09 July 2015

Mengenali Eksploitasi Anak

Jadi model itu bukan karena bakat dan bukan karena suka difoto. Model anak juga tidak melulu jadi korban eksploitasi orang tua. Modelling itu kerja, cari teman, sambil belajar menempatkan dan membawa diri dengan benar.

Mejeng di depan foto sendiri
Melanjutkan postingan tentang jadi model cilik kemarin. Jadi model (menurut saya) bukan prestasi yang menghebohkan banget. Karena awalnya Andrew jadi model juga tidak sengaja. Ketika Andrew sedang padat-padatnya casting dan shooting, sempat ada diskusi begini waktu jaman Baim cilik masih terkenal. Dudu waktu itu baru sekitar 5-6 tahun...

Mama: Dudu main sinetron ya tuh kayak Baim. Kan kamu sering dibilang mirip Baim.
Dudu: Tapi aku bukan Baim. Aku Dudu!
Mama: Iya, main sinetron tuh. Uangnya banyak.
Dudu: Baim sekolah tidak, Ma?
Mama: Entah ya. Ngga kali. Kan dia dari pagi sampai pagi lagi main sinetron. Kalau sekolah juga asal.
Dudu: Tidak mau, nanti aku bodoh.

Kasus Baim sering disebut eksploitasi. Definisi eksploitasi juga perlu dipertanyakan. Saya sering kena tuduh eksploitasi anak hanya karena Andrew sering casting dan fashion show. Padahal dia hanya mengisi waktu luang dan bukannya mencari uang. Ada beberapa pertanyaan yang saya gunakan untuk melihat apakah Andrew "tereksploitasi":

  1. Apakah anaknya enjoy? Kalau masih terlalu kecil, mungkin memang orang tua yang memutuskan, tapi kalau sudah bisa berpendapat, ada baiknya anak diajak diskusi soal banyaknya “job” yang akan diambil.
  2. Apakah anak tetap bisa bermain, belajar dan melakukan hal yang dia suka? Syukur-syukur hal yang disuka itu foto atau shooting. Bermain dan belajar adalah dua hal yang menjadi hak anak dan kewajiban orang tua untuk memberikannya. Kalau sampai shooting, foto atau apapun yang dia kerjakan membuat dia tidak bisa bermain dan bersekolah dengan benar, hati-hati, mungkin Anda sedang mengeksploitasi anak.
  3. Apakah anak bisa memilih? Memilih job yang dia mau (misal antara sinetron atau fashion show) atau memilih apakah dia mau ikutan casting, mau difoto dan lain sebagainya. Kalau orang tua semua yang memutuskan dan anak tinggal menjalankan kok kurang adil rasanya.
  4. Apa tujuannya? Andrew jadi model karena kesempatan itu ada, bukan karena mau jadi artis. Kalau tujuannya supaya anaknya terkenal (atau ibunya mau terkenal juga), ya sebaiknya sih pikir-pikir lagi. At least, pastikan bahwa tujuan Anda sama dengan tujuan anak Anda memasuki dunia entertainment ini. 
  5. Siapa yang cari uang? Ini pertanyaan mutlak buat saya. Selama saya tidak menggantungkan hidup saya pada pendapatan Andrew, itu bukan eksploitasi. Saya masih pencari nafkah utama dalam keluarga dan Andrew dapat uang hanya untuk tabungan atau digunakan beli mainan.
    Andrew saat shooting iklan Morinaga. Sudah standby dari subuh baru take jam 10an
    Antara kerja dan main.
Sekarang Dudu sudah mau 9 tahun dan percakapannya jadi begini...

Mama: Du, kamu main sinetron sana. Mama jadi manager aja.
Dudu: Manager itu apa, Ma?
Mama: Kamu cari uang, Mama yang belanja pakai uang kamu. Kan enak kamu juga ngga usah sekolah.
Dudu: Mama ini enak saja. Yang seharusnya bekerja kan orang tua. Anak tinggal minta uang untuk beli game dan pistol-pistolan.
Mama: Jadi kamu tidak mau cari uang?
Dudu: Tidak. Nanti aku rugi. Aku mau sekolah lalu bersantai-santai. Semuanya Mama yang bayar.

Ih, anak jaman sekarang ya.


Andrew tahu bahwa foto, fashion show dan shooting itu kerja. Professional itu berarti melakukan yang terbaik semampu kita karena kita akan dibayar. Masalahnya, Andrew jadi merasa kerja itu gampang. Tinggal senyum sedikit, uang langsung datang. Tidak seperti saya yang kerja kantoran dari pagi hingga malam. 

