22 October 2023

Pentingnya Support System Bagi Blogger Pemula

Ketika dulu saya mulai blogging, saya tidak memikirkan yang namanya SEO, Domain Authority, pembacanya siapa dan segala macam hal yang sepertinya sering jadi requirement untuk blog masa kini. Soalnya tujuannya hanya mengupdate kehidupan duduk ke keluarga yang jaraknya jauh. Awal mula ngeblog bener-bener karena malas mengupdate keluarga satu persatu dan banyak juga yang tidak buka email. Whatsapp baru muncul tahun 2009. Sementara Dudu lahir tahun 2006. Jadi ada sekitar 3 tahun di mana Saya tidak tahu bagaimana mengupdate perjalanan saya dan Dudu kepada keluarga. 

Waktu itu hp-nya masih Nokia 3310 yang cuma bisa main game snake aja. 

Halo Mama, Nokia-nya nggak bisa dipake ngetik blog.

Support system pertama adalah tools dan teknologi yang tersedia. 

Saya mulai blogging serius ketika Dudu lahir. Waktu itu tahun 2006. Sebelumnya, saya menulis blog buat iseng-iseng. Kalau diintip lagi blog yang galau itu sepertinya sudah dari awal tahun 2000an. Haha. Malu ah, membacanya. Support System yang pertama tentu saja internet yang memadai di negara tempat saya kuliah. Adanya laptop dan kamera yang bisa memuat foto membantu saya membuat semacam Buku Harian online. 

Namanya blog kan adanya di dunia maya, tentunya harus ada teknologi yang support. 

Setelah saya pulang ke Indonesia, dan memulai profesi sebagai jurnalis, blog saya mulai terbengkalai. Selain karena si support system yang berubah, alias internet yang terbatas plus gadget yang sudah mulai lelah karena menemani saya sejak kuliah, saya juga mulai bekerja full-time. Waktu mulai tersita. Apalagi bekerjanya juga sebagai jurnalis yang ujung-ujungnya menulis. Pas mau ngeblog, energi sudah habis. 

Support system yang kedua ini tidak kalah pentingnya: Komunitas. 

Energi yang habis ini terselamatkan dengan teman-teman seperjuangan. Bergabung ke komunitas, kenalan dengan blogger lain, ikut hadir di event dan belajar blogging lebih serius, membuat saya semangat lagi. Karena jadi ada a sense of belonging. Punya teman sesama blogger bisa ngobrol, tukar pikiran, dan saling menyemangati kalau sedang stuck adalah sebuah anugerah tersendiri. Belum lagi kalau dapat kesempatan ikut kelas belajar SEO, belajar menulis dengan baik, dan bagaimana memonetisasi blog. Saya merasa tidak menulis sendirian, dan senang bisa bertemu teman yang punya hobi serupa. 

Dari komunitas yang saya ikuti ini, saya juga bisa dapat job. Tidak selalu berupa uang, tetapi juga kesempatan hadir di premier film atau dikirimkan produk untuk dicoba duluan. Dapat undangan acara penting dan jadi merasa dihargai. Akhirnya blog yang saya miliki bisa menghasilkan sesuatu, meskipun terbatas karena alamatnya yang tidak top level domain alias TLD. Habis bagaimana tujuan saya ngeblog kan bukan untuk komersil. Tetapi lebih ke personal branding, dan bercerita tentang pengalaman saya bersama anak saya. 

Sini Ma, saya bantu ketikin blognya

Yang paling penting, ya support system ketiga: Dudu. 

Tentunya support System yang paling utama adalah anak saya, Dudu. Yang adventure-nya saya tulis sebagai cerita utama di blog saya. Ketika dia sudah mulai bisa diajak diskusi, saya bahkan meminta dia untuk Menuliskan beberapa hal di dalam blog atau mencantumkan obrolan kita sebagai tulisan. Dari dulu Dudu bayi hingga sekarang sudah remaja, siap berangkat kuliah tahun depan.

Kalau Dudu sudah kuliah, bagaimana dengan nasib blog ini? Nah ini yang sebenarnya belum saya pikirkan. Tapi yang namanya petualangan jadi ibu tentunya tidak berhenti sampai di sini kan?

Kenapa support system ini penting? 

Jawaban singkatnya ya karena kita jadi tidak merasa sendirian. Dan ini bisa dikembangkan ke mana-mana. Dilansir dari website verywellmind, ada 4 tipe support system: emotional, esteem, informational dan tangible. 

