Showing posts with label CGV. Show all posts
Showing posts with label CGV. Show all posts

07 June 2017

Movie Review: Wonder Woman

For me, Wonder Woman helped put things into perspective. Meskipun saya bosan di tengah-tengah dan ternyata Dudu juga, tapi film ini mengajarkan beberapa hal tentang cinta dan bagaimana menemukannya di tengah kebencian yang ada. Sounds familiar? Mungkin karena saya juga nontonnya pas Hari Kesaktian Pancasila, film ini jadi membuat saya memikirkan nasib bangsa.

Really?



A general doesn’t sit behind a table, he goes out and fights. Kalimat Diana yang satu itu, terhadap para jendral Inggris yang sibuk merencanakan gencatan senjata dari balik meja, memang mengena. Di Themyscira, yang kita lihat selama setengah jam pertama (atau lebih) film Wonder Woman kita melihat Antiope sang jendral Amazon maju ke medan perang. Demikian pula dengan Hippolytta, sang ratu sekaligus ibu kandung Diana. Dari sini kita sedikit banyak belajar tentang para Amazon, kenapa hanya ada perempuan dan bagaimana Diana bisa jadi satu-satunya anak kecil di sana. Diana kecil selalu kabur dari pelajaran istana dan memilih belajar bertarung bersama Antiope, tanpa persetujuan ibunya yang sudah lelah dengan peperangan. 

Kedamaian di Amazon terusik ketika Captain Steve Trevor dan pesawatnya jatuh ke perairan Themyscira, menembus ilusi pelindung yang dibuat Zeus. Capt. Trevor, sang mata-mata Inggris dikejar-kejar pasukan Jerman yang ingin mengambil kembali buku rumus gas beracun yang dicuri dari dr. Maru. Karena inilah, Diana mengenal perang dan bertekad pergi ke dunia luar untuk membunuh Ares, sang Dewa Perang yang menurut legenda adalah penyebab semua keburukan hati manusia. Ketika berjalan bersama Capt. Trevor, dan grup kecilnya yang unik, inilah, Diana banyak belajar tentang dunia manusia yang ternyata jauh lebih rumit daripada sekedar menghunus pedang dan membunuh musuhnya.

Wonder Woman (141 menit)
Director: Patty Jenkins
Actor: Gal Gadot, Chris Pine, Robin Wright, David Thewlis
MPAA Rating: PG-13 (di Indonesia jadi Remaja 13+)

26 May 2017

Pirates of The Caribbean: Salazar's Revenge

Saya ingat Jack Sparrow sejak kunjungan ke Disneyland sekitar 20 tahun lalu. Pirates of the Caribbean. Naik kapal dan bertemu bajak laut. Beberapa tahun belakangan ini, pertemuan saya dan Captain Jack Sparrow hanya terjadi di bioskop. Hari ini mungkin jadi yang terakhir karena kabarnya Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge adalah sequel terakhir dari kapten kapal Black Pearl ini. 


Dudu langsung ngefans sama Salazar. “Penjahatnya keren. Ada action figurenya? Kalau ada action figurenya saya mau beli.” Salazar adalah tokoh utama cerita ini. Salazar membawa kita kembali ke masa lalu Jack ketika pertama kalinya menjadi kapten kapal. Bukan Black Pearl karena kita tahu dia mencuri Black Pearl itu dari Babarosa. Jack yang masih muda berhasil menjebak Salazar ke Devil’s Triangle dan mengancurkan kapalnya di sana. Sejak itu Salazar dan crewnya terperangkap di sana dan menghantui setiap kapal yang masuk ke sana. Tapi karena dia mencari Jack Sparrow, dia selalu meninggalkan satu orang untuk menceritakan kisahnya. Because dead men tell no tales. Kali ini yang dilepaskan untuk mencari Jack adalah Henry Turner, anak laki-laki Will Turner dan Elizabeth Swan.

Jalan ceritanya sendiri bisa ditebak dengan mudah. Henry Turner bertemu seorang astronomer perempuan bernama Carina Smyth dan mereka lalu menyadari bahwa mereka sedang mencari benda yang sama yaitu trisula Poseidon. Carina sedang memecahkan misteri tentang siapa ayahnya sementara Henry ingin menggunakan trisula itu untuk melepaskan kutukan yang menjebak Will Turner di Flying Dutchman. Jack Sparrow kebetulan muncul di tengah kebingungan dua orang itu dan kekacauan yang terjadi di kota. Jack Sparrow yang menggadaikan kompas legendarisnya tidak sengaja melepaskan Salazar sehingga kapal Silent Mary bisa berlayar dan menguasai lautan dan mengancam Babaroosa yang sudah hidup makmur dengan 8 kapal dan harta berlimpah sebagai bajak laut sukses. Lagi-lagi Jack Sparrow jadi ujung simpul perang kekuasaan, kali ini di laut.



