20 March 2022

Menjawab Pertanyaan dan Rasa Penasaran tentang Inner Child

“Kayaknya gue punya inner child belum selesai deh. Gimana cara menyelesaikannya ya?”

Topik yang muncul di salah satu grup WA baru-baru ini membuat saya penasaran juga. Apa itu inner child? Soalnya topik Inner Child ini memang lagi banyak jadi topik obrolan. Percakapan di WA pun jadi panjang.

“Kayaknya kita perlu tahu dulu inner child artinya apa.”
“Iya bener, lalu perlu dilihat apakah inner child kita terluka sebelum pergi healing-healing.”

Emang ada inner child yang tidak terluka? Lalu, healing-nya gimana?


Daripada banyak pertanyaan dan salah pengertian, saya langsung mendaftar acara #BincangISB yang berjudul “Bertemu dengan Inner Child,” yang diadakan pada Sabtu, 19 Maret kemarin. Acara yang menghadirkan Psikolog Diah Mahmudah S.Psi, dan Psikoterapis Dandi Birdy S. Psi, para founder Biro Psikologi Dandiah ini memberikan pencerahan tentang inner child.

Menurut Teh Diah, inner child ini adalah sosok anak kecil, yang memiliki sisi happy dan sisi unhappy pada orang dewasa di masa kini. Biasanya baru bisa disebut inner child pada orang yang sudah dianggap dewasa, pada usia minimal 21 tahun. Dalam psikologi, definisi inner child ini dijelaskan oleh John Bradshaw, salah satu tokoh di dunia psikologi dan penyembuhan yang menuliskan tentang inner child di bukunya “Homecoming: Reclaiming and Healing Your Inner Child,” sebagai pengalaman masa lalu yang belum atau tidak mendapatkan penyelesaian yang baik. Jadi bisa negatif bisa positif.


Tanda-tandanya bisa dilihat dari cara kita menyikapi sesuatu di saat sulit, karena dalam dunia psikologis, usia masehi dan usia mental berbeda. Misalnya saat bertengkar dengan pasangan atau saat menghadapi anak remaja, “yang terjadi adalah anak versus anak,” kata Teh Diah. Soalnya meskipun kita berusia 30 tahun dan anak 10 tahun secara masehi, tapi secara mental kita sama usianya. Ups.

Lalu ada juga pernyataan bahwa yang penting kan gimana kita ke depannya. Yang lalu sudah berlalu, buat apa dibahas lagi. Well, sebenarnya menggali masa lalu bukanlah menyalahkan masa lalu. Apalagi kalau bicara inner child, yang kebanyakan berhubungan dengan pengasuhan, biasanya kita akan merasa bahwa kita menyalahkan orang tua. Padahal sebenarnya bukan begitu. “Bukan untuk mengubah takdir atau menyalahkan takdir, tapi untuk mengubah respon kita pada takdir,” kata Teh Diah.

Kenapa inner child yang terluka ini bisa jadi masalah? Kita akan kesulitan melakukan positive acting kalau kita masih ada negative thinking dan negative feeling. “Kunci dari kesuksesan menjalin relasi interpersonal adalah ketika kita sudah sukses menjalin relasi intrapersonal,” saran Teh Diah. Jadi kita harus bereskan dulu semua yang di dalam, bertemu dengan inner child dan diselesaikan masalahnya. Kalau ditekan secara tidak sadar (represi) atau sengaja dilupakan (supresi) bisa menimbulkan dampak negatif untuk kesehatan mental, soalnya “nanti suatu saat ketika ketemu situasi yang mirip dan bertemu dengan sumber masalahnya, itu akan naik ke atas dengan kapasitas yang lebih besar,” kata Pak Dandi.


Inner child ini ada yang positif? Iya ada. Pada setiap diri kita ada 3 sisi: child, adult dan parent. Inner child ini pada dasarnya mencari yang senang-senang dan cenderung hedonis, atau yang lebih familiar disebut free and happy child. Jika tepat penggunaannya, misal pada saat kita bermain dengan anak, inner child ini akan memberikan pengalaman yang positif juga. “Jadi bukan inner child ini tabu, jangan boleh ada. Kan kita memang punya. Tapi ambillah yang positifnya,” saran Pak Dandi. “Yang salah itu adalah setiap saat dia kekanak-kanakan terus.” Tapi apakah inner child yang positif ini tidak bermasalah, tidak juga. Kalau terlalu happy dan free juga akan dicomplain. Misalnya seorang suami yang terlalu sering touring atau main game karena inner child positif-nya dominan, padahal ada tanggung jawab untuk keluarga.

Kalau udah ketemu inner child lalu bagaimana? Pertama adalah mencari apakah benar memiliki luka pengasuhan. Kalau ada di level berapa dan domain sebelah mana. “Yang kita lakukan adalah self-awareness. Oh jadi kita punya nih indikasi inner child,” jelas Teh Diah, lalu dicari bagian mana yang maladaptif dan dimulai healing dari sana. Bantuan professional dibutuhkan karena inner child ini biasanya sudah menyangkut luka puluhan tahun lalu.



Gegara ikutan event ini saya jadi penasaran, inner child saya apa ya? Beberapa teman saya di grup WA tadi sudah menemukan setidaknya satu masalah masa kecil yang harus dihadapi. Ada yang insecure karena tidak pernah dianggap mampu oleh orang tuanya. Ada yang tertekan karena orang tua terlalu dominan, bahkan setelah si anak menikah dan punya anak lagi. Saya jadi ingin mencari inner child saya dan bertemu dengannya. Tapi itu sepertinya materi untuk postingan lain hehe.

Satu kalimat yang jadi pegangan saya soal inner child ini adalah Healing itu fight bukan flight atau freeze, mengatasi luka sesuai dengan penyebab lukanya. Kalau stress tugas kuliah, healing-nya nonton Netflix itu namanya rekreasi. Hitungannya kabur. Jadi Healing itu melakukan sesuatu, bukan kabur (flight) atau terdiam (freeze). Setidaknya, kalau kelak bertemu dengan si inner child, saya sudah tahu harus bagaimana.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.