Emotional support memberikan pelukan atau telinga untuk mendengar keluh kesah. Sementara Esteem support ini yang memberikan afirmasi bahwa kita mampu mengerjakan sesuatu. Yang membuat kita jadi lebih pede blogging. Informational support memberikan fakta, informasi atau guide yang kita butuhkan tentang satu subjek tertentu. Tangible support ini adalah tindakan nyata, yang kalau dicontohkan bisa seperti menawarkan jasa babysitting sementara saya menulis. 

Kalau dilihat cerita support system saya sebagai blogger di atas, Dudu adalah emotional support saya. Yang ada dan memberikan semangat untuk terus ngeblog melalui adventure yang kita jalani berdua. Teknologi jadi informational support saya dengan memberikan banyak jawaban dan fasilitas untuk ngeblog. Esteem dan tangible ya jelas komunitas. Dapat feedback, dapat semangat. Dapat blog walking juga. Tangible karena support nyata yang didapat bisa juga berupa job maupun fasilitas untuk belajar lagi. 

Image by Freepik

Bagaimana kita bisa jadi support sistem yang baik? 

Lebih dari satu dekade kemudian, giliran saya yang jadi support system teman-teman yang baru mulai ngeblog. Kalau dulu saya yang banyak dibantu sekarang saya ingin membantu teman-teman yang mau mencoba blogging. 

Kan caranya tinggal Googling? Zaman sekarang memang lebih enak sih semuanya bisa dicari di mesin penelusur. Tinggal buka website, cari di Google bagaimana cara blogging. Tapi buat blogger pemula atau yang benar-benar tidak tahu mau mulai dari mana, adanya teman yang bisa membantu step by step dari awal bisa mendorong mereka untuk beneran punya blog. Tugas saya sebagai support system, biasanya hanya menjawab pertanyaan. 

Mending nulis di blogspot atau di Wordpress? 
Eh ini tuh kayak diary ya? Ada gemboknya? 
Biasanya lu nulis blog berapa panjang sih? 
Fotonya diedit dulu nggak? 
Kalau gue ngeblok dari handphone, bisa nggak? 
Dan sejuta pertanyaan lainnya. 

Terdengar remeh memang, dan benar semuanya ada di Google. Tapi sama seperti dulu saya mendapatkan jawaban dari kelas-kelas yang saya ikuti, ada yang mengarahkan ini membuat kita lebih semangat blogging. Untuk menjadi seorang blogger kita butuh support system. 

Apa yang bisa kita berikan sebagai seorang support system? 

Karena saya tidak punya cukup uang untuk membelikan gadget, atau menjadi inspirasi tulisan si teman, ya saya berperan sebagai 'komunitas' untuk mereka yang baru mulai menulis. Dengan cara berbagi apa yang saya punya. 

  • Berbagi pengetahuan tentang blogging. Pakai platform apa? Menulisnya bagaimana? Apa yang harus ditulis? Bagaimana cara pasang foto? Dan lain sebagainya. 
  • Teman brainstorming. Kadang kalau mentok, ngobrol dengan sesama blogger bisa membuat kita punya ide cemerlang. Buat blogger pemula, yang nulisnya masih setengah-setengah, punya teman yang meng-accourage dia untuk menulis bisa membuatnya lebih konsisten. 
  • Fans nomor 1. Biasanya yang memulai blogging tidak pede sama tulisannya sendiri. Kita sebagai teman yang baik bisa menyediakan waktu untuk mampir ke blognya membaca dan memberikan feedback atas tulisannya. 
  • Pengingat bahwa blog harus diupdate. Yah meskipun ini kembali lagi ke manusianya masing-masing, Apakah mau konsisten blogging atau hanya sekedar mengikuti tren saja. Yang penting tugas saya adalah sesekali mengingatkan "eh blognya udah di-update lagi belum?" 

Baik sebagai ibu, maupun sebagai blogger, support system ini penting. Apalagi sebagai ibu-ibu ngeblog. Harusnya support system kita bisa dikali dua ya. Hahaha



20 October 2023

Nyaman Berteman Tanpa Beban Dalam Rangkaian Tulisan

Punya banyak teman? Kalau bilang tidak punya, rasanya saya bohong. Kalau bilang punya, saya ini sebenarnya introvert jadi saya merasa kalau temannya tidak banyak. Alasan klasik, social battery saya gampang habis. Tapi biasanya tidak ada yang percaya.

