apa?” seringnya dijawab Hoka-hoka Bento. Chicken Katsu. Atau Sosis goreng biasa. Comfort food memang biasanya simple.

Claypot Popo sedikit berbeda dengan claypot yang saya kenal. Claypot sendiri ada teknik memasak dengan mangkuk tanah liat yang mampu menjaga rasa dan aroma makanannya. Biasanya dihidangkan panas dalam mangkuk tertutup. Lalu makannya jadi harus menunggu karena nasi-nya tak kunjung dingin haha. Karena itulah pas mampir ke Claypot Popo dan mencoba makanannya, saya sedikit bingung. Makanan disajikan di claypot terbuka, lalu selain nasi, ada menu misua dan locupan juga.


Lokasinya di Blok M Square, dari luar seperti hidden gem kaki lima di Hongkong. Pintunya kecil dan mau masuk harus mengantri. Restorannya ada di lantai dua. Di tengah pandemi seperti ini, di mana kapasitas restoran dibatasi hanya setengahnya, jadi lebih sulit mendapatkan tempat duduk. Tapi yang namanya masakan claypot kan harus dimakan selagi hangat dan di mangkuk tanah liatnya ya. Jadi, buat saya pesan antar bukan pilihan. Kecuali saya punya claypot sendiri di rumah.

Pesanan kami ada Claypot Sapi Cah Bawang Putih (42k) dan Claypot Misua Tahu Telor Asin (28k) yang katanya paling recommended. Mau pesan kopi tarik, sayangnya hari itu sold out. Kedua makanan tersebut datang dalam claypot terbuka berwarna biru sedikit abu-abu. Kesan pertamanya “kok beda?” haha. Tapi ternyata rasanya enak. Yang Claypot Sapi Cah Bawang Putih lebih mengena buat saya dan Dudu karena pakai nasi hangat, daging plus saus yang membuat nasinya jadi lebih lembek. Yang Claypot Misua Tahu Telor Asin, meskipun katanya ini yang paling populer dan paling value for money karena harganya murah, agak asing di lidah. Buat yang penasaran, Claypot Popo ini halal ya.


Worth it? Well, kita berdua sih suka. Meskipun bukan "comfort food" buat saya dan Dudu. Tapi kalau datang ke sini mungkin lain kali perlu cari waktu yang lebih tepat agar tidak ramai. Datang jangan weekend pas jam makan siang. Kalau bawa mobil sendiri mendingan parkir di gedung lalu jalan kaki daripada muter-muter Blok M Square cari parkiran.

Atau, beli claypot. Jadi bisa makan di rumah.

24 August 2021

5 Komik yang Wajib Jadi Drakor

“Jodoh Mama sudah kelihatan?”

Pertanyaan ini muncul pas makan siang sama Dudu akhir pekan kemarin. Sebagai seorang single mom dari anak yang tahun ini berusia 15 tahun, pertanyaan soal ‘pacar’, ‘jodoh’ dan ‘kriteria cowok seperti apa?’ sudah menjadi topik pembicaraan yang umum. Dan kalau boleh sedikit tidak realistis, cowok-cowok di komik yang sering saya baca inilah yang kayaknya membuat dunia jadi tidak nyata.

Dari semua komik, manhwa, manhua, manga atau apapun itu sebutannya, ada beberapa yang ceritanya (dan tentunya tokoh utama laki-lakinya yang bucin) yang berkesan buat saya. Duh, coba dibuat jadi live action atau drakor. Kan malam minggu saya jadi lebih berwarna dan mungkin bisa jadi teman di saat harus kembali di rumah saja bulan ini.

Remarried Empress / The Second Marriage by Alphatart

Genre: Fantasy, Kerajaan

Pembaca setia Webtoon pasti sudah tidak asing sama kisah yang satu ini. Seorang perempuan yang terlahir untuk menjadi ratu, mendadak diceraikan suaminya karena selir. Namun bukan Navier Trovy namanya kalau tidak punya rencana cadangan, menikah lagi dengan raja negara tetangga.

Yang membuat Webtoon ini menarik adalah bagaimana sang Ratu, Navier, menyikapi suaminya, Soviesch yang membawa pulang selir bernama Rashta. Soviesch dan Navier adalah teman masa kecil, yang dibesarkan untuk menjadi raja dan ratu kerajaan Dongdae. Mereka baru menikah 3 tahun ketika si Selir hadir di tengah mereka. Hubungan keduanya yang tadinya memang bersahabat, menjadi renggang. Apalagi ketika yang namanya penerus raja diharapkan segera hadir, tapi Navier tidak kunjung hamil.

