18 February 2015

Karakter Anak Berdasarkan Shio (Bagian 1)

Happy Chinese New Year!

Awal bulan ini, ketika browsing sebuah majalah ibu dan anak, saya bertemu artikel tentang shio dan gaya parenting kita. Saya pernah browsing yang zodiac dan jadi tidak seru karena saya dan Andrew zodiac-nya sama-sama Cancer. So, kenapa ngga shio?


Happy New Year --
baru nemu foto Andrew pakai baju Cina
Jadi dalam rangka menyambut Imlek tahun ini, yuk kita ngintip karakter anak berdasarkan shio. Dimulai dari yang akan masuk tahun ini ya:

Kambing (1991, 2003, 2015)

Sekilas, anak yang lahir dengan shio kambing terlihat pesimis, dan tugas kita sebagai orang tuanya adalah berjuang membangun semangat dan percaya diri si anak. Namun, mereka biasanya berbakat dalam bidang seni. Jadi rasa pesimisnya bisa berubah jadi sumber inspirasi kreativitas seiiring dengan berjalannya waktu.
DO: Memfasilitasi optimisme, seperti memberikan kamar yang rapi dengan warna cerah dan terkena sinar matahari.
DON’T: Membatasi gerak dengan memberikan jadwal yang ketat dan disiplin berlebihan.

Monyet (1992, 2004)
Identik dengan cerdas dan penuh trik yang bisa dengan mudah meraih sukses jika ia telah bertekad untuk menghadapi tantangan yang ada. Jangan berharap anak shio monyet bisa duduk manis karena dia akan melompat ke sana kemari dengan seribu pertanyaan yang dimulai dengan “kenapa”.
DO: Dukunglah kegiatannya dengan mengarahkannya untuk lebih serius mengerjakan apa yang disukainya.
DON’T: Memaksakan atau bosan menerapkan disiplin. Anak shio monyet biasanya tidak mengindahkan “teriakan” orang tuanya, namun cobalah lagi.

Ayam (1993, 2005)
Namanya juga ayam, mereka tidak akan segan untuk berkokok mengutarakan pendapatnya dan sangat disiplin dalam segala hal. Eksentrik dan pemimpi, anak shio ayam terkadang terlalu optimis dan sering melewatkan kekurangannya sendiri.
DO: Berani menegur secara adil, karena anak shio ayam agak sulit membatasi diri.
DON’T: Menutupi kekurangannya. Anak shio ayam membutuhkan seseorang yang dapat menyadarkan dirinya dan tak ada yang lebih baik daripada orang tua sendiri.

Andrew si anak shio anjing
Anjing (1994, 2006)
Gembira, patuh dan jujur, anak shio anjing adalah favorit (dan harapan) semua orang tua. Namun anak shio anjing sering terlalu serius dan khawatir berlebihan. Dengan rasa keadilan yang tinggi, biasanya mereka mengambil tanggung jawab lebih besar daripada yang sebenarnya dibebankan kepada mereka.
DO: Berikan apresiasi. Anak shio anjing biasanya ragu-ragu dengan mengambil keputusan atau memimpin sebuah grup. Apresiasi orang tua kepada kemampuannya bisa menjadi motivasi yang dibutuhkan.
DON’T: Memarahi anak sambil berfokus pada kekurangannya karena Anda berpikiran harus mengimbangi keoptimisannya dengan kekurangan yang dia punya.

Babi (1995, 2007)
Anak shio babi adalah penyayang keluarga yang tulus dan pekerja keras. Yang paling menyenangkan dari memiliki anak shio babi adalah sifat penurut yang kerap membuat orang tua merasa bangga bahwa ajaran yang mereka terapkan berhasil dilakukan dengan baik oleh anaknya.
DO: Belajar dari mereka. Sifat penyanyang dan rendah hari kerap dilupakan oleh orang tua.
DON’T: Membiarkan mereka dimanfaatkan. Orang tua anak shio babi harus menjaga dan mengajarkan anak-anak mereka tidak dirugikan orang lain.


