21 June 2015

A Surprising Discovery

Kalau tidak dirayu teman, ngga ada cerita saya dan Andrew menginap di hotel ini. Discovery Hotel and Convention yang terletak persis di samping Dunia Fantasi Ancol bisa jadi salah satu rekomendasi hotel untuk warga Jakarta yang ingin staycation.* 

Ketika teman-teman kantor ngotot mau menginap di sini, saya akhirnya menyerah dan ikut dalam staycation dadakan ini. Pilihan hotel jatuh pada Discovery Hotel and Convention Ancol. Booking lewat internet dan konfirmasi lewat telepon, semua beres. Setelah booking, dapat surat untuk free masuk ke Ancol untuk 2 orang dan 1 mobil. Karena saya datang dengan teman, si Andrew bayar masuknya. 


Kolam renang Discovery Hotel Ancol
The room is awesome. Kamar cukup luas, tempat tidur empuk dan pemandangan cukup lumayan. Kebetulan dapat kamar yang menghadap ke Dufan walau Dufannya tertutup pepohonan. Yang paling hits adalah Discovery Kids Club dan kolam renangnya. Kids clubnya luas dan lengkap. Mulai dari permainan tradisional, permainan asah otak, TV, game komputer hingga indoor wall-climbing. Andrew ada di sana praktis, sejak buka (jam 8 pagi) hingga tutup (jam 8 malam). Penjaganya juga ramah dan semangat menemani anak-anak main karena orang tua tidak boleh menggunakan fasilitas anak-anak ini. Outdoor playground dan kolam renangnya juga asyik. Kalau menginap di sini tidak usah keluar keliling Ancol juga tidak apa-apa. Daripada cerita panjang-panjang mendingan kita pajang foto-fotonya aja.


Bedroom tempat kita menginap
Serunya aneka mainan untuk segala usia di Kids Club
Indoor wall climbing yang ada di Discovery Kids Club
Discovery Kids Club
The only turnoff adalah saat sarapan karena ternyata anak di atas 5thn bayar sarapan pagi (seingat saya setengah harga jadi sekitar Rp100rb) jika ikut dengan 2 orang dewasa. Jadi agak sedikit mengecewakan karena pada saat konfirmasi lewat telepon, kita sudah menanyakan soal sarapan anak, dan saya selalu memastikan bahwa hotel memperbolehkan anak dibawah 12thn untuk ikut sarapan dengan 2 orang dewasa sebelum saya booking. Terutama jika harga kamarnya sekelas ini hehehe.


Outdoor playground
Pemandangan Dufan dari kamar
Tapi secara keseluruhan, hotel ini menyenangkan dan Andrew happy bisa menginap di sini. Selain dekat dengan Dufan yang memudahkan kita naik wara-wiri, hotel ini juga berseberangan dengan halte busway koridor yang ke Mangga Dua, Kota dan Kelapa Gading jika kita ingin jalan-jalan tanpa nyetir sendiri keluar Ancol. Parkir mobil juga luas namun tidak ada parkir motor. Jadi jangan naik motor jika ingin menginap di sini karena Anda akan kerepotan ‘menyimpan’ motor Anda. So, in the end, despite all things, we would still consider this hotel a fun place for family.


Lobby Hotel
Where is it?
Discovery Hotel and Convention
Jl. Lodan Timur No. 7, Ancol Taman Impian, Jakarta Utara
(021) 29377777
www.discoveryhotelancol.com


*Staycation [/ˌstāˈkāSHn/] adalah istilah keren untuk liburan ngga kemana-mana alias di dalam kota sendiri saja. Selain tinggal di hotel biasanya juga sekalian mengunjungi atraksi/tujuan wisata lokal.

17 June 2015

Belajar menulis sebuah #AwesomeJourney

Ketika tema “Keanekaragaman Hayati” dipaketkan dengan workshop travel writing dan iming-iming lomba menulis yang membawa tema #AmazingJourney berhadiah ke Jambi muncul di timeline Twitter, saya tidak mau kehilangan kesempatan. 



