26 July 2026

Catatan dari Peluncuran Platform 'Koleksi Jakarta'

Bagaimana jika lukisan di museum A ternyata punya cerita yang berhubungan dengan patung di museum B?

Ketika berkunjung ke sebuah museum atau gallery, biasanya saya cenderung fokus ke koleksi yang ada di tempat itu saja. Biasanya, koleksi yang dipamerkan sudah diatur sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita. Ternyata tidak selalu begitu. Hadir di acara Peluncuran Platform Digital "Koleksi Jakarta" pada 30 Juni 2026 yang lalu di Ruang Teater Museum Sejarah Jakarta, saya jadi mendapat insight baru.

Museum-museum di Jakarta cenderung berdiri sendiri-sendiri. Akibatnya, cerita sejarah Jakarta menjadi tersebar dan pengunjung harus menghubungkan potongan-potongan kisah tersebut secara mandiri. Bukan berarti ketika saya datang ke satu pameran, ceritanya jadi terputus. Tapi ketika ada satu objek sejarah, dan saya wondering benda ini punya cerita apa lagi, saya harus jadi Sherlock Holmes sendiri untuk tracking-nya.

Sekarang ada platform ini, koleksijakarta.id, yang menjadi rumah bagi ribuan koleksi dari 11 museum di Jakarta. Semuanya jadi bisa diakses di satu tempat. Yang dicontohkan di acara misalnya, "Lukisan Pengantin Revolusi" karya Hendra Gunawan (koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik) bukan hanya karya seni yang berdiri sendiri. Di website, saya bisa mencari objek lainnya yang terkait dengan tema Revolusi dan Kemerdekaan seperti wayang perjuangan atau miniatur kapal USS Renville yang ada di museum lain.


Proyek bertajuk Indonesian Museum Documentation Project (Koleksi Kita) yang diinisiasi sejak tahun 2024 ini merupakan buah kolaborasi antara Southeast Asia Museum Services (SEAMS) dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, dengan dukungan pendanaan dari Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) Kedutaan Besar AS.

Acara hari itu dimulai dengan sambutan hangat, pemutaran video peluncuran, penyerahan data secara simbolis, hingga pengenalan platform-nya. Karena saya juga ikut FGD yang diadakan SEAMS untuk uji coba platform ini, jadi ketika melihat websitenya benar-benar launching, rasanya jadi senang. Selain FGD, proses di belakang platform ini juga termasuk sulit.




Tito Apriansyah, Photographer Southeast Asia Museum Services (SEAMS) yang adalah lulusan Arkeologi Universitas Indonesia membagikan ceritanya di sesi "Behind the Lens". Mengingat fisik benda bersejarah sangat rentan rusak, tim bekerja ketat berdasarkan standar FADGI (Federal Agencies Digital Guidelines Initiative). Mereka meminimalkan risiko kerusakan dengan mendirikan studio foto sedekat mungkin dengan ruang penyimpanan (storage) agar objek tidak perlu dipindahkan terlalu jauh.

06 April 2026

Ketika Circle Pertemanan Justru Bertambah di Usia 40+

Di usia 40 tahun, saya kehilangan semuanya.

Ini clickbait yang akhir-akhir ini sering saya pakai kalau cerita. Habis itu biasanya ditimpuk orang haha. Tapi beneran lho. Pas usia 40 itu saya officially yatim piatu, pengangguran dan jadi empty nester. Semua terjadi di tahun yang sama. Ya, di usia 40 itu. Lalu, bagaimana hal ini berpengaruh ke cara saya menyikapi pergaulan?

Banyak studi yang menyatakan bahwa berkurangnya circle pertemanan, baik secara sengaja maupun tidak, di usia 40 tahun adalah karena orang-orang di usia 40-an sering kali memikul banyak tanggung jawab sekaligus, diantaranya: tuntutan karier, pernikahan atau membesarkan anak, merawat orang tua yang lanjut usia, dan komitmen keuangan. Bagaimana dengan saya yang hidupnya terbalik? Eh, terbalik gimana?

Waktu usia 20-an, kesibukan saya begini.

Saya jadi ibu tunggal di usia 22 tahun. Saat itu belum lulus kuliah. Jadi, ketika teman-teman seangkatan saya sibuk lulus, kerja, dan menikmati hasil gaji pertama, saya tidak bisa. Sebelum cerita lebih lanjut, saya mau disclaimer dulu kalau hidup saya tidak menderita ya. Saya baik-baik saja, cuma timeline-nya aja yang terbalik. Jadi usia 20an dan 30an saya dihabiskan untuk bekerja dan membesarkan anak, sekaligus tinggal bersama orang tua. Ketika teman-teman saya menikah dan berkeluarga, anak saya sudah besar.

Puncaknya ya kemarin, pas usia 40, saya balik lagi jadi jomblo. Kalau menurut riset, rata-rata di usia 40, orang menghadapi banyak tanggung jawab, saya sudah “selesai.” Inilah kenapa saya memutuskan untuk menambah circle. Sesuatu yang tidak saya lakukan di usia 20-30, seperti teman-teman saya pada umumnya.

Circle baru itu sebenarnya tidak baru-baru amat

18 March 2026

Kangen Blogging 10 Tahun Lalu? Iya, Saya Juga.

Percaya tidak percaya, 10 tahun lalu saya lebih punya banyak cerita. Saya bisa menulis lebih dari 10 postingan sebulan di blog utama. Blog jalan-jalan pun pasti ada minimal 1 tulisan per bulan. Sekarang ini, ada satu postingan per bulan itu saja sudah untung.

Ketika meninggalkan dunia jurnalistik sebagai pekerjaan tetap, dan pindah haluan ke marketing, blogging jadi salah satu cara mempertahankan hobi menulis saya. Apalagi, ketika itu, Dudu ada di usia pas untuk diajak jalan-jalan dan pergi liputan. Jaman itu, kayaknya saya jadi rajin blogging karena baru saja merelakan menulis sebagai “profesi”, jadi nulisnya bisa tanpa beban dan dengan senang-senang. 10 tahun lalu juga blogging juga lebih populer dan lebih menjamur karena belum ada video pendek. Jadi yang paling keren di jaman itu ya blogging. Karena setiap orang bisa jadi “media”, bisa cerita perspektifnya sendiri, dan ada pembacanya.


Salah satu acara 10 tahun lalu yang didatengin bareng Dudu sebagai blogger

Overall, kalo boleh dirangkum, yang paling dirindukan ya jelas semangat ngeblognya haha.

Soalnya sekarang ini nge-blog jadi prioritas kesekian. Bukan karena nggak cuan. Namun, karena banyak hal lain di hidup ini yang berubah. Pekerjaan tetap yang bikin hati tenang saat ngeblog udah nggak ada, lalu event-event yang biasanya mengundang blogger, sekarang memilih content creator. Yang namanya media sudah bergeser, bukan lagi berupa tulisan panjang tapi berupa video pendek. Saingan sama kecepatan generasi saat ini mengkonsumsi informasi. Sementara yang namanya tulisan kan dibacanya nggak bisa buru-buru.