Dari semua kegiatan, Dudu paling suka fashion show.
Soalnya bisa tampil di atas panggung
Tapi bukan berarti tidak ada gunanya lho ikutan modelling dan berusaha jadi artis. Karena Dudu anak tunggal, berada di tempat casting dan tempat audisi mengajarkan dia toleransi. Terutama jaman dia masi 2-3 tahun sebelum masuk TK. Dia jadi punya teman dan bisa bergaul. Dia tahu bagaimana menghadapi orang dewasa. Selain itu, dia belajar menghargai waktu dan kesempatan berbicara orang lain. Sebagai anak aktif yang saya curiga (tapi belum terbukti) dia ada bakat ADHD, kegiatan ini membantu dia belajar mendengarkan, jadi lebih tenang dan mengikuti instruksi dengan benar. Kita bahkan dapat teman yang akrab sampai sekarang. Bonus yang lebih berharga daripada uang yang masuk ke rekening.

08 July 2015

Mimpi Jadi Artis Cilik

Siapa sih yang tidak mau anaknya terkenal, menghiasi sampul majalah ternama atau bahkan main sinetron. Nope, tidak ada yang salah dengan impian itu. 

Panggung pertama Andrew
waktu jadi finalis pemilihan cover majalah
Banyaknya ajang modelling yang menjanjikan “kesempatan berkarir di dunia entertainment” membuat orang tua tergerak mendaftarkan anaknya ke salah satu audisinya. "Karir" anak saya, Andrew alias Dudu, juga kurang lebih dimulai dari acara pencarian model cover majalah Parenting Indonesia. Kebetulan lolos jadi finalis dan kebetulan anaknya pede buat difoto. Jadilah Andrew seorang model pada usia 2 tahun. Sekarang, 7 tahun kemudian, anak saya masih diajak foto dan fashion show walaupun sudah tidak sesibuk ketika dia umur 4-6 tahun yang bisa ada job atau casting setiap minggu.

Andrew bersama model cilik lain
ketika fashion show untuk brand baju Pumpkin Patch
Anak saya berbakat jadi model? TIDAK! Anak saya kebetulan ganteng (kata orang), kebetulan bule (kata orang juga, tapi memang campuran sih) dan fotogenik (kata beberapa fotografer dan fashion stylist yang kebetulan pernah kerja sama). Makanya lolos sampai final beberapa lomba model. Buat saya, anak saya ya biasa-biasa saja. Anak saya suka difoto? Tidak juga. Yang ini suka karena biasa. Karena sering difoto sejak kecil, anak-anak jadi bisa berteman dengan kamera. Apalagi setelah kenal selfie dan tongsis, biasanya usia playgroup juga sudah bisa selfie pakai gadget Mama. 

Yang ada, orang tua tinggal mengarahkan bakat dan minat anak. Kalau memang anaknya senang bergaya dan suka (biasa) difoto, ya kenapa tidak diikutkan ajang cari model cover majalah atau lomba fotogenik. Siapa tahu bisa membawa pulang hadiah dan piala.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan kalau mengikutkan anak casting/audisi:
  1. Pastikan penyelenggaranya jelas. Majalah ternama atau EO yang sudah bolak balik bikin acara. Ada alamat dan ada wujud kantornya. Acaranya benar diselenggarakan dan hadiah (jika menang) biasanya diserahkan langsung saat pengumuman.
  2. Tidak minta bayaran di depan, baik dari pihak PH, agency dan lainnya. Biasanya bayaran agency dipotong dari fee yang diterima setelah syuting selesai. Kadang ada lomba/audisi yang memungut biaya pendaftaran, tapi hadiahnya juga biasanya sesuai dengan jumlah yang kita keluarkan. Biaya pendaftaran juga tidak sampai jutaan. Rp150,000 juga sudah termasuk mahal buat saya. Kalau biaya masuk management beda lagi urusannya ya. 
  3. Juri/penilai yang kompeten. Kalau ikut lomba/audisi yang offline di panggung biasanya yang menilai itu jelas siapa namanya, jabatannya apa dan kualifikasinya apa. Kadang malah ada yang jurinya artis. Meskipun tidak menjadi acuan bahwa lomba/audisi ini pasti adil, setidaknya acaranya tidak menipu. 
Kalau dari 3 hal ini saja sudah tidak jelas dan meragukan, mendingan cari ajang/casting lain deh.
Piala pertama si Andrew
Percakapan ini terjadi ketika Dudu berusia 6 tahun, karena saya penasaran.

Mama: Apa enaknya foto dan fashion show sih, Du.
Dudu: Dapat uang. Bisa beli mainan sendiri. Tapi uangnya kan selalu disita Mama.
Mama: Terus?
Dudu: Terkenal. Banyak yang potret-potret aku terus bilang aku ganteng. Emang aku ganteng ya Ma?
Mama: Buat Mama biasa aja. Kadang cakep kadang jelek.
Dudu: Mama ini bagaimana sih, anak sendiri kok dibilang jelek.

Saking lebih terkenal anak saya, banyak yang kenal saya hanya sebagai “Mama Dudu”. Memang nasib jadi orang tua jaman sekarang. Hahaha.


Emangnya ini bukan eksploitasi anak? Well, ini jawaban saya tentang eksploitasi.