 “Aku paling suka saat pertarungan Salazar dengan Jack Sparrow.” Kalau Mama sih suka bagian di mana ada Jack Sparrownya hahaha. Dan adegan hukuman mati di tengah kota yang kacau itu. Pirates of The Carribean edisi terakhir ini meningatkan saya dengan film pertamanya. Mulai dari setting hingga pemainnya. Kalau edisi pertama ada Will Turner dan Elizabeth Swan, di sini ada Henry Turner dan Carina Smyth. Lalu ada angkatan laut Inggris dengan ambisinya yang masih tidak kesampaian itu. Konsistensi Johnny Depp dalam memerankan karakter Jack Sparrow boleh dibilang sempurna.

The Pirates of The Caribbean: Salazar’s Revenge
Also known as The Pirates of The Carribbean: Dead Men Tell No Tales
129 minutes / PG-13
Sutradara: Joachim Rønning, Espen Sandberg
Cast: Johnny Depp, Javier Bardem, Geoffrey Rush, Brenton Thwaites, Kaya Scodelario

03 April 2017

Smurfs: The Lost Village

Another Monday, another movie, another no-parents playdate. Kali ini filmnya Smurfs: The Lost Village.

Membaca sinopsisnya ketika menuliskan preview film ini untuk internal newsletter sebuah perusahaan, saya jadi paham kenapa film ini ditunggu oleh Dudu. Soalnya dia punya pertanyaan yang notabene sama dengan semua orang: Kenapa Smurf yang Perempuan hanya Smurfette?


Dan film Smurfs: The Lost Village memberikan jawabannya. Singkatnya: “Smurfs the Lost Village menceritakan tentang Smurfette yang tak tahu siapa dirinya dan apa dirinya.”

Smurfs: The Lost Village
Sutradara: Kelly Asbury
Pengisi Suara: Ariel Winter, Joe Manganiello, Michelle Rodriguez, Julia Roberts, Demi Lovato and more
Durasi: 89 menit
Rating MPAA: PG (Di Indonesia jadi Semua Umur/SU) 
Film ini bercerita tentang Smurfette (Demi Lovato) bertemu dengan Smurfs lain di hutan terlarang. Smurfette pun merasa penasaran dan pergi ke hutan terlarang. Smurfette Hefty (Joe Manganiello), Brainy (Danny Pudi) dan Clumsy (Jack McBrayer) pun pergi ke hutan terlarang sampai dikejar Gargamel (Rainn Wilson). Mereka pun menemukan desa lain yang di penuhi Smurf cewek. Gargamel pun menculik mereka. Bisakah meraka menyelamatkannya? ~Dudu

05 September 2016

Train To Busan, Sebuah Film Zombie yang Berkesan

Kita selalu berpisah jalan ketika Dudu sibuk dengan zombie dan T-virus, sementara Mama setengah mati berusaha mengerti itu boyband K-pop menyanyi lagu apa. Minggu ini keduanya bergabung jadi satu di Train to Busan.

Menyaksikan trailer film ini ketika nonton Detective Conan, kita berencana nonton di Sweetbox lagi. Jadilah malam Minggu kemarin kita kembali ke Slipi Jaya untuk ngedate. “Aku harap film ini ada subtitle bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Kalau tidak aku tidak tahu mereka bicara apa.” Lha sama juga dengan Mama.


Train to Busan bercerita tentang seorang single dad (Gong Yoo) yang mengantarkan putrinya (Kim Soo Ahn) untuk bertemu sang ibu. Perceraian mereka, di mata si anak, adalah karena sang ayah terlalu sibuk bekerja hingga melupakan keluarganya, termasuk kebahagiaan si anak. Bahkan pada awalnya, untuk mengantarkan si anak ke Busan pun, ayahnya tak ada waktu. Perjalanan dengan kereta yang seharusnya hanya 1 jam itu berubah jadi seharian plus pertarungan melawan zombie yang tanpa sengaja naik ke gerbong kereta dan menginfeksi semua orang.

02 September 2016

Nonton Meitantei Conan di Sweetbox CGV

A lot of good guys and a lot of bad guys, but there's only one truth. FIlm Detective Conan tahun ini serunya berlipat ganda karena tokohnya muncul semua. Setelah menunggu sekian lama, saya dan Dudu akhirnya nge-date juga nonton Conan sekalian mencoba Sweetbox di CGV Slipi Jaya yang ternyata recommended juga kalau nonton berdua anak. 