Beda ceritanya dengan komunitas blog. Apa yang membuat saya nyaman punya teman di komunitas blog? Atau setidaknya begitu. 

Pertama ya jelas karena kita punya kesenangan yang sama alias ngeblog. Biasanya di komunitas ada challenge atau tantangan tertentu yang diikuti bersama-sama. Diskusi tema, curhat writer's block, maupun saling menyemangati agar bisa menyelesaikan challenge, biasanya membuat teman-teman di komunitas blog menjadi akrab. Itu baru secara online di grup chat atau virtual di media sosial. Dulu zaman masih banyak event offline teman ngeblog saya lebih banyak lagi. Sejak masih jadi wartawan, sampai akhirnya pensiun dan jadi blogger full-time. 

Dari semua teman yang ada, adakah yang akrab? Jujur untuk sekarang ini sepertinya tidak ada yang benar-benar akrab sampai jalan bareng atau curhat japri via whatsapp. Meskipun Kalau bertemu offline rasanya seperti bertemu teman lama. Eh, tapi kita memang temanan sudah lama ya hahaha. Dari jaman Dudu masih TK, sampai sekarang sudah mau kuliah.

Kedua, pertemanan ini tidak membebani. Seperti ketika acara ulang tahun Kumpulan Emak2 Blogger (KEB) di awal tahun 2023 ini. Acara tersebut adalah acara offline blogger pertama yang saya datangi lagi setelah sekian lama terjebak pandemi. Tidak janjian dengan siapa-siapa karena memang sudah jarang berhubungan lagi dengan teman-teman blogger lama. Nekat datang sendiri, berpikir "Wah nggak ada temennya nih". Ternyata begitu hadir, malah seperti reuni SMA. Terlalu banyak yang dikenal dan harus diajak bicara, sampai beberapa tidak sempat disapa. Ah, jadi kangen. 

Saya nyaman berteman dengan sesama blogger. Balik lagi, karena saya introvert. Pertemanan lewat bertukar tulisan, mampir pun lewat blog walking. Jadi social battery saya tidak habis. 

Bukan cuma yang akrab, dalam satu komunitas pun ada yang datang dan pergi. Beberapa blogger jadi tidak seaktif dulu karena kesibukannya. Saya pun sempat begitu. Meskipun masih menulis, tapi tidak segila dulu dalam mengejar job atau mendaftar event. Seiring dengan berkembangnya zaman, yang baru mulai ngeblog juga semakin banyak. Jadi kalau bergabung ke komunitas ngeblog, saya bisa dapat banyak teman baru. Yang masih semangat atau yang baru belajar. Namun mereka-mereka yang baru ini justru membuat saya semangat untuk ngeblog lagi. 

Makanya jadi ikutan challenge KEB ini hahaha.

27 September 2023

Cari Peluang Uang Tambahan untuk Ibu Tunggal

Kita selalu mencari peluang untuk mendapatkan uang tambahan. 

Waktu Dudu masih TK dulu, pekerjaan pertama saya tidak menghasilkan banyak uang. Cukup untuk kehidupan sehari-hari tetap sulit menabung untuk liburan dan kelak kalau Dudu mau masuk SD. Terus cari uang tambahan dari mana agar tidak mengganggu cash flow yang ada sekarang jika mau pergi liburan keluarga atau membeli barang yang sedikit mahal, misalnya Dudu perlu punya handphone.


Itu saya, yang full-time bekerja, dan bisa menitipkan Dudu pada orang tua. Bagaimana dengan single moms yang ketika masih berpasangan dulu memilih untuk jadi ibu rumah tangga? Tentunya ada gap year di antara karir, harus catch up dengan banyak hal dan melalui proses panjang untuk kembali ke dunia kerja. Apa yang bisa dilakukan selain mencari pekerjaan tetap agar kembali berpenghasilan?

Kalo orang bilang ada banyak jalan menuju Roma, sebenarnya ada banyak peluang mendapatkan uang tambahan. Apa saja?

Ikut kompetisi ibu dan anak.