07 July 2015

Berkenalan dengan Binatang di Mini Jungle Bazaar

Nama binatang ini Sugar Glider. Binatang nocturnal asli Indonesia yang berasal dari Papua, walaupun namanya pakai bahasa Inggris. 

Sugar Glider ini termasuk exotic pets
Dudu kira ini musang, lalu dikira sigung padahal bukan. Binatang ini bisa dipelihara karena bisa mengenali majikannya dan pemilik Sugar Glider ini punya komunitas tersendiri di Indonesia. Selain Sugar Glider, kemarin kita bertemu banyak binatang lainnya di Jungle Fever Bazaar yang ada di Pantai Indah Kapuk.



Sebenarnya karena kita kelaparan setelah main Waterbom hari Sabtu pertama bulan Juli kemarin, terpancing oleh keramaian di seberang Marketing Gallery PIK dan berharap menemukan makanan. Yang ada kita malah bertemu ular, kelinci, burung dan kura-kura. Semuanya ada di mini zoo yang terletak di samping tenda utama. Para pengunjung, terutama anak-anak, sangat antusias bertemu dengan binatang-binatang yang mungkin hanya bisa mereka lihat di buku atau paling dekat juga dari balik kandang di kebun binatang. Sekarang bisa dipegang.

Having fun with friends!
Melihat seorang petugas hendak memberi makan kelinci, Andrew segera menghampiri dan meminta bagiannya. Sebentar kemudian dia sudah semangat karena para kelinci yang sejak tadi bersembunyi di dalam rumah, mau keluar untuk makan. Favorit saya ya si kelinci putih ini. Mendekati kandang ular, Andrew dengan entengnya penasaran lalu membuka salah satu kotak plastiknya. Waduh... bisa geger nanti kalau beneran lepas.

Mama: Du, kita pelihara ini saja ya, lucu.
Dudu: Tidak mau.
Mama: Kan enak, bisa dilepas di rumah untuk berburu tikus
Dudu: Mama, ini ular lho...

Dan saya shio-nya tikus haha. Tapi suka sama ular albino kuning putih yang matanya merah itu. Lucu. Andrew langsung kabur dan mencari binatang yang benar-benar lucu. Ketika itulah kita bertemu si Sugar Glider ini. Ternyata buat Dudu, binatang yang lucu itu yang punya fur (alias bulu kayak anjing dan kucing). 

Kelinci putih yang dikasi makan sama Dudu
Beranjak dari mini zoo, masuk ke dalam tenda, barulah kita menemukan makanan. Sementara di panggung depan mulai berlangsung fashion show anjing, kita berburu makanan bazaar. Sejak mampir di Shophoria Grand Indonesia waktu itu, makanan bazaar jadi wajib dicoba.

Mama: Sebentar beli ini dulu.
Dudu: Mama beli kue poop ini lagi?

Hasil berburu makanan bazaar hari ini
Dari kue Pooki Bbang ini kita mampir di booth susu pasteurized yang hadir dalam berbagai rasa seperti Red Velvet, Strawberry Cheesecake dan Vanila Cream. Disajikan dalam botol kaca, minuman bernama Harvest Moo ini ternyata jadi favorit Andrew. Buat saya agak terlalu manis, maklum, habis menyelesaikan Americano dari cafe di Waterbom. Si penjaga booth lantas ngobrol dengan Andrew. Ujung-ujungnya, kita dapat info kalau mereka punya cafe lengkap dengan wi-fi di Summarecon Digital Center di Gading Serpong. Kalau pas weekend tidak ada tujuan oke juga tuh.



Yang terakhir kita dapatkan adalah Potato Ball alias Kroket. Tapi berbeda dengan kroket kebanyakan yang sebesar kepalan tangan, Potato Ball lebih kecil dan lebih simpel. Isinya tidak sepadat kroket. Bisa diisi keju, sosis atau keduanya. Lalu bisa juga ditambahkan saus mayo, keju, Barbeque atau Chilli. Namanya juga Andrew... dia memilih yang tidak pakai saus.


Boothnya Potato Ball banyak hiasan lucu
Bazaar di PIK sedikit berbeda dengan beberapa bazaar di pusat kota yang pernah kita datangi. Selain konsep dan lokasinya yang jelas ada di luar mall, sehingga dapat mengakomodasi teman-teman berkaki 4, tenant makanannya juga berbeda. Enak mana? Ya masih tergantung selera. Ada lebih banyak makanan, camilan dan minuman sehat yang sebenarnya tempting untuk dicoba.

Sambil menurunkan makanan sambil memutari bazaar baju dan beauty yang ada di marketing gallery. Tapi memang dasar bukan orang shopping, kita hanya berputar sekali lalu kembali lagi ke mini zoo.

Bikin mau adopsi deh.

Tips Road Trip Dengan Balita

Beberapa waktu lalu, timeline Twitter saya memberikan pertanyaan mengelitik: “Bagaimana caranya pergi road trip sama anak kecil?” Well, mendadak saya jadi nostalgia.