Saya mencoba bertanya sama partner petualangan saya, Dudu (soon-to-be 9thn) apa artinya biodiversity? “Biodiversity adalah rumah bagi binatang dan tanaman yang beda. Ini namanya Bio different-city, Ma.” Kata Dudu setelah membaca ringkasan tentang Biodiversity Warrior dari Yayasan Kehati

Acara Nulisbuku.com yang diadakan di Conclave, Wijaya itu menghadirkan 2 narasumber menarik Travel Writer Anida Dyah dan Journalist-turned-Writer Feby Indirani yang membuat Sabtu pagi lebih bermakna.

Ollie dari Nulisbuku.com sedang menjelaskan tentang kompetisi
Pembicara pertama, Anida Dyah, adalah pengarang buku travelling Under The Southern Star yang bercerita tentang road tripnya keliling Australia selama 30 hari yang disebutnya sebagai titik balik dalam hidup setelah ditinggal ibunda tercinta dan jenuh dengan pekerjaan rutinnya. Bukunya berbentuk travel narrative. “Ini berarti tidak bicara budget dan printilan teknis ya, karena pasti berbeda untuk setiap orang,” kata Anid.

Anida Dyah berbagi pengalamannya di Australia yang mencengangkan
Pembicara kedua, Feby Indirani, adalah seorang jurnalis/produser TV yang tidak mau disebut senior karena masih muda (kata orangnya sendiri lho), dan sudah menerbitkan buku dari berbagai genre. Feby, yang baru pulang dari membawa rombongan wartawan Jerman ke Kawah Ijen ini berbagi ilmu tentang bagaimana menulis naskah yang awesome.

Feby ini kocak banget dan semangat kalau sedang bicara
Anid yang praktisi dan Feby yang menjabarkan teknik merupakan gabungan yang pas. Ada beberapa tips menulis naskah travelling yang bisa disimak:

Setting dalam bentuk deskripsi – Setiap orang memiliki preference berbeda-beda. Anid mengaku menggunakan warna untuk menggambarkan alam dan segala bentuk yang dia lihat. Sebentara latihan yang diberikan Feby mengajarkan kita untuk menggunakan metafora untuk mengajak orang menjadi dekat dengan pengalaman kita, dan menghindari penggunaan kata sifat yang cenderung terikat pada perspektif dan pandangan pribadi penulis.

Mencatat kesan, rasa dan aroma yang bisa hilang setelah kita pulang. Menurut Anid, fakta lain bisa di-Google, tapi apa yang ada di benak kita saat itu biasanya tidak bertahan lama. Hal ini termasuk interaksi dengan orang setempat atau teman seperjalanan yang seringkali tidak ada juga di Google. Feby mengingatkan tentang 5W+1H yang seringkali terabaikan dan menggali detail sebanyak mungkin. “Belanja adalah modal untuk menulis,” katanya. Ini maksudnya belanja detail ya bukan belanja oleh-oleh.

Sambil “belanja” temukan hal baru dan menarik yang bisa jadi cerita. Kata Anid, “masukkan unsur sejarah dan background story pada tempat-tempat yang menarik tapi jangan sampai tulisan kita jadi wikipedia.” Hal ini identik dengan cerita Feby tentang penambang belerang di Ijen. Ketika ditanya oleh wartawan Jerman apakah mereka tersinggung menjadi objek foto turis dan wartawan, para penambang ini berkata sebaliknya bahwa mereka senang difoto karena mereka bisa dapat uang tambahan yang kadang melebihi penghasilan utama mereka. Menggabungkan perspektif si penambang sekaligus background tentang pekerjaan dan penghasilan mereka bisa jadi satu cerita menarik tentang kunjungan ke Ijen.

Memberikan rasa personal, tapi pusatnya tidak pada diri sendiri ataupun perasaan pribadi, saran Feby. Ketika Anid menulis bukunya, kita tahu perjalanan ini sangat pribadi bagi dirinya sendiri. Namun apa yang tertuang adalah sebuah kisah perjalanan yang dapat membawa pembaca ikutan kesal, senang, excited atau sedih. Yang membuatnya jadi personal adalah kontemplasi yang mucul di cerita. (Saya belum baca bukunya jadi tidak berani bicara banyak – ini hanya berdasarkan presentasi Anid ya.)

Well, this workshop is really beyond expectation. It was an awesome journey to sat down and learn a few things about learning. Sekarang kita siap-siap ikutan lombanya yuk! 