Selain jalan cerita, membaca komentar pembacanya juga menghibur. Jadi kalau baca ini di webtoon, pastikan scroll sampai bawah. Siap-siap ikut emosi sama selirnya, sekaligus ketawa-ketawa baca komen julid pembaca.

26 May 2021

Main Game bareng Anak Remaja, Main Game Apa?

Saya suka main console sama Dudu. Sama-sama penggila PS4, yang kalau sudah depan TV bisa sama-sama diamuk si Oma karena lupa mandi dan makan.

“Kamu ini males banget sih, main PS aja seharian.”
“Lho, menurut Mama, ini menurun dari siapa?”
Jreng, jreng!


Emangnya kita berdua ini main game apa sih?

Koleksi Game PS4 saya dan Dudu

Game PS tidak selamanya tembak-tembakan, seram dan sadis. Meskipun game macam God of War dan Final Fantasy VII yang menurut saya seru banget itu juga bukan game kids friendly. Bukan game yang akan lulus sensor emak-emak pada umumnya. Jadi di sini, saya memilih game yang, if I can argue, berfaedah bagi seorang Mama dan anaknya. Percaya atau tidak, ada banyak pelajaran tentang bagaimana cara jadi orang tua di game-game ini.


24 December 2020

Mengambil Jeda di Tengah Pandemi

Jeda itu perlu. Semua yang dilakukan “from home” memberikan perspektif baru dalam hubungan saya dan Dudu.

Tahun 2020 ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi yang mengharuskan saya Work from Home alias WFH dan Dudu yang sekolah dari rumah, kami jadi punya banyak waktu untuk bertemu. Saya kira semua akan berjalan mulus, senang dan lancar setelah sekian lama bertemu hanya di akhir pekan. Awal-awalnya makan siang bersama satu meja setiap hari terasa seru. Wah, ada waktu untuk keluarga. Lama-lama rutinitas baru ini malah mengganggu.

Saya merasa terpaksa keluar kamar hanya untuk makan siang (dan makan malam) karena anak dan orang tua saya sedang makan bersama di meja. Mama saya sering mengomel juga kalau kami tidak makan di jam yang sama. Sering juga meeting saya terputus karena Dudu ketok-ketok pintu kamar mengajak makan. Ketika saya tidak menjawab, dia masuk dan mengajak makan. Presentasi dan konsentrasi saya, tentu saja, buyar.

Ada yang salah? 


Well, saya menemukan satu buku berjudul “The Things You Can See Only When You Slow Down” karya seorang biksu Buddha bernama Haemin Sunim. Buku yang pertama kali diterbitkan tahun 2012 mengajarkan banyak hal tentang interaksi selama pandemi. Dan bagaimana saya bisa beradaptasi dengan keadaan yang sepertinya masih akan berlangsung selama 2021 ini.


The Art of Maintaining Good Relationship / Menjaga hubungan dengan baik

Di chapter 2 ada quotes yang mengatakan “bahkan musik yang paling indah pun bisa membosankan kalau didengarkan setiap hari. Tapi musik tersebut dapat menjadi indah kembali setelah beberapa waktu. Masalahnya ada bukan pada musik, tapi pada hubungan saya dengan musik tersebut.”

Nah ini dia. Bukan Dudu yang salah. Bukan orang tua saya yang ngaco. Tapi memang saya yang tadinya tidak pernah bertemu mereka selain weekend, mendadak bertemu setiap hari lalu ilfeel. Sekarang, karena semua di rumah, saya jadi tidak pernah cerita tentang hari-hari saya sama orang tua, Dudu jarang update soal sekolah juga. Makan semeja pun tanpa suara. Malah sedih ya?

Jadi, kami kembali ke rutinitas biasa. Ansos, alias anti sosial, di weekdays dan hanya duduk makan semeja di akhir pekan. Di hari-hari sebelum pandemi, saya dan Dudu biasanya spend me-time berdua saja travelling, makan atau staycation. Sekarang waktu kami berduaan hanya pas main PS4 seharian. Tidak benar-benar nge-date. Kalau sudah tidak nyaman di rumah, saya dan Dudu akhirnya ‘staycation’ di rumah adik saya.

Soalnya ternyata, jeda itu memang perlu. 