Ketika masih di Amerika dulu, saya gila road trip. Tiap libur sedikit, langsung masuk mobil dan jalan. Ketika saya punya anak, saya mengatur jadwal supaya hari Jumat dan Senin tidak ada kelas, jadi saya bias kabur ke negara bagian terdekat. Untungnya karena saya kuliah di Missouri yang notabene di tengah-tengah banget, perjalanan kemana-mana jadi dekat.

Hallo, sudah sampai mana?
Kembali ke pertanyaan tadi, bagaiman acaranya road trip sama anak kecil?
Ini #7Something, rules saya untuk road trip bersama anak:

1. Something Planned
Merencanakan itu sudah pasti. Kalau anak belum cukup besar hindari pergi ala backpacker yang kesemuanya baru ditentukan di perjalanan. Jika mau ke kota X, sebaiknya sudah merencanakan apakah kita mau ke taman bermain dulu, ke museum dulu atau check in hotel dulu. Jangan paksakan waktunya, kalau bisa ada sisa waktu sehari, jika road trip molor dan kita harus spend another night on the road, kita tidak stress dengan liburan yang sudah berakhir. Sesuaikan jumlah hari dengan jarak. Kalau hanya weekend ya kalo bisa tidak perlu jauh-jauh.
Horeeeee istirahat untuk udara segar!
2. Something Paused
Ketika merencanakan road trip bersama balita, satu hal yang selalu saya masukkan adalah rencana berhenti. Jangan ragu juga untuk berhenti. Misalnya dari Jakarta Ke Semarang, saya siapkan berhenti di Cirebon, Brebes/Tegal, Pekalongan/Comal baru kalau sanggup masuk ke Semarang. Kalau akhirnya tidak perlu berhenti kan berarti extra jam di rencana perjalanan kita. Siapkan juga kegiatan saat berhenti. Apa sambil makan siang, sambil restock snack atau sekeda rmenepi dan merenggangkan tubuh. Kadang bukan hanya si balita yang perlu berhenti, tapi kita yang duduk di kursi kemudi juga perlu menghilangkan jenuh.

Bawa mainan baru di mobil
Kalau sudah besar bawanya buku
3. Something New
Bawa mainan baru, buku baru, atau apapun yang bias menyita waktu si balita di mobil. Jangan segan untuk membeli ketika berhent iatau di tempat tujuan. Yang jelas, something new ini jangan untuk makanan. Meskipun seringkali saya juga tergoda untuk membiarkan Andrew mencicipi makanan setempat, saya jadi berpikir juga bagaimana kalau anak ini nanti diare di jalan? Kalau di Amerika mungkin makanan tidak seberapa bervariasi dan cenderung lebih bersih. Di Indonesia banyak makanan yang bumbunya termasuk tajam (untuk perut balita) padahal kita sih enak-enak saja makannya.

4. Something To Eat (on the go)
Siapkan camilan dan makanan untuk balita Anda yang bias dikonsumsi di jalan. Jadwal lapar anak biasanya berbeda dengan kita, ditambah lagi suasana baru dan makanan di jalan/tempat tujuan yang belum tentu cocok dengan selera dan kemampuan perut si anak. Jangan sampai tujuan wisata kuliner Anda terhambat hanya karena si kecil tidak doyan atau tidak bisa makan makanan setempat karena pedas misalnya. Beri dia makan duluan dan biarkan dia bermain sementara Anda sibuk mencoba makanan baru. Kalau anak sudah lulus ASI, boleh juga bawa susu, siapa tahu merk susunya tidak dijual di kota tujuan. 

Kalo saya yang penting bisa selfie hehe
5. Something for Mom
Meskipun pergi sama anak, jangan lupakan tujuan untuk diri sendiri. At least ada satu tempat yang bias jadi kesenangan bersama seperti factory outlet yang ada tempat bermain anaknya. Jika anaknya sudah besar, ajak diskusi juga, jadi dia juga bisa antisipasi bahwa ada beberapa tempat yang memang untuk si Mama dan dia bisa belajar toleransi dengan membiarkan Mamanya bersenang-senang juga.

6. Something Simple
Pergi itu jangan dibuat susah. Jangan buat target kebanyakan karena target road trip (buat saya) hanya: Mengatur waktu sendiri. Tidak ada pesawat yang harus dikejar, tidak ada booking-an restoran yang harus dipenuhi seperti kalau kita ikut tour… semuanya santai dan menikmati perjalanan.

Kolam renang di Guci ini salah satu tempat favorit kita untuk istirahat

7. Something Comfortable
Pergi sama balita itu capek. Jadi, jika budget memungkinkan, pilihlah hotel yang nyaman (dan aman) untuk Anda dan balita. Balita Anda juga capek lho. Jadi jika hotel Anda ada kolam renang atau fasilitas Kids Club, boleh juga dimanfaatkan untuk istirahat setengah hari sampai waktu check out. Jadi Anda juga tidak eneg-eneg amat sama mobil. Pakaikan si kecil baju yang nyaman selama di perjalanan. Bergaya untuk post di social media ditunda dulu hingga sampai hotel ya.