Kompetisi Menulis Cerpen Awesome Journey

16 June 2015

Berkunjung ke Jurassic World

 Adegan terakhir Jurassic World membuat saya membayangkan sekumpulan perempuan yang belum makan malam karena diet dan tengah berantem berebut tas branded di midnight sale. Well, sebagian besar dari dino itu memang betina -- dan apakah jika si indominus Rex adalah jantan, film ini akan jadi tidak seru. Sementara itu sepanjang film, Si Dudu sudah heboh mau nonton lagi untuk kedua kalinya.

Owen and his raptors
Di akhir cerita Dudu protes: "Mama hanya sibuk dengan Owen Grady."
Mama: Kan ganteng banget Du. Liat itu raptornya aja nurut. Pasti karena si Blue itu betina dan pawangnya ganteng.
Dudu: Mereka itu dinosaurus, Ma. Mana mungkin mereka mengetahui manusia mana yang cakep.
Mama: Kan kalo yang jelek langsung dimakan. Hahahahaha


Poster film yang banyak dibicarakan orang
Jurrasic World dimulai dengan theme park dinosaurus yang dibuka di Isla Nublar. Binatang-binatang standard yang ada tidak membuat manusia puas, malah memprovokasi mereka untuk menciptakan binatang baru yang diharapkan dapat menjadi atraksi utama Jurrasic World theme park. Siapa sangka binatang rekayasa genetika ini ternyata terlalu pintar dan dapat mengelabui manusia yang menciptakannya untuk lolos dari kandang dan menjelajah theme park sambil mencari jati diri. Dudu jelas terkesan dengan kepandaian dan keahlian si Rex jadi saat ditanya adegan favoritnya, yang disebut selalu adegan itu.

Tokoh utama manusianya ada Claire, bos theme park yang kedatangan kedua keponakannya (Zach dan Gray) liburan. Ada Owen Grady si pawang hewan. Dan ada Dr. Henry Wu, sang pencipta dinosaurus, seorang tokoh yang ada di Jurassic Park pertama 20 tahun lalu (wow). Semuanya hadir dengan konflik dan kepentingan masing-masing.


Kata teman saya si Gray mirip Dudu,
bolehlah mungkin casting buat sequelnya haha
Jurassic World is filled with science, something that Andrew loves. I-Rex misalnya yang dibuat dengan menggabungkan beberapa fitur binatang atau kemampuan para raptor untuk berkomunikasi dengan manusia. Meskipun hubungan antar manusianya tidak menjadi cerita utama tapi kita belajar banyak tentang anak dari si I-Rex. Misalnya, ketika Owen protes kenapa I-Rex terus dikurung di kandang, saya jadi berpikir kalau sebagai orang tua kita tidak boleh terlalu membatasi anak sehingga ketika dia pertama bersosialisasi dan bereksplorasi tidak perlu menimbulkan keadaan sekacau di Jurassic World.

Oh iya, buat yang membawa anak balita hati-hati ketakutan melihat orang dimakan dinosaurus dan beberapa adegan dan suara keras yang cukup mengagetkan. Lalu ada juga dialog keponakan Claire tentang perceraian orang tua mereka dan beberapa adegan yang menunjukkan bahwa melanggar peraturan itu sepertinya diperbolehkan di saat darurat. Jadi dampingi anak saat nonton ya.

Di akhir film, saya bilang saya mau pelihara Charlie (seekor velociraptor jantan).
Dudu: Untuk apa, Ma? Dinosaurus bukan untuk dipelihara.
Mama: Untuk disuruh pergi belanja. Kan dia cepat dan pintar.
Dudu: (tepok jidat)



Mau pilih pelihara yang mana?
Lumayan untuk mengalihkan si Dudu dari teman-teman Zombie-nya sampai nanti Resident Evil 6 dan teman-temannya muncul setelah lebaran.

(all photos courtesy of Universal Pictures)

Psst... kalau habis nonton, tiketnya jangan dibuang. Soalnya suka ada kuis di Twitter yang meminta menyertakan tiket. Lumayan bisa dapat merchandise.

