Showing posts with label #Top10Indonesia. Show all posts
Showing posts with label #Top10Indonesia. Show all posts

17 August 2023

Tujuhbelasan Berkesan dan Pesan untuk Indonesia

Sudah puluhan kali melewati 17 Agustus, namun entah kenapa tidak ada acara berkesan yang muncul di kepala. Ketika sekolah dulu, 17-an identik dengan upacara. Baik ikutan secara langsung di sekolah atau nonton TV. Lalu ketika mulai bekerja, maknanya mulai hilang karena saya seringnya bekerja di tanggal merah. Pertama ketika bekerja sebagai wartawan, harus menghadiri event 17-an dan menuliskan reportasenya. Lalu saya pindah ke e-commerce, di mana kemerdekaan ini adalah waktunya promosi dan diskon belanja. Ujung-ujungnya ya 17an dihabiskan dengan bekerja.

Karena bukan tim aktif lomba, saya juga jarang berpartisipasi di perlombaan selain yang ada di sekolah. Sekolahan Dudu yang internasional juga tidak terlalu punya perayaan 17 Agustus yang meriah. Lalu momen berkesannya apa? 

Setelah browsing foto, ternyata ada dua momen yang unik di perayaan 17 Agustus sepanjang hidup saya.

Momen pertama adalah jalan-jalan. Kita pernah naik pesawat pas 17 Agustus. Haha. Jadi spesial karena Halim Perdana Kusuma waktu itu dihias dengan bendera merah putih. Dudu juga ikutan excited dengan semangat kemerdekaan, mau saja disuruh foto-foto pakai ikat kepala merah putih. Yang lebih memorable-nya lagi, karena kita penerbangan dari Halim Perdana Kusuma, semua pesawat delay. Baru bisa terbang setelah pesawat tempur selesai acara 17an. Airportnya ramai tapi tidak ada yang protes.

Jadi tambah spesial karena perjalanan kita saat itu adalah ke Jogjakarta untuk lamaran adik saya, sekaligus survey lokasi pernikahannya. Seru!

Momen yang kedua adalah ketika secara random, kami sekeluarga memutuskan untuk mengadakan Korean BBQ di rumah. Saat itu masih pandemi dan PPKM masih lumayan ketat. Kami memesan peralatan BBQ mulai dari kompor gas, panggangan, daging dan bumbu dari toko online. Lalu, mulai mencari side dish dari restoran favorit yang untungnya berhasil survive selama pandemi. Setelah lockdown dan kemudian PPKM, 17an tahun itu terasa lebih merdeka.

Berkumpul bersama keluarga, menikmati hidangan setelah sekian lama terperangkap di rumah masing-masing selama pandemi.


Harapan untuk Indonesia

Almarhum Papa selalu bilang kalau orang tambah tua jadi tambah kuno. Kalah cepat dengan teknologi dan perkembangan zaman. Semakin ketinggalan dalam hal ilmu. Mau belajar pun, sudah tua dan otak terkadang sudah tidak mampu. Sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.

Nenek saya yang usianya 92 tahun masih bisa belajar belanja online. Sekarang dia bisa browsing aplikasi e-commerce dan shopping sendiri. Tante saya yang usianya 70an punya instagram sendiri. Meskipun masih sering terjebak hoax yang beredar di grup keluarga, namun para lansia ini mau maju dan belajar dengan caranya.

Saya berharap Indonesia juga begitu.

78 tahun bukan usia muda. Indonesia akan terus bertambah tua. Namun bukan berarti negara ini akan jadi gaptek, kolot dan terjebak nostalgia. Manusia berubah. Zaman dan teknologi jadi maju. Saya berharap Indonesia mau belajar mengerti, mau menerima edukasi sebelum menghakimi. Jangan takut akan sesuatu yang baru, lalu membatasi kreativitas dengan alasan melindungi generasi penerus bangsa. Sebaiknya Indonesia belajar memahami, dan bersama-sama mencari solusi yang tepat. 

Jangan jadi nenek-nenek yang merasa internet itu ancaman. Teman bule cucunya sebagai keturunan kompeni yang harus dicurigai. Sulit menerima ketika anak cucu punya moral compass yang berbeda akibat mudahnya akses eksposure ke negara asing. 

Semoga Indonesia bisa semakin bijak menyikapi transformasi dalam negeri. Mampu merangkul perbedaan yang ada dan setia pada semangat bhineka tunggal ika. Keras tak harus benci. Jangan sampai anak cucu pergi dan tak kembali, lalu Indonesia terpaksa menghabiskan masa tuanya di panti jompo. Jadilah sosok yang bijak seiring bertambahnya usia, orang tua yang mencintai dan dicintai.

