Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

24 April 2022

Ampas Kopi Jadi Pupuk, Apa yang Harus Diperhatikan?

"Ini apaan?"
Tanya Mama saya ketika melihat bungkusan yang sedikit janggal di dekat alat berkebun yang biasanya dia gunakan.
"Ampas kopi, buat pupuk."
"Gimana pakainya?"


Hm… iya juga. Gimana pakainya?

Mama saya adalah tipe orang yang gampang menumbuhkan tanaman. Semua yang dia tanam sukses tumbuh lebat. Mau bunga, sereh, bawang merah, kangkung, sampai pohon pisang dan pohon mangga, semuanya tumbuh lebat. Padahal ya sebenarnya tidak diapa-apakan. Katanya begitu.


"Kayaknya sama deh, Ma, dengan kalau buang ampas kopi harian ke tanaman. Ini cuma dikumpulin jadi banyak aja.
Oh jadi hanya untuk pupuk biasa saja ya."

Ampas kopi Starbucks yang bisa dibawa pulang

Saya, sebagai penyumbang terbesar ampas kopi di rumah, jadi berpikir juga. Selama ini kan kalau minum kopi, ada ampasnya lalu saya buang ke tanaman di kebun secara random. Kadang bunga kebagian, kadang si nanas, kadang pohon pisang. Paling-paling hanya bawang merah yang saya lewatkan karena katanya tidak boleh kebanyakan air. Apakah yang saya lakukan sudah benar? Apa sebenarnya fungsi ampas kopi pada tanaman?

Halo Google, coba tolong berikan jawabannya.
Jawabannya iya. Ampas kopi mengandung potasium dan fosfor yang baik untuk composting. Jadi, ampas kopi ini paling baik digunakan sebagai pupuk. Caranya adalah dengan meletakkan sedikit ampas kopi dan dicampur dengan tanah. Soalnya ampas kopi yang dibiarkan kering di permukaan tanah dapat menghalangi penyerapan air oleh tanah yang ada di bawahnya. Jadi jangan lupa diaduk ketika menambahkan ampas kopi ke bagian tanah di sekitar tumbuhan. Rasio yang paling ideal untuk tanah dibandingkan kopi adalah 4:1

Yang perlu dihindari adalah memberikan ampas kopi yang fresh, alias bukan bekas diseduh. Soalnya ada kandungan caffeine yang kurang baik untuk perkembangan tumbuhan.

Bunga depan beranda jadi lebay begini tumbuhnya

Tanaman apa saja yang bisa mendapatkan manfaat ampas kopi?
Tanaman bunga adalah yang pertama disebutkan oleh seorang expert di homesandgardens.com. Pantesan bunga-bunga di kebun ini kok gampang sekali tumbuh. Terutama satu bunga yang lokasinya ada di depan pintu kamar kerja saya, yang paling sering kebagian ampas kopi. Sementara tanaman induknya berbunga hanya satu, yang ini bisa sampai 5 pucuk.

Kopi juga mengusir siput. Pernah di suatu waktu, beranda saya diserbu siput. Bisa sampai ada 12 siput berkumpul seperti sedang konferensi. Sejak ada bunga yang rajin saya sirami ampas kopi ditanam di dekat beranda, siputnya hilang sama sekali. Konon, siput dan lintah tidak menyukai kopi karena teksturnya yang kasar.

Tanaman lain yang ditanam Mama: Kangkung (kiri belakang) dan bawang merah (depan) 
Plus bonus kenangan panen ubi dan nanas jaman dahulu (gambar bawah)


Tapi, kok saya bisa dapat ampas kopi Starbucks sebanyak itu? Jadi, pertengahan pandemi tahun lalu saya mampir ke Starbucks yang lokasinya di perumahan dan menemukan bungkusan yang tidak biasa. Ketika saya tanyakan ke Baristanya, katanya ampas kopi tersebut boleh diambil secara cuma-cuma. Wah, saya merasa dapat harta karun. Sejak itu, saya suka meminta disimpankan oleh Starbucks langganan. Kalau pas lihat di Starbucks yang saya kunjungi pun, saya suka bawa pulang.



13 February 2021

Mengenalkan Peluang Kerja Green Jobs Kepada Anak Indonesia

Beberapa waktu lalu, saya dan Dudu ngobrolin cita-cita. Pertanyaan yang akan terus selalu ada. “Kamu mau jadi apa?” Waktu TK, Dudu mau jadi Nelayan (atau yang dia sebut Pemancing). Waktu SD pindah haluan jadi Youtuber Game karena dia suka main game. Spesifik banget ya. Sekarang sudah SMP malah tidak tahu mau jadi apa. 

Menyadari bahwa cita-cita seorang anak muncul dari hal-hal yang ada di sekelilingnya, saya merasa wajib mengenalkan konsep dan peluang green jobs kepada Dudu, anak saya yang sekarang sudah berusia 14 tahun ini. Soalnya, tak kenal maka tak sayang.
Mama: Mau coba di sektor green jobs?
Dudu: Apa itu green jobs?
Mama: Yang berhubungan dengan sustainability.
Dudu: Tukang sampah?
Mama: Nggak harus sampah sih.
Dudu: Kalau begitu petani?
Mama: Urban Farming dong. Kan di tengah kota, di atap rumah gitu keren.
Dudu: Itu tetap saja disebut dengan petani, Ma.

Petani kebun sendiri sedang panen jeruk

Perubahan cita-cita si Dudu yang lumayan drastis dari Nelayan jadi Youtuber ini tentunya tidak lepas dari perkembangan teknologi. Anak saya masih merasakan jaman Nokia 3310, ketika telepon ya kalo nggak buat telepon ya buat SMS sama main game snake. Sekarang Dudu yang SMP mau naik SMA ini belum punya cita-cita baru yang dia yakin pasti mau diikuti. Makanya, begitu saya mendengar tentang green jobs ini saya merasa harus ikut webinarnya dan memperkenalkan jenis pekerjaan ini ke Dudu.

08 January 2017

New Year, Brighter Future

Saya memperhatikan Dudu yang sibuk mencatat. Ini anak ngapain ya? Tumben-tumbenan. Biasanya hanya saya yang sibuk menulis sementara dia main game, tapi hari itu dia tampak antusias menyimak dan mencatat apa yang disampaikan narasumber di sebuah acara ketemuan Blogger The Urban Mama berjudul Bright Future.


