Showing posts with label Conversation. Show all posts
Showing posts with label Conversation. Show all posts

11 August 2025

Merelakan Tidak Selalu (lebih) Buruk

Masuk bulan ke-9 saya “pengangguran” alias terpaksa jadi freelancer, yang namanya keuangan pasti amburadul. Godaan terbesar jadi seorang pekerja lepas adalah membatasi project yang diambil sesuai dengan kemampuan. Apalagi, selama ini, saya selalu punya kantor.

Mendapat tema “Adil bersikap ketika menerima rezeki” di salah satu event menulis blog yang saya ikuti membuat saya berpikir kembali tentang definisi “adil.” Yang diajarkan kepada saya sejak kecil adalah “adil itu bukan berarti dibagi sama rata, tapi dibagi sesuai kebutuhan.” Jadi, adil itu sama dengan tidak maruk. Karena kita mengambil hanya sesuai dengan kebutuhan kita.

Inilah yang kemudian saya terapkan di kehidupan sekarang. Soalnya, Adil pada diri sendiri berarti adil pada orang lain juga.

Yang tersulit untuk bersikap adil pada diri sendiri adalah menentukan kapan harus berhenti. Saya tipe yang mengutamakan orang lain, misalnya anak atau keluarga, dan cenderung aktif meski mengaku introvert. Jadi saya selalu punya waktu, apalagi kalau menyangkut cuan. Akhir-akhir ini, ketika hidup berubah dari pekerja kantoran menjadi lepasan, hal ini jadi masalah besar karena saya mencoba mengambil semua yang di depan mata agar semua pengeluaran bisa terbayarkan. Tadinya, ketika ada satu gaji bulanan tetap, yang namanya side job tidak jadi prioritas utama. Hanya bersyukur ada rejeki lebih. Namun, saat ini, ketika pemasukan tetap tidak lagi ada, semua yang bisa menghasilkan, saya ambil.


Ternyata ada limitnya. Saya terpaksa belajar merelakan.

27 May 2024

Creating Healthy Boundaries Starts With Me

How often are we hesitating to say no to a request? Just because we want to prevent inconveniencing others. Or we want to be seen as this helpful person. How often are we doing things beyond our abilities? Just to prove that we're strong enough. Well, I'm sure you're not alone. I struggled with that too.

3 Things We Should Have to Create Healthy Boundaries:

  1. Self-Awareness
  2. Clear Expectation
  3. Communication

Self Awareness

Setting a healthy boundary starts with knowing who we are, what we want and what our preferences are. We need a clear understanding of our thoughts, emotions, and behaviors. How can we create a boundary when we don't know where to draw the line? So, it starts with self awareness. For example, we're not fond of smoke and alcohol. When our circle invites us to go clubbing or hanging out in a lounge, we can comfortably reject them and say we'll join next time they're in a coffee shop. When we have firm boundaries, know what we want and who we are, people come to respect our choices. 

Recognize the different roles we play everyday, healthy boundaries may vary depending on which hat we're wearing. As a mom, for example, healthy boundaries may be our limit, both physical and emotional. Knowing my patience limit may help me say “no” when needed. I can courageously reject additional responsibilities, admit I’m overwhelmed, take a break and ask for help as needed. Realize that we are responsible for how we feel, and we can’t blame others because they made us feel this way. This goes for the opposite, that we’re not responsible for other people’s emotions.

Clear expectation

This should be a two-way interaction. Expectations towards others and expectations to ourselves. An article published by Joe Sanok on Harvard Business Review, titled “A Guide to Setting Better Boundaries,” mentioned two types of boundaries. Hard boundaries are the one we can't compromise and soft boundaries where things are more flexible. Knowing whether it's hard or soft boundaries that we exercise will help us manage our expectations.

For example, a friend of mine has this rule of no smoking near her children. Upon the birth of her third child, she is asked to move back to her parents house to help care for them. It's also easier for her, who is considering going back to work. The problem is, her father is a rather heavy smoker. 

With a hard boundary regarding smoking, she knows that moving back is impossible. Her expectation of her father taking the cigarettes out to the porch every time he wants to smoke might not be fulfilled. Her father expects her to be lenient, while she expects her father to strictly follow the smoking rule. 

Soft boundaries might be about meeting time or what food to eat. Despite not agreeing to move back due to cigarette presence, her parents are still seeing their grandchildren. While they were with their grandparents, she couldn’t strictly enforce what they should eat. The menu is a soft boundary she could compromise.

Communicating clear expectation like this message

Communication

When we know ourselves, and have set a clear expectation, what’s left is communicating them to the outside world. Boundaries aren’t always as clear as a police line. People may not recognize them and accidentally trespass those lines. Therefore, we have to communicate our boundaries clearly. 