Siapa shio tikus?
Tikus (1996, 2008)
Sosial, setia dan charming, anak shio tikus kerap menjadi sosok pusat perhatian di lingkungannya. Namun mereka banyak akal dan punya banyak trik untuk menarik perhatian orang. Orang tua anak shio tikus tidak perlu khawatir karena mereka dapat menjaga diri.
DO: Jaga privasi mereka.
DON’T: Memanipulasi anak shio tikus hanya akan berbuah kegagalan dan bukan cara yang baik untuk memenangkan kesetiaan mereka.

Semua ini saya rangkum dari berbagai sumber di internet. Boleh percaya boleh tidak. Namanya juga zodiak. Andrew shio anjing dan so far, benar tuh ramalannya.

Untuk shio lainnya klik di Karakter Anak Berdasarkan Shio (Bagian 2)

12 February 2015

Elegant Love of Nespresso

Kenalkan, teman baru saya dan Andrew ini Namanya Nespresso. Sebagai pencinta kopi, menemukan mesin kopi seperti di coffee shop tapi bisa digunakan di rumah itu sesuatu banget. Apalagi Andrew bisa mengoperasikan mesin ini dengan mudah. Hanya tinggal mengisi air, masukin kapsul lalu pencet tombolnya.

Setiap pagi kalau weekend, Andrew paling sibuk membuat kopi. Begitu saya bangun, sudah ada kopi di meja. Sampai sering disindir sama orang tua saya karena Andrew niat banget bikin kopinya. Aman karena tidak pakai air panas, cukup memilih kapsul Nespresso mana yang mau diseduh, dimasukkan ke bagian atas mesinnya lalu ditutup dan dipencet ukuran gelasnya. Ada cangkir espresso yang kecil dan gelas kopi biasa. Dari dinyalakan hingga siap pakai, kita harus menunggu lampunya berhenti berkedip sekitar 30 detik.

Kalau sudah selesai, bagian atasnya tinggal di angkat dan kapsul kopi akan jatuh ke bawah, terbuang dengan sendirinya. Kalau tempat pembuangan sudah penuh kita tinggal buang ke tong sampah. Tidak ada ampas dan tidak berantakan. Membersihkannya pun cukup mudah, hanya melakukan langkah seperti menyeduh kopi tapi tidak perlu memasukkan mesin kopinya. Paling sesekali tempat pembuangan dan tatakan gelasnya dicuci.

Nespresso baru selesai mandi
Mesin Nespresso hitam ini dibawa pulang oleh adik saya dari Belanda sekitar 3 tahun lalu ketika dia kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya. Hadiah dari cewek yang sekarang sudah jadi pacarnya. Sekarang Nespresso ini ada di rumah, jadi cerita cinta Andrew dengan saya.

Mau minum Nespresso ini penuh perjuangan karena di Indonesia waktu itu mesin kopi dengan kapsul belum popular. Saat sudah mulai heboh pun, yang datang ke Indonesia adalah adik dari Nespresso, Dolce Gusto. Dolce Gusto yang fun and colorful saja sudah termasuk premium di Indonesia. Apalagi mesin yang warnanya hitam dan perak ini. Jadilah ketika saya kehabisan kapsul, si Nespresso diistirahatkan. Soalnya berbeda dengan Dolce Gusto yang kapsulnya bisa dibeli di supermarket terdekat, kapsul Nespresso ini agak exclusive.

Lalu Nespresso Boutique buka di ION Orchard. Boutique? Yup, toko khusus jualan kapsul dan mesin Nespresso ini ada di salah satu mall bergengsi di Singapura, jadi bentuknya pun seperti butik baju branded. Yah, soalnya harga mesinnya juga tidak murah-murah amat. Tapi karena saya pencinta black coffee, jadilah saya tetap memperjuangkan minum kopi dari mesin ini. Kapsulnya ada banyak macam, masing-masing dengan warna kapsul yang berbeda-beda. Waktu pertama beli mesin dan dapat satu set kapsulnya, saya sibuk membolak balik buku panduan kopi. Karena namanya susah dihafalkan, saya biasanya hanya mengingat warna. Akhirnya saya jatuh cinta sama Capriccio, yang warnanya hijau tua.