Tiketnya disimpan untuk ikutan kuis

14 June 2015

Dari Jakarta Bisa ke 10 Tempat Ini Naik Mobil

Setelah berhari-hari mencari apa yang bisa menggabungkan list tempat liburan kesukaan saya dan Andrew, saya sadar bahwa semua tempat ini bisa dijangkau dengan mobil dari Jakarta dalam 1 hari. Bukan berarti one-day-trip tanpa menginap lho. Sebagian bisa, sebagian lagi akan sangat melelahkan kalau tidak menginap di tempat tujuan. Jadi, ini list kita. Everything is tried and tested ya. Kita sudah pernah benar-benar menjalani.

1. Bogor
Jarak: Rekor kita 45 menit (dari Pondok Cabe lewat Parung)
Di Bogor yang jelas kita senang makan. Karena rumah orang tua yang dekat dengan Bogor, kita jadi sering berakhir pekan di Bogor dan mencoba berbagai jajanan di sana. Banyak Museum di Kebun Raya Bogor yang bisa jadi tempat tujuan wisata keluarga. Sekarang ada theme park juga. Atau untuk yang hobi shopping tapi malas ke Bandung, Bogor juga punya banyak FO seru lho.

Food Court yang "mengapung"
2. Sentul
Jarak: 1-2 jam (lewat tol)
Kota yang terkenal gara-gara sirkuit ini sekarang jadi tempat tujuan orang Jakarta ketika mentok. Makan siang di Ah Poong lalu bermain di Art and Science Park. Kalau mau seharian, Sentul punya Jungleland yang tidak kalah asyiknya untuk keluarga.

3. Jonggol – Mekarsari
Jarak: 2-3 jam (tergantung Cibubur)
Tempat yang menyenangkan ini jadi jauh karena jalanan yang rusak dan Cibubur yang kerap macet berkepanjangan. Padahal kita senang ke Mekarsari, naik kereta keliling kebun buah dan belajar mengenai berbagai macam pohon. Tapi kita penasaran dengan Mekarsari yang renovasi. Jadi liburan sekolah kali ini, boleh juga berkunjung ke sana lagi.

Catur Raksasa Taman Bunga Nusantara
4. Cipanas/Puncak
Jarak: 3-4jam (tergantung Gadog dan buka tutup jalan)
Mama: Kalau ke Puncak mau apa?
Dudu: Jalan-jalan ke taman bunga untuk masuk ke labirin.
Mama: Terus?
Dudu: Minum susu di tempat sapi.
Mama: Terus?
Dudu: Main layang-layang di kebun teh.
Mama: Terus?
Dudu: Ke Taman Safari... tapi nanti kaca mobil kita digigit zebra lagi....


Museum Perjanjian Linggarjati

5. Cirebon
Jarak: 4 jam (tergantung Cikampek dan Simpang Jomin)
Dudu: Ini yang ada museum berbentuk rumah di atas gunung ya?
Mama: Iya, itu namanya Museum Perjanjian Linggarjati
Dudu: Aku mau pergi ke sana lagi. Boleh juga.
Cirebon ini penyelamat di saat kita lelah mengemudi atau kemalaman di jalan. Dulu, sebelum kota-kota lain secanggih sekarang, dan jalan tol super mahal itu belum dibangun, Cirebon adalah rumah singgah ketika kembali dari Semarang.




6. Guci
Jarak: 6-8 jam
Dudu: Menginap di Guci Indah, Ma. Lalu bisa berenang, berendam air panas, naik kuda dan jalan-jalan. Bisa naik ke atas gunung dan beristirahat.
Mama: Tapi hotelnya sering penuh.
Dengan keadaan Pantura sekarang, Guci jadi lebih jauh. Perjalanan kita waktu itu sekitar 6-8 jam karena berbelok di Tegal. Pernah sekali tidak kebagian hotel lalu setelah puas bermain dan berenang (kolam renang hotel bisa masuk dengan bayar tiket), kita akhirnya menginap di Brebes. Cerita lengkapnya di sini ya.




7. Anyer
Jarak: bisa sampai 8 jam gara-gara jalan rusak
Entah kenapa Anyer menyenangkan buat kita. Pantai yang lebih sepi dan lebih banyak seashells untuk dikumpulkan dan dibawa pulang. Mungkin karena kita menginap di hotel yang bukan berbentuk gedung. Masalahnya, perjalanan menuju ke sana penuh dan kelamaan di Anyer berarti siap-siap bosan makan seafood.