Lalu ketika saya menuliskan reportase ini, saya melihat-lihat kembali catatannya dan menemukan beberapa poin menarik tentang Kampanye yang diadakan Unilever ini. Tapi sebelum kita intip catatan super berantakan milik Dudu, coba kita menyimak apa kata para narasumber dulu.


KATA LANI
Acara yang merupakan kerjasama Unilever dan Blibli.com ini mengajak para Mama sebagai konsumen Unilever untuk mewujudkan masa depan yang cerah. Caranya? Well, menurut Lani Rahayu, Senior Marketing Communication Manager Blibli.com, para Mama ini menguasai 95% keputusan rumah tangga. “Para Mama punya power untuk memilih produk apa yang dibeli, yang digunakan oleh keluarga, jadi kenapa tidak mendukung bright future?” Di Bulan Desember kemarin Blibli.com berkampanye dengan Unilver dan setiap customer membeli produk tertentu, mereka ikut menyumbang Rp. 1000 untuk program bright future ini, termasuk membangun taman dan RPTRA. Jadi yang kemarin sempat kalap belanja kebutuhan rumah tangga macam Blueband dan Pepsodent pas Harbolnas bolehlah berlega hati sedikit karena bukan hanya spending tapi juga secara tidak sadar kita sudah helping out.

29 March 2016

Kebun, Cafe Idaman dan Jamu Kunyit Asam

Sebenarnya ini salah satu subyek favorit saya, soalnya saya suka penasaran. Tapi entah kenapa menulis tantangan hari kedua One Day One Post, yang menyinggung tanaman obat, apotik hidup, dan bumbu dapur di rumah, kok rasanya sulit benar. Mungkin karena saya tidak punya pengalaman pribadi dengan tanaman obat dan bumbu, kecuali yang sudah berbentuk minuman tradisional.

“Tidak, terima kasih.” Begitu kata Dudu setiap dia mendengar kata “jamu”. Meskipun di mata dia jamu tidak lebih parah dari kopi dan tidak lebih bau dari durian, tapi tetap saja bukan sesuatu yang layak minum. “Lebih baik minum jus wortel dicampur apel, Ma. Itu sudah banyak vitaminnya.”

Dudu yang hobi berkebun sedang panen jeruk.
Sekarang pohon ini sudah ditebang dan ditanam ulang.

16 September 2015

A Fun Afternoon at Jacob Ballas Children's Garden

Singapore on a budget? Well, mampir saja ke Jacob Ballas Children's Garden yang terletak di komplek Singapore Botanic Garden. Selain buka dari pagi, jadi bisa datang sebelum mulai berkeliling Singapura, taman ini juga gratis. Bisa jadi alternatif untuk yang mencari liburan murah di Singapura dengan anak. Eits, tapi ada syaratnya: setiap orang dewasa yang masuk wajib ditemani anak usia 0-12 tahun.

Dudu: Jadi Mama bisa masuk karena aku ya. Kalau orang dewasa saja tidak boleh masuk. Ini taman anak-anak
Mama: Kalo ngga ada Mama, kamu juga ngga bisa masuk kali. Anak-anak ngga boleh masuk sendirian.


Jacob Ballas Children's Garden

Jacob Ballas Children's Garden entrance
Pintu masuk ke Jacob Ballas Children's Garden ada di balik pintu ini
Gerbang masuk Jacob Ballas Children's Garden

07 July 2015

Berkenalan dengan Binatang di Mini Jungle Bazaar

Nama binatang ini Sugar Glider. Binatang nocturnal asli Indonesia yang berasal dari Papua, walaupun namanya pakai bahasa Inggris. 

Sugar Glider ini termasuk exotic pets
Dudu kira ini musang, lalu dikira sigung padahal bukan. Binatang ini bisa dipelihara karena bisa mengenali majikannya dan pemilik Sugar Glider ini punya komunitas tersendiri di Indonesia. Selain Sugar Glider, kemarin kita bertemu banyak binatang lainnya di Jungle Fever Bazaar yang ada di Pantai Indah Kapuk.



Sebenarnya karena kita kelaparan setelah main Waterbom hari Sabtu pertama bulan Juli kemarin, terpancing oleh keramaian di seberang Marketing Gallery PIK dan berharap menemukan makanan. Yang ada kita malah bertemu ular, kelinci, burung dan kura-kura. Semuanya ada di mini zoo yang terletak di samping tenda utama. Para pengunjung, terutama anak-anak, sangat antusias bertemu dengan binatang-binatang yang mungkin hanya bisa mereka lihat di buku atau paling dekat juga dari balik kandang di kebun binatang. Sekarang bisa dipegang.

Having fun with friends!
Melihat seorang petugas hendak memberi makan kelinci, Andrew segera menghampiri dan meminta bagiannya. Sebentar kemudian dia sudah semangat karena para kelinci yang sejak tadi bersembunyi di dalam rumah, mau keluar untuk makan. Favorit saya ya si kelinci putih ini. Mendekati kandang ular, Andrew dengan entengnya penasaran lalu membuka salah satu kotak plastiknya. Waduh... bisa geger nanti kalau beneran lepas.

Mama: Du, kita pelihara ini saja ya, lucu.
Dudu: Tidak mau.
Mama: Kan enak, bisa dilepas di rumah untuk berburu tikus
Dudu: Mama, ini ular lho...

Dan saya shio-nya tikus haha. Tapi suka sama ular albino kuning putih yang matanya merah itu. Lucu. Andrew langsung kabur dan mencari binatang yang benar-benar lucu. Ketika itulah kita bertemu si Sugar Glider ini. Ternyata buat Dudu, binatang yang lucu itu yang punya fur (alias bulu kayak anjing dan kucing). 

Kelinci putih yang dikasi makan sama Dudu
Beranjak dari mini zoo, masuk ke dalam tenda, barulah kita menemukan makanan. Sementara di panggung depan mulai berlangsung fashion show anjing, kita berburu makanan bazaar. Sejak mampir di Shophoria Grand Indonesia waktu itu, makanan bazaar jadi wajib dicoba.

Mama: Sebentar beli ini dulu.
Dudu: Mama beli kue poop ini lagi?