Jadi kangen road trip lagi deh.

06 July 2015

Gummybox: Kreativitas Dalam Kotak

Bagaimana jika sekotak kreativitas datang di kotak surat Anda, menyelamatkan liburan si kecil yang berpotensi bosan karena belum ada rencana apa-apa?

Gummybox adalah sebuah ide brilian. Hanya dengan berlangganan di www.gummybox.com, sebuah kotak yang penuh dengan kreativitas yang pasti disukai anak-anak akan dikirimkan sebulan sekali ke rumah Anda. Satu kotak berisi 3 aktivitas dan 1 buku yang bisa dikerjakan. Serunya lagi, setiap Gummybox memiliki tema tersendiri yang tentunya disesuaikan dengan dunia anak-anak seperti Starry Night, Medieval, Underwater, Construction, Postal Services, Monster Mania dan masih banyak lagi.


Gummybox bird and Andrew


Gummybox memperkenalkan produknya pada acara Gummybox playdate di Pand’or Wijaya pada bulan Juni 2015 lalu. Pada kesempatan itu, Audrey Irawan, founder Gummybox, dalam kata sambutannya bercerita tentang masa kecilnya yang berkesan. “Saya senang mengumpulkan materials yang ada di dalam rumah dan membuatnya menjadi sesuatu yang baru seperti pesawat kertas. Saya senang meneliti bagaimana bahan dapat dirubah menjadi benda lain. I have a very creative childhood.” Dari kenangan itulah muncul idenya untuk membuat Gummybox.

Audrey Irawan, Founder Gummybox membuka acara playdate
Meskipun belum memiliki keluarga sendiri, namun Audrey mengerti sulitnya mencari kegiatan berkualitas untuk anak terutama pada saat liburan panjang. Kotak ini memang ditujukan untuk anak berusia 4-7 tahun, tapi Andrew yang sudah mau 9 tahun masih semangat menggunting, menempel dan mewarnai gambar warna-warni. 

Sebelum masuk ruang playdate,
bisa mencoba tema monster juga di meja depan
Di playdate, kita diperkenalkan dengan tema-tema yang ada melalui beberapa aktivitas berbeda. Aktivitas pertama yang dikerjakan adalah di ruangan Underwater. Di ruangan ini ada 2 macam aktivitas, anak bisa membuat aquarium dengan batu dan kerang atau mencetak ikan dengan cat dan kuas.

Dudu: Aku mau bikin gambar yang bagus.
Mama: Memangnya kamu bikin apa?
Dudu: Bikin gambar Mama dan aku.
Mama: Bukannya gambar ikan?
Dudu: Mama dan aku di dalam laut sedang berenang bersama ikan-ikan zombie.




(saya tinggal sebentar teks ini – ternyata sudah dilanjutkan 1 paragraf oleh Dudu)
Lalu kita pindah ke konstruksi. Di aktivitas konstruksi kita bisa membangun gedung dari karton. Membuatnya juga sambil pakai rompi dan topi ala pekerja konstruksi beneran. Wah seru. Anak-anak sangat kreatif ya. Aku membuat pisau dari karton berwarna mengkilap lalu ditunjukkan ke Mama.




(balik ke Mamanya yang cerita ya)
Kita mendapatkan sebuah Gummybox untuk dibawa pulang. Andrew yang tidak sabar sudah ribut bertanya di mobil, apa Gummyboxnya sudah boleh dibuka dan dimainkan. Sampai di rumah tentu saja langsung dibongkar dan menjadi kesibukan Andrew untuk satu jam ke depan. Ternyata yang kita dapatkan adalah Gummybox Postal Service yang berisi perlengkapan surat menyurat, lengkap dengan topi pak pos dari karton. Aktivitas kartu pos-lah yang pertama selesai.

Gummybox siap dibuka oleh anak-anak. Apa ya isinya?

Isi harta karun kotak Gummybox
Anak dibawah 3 tahun juga sebenarnya bisa mengerjakan aktivitas ini tapi tetap harus diawasi orang dewasa karena ada beberapa bagian yang terlalu kecil. Bisa jadi ajang belajar berbagi untuk si kakak.

Gummybox menginspirasi Andrew untuk kreatif dan belajar proses menulis surat. Sesuatu yang baru untuk anak jaman sekarang yang lahir saja sudah pegang gadget. Selain menulis surat, Gummybox juga melengkapinya dengan perangko dan stempel, jadi anak bisa belajar seluruh proses surat-menyurat.