Expressing these boundaries needs some degree of assertiveness. Not everyone has this capability and is comfortable establishing boundaries without feeling aggressive or selfish. So, the first thing we do is stating the facts. In my friend’s case, she can say to her father that “I can’t tolerate smoking around children, therefore I can’t move back home unless you stop smoking.” Add an alternative if setting the boundary makes you feel bad. Something like, “but we can visit on weekends.”

As a mom, I can feel exhausted. When a fellow mom starts a conversation, and I don’t feel like listening to their problems, I should be able to say “As much as I want to help, I don’t have the capacity to listen to your problem right now. I’m really sorry.” The same with unsolicited advice. We have the right to reject them, after saying that we respect their opinion.

Boundaries are indeed important. 

I lost several friends due to the boundaries that I set to myself. Mostly because of communication and time boundaries. I don’t usually reply to chat right away. If it’s urgent and if you want a conversation, you should call. Or we can meet and have a chit chat at a cafe. Some of my friends disagreed and went overboard with my late reply. One of them went berserk over how I managed to add a new admin on a group chat I’m responsible for, while ignoring her request for a phone call. I just don’t have the energy to argue with her. I apologize if I made her uncomfortable, told her what she should have done and ignored her ever since. That’s where I drew the line. 

I don’t say what I did was right, but that’s my boundary. I know enough that responding to her negative energy will just exhaust me. I managed my expectations and told her what she could expect of me. Then I communicate those feelings and expectations. I’m done. I felt bad at first because I tend to be a people pleaser. But then, boundaries aren’t meant to include everyone anyway.


20 October 2023

Nyaman Berteman Tanpa Beban Dalam Rangkaian Tulisan

Punya banyak teman? Kalau bilang tidak punya, rasanya saya bohong. Kalau bilang punya, saya ini sebenarnya introvert jadi saya merasa kalau temannya tidak banyak. Alasan klasik, social battery saya gampang habis. Tapi biasanya tidak ada yang percaya.

Beda ceritanya dengan komunitas blog. Apa yang membuat saya nyaman punya teman di komunitas blog? Atau setidaknya begitu. 

Pertama ya jelas karena kita punya kesenangan yang sama alias ngeblog. Biasanya di komunitas ada challenge atau tantangan tertentu yang diikuti bersama-sama. Diskusi tema, curhat writer's block, maupun saling menyemangati agar bisa menyelesaikan challenge, biasanya membuat teman-teman di komunitas blog menjadi akrab. Itu baru secara online di grup chat atau virtual di media sosial. Dulu zaman masih banyak event offline teman ngeblog saya lebih banyak lagi. Sejak masih jadi wartawan, sampai akhirnya pensiun dan jadi blogger full-time. 

Dari semua teman yang ada, adakah yang akrab? Jujur untuk sekarang ini sepertinya tidak ada yang benar-benar akrab sampai jalan bareng atau curhat japri via whatsapp. Meskipun Kalau bertemu offline rasanya seperti bertemu teman lama. Eh, tapi kita memang temanan sudah lama ya hahaha. Dari jaman Dudu masih TK, sampai sekarang sudah mau kuliah.

Kedua, pertemanan ini tidak membebani. Seperti ketika acara ulang tahun Kumpulan Emak2 Blogger (KEB) di awal tahun 2023 ini. Acara tersebut adalah acara offline blogger pertama yang saya datangi lagi setelah sekian lama terjebak pandemi. Tidak janjian dengan siapa-siapa karena memang sudah jarang berhubungan lagi dengan teman-teman blogger lama. Nekat datang sendiri, berpikir "Wah nggak ada temennya nih". Ternyata begitu hadir, malah seperti reuni SMA. Terlalu banyak yang dikenal dan harus diajak bicara, sampai beberapa tidak sempat disapa. Ah, jadi kangen. 

Saya nyaman berteman dengan sesama blogger. Balik lagi, karena saya introvert. Pertemanan lewat bertukar tulisan, mampir pun lewat blog walking. Jadi social battery saya tidak habis. 

Bukan cuma yang akrab, dalam satu komunitas pun ada yang datang dan pergi. Beberapa blogger jadi tidak seaktif dulu karena kesibukannya. Saya pun sempat begitu. Meskipun masih menulis, tapi tidak segila dulu dalam mengejar job atau mendaftar event. Seiring dengan berkembangnya zaman, yang baru mulai ngeblog juga semakin banyak. Jadi kalau bergabung ke komunitas ngeblog, saya bisa dapat banyak teman baru. Yang masih semangat atau yang baru belajar. Namun mereka-mereka yang baru ini justru membuat saya semangat untuk ngeblog lagi. 