Dan sekarang ada chat gpt. Ngeblog jadi makin susah, karena sudah setengah mati menulis, eh disangka hasil AI. Kok jadi curhat haha. Soalnya pernah kejadian saya masukin tulisan saya ke AI detector (entah yang mana), eh dibilang 75% AI. Terus sejak itu dongkol sendiri dan nggak pernah ngecek lagi haha. Biarin ajalah yang baca mau bilang apa, toh yang penting saya happy menulisnya. 10 tahun yang lalu, hal begini nggak perlu dipikirin. Ngeblog itu beneran happy-happy saja buat saya.

10 tahun lalu, Hadiah ultah Dudu juga disponsorin sama blogpost.


So, apa kata chat gpt tentang blogging 10 tahun lalu?

Katanya “dulu blog itu kayak diary yang dibuka ke publik. Sekarang banyak yang terasa terlalu ‘rapi’, terlalu strategis.” Well, ada benarnya, dari Blogging yang santai, muncul SEO kemudian muncul ChatGPT dan teman-temannya. Tulisan jadi kurang human. Dulu juga banyak yang sering komentar, dan blogwalking. Sekarang yang suka “jalan-jalan” lebih banyak di media sosial. Jadi, siklusnya memang sama, dan ini berlaku juga buat content video pendek yang sekarang lebih populer.

Awalnya, saya ngeblog buat senang-senang. Lalu, datang monetisasi, dan keseriusan menulis. Penulisan ada arahnya, sesuai brief client, sesuai kebutuhan pasar, sesuai algoritma dan lain sebagainya. Blogging (dan sekarang content creation) jadi kompetisi. Iya, memang ini semua penting kalau mau menghasilkan. Tapi, kalau dipikirkan malah jadi beban. Semua harus ada positioning, harus ada faktor yang bikin viral. Nggak viral berarti gagal. Serba cepat, serba cuan.

Padahal, kalau diingat lagi, awal mula saya blogging kan karena saya ingin melepaskan “cuan” dari hobi menulis saya supaya tidak ada beban. Eh, kok jadi terbeban lagi? Well, sampai sekarang blog saya yang punya domain sendiri hanya 1, yang travelling, dan itu juga karena saya butuh branding namanya. Bukan karena monetisasi.

Sekarang, saya mau mulai rajin blogging lagi. Dengan hidup yang sudah banyak berubah, dengan kepopuleran blog yang sudah menurun dan dengan semangat 10 tahun yang lalu. Ketika sebuah postingan yang published adalah reward yang paling dicari.

11 March 2026

Belajar Tentang Perempuan, Uang, dan Identitas di Ngabuburich Vol.01

International Women's Day tahun ini lebih spesial karena sebuah diskusi santai yang digagas Arichsan, dengan tema Women, Money, and Meaning yang diadakan di Selibar Cafe.

Nama acaranya Ngabuburich Vol.01. Acara ini menghadirkan psikolog Offie Dwi Natalia M.Psi., Psikolog dan financial planner Valencia Fabian BA, CFP, QWP, AWP, serta moderator Lala Adani. Formatnya santai seperti arisan. Jadi acara ini hadir sebagai ruang untuk berhenti sejenak, mendengar, belajar, dan merefleksikan diri.

Offie Dwi Natalia M.Psi., Psikolog dan financial planner Valencia Fabian BA, CFP, QWP, AWP, serta moderator Lala Adani di acara Ngabuburich Vol.01.

Perempuan Harus Jadi “Superhero” yang bisa Naik Level


Ada yang pernah bilang ke saya, “kamu tuh punya superhero syndrome ya?” Maksudnya gimana? Tanya saya lagi. “Ya, selalu ingin menolong orang.” Well, di kepala saya, hal tersebut baik. Apa yang salah dengan menolong orang lain? Apalagi konon, sebagai anak perempuan pertama, banyak beban yang tidak sengaja jatuh ke pangkuan saya. Namun, bukan begitu maksudnya.

Menurut Offie, banyak perempuan ingin punya superpower. Punya karier, keluarga harmonis, finansial stabil, dan tetap hadir penuh untuk anak. Kalau dipikir-pikir agak tidak masuk akal ya. Keinginan untuk punya segalanya ini kemudian menimbulkan konflik karena realitanya tidak sesuai dengan harapan. Apa yang kita pikirkan (kognitif) tidak selalu selaras dengan apa yang kita rasakan (afektif) “Peran yang berat, lama-lama malah jadi beban,” kata Offie. Well, memang role kita sebagai perempuan akan bertambah seiring waktu, dan membuat bingung karena tidak tahu siapa kita sebenarnya.

Jujur, saya relate dengan cerita Lala, sang moderator, bahwa sebelum menikah dia adalah “Lala.” Namun setelah menjadi istri dan kemudian menjadi ibu, ada banyak label baru yang membuatnya bingung sendiri. Saya juga sama. Orang tahunya saya “Mama Dudu.” Padahal, harusnya saya punya identitas sendiri ya. Saran Offie, “Sebelum mau jadi apa, kita harus here and now. Sebelum pindah naik level, kita harus bisa menguasai level ini. Kebingungan itu wajar, tapi kita harus bisa mengenal diri sendiri dulu, untuk tahu ke depannya mau gimana, dan mau apa.”

Bagaimana caranya naik level? “Sekarang banyak yang bingung karena kita tidak dibiarkan punya target sesuai level kehidupan kita. Sekolah ada ujian. Setelah dewasa, tolak ukur naik level tidak ada,” cerita Offie. Solusinya adalah dengan menetapkan target yang sepsifik. Misalnya bukan sekadar “ingin jadi ibu bekerja yang sukses”, tapi lebih jelas: bekerja di bidang apa, dengan penghasilan berapa, dan seperti apa kehidupan keluarga yang ingin dibangun.

Dan semuanya butuh uang.

Berkumpul merayakan International Women's Day bersama Arichsan.

Perempuan Bisa Bicara Uang Tanpa Drama

26 February 2026

Yessay dan Kekuatan Storytelling: Cara Baru Menikmati Konten Budaya di YouTube

“Yessay wasn’t about me, but rather about cultural contents. I was just the bridge between the two.”

Begitu katanya di Yessay episode 37, di mana Yesung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. YouTube Kpop Idol biasanya diisi dengan kehidupan dan aktivitas sehari-hari mereka. Bentuknya lebih ke variety atau banyak mengundang tawa yang menghibur penggemarnya. Lalu pada tahun 2023, Yessay muncul.

“At first, I wasn’t supposed to be on the video all the time,” katanya. Jadi seharusnya Yessay ini adalah setengah video, setengah narasi. “What used to be ‘Yessay’ was ‘Yesung sees and talks’. Also, ‘I explain with my mouth and express my feelings.’” Sekarang channel ini punya 161 video yang fokusnya ke budaya, travel, sejarah dan art. Di mata saya, Yessay adalah sebuah ruang pribadi di mana ia mengunjungi berbagai galeri seni, museum, tempat bersejarah, dan menyajikannya dalam narasi yang menarik.