Sekarang, sudah berkali-kali Andrew main board game (dengan peraturan yang diciptakannya sendiri), belajar menulis kartu pos dan “mengirimkannya” pada Oma, Opa dan semua keluarga yang ada di rumah dengan mengetuk pintu kamar lalu menyelipkan kartu pos tersebut di celah pintu. It’s a fun holiday with Gummybox.



Speaking English? Check out this Gummybox story in our English Language blog here.

28 June 2015

The Not-So Despicable Minions

Anak jaman sekarang mungkin hanya kenal NH Dini sebagai Ibu dari pencipta Minions. Begitu kata teman saya sepulang anak-anak kita playdate nonton makhluk-makhluk kuning ini di bioskop. 
Ada banyak jenis minions, yang jadi tokoh utama kali ini hanya 3 saja.
Minions sudah menyerbu Indonesia sejak minggu lalu dan bukan hanya bioskop, tapi restoran cepat saji yang menawarkan Minions sebagai hadiah paket makan anak-anak juga menjadi saksi orang tua sayang anak yang ikut terhipnotis oleh anak buah Gru ini.

Jadi kita penasaran dan akhirnya memutuskan untuk nonton, berbagi bioskop dengan sejuta anak-anak termasuk seorang bayi yang duduk di samping saya dan tertidur bahkan sebelum Minions bertemu Scarlett Overkill. Oh, ya, Minion tidak ada preview atau trailler film lain sebelum filmnya dimulai, jadi jangan telat masuk bioskop ya.

Film Minions berkisah tentang apa yang terjadi dengan makhluk kuning ini sebelum mereka bertemu Gru. Saya tidak nonton Despicable Me 1 & 2 jadi tidak tahu persis apa yang terjadi dengan para Minions dan Gru. Ini kisah mereka mencari seorang bos jahat karena setiap kali mereka mendapatkannya, selalu berakhir dengan kecelakaan tragis yang membunuh bosnya tersebut. Tanpa bos, mereka tidak punya semangat hidup. Di tengah masa depresi, seorang minion bernama Kevin, ditemani pemusik Stuart dan Bob yang antusias, memberanikan diri pergi untuk mencari seorang bos (penjahat) yang baru. 



Nasib membawa mereka ke Villain Con di Florida, di mana secara tidak sengaja, Bob memenangkan sayembara menjadi anak buah penjahat nomer satu di dunia: Scarlet Overkill dan suaminya, Herb. Misi pertama mereka sebagai anak buah penjahat adalah mencuri mahkota Ratu Inggris.

Kembali ke NH Dini, memangnya siapa sih pencipta Minions? Namanya Pierre-Louis Padang Coffin, orang Perancis. Ibunya adalah penulis terkenal Indonesia, yang jaman saya dulu masih sering wajib dibaca karyanya pas pelajaran Bahasa Indonesia. Ironisnya, seperti dilansir oleh VOA Indonesia, si anak yang memang besar di luar negeri ini tidak pernah membaca buku-buku Ibunya karena tidak diterjemahkan ke bahasa asing.

Pencipta Minions, Pierre Coffin yang juga pengisi suaranya.
Ketika ditanya apa filmnya bagus, Dudu bilang “Ya baguslah.” Meskipun kita banyak tertawa di bioskop dan terkesan dengan Bob yang berbicara bahasa Indonesia, tapi lebih banyak cerita keluar dari Dudu ketika ditanya tentang Jurassic Park.

Lalu apakah karena kita ngefans lantas kita ikutan jahat? Cerita seorang teman yang anaknya diselak ibu-ibu yang khawatir tidak mendapatkan mainan Minions yang diinginkan anaknya, dan pengalaman saya diserobot anak ABG yang panik beli paket sampai 5 demi koleksi (dengan seorang pacar manyun berat di sebelahnya) membuat saya merasa kita berada di Villain Con. Yah, saya sendiri masih diminta si Andrew yang mau membuat cerita versinya untuk membelikan satu mainan lagi supaya bisa mulai membuat cerita.

Stuart, Bob dan Kevin sudah duduk manis di sudut rumah saya
Banyak pelajaran yang bisa dicatat dari petualangan ketiga minions ini, terutama tentang persahabatan dan semangat positif untuk mencapai tujuan mereka. Yup, Stuart, Bob dan Kevin tidak pernah menyerah dari jaman plankton untuk mencari bos yang jahat sesuai dengan keinginan mereka. 

25 June 2015

Fun Blogging di Communicasting Academy: Hobi, Profesi dan Teman Baru

Yang namanya jodoh seharusnya memang tidak kemana-mana. Saya sudah ingin ikutan acara ini sejak yang nomer 3, tapi baru berkesempatan ikut di nomer 5. Ternyata memang tidak salah pilih workshop karena banyak yang bisa dipelajari dari workshop bertema “Dari Hobi Jadi Profesi” satu hari yang diadakan di Communicasting Academy ini.