Makanya jadi ikutan challenge KEB ini hahaha.

07 July 2023

Our Best Family Moment Happens On the Road

“Just how many pictures are you taking on the road?”
Komentar Dudu kesekian kalinya ketika saya memfoto jalanan.
“Well, most of them are. I just love being on the road.”



Setelah lebih dari satu dekade, saya dan Dudu kembali lagi road trip berdua. Jalan-jalan pertama setelah pandemi berakhir dan langsung lompat jauh ke benua seberang. Tapi ya, apalah #DateWithDudu tanpa road trip cross country? Meskipun kali ini cross Texas doang, tapi karena luas negara bagian yang satu ini setara dengan beberapa negara bagian sekaligus, ya anggaplah kita sedang cross country. 

Salah satu yang paling bermakna adalah kemarin, ketika kami pindah kota dari Dallas ke Houston. Perjalanan 3,5 jam yang jadi sedikit lebih panjang karena mampir dulu ke Waco untuk tur keliling Baylor University. Ya, soalnya tujuan utama Dudu mudik kan untuk melihat-lihat universitas di Amerika Serikat. Apa yang membuat road trip tersebut jadi memorable moment buat kami berdua?

Dudu jadi Navigator

Ketika terakhir kami berdua road trip di Midwest, Dudu hanya sebagai penumpang yang duduk di carseat kursi belakang. Sekarang anaknya sudah duduk di kursi penumpang dan bertugas membaca peta di handphone. Mungkin next time kita sudah bisa gantian nyetir. 

Dari masalah baca peta ini kita menemukan banyak insight tentang cara kita berkomunikasi. Ketika Dudu mengarahkan kanan dan kiri, yang kadang terbalik itu, saya lebih paham kalau diarahkan dengan nomor exit serta arah mata angin. Jadi daripada “belok kanan”, biasanya saya lebih paham kalau dibilang “I45 South”. Sempat menimbulkan ketegangan kecil diantara kita berdua karena saya bolak-balik hampir salah exit, tapi kita tetap sampai ke kota tujuan dengan selamat.

Detour sedikit demi pemandangan

Jadi, sebenarnya jalan terdekat dari Waco ke Houston adalah melewati Highway 6S dan US 290E. Namun saya mengambil jalanan yang sedikit memutar agar mendapatkan pemandangan lebih unik dibandingkan naik highway yang besar, yaitu melewati TX-164E.sebelum masuk ke Highway I45. Pemandangan sepanjang jalan ini, selain menunjukkan ke Dudu ada apa di luar sana, juga bisa jadi bahan diskusi karena banyak hal aneh yang ditemui di jalan. Misalnya kincir angin raksasa yang terletak tepat di tepi jalan atau truk macam transformers terdampar. Lalu juga kota-kota kecil yang hanya memiliki beberapa ribu penduduk.


Hujan & Pelangi

“Mah, itu ada rainbow.”

Saya yang sedang menyetir jadi heboh sendiri. Mendekati area greater Houston, pelanginya muncul. Lalu disambut dengan hujan deras dan macet. 

“Aku baru pernah melihat 2 pelangi dengan jelas. Ini yang kedua.”

“Memang satu lagi kapan?”

“Di Apartment.”

“Emang ada di Indonesia?”

Dan ternyata memang dia pernah melihat pelangi dari jendela apartemen kita di Indonesia. Hal-hal seperti ini justru baru ketahuan ketika kita road trip barengan.  

“Ayo kita ke ujung pelangi yang di sana itu, nanti ada emas.”

Dudu menatap saya dengan aneh. Lalu kemudian menjawab, “kenapa tidak ujung yang satunya, Mah? Yang di ujung sana kan gelap pasti hujan.”

Dan sejenak kemudian, kita berdua harus melintasi badai yang mendadak muncul semakin dekatnya kita dengan Houston.


Buat saya, road trip ini seru karena kita berdua stuck dalam satu mobil dan jadi bisa ngobrol. Lalu bisa punya shared memories baru, dan ketika anak sudah sebesar Dudu sekarang, bisa diajak berpartner dalam perjalanan. Baik secara navigasi atau diskusi mau makan apa dan berhenti di mana. Banyak pengalaman baru juga yang bisa didapatkan seperti menyetir dalam hujan, mencari bensin murah dan parkir yang lumayan tricky.

Jadi tidak sabar buat jalan lagi.

 

03 March 2022

Tebak-tebak Pekerjaan Mama

Dudu sering bilang kalo saya tidak seperti Mama pada umumnya. Saya tidak bersih-bersih rumah dan saya tidak masak.
“Kalau begitu Mama apa dong?”
“Mama ini seperti ayah, cari uang dan bekerja. Lalu main game sama saya.”