Yessay hadir dengan sinematografi yang tenang, lagu yang menggugah dan cerita yang kuat. Kontennya sendiri sangat beragam, mulai dari kunjungan ke museum seni yang nggak mainstream, menelusuri situs warisan budaya di Korea, hingga momen-momen kontemplatif saat si pemilik channel menikmati pemandangan kota. Kadang mereka berhenti untuk “ngobrol” dengan Yesung, dan kadang ceritanya horror. Konten seni budaya dan sejarah dikemas dengan cara yang menarik tanpa kehilangan inti ceritanya.

Namun, kalau saya yang cerita, pasti bias. Soalnya Yesung adalah musisi favorit saya, member idol grup favorit saya. Jadi coba tulisan ini dibaca dengan a pinch of salt, bahwa saya pasti bias. Hahaha.

Menemukan Yessay adalah seperti menemukan harta karun. Kapan lagi bisa punya idola yang punya kesukaan yang sama dan bisa jadi tur guide keliling Korea. Apalagi yang dikunjungi adalah tempat-tempat yang memang jadi tujuan perjalanan saya. Ciri khas utamanya terletak pada narasi suara (voice-over) Yesung yang berat namun menenangkan, memberikan kesan seolah kita sedang mendengarkan sebuah buku audio sambil berjalan-jalan santai di galeri seni.

Nam June Paik, a video-artist, proposed the 'Youtube Era'|SuperJunior Yesung|Yessay|EP.01

Episode pertama yang ditayangkan berjudul “Nam June Paik, a video-artist, proposed the 'Youtube Era'” bercerita tentang kunjungannya ke Tate Museum di London beberapa waktu lalu dan pertemuannya dengan karya Nam June Paik. Lalu, diikuti dengan kunjungannya ke Nam June Paik Art Center. Nam June Paik adalah salah satu artist yang menarik untuk dipelajari. Hasil karyanya yang paling iconic adalah Electronic Superhighway yang saat ini dipajang di Smithsonian American Art Museum in Washington, D.C.

Di episode ini, Yesung mengajak kita keliling museum, lalu bercerita tentang karya-karya yang dipajang. Rasanya seperti beneran berkeliling museum dan punya guide pribadi.

Bedanya dengan guide yang ada di museum, di narasi yang diberikan, Yesung juga sering memasukkan pendapat dan pemikiran pribadinya. Kunjungan ke Tate Museum di London membawanya berpikir, seberapa jauh dia mengenal Nam June Paik. Hal itulah yang membawanya mengunjungi Nam June Paik Art Center. Lalu ketika bertemu exhibition robot, Yesung cerita bahwa kadang kalau di rumah dia berpikir kalau dia mirip ini robot yang pakai headphone, nonton film di hape, dan melakukan semuanya dalam satu waktu. Lama-lama jadi kayak nge-date di museum haha.

Manfaat apa yang diberikan?

03 February 2026

Keluar Masuk Circle Pertemanan: Dapat Apa Selain Hikmah?

Apa yang pertama kali terpikir kalau mendengar kata “circle pertemanan?” Saya terpikir Komunitas tapi dalam konteks yang lebih general. Misalnya teman-teman ibu tunggal, Teman-teman blogger, dan teman-teman Kpopers. Bayangkan sebuah lingkaran, yang di mana orang-orang di dalamnya merasa terhubung karena kesamaan hobi, pekerjaan, visi, atau sekadar merasa "nyambung."

Kalau ditanya ada berapa, jawabannya ada banyak.
Punya banyak circle pertemanan gitu apa manfaatnya?


Pertama, saya jadi bisa melihat sesuatu dari berbagai perspektif. Ketiga circle yang saya sebutkan di atas tadi semuanya berbeda, tapi ada satu benang merah yang sering jadi penyatu obrolan: sama-sama tinggal di Indonesia. Hahaha. Ya, kalau sudah soal keluh kesah kehidupan, saya jadi melihat banyak perspektif.

Selain itu, punya banyak circle juga memberikan eksposur terhadap hal-hal baru dan membuka pandangan terhadap hobi dan profesi yang ada. Pertanyaan simple seperti, “kerjaan lo apa?” bisa tiba-tiba membuat saya kaget bahwa kok ada pekerjaan itu ya haha. Ada teman yang kerja remote jadi cross-border recruiter. Kliennya di berbagai negara yang mencari orang Indonesia, dan sebaliknya, perusahaan Indonesia yang membutuhkan expat. Tapi kerjaannya freelance alias hanya dikontrak per-project. Menarik juga. Selain eksposur, saya juga dapat banyak kesempatan networking.



Yang ketiga, saya punya alternative geng kalau satu circle sedang tidak nyaman atau tidak aktif. Ada kalanya teman-teman di satu circle ini mendadak sunyi senyap tidak saling menyapa karena kesibukan yang ada. Karena circle saya banyak, saya tinggal pindah main ke circle lain.

Kok bisa punya banyak circle? Lingkaran merepresentasikan pola berulang, tanpa adanya awal dan akhir. Masuk ke satu lingkaran lalu tiba-tiba jadi teman. Biasanya itu yang terjadi sama saya.

29 January 2026

Tidak Apa-Apa Kok Kalau Cuma Punya Target Baca 2 Buku Tahun Ini

Cuma punya target membaca 2 buku. Nggak apa-apa kan?

Tahun kemarin saya bahkan tidak punya target apa-apa. Niat membaca buku hanya berakhir dengan buku yang dibawa ke mana-mana. Padahal list buku yang yang TBR alias menunggu untuk dibaca ada banyak. Tapi dari semuanya, ada satu buku fiksi dan satu buku non-fiksi yang ingin saya baca.


The Great Mental Models: The Simple Tools that Explain the World
Economic and Arts
By Shane Parrish
404 Halaman
2024

Buku ini mengajak pembaca memahami cara berpikir lintas disiplin, dalam hal ini Ekonomi dan Kesenian, melalui kumpulan mental models atau kerangka berpikir sederhana. Bukunya memiliki bahasa yang mudah dipahami dan contoh-contoh praktis dari dunia ekonomi, perilaku manusia, hingga karya seni. Makanya saya jadi tertarik untuk membaca.

Best New Singaporean Short Stories Volume Four
Edited by Pooja Nansi
234 Halaman
2019

Antologi yang merangkum suara-suara kontemporer penulis Singapura melalui cerita-cerita pendek yang tajam, beragam, dan reflektif ini menampilkan potret kehidupan urban Singapura dengan segala lapisannya. Ada cerita relasi keluarga, identitas, kelas sosial, serta kegelisahan personal, yang disajikan lewat gaya bercerita yang berbeda-beda. Buku ini saya beli di salah satu toko buku lokal ketika sedang jalan-jalan di negara tetangga.

Bagaimana saya bisa memastikan bahwa buku-buku yang disebutkan ini bisa dibaca hingga selesai?

21 January 2026

Catatan Kecil dari Tempat-Tempat yang Menginspirasi

Hari impian saya adalah memulai pagi dengan kopi, lalu jalan ke tempat-tempat di mana saya bisa menikmati kesendirian. Ini saya lakukan saat perjalanan awal tahun kemarin di Singapura.


