Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

17 August 2023

Tujuhbelasan Berkesan dan Pesan untuk Indonesia

Sudah puluhan kali melewati 17 Agustus, namun entah kenapa tidak ada acara berkesan yang muncul di kepala. Ketika sekolah dulu, 17-an identik dengan upacara. Baik ikutan secara langsung di sekolah atau nonton TV. Lalu ketika mulai bekerja, maknanya mulai hilang karena saya seringnya bekerja di tanggal merah. Pertama ketika bekerja sebagai wartawan, harus menghadiri event 17-an dan menuliskan reportasenya. Lalu saya pindah ke e-commerce, di mana kemerdekaan ini adalah waktunya promosi dan diskon belanja. Ujung-ujungnya ya 17an dihabiskan dengan bekerja.

Karena bukan tim aktif lomba, saya juga jarang berpartisipasi di perlombaan selain yang ada di sekolah. Sekolahan Dudu yang internasional juga tidak terlalu punya perayaan 17 Agustus yang meriah. Lalu momen berkesannya apa? 

Setelah browsing foto, ternyata ada dua momen yang unik di perayaan 17 Agustus sepanjang hidup saya.

Momen pertama adalah jalan-jalan. Kita pernah naik pesawat pas 17 Agustus. Haha. Jadi spesial karena Halim Perdana Kusuma waktu itu dihias dengan bendera merah putih. Dudu juga ikutan excited dengan semangat kemerdekaan, mau saja disuruh foto-foto pakai ikat kepala merah putih. Yang lebih memorable-nya lagi, karena kita penerbangan dari Halim Perdana Kusuma, semua pesawat delay. Baru bisa terbang setelah pesawat tempur selesai acara 17an. Airportnya ramai tapi tidak ada yang protes.

Jadi tambah spesial karena perjalanan kita saat itu adalah ke Jogjakarta untuk lamaran adik saya, sekaligus survey lokasi pernikahannya. Seru!

Momen yang kedua adalah ketika secara random, kami sekeluarga memutuskan untuk mengadakan Korean BBQ di rumah. Saat itu masih pandemi dan PPKM masih lumayan ketat. Kami memesan peralatan BBQ mulai dari kompor gas, panggangan, daging dan bumbu dari toko online. Lalu, mulai mencari side dish dari restoran favorit yang untungnya berhasil survive selama pandemi. Setelah lockdown dan kemudian PPKM, 17an tahun itu terasa lebih merdeka.

Berkumpul bersama keluarga, menikmati hidangan setelah sekian lama terperangkap di rumah masing-masing selama pandemi.


Harapan untuk Indonesia

Almarhum Papa selalu bilang kalau orang tambah tua jadi tambah kuno. Kalah cepat dengan teknologi dan perkembangan zaman. Semakin ketinggalan dalam hal ilmu. Mau belajar pun, sudah tua dan otak terkadang sudah tidak mampu. Sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.

Nenek saya yang usianya 92 tahun masih bisa belajar belanja online. Sekarang dia bisa browsing aplikasi e-commerce dan shopping sendiri. Tante saya yang usianya 70an punya instagram sendiri. Meskipun masih sering terjebak hoax yang beredar di grup keluarga, namun para lansia ini mau maju dan belajar dengan caranya.

Saya berharap Indonesia juga begitu.

78 tahun bukan usia muda. Indonesia akan terus bertambah tua. Namun bukan berarti negara ini akan jadi gaptek, kolot dan terjebak nostalgia. Manusia berubah. Zaman dan teknologi jadi maju. Saya berharap Indonesia mau belajar mengerti, mau menerima edukasi sebelum menghakimi. Jangan takut akan sesuatu yang baru, lalu membatasi kreativitas dengan alasan melindungi generasi penerus bangsa. Sebaiknya Indonesia belajar memahami, dan bersama-sama mencari solusi yang tepat. 

Jangan jadi nenek-nenek yang merasa internet itu ancaman. Teman bule cucunya sebagai keturunan kompeni yang harus dicurigai. Sulit menerima ketika anak cucu punya moral compass yang berbeda akibat mudahnya akses eksposure ke negara asing. 