8. Palabuhan Ratu
Jarak: 6 jam (tergantung Jagorawi, Gadog dan Sukabumi)
Dudu: Kapan kita menginap di hotel pantai lagi, Ma?
Mama: Hotel pantai?
Dudu: Itu, yang ada kamar berwarna hijau buat Dewinya.
Menginap sudah pasti di Samudra Beach Hotel (sekarang namanya Inna Samudra Beach), hotel yang sudah ada dari jaman Bung Karno. Berenang di pantai harus hati-hati karena Laut Selatan (dan buat yang percaya, sebaiknya tidak pakai baju hijau). Sebelum check-in, makan dulu di kota, karena masuk kawasan wisatanya bayar dan makanan di daerah situ hanya ada (apalagi kalau bukan) seafood.

9. Bandung
Jarak: 3-4 jam lewat Cipularang
Kalau mentok, ya kita ke Bandung. Bisa wisata kuliner (martabak, wedang ronde, restoran Sunda) ataupun shopping di factoy outlet. Bandung punya kebun binatang dan sekarang ini banyak taman kota yang bisa jadi tujuan wisata kalau hanya ingin refreshing. Kalau harus menginap, lokasi hotel favorit kita ada di Ciumbeuleuit yang sejuk, atau yang dekat Cihampelas jadi mudah kemana-mana. 




10. Lembang, Tangkuban Perahu dan Ciater
Jarak: 4-5 jam (lewat Bandung, kalau lewat Subang lebih lama)
Berburu strawberry, mampir ke peternakan untuk minum susu segar, naik ke Tangkuban Perahu dan berendam di Ciater. Mencoba offroad juga bisa jadi pilihan. Banyak hal seru yang tersedia ketika kita memberanikan diri keluar dari Bandung dan menginap di kota kecil di sebelahnya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka blog competition yang diadakan oleh #TravelNBlog

10 June 2015

Visiting Traffique Coffee

Mama dan Dudu punya kebiasaan keliling kota (tidak selalu hari Minggu dan kita tidak naik delman istimewa) untuk mencari tempat mengerjakan PR, belajar buat ujian, ngopi dan ngeblog. Kali ini kita mampir di Traffique Coffee.


Sudah lama dengar tentang coffee shop ini, pertama Mama mampir karena menghadiri acara. Lalu yang kedua beneran datang bersama Dudu, di Minggu sore selesai menghadiri pernikahan teman, untuk mengerjakan PR. Tempatnya lega dan ada meja besar buat menebar buku dan kertas PR di seluruh penjuru. Wi-fi nya juga lancar.




Uniknya, tempat ini punya taman kecil di belakang -- yang jadi sejuk banget pasti begitu hujan turun. Sayangnya karena di luar sepertinya untuk smoking, kita tidak duduk di luar dan malah jadi akrab dengan deretan headphone yang ada di bar. Karena datang hari Minggu sore yang cukup sepi, kita tidak kesulitan dengan parkir.

Mama pesan coffee, lalu beberapa saat kemudian karena lapar melanda jadi pesan banana bread dan croissant.




Tempat ini cepat jadi favorit Dudu. Ketika kita stuck, bingung mau ke mana lagi, Dudu langsung bilang "Traffique lagi aja, Ma!" Saya tanya emang Traffique yang mana, dia jawab "yang ada mesin pembuat kopi tinggi sekali dan banyak earphone berderet dekat tembok." Ternyata beneran berkesan.

Visit the Place!
Traffique Coffee
Jalan Hang Tuah Raya No. 9, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12120
0878-8984-8004
trafiquecoffee.com

09 June 2015

Jatuh Cinta dengan Lumpia Semarang

Tidak pernah tahu bagaimana saya bisa suka Lumpia. Makanan khas Semarang yang berisi rebung, telur, udang dan dibungkus semacam kulit pangsit itu adalah makanan wajib setiap bertandang ke ibu kota Jawa Tengah.