National Gallery Singapore

Bagi pencinta seni dan sejarah, tempat yang merupakan bekas dua bangunan bersejarah, Supreme Court dan City Hall, ini wajib dikunjungi. Saya biasanya menyempatkan berkunjung ke sini kalau sedang mampir ke negara tetangga. Buat apa? Buat bengong haha. Sebenarnya, National Gallery Singapore adalah rumah untuk koleksi seni Asia Tenggara dan dunia. Namun, atmosfer tenang dan inspiratif di tengah hiruk-pikuk kota Singapura yang sibuk membuat tempat ini ideal untuk menyendiri. Kalau hendak melihat koleksi dan pameran, tujuan wisata ini berbayar. Ada beberapa area dan koridor yang bisa diakses tanpa harus membayar tiket masuk. Tempat-tempat inilah yang biasanya ideal untuk duduk-duduk, berhenti mengambil jeda dan mencari inspirasi.



Lalu kalau di Indonesia, di mana bisa mendapatkan vibes yang sama?

Museum Nasional

Sejujurnya, Museum Gajah punya vibes yang mirip. Gedung yang juga bersejarah, kursi-kursi di depan pameran, dan atmosfer tenang yang sama. Bedanya, kalau National Gallery Singapore fokus di beragam karya seni, Museum Nasional menyimpan ribuan koleksi berharga mulai dari artefak prasejarah, arca kuno, kain tradisional, hingga peninggalan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia.

Bagaimana dengan cafe?

27 October 2025

Kenangan, Prioritas, dan Cerita Baru di Dunia Blogging

Pertama kali ngeblog tahun 2006 waktu anak saya lahir. Ngeblog yang konsisten dan bukan curhat colongan. Kalau yang curhat colongan, lupa dari tahun berapa. Arsipnya juga sudah tidak ada.

Tahun ini berarti sudah 19 tahun saya ngeblog. Wah, hampir dua dekade. Dimulai dengan satu blog untuk mendokumentasikan perkembangan anak, sekarang saya berusaha konsisten mengisi beberapa blog dengan tema berbeda.

Perjalanan ngeblog saya dimulai dengan blog ini, yang diberi nama Andrew and Me, karena isinya tentang saya yang jadi seorang ibu, kegiatan sehari-hari kita berdua dan refleksi saya tentang perubahan yang terjadi dalam hidup ini. Tema-tema yang dibahas sangat beragam, ada traveling tipis-tipis, tips jadi ibu, parenting, literasi digital, mengelola keuangan, dan pengembangan diri.

Blog ini akhirnya jadi dokumentasi perjalanan mengarungi perubahan hidup yang besar dan perubahan karier. Saya menuliskan transisi dari jadi ibu seorang bayi, anak remaja dan akhirnya kuliah. Juga tentang perjalanan karir, perubahan pekerjaan, sampai akhirnya jadi “penganguran”, dan bagaimana blogging berperan di semua zaman. Saya menggunakan blog ini sebagai ruang untuk refleksi finansial, karier, dan pribadi sambil menyeimbangkan kehidupan keluarga.

20 August 2025

Satu Hobi, Satu Circle. Jadi Punya Banyak Cerita

Salah satu besti yang saya miliki adalah seorang mantan rekan sekantor, yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari anak saya. Begitu pun saya, usianya lebih muda beberapa tahun dari ibunya. Di geng ex- teman sekantor yang ini, hanya saya yang lahir di tahun 80an. Jadi kalau kita hangout, kayak mamak-mamak jagain anak-anaknya.

“Tapi nggak kelihatan kok, Kak.”
Begitu kata mereka. Terima kasih lho.

Circle yang ini bertemu cukup rutin. Sebulan sekali. Biasanya makan di restoran yang saya belum pernah dengar namanya, tapi tiba-tiba viral di media sosial. Setelah viral, 3-4 bulan kemudian, circle saya yang sesama millenial ini bakal heboh. Lalu, terkejut karena saya sudah ke sana.

Setiap circle ada maknanya. Dan kebetulan pertemanan saya ada banyak kelompoknya. Saya punya circle pertemanan hobi seperti Detektif Conan, Harry Potter, Kpop dan lain sebagainya. Lalu ada circle pertemanan blogger. Circle para penulis fiksi amatir. Saya juga punya pertemanan sesama ibu tunggal yang saling support dan berdaya bersama. Saya juga masuk di circle gereja dan berusaha aktif di banyak kegiatan yang ada. Bahkan, boneka Panda saya juga punya circle sendiri yang isinya boneka semua.

Saking beranekaragamnya circle pertemanan saya, kalau saya pergi berkegiatan biasanya saya ditanya “sama teman yang mana lagi ini?”


11 August 2025

Merelakan Tidak Selalu (lebih) Buruk

Masuk bulan ke-9 saya “pengangguran” alias terpaksa jadi freelancer, yang namanya keuangan pasti amburadul. Godaan terbesar jadi seorang pekerja lepas adalah membatasi project yang diambil sesuai dengan kemampuan. Apalagi, selama ini, saya selalu punya kantor.

Mendapat tema “Adil bersikap ketika menerima rezeki” di salah satu event menulis blog yang saya ikuti membuat saya berpikir kembali tentang definisi “adil.” Yang diajarkan kepada saya sejak kecil adalah “adil itu bukan berarti dibagi sama rata, tapi dibagi sesuai kebutuhan.” Jadi, adil itu sama dengan tidak maruk. Karena kita mengambil hanya sesuai dengan kebutuhan kita.

Inilah yang kemudian saya terapkan di kehidupan sekarang. Soalnya, Adil pada diri sendiri berarti adil pada orang lain juga.

Yang tersulit untuk bersikap adil pada diri sendiri adalah menentukan kapan harus berhenti. Saya tipe yang mengutamakan orang lain, misalnya anak atau keluarga, dan cenderung aktif meski mengaku introvert. Jadi saya selalu punya waktu, apalagi kalau menyangkut cuan. Akhir-akhir ini, ketika hidup berubah dari pekerja kantoran menjadi lepasan, hal ini jadi masalah besar karena saya mencoba mengambil semua yang di depan mata agar semua pengeluaran bisa terbayarkan. Tadinya, ketika ada satu gaji bulanan tetap, yang namanya side job tidak jadi prioritas utama. Hanya bersyukur ada rejeki lebih. Namun, saat ini, ketika pemasukan tetap tidak lagi ada, semua yang bisa menghasilkan, saya ambil.


Ternyata ada limitnya. Saya terpaksa belajar merelakan.

14 July 2025

Jadi Kangen Pelihara Kelinci

“Kalo pelihara kelinci, harus siap patah hati.”
Ini selalu jadi pesan saya bagi mereka yang bertanya. Kelinci ini binatang peliharaan yang lucu dan banyak yang tertarik memeliharanya karena terlihat mudah. Bisa dipelihara di rumah, dan sekilas terlihat harmless alias tidak merepotkan. Lalu, setelah kelincinya ada di rumah, barulah kita sadar bahwa semua ini hanya kamuflase di depan.