16 February 2019

Tips Anti Kalap di Bazaar Buku

Bazaar buku murah mulai muncul lagi. Weekend ini kita pergi ke Bootopia-nya Periplus di Pulogadung. Bulan depan Big Bad Wolf ada lagi di ICE BSD. Ujung ke ujung. Tapi ya dijalanin, karen buku, terutama yang bahasa Inggris, termasuk sulit ditemukan di Indonesia. Masalahnya saya dan Dudu sering lapar mata kalo lihat buku.

Jadi, gimana caranya biar tidak kalap belanja kalau pergi ke bazaar buku murah sama anak?



Salah satu tempat date favorit kita berhubungan dengan buku. Waktu Dudu balita, kita berdua sering menghabiskan waktu di perpustakaan dan toko buku. Lalu sekarang jadi rajin pergi ke bazaar buku demi mencari buku, terutama buku impor, yang murah. Kalau belanja sendiri, kita hanya perlu menghibur diri kalo memang tidak ada budget untuk beli buku sebanyak itu. Nah, kalau pergi sama anak kan berarti ada satu kepala lagi yang harus dinegosiasikan.

17 June 2018

4 Website Seru Yang Bikin Semangat Menulis

Jenuh menulis? 100 kata saja tidak sampai-sampai? Well, saya sempat dan masih mengalami hal itu. Padahal ide dan tema ada banyak bertebaran, tapi menulisnya kok berat. Sudah pindah café dan ganti suasana juga tidak membantu. Lalu gimana? I forced myself to write. Saya mengharuskan diri sendiri menulis sesuatu setiap harinya. 


Ada beberapa fun “free writing” tools yang bisa membantu kita membiasakan diri menulis setiap hari. Kalaupun tidak jadi satu blogpost, tulisan-tulisan random tersebut bisa kita simpan untuk “dilanjutkan” di kemudian hari ketika ada mood dan waktu posting yang tepat.

750words.com

Website buatan suami istri, Buster & Kellianne, ini menantang kita menulis setidaknya 750 kata setiap harinya (24 jam menggunakan timezone Amerika jadi dimulai jam 12 siang WIB). Tampilan websitenya minimalis. Halaman Homenya hanya berupa penjelasan tentang 750words.com dan siapa saja yang sedang menulis, lalu siapa saja yang sedang ikutan tantangan menulis setiap hari selama sebulan dan lain sebagainya. Kalau kita sudah sign up dan login, kita akan berhadapan dengan halaman kosong hanya berisikan tanggal jumlah huruf yang berubah sesuai dengan ketikan kita.

04 June 2018

Coffeegasm: Coffee Shop Rasa Drama Korea

Pernah terbayang adegan drama Korea di mana si pelanggan cewek masuk ke coffee shop dan disambut sapaan ramah tokoh utama di belakang kasir? Ya kurang lebih begitu rasanya kalau masuk ke Coffeegasm. Hanya saja, coffee shop yang ini adanya di deretan ruko-ruko Mall of Indonesia Kelapa Gading. 


Lokasinya strategis, Coffeegasm terletak persis di sebelah pintu Lobby 8 Mall of Indonesia. Di blok yang sama ada beberapa coffee shop, café dan bakery yang saya pernah kunjungi semuanya karena tempat ngopi langganan di mall persaingannya sengit. Mulai dari anak ABG sekolahan, ibu-ibu arisan dan suster bawa stroller (isinya bayi tidur sementara majikannya belanja) semuanya memenuhi tempat duduk dan ikut sharing wi-fi. Jadilah di satu hari libur, saya dan Dudu keliling Mall of Indonesia dengan misi mencari tempat ngedate alternatif.

13 May 2018

Book Review: Sad Girls by Lang Leav

“We all need to follow our intuition, even if it takes us down the wrong path. Otherwise, you’ll always be second-guessing yourself.”

Sepotong nasihat tersebut diberikan seorang publisher kepada tokoh utama yang bekerja menjadi seorang jurnalis di korannya. Audrey, sang tokoh utama, saat itu sedang galau dan memutuskan untuk resign dan pergi ke Colorado untuk memulai hidup baru. Sebuah perjalanan jauh mengingat setting cerita ini adalah Sydney, Australia.


Menyelesaikan buku karya Lang Leav ini jadi prestasi sendiri untuk saya, karena saya jarang baca buku yang terlalu cewek. But I think if I can finish this, then the book is not girly enough. Haha. Tokoh utamanya cewek, punya sahabat dekat cewek. Lalu konfliknya seputar pacar, ekspektasi orang tua dan mengejar mimpi. Lah, apa serunya? Yang membedakan buku ini dan mungkin buku-buku “coming-of-age” lainnya adalah di sini ada yang mati. Iya, mati. Dan karena saya selalu bilang kalau saya akan baca buku dan nonton film drama jika ada yang mati atau adegan tembak-tembakannya, saya meniatkan diri baca buku ini. 