Apa sih lumpia? Ketika nitip ke teman saya yang pulang kampung, saya sempat repot karena ternyata dia tidak pernah beli lumpia. Walah. Dan ketika sampai di tempat lumpia dia semakin bingung karena ada pilihan rasanya: udang, ayam atau bandeng. Ini juga saya baru tahu. Biasanya beli lumpia pilihannya hanya basah atau goreng (supaya tidak basi kalau dibawa pulang). Jadi, apa sih cerita si rebung yang dibungkus ini.

Lumpia Gang Lombok favorit saya.
Rebung? Teman-teman saya banyak yang mengaku tidak suka lumpia karena banyak rebungnya. Kalau bukan rebung, lantas apa isi lumpianya? Katanya di Semarang ada 1 toko yang menjual lumpia dengan sedikit rebung dan lebih banyak bahan-bahan lain (mungkin telur atau udang/ayam). Hm... ternyata banyak versinya si lumpia ini. Mulai dari mana ceritanya ya?

Lumpia merupakan perpaduan kultur Tionghoa dan Indonesia yang mulai dikenal pada zaman Presiden Soekarno. Lembaran tipis dari tepung gandum digunakan untuk membungkus isian yang bervariasi. Jenisnya ada macam-macam. Kadang ada di dimsum, ada di restoran Vietnam juga dengan nama spring rolls, ada juga di soto mi, namun yang paling mengena buat saya tentu saja lumpia Semarang.

Lumpia Semarang pun ada lebih dari satu macam. Beda daerah bisa beda rasa meskipun konon resepnya berasal dari satu keluarga.

Kios Lumpia Gang Lombok ada di sebelak kanan Kelenteng

Katanya ini Kapal Ceng Ho, adanya di dekat kios Lumpia.
Biasanya jadi tempat main anak saya sambil menunggu
Tempat saya membeli Lumpia adalah Gang Lombok. Kalau ke sini biasanya pasrah sama Papa yang menyetir, belok-belok masuk pecinan lalu mendadak sampai di pinggir kali dan parkir di dekat Klenteng dan tiruan kapal Ceng Ho yang berlabuh di sungai. Sementara saya beli lumpia, si Dudu biasanya bermain di kapal, berlari-lari di halaman atau mengintip Klenteng. Lumpia Gang Lombok ini terakhir saya beli harganya Rp15,000/buah. Tapi yang beli bisa antri panjang dan habis makan siang biasanya sudah sold out. Terutama di akhir pekan musim liburan pada saat banyak yang belanja oleh-oleh.


Lalu ada Lumpia Mataram seberang Sanitas. Sepanjang jalan Mataram ada banyak gerobak penjual lumpia dan kadang sulit menemukan yang asli. Saya sendiri belum pernah (atau tidak ingat) pernah beli lumpia di sini. Kalau makan yang ini pasti dibelikan orang dari oleh-oleh atau titip teman atau saudara yang either kehabisan atau tidak tahu letak Gang Lombok. Meski berbeda, tapi Lumpia ini rasanya tidak kalah sama Gang Lombok. Maklum, kalau menurut cerita nostalgia Papa saya, pemilik kedua kios lumpia itu kakak beradik... yang dulu orang tuanya tinggal di kampung sebelah kampung Papa saya.

Yang ini Lumpia Mataram
Selain yang dua ini, yang katanya dari satu resep, lumpia yang lain saya masukkan ke kategori lumpia modern. Baik yang ada di sepanjang jalan Pandanaran, di ruko-ruko dekat hotel Telomoyo (apa itu nama jalannya ya?) atau yang ada di pusat perbelanjaan. Lumpia yang sudah berevolusi seperti lumpia express biasanya dibuka oleh mantan karyawan penjual lumpia yang pertama.

Yang ini Lumpia beli di toko oleh-oleh,
rebungnya juga sudah lain bentuknya
Ada yang senang makan lumpia sebagai snack, ada juga yang dijadikan lauk. Ada yang senang pakai saus dan bawang, ada yang makan polosan. Ada yang sedang basah (tapi rebungnya tetap sudah digoreng) ada yang senang kulitnya garing. Bagaimanapun, lumpia tetap sesuatu yang patut dicoba jika Anda menjejakkan kaki di ibukota Jawa Tengah itu. Temukan mana yang jadi kesukaan Anda dan coba berbagi ceritanya dengan saya.