Dibagi dalam beberapa sesi, pelajaran pertama adalah dari seorang blogger professional, Haya Aliya Zaki, tentang bagaimana mengisi content yang baik ketika kita ingin membuat blog jadi profesional. Editing juga penting. Tulisan sudah naik bukan berarti kita santai. Ternyata berbeda dengan majalah yang kalau sudah naik cetak tidak bisa diapa-apakan lagi, menurut Mba Haya, justru penting membaca ulang postingan setelah publikasi. Waduh, saya harus sering-sering baca blog sendiri nih. Maklum, suka pakai postingan terjadwal karena kebanyakan hanya bisa posting pas akhir pekan. Habis dijadwalkan trus ya lupa. Musuh terbesar kita adalah typo (and yes, tulisan ini sudah dibaca ulang dan diedit).

Bagian kedua adalah cerita dari seorang blogger yang juga web designer, Shinta Ries. Berbagi ilmu yang terdengar teknis seperti masalah background, layout dan penempatan banner atau iklan di web kita, banyak pelajaran baru yang bisa didapat dari sesi ini. Berarti PR saya liburan lebaran kali ini bertambah 1 lagi: membereskan layout blog saya agar jadi simple.

Di sesi ini juga banyak memberikan kontemplasi tentang apakah kita seharusnya menggunakan domain berbayar (top level domain) jika ingin berprofesi sebagai blogger. Jawabannya YA. Tapi domain gratisan masih bisa jadi pilihan karena pembicara sesi terakhir yaitu Ani Berta mengaku masih menggunakan domain gratisan. Sesi Mba Ani membicarakan tentang personal branding dan bagaimana cara mendapatkan job sebagai blogger.



Teman-teman baru (lama?) saya. Photonya pinjam dari tokopedia
Yang mengesankan dari ikut Fun Blogging ini adalah teman-teman yang ramah. Walaupun baru pertama kali bertemu teman-teman ini (termasuk para pembicaranya) setelah sekian lama hanya colek mencolek di dunia maya, saya terkesan dengan keramahan dan semangat berbagi mereka. Juga dengan Communicasting Academy selaku tuan rumah. Fasilitas pelatihan penyiaran yang terletak di Jl. Sultan Iskandar Muda, Jakarta Selatan, ini memiliki beberapa kelas seperti Presenter dan Reporter TV, Penyiar Radio, MC dan Public Speaking. Selain kelas reguler, ada banyak workshops dan events yang bisa diikuti. Registrasinya juga bisa online di communicastingacademy.com

Salah satu pelatihan di Communicasting Academy
(photo courtesy of Communicasting Academy) 
Selain pelatihan individual, Communicasting Academy juga memiliki pelatihan untuk perusahaan yang dapat disesuaikan materinya dengan kebutuhan. Dan ternyata tempat ini juga memiliki kelas untuk anak-anak. Wah, boleh nih kapan-kapan mengikutkan anak saya latihan di sini. Tempatnya nyaman dan fasilitasnya super lengkap. Meskipun saya menyesal belum sempat keliling karena ada janji nge-date dengan anak, tapi sempat lihat-lihat ketika nyasar mau kembali ke mobil waktu break makan siang. Senang bisa menemukan tempat ini di Jakarta Selatan yang terjangkau dari rumah.

Kalau kata Mba Ani, “Blogging adalah hobi, bisa dapat penghasilan itu bonus.” Kali ini ternyata dapat teman dan pengetahuan baru juga.

23 June 2015

Tips Memilih Film Layak Tonton Untuk Anak

“Ngapain sih tutup mata, itu kan cuma adegan ciuman,” protes Dudu ketika teman nontonnnya sibuk tutup mata di bioskop. Si teman membalas, “kata Mama aku, ciuman untuk orang dewasa, anak kecil ngga boleh lihat dulu.” Nah lho!

Dudu: Ma, kenapa aku boleh melihat adegan ciuman tapi dia tidak boleh?
Mama: Beda keluarga beda aturan, Du. Buat Mama biasa aja. Cuma ciuman doang.
Dudu: Terus yang tidak boleh apa dong?
Mama: Apa ya? Ya kalau ada adegan yang tidak boleh ya Mama tidak ajak kamu nonton.
Dudu: Kalau adegan tidak pakai baju?
Mama: Kayak Alice di Resident Evil 1? Ya tidak apa-apa juga, itu kan Alice memang habis mandi dan dia langsung tutupan handuk.
Dudu: Jadi Mama tidak perduli ya?

Ya ngga gitu juga sih Du...

Saya memang liberal. Jadi saya sungkan memberikan rekomendasi kepada orang tua lain tentang film dan buku bacaan karena takut mereka protes. Di review blog pun kadang saya kasih disclaimer bahwa pendapat saya dan Dudu tidak mainstream dan biasanya tidak akan disetujui oleh orang tua kebanyakan. 