Kebetulan hijau juga warna favorit si Andrew. Jadi pas deh.

Yang hitam itu espresso,
yang coklat garis-garis lupa namanya tapi rasa chocolate
Nespresso juga sering mengeluarkan seasonal atau limited edition yang muncul dua kali setahun. Yang terakhir saya coba itu Cioccorosso (yang garis-garis warna warni), campuran dark chocolate dan raspberry-type of fruit. Kapsul yang ini manis, kalau habis dipakai dan dibuang ke tong sampah, tong sampahnya ikutan disemutin.

Lalu apa hubungan Nespresso dengan postingan hari Valentine saya? Well, ya karena itu tadi. Nespresso menyambungkan adik saya dan pacarnya. Menghubungkan saya dan adik saya yang satu lagi… dan pacarnya yang kebetulan adalah “supplier kapsul” saya karena tiap pulang kampung dari Singapore saya palakin. Dan memberikan sesuatu untuk saya dan anak saya yang semangat membuatkan kopi. Serta tentu saja, saya dan black coffee yang dibuat oleh si Nespresso itu.


Semoga cepat ada di Indonesia ya.

05 February 2015

Menyayangkan Sampah di Pantai

Kemarin kita akhirnya ke Doraemon Expo! Horeee... tapi cerita yang itu adanya di postingan sebelah. Yang disini saya dan Dudu mau protes soal sampah yang ada di Pantai Ancol.

Alkisah Mama dan Dudu pergi ke Ancol untuk mengunjungi Doraemon Expo. Karena tidak mau rugi sudah bayar masuk Ancol yang Rp70.000 berdua plus mobil itu, kita sampai jam 8. Dua jam sebelum tiket booth dibuka. Ngapain? Ya tentu saja foto-foto OOTD untuk stok instagram hehehe. Kebetulan Dudu juga baru beli beberapa baju baru dan satu kemejanya tema nautical. Jadi semangat.


Top: Nevada Nautical Shirt
Bottom: Bicycle broken white pants
Sayangnya, proses foto-foto tidak selancar harapan karena pantainya sedang banyak sampah.

Dudu heboh lihat ikan mati. Beberapa anak lain yang juga sedang main di pantai malah mengumpulkan ikan mati. Ya, ikan mati di pantai wajar sih. Yang tidak wajar itu botol air mineral literan, bungkus snack yang iklannya sering wara-wiri di TV, gelas plastik bekas es krim dari restoran fast food, sedotan bekas... dan sampah lainnya yang bikin saya kesal karena bolak balik bocor ke foto OOTD karena nyangkut di kaki si Dudu yang masuk ke air.

Well, ini bukan pertama kalinya kita foto di pantai ini dan biasanya kita happy dengan keadaan pantainya. Namanya juga pantai komersil di ibukota, wajarlah kalau tidak seindah Raja Ampat. Kali ini parah, mungkin karena musim hujan. Pantainya penuh ikan mati yang mengapung dan sampah yang bertebaran. Baru sekali ini juga saya melihat banyak bapak-bapak berseragam membawa jaring untuk mengumpulkan sampah. At least pihak Ancol ada effort untuk membersihkan pantai, walaupun kalau melihat jumlah sampahnya ya agak hopeless. Apalagi tukang sampah tidak nyemplung ke laut tapi hanya mengambil sampah yang terdampar.

Sayang banget.

Habis dari Doraemon Expo, hunting foto pindah ke Pasar Seni. Lebih puas juga sama hasilnya. By the way, ini Dudu yang mengarahkan gaya sendiri lho. Yang pertama karena nemu kaos wayang pas hunting sale di department store. Lalu nemu celana garis-garis juga. Wah pas banget.