By the way, kalau ada yang penasaran, si Dudu tidak suka sama makanan yang satu ini, meski kalau diseludupkan rebungnya sebagai lauk, dia suka cuek dan tetap makan. Kalau makanan Semarang, Dudu paling suka sama nasi ayam, bisa habis entah berapa porsi. Tapi itu beda cerita ya.



08 June 2015

Tidur Nyenyak Kala Menginap

Liburan hampir tiba. Kalau mentok, bingung mau ke mana pas liburan, biasanya keluarga saya pergi mengunjungi saudara. 

Punya banyak saudara kadang bikin pusing. Soalnya kalau kita pergi ke kotanya, mereka suka mengajak menginap dan kadang "ngambek" kalau kita memilih menginap di hotel. Padahal Andrew paling hobi nginep di hotel. Namun ketika ajakan ini datang dari nenek buyut tercinta yang punya rumah gaya Belanda, kita harus menyiapkan strategi.

Paling ahli tidur di jalan
Sebenarnya sejak dulu, Andrew bukan anak yang sulit tidur. Saya yang hobi road trip semasa kuliah sering membawa Andrew keliling Amerika dan hidup dari motel ke motel. Tapi di sana sejuk dan tidak ada nyamuk. Lain cerita kalau kita road trip lewat pantura atau jalur selatan pulau Jawa. Anaknya bisa mandi keringat dan sukses punya kaki bentol-bentol digigit nyamuk di akhir cerita penjalanan kita.

Kembali lagi ke rumah nenek (yang sampai memasang AC biar cucu-cucu dan buyutnya yang dari ibu kota ini mau nginep -- aduh nek, maafkan ya), yang sebenarnya homey banget. Rumahnya luas karena nenek punya 10 anak dan banyak pohonnya rindang. Karena letaknya masuk kampung yang mobil kita harus parkir di pinggir jalan besar, banyak got serta sumur terbuka serta pohon rindang dan ayam bekeliaran, kita jadi was-was sama nyamuk.

Foto ayamnya burem semua karena lari dikerjar Dudu
Jadi foto ini aja yang dipajang ya.
Jadi ini trik saya supaya anak tidur nyenyak pada waktu menginap:
  1. Bilang dulu kalau kita akan menginap di rumah orang lain yang pastinya berbeda dengan rumah kita sendiri. Jadi anak juga bisa mempersiapkan diri untuk tidur di tempat asing. Kalau sudah cukup besar, biarkan dia packing sendiri.
  2. Jangan ganti ritual. Kalau biasanya kita baca buku sebelum tidur ya tetap baca buku sebelum tidur. Merubah kebiasaan bisa membuat anak jadi tidak nyaman, terutama jika anak masih balita. Ini termasuk jam tidur ya. Kalau biasa tidur jam 9, ya ketika menginap di rumah nenek pun saya pamit jam 9 masuk kamar.
  3. Bawa benda kesayangan. Entah itu guling atau boneka. Sebaiknya tetap diajak ikut menginap. Jadi anak tidak merasa homesick (meskipun ada kita) atau jika setelah anak tidur, kita mau ngobrol-ngobrol ngumpul dengan saudara di ruang tamu dan tidak mau anak terbangun kaget di tempat asing.
    Kemana-mana boneka kesayangan pasti ikut
  4. Tidur sekamar dengan anak meskipun kalau di rumah anak sudah tidur sendiri. Selain karena yang punya rumah bisa ngomel (sudah diajak nginap malah ngelunjak minta 2 kamar), takutnya anak terbangun pas malam dan "nyasar" karena tidak familiar dengan rumahnya. Kecuali anak jadi semangat dan mau tidur bersama sepupu-sepupunya. Apalagi kalau seperti di rumah nenek yang kamar mandi ada di luar (kan rumah jaman Belanda) dan rumahnya besar. Jadi waswas kalau anak mendadak mau ke kamar mandi di malam hari.
  5. Bawa Baygon Liquid Elektrik. Ya, dalam kasus saya, buat jaga-jaga saja kalau ada nyamuk. Selain memberikan perlindungan anti nyamuk yang tepat untuk kamar anak, Baygon ini tanpa asap juga. Kita pasang di kamar kita tempat kita menginap, jadi nenek tidak akan protes (yang ada ntar Baygonnya diminta karena penggunaanya praktis, tanpa repot).
Baygon Liquid Elektriknya jangan lupa dipak ya!