Hal ini membuat saya berpikir ulang tentang role sebagai orang tua. Stereotypical banget ya. Papa kerja, Mama urus rumah. Dan saya, yang selalu ngaku tomboy sampai ada orang pintar yang suruh saya jadi feminin dikit biar dapet jodoh ini, memang prefer role yang pertama. Saya pikir yang namanya tomboy berhenti di manjat pagar, naik ke genteng sampai diomelin nenek tetangga atau se-simple pergi cuma bawa dompet sama hape dikantongin haha. Ternyata terbawa ke kehidupan sehari-hari juga.

Bukan hanya saya perempuan yang bekerja. Mama yang cari uang untuk anaknya. Beberapa waktu lalu, saya pernah bertanya di komunitas Single Mom yang saya ikuti, bagaimana anak mendeskripsikan pekerjaan si Mama. Dan jawabannya lumayan seru-seru. Dimulai dari Dudu ya.

“Mama kerjaannya apa?”
“Yang sekarang?”
“Iya.”
“Editor? Copywriter?”
“Ya itu dulu sih.”
“Sekarang Mama bekerja sebagai apa?”
“Livestreaming Campaign.”
Anaknya bengong sesaat sih. Lalu saya balik bertanya.
“Emangnya editor kerjaannya ngapain?”
“Membetulkan tulisan orang lain, lalu mengomel saat ada spelling yang salah.”

Hahahaha. Kok begitu?

Udah cocok jadi blogger belum anaknya?

Bagaimana dengan anak lain? Kemudian, saya melemparkan pertanyaan ke grup komunitas emak-emak yang saya ikuti dan jawabannya lucu-lucu. Coba disimak di sini:

01 March 2022

Kesabaran yang (Harus) Ada Batasnya

Ketika melamar kerja, selalu ada satu pertanyaan yang membuat (hampir) semua orang mengambil jeda sebelum menjawabnya: “apa kelebihan dan kekurangan kamu?” Tidak jarang yang kemudian menyebutkan kekurangannya dulu dan kemudian berhati-hati menyebutkan kelebihannya karena takut disangka sombong.

Begitu juga dengan tulisan ini, ketika saya mendapat tema “Review kelebihanmu yang tak dimiliki orang lain.” Satu poin yang menunjukkan bahwa saya lebih unggul, extra effort yang dilakukan untuk mencapai sesuatu karena kesulitan yang mungkin orang lain tidak alami. Reaksi pertama saya adalah sama seperti Dudu di iklan Morinaga tahun 2010 itu: “Aduhhhh, apa ya?”


Kalau ngomongin kelebihan, kayaknya nggak ada deh yang unik bagi diri saya sendiri. Saya pribadi percaya kalo here’s nothing new under the sun. Tapi ada a few things yang sering di-mention orang di sekeliling saya, yang saya anggap sebagai kelebihan atau strong points yang saya miliki. Meskipun kalau dipikir lagi, atau dari sudut pandang berbeda, hal-hal ini bisa menjadi kelemahan juga.

Kata orang, saya “sabar.”

03 February 2022

Loki, Star Wars dan Langganan Disney+

Disney+, worth it nggak buat langganan? Pertanyaan yang menghantui kami dua bulan terakhir, setelah saya dan Dudu mulai kehabisan serial buat ditonton bersama.

Paket internet saya expired akhir bulan kemarin. Ketika mau renew, ternyata paket yang biasanya saya beli sudah tidak ada lagi. Yah, sedih. Terpaksa browsing paketan baru, lalu nemu paket dengan free Disney+ sebulan. Hm… Sepertinya menarik. Ya sudah kalau gratis. Awalnya sempat kesulitan mau install. Saat Dudu coba di aplikasi Disney+ Hotstar di ponselnya, OTPnya tidak pernah sampai. Lalu akhirnya kita coba di Smart TV di rumah. Download aplikasinya, lalu login lewat web di laptop dan memasukkan kode di TV untuk menghubungkan kedua perangkat. Ternyata berhasil. Semoga habis ini, paket gratisannya masih ada, jadi kita berdua bisa nonton Disney+ juga bulan depan.


Dudu sudah bolak-balik ingin nonton Star Wars secara lengkap. Sesuatu yang menurut saya keturunan bapaknya, soalnya saya bukan big fan of Star Wars. Nontonnya juga hanya karena ada Anakin Skywalker yang menurut saya lumayan good looking, lalu kisah cinta sama Amidala itu seru. Tapi Dudu nonton Star Wars dengan serius. Something that Americans would do haha. Star Wars dan warna hijau adalah dua hal yang membuat saya percaya kalau ada hal-hal absurd yang diturunkan secara genetik, soalnya dua hal itu kesukaan bapaknya yang tinggal di Amerika.