Lomba mewarnai, lomba foto, lomba fashion show dan lainnya. Semua kompetisi itu sering diikuti oleh saya dan Dudu ketika dia masih kecil. Kalau menang dapat uang. Kalau tidak? Selain dapat pengalaman, biasanya ada goody bag yang dibagikan dan isinya lumayan untuk kehidupan sehari-hari. Saking seringnya ikut lomba, saya sampai punya IG agregator lomba anak yang masih berjalan sampai sekarang.

Bagaimana caranya ikutan lomba? Dulu saya dan Dudu rajin hadir ke acara anak-anak di akhir pekan. Terutama yang gratisan dan terbuka untuk umum di mall. Kalau ada kompetisinya, ya kita daftar saja ikut. Selain bisa jadi kesempatan bonding bersama anak, kalau menang kan bisa dapat hadiahnya.

02 September 2023

Makna Merdeka Bagi Ibu Tunggal

Tanggal 30 Agustus kemarin saya menghadiri Diversity, Equity and Inclusion (DEI) Summit yang diselenggarakan oleh Manulife Indonesia. Acara yang saya hadiri sebagai perwakilan Single Moms Indonesia ini membawa pesan “Bring DEI to Life.” 

Hubungannya apa sama merdeka?

Ada satu pesan yang saya dengar di DEI Summit pertama di Indonesia ini yang membuat saya berpikir tentang makna merdeka. Kira-kira begini: Coba bayangkan betapa tidak nyamannya kita ketika harus menyembunyikan sesuatu agar terlihat normal dan tidak dikucilkan oleh orang lain. Apa yang terjadi jika kita harus merahasiakan kondisi kita, dan struggling sendirian. 

Yang dibahas di DEI Summit kemarin lebih kepada disabilitas, terutama disabilitas fisik. Namun memang disebutkan bahwa disabilitas ini bukan hanya fisik tapi juga mental dan kondisi. Perbedaan bukan hanya apa yang terlihat langsung di depan mata. Misalnya seorang karyawan yang memiliki ADHD tentunya akan lebih sulit fokus dibandingkan rekan-rekannya yang tidak ADHD. Namun ADHD yang tidak berani diakui ini menghalangi kinerja dan menyebabkan karyawan tersebut dicap tidak perform. Begitu juga dengan status ibu tunggal. 

Banyak single mom yang menyembunyikan status mereka ketika melamar pekerjaan karena takut diperlakukan berbeda, misalnya diganggu rekan kerja atau atasan lawan jenis. Bisa juga malah jadi tidak diterima karena perusahaan khawatir mereka akan banyak ijin karena harus mengurus anak sendirian. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah menciptakan equity dan melakukan inclusion untuk mereka yang berbeda.

Jadinya ya, para ibu tunggal ini belum merdeka. Bukan hanya dalam pekerjaan, namun juga dalam kehidupan sehari-harinya. Stigma yang muncul membuat mereka kurang nyaman menjadi diri sendiri, dan akhirnya stress karena harus terus berpura-pura. Padahal masih terluka. Karena itulah saya ingin menciptakan sebuah kondisi di mana para ibu tunggal ini bisa merdeka. 

Merdeka yang bagaimana?

29 August 2023

Apakah Kelinci Cocok Sebagai Peliharaan Pertama Anak?

Sejak saya dan Dudu memelihara kelinci, beberapa orang tua bertanya pada saya tentang kelinci. Anaknya ingin punya kelinci. Daripada kucing atau anjing, lebih baik kelinci dulu sebagai peliharaan pertama anak. Apakah benar kelinci cocok buat jadi peliharaan pertama anak? Coba kita telusuri pro dan kontranya sebelum memutuskan untuk memelihara.

Sulitkah memelihara kelinci?

Dibandingkan anjing dan kucing, kelinci termasuk mudah dipelihara karena herbivora. Kebetulan lingkungan rumah mendukung dengan adanya taman di belakang. Ukuran kelinci yang tidak terlalu besar dan tidak berisik juga membuat kelinci jadi mudah untuk dirawat dan dipelihara. Karena itulah, ketika Dudu ingin punya binatang peliharaan, kelinci jadi pilihan pertama saya. 

Apa saja yang harus diperhatikan ketika memelihara kelinci?

Jika mengenalkan kelinci sebagai binatang peliharaan anak yang pertama, harap diingat bahwa kelinci mudah mati. Kepanasan mati, kedinginan juga mati. Kebanyakan makan mati. Salah makan mati. Kaget juga bisa mati. Jadi, persiapkan anak dan diri anda sendiri untuk menghadapi kematian kelinci sejak mulai memelihara.