Ah, kalau menulis begini jadi mellow sendiri. Saya memiliki love-hate relationship dengan tanah air tercinta. Yang sudah banyak berkontribusi pada hidup saya, tapi banyak juga memberikan kekecewaannya. 

 

21 September 2017

Belajar Menghargai Perbedaan dengan Wisata Rumah Ibadah

Dudu tidak dapat pelajaran PPKN dan Agama di sekolahnya. Tidak ada buku cetak yang mengajarkan umat Hindu sembahyang di Pura, umat Islam di Masjid dan lain sebagainya. Maklum, sekolah internasional, jadi berbeda kurikulumnya dengan saya dulu yang bertahun-tahun dijejali teori perbedaan suku dan agama. Ketika kegiatan Wisata Rumah Ibadah Komunitas Bhinekka (akhirnya) dibuka untuk anak kelas 4-6 SD di Jakarta, saya langsung daftar. 




Kenapa memahami perbedaan itu penting? Karena anak harus belajar toleransi dan menerima bahwa ada banyak orang yang berbeda dengan mereka. Menurut Vera, psikolog yang membawakan sesi "pembekalan untuk orang tua" di awal acara, tidak memahami perbedaan bisa mengakibatkan anak jadi stress dan kemudian tidak siap menghadapi perbedaan di lingkungan yang lebih luas lagi seperti ketika kuliah atau bekerja. Lalu, kenapa harus jalan-jalan? Ketika saya kecil dulu, menghafalkan bahwa orang Buddha pergi ke Wihara untuk sembahyang bisa menempel di kepala. Tapi untuk Dudu yang lebih visual, jalan-jalan tentunya lebih menarik dan diingat ketimbang mendengarkan "ceramah" guru di kelas. 

Saya drop di Sekolah Gemala Ananda, Lebak Bulus di pagi hari, lalu saya pergi "me time" setelah menyaksikan anak-anak ice breaking dan selesai pembagian kelompok. Orang tua tidak boleh ikutan padahal saya ingin banget mencoba masuk wihara dan lithang di Indonesia. Ada baiknya juga karena saya jadi punya waktu untuk menyelesaikan PR tulisan. Sorenya, saya jemput di Pura Amrta Jati, Cinere. Sambil berjalan kaki pulang dari Pura, Amrta Jati, saya dan Dudu berdiskusi tentang pengalamannya hari itu. Ini cerita Dudu:

26 August 2017

Menyeduh Kopi Modern dan Tradisional di Jogjakarta

Motor mabur setunggal, setunggal, kalih…. Tilu lalu matur nuwun. Pengumuman berbahasa Jawa halus tersebut menjembatani bahasa Indonesia dan Inggris, berkumandang ketika saya menunggu bagasi di Bandara Adi Sutjipto pada 17 Agustus kemarin. Bahasa Jawa (halus) saya hanya sampai sekawan, tapi pengumuman yang saya tidak begitu ingat kalimat persisnya tersebut membuat saya tersenyum sendiri.

Hore, saya sudah berada di Jogjakarta.



Ada yang semangat banget mau ke Jogja pas 17 Agustus nih. Merdeka!
Ini kunjungan kesekian saya ke propinsi istimewa di selatan Jawa, dan kali ketiga Dudu mampir ke Jogjakarta. Tapi baru sekali ini saya menginjakkan kaki di Bandara Adi Sucipto. Maklum, dengan adanya keluarga yang tersebar di pelosok Jawa, saya sekeluarga lebih sering bepergian dengan mobil. Lewat jalan darat lebih seru. Tapi kalau tidak lewat udara, saya tidak akan terkagum-kagum sendiri dengan pengumuman penerbangan yang menggunakan bahasa daerah di sebuah airport internasional.

Tujuan saya ke Jogja juga sedikit berbeda. Kalau biasanya kami sekeluarga hanya berlibur, kali ini kami mengantar adik terkecil untuk bertemu calon keluarga barunya yang kebetulan berdomisili di Jogja. Tahun depan, Jogja akan menjadi bagian dari keluarga kami. Karena sudah cukup akrab dengan Borobudur, Malioboro dan Sendratari Ramayana, di kunjungan kali ini saya sengaja mencari sesuatu yang bukan tujuan wisata. Sesuatu yang baru, modern tapi tetap bercerita tentang Jogja.

