02 May 2017

Mau Dibawa Ke Mana Bloggingnya?

Saya kangen dengan dunia blogging yang dulu. Ketika yang namanya update postingan itu hanya untuk update kabar kepada keluarga di negeri seberang dan sekedar kenangan agar tidak hilang. Tapi dunia blogging yang berkembang sekarang juga seru karena saya dapat teman baru, ilmu baru dan yang pasti motivasi baru untuk ngeblog. Sekarang saya sedang berhadapan dengan pertanyaan: Habis ini mau apa lagi?

Kalau mau dibuat list, ada banyak skill yang bisa dikembangkan untuk blog ini. Infografis, fotografi dan bahkan membuat video. Tapi saya mulai blogging karena saya suka menulis, jadi kalau ditanya fokus ya maunya ke tulisan saja. Jadi maunya belajar SEO. Haha. Belum kesampaian sih ikutan workshop SEO yang bukan hanya pengenalan. Kebanyakan saya belajar sendiri, baca-baca di internet lalu batal diaplikasikan karena saya penulis idealis yang suka merangkai kata secara otomatis dan bukan karena berharap hasil bagus di search engine. Masih jadi tantangan untuk saya, bagaimana mempertemukan keyword dan alur cerita. Mungkin satu hari nanti bisa ada jalan tengahnya.

Semangat Blogging di Musim Semi
Apa lagi? Hm… Saya mau menulis buku. Buku yang bahannya dari blog saya. Seperti Trinity mungkin. Atau seperti My Stupid Boss.

01 May 2017

Traveling Berdua Anak itu Lebih dari Sekedar Jalan-Jalan

Sama seperti kata pepatah bahwa gunung biasanya mengungkap sifat asli seseorang, sebuah perjalanan pun biasanya dapat membuat kita lebih mengenal satu sama lain. Jadi, apa yang lebih baik daripada traveling berdua anak, terutama untuk mama bekerja seperti saya. 

Traveling berdua anak... eh, bertiga sama boneka Panda itu.
Partner traveling saya adalah seorang anak laki-laki yag gila zombie. Kita sering traveling berdua. Kalaupun akhirnya ada ketempelan teman dan saudara, kita selalu punya momen yang kita melipir kabur berdua saja. Soalnya, di tengah rutinitas yang semakin sibuk, traveling berdua bagi saya adalah cara untuk bonding dan membangun kenangan bersama Dudu.

Traveling hanya berdua anak, apa tidak dua kali lebih repot? Well, sebenarnya, buat saya justru lebih mudah karena kita tidak melulu harus kompromi tujuan wisata karena toh si anak akan mengikuti saja. Tidak perlu sungkan kalau nyasar, tidak perlu dilemma kalau mau pergi ke tujuan wisata dan tidak pusing menyusun itinerary. Komprominya lebih ke jadwal makan dan tidur siang haha. Setelah anak besar, mungkin ada negosiasi sedikit di sini dan di sana. Misalnya ketika saya merencanakan trip ke Korea, Dudu yang fans berat zombie ini minta mencoba naik KTX ke Busan. 

Coba tanya Vita Masli bagaimana rasanya ngetrip berdua teman.

Saya dan Dudu lebih sering pergi backpackeran. Naik pesawat budget, nginep di hostel, jajan di pinggir jalan, jalan kaki dan naik transportasi umum ke mana-mana. Jaman di Amerika dulu lebih extreme sih, kita sering roadtrip berdua, tanpa booking hotel, lalu begitu gelap kita belok ke motel terdekat. Jaman masih pakai peta dan belum ada GPS jadi ya tinggal di penginapan seadanya, yang penting chain motel dan tidak terlihat seram. Tambah repot dong? Well, ini triknya:

Pergi Backpacker berdua anak, mulai dari mana?