Salam kenal Dari Waco

Jadi, ketika memutuskan untuk mengadopsi kelinci, siapkan mental bahwa si kelinci bisa tiba-tiba berpulang, meskipun kita sudah memberikan yang terbaik. Patah hati berkali-kali, dan tendensi menyalahkan diri sendiri biasanya terjadi. Ketika godaan untuk mengadopsi kelinci lucu yang menggemaskan datang, coba pikir sekali lagi. Siapkah untuk patah hati?

Kelinci mengajarkan saya bahwa hidup itu dijalani saja setiap hari dengan senang hati. Kelinci-kelinci yang saya pelihara, keluarganya, dan kelinci lain yang saya kenal punya sejuta alasan untuk meninggalkan dunia. Mulai dari keselek makanan, sakit karena lingkungan yang kotor, sakit ketularan kucing liar yang lewat dekat kandangnya, kena jamur anjing tetangga, berantem sama tikus, berantem sama kucing, kedinginan, kepanasan, kebanyakan makan, masalah pencernaan, kaget, stress dan lain sebagainya.

Kalau kelinci mudah mati, berarti kita wajib memberikan yang terbaik setiap hari. Karena, besok bisa saja dia sudah tidak ada.

Namun, terlepas dari semua hal yang bikin sedih, ada banyak hal menyenangkan yang membuat saya akhirnya tetap memelihara kelinci. Walau dititipkan ke rumah orangtuanya si kelinci.

Yang pertama: Kelinci tidak merepotkan.

Lho, katanya tadi susah memelihara agar tidak mati? Iya, betul, tapi sehari-harinya, kelinci ini tidak merepotkan. Seperti kucing, kelinci ini mandi sendiri. Jadi dia bersih. Almarhum Sentaro adalah kelinci rumah yang super bersih. Tidurnya di kamar saya dan tidak pernah pup sembarangan. Pup dan pipis selalu di kamar mandi, dekat selokan pembuangan air. Dia tidak mau makan dan pup di tempat yang sama. Jadi, kalau saya kasih makanan di kamar mandi, dia akan bawa ke luar makanannya.

Sayangnya, tidak semua kelinci begini karena kelinci saya yang berikutnya, mendiang Kichi, adalah kelinci yang jorok, cuek dan berantakan. Sering bertengkar dengan saya hanya masalah dia tidak “cuci kaki” setelah main di luar dan jejak cokelat bertebaran di lantai rumah yang warnanya putih itu.

Yang kedua: Kelinci biayanya murah.

Yes, banyak yang bilang sebaliknya. Tapi, kelinci saya main di taman, makan rumput, hay dan snack home made. Sesekali ada sih makan pelet, tapi biayanya tidak semahal makanan anjing atau kucing. Karena tidak main ke luar rumah, dan bertemu binatang lain, jadi kelincinya ya tidak vaksin atau steril. Makanya jadi rentan sakit, bahkan ketika papasan sama kucing liar yang lewat di tembok, besoknya tiba-tiba jadi jamuran. Kelinci saya juga tidak ada yang beli baju atau punya kandang mewah sih. Malah, Sentaro tidak punya kandang dan tidurnya di ranjang saya.

Yang ketiga: Kelinci tidak butuh perhatian sepanjang waktu.

Cocok buat saya yang cuek. Mereka asyik sendiri bermain, dan banyak menghabiskan waktu buat tidur di siang hari. Kalau saya pulang kantor, mereka akan menyambut dan minta makan. Downside-nya, mengajak bermain kelinci ini agak challenging karena mereka sulit dilatih. Ya, setidaknya kelinci-kelinci yang saya pelihara adalah kelinci yang asyik sendiri. Bukan yang seperti anjing bisa dilempar bola lalu dikejar.

Kangen sebenernya untuk pelihara kelinci sendiri, tapi punya pets adalah sebuah tanggung jawab besar. Kita tidak bisa meninggalkan kelinci lebih dari 24 jam tanpa pengawasan karena mereka jarang bisa mengontrol makanan. Mereka juga hewan pengerat, kalau ditinggal sama kursi rotan, kayu bahkan tembok, semua bisa habis digigitin.


"Kamu Manggil?"


05 May 2025

Ngeblog Next Level? Siapa Takut?

Kalau ada blogger ngumpul buat bertukar cerita dan silaturahmi, hasilnya apa? Ya, blog post dong. Untuk mengisi blog yang berdebu, makanya pertemuan kemarin jadi tulisan.

Hubungannya apa? Well, 2025 ini entah kenapa saya nggak update blog utama. Hanya update di blog traveling karena ikutan challenge. Itu pun, kejar-kejaran dengan deadline. Blog yang ini berdebu. Draftnya ada beberapa tapi tidak pernah ter-publish. Ketika hadir di kumpul-kumpul blogger di rumah Founder ISB, Teh Ani Berta, ternyata bukan saya saja yang punya masalah “hiatus” ini.


Menjawab apa yang terjadi, saya mencoba merefleksikan dengan kondisi saat ini. Tahun 2025, saya resmi pengangguran. Pekerjaan nggak stabil berarti harus cari yang secara freelance. Freelance ini menyita waktu dan tenaga. Harus pitching, melamar, negosiasi, tambal sulam sana sini. Otomatis kegiatan yang tidak menghasilkan uang langsung jadi prioritas kesekian. Termasuk blogging. Apalagi privilege sebagai blogger sudah banyak berkurang dari zaman kejayaannya dulu.

Singkatnya, kalau dulu saya punya pekerjaan tetap serta gaji bulanan, jadi bisa curi-curi waktu ngeblog di saat istirahat, sekarang saya nggak punya waktu istirahat. Semua waktu yang tidak digunakan untuk cari uang adalah terbuang percuma.

Wajar kalau dengan berkurangnya semua privilege dan antusiasme di masyarakat, motivasi ngeblog juga jadi hilang. Ketika kumpul-kumpul kemarin, ini salah satu yang jadi topik bahasan kami selain bagaimana cara masak ikan tanpa bawang merah, mau S2 bidang apa, daun kenikir itu bisa dimakan, menghadapi anak remaja, nostalgia kompasiana dan sejuta topik lainnya yang urgensinya agak sedikit di bawah. Hahaha.

Ada beberapa poin yang saya bawa pulang dari diskusi informal sambil ngemil bolu dan cendol keju di dalam kaleng biscuit itu.

Ingat Kembali Alasan Awal kita Ngeblog

“Saya ngeblog karena saya suka nulis.” Pernyataan tersebut menjadi tamparan buat yang blognya mandeg seperti saya. Kalau memang ngeblog musiman, karena sumber uangnya dari sana, ya mau gimana lagi kalo jadi demotivasi. Nah, kalau yang memang blognya nggak monetized seperti saya? Alasannya apa? Kalau menyukai sesuatu kan seharusnya punya waktu.

Kalau alasan awalnya ngeblog karena uang gimana? Pamor blogger turun, nggak ada brand mau bayar post, terus diam saja, pasrah? Ya, nggak dong. Kita jemput bola, menjaga blog tetap aktif lalu bersama-sama membuktikan kalau kita ini masih eksis, masih relevan.

