Ketika berkunjung ke sebuah museum atau gallery, biasanya saya cenderung fokus ke koleksi yang ada di tempat itu saja. Biasanya, koleksi yang dipamerkan sudah diatur sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita. Ternyata tidak selalu begitu. Hadir di acara Peluncuran Platform Digital "Koleksi Jakarta" pada 30 Juni 2026 yang lalu di Ruang Teater Museum Sejarah Jakarta, saya jadi mendapat insight baru.
Museum-museum di Jakarta cenderung berdiri sendiri-sendiri. Akibatnya, cerita sejarah Jakarta menjadi tersebar dan pengunjung harus menghubungkan potongan-potongan kisah tersebut secara mandiri. Bukan berarti ketika saya datang ke satu pameran, ceritanya jadi terputus. Tapi ketika ada satu objek sejarah, dan saya wondering benda ini punya cerita apa lagi, saya harus jadi Sherlock Holmes sendiri untuk tracking-nya.
Sekarang ada platform ini, koleksijakarta.id, yang menjadi rumah bagi ribuan koleksi dari 11 museum di Jakarta. Semuanya jadi bisa diakses di satu tempat. Yang dicontohkan di acara misalnya, "Lukisan Pengantin Revolusi" karya Hendra Gunawan (koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik) bukan hanya karya seni yang berdiri sendiri. Di website, saya bisa mencari objek lainnya yang terkait dengan tema Revolusi dan Kemerdekaan seperti wayang perjuangan atau miniatur kapal USS Renville yang ada di museum lain.
Proyek bertajuk Indonesian Museum Documentation Project (Koleksi Kita) yang diinisiasi sejak tahun 2024 ini merupakan buah kolaborasi antara Southeast Asia Museum Services (SEAMS) dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, dengan dukungan pendanaan dari Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) Kedutaan Besar AS.
Acara hari itu dimulai dengan sambutan hangat, pemutaran video peluncuran, penyerahan data secara simbolis, hingga pengenalan platform-nya. Karena saya juga ikut FGD yang diadakan SEAMS untuk uji coba platform ini, jadi ketika melihat websitenya benar-benar launching, rasanya jadi senang. Selain FGD, proses di belakang platform ini juga termasuk sulit.
Tito Apriansyah, Photographer Southeast Asia Museum Services (SEAMS) yang adalah lulusan Arkeologi Universitas Indonesia membagikan ceritanya di sesi "Behind the Lens". Mengingat fisik benda bersejarah sangat rentan rusak, tim bekerja ketat berdasarkan standar FADGI (Federal Agencies Digital Guidelines Initiative). Mereka meminimalkan risiko kerusakan dengan mendirikan studio foto sedekat mungkin dengan ruang penyimpanan (storage) agar objek tidak perlu dipindahkan terlalu jauh.
Tidak kalah menantang adalah urusan katalogisasi yang dipaparkan oleh Jessica Lerrick, Assistant Cataloguer di SEAMS. Sejak Oktober 2025 hingga April 2026, proyek ini berhasil mengkatalogisasi 1.392 objek secara seragam. Katalogisasi sangat krusial karena satu benda seringkali memiliki beberapa nama berbeda yang membingungkan pencarian. Dengan memberikan identitas tunggal yang konsisten, objek-objek tersebut kini lebih mudah ditelusuri. Proses ini melibatkan pelacakan asal-usul, riset mendalam, wawancara dengan penyumbang atau masyarakat adat, hingga asesmen kondisi fisik objek.
Saya pernah keliling Museum dengan VR atau digital tour yang tersedia di webnya. Gara-gara pas pandemi kemarin cuma bisa di rumah aja. Adanya Koleksi Jakarta tentunya berguna untuk banyak hal. Untuk jalan-jalan virtual, mencari cerita dari depan laptop. Untuk bikin perencanaan mau ke museum apa untuk lihat apa. Untuk bikin itinerary jalan-jalan singkat di Jakarta.
Seperti kata Tito pada pemaparannya, proses konversi fisik ke digital ini bertujuan untuk preservasi, manajemen data, dan akses publik. Bukan untuk menggantikan objek aslinya. Objek fisik pasti menghilang oleh waktu, apalagi dengan adanya teknologi, generasi yang sekarang mungkin lebih akrab dengan koleksi digital. Semoga langkah awal digitalisasi ini terus dirawat dengan baik dan bisa dilanjutkan ke museum-museum lainnya.









No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.