Semoga Indonesia bisa semakin bijak menyikapi transformasi dalam negeri. Mampu merangkul perbedaan yang ada dan setia pada semangat bhineka tunggal ika. Keras tak harus benci. Jangan sampai anak cucu pergi dan tak kembali, lalu Indonesia terpaksa menghabiskan masa tuanya di panti jompo. Jadilah sosok yang bijak seiring bertambahnya usia, orang tua yang mencintai dan dicintai.

Ah, kalau menulis begini jadi mellow sendiri. Saya memiliki love-hate relationship dengan tanah air tercinta. Yang sudah banyak berkontribusi pada hidup saya, tapi banyak juga memberikan kekecewaannya. 

 

08 April 2018

Merencanakan Playdate Jelajah Nusantara dengan Fitur Eksplor Skyscanner

Saya sedang mentok mau liburan ke mana lagi.

Baru juga awal tahun kemarin saya dan geng Mama Playdate pulang dari Korea, tapi kami sudah mau merencanakan liburan berikutnya. Dan tidak seperti playdate sebelumnya, kali ini kami bertiga mentok ide.


Singapore mahal, kata teman saya. Dalam negeri aja gimana?
Tapi dalam negeri mau ke mana? Bromo lagi? 



Beberapa tahun lalu, kami bertiga beserta keluarga masing-masing pernah “terjebak” 16 jam di gerbong kereta Gajayana menuju Malang. Trip playdate perdana keliling Malang, Batu dan niat melihat sunset di Gunung Bromo. Tidak kesampaian karena terlalu berkabut. Dari situ, playdate dalam bentuk liburan jadi semacam tradisi. Kemudian para Mama dan anak-anak Playdate ke Singapura. Main-main ke Universal Studio di Pulau Sentosa, Legoland di Malaysia dan menginap ramai-ramai di satu hostel dengan bunk bed. Awal tahun ini, berkat tiket pesawat Garuda Indonesia dengan harga terjangkau yang kebetulan available pas malam Tahun Baru, kita berangkat Playdate ke Korea.

Sekarang kita blank mau pergi ke mana lagi buat Playdate berikutnya. Tapi tujuannya sudah pasti: dalam negeri alias jelajah nusantara aja.

Udahlah, Bromo lagi aja kan kemaren kena kabut jadi belom liat matahari terbit. Mending kita beli tiket pesawat ke Surabaya trus nyewa mobil ke Malang.


Not a bad idea sih.

Tapi tetap saja saya merasa basi kalau harus mengulang satu destinasi. Terus, mau dibawa ke mana dong liburan kita? Dalam merencanakan #DateWithDudu versi liburan, saya selalu mulai dari tanggal. Setelah tahu ada berapa hari yang bisa digunakan jalan-jalan, maka saya baru memilih destinasi. Selalu begitu sampai saya mengenal fitur eksplor yang ada di Skyscanner. 

21 September 2017

Belajar Menghargai Perbedaan dengan Wisata Rumah Ibadah

Dudu tidak dapat pelajaran PPKN dan Agama di sekolahnya. Tidak ada buku cetak yang mengajarkan umat Hindu sembahyang di Pura, umat Islam di Masjid dan lain sebagainya. Maklum, sekolah internasional, jadi berbeda kurikulumnya dengan saya dulu yang bertahun-tahun dijejali teori perbedaan suku dan agama. Ketika kegiatan Wisata Rumah Ibadah Komunitas Bhinekka (akhirnya) dibuka untuk anak kelas 4-6 SD di Jakarta, saya langsung daftar. 




Kenapa memahami perbedaan itu penting? Karena anak harus belajar toleransi dan menerima bahwa ada banyak orang yang berbeda dengan mereka. Menurut Vera, psikolog yang membawakan sesi "pembekalan untuk orang tua" di awal acara, tidak memahami perbedaan bisa mengakibatkan anak jadi stress dan kemudian tidak siap menghadapi perbedaan di lingkungan yang lebih luas lagi seperti ketika kuliah atau bekerja. Lalu, kenapa harus jalan-jalan? Ketika saya kecil dulu, menghafalkan bahwa orang Buddha pergi ke Wihara untuk sembahyang bisa menempel di kepala. Tapi untuk Dudu yang lebih visual, jalan-jalan tentunya lebih menarik dan diingat ketimbang mendengarkan "ceramah" guru di kelas. 