Hasil berburu makanan bazaar hari ini
Dari kue Pooki Bbang ini kita mampir di booth susu pasteurized yang hadir dalam berbagai rasa seperti Red Velvet, Strawberry Cheesecake dan Vanila Cream. Disajikan dalam botol kaca, minuman bernama Harvest Moo ini ternyata jadi favorit Andrew. Buat saya agak terlalu manis, maklum, habis menyelesaikan Americano dari cafe di Waterbom. Si penjaga booth lantas ngobrol dengan Andrew. Ujung-ujungnya, kita dapat info kalau mereka punya cafe lengkap dengan wi-fi di Summarecon Digital Center di Gading Serpong. Kalau pas weekend tidak ada tujuan oke juga tuh.



Yang terakhir kita dapatkan adalah Potato Ball alias Kroket. Tapi berbeda dengan kroket kebanyakan yang sebesar kepalan tangan, Potato Ball lebih kecil dan lebih simpel. Isinya tidak sepadat kroket. Bisa diisi keju, sosis atau keduanya. Lalu bisa juga ditambahkan saus mayo, keju, Barbeque atau Chilli. Namanya juga Andrew... dia memilih yang tidak pakai saus.


Boothnya Potato Ball banyak hiasan lucu
Bazaar di PIK sedikit berbeda dengan beberapa bazaar di pusat kota yang pernah kita datangi. Selain konsep dan lokasinya yang jelas ada di luar mall, sehingga dapat mengakomodasi teman-teman berkaki 4, tenant makanannya juga berbeda. Enak mana? Ya masih tergantung selera. Ada lebih banyak makanan, camilan dan minuman sehat yang sebenarnya tempting untuk dicoba.

Sambil menurunkan makanan sambil memutari bazaar baju dan beauty yang ada di marketing gallery. Tapi memang dasar bukan orang shopping, kita hanya berputar sekali lalu kembali lagi ke mini zoo.

Bikin mau adopsi deh.

17 June 2015

Belajar menulis sebuah #AwesomeJourney

Ketika tema “Keanekaragaman Hayati” dipaketkan dengan workshop travel writing dan iming-iming lomba menulis yang membawa tema #AmazingJourney berhadiah ke Jambi muncul di timeline Twitter, saya tidak mau kehilangan kesempatan. 



Saya mencoba bertanya sama partner petualangan saya, Dudu (soon-to-be 9thn) apa artinya biodiversity? “Biodiversity adalah rumah bagi binatang dan tanaman yang beda. Ini namanya Bio different-city, Ma.” Kata Dudu setelah membaca ringkasan tentang Biodiversity Warrior dari Yayasan Kehati

Acara Nulisbuku.com yang diadakan di Conclave, Wijaya itu menghadirkan 2 narasumber menarik Travel Writer Anida Dyah dan Journalist-turned-Writer Feby Indirani yang membuat Sabtu pagi lebih bermakna.

Ollie dari Nulisbuku.com sedang menjelaskan tentang kompetisi
Pembicara pertama, Anida Dyah, adalah pengarang buku travelling Under The Southern Star yang bercerita tentang road tripnya keliling Australia selama 30 hari yang disebutnya sebagai titik balik dalam hidup setelah ditinggal ibunda tercinta dan jenuh dengan pekerjaan rutinnya. Bukunya berbentuk travel narrative. “Ini berarti tidak bicara budget dan printilan teknis ya, karena pasti berbeda untuk setiap orang,” kata Anid.

Anida Dyah berbagi pengalamannya di Australia yang mencengangkan
Pembicara kedua, Feby Indirani, adalah seorang jurnalis/produser TV yang tidak mau disebut senior karena masih muda (kata orangnya sendiri lho), dan sudah menerbitkan buku dari berbagai genre. Feby, yang baru pulang dari membawa rombongan wartawan Jerman ke Kawah Ijen ini berbagi ilmu tentang bagaimana menulis naskah yang awesome.

Feby ini kocak banget dan semangat kalau sedang bicara
Anid yang praktisi dan Feby yang menjabarkan teknik merupakan gabungan yang pas. Ada beberapa tips menulis naskah travelling yang bisa disimak:

Setting dalam bentuk deskripsi – Setiap orang memiliki preference berbeda-beda. Anid mengaku menggunakan warna untuk menggambarkan alam dan segala bentuk yang dia lihat. Sebentara latihan yang diberikan Feby mengajarkan kita untuk menggunakan metafora untuk mengajak orang menjadi dekat dengan pengalaman kita, dan menghindari penggunaan kata sifat yang cenderung terikat pada perspektif dan pandangan pribadi penulis.

Mencatat kesan, rasa dan aroma yang bisa hilang setelah kita pulang. Menurut Anid, fakta lain bisa di-Google, tapi apa yang ada di benak kita saat itu biasanya tidak bertahan lama. Hal ini termasuk interaksi dengan orang setempat atau teman seperjalanan yang seringkali tidak ada juga di Google. Feby mengingatkan tentang 5W+1H yang seringkali terabaikan dan menggali detail sebanyak mungkin. “Belanja adalah modal untuk menulis,” katanya. Ini maksudnya belanja detail ya bukan belanja oleh-oleh.

Sambil “belanja” temukan hal baru dan menarik yang bisa jadi cerita. Kata Anid, “masukkan unsur sejarah dan background story pada tempat-tempat yang menarik tapi jangan sampai tulisan kita jadi wikipedia.” Hal ini identik dengan cerita Feby tentang penambang belerang di Ijen. Ketika ditanya oleh wartawan Jerman apakah mereka tersinggung menjadi objek foto turis dan wartawan, para penambang ini berkata sebaliknya bahwa mereka senang difoto karena mereka bisa dapat uang tambahan yang kadang melebihi penghasilan utama mereka. Menggabungkan perspektif si penambang sekaligus background tentang pekerjaan dan penghasilan mereka bisa jadi satu cerita menarik tentang kunjungan ke Ijen.

Memberikan rasa personal, tapi pusatnya tidak pada diri sendiri ataupun perasaan pribadi, saran Feby. Ketika Anid menulis bukunya, kita tahu perjalanan ini sangat pribadi bagi dirinya sendiri. Namun apa yang tertuang adalah sebuah kisah perjalanan yang dapat membawa pembaca ikutan kesal, senang, excited atau sedih. Yang membuatnya jadi personal adalah kontemplasi yang mucul di cerita. (Saya belum baca bukunya jadi tidak berani bicara banyak – ini hanya berdasarkan presentasi Anid ya.)