Keluarga dan kopi, dua hal itu yang akhirnya membawa saya mampir ke tempat nongkrong seru di Jogja yang lengkap dengan kopi enak.

18 July 2017

Seperti apa Museum Nasional Saat Ini?

“This museum is testing my patience,” ujar seorang anak bule yang diminta menitipkan backpacknya sebelum memasuki ruangan pameran. Itu terjadi setelah kita tidak bisa masuk lewat pintu parkiran, melainkan harus naik lewat jalan keluar mobil karena loket ada di atas dan pintu yang ke parkiran hanya digunakan untuk keluar. Museum yang aneh ini adalah museum tempat saya field trip waktu SMP. Namanya Museum Gajah. Familiar?



Dan sekali itu saya mengajak si anak bule, alias Dudu, ke Museum Nasional karena kita sudah mentok tidak tahu mau pergi ke mana lagi. Ah, kenapa harus dimulai dengan Dudu yang ngedumel? Untungnya seiring perjalanan dari satu lantai ke lantai berikutnya, Dudu sudah ceria lagi. Sudah lupa sama hal—hal yang merepotkan di depan tadi. Dari sini saya belajar satu hal: kalau masuk tempat wisata di Indonesia, jangan keburu jadi ilfil dengan apa yang ada di depan, tapi coba nekat masuk terus ke dalam karena bisa saja kita bertemu banyak benda dan pengalaman berharga.

Karena itu saya dan Dudu bertekad untuk lebih sering bermain ke museum yang ada di Indonesia.

09 February 2016

16 Jam di Gajayana

Ketika mengiyakan ajakan teman untuk naik kereta api Gajayana ke Malang, saya sebenarnya sedang impulse buying. Alias nekat beli tanpa mikir. Soalnya selain belum pernah naik kereta api, termasuk yang eksekutif, saya juga tidak paham fasilitas apa saja yang ada di Gajayana. Untungnya, 16 jam perjalanan Jakarta-Malang bukan seperti baju mahal yang sampai rumah kita sesali. It’s one fun, unforgettable adventure.


Seminggu sebelum berangkat, teman saya bertanya “16 jam di kereta, anak-anak mau disuruh ngapain ya?” Jujur, saya juga blank. Gadget juga ada batasnya kan. Apalagi si Dudu yang kalau sudah bosan, gadget juga bisa diabaikan begitu saja. Dan itu awal dari serentetan pertanyaan berikutnya seperti “Makan malam dan makan pagi gimana ya?” Nah lho. Saya juga belum pernah deh naik kereta api selama itu.

14 June 2015

Dari Jakarta Bisa ke 10 Tempat Ini Naik Mobil

Setelah berhari-hari mencari apa yang bisa menggabungkan list tempat liburan kesukaan saya dan Andrew, saya sadar bahwa semua tempat ini bisa dijangkau dengan mobil dari Jakarta dalam 1 hari. Bukan berarti one-day-trip tanpa menginap lho. Sebagian bisa, sebagian lagi akan sangat melelahkan kalau tidak menginap di tempat tujuan. Jadi, ini list kita. Everything is tried and tested ya. Kita sudah pernah benar-benar menjalani.

1. Bogor
Jarak: Rekor kita 45 menit (dari Pondok Cabe lewat Parung)
Di Bogor yang jelas kita senang makan. Karena rumah orang tua yang dekat dengan Bogor, kita jadi sering berakhir pekan di Bogor dan mencoba berbagai jajanan di sana. Banyak Museum di Kebun Raya Bogor yang bisa jadi tempat tujuan wisata keluarga. Sekarang ada theme park juga. Atau untuk yang hobi shopping tapi malas ke Bandung, Bogor juga punya banyak FO seru lho.

Food Court yang "mengapung"
2. Sentul
Jarak: 1-2 jam (lewat tol)
Kota yang terkenal gara-gara sirkuit ini sekarang jadi tempat tujuan orang Jakarta ketika mentok. Makan siang di Ah Poong lalu bermain di Art and Science Park. Kalau mau seharian, Sentul punya Jungleland yang tidak kalah asyiknya untuk keluarga.

3. Jonggol – Mekarsari
Jarak: 2-3 jam (tergantung Cibubur)
Tempat yang menyenangkan ini jadi jauh karena jalanan yang rusak dan Cibubur yang kerap macet berkepanjangan. Padahal kita senang ke Mekarsari, naik kereta keliling kebun buah dan belajar mengenai berbagai macam pohon. Tapi kita penasaran dengan Mekarsari yang renovasi. Jadi liburan sekolah kali ini, boleh juga berkunjung ke sana lagi.