Meskipun terlihat jinak dan lucu, kelinci saya dulu pernah menang berantem lawan kucing liar. Kelinci memiliki cakar tajam dan gigi yang kuat. Selain itu, tendangan kaki belakangnya juga tidak boleh diremehkan. Jadi, ketika mengenalkan kelinci pada anak, awasi juga interaksi mereka. Kelinci tidak boleh dipegang kupingnya, jadi jangan sampai anak yang masih kecil menarik kuping kelinci. Selain itu, kelinci dewasa juga bisa tumbuh besar dan berat. Hati-hati saat menggendongnya.

26 August 2023

Reza Permadi Menggandeng Teknologi Sebagai Sahabat Pariwisata Lewat Virtual Tour

Traveling adalah bagian dari kegiatan rutin saya dan Dudu. Sebelum pandemi, biasanya kami jalan-jalan setidaknya 2 kali dalam setahun ketika si Dudu libur sekolah. Lalu pandemi datang, dan jalan-jalan jadi tertunda. 

Di rumah saja bosan. Namun apa yang bisa dilakukan? 

Karena sering bermain media sosial, saya jadi paham dengan yang namanya wisata virtual. Beberapa grup travelling dan grup pekerja nomad yang saya ikuti di Facebook mulai mengadakan acara wisata virtual. Ada yang di Jepang, ada yang di Turki dan negara-negara lainnya. Ketika lockdown sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, wisata virtual mulai menjamur di semua platform. Semua orang kangen jalan-jalan tapi masih belum berani ke luar rumah. 

Konsep virtual tour atau wisata virtual ini menarik karena sebenarnya orang seperti saya, yang senang cek lokasi lewat google maps sebelum beneran sampai di tempatnya, secara tidak sadar sudah melakukannya. Saya senang merencanakan perjalanan, membuat itinerary dan mencari informasi tentang tempat yang saya tuju. Apalagi jaman sekarang sudah ada teknologi canggih yang memungkinkan kita “jalan-jalan” di layar laptop. Tinggal klik lalu bisa lihat 360 view dari satu tempat wisata. Atau bisa cek street view dari satu daerah dan menyusuri jalanannya, seakan-akan kita ada di sana. 


Kalau dipikir-pikir, ini jadi mirip main game RPG. 

Eh, di Indonesia juga bisa dong. Apalagi ada banyak daerah yang memiliki pemandangan indah namun sulit dijangkau secara offline. Dengan banyaknya orang jadi melek teknologi ketika pandemi, wisata virtual ke daerah-daerah ini sekarang bukan hanya wacana. Yang penting ada tour guide-nya. Karena biasanya jalan-jalan tanpa cerita itu jadi tidak ada maknanya. Salah satu penyedia jasa layanan virtual tour ini adalah Atourin.

Cerita Reza Permadi dan Atourin

Atourin adalah milik Reza Permadi, salah seorang penerima SATU Indonesia Awards tingkat Provinsi untuk DKI Jakarta di tahun 2021 kemarin. Gagasannya di bidang teknologi, yaitu Atourin, mengusung Wisata Virtual untuk Pegiat Pariwisata. Atourin yang didirikan pada tahun 2019 ini bertekad untuk memajukan industri pariwisata Indonesia sekaligus dapat berkontribusi meningkatkan perekonomian Indonesia melalui implementasi teknologi, mulai dari memberikan pelatihan untuk virtual tour bagi para pemandu wisata di Indonesia ketika pandemi menyerang.

17 August 2023

Tujuhbelasan Berkesan dan Pesan untuk Indonesia

Sudah puluhan kali melewati 17 Agustus, namun entah kenapa tidak ada acara berkesan yang muncul di kepala. Ketika sekolah dulu, 17-an identik dengan upacara. Baik ikutan secara langsung di sekolah atau nonton TV. Lalu ketika mulai bekerja, maknanya mulai hilang karena saya seringnya bekerja di tanggal merah. Pertama ketika bekerja sebagai wartawan, harus menghadiri event 17-an dan menuliskan reportasenya. Lalu saya pindah ke e-commerce, di mana kemerdekaan ini adalah waktunya promosi dan diskon belanja. Ujung-ujungnya ya 17an dihabiskan dengan bekerja.