Filmnya dibuka dengan adegan kejar-kejaran seru antara anggota organisasi hitam yang kepergok mencuri data NOC, FBI (diwakilkan Shuichi Akai) dan PSB (diwakilkan si Bourbon alias Tooru Amuro). Si anggota organisasi berhasil melarikan diri tapi mengalami amnesia dan kemudian ditemukan Conan dan kelompok detektif ciliknya yang sedang berwisata ke Tohto Aquarium. Data yang dicuri si anggota organisasi sampai ke bos mereka dan mengakibatkan 3 orang NOC tewas dan 2 lagi (Kir & Bourbon) di ujung tanduk. Belum lagi untuk mengambil kembali anggota mereka yang diamankan polisi, Gin dan Vermouth menanam bom di ferris wheel Aquarium Tohto.

14 August 2015

Wajah Baru CGV Blitz

Bioskop Favorit saya berubah. Yang tadinya berdesain interior simple dengan dominasi merah, putih dan suasana remang-remang, sekarang jadi mirip Hogwarts. Namanya pun ganti jadi CGV Blitz. Excited? Sudah pasti. Soalnya berubah untuk lebih baik. Evolving beyond movies.

Pintu masuk CGV Blitz
Pintu masuk CGV Blitz
Ketika nonton film terbaru Detective Conan, saya sempat bengong. Setelah kemarin ke Blitz Megaplex Grand Indonesia yang ditutup sana-sini karena renovasi, sekarang sudah keren bioskopnya. Kesan pertama, bioskop ini seperti castle dengan unfinished interior yang didominasi batu bata dan dekorasi lampu-lampu. Tapi jangan salah. Tempat box office boleh seperti cinema jadul, system pembelian tiket tetep modern. Malah sekarang bukan cuma mesin kotak yang diletakkan di atas meja, tapi full vending machine seperti mesin tiket di stasiun MRT Singapore. Bedanya yang ini ada trailer film diputar.


Pemandangan pertama di dalam CGV Blitz
Mesin Tiket di CGV Blitz
Mesin Tiket di CGV Blitz
Sistem beli tiket dan snacknya masih sama. Dan berdasarkan tanya-tanya ke pak satpam dan mbak yang jual popcorn, kita masih boleh pake new blitzcard dan belum perlu tukar ke CGV Blitzcard. Semoga tidak usah tukar ya. Repot. Baru juga saya excited dengan Blitzcard Asterix dan Obelix saya. Oh iya, beli popcorn masih dapat diskon. Kmaren popcorn saya yang besar (60rb) jadi tinggal 48rb.

 


Pintu bioskopnya juga keren. Hitam dan terlihat kokoh. Seperti mau masuk Hogwarts beneran. Di samping pintu ada denah teater dan nomor studio yang ditulis di tembok bata. Banyak kursi dan meja tempat menunggu. Malah karena comfortable nya, saya malah terpikir bisa nih bikin PR sambil nunggu nonton bioskop. Tidak usah cari Cafe lagi.


Tapi, yang paling brilliant adalah keberadaan Tous Les Jours di dalam bioskop. Say goodbye to standard movie snacks and soda and give a warm welcome to proper coffee that you can bring inside the movie theatre. Ini yang sudah lama ditunggu. Sebagai pencinta kopi, saya paling sebal kalau harus menyelundupkan Americano karena bioskopnya hanya jual cappuccino blended. Even better, di Tous Les Jours ini bisa bayar pake Blitzcard dan dapat poin. Ha-ha.

Tous Les Jours yang ada di Blitz
Bioskopnya sendiri tidak berubah banyak. Masih seperti Blitz yang saya ingat. Studio masih sama lokasinya, toilet juga masih ada di kedua sudut. Lounge tetap di belakang dan tempat jualan Foto itu masih berlokasi di kanan. Hasil browsing berita sih katanya bioskop ini bisa jadi tempat jam session music atau kompetisi seni.

Di CGV banyak quotes. Ini jadi pojok favorit saya

Sambil menunggu bisa duduk-duduk nonton trailler
CJ CGV sendiri merupakan chain multiplex terbesar di Korea Selatan. CGV merupakan singkatan dari "Cultural, Great and Vital. Selain di Indonesia, CGV ada di Vietnam, China dan Amerika Serikat. Yang di Korea pernah jadi tempat comebacknya Shinhwa dan Screening film I.Am - SM Town Live at Madison Square Garden. Ups jadi ngomongin Korea.

Give it a try. Watching movie has never been this awesome!