Catur Raksasa Taman Bunga Nusantara
4. Cipanas/Puncak
Jarak: 3-4jam (tergantung Gadog dan buka tutup jalan)
Mama: Kalau ke Puncak mau apa?
Dudu: Jalan-jalan ke taman bunga untuk masuk ke labirin.
Mama: Terus?
Dudu: Minum susu di tempat sapi.
Mama: Terus?
Dudu: Main layang-layang di kebun teh.
Mama: Terus?
Dudu: Ke Taman Safari... tapi nanti kaca mobil kita digigit zebra lagi....


Museum Perjanjian Linggarjati

5. Cirebon
Jarak: 4 jam (tergantung Cikampek dan Simpang Jomin)
Dudu: Ini yang ada museum berbentuk rumah di atas gunung ya?
Mama: Iya, itu namanya Museum Perjanjian Linggarjati
Dudu: Aku mau pergi ke sana lagi. Boleh juga.
Cirebon ini penyelamat di saat kita lelah mengemudi atau kemalaman di jalan. Dulu, sebelum kota-kota lain secanggih sekarang, dan jalan tol super mahal itu belum dibangun, Cirebon adalah rumah singgah ketika kembali dari Semarang.




6. Guci
Jarak: 6-8 jam
Dudu: Menginap di Guci Indah, Ma. Lalu bisa berenang, berendam air panas, naik kuda dan jalan-jalan. Bisa naik ke atas gunung dan beristirahat.
Mama: Tapi hotelnya sering penuh.
Dengan keadaan Pantura sekarang, Guci jadi lebih jauh. Perjalanan kita waktu itu sekitar 6-8 jam karena berbelok di Tegal. Pernah sekali tidak kebagian hotel lalu setelah puas bermain dan berenang (kolam renang hotel bisa masuk dengan bayar tiket), kita akhirnya menginap di Brebes. Cerita lengkapnya di sini ya.




7. Anyer
Jarak: bisa sampai 8 jam gara-gara jalan rusak
Entah kenapa Anyer menyenangkan buat kita. Pantai yang lebih sepi dan lebih banyak seashells untuk dikumpulkan dan dibawa pulang. Mungkin karena kita menginap di hotel yang bukan berbentuk gedung. Masalahnya, perjalanan menuju ke sana penuh dan kelamaan di Anyer berarti siap-siap bosan makan seafood.




8. Palabuhan Ratu
Jarak: 6 jam (tergantung Jagorawi, Gadog dan Sukabumi)
Dudu: Kapan kita menginap di hotel pantai lagi, Ma?
Mama: Hotel pantai?
Dudu: Itu, yang ada kamar berwarna hijau buat Dewinya.
Menginap sudah pasti di Samudra Beach Hotel (sekarang namanya Inna Samudra Beach), hotel yang sudah ada dari jaman Bung Karno. Berenang di pantai harus hati-hati karena Laut Selatan (dan buat yang percaya, sebaiknya tidak pakai baju hijau). Sebelum check-in, makan dulu di kota, karena masuk kawasan wisatanya bayar dan makanan di daerah situ hanya ada (apalagi kalau bukan) seafood.

9. Bandung
Jarak: 3-4 jam lewat Cipularang
Kalau mentok, ya kita ke Bandung. Bisa wisata kuliner (martabak, wedang ronde, restoran Sunda) ataupun shopping di factoy outlet. Bandung punya kebun binatang dan sekarang ini banyak taman kota yang bisa jadi tujuan wisata kalau hanya ingin refreshing. Kalau harus menginap, lokasi hotel favorit kita ada di Ciumbeuleuit yang sejuk, atau yang dekat Cihampelas jadi mudah kemana-mana. 




10. Lembang, Tangkuban Perahu dan Ciater
Jarak: 4-5 jam (lewat Bandung, kalau lewat Subang lebih lama)
Berburu strawberry, mampir ke peternakan untuk minum susu segar, naik ke Tangkuban Perahu dan berendam di Ciater. Mencoba offroad juga bisa jadi pilihan. Banyak hal seru yang tersedia ketika kita memberanikan diri keluar dari Bandung dan menginap di kota kecil di sebelahnya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka blog competition yang diadakan oleh #TravelNBlog