06 April 2026

Ketika Circle Pertemanan Justru Bertambah di Usia 40+

Di usia 40 tahun, saya kehilangan semuanya.

Ini clickbait yang akhir-akhir ini sering saya pakai kalau cerita. Habis itu biasanya ditimpuk orang haha. Tapi beneran lho. Pas usia 40 itu saya officially yatim piatu, pengangguran dan jadi empty nester. Semua terjadi di tahun yang sama. Ya, di usia 40 itu. Lalu, bagaimana hal ini berpengaruh ke cara saya menyikapi pergaulan?

Banyak studi yang menyatakan bahwa berkurangnya circle pertemanan, baik secara sengaja maupun tidak, di usia 40 tahun adalah karena orang-orang di usia 40-an sering kali memikul banyak tanggung jawab sekaligus, diantaranya: tuntutan karier, pernikahan atau membesarkan anak, merawat orang tua yang lanjut usia, dan komitmen keuangan. Bagaimana dengan saya yang hidupnya terbalik? Eh, terbalik gimana?

Waktu usia 20-an, kesibukan saya begini.

Saya jadi ibu tunggal di usia 22 tahun. Saat itu belum lulus kuliah. Jadi, ketika teman-teman seangkatan saya sibuk lulus, kerja, dan menikmati hasil gaji pertama, saya tidak bisa. Sebelum cerita lebih lanjut, saya mau disclaimer dulu kalau hidup saya tidak menderita ya. Saya baik-baik saja, cuma timeline-nya aja yang terbalik. Jadi usia 20an dan 30an saya dihabiskan untuk bekerja dan membesarkan anak, sekaligus tinggal bersama orang tua. Ketika teman-teman saya menikah dan berkeluarga, anak saya sudah besar.

Puncaknya ya kemarin, pas usia 40, saya balik lagi jadi jomblo. Kalau menurut riset, rata-rata di usia 40, orang menghadapi banyak tanggung jawab, saya sudah “selesai.” Inilah kenapa saya memutuskan untuk menambah circle. Sesuatu yang tidak saya lakukan di usia 20-30, seperti teman-teman saya pada umumnya.

Circle baru itu sebenarnya tidak baru-baru amat

Saya KPopers dari 2012, meski cuma hardcore fan ke satu grup doang. Tapi orang biasanya lebih kenal saya sebagai single mom, sebagai mama Dudu, sebagai penulis, dan lain sebagainya. Saya lebih suka sendirian kalo ngonser dan heboh sendiri di IG story yang selewatan. Saya merasa kalau dunia KPop ini terlalu riuh dan terlalu rusuh buat jadi circle tetap. Saya merasa kalau saya ini introvert, energinya cepat habis kalo ngomong sama orang. Bayangkan kalau masuk ke dunia KPop yang heboh luar biasa itu.

Kalau dibilang ketuaan buat fangirling, well, idol saya ini juga udah 40+ umurnya haha

Lalu, grup kesayangan saya comeback, tepat ketika saya tidak punya apa-apa lagi. Pekerjaan yang seadanya, kalau ada project syukur, kalau nganggur ya saya cari kegiatan lain. Keluarga sudah sibuk masing-masing juga. Ada kekosongan yang harus saya isi. Kekosongan yang tadinya diisi sama peran saya sebagai seorang anak, dan seorang ibu.

Usia 0-20 tahun saya jadi anak dari orang tua saya.
Usia 20-40 tahun saya jadi ibu dari Dudu
Usia 40 tahun sampai habis nanti, saya mau ngapain?

Ya ini ada di depan mata. Grup Kpop yang sudah jadi bagian dari hidup saya sejak 2012, sekarang kembali lagi. Jadi, saya nekat membuka pintu dan nyemplung ke sana. Nonton konser jadi barengan teman, pergi karaoke di mall, dandan pakai kostum, sampai ikutan fan project. Ngobrolin idol sampai halu ke mana-mana. Hal-hal yang kayaknya kok bukan untuk saya yang sudah 40+ ya? Ah, kalau memang ini yang bikin bahagia kenapa tidak dilakukan saja?

 

Pertemanan di dunia Kpop membuat range teman saya bertambah banyak banget. Dari yang lebih muda dari anak saya, seumuran anak saya, lalu terus sampai yang lebih tua dari saya. Saya temenan sama anaknya, eh tapi saya seumuran ibunya. Si ibu ada di fandom grup yang sama juga, meski sudah kurang aktif. Ikut volunteer di negara tetangga sambil nonton konser di luar negeri. Kenal teman-teman dari seluruh dunia juga, sampai Eropa cuma gara-gara Kpop. Ini sih, bukan keluar zona nyaman doang, tapi beneran kejeblos ke padang belantara.