Outfit: Nevada (beli pas sale di Matahari)

Polo Shirt is good with stripes too. Add a hat to make it cool!

31 January 2015

Rencana Ngedate di Amerika

Yang paling ditunggu-tunggu oleh semua teman saya (selain bonus akhir tahun) adalah keluarnya daftar hari besar dan perkiraan cuti bersama. Biasanya lewat broadcast atau lewat email tak resmi. Dan biasanya juga disertai ajakan “mau ke mana nih? 2015 banyak hari kejepit lho.”

Hari kejepit pertama akan datang bulan depan waktu tahun baru imlek. Tanggal 2 Januari kemarin tidak masuk hitungan ya haha.

Tapi tahun ini saya tidak akan fokus ke hari kejepit karena rencananya saya mau membawa Dudu pulang kampung. Yang jadi incaran tentu saja libur sekolah yang nempel sama libur Lebaran yang akan panjang itu. Namanya juga pekerja kantoran, libur panjang hanya bisa diambil saat lebaran. Soalnya kampungnya Dudu ada di negaranya Barrack Obama, jadi kalau mau ke sana, biar ngga rugi.com sama jetlag dan perjalanannya yang lebih dari 30 jam itu, paling tidak kita harus pergi selama 3 minggu.

Rencananya juga kita mau merayakan ulang tahun Dudu di sana. Karena ulang tahun yang selalu jatuh pada saat liburan kenaikan kelas itu membuat Dudu tidak pernah merayakan ulang tahun di sekolah bersama teman-temannya. Jadi, kalau ada kesempatan saya mau merayakannya dengan spesial di tempat yang spesial. 

#DateWithDudu Road trip to Alcatraz 

Mama: Du, pulang kampung, yuk!
Dudu: Ke Amerika?

Anaknya langsung berbinar-binar.

Dudu: Bisa ketemu grandma, grandpa dan Benji?
Mama: Ya selain ketemu mereka, kamu mau ke mana lagi?
Dudu: Aku mau lihat The Walking Dead.
Mama: Emang The Walking Dead di mana?
Dudu: Nama kotanya Atlanta.
Mama: Hm... kita belum pernah ke sana.

Cuma ya dari tempat Benji di Texas kalau mau ke Georgia ya PR juga jauhnya. Mau ke Amerika juga sudah PR. Selain harus booking tiket jauh-jauh hari, minta cuti sama bos, apply visa-nya juga bikin malas harus antri subuh-subuh di depan Gambir situ. Aduhhh rempong.com deh kalau sudah memikirkan persiapannya.

Tapi kita sudah sekitar 5 tahun tidak bertemu kakek-nenek dan sepupu-sepupunya. Dan saya juga kangen sama negara Paman Sam itu. Pengen ke Michaels belanja scrapbook. Pengen ke Walmart beli microwaved kettel corn. Pengen ke Target mencari barang-barang lucu satu dolaran. Yang jelas, pengen ke Barnes and Nobles untuk borong buku. Saya juga kangen makan di Chipotle, Mexican food dan di all-you-can -eat Chinese restaurant. 
Yuk berangkat!
Kalau kata Dudu (yang mulai meniru cara saya ngomong): “Kita pergidulu.com baru pusing belakangan.

Jadi, kenapa ngga di rencanakan saja? Toh, katanya, manusia berencana, Tuhan menentukan, manusia lain berkomentar hahaha.

30 January 2015

Doraemon 100 Secret Gadget Expo

Setelah sejak November merencanakan datang ke sini, akhirnya kesampaian juga #DateWithDudu at Doraemon 100 Secret Gadget Expo. 





Kita pergi hari Sabtu, pagi-pagi sudah sampai Ancol. Kalau punya tiket Expo yang dibeli di luar, masuk Ancolnya diskon. Tapi kita belum beli tiket, jadi datang pagi-pagi biar masuknya murah dan beli tiket pake Flazz biar dapat diskon 20%. Yeay! Hitung-hitung sekalian rekreasi di pantai.