29 April 2017

Singapura: Perdana Bertamu ke Rumah Saudara

Kalau boleh memilih Negara manapun di dunia untuk jadi tempat tinggal, saya memilih Singapura. Soalnya kalau di Asia Tenggara, Singapura itu ibarat G-Dragon (buat yang ngga paham boleh tanya Google kok haha). Bukan yang paling tua (umurnya), bukan yang paling tinggi (badannya) tapi inovatif, dan meninggalkan kesan mendalam ketika bertemu. Ya semacam kakak pertama yang cool tapi imut-imut gitu.
Taman di Gedung Catatan Sipil Singapura
Singapura ini sudah jadi “saudara” buat saya karena memang banyak kerabat yang pindah ke sana. Adik saya di sana, sepupu saya di sana, dan saya sendiri senang bolak-balik ke sana. Kalau sudah jenuh dengan suasana macet dan panas Jakarta, saya segera browsing tiket untuk berakhir pekan di Negara tetangga itu. Untuk saya dan Dudu, Singapura ini menyenangkan karena kita menemukan hal-hal yang tidak ada (atau masih dalam pembangunan) di Indonesia. Kalau dalam saudara, seperti punya kakak yang lebih pintar dan lebih kaya lalu kita bisa datang bertamu dan numpang ganti suasana di rumahnya.

Saya sering dapat pertanyaan, “kalau pertama ke Singapura, saya sebaiknya ke mana?” Ada banyak faktor yang menentukan tujuan Anda. Sama siapa, sukanya apa, dan berapa lama. Standar kunjungan orang Indonesia ke Singapura biasanya akhir pekan, jadi 3 hari 2 malam. Jadi, coba saya jawab rasa penasarannya ya.

26 April 2017

Gaji Pertama Dudu Dipakai Untuk Apa?

Gaji pertama waktu kerja dipakai untuk bayar sekolah anak. Gaji pertama waktu part-time dipakai untuk biaya kuliah. Cerita gaji saya sepertinya tidak ada yang menarik yah. Jadi kita cerita gaji pertama Dudu saja.

Yang pernah ketemu Dudu mungkin pernah mendengar kisah “Gaji Yang Tertukar,” alias gaji dia yang diambil saya lalu tidak pernah kembali lagi. Maklum, saat awal dia gajian, saya yang seorang single parent ini sedang struggling membayar uang sekolahnya. Jadi gajinya sering saya pinjam untuk kebutuhan sehari-hari juga. Dan karena biasanya gaji pertama itu buat traktir orang tua dan bikin mereka bangga. Hahaha. 

Gaji itu uang yang didapat saat kerja. ~Dudu
Iklan TV pertama Dudu - gajinya ditabung buat bayar uang pangkal TK.
Gaji pertama Dudu adalah dari sebuah pemotretan di majalah Parenting Indonesia. Pemotretan yang hanya 10 menit dengan bayaran lumayan. Kalau dihitung-hitung, gaji dia saat itu lebih besar daripada saya dengan pekerjaan yang relatif mudah hanya senyum-senyum. Apalagi di gaji pertama itu, pemotretannya cenderung mudah karena dia hanya perlu bermain dengan sebuah roket-roketan. Membuka, menutup pintu roket, memainkan astronotnya naik turun roket.

25 April 2017

Karena Ngeblog itu Butuh Kopi Hitam

Minggu kemarin penyanyi Kpop favorit saya merilis lagu berjudul Hibernation (겨울잠) dan saya merasa tersindir karena blog saya lagi sepi postingan. Ibarat di hutan, beruang tidur saja sudah bangun dan mulai cari makan, blog saya masih hidup seadanya dengan sisa-sisa energi musim dingin.


Nulis itu Dipraktekin. Salah satu buku pegangan saya sambil ngopi.


Ya persis seperti lirik lagu itu

깨우지 말아요 지금이 좋아요
(Don’t wake me up, I’m happy right now)
꿈인지 현실 인지 모를 만큼
(I don’t know whether this is a dream or reality)
나는 조금만 더 잘게요
(I’m gonna sleep a little more)

Karena kita sudah ganti musim, semangat ngeblog juga harus baru. Terus penyemangatnya apa? Sebagai seorang Cancer sejati, yang moodnya berubah tiap 24 menit sekali, musik mungkin paling tepat. Musik, kopi dan di mana saja yang pas dengan mood saat itu. Tempat asyik ngeblog ngga cuma di cafe. Kadang saya suka ganti suasana dan ngeblog di tempat-tempat aneh seperti Pasar Seni, kolam renang hotel dan pernah juga di playground menunggu Dudu main. Karena kesibukan yang tak kunjung reda, dan mood yang sering muncul di pagi hari, saya juga sering ngeblog di mobil di tengah kemacetan dengan musik yang dikoneksi ke bluetooth radio mobil. Kopi biasanya tersedia dalam cup to go atau tumbler di dekat persneling. Tapi itu hanya berlaku untuk tema blog macam ini yang tidak membutuhkan extensive research atau interview si Dudu. 