Karena bukan tim aktif lomba, saya juga jarang berpartisipasi di perlombaan selain yang ada di sekolah. Sekolahan Dudu yang internasional juga tidak terlalu punya perayaan 17 Agustus yang meriah. Lalu momen berkesannya apa? 

Setelah browsing foto, ternyata ada dua momen yang unik di perayaan 17 Agustus sepanjang hidup saya.

Momen pertama adalah jalan-jalan. Kita pernah naik pesawat pas 17 Agustus. Haha. Jadi spesial karena Halim Perdana Kusuma waktu itu dihias dengan bendera merah putih. Dudu juga ikutan excited dengan semangat kemerdekaan, mau saja disuruh foto-foto pakai ikat kepala merah putih. Yang lebih memorable-nya lagi, karena kita penerbangan dari Halim Perdana Kusuma, semua pesawat delay. Baru bisa terbang setelah pesawat tempur selesai acara 17an. Airportnya ramai tapi tidak ada yang protes.

Jadi tambah spesial karena perjalanan kita saat itu adalah ke Jogjakarta untuk lamaran adik saya, sekaligus survey lokasi pernikahannya. Seru!

Momen yang kedua adalah ketika secara random, kami sekeluarga memutuskan untuk mengadakan Korean BBQ di rumah. Saat itu masih pandemi dan PPKM masih lumayan ketat. Kami memesan peralatan BBQ mulai dari kompor gas, panggangan, daging dan bumbu dari toko online. Lalu, mulai mencari side dish dari restoran favorit yang untungnya berhasil survive selama pandemi. Setelah lockdown dan kemudian PPKM, 17an tahun itu terasa lebih merdeka.

Berkumpul bersama keluarga, menikmati hidangan setelah sekian lama terperangkap di rumah masing-masing selama pandemi.


Harapan untuk Indonesia

Almarhum Papa selalu bilang kalau orang tambah tua jadi tambah kuno. Kalah cepat dengan teknologi dan perkembangan zaman. Semakin ketinggalan dalam hal ilmu. Mau belajar pun, sudah tua dan otak terkadang sudah tidak mampu. Sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.

Nenek saya yang usianya 92 tahun masih bisa belajar belanja online. Sekarang dia bisa browsing aplikasi e-commerce dan shopping sendiri. Tante saya yang usianya 70an punya instagram sendiri. Meskipun masih sering terjebak hoax yang beredar di grup keluarga, namun para lansia ini mau maju dan belajar dengan caranya.

Saya berharap Indonesia juga begitu.

78 tahun bukan usia muda. Indonesia akan terus bertambah tua. Namun bukan berarti negara ini akan jadi gaptek, kolot dan terjebak nostalgia. Manusia berubah. Zaman dan teknologi jadi maju. Saya berharap Indonesia mau belajar mengerti, mau menerima edukasi sebelum menghakimi. Jangan takut akan sesuatu yang baru, lalu membatasi kreativitas dengan alasan melindungi generasi penerus bangsa. Sebaiknya Indonesia belajar memahami, dan bersama-sama mencari solusi yang tepat. 

Jangan jadi nenek-nenek yang merasa internet itu ancaman. Teman bule cucunya sebagai keturunan kompeni yang harus dicurigai. Sulit menerima ketika anak cucu punya moral compass yang berbeda akibat mudahnya akses eksposure ke negara asing. 

Semoga Indonesia bisa semakin bijak menyikapi transformasi dalam negeri. Mampu merangkul perbedaan yang ada dan setia pada semangat bhineka tunggal ika. Keras tak harus benci. Jangan sampai anak cucu pergi dan tak kembali, lalu Indonesia terpaksa menghabiskan masa tuanya di panti jompo. Jadilah sosok yang bijak seiring bertambahnya usia, orang tua yang mencintai dan dicintai.

Ah, kalau menulis begini jadi mellow sendiri. Saya memiliki love-hate relationship dengan tanah air tercinta. Yang sudah banyak berkontribusi pada hidup saya, tapi banyak juga memberikan kekecewaannya. 

 

02 August 2023

Persiapan Nonton Konser di Usia (Hampir) 40

“Apakah seorang idol harus terus berkarir dan promosi di usia 40?”

Judul berita itu muncul di timeline sosmed saya. Kebetulan idol favorit saya, Super Junior, sudah sampai usia 40 tahun. Saya juga. Soalnya saya dan idol saya memang seumuran. Dudu sering komen soal per-konseran-ini karena sepertinya hanya saya mama-mama yang masih mengejar-ngejar Kpop Idol sampai ke negara tetangga.