Jadi pas makan siang, saya iseng-iseng bertanya.

“Udah nonton apa aja, Du? Selain Star Wars?”
“A series called Encanto.”
“Oh, katanya bagus ya itu? Gimana ceritanya?”
“Iya. It taught people not to label a child ‘special’ soalnya the child with special label will be pressured to love with that expectation, while the one without the label will be sad.”

07 February 2019

Tantangan Jadi Seorang Introvert Mom

Kalo saya mengaku Introvert, tidak ada yang percaya. Padahal berdasarkan test 16 kepribadian alias MBTI ( Myers–Briggs Type Indicator) itu, saya masuk kategori INFP (introversion, intuition, feeling, perception). Orang-orang di kategori ini termasuk idealis, selalu berusaha melihat kebaikan dari setiap orang atau kejadian, dan berusaha mencari jalan agar semuanya lebih baik. 



Apa pengaruhnya kepribadian ini buat peran saya sebagai orang tua? Menurut website 16personalities.com, orang tua yang berkepribadian INFP ini tipe yang hangat dan selalu mendukung anaknya. Biasanya mereka cenderung membiarkan anak bertumbuh dan mengeksplorasi tanpa banyak campur tangan. Anak-anak bisa mencari jati diri sendiri dengan bebas, walaupun masih dalam guidance yang ditetapkan orang tuanya. Biasanya rumah orang tua INFP ini cinta damai. Agak kurang sesuai sebenarnya karena saya dan Dudu kerjanya berantem melulu haha. 


15 June 2018

Menjawab Kekepoan di Kumpul Keluarga

Yang paling harus dipersiapkan menyambut Lebaran adalah mental dan segudang jawaban penangkal pertanyaan keluarga yang penuh perhatian.

Bahkan saya dan keluarga yang tidak berlebaran pun merasakan hal yang sama ketika Tante yang satu ini sudah memposting undangan “makan opor ayam” di grup chat keluarga. Opor ayamnya enak. Si Tante memang jago masak. Percakapan yang terjadi di meja makan ketika kita sedang sibuk mengunyah juga dahsyat. Topiknya bisa beragam, dari pacar, jurusan kuliah hingga rencana traveling. Meskipun sering harus melakukan persiapan ekstra, saya tetap menunggu seri sharing session keluarga ini. 


Ngumpul setiap tahun sekarang sepupu yang ini sudah pada mau kuliah.
Tahun lalu obrolannya tentang sekolah. Masuk SD, masuk SMP, masuk kuliah sampai ke pekerjaan pertama seorang sepupu yang baru lulus. Tahun ini sepertinya akan fokus ke pernikahan adik bungsu saya yang tinggal menghitung bulan ini. Untungya si adik sedang di luar negeri jadi dia terselamatkan dari pertanyaan kepo para Tante.

Dan meninggalkan saya sebagai juru bicaranya.

Setelah itu pasti pertanyaannya jadi berubah: “kamu kapan nyusul?”
“Anak saya sudah SMP, Tante.”
“Ya, makanya, nanti keduluan Dudu dapat pacar lho.”
Yha, terus kenapa gitu?

21 September 2017

Belajar Menghargai Perbedaan dengan Wisata Rumah Ibadah

Dudu tidak dapat pelajaran PPKN dan Agama di sekolahnya. Tidak ada buku cetak yang mengajarkan umat Hindu sembahyang di Pura, umat Islam di Masjid dan lain sebagainya. Maklum, sekolah internasional, jadi berbeda kurikulumnya dengan saya dulu yang bertahun-tahun dijejali teori perbedaan suku dan agama. Ketika kegiatan Wisata Rumah Ibadah Komunitas Bhinekka (akhirnya) dibuka untuk anak kelas 4-6 SD di Jakarta, saya langsung daftar. 




Kenapa memahami perbedaan itu penting? Karena anak harus belajar toleransi dan menerima bahwa ada banyak orang yang berbeda dengan mereka. Menurut Vera, psikolog yang membawakan sesi "pembekalan untuk orang tua" di awal acara, tidak memahami perbedaan bisa mengakibatkan anak jadi stress dan kemudian tidak siap menghadapi perbedaan di lingkungan yang lebih luas lagi seperti ketika kuliah atau bekerja. Lalu, kenapa harus jalan-jalan? Ketika saya kecil dulu, menghafalkan bahwa orang Buddha pergi ke Wihara untuk sembahyang bisa menempel di kepala. Tapi untuk Dudu yang lebih visual, jalan-jalan tentunya lebih menarik dan diingat ketimbang mendengarkan "ceramah" guru di kelas. 