Well, this workshop is really beyond expectation. It was an awesome journey to sat down and learn a few things about learning. Sekarang kita siap-siap ikutan lombanya yuk! 


Kompetisi Menulis Cerpen Awesome Journey

28 March 2015

Ikutan Earth Hour?

Anak jaman sekarang hidupnya sudah serba listrik dan teknologi. Andrew contohnya, kalau liburan kerjanya di rumah, main komputer seharian di kamar yang ber-AC. Jadi definisi Earth Hour tidak ada dalam kamus dia.

“Apa sih enaknya gelap-gelapan?”

Yah, Du, Earth Hour itu bukan sekedar gelap-gelapan dan mematikan lampu.Meskipun bukan juga gerakan menghemat energi sedunia yang bisa langsung menyelamatkan masa depan dari berbagai krisis.

Earth Hour yang tahun ini jatuh pada tanggal 28 Maret 2015 jam 8.30-9.30 waktu setempat dirayakan banyak orang. Sudah banyak shopping mall yang menyatakan keikutsertaan mereka berkomitment menyelamatkan iklim. Central Park menghadirkan organik market dan segudang kegiatan “tukar sampah”, pertunjukan musik dan belanja dalam gelap. Bintaro Jaya Exchange Mall mengadakan Piknik Sinema yang menghadirkan film pilihan di alam terbuka. Meskipun bukan khusus karena Earth Hour, namun acara ini bisa jadi pilihan aktivitas jika kita memilih untuk tidak berada di rumah. Cek schedulenya di sini.

Lalu apa dong yang bisa kita lakukan selagi mematikan lampu dan mencabut kabel dan sambungan listrik yang tidak terpakai?


Main shadow puppet. Ini yang biasanya paling mudah dan populer. Tinggal menyalakan lilin lalu membuat bayangan sambil bercerita di tembok. Bisa dibuat main tebak gambar juga, atau sekedar memperkenalkan si kecil dengan yang namanya bayangan. Pasti dia suka karena bayangan mainan mobil jelas bebeda dengan bayang Spiderman.
Photo: Pinterest
Melihat bintang. Buat yang di kota besar, mungkin kegiatan ini agak sulit dilakukan. Atau jika sedang apes dan cuaca mendadak mendung. Tapi, kenapa tidak tetap dicoba. Duduk-duduk di teras rumah selama satu jam sambil ngobrol atau main kembang api pasti asyik.
Main musik. Kalau ada keluarga yang bisa main gitar, kenapa tidak mengajak si kecil bernyanyi dan bermain bersama. Jika tidak, well, ambil koleksi rattle si kecil dan gunakan sebagai pengiring lagu kesukaannya.


Belajar permainan tradisional. Petak gunung, congklak... Atau yang mengasah otak seperti catur bisa dilakukan dengan penerangan cahaya lilin.

Let’s make this earth a little greener.

05 February 2015

Menyayangkan Sampah di Pantai

Kemarin kita akhirnya ke Doraemon Expo! Horeee... tapi cerita yang itu adanya di postingan sebelah. Yang disini saya dan Dudu mau protes soal sampah yang ada di Pantai Ancol.

Alkisah Mama dan Dudu pergi ke Ancol untuk mengunjungi Doraemon Expo. Karena tidak mau rugi sudah bayar masuk Ancol yang Rp70.000 berdua plus mobil itu, kita sampai jam 8. Dua jam sebelum tiket booth dibuka. Ngapain? Ya tentu saja foto-foto OOTD untuk stok instagram hehehe. Kebetulan Dudu juga baru beli beberapa baju baru dan satu kemejanya tema nautical. Jadi semangat.


Top: Nevada Nautical Shirt
Bottom: Bicycle broken white pants
Sayangnya, proses foto-foto tidak selancar harapan karena pantainya sedang banyak sampah.

Dudu heboh lihat ikan mati. Beberapa anak lain yang juga sedang main di pantai malah mengumpulkan ikan mati. Ya, ikan mati di pantai wajar sih. Yang tidak wajar itu botol air mineral literan, bungkus snack yang iklannya sering wara-wiri di TV, gelas plastik bekas es krim dari restoran fast food, sedotan bekas... dan sampah lainnya yang bikin saya kesal karena bolak balik bocor ke foto OOTD karena nyangkut di kaki si Dudu yang masuk ke air.

Well, ini bukan pertama kalinya kita foto di pantai ini dan biasanya kita happy dengan keadaan pantainya. Namanya juga pantai komersil di ibukota, wajarlah kalau tidak seindah Raja Ampat. Kali ini parah, mungkin karena musim hujan. Pantainya penuh ikan mati yang mengapung dan sampah yang bertebaran. Baru sekali ini juga saya melihat banyak bapak-bapak berseragam membawa jaring untuk mengumpulkan sampah. At least pihak Ancol ada effort untuk membersihkan pantai, walaupun kalau melihat jumlah sampahnya ya agak hopeless. Apalagi tukang sampah tidak nyemplung ke laut tapi hanya mengambil sampah yang terdampar.

Sayang banget.

Habis dari Doraemon Expo, hunting foto pindah ke Pasar Seni. Lebih puas juga sama hasilnya. By the way, ini Dudu yang mengarahkan gaya sendiri lho. Yang pertama karena nemu kaos wayang pas hunting sale di department store. Lalu nemu celana garis-garis juga. Wah pas banget.

Outfit: Nevada (beli pas sale di Matahari)

Polo Shirt is good with stripes too. Add a hat to make it cool!

20 January 2015

Lihat Kebunku Penuh Dengan Resolusi Hijau

Belum punya resolusi? Kenapa ngga menjadikan panen dari kebun sendiri sebagai resolusi? Selain mengajarkan anak tentang alam dan bagaimana cara merawatnya, makan hasil kebun sendiri rasanya lebih senang dan puas lho.

Ketika saya sudah masuk kerja lagi di antara Natal dan Tahun Baru yang kejepit kemarin, Andrew ikut si Oma berkebun di rumah. Jadi sampai kantor saya dapat kiriman foto hasil panen. Wah, banyak amat!


Begitu saya sampai di rumah, Dudu langsung pamer.
Dudu: Mama, kita panen pumpkin lho!
Mama: Pumpkin?