Idol saya ini pernah bercanda, membuat konser yang penontonnya duduk semua karena “fans kita sudah tua.” Iya juga. Sementara para idol masih bisa nge-dance berjam-jam dan berlari-lari keliling panggung, para fansnya sudah jompo. Berdiri 3 jam sepanjang Supershow sudah tidak kuat. Apalagi setelah pandemi, badan jadi lebih tidak fit karena kebanyakan rebahan di rumah. 

Sepanjang pandemi, konser diadakan online. Menyaksikan SMTown Live di televisi di tahun baru sudah jadi tradisi beberapa tahun terakhir ini. Belum lagi konser online di beberapa platform yang bisa kita saksikan di layar komputer masing-masing hanya dengan membeli tiket. Idol terlihat lebih jelas, tidak perlu lelah antri masuk karena bisa sambil duduk, dan tidak perlu dandan rapih. Sebenarnya yang seperti ini ideal buat saya yang umurnya sudah mendekati kepala 4. Tapi jadi malu, ya. Masa artisnya sanggup, fans-nya kalah? Hahaha.

Nonton konser di TV tidak seseru nonton aslinya.

Apa yang harus disiapkan ketika mau nonton konser, sementara usia sudah semakin tinggi?

Pertama tentunya uang. 

Meskipun sekarang sudah punya tabungan, tapi pengeluaran dan tanggung jawab juga sudah semakin banyak. Jadi, agar dana konser tidak mengganggu cash flow, sebaiknya kita tetap memiliki pos terpisah untuk konser. Apalagi harga tiket konser kan biasanya juga tidak murah. Begitu juga dengan artis yang ingin didatangi konsernya. Saat ini, saya sendiri hanya membatasi dua artis yang konsernya bisa saya datangi karena keterbatasan dana: Super Junior dan Backstreet Boys. Karena pemberitahuan penjualan tiket konser biasanya mendadak, jadi saya punya tabungan khusus tiket konser yang tidak bisa diganggu gugat. Ketika tiket beserta harganya diumumkan, biasanya saya sudah punya uang untuk membeli. 

Kalau ada rejeki lebih, nonton konsernya sekalian liburan ke negara tetangga. Dudu? Ya dititipkan dulu di rumah adik saya yang kebetulan bermukim di sana haha.

Kedua, jaga kesehatan dan sadar diri. 

Sudah bukan anak kuliahan atau di awal karir yang masih berprinsip “you only live once,” jadi tentukan prioritas. Tidak perlu ikut jemput ke airport, stalking dan keliling kota demi papasan di jalan. Persiapkan diri nonton konsernya. Dari sisi kesehatan dan dari sisi kerjaan. Jangan sampai di hari konser, kita terpaksa lembur, atau sakit karena kebanyakan lembur di minggu sebelumnya. Jangan memaksakan diri ambil kelas yang berdiri kalau memang lebih nyaman duduk. Kalau seat sudah ada numbernya, tidak perlu datang terlalu pagi. Ini yang saya lakukan ketika menonton Super Junior KRY beberapa tahun lalu. Sudah ada seat number, jadi tidak perlu antri sejak pagi.

Ketiga, maksimalkan momen untuk ‘me time’. 

Sebagai seorang ibu, jarang-jarang saya punya waktu heboh sendiri. Dan biasanya ketika sedang ‘me time’ pun, saya tetap membuka handphone memantau keadaan sekitar. Nah, kalo konser, karena sibuk fangirling dan berusaha tidak terhimpit massa, jadi lupa sama yang namanya memeriksa chat. Yang ada handphone dimatikan sinyalnya agar tidak mengganggu atau habis baterai saat merekam aksi idol idaman. Ketika nontonnya di negara tetangga, saya sekalian “solo traveling” meskipun cuma setengah hari di Singapore dan hanya di sekitar tempat konser. Haha.

Jadi, apakah saya akan berhenti nonton konser di usia 40?

Well, sepertinya sih tidak. Kalau para idol saya belum berhenti berkarya, saya sih akan terus menabung untuk menonton konser. Sama waktu Backstreet Boys akhirnya world tour lagi dan nyampe di Jakarta dengan formasi lengkap, bahagianya bisa konser pakai uang gaji sendiri itu tidak terlukiskan.