Doraemon 100 Secret Gadget Expo ada di Ancol Beach City lt.2. Jam buka mulai jam 10.00 – 22.00 dan harga tiketnya Rp95,000 untuk dewasa dan Rp55,000 untuk anak-anak 5-12 thn (belum termasuk pajak 10%).



Tiketnya aja lucu banget!
Kita masuk pas jam 10, jadi masih sepi. Andrew sudah heboh dari sebelum beli tiket. Maklum, fans berat Doraemon. Ada doko demo door/doa alias pintu kemana saja, dan dua Doraemon menyambut kita masuk ke area expo. Yang satu biru yang satu kuning. Begitu masuk Expo, kita disuguhi cerita tentang kenapa Doraemon berubah warna.

Jadi ceritanya, konon, Doraemon awalnya berwarna kuning dan memiliki kuping. Makanya si Dorami juga kuning ya. Lalu suatu hari kupingnya digigit tikus. Karena sedih Doraemon mencoba minum obat bahagia, tapi kesedihannya membuat warna kuningnya luntur menjadi biru dan suaranya menjadi serak. Ooo... pantesan suara Doraemon sekarang begitu (even dubbing yang di TV juga serak).





Naik mesin waktu sama Doraemon
Dari kisah awal mula, kita “naik mesin waktu” ke museum gadget Doraemon. Masuk ke arena utama, kita disambut banyak Doraemon, dengan gadget masing-masing dan expresi yang lucu-lucu. Karena masih sepi, kita bebas foto-foto. Bahkan bisa foto pakai timer. Maklum, kalau nge-date ini kesusahan kita ya foto berdua. Hehehe. Lumayan jadi ada foto bertiga sama Doraemon. 



Kalau membaca satu per satu cerita si gadget, agak lama juga sampai ke ujung, kita berdua sih heboh masing-masing membaca gadget favorit kita. Soalnya setelah area secret gadget kita masih harus melewati bagian cerita Doraemon. Nah di sini kita bisa menyaksikan pernikahan Nobita dan Shizuka... walaupun agak aneh kenapa di kue pernikahannya ada inisial N dan S ala kue di pernikahan Indonesia dan bukannya “no” dan “shi” pake hiragana hehe. Lalu kita bisa ikut naik mesin waktu! Nah, di sini kita bisa minta difotoin sama Mbaknya dan membeli hasil cetak yang sudah di-frame seharga Rp80,000 di akhir “petualangan”.






Di arena ini juga kita bisa mengintip lewat lubang ke mana saja (yang nyambung ke kamar Shizuka), pura-pura naik takecopter alias baling-baling bambu. Bisa pura-pura mencoba senter pengecil dan payung cinta. Bisa juga naik panggung sama Giant (kalau tahan sama suaranya).

Akhirnya kita sampai pada akhir petualangan dan bertemu shopping area. Ada banyak barang yang memanggil-manggil untuk dibeli nih.
Dudu: Ma, ada roti pengingat.
Mama: Buat apa?
Dudu: Supaya ulangannya bagus.

Harga barang berkisar antara Rp49,000 (ada rak khusus untuk yang dibawah Rp50,000) hingga ratusan ribu. Sebenarnya saya naksir bantal dorayaki dan tas yang ada kantong ajaibnya. Ya, namanya tas ibu-ibu kan biasanya sudah mirip kantong ajaib ya, semua bisa masuk di sana. Haha. Oh iya, tempat shopping untuk official merchandise dan yang barang-barang doraemon lokal (yang biasanya dijual juga di tempat lain seperti Gramedia atau Toys City) dipisah lho.




Total waktu yang kita habiskan di Doraemon Expo ini, termasuk shopping, hanya 1 jam. Doraemon Expo masih ada sampai 8 Maret 2015, jadi masih ada waktu buat yang belum berkunjung untuk mampir ke sini. Lumayan kalau mau sekalian ke Ancol. Habis dari sini kalau mau ke Gelanggang Samudera atau ke Atlantis juga masih panjang waktunya, atau bisa juga dibalik habis keliling Ancol baru sorenya ke sini. 