Saya drop di Sekolah Gemala Ananda, Lebak Bulus di pagi hari, lalu saya pergi "me time" setelah menyaksikan anak-anak ice breaking dan selesai pembagian kelompok. Orang tua tidak boleh ikutan padahal saya ingin banget mencoba masuk wihara dan lithang di Indonesia. Ada baiknya juga karena saya jadi punya waktu untuk menyelesaikan PR tulisan. Sorenya, saya jemput di Pura Amrta Jati, Cinere. Sambil berjalan kaki pulang dari Pura, Amrta Jati, saya dan Dudu berdiskusi tentang pengalamannya hari itu. Ini cerita Dudu:

10 September 2017

Ngedate Seru Bersama Buku di Indonesia International Book Fair 2017

Bagus ngga pameran bukunya? Pertanyaan itu banyak muncul di whatsapp dan social media saya ketika saya posting tengah #DateWithDudu di Indonesia International Book Fair (IIBF) kemarin. Acaranya sendiri berlangsung 6 – 10 September 2017 di JCC Senayan, tapi niat mampir pulang kantor tidak pernah terlaksana. Memang berburu buku itu harus sama Dudu.

Yah, pamerannya sih bagus, tergantung kitanya cari apa.

Jawabannya standard. Tapi memang begitu soalnya pameran ini sebenarnya memenuhi ekspektasi pencinta dan pencari buku. Mau buku anak ada. Buku islam ada. Buku bahasa Inggris ada. Buku mainstream ada. Buku teenlit ada. Sampai buku-buku bekas bahasa asing pun ada. Yang terakhir itulah yang mendorong saya mampir ke Indonesia International Book Fair pagi-pagi di hari Sabtu. 



Masuknya gratis. Dan banyak “harta karun” yang kita temukan di sana. Di lobby utama kita disambut oleh robot berbentuk IIBF dan booth KPK yang menawarkan banyak buku gratis tentang anti-korupsi. KPK ini sekarang rajin reach out ke anak-anak. Terbukti selain di luar, booth KPK di dalam juga dipenuhi aktivitas seperti dongeng dan lomba foto. Ada banyak board game yang dipajang, semuanya mengajarkan kejujuran dan anti-korupsi. Sebenarnya Dudu kepengen beli, tapi pas kami sampai di sana, boothnya sedang penuh karena ada acara dongeng anak-anak. Yang ada, Dudu jadi mengambil brosur tentang gratifikasi. 

31 August 2017

Cerita dan Harapan untuk MRT Jakarta

Weekend itu seperti biasa saya dan Dudu pergi ngedate. Di perjalanan, menjelang keluar jalan tol yang tersumbat karena lampu merah, saya iseng-iseng bertanya, “bagaimana ya supaya Jakarta tidak macet lagi?”

“Kalau Jakarta punya MRT yang selalu tepat waktu nanti juga tidak ada yang mau naik mobil lagi seperti di Singapura,” jawab Dudu cuek sambil main Minecraft di tabletnya. 


Mencoba naik MRT di Jakarta Fair


Naik busway dong. Naik Commuter Line juga sudah enak sekarang. Saya sering bertanya-tanya sendiri kenapa saya masih memilih menyetir mobil menembus kemacetan, dan bersusah-susah cari parkir. Saat ngobrol-ngobrol dengan adik saya, tentang pengalamannya naik busway, saya menemukan alasannya: saya tidak percaya transportasi umum Jakarta. Saya pernah naik busway ke satu interchange hanya untuk menemukan bahwa bus di koridor satunya sudah tidak ada lagi, padahal masih 30 menit dari jam koridor tersebut berhenti beroperasi. Masalahnya, ketika saya bertanya di halte tempat saya naik, si petugas meyakinkan bahwa bus di koridor sana masih ada.

Saya lalu kembali ke halte awal dan mencari jalur lain untuk tiba di halte dekat rumah saya. Perjalanan saya jadi ekstra 30 menit dan saya kehilangan kepercayaan dengan busway. Kalau busway yang menurut saya paling reliable dan comfortable saja begitu, bagaimana yang lainnya? Karena itulah saya masih memilih memegang kemudi.

