03 February 2026

Keluar Masuk Circle Pertemanan: Dapat Apa Selain Hikmah?

Apa yang pertama kali terpikir kalau mendengar kata “circle pertemanan?” Saya terpikir Komunitas tapi dalam konteks yang lebih general. Misalnya teman-teman ibu tunggal, Teman-teman blogger, dan teman-teman Kpopers. Bayangkan sebuah lingkaran, yang di mana orang-orang di dalamnya merasa terhubung karena kesamaan hobi, pekerjaan, visi, atau sekadar merasa "nyambung."

Kalau ditanya ada berapa, jawabannya ada banyak.
Punya banyak circle pertemanan gitu apa manfaatnya?


Pertama, saya jadi bisa melihat sesuatu dari berbagai perspektif. Ketiga circle yang saya sebutkan di atas tadi semuanya berbeda, tapi ada satu benang merah yang sering jadi penyatu obrolan: sama-sama tinggal di Indonesia. Hahaha. Ya, kalau sudah soal keluh kesah kehidupan, saya jadi melihat banyak perspektif.

Selain itu, punya banyak circle juga memberikan eksposur terhadap hal-hal baru dan membuka pandangan terhadap hobi dan profesi yang ada. Pertanyaan simple seperti, “kerjaan lo apa?” bisa tiba-tiba membuat saya kaget bahwa kok ada pekerjaan itu ya haha. Ada teman yang kerja remote jadi cross-border recruiter. Kliennya di berbagai negara yang mencari orang Indonesia, dan sebaliknya, perusahaan Indonesia yang membutuhkan expat. Tapi kerjaannya freelance alias hanya dikontrak per-project. Menarik juga. Selain eksposur, saya juga dapat banyak kesempatan networking.



Yang ketiga, saya punya alternative geng kalau satu circle sedang tidak nyaman atau tidak aktif. Ada kalanya teman-teman di satu circle ini mendadak sunyi senyap tidak saling menyapa karena kesibukan yang ada. Karena circle saya banyak, saya tinggal pindah main ke circle lain.

Kok bisa punya banyak circle? Lingkaran merepresentasikan pola berulang, tanpa adanya awal dan akhir. Masuk ke satu lingkaran lalu tiba-tiba jadi teman. Biasanya itu yang terjadi sama saya.


Ada satu circle pertemanan, yang saya pernah iseng mencoba masuk karena kami semua punya kesamaan: suka menulis. Awalnya seru karena ada ngobrol dan diskusi soal tulis menulis dan bikin content. Lalu, semakin ke sini jadi tempat sharing-sharing link. Itu pun sebenarnya seru karena saya jadi dapat banyak bacaan. Eh, tapi karena saya sendiri tidak pernah sharing tulisan, saya kena depak dari circle tersebut. Sedih juga, tapi ya sudahlah diikhlaskan saja.

Lalu, ada circle lain yang pada akhirnya saya juga jadi penyimak obrolan saja, dan ini untungnya saya tidak didepak haha. Circle ini isinya para content creator, saya menemukan mereka karena pernah iseng-iseng ikutan kopdar dari sosmed. Ceritanya, waktu itu ingin serius menjalankan Tiktok si Panda. Lalu, seiring dengan kesibukan yang makin beragam karena sekarang saya kerja serabutan, saya hanya menyimak saja. Ilmu yang dibagikan menarik, dan diskusinya juga seringkali berbobot. Namun, akhir-akhir ini, lebih banyak yang promo kelas atau promo acara di sana. Tidak apa-apa juga sih. Saya hanya kangen interaksi yang dulu saja.

Selalu ada circle yang baru ketika kita keluar dari circle yang lama. Saya juga tidak pernah menyerah mencoba masuk ke circle yang ada. Melihat apakah saya cocok menjadi bagian dari lingkaran tersebut. Kalau tidak cocok ya keluar dan cari lagi.


Lingkaran mengajarkan bahwa hidup bukan soal menuju garis akhir, tapi tentang bergerak, kembali, dan menjadi lebih utuh setiap putaran. Setiap circle pertemanan yang dimiliki adalah cerminan diri kita, penggabungan identitas yang kita miliki.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.