Saya drop di Sekolah Gemala Ananda, Lebak Bulus di pagi hari, lalu saya pergi "me time" setelah menyaksikan anak-anak ice breaking dan selesai pembagian kelompok. Orang tua tidak boleh ikutan padahal saya ingin banget mencoba masuk wihara dan lithang di Indonesia. Ada baiknya juga karena saya jadi punya waktu untuk menyelesaikan PR tulisan. Sorenya, saya jemput di Pura Amrta Jati, Cinere. Sambil berjalan kaki pulang dari Pura, Amrta Jati, saya dan Dudu berdiskusi tentang pengalamannya hari itu. Ini cerita Dudu:

16 July 2017

Mengajak Anak Cowok Ikut Kelas Zumba

Kemarin Dudu berulang tahun yang ke-11. Ah, sudah bukan anak-anak lagi dong ya. Sebentar lagi jadi teenager lalu akan pergi jalan sendiri dengan teman-teman dan pacarnya. Aktivitas #DateWithDudu akan banyak berkurang. Tapi sebelum itu terjadi, saya mau membuat resolusi untuk mencoba banyak hal baru agar ngedate dengan anak pra-remaja ini bisa jadi lebih seru.

Date kita kemarin di National Gallery Singapore
Father and son? Mother and daughter? Forget that. Jadi seorang single mom dengan anak laki-laki kadang menjadi tantangan tersendiri karena katanya ada hal-hal yang menjadi "urusan bapaknya" atau kegiatan yang jadi kewajiban anak perempuan untuk menemani ibunya.

Seiring berjalannya waktu ternyata kompromi itu bisa diciptakan, meskipun separuhnya kadang saya memaksa Dudu buat mencoba ini itu seperti kemarin ketika saya secara sepihak mendaftarkan dia kelas Zumba di studio tempat saya olahraga. Sepulang Zumba, saya dan Dudu jadi ngobrol-ngobrol tentang kegiatan date kita, lalu menemukan beberapa hal yang ternyata bisa dilakukan oleh ibu dan anak laki-lakinya.

Zumba
"Kenapa Zumba isinya cewek-cewek semua, Ma?"

13 July 2017

Obrolan di Meja dan Opor Ayam

Lebaran selalu identik dengan opor ayam di rumah tante yang satu itu. Padahal kita tidak ada yang merayakan Lebaran. Cuma sekedar kumpul, makan dan ngobrol. Seru? Ya seru sih, habis kalau tidak begitu kan kita jarang ngobrol.

Obrolan kok tentang sekolah? Hehehe.
Obrolan yang wajib adalah tentang sekolah. Tahun ini satu keponakan saya naik ke TK B, sehingga percakapan memilih sekolah dasar menjadi topik hangat. Apalagi sepupu saya ini tinggalnya tidak jauh dari sekolah si Dudu. Memilih sekolah, apalagi sekolah dasar, menjadi hal yang sulit untuk beberapa orang tua muda. Soalnya banyak kriteria yang ingin dicapai. Anaknya sudah TK berbahasa Inggris, sayang kalau kemampuan bahasa Inggrisnya hilang. Kalau begitu sebaiknya masuk sekolah internasional. Tapi, sekolah internasional macam sekolah si Dudu bukannya perfect. Selain cenderung mahal, anaknya juga banyak yang datang dari keluarga kaya dengan attitude yang menurut saya kurang oke. Tapi entah kalau menurut orang tuanya. Hehe. Pernah nonton Meteor Garden? Ya seperti Taomingse kecil begitulah teman-teman si Dudu. Yang kalau tabletnya rusak, besoknya sudah dibelikan gantinya oleh orang tuanya. Sementara Dudu beli tablet susah payah dari mengumpulkan hasil kerja sendiri dan uang angpao Imlek.


11 August 2016

Kata Dudu Tentang Sekolah Full-Day

“Hi, my name is Andrew. My school is in Raffles. I go home at 2 o’clock, if there’s remedial or CCA, I go home at 3 or 4 o’clock.”

Gara-gara debat sekolah full-day, saya jadi penasaran apa kata Dudu sebagai seorang anak yang masih sekolah. Saya sendiri tidak termasuk yang setuju karena sekolah bukan hal yang berkesan dan ingin saya ulangi lagi haha. Tapi yang sekolah kan si Dudu ya, jadi kenapa tidak tanya sama si Dudu saja? Agak campur-campur bahasanya karena si Dudu kalau bercerita (apalagi tentang sekolahnya) suka mendadak ketularan Cinta Laura.




