09 July 2015

Mengenali Eksploitasi Anak

Jadi model itu bukan karena bakat dan bukan karena suka difoto. Model anak juga tidak melulu jadi korban eksploitasi orang tua. Modelling itu kerja, cari teman, sambil belajar menempatkan dan membawa diri dengan benar.

Mejeng di depan foto sendiri
Melanjutkan postingan tentang jadi model cilik kemarin. Jadi model (menurut saya) bukan prestasi yang menghebohkan banget. Karena awalnya Andrew jadi model juga tidak sengaja. Ketika Andrew sedang padat-padatnya casting dan shooting, sempat ada diskusi begini waktu jaman Baim cilik masih terkenal. Dudu waktu itu baru sekitar 5-6 tahun...

Mama: Dudu main sinetron ya tuh kayak Baim. Kan kamu sering dibilang mirip Baim.
Dudu: Tapi aku bukan Baim. Aku Dudu!
Mama: Iya, main sinetron tuh. Uangnya banyak.
Dudu: Baim sekolah tidak, Ma?
Mama: Entah ya. Ngga kali. Kan dia dari pagi sampai pagi lagi main sinetron. Kalau sekolah juga asal.
Dudu: Tidak mau, nanti aku bodoh.

Kasus Baim sering disebut eksploitasi. Definisi eksploitasi juga perlu dipertanyakan. Saya sering kena tuduh eksploitasi anak hanya karena Andrew sering casting dan fashion show. Padahal dia hanya mengisi waktu luang dan bukannya mencari uang. Ada beberapa pertanyaan yang saya gunakan untuk melihat apakah Andrew "tereksploitasi":

  1. Apakah anaknya enjoy? Kalau masih terlalu kecil, mungkin memang orang tua yang memutuskan, tapi kalau sudah bisa berpendapat, ada baiknya anak diajak diskusi soal banyaknya “job” yang akan diambil.
  2. Apakah anak tetap bisa bermain, belajar dan melakukan hal yang dia suka? Syukur-syukur hal yang disuka itu foto atau shooting. Bermain dan belajar adalah dua hal yang menjadi hak anak dan kewajiban orang tua untuk memberikannya. Kalau sampai shooting, foto atau apapun yang dia kerjakan membuat dia tidak bisa bermain dan bersekolah dengan benar, hati-hati, mungkin Anda sedang mengeksploitasi anak.
  3. Apakah anak bisa memilih? Memilih job yang dia mau (misal antara sinetron atau fashion show) atau memilih apakah dia mau ikutan casting, mau difoto dan lain sebagainya. Kalau orang tua semua yang memutuskan dan anak tinggal menjalankan kok kurang adil rasanya.
  4. Apa tujuannya? Andrew jadi model karena kesempatan itu ada, bukan karena mau jadi artis. Kalau tujuannya supaya anaknya terkenal (atau ibunya mau terkenal juga), ya sebaiknya sih pikir-pikir lagi. At least, pastikan bahwa tujuan Anda sama dengan tujuan anak Anda memasuki dunia entertainment ini. 
  5. Siapa yang cari uang? Ini pertanyaan mutlak buat saya. Selama saya tidak menggantungkan hidup saya pada pendapatan Andrew, itu bukan eksploitasi. Saya masih pencari nafkah utama dalam keluarga dan Andrew dapat uang hanya untuk tabungan atau digunakan beli mainan.
    Andrew saat shooting iklan Morinaga. Sudah standby dari subuh baru take jam 10an
    Antara kerja dan main.
Sekarang Dudu sudah mau 9 tahun dan percakapannya jadi begini...

Mama: Du, kamu main sinetron sana. Mama jadi manager aja.
Dudu: Manager itu apa, Ma?
Mama: Kamu cari uang, Mama yang belanja pakai uang kamu. Kan enak kamu juga ngga usah sekolah.
Dudu: Mama ini enak saja. Yang seharusnya bekerja kan orang tua. Anak tinggal minta uang untuk beli game dan pistol-pistolan.
Mama: Jadi kamu tidak mau cari uang?
Dudu: Tidak. Nanti aku rugi. Aku mau sekolah lalu bersantai-santai. Semuanya Mama yang bayar.

Ih, anak jaman sekarang ya.


Andrew tahu bahwa foto, fashion show dan shooting itu kerja. Professional itu berarti melakukan yang terbaik semampu kita karena kita akan dibayar. Masalahnya, Andrew jadi merasa kerja itu gampang. Tinggal senyum sedikit, uang langsung datang. Tidak seperti saya yang kerja kantoran dari pagi hingga malam. 

Dari semua kegiatan, Dudu paling suka fashion show.
Soalnya bisa tampil di atas panggung
Tapi bukan berarti tidak ada gunanya lho ikutan modelling dan berusaha jadi artis. Karena Dudu anak tunggal, berada di tempat casting dan tempat audisi mengajarkan dia toleransi. Terutama jaman dia masi 2-3 tahun sebelum masuk TK. Dia jadi punya teman dan bisa bergaul. Dia tahu bagaimana menghadapi orang dewasa. Selain itu, dia belajar menghargai waktu dan kesempatan berbicara orang lain. Sebagai anak aktif yang saya curiga (tapi belum terbukti) dia ada bakat ADHD, kegiatan ini membantu dia belajar mendengarkan, jadi lebih tenang dan mengikuti instruksi dengan benar. Kita bahkan dapat teman yang akrab sampai sekarang. Bonus yang lebih berharga daripada uang yang masuk ke rekening.

6 comments:

  1. ahhh dudu... jawabannya selalu bikin senyum2 deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... namanya juga Dudu Mba :)

      Delete
  2. selama anaknya enjoy, kayaknya susah kalau dibilang eksploitasi ya, Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak dilemanya memang ini artis-artisan hehe Dibawa senang ajalah makanya :)

      Delete
  3. jaman sekarang sekolah saja sudah menjadi beban, kalau ditambah dengan les dan lainnya saya rasa disesuikan minat dan kesanggupan anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Mas! Sekolah jaman sekarang kayaknya sudah makan waktu banget. Makanya begitu udh SD si Dudu jadi ngga sempat ikutan begini.

      Delete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.