Lalu apa yang saya tunggu dari MRT Jakarta? Transportasi umum yang dapat diandalkan. Karena itu kita harus bekerja bersama #UbahJakarta

26 August 2017

Menyeduh Kopi Modern dan Tradisional di Jogjakarta

Motor mabur setunggal, setunggal, kalih…. Tilu lalu matur nuwun. Pengumuman berbahasa Jawa halus tersebut menjembatani bahasa Indonesia dan Inggris, berkumandang ketika saya menunggu bagasi di Bandara Adi Sutjipto pada 17 Agustus kemarin. Bahasa Jawa (halus) saya hanya sampai sekawan, tapi pengumuman yang saya tidak begitu ingat kalimat persisnya tersebut membuat saya tersenyum sendiri.

Hore, saya sudah berada di Jogjakarta.



Ada yang semangat banget mau ke Jogja pas 17 Agustus nih. Merdeka!
Ini kunjungan kesekian saya ke propinsi istimewa di selatan Jawa, dan kali ketiga Dudu mampir ke Jogjakarta. Tapi baru sekali ini saya menginjakkan kaki di Bandara Adi Sucipto. Maklum, dengan adanya keluarga yang tersebar di pelosok Jawa, saya sekeluarga lebih sering bepergian dengan mobil. Lewat jalan darat lebih seru. Tapi kalau tidak lewat udara, saya tidak akan terkagum-kagum sendiri dengan pengumuman penerbangan yang menggunakan bahasa daerah di sebuah airport internasional.

Tujuan saya ke Jogja juga sedikit berbeda. Kalau biasanya kami sekeluarga hanya berlibur, kali ini kami mengantar adik terkecil untuk bertemu calon keluarga barunya yang kebetulan berdomisili di Jogja. Tahun depan, Jogja akan menjadi bagian dari keluarga kami. Karena sudah cukup akrab dengan Borobudur, Malioboro dan Sendratari Ramayana, di kunjungan kali ini saya sengaja mencari sesuatu yang bukan tujuan wisata. Sesuatu yang baru, modern tapi tetap bercerita tentang Jogja.

Keluarga dan kopi, dua hal itu yang akhirnya membawa saya mampir ke tempat nongkrong seru di Jogja yang lengkap dengan kopi enak.

25 July 2017

Bermain (Lebih) Murah di Jakarta

Saya percaya hak anak adalah bermain. Saat ini, hal yang merupakan kebutuhan dasar dan sebenarnya mudah dilakukan ini semakin mendapatkan banyak halangan dari semua sudut pembangunan ibukota. Masa kecil saya yang penuh dengan petualangan bermain sepeda di komplek rumah sudah tidak bisa diwariskan ke Dudu yang kini tinggal di apartment. Harga bermain sekarang ini semakin mahal, meskipun permainannya semakin beragam.

Dengan mahalnya harga tiket masuk indoor playground di sekitar tempat tinggal saya, gadget terlihat sebagai alternative yang lebih praktis dan terjangkau. Namun saya masih mencoba mencari cara agar Dudu juga bisa bermain seperti saya dulu, ketika yang namanya HP belum lahir. Caranya? Ya kita rajin cari promo dong.


Dufan Saat Lebaran
Ketika bulan puasa tiba, beberapa taman bermain seperti Dufan mulai mengeluarkan harga promonya termasuk untuk annual pass yang dapat digunakan sepanjang tahun. Tahun lalu saya mendapatkan annual pass seharga Rp. 270,000/orang. Meskipun akhirnya kita tidak sesering itu ke Dufan karena musim hujan yang tak kunjung reda keburu datang, tapi kita senang memiliki alternatif ke Dufan kalau sudah stuck entah mau ke mana lagi. Masuk ancolnya mahal? Coba masuk pagi-pagi sekitar jam 7, lalu duduk nongkrong buka laptop di Pasar Seni atau jalan pagi berkeliling Ecopark. Selain cari parkir lebih mudah untuk yang bawa kendaraan pribadi, tiket masuk Ancol juga lebih murah.

18 July 2017

Seperti apa Museum Nasional Saat Ini?