03 June 2015

Bicara Keuangan: Mama Berencana, Dudu Menentukan

Beberapa waktu lalu sempat hadir ke acara The Urban Mama yang membahas tentang "Mengelola Keuangan Menjelang Idul Fitri". Lho kan saya ngga lebaran? Justru itu, karena ngga Lebaran saya harus planning karena selain undangan buka puasa yang menumpuk (padahal saya makan siang), jalan-jalan juga pasti, kena imbas harga barang naik dan kalap juga lihat THR. Jadi planning itu perlu.

Foto bersama seusai acara - Foto courtesy of The Urban Mama
Dan tidak ada yang mengalahkan anak saya si Andrew tentang planning, mengimbangi saya yang spontan dan suka menuruti "insting". Tapi sebelum kita ngomongin planning ala anak 8 tahun, sebaiknya kita lihat kata expertnya dulu.

Kalau menurut Fioney Sofyan, seorang trader dan wealth asset management yang jadi pembicara di acara TUM Luncheon siang itu, ada beberapa dos and don'ts dalam planning (keuangan). Yang pertama ya kita harus manage cash flow kita. Beliau menyarankan begitu dapat uang kita investasi dulu, lalu sedekah lalu sisanya dipakai untuk menutupi pengeluaran. Kalo ngomongin investasi bisa panjang, tapi yang dimaksud di sini bukan hanya tabungan biasa. Beli saham perusahaan yang kita kenal atau kita pakai produknya sehari-hari - terutama yang bakalan laku pas lebaran. Jadi habis lebaran kita untung karena saham naik. Ini investasi ya bukan main saham jual-beli dalam waktu sehari.

Do your homework. Dalam arti kalau mau liburan ya jangan malas browsing tiket sampai datang ke travel fair. Atau cari tahu kapan THR turun jadi bisa merencanakan belanja lebih awal. Di awal puasa prepare makanan untuk sebulan untuk menghindari terlalu banyak makan di luar dan belanja di tengah bulan puasa yang seringnya ramai itu. Cek juga ada demand apa yang bisa kita jadikan bisnis, misalnya kita hobi bikin kue, kan bisa terima pesanan pas ramadhan.
Do Your Homework: Browsing hotel dan tiket duluan
Kalo don'tsnya sih yang utama ya jangan mendahulukan wants daripada needs. Buka puasa bersama yang hampir tiap sore misalnya. Atau belanja baju baru yang sebenarnya tidak perlu. Jangan juga mengandalkan kartu kredit sebagai dana darurat, yang ada kita stress lihat tagihan sehabis lebaran.

Kalau menurut Dudu gimana? Well, Dudu belum terlalu mengerti soal uang, planning dia lebih sederhana. Setiap kita pergi, dia selalu bertanya kita mau ke mana, beli apa dan makan apa. Setelah itu dia akan berpegang teguh pada rencananya itu. Jika saya melihat sale dan mendadak lapar mata, dia selalu bilang "sale itu hanya halusinasi mama saja", sambil menarik saya menjauh. Kalau dia yang melihat mainan yang dia inginkan, dia akan berdebat sendiri: "Kita tidak merencanakan akan membeli mainan ini, bagaimana ya sebaiknya?" Kalau untuk dia tidak terlalu urgent, dan harganya tidak masuk di budget kita, dia tidak akan beli. Pergi ke toys fair pun dia sudah tahu mau mencari apa: jagoan perempuan yang pakai pistol. Kalau tidak ketemu ya dia akan pulang dengan tangan kosong. Untungnya waktu itu kita menemukan yang dia cari. Cek ceritanya di sini.


Semangat mencari mainan yang diincar
Pergi sama Dudu dijamin tidak bisa impulse buying -- belanja pakai insting, karena anaknya akan sibuk mencegah kita mengeluarkan uang untuk hal-hal yang belum direncanakan saat kita ke luar rumah. Yup, itu termasuk kalau ternyata macet dan kita stuck kelaparan di jalan. Mau belok ke restoran saja pakai debat dulu karena tadi rencananya makan di rumah. Duh, nasib. Padahal yang cari uang kan saya.