23 July 2016

Cita-Cita Anak Jaman Sekarang

Tergelitik pembicaraan beberapa Mama akhir-akhir ini, saya jadi iseng nanya ke Dudu. Cita-citanya apa, nak? Jawaban Dudu, ya sebelas duabelas sama rekan-rekan seumurnya yang mau jadi Youtuber atau Vlogger atau Selebgram. “Aku mau jadi pemain walkthrough game zombie.”

Sebelum bercita-cita jadi pemain gamenya, dia pernah jadi pemeran zombie-nya
Adalah itu idolanya namanya Red Brat (atau Brad?) yang mengulas game Zombie secara lengkap, dan kadang lengkap dengan sumpah serapahnya. Nonton keseringan, sekarang si Dudu bisa menceritakan ulang lengkap dialognya dengan sumpah serapah yang sudah disensor jadi huruf depannya saja atau diganti bunyi “piip”.

Mama:
Ngga dilanjutin?
Dudu: Kan kata Mama, nanti kalau sudah punya KTP baru boleh bilang bad words

Sayangnya Dudu tidak tahu kalau warga negara asing tidak akan punya KTP haha.

22 May 2016

X-Men Apocalypse Mutant Talk

Apocalypse is here. Dan pertarungan dimulai lagi. Pertayaan pertama yang saya lempar ke Dudu ketika film berakhir adalah: “bagus mana sama Captain America?” dan jawaban Dudu adalah “bagus X-Men.” Penasaran seperti apa sih film yang menurut anak 10 tahun (“Saya masih 9 tahun Ma,” protesnya dari belakang) ini lebih bagus dari Civil War?

X-Men Cast - memang lagi ngetrend yang banyak pemainnya gini.
Courtesy of Entertainment Weekly (I miss reading that magz)
Dudu:
Beberapa tahun yang lalu, ada sebuah makhluk yang dicoba untuk tak bisa dikalahkan, dicoba untuk tak bisa mati, dengan digantikan badannya dengan badan orang lain. Terus anak buahnya rela mengorbankan dirinya untuk menyelesaikan pemindahan tubuh itu karena prajurit lain berkhianat. Akhirnya prosesnya berhasil tapi dia terkubur di bawah piramida.

Beberapa tahun kemudian ada beberapa orang yang ditakdirkan untuk membangkitkannya kembali dan berhasil, akhirnya si Apocalypse, dia mengumpulkan anak buahnya dengan memberikan kekuatan hebat. Anak buahnya, Magneto, Psylocke, lalu siapa yang malaikat itu, dan yang bisa mengendalikan petir. Loh kok dia jahat, Ma?

05 April 2016

Mencari Hadiah Ulang Tahun Dudu

Besar di keluarga yang rata-rata isinya cowok bukan berarti saya bisa cari kado buat cowok. Jangankan adik atau sepupu cowok, cari kado untuk anak cowok saya yang tahun ini akan berusia 10 tahun saja pusing. Tahun lalu, saya cuma kasih anti gores sebagai hadiah ulang tahun si Dudu. Tabletnya dia beli pakai uang sendiri, hasil nabung dari upah kerja modelling.

Payah ya?

Tahun ini adik saya yang pertama dapat voucher nginap di hotel yang sebenarnya hadiah menang lomba, daripada tak terpakai mending dihibahkan. Adik yang satu lagi baru mau ulang tahun, dan saya belum punya kado. Dari pacarnya dulu dapat jam tangan, lalu dapat mesin pembuat kopi yang namanya Nespresso. Yang terakhir ini akhirnya jadi hak milk saya yang pencinta kopi.


Ini yang namanya mesin Nespresso
Yang ini kapsul kopinya
Stuck. Lalu saya lempar ke Dudu.
Mama: Kalau Mama mau kasih hadiah ke cowok, enaknya dikasi apa?

20 March 2016

Antara Ibu Bekerja dan Anak Mandiri

Resiko ibu bekerja seperti saya adalah terkaget-kaget ketika datang akhir pekan dan si anak memamerkan skill baru yang dipelari ketika hari kerja. Karena itu saya selalu berusaha meluangkan waktu untuk berkencan dengan Dudu, supaya tidak ketinggalan update dari anak yang tahu-tahu sudah mau 10 tahun dan bisa melakukan semuanya sendiri.

Dari kecil belajar pun sendiri
Kemarin, karena Dudu sakit (lagi), kita jadi tidak bisa kemana-mana. Akhirnya saya iseng melontarkan pertanyaan: “Menurut kamu, anak mandiri itu seperti apa?”

31 January 2016

Anak Saya Bilingual

Saya sering dapat pertanyaan ini: “Anaknya bisa bahasa Indonesia?” Mungkin karena wajah Andrew yang bule atau ketahuan sekolahnya internasional. Dan biasanya orang terkejut ketika tahu bahwa bahasa ibu Andrew ya Bahasa Indonesia dan sampai lulus TK dia belum bisa bicara Bahasa Inggris. Lalu bagaimana bisa tumbuh dengan 2 bahasa?