Detail film di Blitz Megaplex ditulis rating 13+
Detail film di 21 dan XXI ratingnya ditulis R13+
Dudu nonton Resident Evil sejak masuk SD dan lalu akrab dengan zombie, pistol dan adegan berantem. Jadi, ketika sebagian teman masih mendebatkan apakah adegan dino makan orand di Jurassic Park terlalu sadis untuk anaknya, saya sudah pergi nonton. Soalnya dibandingkan Resident Evil atau World War Z, si dino masih lebih sopan dan tidak seberapa gory. Saya juga tidak pernah meributkan adegan ciuman di film. Soalnya kalau kita heboh, apalagi heboh melarang, nanti anak semakin penasaran.

Kendala untuk anak tanggung sebesar Dudu adalah film anak yang membosankan dan film remaja yang… well, belum waktunya ditonton. Mana tertarik si Dudu dengan film pacaran? Jadi dilemma sendiri memilih film karena di Indonesia, bioskop cenderung tidak mengontrol usia pembeli tiket dan film yang akan ditonton. Jadi satu-satunya sensor ya kita sebagai orang tua untuk menentukan film mana yang boleh ditonton si anak.

Jadi bagaimana saya menentukan film apa yang layak ditonton oleh anak saya? Jawabannya adalah ngintip dulu di IMDB alias Internet Movie Database.

Halaman detail film di IMDB, ada fitur "Parents Guide" di kanan
Rating
Rating di Indonesia bisa berbedadengan rating di IMDB.Apa yang dianggap PG-13 (usia dibawah 13 tahun harus didampingi orang tua) bisa jadi dewasa begitu sampai bioskop kita. Tapi kalau di bioskop sudah R (alias remaja – karena di luar negeri R itu Restricted alias untuk Dewasa), harusnya sudah lebih aman dibanding yang ratingnya Dewasa. Rating biasanya ada di poster filmnya atau di website bioskop dekat sinopsis film.

Sistem rating film dari MPAA
Durasi
Dulu waktu masih kecil ini penting karena kalau lewat 2 jam nanti dia bosan. Sekarang sih sudah tutup mata sama durasi. Kecuali kalau kita nonton yang di atas jam 7 malam.

Trailler
Meskipun tidak selalu nonton dulu, tapi jika ada beberapa film yang akan tayang, biasanya saya dan Dudu nonton traillernya berdua baru memutuskan mana duluan atau mana yang akan kita lewatkan. Kadang dari traillernya, Dudu sudah bias memutuskan apa film ini seru atau tidak (buat dia). Trailler tidak selalu harus spesial search di Youtube, tapi bisa juga pas nonton film sebelumnya. Jadi masuk bioskop jangan terlambat.

Parents Guide
Ini fitur favorit saya di IMDB. Cara menemukannya gampang.Tinggal masuk ke halaman film yang kita mau tonton lalu cek kebagian Parents Guide yang ada di kanan atau di bagian MPAA* di bawah cast and crew. Di bagian ini digambarkan adegan yang mengandung unsure seksual/nudity (termasuk baju yang terlalu seksi), kekerasan atau gore (ini yang berpotensi menjijikan misalnya perut sobek lalu isinya ditunjukin ke penonton plus darah yang dramatis jumlahnya), profanity (kata-kata kasar/mengumpat), alcohol/drugs/smoking dan adegan yang intense atau berpotensi menakutkan bagi anak-anak.Bahkan ada score dan diskusinya. 

Halaman Parental Guidance di IMDB
Review
Kalau masih kurang yakin biasanya saya baca review. Banyak “kritikus” di luar sana yang cukup detail menganalisa filmnya dan biasanya kita bisa belajar sesuatu dari penonton yang cerewet. Kalau filmnya ada jarak tayang dari negara asalnya ke Indonesia, wikipedia juga bisa jadi sangat detail menggambarkan plotnya dan kita bisa konsultasi ke sana.

Kalau sudah membaca IMDB saya jadi merasa lebih aman pergi ke bioskop, meskipun guidancenya penuh spoiler yang kadang memberitahu endingnya. Tapi, yah, daripada was-was anak kita menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya untuk usia dia. Relatif memang. Keputusan akhir menonton tetap ada pada kita (dan dalam kasus saya si Dudu juga).

Untungnya perbedaan cara pandang kita tentang apa yang boleh disaksikan oleh anak di bioskop tidak mengganggu keakraban saya dan teman-teman. Saya yang liberal dan teman-teman yang sedikit konservatif atau beneran konservatif membuat playdates menjadi ajang saling menghargai. Dudu sekarang tahu peraturannya dan tidak meributkan kenapa temannya tidak boleh menonton adegan Spiderman pacaran. Malah biasanya dia yang panik “awas, Tante, habis ini jagoannya mau ciuman!” dan membantu teman saya menutup mata anaknya.

Selamat datang musim panas dan selamat datang summer blockbusters!

*MPAA (The Motion Picture Association of America) adalah asosiasi yang memberikan rating film sekaligus menilai dan melindungi konten kreatif dari film dari pembajakan. Selengkapnya dapat dilihat di http://www.filmratings.com