Sad Girls
Pengarang: Lang Leav
Halaman: 362
Paperback
Tahun: 2017

Tapi sebelum lanjut, untuk yang sudah pernah baca puisi karya Lang Leav sebelumnya, jangan expect too much dari karya fiksinya. Baca saja, enjoy ceritanya dan abaikan bagian yang menurut kalian aneh.

08 April 2018

Merencanakan Playdate Jelajah Nusantara dengan Fitur Eksplor Skyscanner

Saya sedang mentok mau liburan ke mana lagi.

Baru juga awal tahun kemarin saya dan geng Mama Playdate pulang dari Korea, tapi kami sudah mau merencanakan liburan berikutnya. Dan tidak seperti playdate sebelumnya, kali ini kami bertiga mentok ide.


Singapore mahal, kata teman saya. Dalam negeri aja gimana?
Tapi dalam negeri mau ke mana? Bromo lagi? 



Beberapa tahun lalu, kami bertiga beserta keluarga masing-masing pernah “terjebak” 16 jam di gerbong kereta Gajayana menuju Malang. Trip playdate perdana keliling Malang, Batu dan niat melihat sunset di Gunung Bromo. Tidak kesampaian karena terlalu berkabut. Dari situ, playdate dalam bentuk liburan jadi semacam tradisi. Kemudian para Mama dan anak-anak Playdate ke Singapura. Main-main ke Universal Studio di Pulau Sentosa, Legoland di Malaysia dan menginap ramai-ramai di satu hostel dengan bunk bed. Awal tahun ini, berkat tiket pesawat Garuda Indonesia dengan harga terjangkau yang kebetulan available pas malam Tahun Baru, kita berangkat Playdate ke Korea.

Sekarang kita blank mau pergi ke mana lagi buat Playdate berikutnya. Tapi tujuannya sudah pasti: dalam negeri alias jelajah nusantara aja.

Udahlah, Bromo lagi aja kan kemaren kena kabut jadi belom liat matahari terbit. Mending kita beli tiket pesawat ke Surabaya trus nyewa mobil ke Malang.


Not a bad idea sih.

Tapi tetap saja saya merasa basi kalau harus mengulang satu destinasi. Terus, mau dibawa ke mana dong liburan kita? Dalam merencanakan #DateWithDudu versi liburan, saya selalu mulai dari tanggal. Setelah tahu ada berapa hari yang bisa digunakan jalan-jalan, maka saya baru memilih destinasi. Selalu begitu sampai saya mengenal fitur eksplor yang ada di Skyscanner. 

04 September 2017

Transit Dua Jam di EV Hive Satellite SCBD

Sebagai seorang pekerja kantoran, saya baru ganti wujud jadi blogger dan freelancer setelah jam kerja usai, atau di akhir pekan. Tapi bukan berarti saya tidak bisa ikut mendapatkan manfaat dari menjamurnya coworking space di Jabodetabek.

Di era teknologi sekarang ini, networking sudah menjadi satu kebutuhan tersendiri. Karena itulah coworking space hadir sebagai salah satu penunjang bisnis, baik startup maupun freelance, yang kita sedang kita jalankan.




Tempat apa? Coworking space? Begitu tanya beberapa orang teman ketika saya bercerita tentang plan mampir ke EV Hive minggu lalu. Meskipun ketika saya menyebutkan beberapa cabangnya seperti The Maja, JSC Kuningan dan Dimo Menteng semua langsung paham tempat apa yang dimaksud. Lalu muncul pertanyaan berikutnya: “itu bukannya buat event?” Meskipun sering ada event, tapi coworking space pada dasarnya adalah tempat bekerja, dimana kita bisa berbagi area kantor dengan banyak orang.

EV Hive Satellite SCBD

Hari itu saya pulang lebih cepat supaya bisa mampir ke EV Hive di Equity Tower lantai 8, suite 8A, SCBD Sudirman. Cabang terbaru EV Hive coworking space, yang diberi nama Satellite ini, memiliki ruangan cukup luas dengan jendela besar menghadap ke gedung-gedung tinggi di area SCBD dan membuat saya serasa memiliki kantor sungguhan di pusat kota.