Perasaan kita ngga pernah menanam labu? Terbayang, labu orange yang siap disihir jadi kereta kuda Cinderella. Tinggal tangkap tikusnya aja dari got depan buat jadi kuda.

Lalu si Opa masuk membawa sebongkah ubi berwarna putih yang masih berlumuran tanah.
Dudu: Ini lho, Ma, Pumpkin!
Mama: Ini Ubi namanya Du.
Dudu: Bahasa Inggrisnya apa?
Mama: Sweet Potato, Du.
Dudu: Ayo kita timbang Ma!

Si ubi 4kg
Alhasil, si ubi yang beratnya ternyata 4 kg itu menginspirasi #DateWithDudu versi berkebun. Hari Minggu bangun pagi-pagi cuma buat menggali tanah demi panen ubi. Selama berkebun kita bertemu semut, cacing tanah, walang sangit, juga beberapa kecoak dan kucing yang penasaran.

Dudu: Cacing tanah! Bisa buat umpan mancing!
Mama: Ngga boleh, ntar siapa yang mau menggemburkan tanah kita? Biarin aja dia di situ.
Dudu: Tapi, Ma, aku mau mancing.
Mama: No! Cacing tanah tetap di tanah. Mama masih butuh dia buat menyuburkan tanah



Dudu menyerah dan melanjutkan menggali. Hari itu kita dapat 5 bongkah ubi yang semuanya raksasa. Kok bisa sebesar ini sih? Usut punya usut, si Oma (yang menguasai kebun di rumah) pernah menanam ubi. Tapi hanya untuk diambil daunnya, digoreng kering atau di-cah pakai bawang putih. Suatu hari tanah di pojokan naik ke atas, seperti digali oleh tikus tanak. Pas diselidiki, ternyata itu ulah ubi 4kg. Panen ubi, pake jijik karena harus berurusan dengan tanah dan lumpur, apalagi si anak kota yang kerjanya main di mall. Kena tanah sedikit, lari ke kran air buat cuci tangan. Yah, kapan selesainya nih panen?




Dari ubi merembet ke nanas, jeruk limau, kacang hijau (ini Dudu yang menanam gara-gara kelas IPA di sekolah) sampai ke sirsak, pepaya dan pisang. Ya, pisangnya masih harus menunggu beberapa minggu sih sepertinya. Semoga liburan tengah semester bulan Maret depan kita bisa panen lagi. Menjaga alam dimulai dari hal kecil seperti menjaga kacang hijau agar tumbuh dan menghasilkan. Kacang hijau ini ternyata rapuh, batangnya kecil dan kalau ditanam terlalu dalam atau terlalu dangkal malah tidak tumbuh.

Resolusi hijau yang sesungguhnya jauh lebih luas daripada ini. Misalnya seperti yang sekarang dilakukan oleh The Nature Conservancy Program Indonesia: melindungi terumbu karang, memulihkan hutan bakau, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Program ini juga mendukung upaya konservasi spesies yang hampir punah seperti orangutan dan pembangunan hijau di masyarakat. Sesekali mungkin boleh juga mengajak Andrew ikutan program konservasi, kalau ada yang ramah anak (maksudnya mudah dimengerti oleh anak-anak). Toh, anak-anak inilah generasi selanjutnya untuk melestarikan sumber daya alam kita. Sekarang ini kita mulai dengan mengenalkan kegiatan bercocok tanam, pupuk dan menikmati hasil kebun sendiri. Siapa tahu kalau sudah besar bisa jadi penyelamat hutan.

Ayo yang semangat berkebunnya!

Jadi, resolusi 2015 ini jangan lupa selipkan yang hijau juga ya. Sapa tau nantinya bisa sehebat yang dilakukan The Nature Conservancy Program Indonesia. Yuk, berkebun!

10 May 2014

Wajah Bermain Yang Menginspirasi

Mendengar tentang #KidsToday Project dari website The Urban Mama, saya kemudian menemukan satu entry yang berisikan tentang wajah bermain.

Apa itu wajah bermain?
Coba cek video di bawah ini...



Well, pernahkah Anda memperhatikan perubahan expresi wajah anak Anda ketika dia bermain? Saya sering. Pancaran rasa senang dan bahagia yang muncul ketika kita bermain di akhir pekan menjadi reward tersendiri bagi saya yang sudah bekerja dari hari Senin-Jumat.

Wajah bermain anak saya seperti ini:

Saya paling sedang foto dia pas bermain
The Playground Project

Melihat anak saya senang bermain, challenge terbesar saya adalah menemukan tempat bermain yang tepat untuk anak saya. Jaman dulu saya masih berlarian ke luar, main sepeda di komplek sambil petik bunga, main karet main bekel di halaman… sekarang? Saya tinggal di apartment sempit di tengah kota yang “halaman rumah”nya adalah space kosong di atrium Mall terdekat. Trus gimana?

Awal 2014 yang lalu saya membuat goal pribadi yang diberi nama The Playground Project. Setiap libur, saya mencoba membawa anak saya keluar rumah dan bermain. Entah itu sekedar indoor playground di mall atau aktivitas ibu dan anak yang simple tapi seru seperti berolahraga bersama. Foto-foto tempat kami bermain atau “playground” saya kumpulkan dalam satu album tersendiri bernama “The World Playground.” Misi saya adalah menambahkan gambar sebanyak-banyaknya foto tempat bermain ke dalam album tersebut, yang berarti Andrew harus bermain setiap minggu.

Kenapa bermain itu penting? Karena ‘bermain’ berarti spending mom-and-me time yang sangat langka karena kami sama-sama sibuk. Pernah saya bela-belain pulang cepat dari kantor, eh si Andrew ternyata ada jadwal les dan dia belum pulang sampai menjelang waktu tidur. Sia-sia deh. Bermain juga memberikan kesempatan buat kami untuk saling mengenal dan menjadi sahabat.

Namun, terkadang sulit melangkahkan kaki menantang jalanan di Jakarta. Saya dan Andrew yang sudah lelah dengan kegiatan kami pada hari biasa, sering malas keluar rumah pada akhir pekan. Kalau sudah begitu, solusinya adalah bermain di rumah. Sejak kecil Andrew suka menggambar dan corat-coret. Spidol, cat air, dan semua yang berwarna sudah menjadi teman akrabnya.


