Sama seperti kata pepatah bahwa gunung biasanya mengungkap sifat asli seseorang, sebuah perjalanan pun biasanya dapat membuat kita lebih mengenal satu sama lain. Jadi, apa yang lebih baik daripada traveling berdua anak, terutama untuk mama bekerja seperti saya.
 |
| Traveling berdua anak... eh, bertiga sama boneka Panda itu. |
Partner traveling saya adalah seorang anak laki-laki yag gila zombie. Kita sering traveling berdua. Kalaupun akhirnya ada ketempelan teman dan saudara, kita selalu punya momen yang kita melipir kabur berdua saja. Soalnya, di tengah rutinitas yang semakin sibuk, traveling berdua bagi saya adalah cara untuk bonding dan membangun kenangan bersama Dudu.
Traveling hanya berdua anak, apa tidak dua kali lebih repot? Well, sebenarnya, buat saya justru lebih mudah karena kita tidak melulu harus kompromi tujuan wisata karena toh si anak akan mengikuti saja. Tidak perlu sungkan kalau nyasar, tidak perlu dilemma kalau mau pergi ke tujuan wisata dan tidak pusing menyusun itinerary. Komprominya lebih ke jadwal makan dan tidur siang haha. Setelah anak besar, mungkin ada negosiasi sedikit di sini dan di sana. Misalnya ketika saya merencanakan trip ke Korea, Dudu yang fans berat zombie ini minta mencoba naik KTX ke Busan.
Coba tanya Vita Masli bagaimana rasanya ngetrip berdua teman.
Saya dan Dudu lebih sering pergi backpackeran. Naik pesawat budget, nginep di hostel, jajan di pinggir jalan, jalan kaki dan naik transportasi umum ke mana-mana. Jaman di Amerika dulu lebih extreme sih, kita sering roadtrip berdua, tanpa booking hotel, lalu begitu gelap kita belok ke motel terdekat. Jaman masih pakai peta dan belum ada GPS jadi ya tinggal di penginapan seadanya, yang penting chain motel dan tidak terlihat seram. Tambah repot dong? Well, ini triknya:
Pergi Backpacker berdua anak, mulai dari mana?