Fokus pada Niche yang Spesifik dan Sesuai Passion  Sekarang. Cari Inspirasi Baru.


Misalnya kalau dulu kita fokus traveling solo karena masih single, sekarang kita fokus ke parenting karena sudah berkeluarga. Dulu kita ngomongin anak, sekarang anaknya sudah besar, kita kuliah lagi. Jadi, blognya banyak membahas edukasi dan dunia pendidikan. Hidup berjalan dan cerita kita berganti. Rasanya sulit menulis yang tidak sesuai dengan keadaan sekarang, jadi ya jangan takut mencari niche atau fokus ke topik baru.


Creating awareness & Interaction

Jangan berhenti branding. Satu pertanyaan yang dilontarkan Teh Ani membuat saya jadi merenung. “Bagaimana caranya agar brand di luar sana tahu bahwa blogger masih ada?”

Salah satunya, yang muncul dari ajang diskusi, adalah dengan eksis lagi, konsisten ngeblog lagi dan memanfaatkan media sosial yang sekarang ada untuk sharing tentang blogging. Ngeblog next level ini bukan hanya tentang saya senang menulis. Tapi bagaimana kita membangun personal branding, meningkatkan awareness dan ketertarikan orang akan blog yang dimiliki.

Tentunya, tidak sendirian dong. Bergabung dengan komunitas blogger, komunitas menulis atau komunitas lainnya yang bergerak di bidang literasi untuk saling menyemangati dan membangun jaringan.

Pulang dari kumpul-kumpul, bukan cuma perut yang penuh karena kebanyakan ngemil, tapi hati dan pikiran juga penuh dengan ketemuan teman serta homework untuk membawa blogging ke level selanjutnya.

Who’s with me?

28 April 2025

Emang ngeblog itu masih relevan ya di 2025?

Pertanyaan inilah yang membawa saya mengikuti sebuah webinar tentang blogging dan travel blogging yang diadakan oleh DailySEO ID bersama komunitas ISB.

Live Webinar berjudul “Is Ngeblog Dead in 2025 bersama Mbak Istiana, seorang travel blogger ini membahas pengalaman ngeblog selama 10 tahun, strategi mendapatkan traffic dan tentunya monetisasi. Webinar yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu penuh dengan ilmu dan diskusi menarik tentang blogging dan relevansinya di 2025.

Bicara relevansi, satu hal yang saya salut dari Mbak Isti adalah keberaniannya mengganti niche blog dari Parenting ke travelling. Pengalamannya itu diceritakan di awal, saat berbagi cerita tentang perjalanan ngeblognya. Hal ini sebenarnya relevan dengan bagaimana kita membranding blog tersebut.


Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah menulis About Me dengan benar. Siapa saya? Blog ini menawarkan apa? Expertise apa yang saya punya? Memindahkan niche pun adalah langkah untuk menaikkan relevansi dan kredibilitas sebuah blog. Mengapa hal ini penting? Karena, biasanya orang juga melihat Siapa yang ada di balik sebuah tulisan. Misalnya Mbak Isti menulis tentang Parenting karena dirinya memang seorang ibu. Lalu, ketika berganti menjadi traveling, ya karena memang dia suka jalan-jalan bareng keluarganya.

14 December 2024

Sejuta Impian 2025

2025 mau apa?

Pertanyaan sulit bagi saya yang tiba-tiba jobless karena PHK di akhir 2024. Cari uang dong. Cari pekerjaan lagi. Itu yang pertama terlintas di pikiran. Namun, ternyata mencari pekerjaan di usia 40 tahun ini tidaklah mudah. Yang lebih muda saja harus melalui belasan interview dan ghosting dari berbagai perusahaan. Saya? Mengirim lamaran, lalu tidak ada kelanjutannya. Balasan yang saya terima biasanya berupa permohonan maaf karena saya tidak sesuai dengan yang mereka cari.

Biasanya ini gara-gara gaji.

Anyway, setelah berpikir ke sana dan sini, ada beberapa ide bagaimana saya mau menjalani 2025. Apa saja?

  • Kuliah lagi. Saya ingin belajar tentang Public Policy, Public Administration terutama soal Non-Profit Management dan Fundraising. Saya sering menemukan lowongan di NGO yang berujung gagal melamar karena kualifikasi pendidikan yang tidak memadai. Di usia 40 ini, saingan saya kebanyakan punya S2. Saya hanya punya S1 yang tidak berhubungan dengan pekerjaan saya sekarang. Sulit bersaingnya.
  • Menggaji diri sendiri. Kalau cari kerja susah, kenapa saya tidak coba menggaji diri sendiri? Bagaimana caranya? Fundraising untuk Yayasan tempat saya jadi relawan sekarang jadi kami punya sumber dana tetap dan bisa menggaji staff. Atau buka usaha laundry di daerah. Hanya saja, merintis sesuatu berarti saya harus punya dana cadangan yang cukup untuk hidup selama usaha saya belum membuahkan hasil. 
  • Cari pekerjaan baru. Iya, ini tetap ada dalam agenda. Tapi saya lebih banyak pesimisnya. Jadi, yang saya lakukan sekarang adalah fokus ke pekerjaan freelance, tapi ada beberapa. Repot memang, tapi setidaknya tetap ada penghasilan tetap dan bisa menabung.
  • Green Card Lottery atau hal sejenisnya. Pindah ke luar negeri adalah impian utama saya. Karena di beberapa negara, umur tidak menjadi halangan seseorang untuk bekerja. Asalkan mau bekerja, dan masih kuat bekerja fisik, pasti bisa dapat penghasilan. Opportunity untuk bekerja freelance dengan kemampuan spesifik yang saya miliki sekarang ini juga lebih banyak. Idealnya sih opsi ini yang diambil, tapi berhasil tidaknya bergantung pada undian yang ada di luar kuasa saya.

Kichi (Kiri) Dan Waco (kanan)

Saya yang senang bekerja dan berkegiatan justru merasa bahwa santai-santai ini berbahaya. Jangan sampai terlena karena ada banyak hal yang sebenarnya bisa dan harus dikerjakan.

  • Saya ingin traveling, pergi nonton konser dan healing. Tapi, ya tidak bisa hanya traveling saja dong. Kenapa tidak saya mencoba cari pekerjaan di Korea? Siapa tahu ada yang tidak mementingkan umur dan bisa saya lamar.
  • Saya ingin membereskan rumah. Ada banyak barang “peninggalan” keluarga dan kedua orang tua yang sebenarnya bisa berguna bagi orang lain. Saya ingin membereskan dan menyumbangkan yang masih layak. 
  • Saya ingin pelihara kelinci lagi. Ini yang paling sulit untuk dilakukan. Soalnya saya ingin traveling, dan akan sulit meninggalkannya di rumah sendirian. Punya binatang peliharaan berarti punya tanggung jawab lebih. Apalagi kelinci ini rentan sakit dan mudah meninggal. Harus benar-benar siap mengurusnya.