Boleh kotor itu MENYENANGKAN!
Tambah besar, mainannya bertambah jadi ada pewarna makanan dan benda-benda lain yang digunakan untuk “percobaan”. Andrew yang menyukai science sering membuat experiment di rumah, dengan resiko saya pusing membersihkan kotoran yang tercipta akibat experimentnya itu. Kata “tumpah,” “kotor”, “jadi item deh,” adalah kata-kata yang sering terdengar ketika saya dan Andrew memilih untuk bermain di rumah.

Tidak jarang juga terdengar kalimat begini: “Maaf ya Ma, bedaknya tumpah. Aku ambil lap deh.”

Tapi ya namanya juga belajar, jadi boleh kotor dong. Yang penting saya ngga sia-sia mengelap coretan dia.
Setuju?

08 May 2014

Andrew dan Kesibukannya

Hi, my name is Andrew, I’m 7 years old and here’s how my day goes by…
“Aku harus tidur jam 9 malam, lalu bangun jam 6 pagi. Habis itu 1 jam bersiap-siap lalu pergi ke sekolah. Jam 2 aku pulang dari sekolah. Sampai di rumah jam 2.45 lalu menghabisi waktu dengan nonton TV sampai TVnya selesai. Aku punya 30 menit untuk mengerjakan PR. Setelah itu aku bisa nonton TV sampai malam. Kalau hari Senin aku ada Les Mandarin. Hari Jumat aku ada latihan Wushu. ”
Ya seperti di video berikut:



Jadi terjadilah percakapan sebagai berikut:


Menurut kamu, kamu sibuk ngga?

“Sedikit. Yang aku paling sukai dari hariku adalah jika ngga ada homework sih biasanya aku main. Menurutku aku tidak kekurangan waktu untuk bermain karena jika filmnya membosankan, aku bisa bermain.”

Kalau menurut Mama, kamu sibuk sekali lho! 


Awalnya saya (yang benci banget sama yang namanya sekolah ini) shock, bused padat amat jadwalnya. Setiap malam dia belajar, setiap pagi dia bangun pagi untuk siap-siap sekolah sambil mengulang hafalan untuk test spelling hari itu. Setiap hari ada homework, setiap hari ada test spelling Bahasa Inggris, Indonesia dan Mandarin. Ntar by the time dia SMP apa dia ngga eneg belajar? Lagipula kalo sekarang dia belajar melulu kapan dia main-nya?

“Ini lagi main.” Katanya cuek sambil menunjuk android dan game zombie-nya.

Padahal main yang saya maksud bukan duduk di pojokan sambil pegang segenggam gadget.

“Oh, main sama teman-teman? Iya suka kok di sekolah kan aku paling suka pas lunchtime soalnya aku bisa bermain sama teman-teman.”

Kamu suka sekolah?

“Mama kan sudah tau jawabannya. Aku tidak suka sekolah. Aku harus menunggu 5 jam, dari pagi sampai siang baru aku bisa pulang. Tapi ya aku pasrah saja. Sekolah kan harus. Kalau aku bolos tanpa alasan aku akan jadi anak pemalas. Jadi aku tidak mau jadi pemalas. Tapi yang namanya jalan hidup ya harus dijalani kan?”

Karena kesibukannya, anak saya jadi dewasa lebih cepat. Meskipun buat saya ini hebat, anak 7 tahun sudah tahu jadwal dan disiplin melaksanakan jadwal yang sudah dibuatnya. Tapi kalau melihat dia konsisten belajar dan disiplin sekolah, kok dia jadi seperti orang kantoran yang takut terlambat masuk kerja?

#KidsToday Project mengingatkan orang tua bahwa anak sekarang hidup di jaman berbeda dari jaman kita dulu. Dulu saya pulang jam 2 baru setelah SMA, sekarang anak saya SD pulang jam 3 kalau ada pelajaran tambahan.

Foto: Website Kids Today by Rinso
Mengambil ide #KidsToday project untuk menciptakan anak yang seimbang, saya membuat satu keputusan: Sabtu-Minggu adalah hari “pacaran” kami berdua yang tidak boleh diganggu gugat. Setiap akhir pekan kami akan pergi keluar rumah untuk melakukan sesuatu yang baru. Bisa di mall, mencoba restoran dan makanan baru. Bisa di playground dan bertemu teman baru. Bisa di pasar dan museum untuk belajar hal baru. Pokoknya kami akan melupakan kesibukan sekolah dan ‘bermain’ sepuasnya.


Kegiatan akhir pekan bersama si Andrew
Tapi kalau dibuat jadi rutin gimana? Sekolah lebih sebentar dan bermain lebih lama?
“Tidak masalah. Tapi aku kan sudah SD. Sekolah yang hanya sebentar gitu kan hanya untuk anak TK.”
Anak sekarang memang beda.

13 March 2013

Jangan Lupa Matiin AC Ya!