“This museum is testing my patience,” ujar seorang anak bule yang diminta menitipkan backpacknya sebelum memasuki ruangan pameran. Itu terjadi setelah kita tidak bisa masuk lewat pintu parkiran, melainkan harus naik lewat jalan keluar mobil karena loket ada di atas dan pintu yang ke parkiran hanya digunakan untuk keluar. Museum yang aneh ini adalah museum tempat saya field trip waktu SMP. Namanya Museum Gajah. Familiar?



Dan sekali itu saya mengajak si anak bule, alias Dudu, ke Museum Nasional karena kita sudah mentok tidak tahu mau pergi ke mana lagi. Ah, kenapa harus dimulai dengan Dudu yang ngedumel? Untungnya seiring perjalanan dari satu lantai ke lantai berikutnya, Dudu sudah ceria lagi. Sudah lupa sama hal—hal yang merepotkan di depan tadi. Dari sini saya belajar satu hal: kalau masuk tempat wisata di Indonesia, jangan keburu jadi ilfil dengan apa yang ada di depan, tapi coba nekat masuk terus ke dalam karena bisa saja kita bertemu banyak benda dan pengalaman berharga.

Karena itu saya dan Dudu bertekad untuk lebih sering bermain ke museum yang ada di Indonesia.

14 November 2016

Delicious Musical Bibap in Jakarta

Kemarin mungkin adalah hari Sabtu dengan paling banyak tawa yang pernah terjadi. Mulai dari reuni teman kuliah saat makan siang, yang namanya ketawa, tidak berhenti sampai berakhirnya show Musical Bibap di jam makan malam. Bibap? Yes, yang tahu Nanta Show wajib nonton Bibap juga.

Thanks To Tiwi for the picture :)
Ini Bibap menurut Dudu:"Bibap adalah permainan musik dengan tema memasak dan lucu juga dari korea. Di sini ada dua Master Chef: Green Chef dan Red Chef. Mereka bertanding memasak Japanese sushi, Italian pizza, Chinese Chicken rice dan korean Bibimbap. Pemenangnya tergantung pilihan penonton bisa jadi Green Chef atau Red Chef. Ada scene dodge ball dengan bantal. Sesungguhnya aku berharap Green Chef yang menang. Setelah kemenangan ada beat box bermain music rock."

15 July 2016

8 Alasan Kita Menginap di The Sunan Hotel Solo

Selalu ada yang pertama. Selama 30 tahun saya bolak-balik ke Jawa, baru kali ini saya menggunakan pesawat terbang dan mendarat di Adi Sumarmo. Baru kali ini juga booking hotelnya lewat apps. Kami menginap di The Sunan Hotel Solo, baru kali menginap dan sepertinya akan kembali lagi. Why? Please read along our reasons below. 



1. Datang pagi bisa registrasi. 
Karena harus menghadiri kebaktian pemberkatan nikah sebelum jam makan siang, saya datang jauh sebelum jam check in. Tapi Mbak Resepsionis The Sunan Hotel dengan ramahnya mencatat nama untuk registrasi terlebih dahulu jadi sepulang kebaktian saya hanya tinggal minta kunci di resepsionis. Memesan hotel lewat apps Traveloka, saya tidak perlu print konfirmasi. Cukup menyebutkan nama pemesan dan resepsionis bisa langsung mencarikan pesanan kita untuk check in.

09 March 2016

Jakarta Toys & Comics Fair 2016

Ritual tahunan kita adalah pergi ke Jakarta Toys & Comics Fair di Balai Kartini setiap bulan Maret dan spending uang angpao Dudu di sana. Kali ini petualangan kita sedikit berbeda karena ditemani zombie dan tongkat selfie.

Biasanya kita berdua jadi salah satu pengunjung pertama. Tahun lalu bahkan sampai beli tiket pre-sale. Namun kali ini tidak ada cerita mengantri hari Sabtu pagi di Balai Kartini karena si Dudu sakit. Dari Jumat sudah bertaruh, kalau tidak sembuh ya berarti kita terpaksa melewatkan kencan tahunan kita ini. Tapi karena si Dudu sudah bertekad untuk sembuh, jadi hari Minggu kita berangkat untuk hunting action figure pelengkap ceritanya. 


Foto pakai monopod. Dudu yang keker, Dudu yang pencet tombol. Untung sukses di percobaan perdana.