Hasil foto pakai timer. Lumayan kan?
Saya sih kalau ke Ancol biasanya foto-foto sama anak. Sekalian hunting buat instagram. Kalau mau lihat hasil foto dan cerita dibaliknya, tunggu postingan selanjutnya hehe.

20 January 2015

Lihat Kebunku Penuh Dengan Resolusi Hijau

Belum punya resolusi? Kenapa ngga menjadikan panen dari kebun sendiri sebagai resolusi? Selain mengajarkan anak tentang alam dan bagaimana cara merawatnya, makan hasil kebun sendiri rasanya lebih senang dan puas lho.

Ketika saya sudah masuk kerja lagi di antara Natal dan Tahun Baru yang kejepit kemarin, Andrew ikut si Oma berkebun di rumah. Jadi sampai kantor saya dapat kiriman foto hasil panen. Wah, banyak amat!


Begitu saya sampai di rumah, Dudu langsung pamer.
Dudu: Mama, kita panen pumpkin lho!
Mama: Pumpkin?

Perasaan kita ngga pernah menanam labu? Terbayang, labu orange yang siap disihir jadi kereta kuda Cinderella. Tinggal tangkap tikusnya aja dari got depan buat jadi kuda.

Lalu si Opa masuk membawa sebongkah ubi berwarna putih yang masih berlumuran tanah.
Dudu: Ini lho, Ma, Pumpkin!
Mama: Ini Ubi namanya Du.
Dudu: Bahasa Inggrisnya apa?
Mama: Sweet Potato, Du.
Dudu: Ayo kita timbang Ma!

Si ubi 4kg
Alhasil, si ubi yang beratnya ternyata 4 kg itu menginspirasi #DateWithDudu versi berkebun. Hari Minggu bangun pagi-pagi cuma buat menggali tanah demi panen ubi. Selama berkebun kita bertemu semut, cacing tanah, walang sangit, juga beberapa kecoak dan kucing yang penasaran.

Dudu: Cacing tanah! Bisa buat umpan mancing!
Mama: Ngga boleh, ntar siapa yang mau menggemburkan tanah kita? Biarin aja dia di situ.
Dudu: Tapi, Ma, aku mau mancing.
Mama: No! Cacing tanah tetap di tanah. Mama masih butuh dia buat menyuburkan tanah



Dudu menyerah dan melanjutkan menggali. Hari itu kita dapat 5 bongkah ubi yang semuanya raksasa. Kok bisa sebesar ini sih? Usut punya usut, si Oma (yang menguasai kebun di rumah) pernah menanam ubi. Tapi hanya untuk diambil daunnya, digoreng kering atau di-cah pakai bawang putih. Suatu hari tanah di pojokan naik ke atas, seperti digali oleh tikus tanak. Pas diselidiki, ternyata itu ulah ubi 4kg. Panen ubi, pake jijik karena harus berurusan dengan tanah dan lumpur, apalagi si anak kota yang kerjanya main di mall. Kena tanah sedikit, lari ke kran air buat cuci tangan. Yah, kapan selesainya nih panen?




Dari ubi merembet ke nanas, jeruk limau, kacang hijau (ini Dudu yang menanam gara-gara kelas IPA di sekolah) sampai ke sirsak, pepaya dan pisang. Ya, pisangnya masih harus menunggu beberapa minggu sih sepertinya. Semoga liburan tengah semester bulan Maret depan kita bisa panen lagi. Menjaga alam dimulai dari hal kecil seperti menjaga kacang hijau agar tumbuh dan menghasilkan. Kacang hijau ini ternyata rapuh, batangnya kecil dan kalau ditanam terlalu dalam atau terlalu dangkal malah tidak tumbuh.