Dasar anak kota, Andrew (6thn) tidak bisa kepanasan. Masuk mobil yang pertama harus dinyalakan adalah AC. Makan di restoran juga sebaiknya yang ber-AC. Masuk kamar juga yang dicari adalah AC. Kalau tidak ada AC, repot deh pokoknya. Kasihan si AC kalau ketemu anak saya bisa 24 jam nyala. Untung sekarang dia sudah SD jadi tinggal 12 jam saja kerja si AC.
Sampai suatu kali si AC (yang kebetulan merknya memang Panasonic) harus isi Freon. Tukang Freon datang baru hari Sabtu, dan hari Kamis anak saya sudah panic. Kesempatan emas nih, pikir saya. Saya harus mengajarkan anak saya tentang go green. Tapi mulai dari mana ya?
Dudu: ACnya masih panas ya, Ma?
Mama: Iya. Kan Sabtu baru tukangnya datang.
Dudu: Kok bisa panas?
Mama: Soalnya kamu nyalain terus. Mama juga kalau kerja terus kan capek trus sakit. AC juga sama.
Dudu: Ooo... begitu ya.
Mama: Makanya kamu kalau pulang sekolah jangan langsung masuk kamar nyalain AC.
Dia terlihat berpikir.
Sejak saat itu, memang Andrew jadi lebih menghargai si AC. Hal-hal yang dia lakukan simple. Tapi ternyata bisa bikin hemat juga.
  • Kalau pulang sekolah (ini laporan si Opa soalnya saya kerja dan baru pulang malam menjelang dia tidur), dia ngga langsung masuk kamar menyalakan AC, tapi main di ruangan belakang yang menghadap taman.
  • Kalau kepanasan dia memilih untuk mandi, bukan langsung menyalakan AC seperti dulu. Jadi AC baru menyala satu jam sebelum dia mau tidur. Toh AC di kamar kan 2 PK jadi cepat dinginnya.
  • Sayangnya AC di rumah masih Panasonic tipe Standard yang belum ada fitur Dual Sensornya, jadi pengaturan suhu masih manual.Maka itu saya sepakat, kalau suhu tidak perlu sampai 16 derajat. Toh 20 derajat saja sudah cukup dingin.
  • Bangun pagi (dia selalu bangun sebelum jam 6), si AC langsung dia matikan... akibatnya saya biasanya bangun karena kepanasan hahaha.
  • Dia jadi rajin ikut membersihkan saringan AC secara rutin dan memilih membuka jendela di saat cuaca sejuk.
Yang lucu, kebiasaan ini dia terapkan di mana saja. Termasuk saat kami sekeluarga menginap di sebuah hotel berbintang. Saat Andrew hendak ke bawah untuk berenang, dia sibuk mencari sesuatu di kamar.
Mama: Cari apa?
Dudu: Remote AC mana?
Mama: Mana ada remotenya? Ini AC Central.
Dudu: Kan kita mau keluar. ACnya harus dimatikan.
Saya garuk-garuk kepala lagi untuk cari penjelasan deh... dan mencegah anak saya yang bawel mengajarkan tante resepsionis hotel tentang go green.

Tulisan ini diikutkan lomba "Go Green in the City" dari Forum The Urban Mama

18 January 2013

The Adventure of Banjir

Dibalik kegelisahan seorang ibu bekerja yang ngga bisa ngantor karena banjir, ada senyum dan tawa bahagia anaknya yang senang karena ibu-nya ada di rumah.

That's how I began my Thursday.
Banjir.
Dan anak saya stuck di sekolahnya di daerah timur Kelapa Gading. Sementara rumah saya di Boulevard Barat. Waduh.

Dipulangkan jam 9.45, saya belum bisa jemput sampai pukul 1 siang karena banjir. Itu pun saya berangkat jalan kaki karena banjir sepaha orang dewasa membuat mobil tidak ada yang berani lewat. Lumayan... olahraga sore. Ternyata saya belum tua-tua banget ya. Jalan kaki 3 km masih kuat. Hahaha...

Anyway, sampai di sekolah anak saya, guru-gurunya heran. Saya sudah siap bawa sendal karet trus sepatu anak saya bungkus dan tas saya gendong. Anak umur 6 tahun mau diajak menerjang banjir? Jalan kaki 3 km pula. Tapi saya yakinkan mereka bahwa Andrew ngga apa-apa. Asal mendung, Andrew pasti senang karena tidak panas.

Benar saja, melihat genangan pertama, Andrew langsung teriak:
"Hore! Petualangan Mama dan Dudu menembus banjir dimulai."
Saya langsung "sttt" setelah menyadari banyak orang di sekitar kami yang menoleh dan menatap saya dengan pandangan tidak setuju. Ups.
Meskipun sempat ragu-ragu untuk nyemplung lantaran air yang berwarna dan sampah yang ikut hanyut, akhirnya dia semangat juga dan sibuk memberi tahu semua orang kalau "Aku belom pernah kebanjran loh, Om."
*tepok jidat*

Tapi, "petualangan" itu merupakan yang terseru buat kami berdua. Seribu pertanyaan terlontar dari si anak penasaran. 
"Kenapa air banjir warnanya cokelat?"
"Oh, itu karena kena tanah Du."
"Kenapa daun kelapa yang jatuh warnanya hitam? Gosong tersambar petir ya, Ma?"
"Waduh, itu Mama juga ngga tau."
"Kenapa ada balon spongebob hanyut tuh, Ma."
*gubraks* Kok dia liat aja sih yg aneh-aneh begitu?

Kami melihat pelangi di aspal basah yang tergenang air.
"Aspalnya kenapa Ma?"
"Pelangi, Du. Kan pelangi itu air yang kena cahaya matahari."
"Bagus ya, Ma. Ternyata pelangi tidak hanya di langit saja."

Kami melihat kebahagiaan anak-anak yang bermain air di jalan. 
"Anak-anak itu kok boleh berenang, Ma?"
"Iya, soalnya mereka ngga punya kolam renang."
"Kalau begitu, kalau banjir mereka senang ya?"
Dan anak saya ikut bersyukur bahwa banjir membawa kebahagian bagi semua orang.

Kami berdiskusi soal sampah, soal bagaimana mobil dan motor mengeringkan knalpot, soal mancing... sampai akhirnya menemukan truk yang bersedia memberikan tumpangan sampai dekat rumah. Dan naik truk menjadi highlight of the journey. Anak saya sibuk main tembak-tembakan.
"Ngapain, Du? Pegangan ntar jatuh."
"Ada zombie itu Ma. Ayo tembak, mobil belakang yg naik kan zombie."
"Du, ini bukan di Timezone."

Tapi yang jelas, kita selamat sampai di rumah. Dan Andrew punya sebuah "petualangan" lagi untuk diceritakan kepada dunia.




29 December 2010

Pelajaran Berharga Tentang Bumi Kita

Semua ini bermula dari semua pertanyaan:

"Ma, global warming itu apa sih?"
Tanya anak saya, Andrew, yang masih berusia 4 tahun setelah nonton film Ice Age. Entah dari mana dia dengar konsep itu, yang jelas, saya bingung menjelaskannya. Akhirnya jawaban saya simpel, "global warming itu kalau buminya rusak karena kepanasan."


Dia sih puas dengan jawaban itu, saya yang jadi tidak puas. Masa sih hanya itu yang bisa saya ajarkan kepada anak saya tentang global warming? Saya terus mencari, apa lagi ya yang bisa saya 'wariskan' pada anak saya ini, yang notabene generasi masa datang? Tinggal di apartment di tengah ibukota membuat semuanya jadi lebih sulit. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya macet, gedung-gedung yang tinggi menjulang dan langit yang kerap menghitam karena polusi. Kemarin, kesempatan tersebut datang bersama dengan pulangnya kedua adik saya dari kuliah di luar negeri. Kami sekeluarga pergi mengunjungi pulau Belitung.