06 March 2016

Sejenak di Kampung Batik Laweyan

"Jaga istrimu baik-baik ya, Om." Kalimat Dudu yang berani menguliahi sepasang pengantin baru itu mengundang gelak tawa semua orang yang mendengarnya. Well, pernikahan sepupu saya inilah yang membawa petualangan kita ke Solo, Jawa Tengah. Kota Batik, kalau kata tulisan di bawah nama airportnya.

Meski Adi Sumarmo ternyata terletak di Boyolali.

Berada di kota batik berarti kita harus belanja batik. Apalagi saya termasuk yang kecanduan batik. Mengikuti tante-tante yang hobi shopping, saya sampai di satu lokasi bernama Kampung Batik. 



23 February 2016

Menginap di Grand Batu City Hotel

Sampai di Grand Batu City Hotel dan disambut dengan guyuran hujan di kota Batu, Dudu langsung semangat. “Aku pikir menginap di Batu berarti tidur di atas batu. Atau di gua. Ternyata masih hotel,” katanya sambil tertawa. Lega. Soalnya sepanjang perjalanan Jakarta-Malang naik KA Gajayana, saya sengaja tidak cerita.

LobbyGrand Batu City yang luas. Tangga naik menuju ke restoran.
Padahal waktu kecil kita pernah ke Batu. Pernah merayakan tahun baru di Batu dengan pergi petik apel. Memangya Batu di mana sih? Kalau Jakarta punya Puncak, Semarang punya Bandungan, Malang punya Batu. Kira-kira begitulah.

09 February 2016

16 Jam di Gajayana

Ketika mengiyakan ajakan teman untuk naik kereta api Gajayana ke Malang, saya sebenarnya sedang impulse buying. Alias nekat beli tanpa mikir. Soalnya selain belum pernah naik kereta api, termasuk yang eksekutif, saya juga tidak paham fasilitas apa saja yang ada di Gajayana. Untungnya, 16 jam perjalanan Jakarta-Malang bukan seperti baju mahal yang sampai rumah kita sesali. It’s one fun, unforgettable adventure.


Seminggu sebelum berangkat, teman saya bertanya “16 jam di kereta, anak-anak mau disuruh ngapain ya?” Jujur, saya juga blank. Gadget juga ada batasnya kan. Apalagi si Dudu yang kalau sudah bosan, gadget juga bisa diabaikan begitu saja. Dan itu awal dari serentetan pertanyaan berikutnya seperti “Makan malam dan makan pagi gimana ya?” Nah lho. Saya juga belum pernah deh naik kereta api selama itu.

09 January 2016

Brunch Date at Two Hands Full

Dua kali ke Two Hands Full, dua kali nyasar karena Cafe di daerah Sukajadi Bandung ini tidak ada plangnya. Tapi karena makanannya enak, saya jadi balik lagi sama Dudu untuk brunch di sini. Sekalian mencoba tipe sarapan yang berbeda.


Banyak yang bilang Cafe ini hits. Dan terbukti ketika kita datang untuk Brunch di hari sebelum Natal kemarin, tempat duduknya penuh. Tapi akhirnya kita dapat meja di dekat jendela belakang. Tempatnya mengecil dan jendelanya berkurang dari terakhir kali saya ke sana karena dia pindah tempat ke Sukajadi no 198A, tapi masih tetap nyaman untuk duduk hangout dan makan sama keluarga. Kalau yang tidak keberatan makan di luar dan kalau pas ngga ada yang smoking, duduk di taman belakang juga asyik lho.


03 January 2016

Menantang Ketinggian di Treetop Adventure Park Bedugul

Berawal dari niat untuk melihat bunga, ternyata akhirnya malah jadi mmanjat tali setinggi 8 meter. Karena tahu si Dudu bukan penggemar olahraga fisik, saya merasa sukses besar berhasil membujuknya ikutan outbound di Treetop Adventure Park Bedugul, Bali. 