Dramatis banget ya?

Bergabung ke circle baru di usia 40 berarti keluar dari zona nyaman.

Yang kedua adalah gereja. Saya bukan orang yang religius, dan pergi ibadah yang cuma seminggu sekali itu pun hanya kalau tidak bangun kesiangan. Dulu ada orang tua dan anak, banyak yang jadi alasan untuk berangkat ke gereja. Apalagi orang tua saya termasuk yang rajin ibadah. Begitu saya jomblo, saya mulai iseng ikut persekutuan doa dan kegiatan gereja lainnya, dan kejeblos jadi pengurus wilayah. Tiba-tiba jadi panitia paskah, jadi ikutan belajar liturgi, dan ketemu dengan sejuta jenis manusia dari segala lapisan usia.

Circle kedua saya adalah gereja

Ini benar-benar di luar prediksi dan kenyamanan saya yang rencananya mau pensiun dini. Namun, banyak hal baru yang saya dapatkan di sini, baik soft skill maupun hard skill. Bagaimana menghadapi aturan yang kaku, dan perbedaan pandangan hidup? Lalu, kegiatan gereja menyita waktu, sementara kalau tidak diprioritaskan juga gimana. Kan urusannya sama Tuhan dan pelayanan. Perbedaan generasi karena kalau jadi panitia kegiatan, di satu tim ada yang lansia, dewasa dan remaja. Kalau meeting bisa kacau balau. Aduh, tolong!

Anehnya, saya tetap saja bertahan di sana, mencoba menjalani satu demi satu hari. Setahun kemudian, gereja ini sudah jadi circle baru saya.

Intinya, saya jadi paham bahwa mencari teman baru di usia 40 itu sebenarnya tidak susah. Mereka datang dalam berbagai bentuk dan rentang usia. Hanya perlu nekat sedikit keluar dari zona nyaman saya selama ini.

Jadi, apakah menambah circle pertemanan adalah keputusan bijak di usia 40 tahun?


Kalau ditanya plus minusnya, ada beberapa hal positif yang saya dapatkan dari memperluas circle di usia 40 begini:
  • Jadi paham pemikiran Gen Z dan bahkan yang lebih muda lagi. Karena teman-teman saya banyak yang masih usia 20-30an, dan Kpop tidak begitu mengenal age gap, jadi nyambung aja gitu meski mereka seumuran si Dudu, anak saya.
  • Bebas. Dalam arti, tidak ada beban pikiran masa depan. Saya bisa fokus ke kegiatan dan enjoy life as it is. Kalau ini saya lakukan di usia 20an, pasti ada pikiran habis ini nikah, nabung, urus orang tua, dan sejuta tanggung jawab sebagai orang dewasa yang menanti kita. Di saya kan itu semua “sudah lewat”.
  • Kadang mereka lupa saya sudah tua dan saya jadi ikutan muda lagi. Not sure apakah ini positive atau negative ya hahaha.
Minusnya juga ada dong.
  • Capek. Pake banget. Soalnya hal-hal se-extrovert ini kan seharusnya dilakukan di usia 20an ya. Ketika semangat masih tinggi dan energi masih banyak. Masih berani mencoba hal baru ini itu. Bukan ketika sudah cepat lelah dan sebenarnya memilih rebahan di rumah.
  • Perlu waktu lebih untuk memahami. Terutama kalau teman-teman saya masih kuliah, belum menikah, sudah terlalu lansia dan sebagainya. Saya kadang kejepit dicurhatin anaknya, tapi ibunya juga curhat sama saya. Soalnya usia saya kan pas di antara mereka, terlalu tua untuk jadi anak, tapi terlalu muda untuk jadi ibu yang punya anak kuliahan. Atau kalau obrolan soal kampus, first job, trend joged tiktok terbaru dan sejenisnya, saya perlu waktu ekstra untuk memahaminya.
Tahun 2025 nambah circle baru

Kemarin waktu diajak foto, saya dengan polosnya bertanya, “ini kalo mirror selfie, gue liatnya ke mana ya?” Alhasil semua anak muda itu protes kenapa tante yang satu ini kurang update hahaha.

Intinya, ketika ada sesuatu yang berkurang, saya punya tendensi untuk mengisinya. Agar tidak pikun, dan tidak kesepian. Well, kayaknya mengisi kekosongan dengan circle baru, agar hidup lebih berwarna adalah pilihan yang tepat buat saya. Nanti usia 50 tahun mungkin saya akan cari circle nenek-nenek merajut atau oma-oma doyan travelling ah.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.