Pelajaran #1: Deforestasi vs Reboisasi

Sebelum mendarat pun, Andrew sudah semangat melihat ke
jendela. "Laut, Ma, laut!" "Pulau, Ma, pulau!" teriaknya memberikan laporan pandangan mata tentang apa yang ada di bawah sana. Mendekati Belitung, Andrew semakin semangat. "Ma, ada hutan! Gede banget! Pasti banyak monyetnya ya!"
Maklum saja, itu pertama kalinya anak saya melihat hutan. Lalu, dahinya berkerut, berpikir, "Ma, kenapa di Jakarta ngga ada hutan ya? Pantesan di Jakarta ngga ada monyet." Yah, memang. Banyaknya hutan yang ditebang dan dialihfungsikan untuk tempat tinggal tanpa sadar bisa membahayakan manusia itu sendiri.

Saya jadi ingat satu buku yang sering saya bacakan sebelum Andrew tidur berjudul "Knuffel Bear" yang mengisahkan tentang beruang yang suka memeluk binatang hutan dan pepohonan. Saat seorang penebang liar hendak merusak hutan, beruang tersebut mengaum dan mengakut-nakuti si penebang tanpa hasil. Akhirnya dia memeluk si penebang dan berhasil membuatnya lari ketakutan. Intinya, si beruang menyelamatkan hutan dengan pelukannya. (Hm... ternyata tanpa sadar saya sudah sering bercerita tentang hutan kepada Andrew.) Dari situ saya bercerita pada Andrew kenapa hutan tidak boleh ditebang sembarangan walaupun kita (manusia) membutuhkan kayunya. Sekarang dia tahu kalau penebangan hutan sembarangan tanpa adanya penghijauan kembali bisa menimbulkan tanah longsor dan, tentu saja, global warming.

Pelajaran #2: Ikan dan Sampah

Hari ke-2 di Belitung, kami pergi snorkling. Andrew yang suka petualangan ikut serta. Karena belum berani menyelam dia melihat ikan-ikan dari kotak kaca yang dibawa adik saya. Kotak tersebut di pegang untuk memecah permukaan air laut sehingga Andrew bisa melihat ikan berenang diantara terumbu karang dan rumput laut. Sayangnya di tengah indahnya pemandangan, ada sebuah botol plastik yang terbawa ombak lewat di tengah-tengah kami. "Ma, ada sampah. Tempat sampahnya di mana ya?" Tanya Andrew spontan. Lah, di tengah laut mana ada tempat sampah?

Memang, saya selalu mengajarkan pada Andrew untuk membuang sampah pada tempatnya. Dia bahkan pernah memarahi seorang ibu yang membuang sampah di rumput. Saya jadi sedih kalau ingat laut-laut Indonesia yang indah seringkali sudah dicemari sampah. Pantai-pantai yang sudah komersil apalagi. Tidak ada bedanya sama jalanan di kota besar. Yang lebih parah, gara-gara menemani anak saya nonton film animasi kura-kura, saya jadi melihat sendiri bagaimana perjuangan seekor kura-kura membebaskan dirinya dari jeratan kantong plastik yang dibuang sembarangan oleh manusia. Atau bagaimana seekor gurita harus sembunyi dari minyak tumpah yang mengotori tempat tinggalnya. Miris banget jadinya. Moga-moga, laut yang indah ini masih bisa Andrew tunjukkan ke anak cucunya kelak.


Pelajaran #3: Panas vs Hujan

"Kenapa sih aku harus pake sunscreen terus, Ma?" Tanya Andrew saat untuk kesekian kalinya saya membuka tube tabir surya itu dan mengoleskannya ke badan dan mukanya sebelum kita keluar hotel.
"Soalnya panas. Nanti kulit kamu terbakar." Jawab saya.
"Gara-gara global warming ya?"

Iya. Gara-gara global warming, bukan hanya bumi saja yang rusak, tapi kita juga jadi kepanasan. Kulit bisa terbakar kalau tidak pakai tabir surya. Bisa dehidrasi kalau tidak sering minum. Semua hanya karena bumi ini jadi panas banget. Kayaknya, waktu saya kecil dulu, saya masih bisa keliling kompleks rumah naik sepeda tanpa topi, tanpa repot pakai sunscreen... sekarang, anak saya main sepeda di dalam rumah. Kalau mau keluar, harus pagi, sebelum pukul 9 atau sesudah pukul 5. Di luar itu, panasnya tak tertahankan. Demikian juga dengan Belitung. Angin pantai yang semilir tidak sanggup mengalahkan teriknya matahari.

Antara panas sekali begitu atau hujan tiada henti. Saya sekarang bingung kalau ditanya, "kita sedang musim apa, Ma?" Soalnya musimnya sudah tidak jelas lagi. Seharusnya sudah masuk musim panas pun, hujan masih datang tiada henti.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Saya selalu mengajarkan kepada Andrew untuk mulai dari hal kecil. Soal sampah misalnya. Selama di Belitung, saya kerap mengingatkan dia untuk tidak buang sampah sembarangan. Terutama jika kita berada dekat pantai. Soalnya agak susah bagi Andrew mengenali mana sampah yang dibuang manusia (botol kosong, plastik, kaleng soda, dll) dan mana 'sampah' yang datang dari laut (rumput laut, pecahan kerang, dll). Habis makan kelapa pun, semuanya harus kita bereskan kembali. Atau saat pergi ke tempat yang tidak seberapa jauh, kita sering jalan kaki berdua. Bisa juga dengan mendaur ulang karton bekas sereal dan botol bekas jus menjadi mainan. Kalau dipikir-pikir, banyak juga yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk bumi kita ini.

3 hari di sebuah pulau kecil yang tidak jauh dari Jakarta sudah memberikan banyak pelajaran untuk Andrew dan untuk saya. Yang jelas, saya tidak boleh berhenti mengajarkan konsep peduli lingkungan pada anak saya. Terutama karena kami tinggal di kota besar yang dengan mudah bisa lupa dengan yang namanya hutan, pantai, gunung dan semua alamnya.

"Bye bye pulau. Kapan-kapan Andrew main lagi ya sama ikannya!"