Terakhir kali ke Bali? Well, sejujurnya sudah tidak ingat lagi. Tapi pernikahan adik saya dan persiapannya membawa kita bolak-balik ke pulau Dewata dalam sebulan terakhir. Tujuan utamanya tentu mengecek venue dan memastikan semua urusan berjalan dengan lancar. Tapi begitu hari Minggu datang, kita bingung mau ke mana. Browsing Trip Advisor, saya menemukan adanya tempat bernama Eka Karya Botanic Garden di Bedugul. Agak jauh ke atas memang, tapi berhubung sudah bosan sama pantai, ya ayolah kita naik ke gunung. Lagipula penasaran dong, seperti apa Botanic Garden pertama dan tertua di Indonesia ini. Lebih keren ngga dari Botanic Garden yang kita kunjungi di Singapura beberapa waktu lalu.

02 January 2016

Romantic Dinner with Dudu at Cocorico

Coba tanya Andrew, apa sih serunya makan di Cocorico Cafe Bandung? “Pemandangannya menakjubkan dan tempatnya tidak panas meskipun tidak pakai AC.”
Pemandangan dari tempat kita duduk
Oalah, yang diingat itu duluan. Maklum, si Jack Frost, alias si Dudu ini paling tidak tahan panas. Jadi, makan malam di restoran dengan pemandangan kota Bandung dari ketinggian, plus angin semilir yang bikin ngantuk memang jadi tidak terlupakan. Ketika reservasi, grup kita yang totalnya ada 6 orang ini dapat di bawah. Soalnya kalau di atas dan dekat jendela rata-rata hanya untuk ber-4. Setelah minta ke waiternya, disarankan naik ke lantai atas dan melihat apakah ada yang kosong. Akhirnya, kita duduk di pinggir, yang tinggal nengok ke kanan langsung bertemu dengan pemandangan kota.

25 October 2015

Berkenalan Dengan Korean Food

Ada yang bilang dari perut sampai ke hati. Well, kalau Korean Food alias K-Food, sebenarnya agak terbalik. Anyway, minggu lalu, saya dan Dudu nge-date di acara K-Food Fair 2015 di Kota Kasablanka.


26 September 2015

Time Travel on Foot at Passer Baroe

It's always nice to walk back in time. Sekali ini beneran jalan kaki ke masa lalu bersama Jakarta Walking Tour sebagai Bagian dari workshop TravelNBlog. Bukan hanya sejarah, tapi juga nostalgia karena Pasar Baru banyak menyimpan cerita masa kecil saya.

14 June 2015

Dari Jakarta Bisa ke 10 Tempat Ini Naik Mobil

Setelah berhari-hari mencari apa yang bisa menggabungkan list tempat liburan kesukaan saya dan Andrew, saya sadar bahwa semua tempat ini bisa dijangkau dengan mobil dari Jakarta dalam 1 hari. Bukan berarti one-day-trip tanpa menginap lho. Sebagian bisa, sebagian lagi akan sangat melelahkan kalau tidak menginap di tempat tujuan. Jadi, ini list kita. Everything is tried and tested ya. Kita sudah pernah benar-benar menjalani.

1. Bogor
Jarak: Rekor kita 45 menit (dari Pondok Cabe lewat Parung)
Di Bogor yang jelas kita senang makan. Karena rumah orang tua yang dekat dengan Bogor, kita jadi sering berakhir pekan di Bogor dan mencoba berbagai jajanan di sana. Banyak Museum di Kebun Raya Bogor yang bisa jadi tempat tujuan wisata keluarga. Sekarang ada theme park juga. Atau untuk yang hobi shopping tapi malas ke Bandung, Bogor juga punya banyak FO seru lho.

Food Court yang "mengapung"
2. Sentul
Jarak: 1-2 jam (lewat tol)
Kota yang terkenal gara-gara sirkuit ini sekarang jadi tempat tujuan orang Jakarta ketika mentok. Makan siang di Ah Poong lalu bermain di Art and Science Park. Kalau mau seharian, Sentul punya Jungleland yang tidak kalah asyiknya untuk keluarga.

3. Jonggol – Mekarsari
Jarak: 2-3 jam (tergantung Cibubur)
Tempat yang menyenangkan ini jadi jauh karena jalanan yang rusak dan Cibubur yang kerap macet berkepanjangan. Padahal kita senang ke Mekarsari, naik kereta keliling kebun buah dan belajar mengenai berbagai macam pohon. Tapi kita penasaran dengan Mekarsari yang renovasi. Jadi liburan sekolah kali ini, boleh juga berkunjung ke sana lagi.