Udah ketemu Superman
tapi tidak bisa ngobrol karena kendala bahasa
Ketika melahirkan Dudu di Di Amerika, saya pernah bertanya-tanya bagaimana mempertahankan bahasa Indonesia pada anak saya, sementara semua lingkungannya berbahasa Inggris? Saya mendapatkan jawaban yang saya pegang teguh sampai sekarang. Jadi seorang anak kecil tidak kenal istilah “bahasa”. Yang dia tahu adalah kalau sama Mama bicaranya begini. Kalau sama Miss begini, kalau sama Mbak begini. Dan ajaibnya, cara berbicara itu tidak bercampur. Saya bisa tenang meneruskan berbicara Bahasa Indonesia pada Andrew, jadi Andrew akan bicara Bahasa Indonesia sama saya. Oh, lega.

31 December 2015

Cinta, Cantik dan Kartu Hari ibu

"Cantik itu adalah sesuatu yang membuat cinta. Setiap orang memiliki kecantikan yang hanya bisa dilihat oleh satu orang yang mencintainya." - Dudu

Terdengarnya dalam banget ya. Tapi ini sebenarnya akibat si Dudu terlalu banyak membaca Crayon Sinchan. Jadi ceritanya di Crayon Sinchan ada seorang pangeran dari negeri jauh berwajah buruk (Omata) yang jatuh cinta pada seorang pegulat perempuan (Shinobu). Di buku itu diceritakan bahwa di negeri asal Omata, definisi cantik dan ganteng itu tidak seperti di Jepang. Dari situ Dudu jadi belajar bahwa cantik itu relatif. Ternyata Crayon Sinchan ada gunanya.

Saya Mama yang ngga pede difoto
soalnya kalah keren sama anaknya

18 June 2013

Boy of Steel

 “People are afraid of things they don’t understand.”

– Jonathan Kent

Superman was never my favorite super hero. So when he’s back on screen with his latest gig, I didn’t plan to join the crowd. Then come this conversation, 

Dudu: Ma, aren’t we going to watch Superman?
Me: Yeah… (not excited).
Dudu: Let’s go. I wanna know how he became Superman…. And we have to buy that Superman cup.
Me: Okay… (still not excited) 


  
That Superman Cup!


Andrew/Dudu is always curious on how someone can become a super hero. This past years, he’d been watching Batman (not The Dark Knight though), Spiderman, Thor, Iron Man (so far his favorite) and The Avengers. Now, I guess, it’s Superman’s turn. 

So we ended up going, fighting the crowd and managed to score a seat in the front row to watch the (supposedly handsome) Superman. What got me wasn’t what the screen was saying but the conversation we had afterwards. Cos, he, somehow has that “Superman” syndrome. An alien stranded in a different world, with different language and different culture.


Dudu in Metropolis
Dudu: How far is Kansas from my home town?
Me: Well, 2-hour drive.
Dudu: Oh, it’s not that far.
Me: You’ve been to Kansas, you know. You’ve been to Metropolis. I’ve shown you the pictures.
Dudu: I don’t remember.
(Yeah, he was a little over 1 then)
Dudu: They have corn field.

Me: Missouri has corn field too. 

After seeing the tornado scene... and having a brief thought about Dorothy, Toto and the Wizard of Oz, he asked...
Dudu: What’s wrong with Kansas?
Me: There’s nothing there…

(and there’s almost nothing in Missouri too haha…) 
 
Dudu: Why did he cry after killing the bad guy, Ma?
Me: It’s the last person from his planet. His ‘brother’.
Dudu: But this ‘brother’ is a bad guy.
Me: Put it this way… what if you have to kill a fellow American… the only American you know here, to save me, your Indonesian Mom, or your Indonesian friends. Would you do it?
Dudu: (thinking) Yeah, that’s tough.

Dudu: Why Superman doesn’t kill zombies?
Me: Alice (Resident Evil) will be out of job. Everyone has his/her own role in Hollywood.

Eventually, I got to ask questions.
Me: So, do you want to be Superman?
Dudu: I can’t. He’s not human. But I can be Iron Man. I can be smart, rich and inventing stuffs…
(Hopefully minus the playboy part)

Me: I don’t want you to be Superman either. He’s 33, single, jobless and living off his mother.
Dudu: But he has a job, Ma… Superman is saving the world.
(Well… if you call that a job)

But the best part came in the end.
Dudu: The captain said Superman is sexy.
Me: Yeah, I’d agree with her. Superman is hot.
Dudu: But this time he doesn’t wear his underwear outside…

I’m glad I watched Superman.