Satu-satu kita coba capai mimpi. Semoga 2025 jadi tahun yang baik buat saya. 


30 November 2024

Ternyata Anak Saya Juga Gen Z

 “Mama ini bagaimana sih, aku kan Gen Z.”

Protes Dudu sering terjadi ketika saya komen soal kelakuan anak Gen Z. 

“Loh, emang Gen Z itu tahun berapa?” 

Pertanyaan saya malah membuat dia tambah kesal. Haha. Yah, habis gimana dong. Saya berpikir Gen Z ini adalah teman-teman di kantor, yang senang bicara mental health dan jajan kopi kekinian. Anak-anak di tim saya yang kerja keras di weekdays, tapi weekend-nya having fun gila-gilaan. Senang belajar hal baru, FOMO dan gampang overthinking. 

Kadang saya berpikir Gen Z seperti kelinci. Foto hanya pemanis.

Kalau ditanya apa yang saya dapatkan dari interaksi dengan Gen Z, ini adalah jawabannya: 

Mental Health itu bukan penyakit yang harus disembunyikan.

Generasi yang ini lebih berani dan terbuka soal kesehatan mental mereka. Dosis obat anti-anxiety, rekomendasi psikolog dan psikiater jadi bahan diskusi seperti makanan dan restoran. Dari mereka jugalah, saya memahami bahwa psikiater memang dibutuhkan dan dapat membantu memecahkan masalah. 

Ketika Mama diagnosa kanker dan sulit berkomunikasi, saya memanggil psikiater rumah sakit untuk berkunjung dan memberikan obat. Hasilnya, Mama jadi sempat pamit dan ngobrol sebelum akhirnya berpulang. Mental Health awareness berguna bukan hanya bagi anak muda, tetapi juga orang tua. Post-power syndrome bagi pekerja pensiun atau lansia aktif yang terkena penyakit berat dan harus bed rest. Ini semua sering membutuhkan bantuan mental health expert, dan saya belajar dari para Gen Z ini untuk tidak mengabaikan kemungkinan ini. 

Overthinking dulu Insecure kemudian. 

Saya langsung merasa overthinking saya normal. Beberapa rekan dan kenalan yang Gen Z. memiliki kemampuan overthinking yang membuat saya jadi overthinking juga. Ini saya yang “normal” atau saya memang kurang memikirkan segala sesuatunya dengan baik? 

Overthinking bukan hal positif jika dilakukan secara berlebihan, tapi ini sebenarnya adalah self-defense mechanism yang dimiliki manusia untuk meminimalisir resiko. Atau setidaknya begitulah yang saya pikirkan. Yang penting jangan sampai kedua hal ini menghambat saya dalam berkembang dan belajar. 

Work-Life Balance itu Penting

Kerja memang harus, tapi bersenang-senang juga jalan terus. Uang kalau hanya mengendap di tabungan juga buat apa? Meskipun ini bukan mindset general Gen Z, beberapa teman saya memilikinya. Gadget dicicil. Ketika cicilannya lunas, sebulan dua bulan kemudian tukar tambah dengan yang baru dan mulai mencicil lagi. Saya yang terbiasa membayar lunas semuanya jadi membandingkan gaya hidup saya juga. 

Menabung itu perlu. Banyak Gen Z yang saya kenal punya emergency fund cukup besar. Soalnya mereka pernah kena layoff dan faham resiko kerja di perusahaan startup. Yes, biasanya mereka kerja di startup karena tantangan dan gaji yang besar. Namun, pengeluaran mereka juga cenderung besar karena mereka suka pakai gadget terbaru. Beberapa juga menghabiskan uang di skincare dan liburan ke luar negeri. Intinya ya itu, ada alokasi dana untuk bersenang-senang. 

Menghadapi rekan kerja yang semakin hari semakin muda, bahkan saya pernah punya intern yang umurnya hanya beda beberapa tahun dengan Dudu, membuat saya berpikir bahwa saya semakin tua haha. Untungnya gap antar generasi biasanya tidak terlalu terasa, dan saya seringkali bisa menyesuaikan diri. 

Kuncinya hanya satu: mau berpikiran terbuka. 


17 November 2024

Sebuah Refleksi tentang Literasi Digital untuk Perempuan

 “Bisa dicek emailnya ya, Mbak.” 

Kalimat ini terdengar sederhana tapi tidak semua bisa melakukannya. Kok gitu? Iya, jadi sepanjang perjalanan saya mengurus komunitas, yang baru 3 tahun kemarin itu, saya menemukan bahwa literasi digital ini penting adaya.

Di sebuah hasil polling Apps Populix, sebagian besar responden bilang kalau mereka malas buka email karena terlalu banyak yang isinya promosi. Lalu muncul Gmail yang memisahkan email pribadi dan promosi atau Outlook yang punya folder “focused” untuk memfilter email langganan. Lah, ini berarti sebenarnya literasi digital kita sudah maju dong.

Mungkin.

Kenapa saya bilang mungkin? Soalnya kalau saya mengirimkan email zoom link event komunitas, banyak yang kebinggungan mencari folder spam/junk atau di mana bisa lihat email yang masuk ke “update”. Belum lagi kalau ternyata email di ponsel dan laptop tidak sync, jadi pas dicari ya emailnya tidak ditemukan. Jadi literasi digital bukan sekedar tahu cara membuka email. Tetapi juga memilah isinya dan menemukan pesan yang dicari.

Kenapa tujuannya perempuan? Sebenarnya ini ya karena dunia saya banyak berurusan dengan perempuan dan terbentur kemampuan mereka untuk memanfaatkan teknologi. Termasuk saya.

Ketika Dudu mendaftar kuliah menggunakan “Common App,” saya culture shock. Jaman dulu kita manual mengirimkan berkas lewat email atau pos. Sekarang dia mengisi semuanya secara online, sekolahnya mengupload nilai secara online juga dan decision dari kampus tujuan juga diberikan secara online. Cuma pakai satu app.

Ini, lho. Dari bayi sudah pegang komputer.

24 October 2024

Tahun Ini Adalah Tahun Ke-20 Saya Ngeblog

Tahun ini adalah tahun ke-20 saya ngeblog. Eh, sudah selama itu ya? Ya, Dudu saja sudah 18 tahun, jadi sebenarnya masuk akal sih.

Pada zaman itu, blogging hanyalah sebuah hobby atau diary online. Dan tujuannya blogging, selain curhat adalah untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari Dudu. Makanya nama blognya juga Andrew and me. Dudu dan saya.

Seiring berjalannya waktu, blognya berubah. Saya pulang ke tanah air, Dudu semakin besar dan tulisan semakin banyak. Bukan hanya tentang parenting atau ide nge-date di Jakarta, tetapi juga tentang kehidupan saya sebagai single mom. Lalu, saya mulai ambisi. Ketika menulis sudah tidak lagi menjadi pekerjaan utama, blog saya mulai jadi penghasilan. Alias saya jadi blogger part-time yang happy ketika diundang liputan dengan kewajiban menulis. Namun, karena blog saya adalah blog gratisan, undangannya juga jadi terbatas.