Catur Raksasa Taman Bunga Nusantara
4. Cipanas/Puncak
Jarak: 3-4jam (tergantung Gadog dan buka tutup jalan)
Mama: Kalau ke Puncak mau apa?
Dudu: Jalan-jalan ke taman bunga untuk masuk ke labirin.
Mama: Terus?
Dudu: Minum susu di tempat sapi.
Mama: Terus?
Dudu: Main layang-layang di kebun teh.
Mama: Terus?
Dudu: Ke Taman Safari... tapi nanti kaca mobil kita digigit zebra lagi....


Museum Perjanjian Linggarjati

5. Cirebon
Jarak: 4 jam (tergantung Cikampek dan Simpang Jomin)
Dudu: Ini yang ada museum berbentuk rumah di atas gunung ya?
Mama: Iya, itu namanya Museum Perjanjian Linggarjati
Dudu: Aku mau pergi ke sana lagi. Boleh juga.
Cirebon ini penyelamat di saat kita lelah mengemudi atau kemalaman di jalan. Dulu, sebelum kota-kota lain secanggih sekarang, dan jalan tol super mahal itu belum dibangun, Cirebon adalah rumah singgah ketika kembali dari Semarang.




6. Guci
Jarak: 6-8 jam
Dudu: Menginap di Guci Indah, Ma. Lalu bisa berenang, berendam air panas, naik kuda dan jalan-jalan. Bisa naik ke atas gunung dan beristirahat.
Mama: Tapi hotelnya sering penuh.
Dengan keadaan Pantura sekarang, Guci jadi lebih jauh. Perjalanan kita waktu itu sekitar 6-8 jam karena berbelok di Tegal. Pernah sekali tidak kebagian hotel lalu setelah puas bermain dan berenang (kolam renang hotel bisa masuk dengan bayar tiket), kita akhirnya menginap di Brebes. Cerita lengkapnya di sini ya.




7. Anyer
Jarak: bisa sampai 8 jam gara-gara jalan rusak
Entah kenapa Anyer menyenangkan buat kita. Pantai yang lebih sepi dan lebih banyak seashells untuk dikumpulkan dan dibawa pulang. Mungkin karena kita menginap di hotel yang bukan berbentuk gedung. Masalahnya, perjalanan menuju ke sana penuh dan kelamaan di Anyer berarti siap-siap bosan makan seafood.




8. Palabuhan Ratu
Jarak: 6 jam (tergantung Jagorawi, Gadog dan Sukabumi)
Dudu: Kapan kita menginap di hotel pantai lagi, Ma?
Mama: Hotel pantai?
Dudu: Itu, yang ada kamar berwarna hijau buat Dewinya.
Menginap sudah pasti di Samudra Beach Hotel (sekarang namanya Inna Samudra Beach), hotel yang sudah ada dari jaman Bung Karno. Berenang di pantai harus hati-hati karena Laut Selatan (dan buat yang percaya, sebaiknya tidak pakai baju hijau). Sebelum check-in, makan dulu di kota, karena masuk kawasan wisatanya bayar dan makanan di daerah situ hanya ada (apalagi kalau bukan) seafood.

9. Bandung
Jarak: 3-4 jam lewat Cipularang
Kalau mentok, ya kita ke Bandung. Bisa wisata kuliner (martabak, wedang ronde, restoran Sunda) ataupun shopping di factoy outlet. Bandung punya kebun binatang dan sekarang ini banyak taman kota yang bisa jadi tujuan wisata kalau hanya ingin refreshing. Kalau harus menginap, lokasi hotel favorit kita ada di Ciumbeuleuit yang sejuk, atau yang dekat Cihampelas jadi mudah kemana-mana. 




10. Lembang, Tangkuban Perahu dan Ciater
Jarak: 4-5 jam (lewat Bandung, kalau lewat Subang lebih lama)
Berburu strawberry, mampir ke peternakan untuk minum susu segar, naik ke Tangkuban Perahu dan berendam di Ciater. Mencoba offroad juga bisa jadi pilihan. Banyak hal seru yang tersedia ketika kita memberanikan diri keluar dari Bandung dan menginap di kota kecil di sebelahnya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka blog competition yang diadakan oleh #TravelNBlog