24 April 2017

Big Bad Wolf 2017: Belanja Buku Bersama Dudu di Jam Dua Pagi

Saya baru pulang dari bergadang (lagi) di Big Bad Wolf Book Sale. Itu lho, bazaar buku import di ICS BSD. Tahun ini saya bawa Dudu. Pergi selepas tengah malam, kami bertahan sampai menjelang matahari terbit. Berangkat dengan komentar Mama Papa yang heran si Dudu yang segar, semangat mau pergi ke book sale malam-malam. 


Bagaimana Dudu, yang selalu tidur on-time jam 9 malam dan bangun jam 6 pagi ini, bisa bergadang? Ini tips bergadang ala Dudu:
  • Pastikan bisa bertahan semalam. Jangan tertidur di bazaar buku.
  • Tidur pagi bangun malam jadi tidak kurang tidur karena kurang tidur tidak baik untuk kesehatan.
  • Bangun malam siapin makanan karena mungkin saja lapar.
  • Jangan bergadang sendirian. Kalau mau pergi malam-malam harus ditemani Mama karena siapa tahu di jalan ketiduran dan harus dibangunin lagi.
  • Coba minum kopi. Kecuali aku. Aku tidak mau hahaha.

23 April 2017

Sinetron 90an: Keajaiban Jinny oh Jinny

Suatu pagi di akhir pekan (ceritanya – soalnya saya bisa ada di rumah jam segitu pasti itu akhir pekan), saya menemukan Dudu sedang nonton sinetron yang familiar. Judulnya Jinny oh Jinny. Adegannya si Jinny yang berubah jadi anak SMA demi nge-judesin cewek yang mendekati si Bagus. Lalu saya melihat ada yang aneh. Hah? Kenapa bajunya Jinny disensor?

Melihat wajah saya yang bengong, Dudu bertanya kenapa.
Mama: Itu, si Jinny bajunya kenapa disensor. Jaman Mama nonton dulu kayaknya dia ngga apa-apa.
Dudu: Ya jelas dong, Ma, soalnya si Jinny ini termasuk seksi.

Oh Jinny seksi ya?

Ya namanya juga jin yang keluar dari kerang dengan pakaian gaya Princess Jasmine. Kalau Sandy-nya Spongebob dan Elsa-nya Frozen saja tidak lolos sensor, apalagi Jinny? 


09 April 2017

Memesona Itu Mengapresiasi Keunikan Diri Sendiri

Ternyata jaman sekarang, cantik saja tidak laku. Kita juga harus memesona agar bisa dilirik, stand out dari ribuan orang yang ada di sekitar kita. Memesona itu bagaimana maksudnya? Kalau ditanya begitu, saya jadi bingung juga. Memesona itu bisa membuat orang (saya) berhenti sejenak, tertegun, menghargai apa yang dilihat atau didengarnya, dan tersenyum kembali ketika mengingatnya.


Menjadi diri sendiri bisa berarti mendadak menemani Dudu cosplay (abaikan zombienya)
Kemarin, saya dan Dudu melihat pelangi muncul dari atas billboard di tengah kemacetan. Saking terpesonanya kita sibuk foto-foto lalu diklakson orang karena tidak kunjung maju padahal di depan sudah kosong. Ups. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, memesona itu juga bisa hadir dalam bentuk benda atau pemandangan. Yang penting adalah hal-hal yang stand out dari kerumunan. Dan saya sadar bahwa setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang memesona bagi mereka. Kasus pelangi di atas, kebetulan saja saya dan Dudu memiliki pendapat yang sama. Seperti ketika kita nonton acara pemilihan putri dan miss kecantikan yang sering ditayangkan di TV itu, jagoan kita seringkali berbeda dengan orang lain. Bahkan dengan jagoan yang ada di kepala juri. Yang memesona kita belum tentu memesona juri dan pentonton di studio. Jadi memesona itu sebenarnya subjektif juga ya.

Contohnya? Astaga, apa ya?