Ambisi yang kedua adalah punya blog lebih dari satu. 

14 October 2024

Museum Forward and The Adaptive Way to Embrace Changes

Whenever I told people that I want to pursue a degree in Cultural Anthropology, people asked, “what do you want to do with it?” I had no clue. I just love the different cultures, different viewpoints, then eventually translated to arts and museums. I started to wonder how these preservation sites work, the curation and the marketing process. So, when a social media post about Museum Forward, the first international best practice forum on museums and heritage, appeared on my timeline, I signed up.

I attended the Museum Forward 2-day public conference which is an eye-opening matter when it comes to museums. Held at BJ Habibie Building, BRIN (National Research and Innovation Agency), the forum brings together museum and heritage practitioners from all over the world, every session presents an interesting subject. What do I bring home from spending two days among these experts?


Museums used to be pictured as a place to preserve artifacts or history for the future generation, and this is where the problem lies. You’ll see museums usually preserve something by limiting interaction with the objects, while they should have made it accessible. Things like traditional music instruments are more meaningful when it’s played, compared to being displayed in a museum. So, museums nowadays have to go beyond preservation, by becoming a cultural hub to conserve what we have for the future.

Some museums, like the Louvre at Abu Dhabi, are moving away from encyclopedic approach to narrative viewpoint. Manuel Rabaté, Director of Louvre Abu Dhabi, France-UAE, shared that to do this, we must “question what stories can we share with the visitors.” Encourage cultural dialogues by taking in global conversations, and make sure to find the best practices to be implemented. Don’t be afraid to learn from children's museums as they know what they are doing and who their target audiences are.

Then the questions are there: how do you create a new narrative?

Sharmini Pereira, Chief Curator Museum of Modern & Contemporary Art Sri Lanka, Colombo, shared what it means to have a modern and contemporary art museum in Sri Lanka, which is known more for its conflicts. She included artworks, programs and conversations to include everyone on different sides of the conflicts. Her narratives go around the conflict itself, with culture and history as the connecting elements.

A different approach came from Victor Cageao, General Coordinator of Conservation, Museo Nacional del Prado, Madrid. Showing the transformations at the museum, where originally, “Europe has the tendency to accumulate collections,” to the current simplistic look with best or curated items on display. Sculptures and paintings which used to be placed in separate rooms are now put together to create a dialogue. “It’s often said that the museum has improved a lot because it has changed little,” he said.

And no, “creating a new narrative doesn’t mean losing its identity,” he assured. One can incorporate other voices. For example, instead of displaying items only from a certain period, a museum may put together similar arts from different periods and places. A room where golden masks from around the world are seen side by side, may bring new narratives on masks and how they are connected to or very different from one another. Another way is to deepen the creative process, as in introducing the artists not just as part of the artworks displayed but as a person.

When day one is about best practices and perspectives, day two highlights collaborative approaches to museums and cultural heritage. What kind of collaborative approach? Indonesia Bertutur brings performances to museums, while Indonesian Heritage Society gathers up the communities for collaboration. M+, Hong Kong hosts experiences to encourage the younger generation to play an active role in protecting, developing and utilizing the cultural heritage.


Collaborative approach is also crucial in building the museum’s brand, which is a public perception of the museum. Some rules to brand-related:
  • You can’t satisfy everybody, so focus on differentiating yourself instead. How? You only get one idea; if you add “and,” the effectiveness evaporates. Narrow down the focus.
  • Add more human interaction because it deepens the belonging.
  • Pay attention to your museum’s communication through different channels like architecture, lighting and atmosphere, art arrangements or label and interpretation.
So, it was a fruitful session, on interesting topics. While I’m simply just a museum enthusiast, most insights are actually applicable in my industry of non-profit organization. How to do branding and what we should shout in our messages. The sessions got me to reflect on how I did my campaigns and developed my programs. Something to keep for 2025.

09 August 2024

Sebuah Cerita Tentang Keputusan untuk Menunda

Awal tahun ini, Dudu dan saya mengambil sebuah keputusan besar untuk menunda kuliah. Alasannya karena keluarga.

Sebenarnya hal ini wajar, karena di sekeliling saya, dia bukan satu-satunya yang menunda kuliah. Penyebabnya juga banyak. Ada yang karena dana, ada yang ingin langsung mandiri dan ada yang memang mengambil pendidikan tinggi lainnya. Kasus Dudu juga termasuk yang ringan, soalnya menunda kuliahnya cuma 6 bulan, alias berencana masuk di Januari 2025. Yah, saya juga dulu ada “break” 6 bulan dari lulus SMA ke masuk kuliah. Alasannya malah lebih parah, saya capek belajar yang diharuskan dan mau senang-senang saja.

Bisa #DateWithDudu lagi

Jadilah, saya mengambil les Bahasa Perancis selama 6 bulan, sambil menunggu tanggal keberangkatan. Sekarang, Dudu mengambil kursus bahasa Mandarin sambil melanjutkan les gitar.

Jika memutuskan untuk tidak langsung masuk kuliah, bagaimana kita mengisi gap year? Well, ini yang kami lakukan:
  • Ambil kursus dan pelatihan. Karena sudah tidak ada kegiatan sekolah secara rutin, maka sekarang Dudu bisa ikut kelas dan pelatihan. Selain kursus bahasa asing dan les gitar, dia juga jadi sering ikutan workshop yang sesuai dengan jurusan kuliahnya kelak. Misalnya kalau ada kelas menulis script atau kelas tentang film. Kegiatan ini juga bisa jadi latihan untuk kuliah. Maksudnya latihan mengatur jadwal sendiri dan mengambil hanya kelas-kelas yang disuka.
  • Volunteer / Menjadi Relawan. Meskipun menarik, hal ini juga sedikit tricky. Banyak yang membuka posisi relawan namun mengharuskan pelamar sudah masuk kuliah. “Pengangguran” yang hanya punya ijazah SMA seperti Dudu sering kesulitan memposisikan diri. Sebulan terakhir ini, dia sedang gencar mendaftar jadi relawan di beberapa event yang sesuai dengan minatnya. Namun, belum ada yang berhasil diterima.
  • #DateWithDudu. Karena technically dia nganggur, kita jadi bisa nge-date lagi. Jadi waktu gap months ini bisa dipergunakan untuk quality time sebelum dia masuk kuliah. Kita jadi lebih sering mencoba restoran baru, pergi ke event barengan dan nonton film bersama. PRnya tinggal menuliskannya di blog.
  • ‘Me time’. Dudu jadi bisa melakukan hal-hal yang dia sukai seperti menamatkan game PS yang sudah lama ditundanya atau mabar bersama teman-temannya. Menulis script film yang kemarin tertunda karena belajar ujian dan menyelesaikan baca komik yang kemarin ditinggalkannya. Belajar masak untuk siap-siap hidup mandiri dan magang di coffee shop juga jadi pilihannya untuk ‘me time’. Kalau menurutnya, dia lega karena sebelumnya khawatir tidak akan sempat main PS4 lagi sebelum kuliah.