Resolusi hijau yang sesungguhnya jauh lebih luas daripada ini. Misalnya seperti yang sekarang dilakukan oleh The Nature Conservancy Program Indonesia: melindungi terumbu karang, memulihkan hutan bakau, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Program ini juga mendukung upaya konservasi spesies yang hampir punah seperti orangutan dan pembangunan hijau di masyarakat. Sesekali mungkin boleh juga mengajak Andrew ikutan program konservasi, kalau ada yang ramah anak (maksudnya mudah dimengerti oleh anak-anak). Toh, anak-anak inilah generasi selanjutnya untuk melestarikan sumber daya alam kita. Sekarang ini kita mulai dengan mengenalkan kegiatan bercocok tanam, pupuk dan menikmati hasil kebun sendiri. Siapa tahu kalau sudah besar bisa jadi penyelamat hutan.

Ayo yang semangat berkebunnya!

Jadi, resolusi 2015 ini jangan lupa selipkan yang hijau juga ya. Sapa tau nantinya bisa sehebat yang dilakukan The Nature Conservancy Program Indonesia. Yuk, berkebun!

18 January 2015

Ikutan Garage Sale

Nothing to do, nowhere to go... liburan yang “di rumah saja” enaknya ngapain ya? Ikutan garage sale jadi pilihan.

Dimulai ketika Mama sudah tidak tahan sama begitu banyaknya mainan yang numpuk di rumah. Andrew yang libur 32 hari untuk akhir tahun (ini dia yang hitung sendiri lho), dan mulai membongkar mainannya karena bosan dengan apa yang ada. BUSED DAH!

Barang jualan kita yang sudah habis diserbu baru sempet difoto
Buku kita kumpulkan dan dibagi ke teman-teman saya yang anaknya baru masuk playgroup. Mainan disumbangin ke kotak-kotak di mall seperti yang sering kita lakukan. Lha kok tetap ngga habis-habis. Akhirnya, ketika sebuah twit muncul di timeline saya tentang garage sale, kita langsung daftar.
Mama: Kita ikut Garage Sale ya.
Dudu: Apa tuh?
Mama: Jualan mainan kamu yang sudah tidak terpakai
Dudu: Emang mainan bekas ada yang mau?
Mama: Ada dong. Garage sale itu khusus mainan bekas yang mau dijual murah.

Pada akhir minggu terkumpullah 3 box besar dan satu tas baju bayi si Andrew yang siap untuk dijual. Kita berangkat pagi-pagi dan mulai jualan pukul 9. Sebenarnya sih Garage Sale-nya baru buka pukul 10, tapi ternyata orang sudah datang menyerbu dan tempat kita jualan sudah kacau balau. Mainan segera laku dan habis sebelum pukul 10. Andrew takjub.

Lupa melayani pelanggan karena sibuk baca buku jualan
Menjelang siang, buku dan baju mulai diminati pengunjung, walaupun tidak segila mainan. Membuat saya bertekad akan segera beres-beres lagi.
Dudu: Kenapa sudah tidak ada yang mau beli lagi?
Mama: Karena barang kita sudah habis, tinggal baju saja.
Dudu: Kalau begitu ayo kita pulang.
Jam 3 kita selesai. Barang berkurang 2 kotak dan kita jadi lebih kaya sedikit. Si Dudu sih happy begitu tahu hasil penjualannya. Meskipun tempat Garage Sale tidak kids friendly karena pengap dan penuh debu (maklum di ruang tamu rumah tua), juga toilet yang tidak memadai, tapi ini jadi pengalaman berharga. Andrew bahkan dapat teman baru yang ditinggal ibunya berbelanja. Semoga ketemu lagi sama anak ini ya. Siapa tahu ibunya suka blogwalking hehe.

Andrew ketemu temen baru pas Garage Sale -- main puzzle bareng nih.
Pelajaran dari Garage Sale:
  1. Merelakan barang – ngga gampang loh untuk anak-anak merelakan mainannya “diambil” oleh anak lain. Namun dari awal, ketika menyisihkan mainan, saya sudah bolak-balik bilang bahwa “mainan ini dijual ya, dan kamu akan mendapatkan uang sebagai gantinya”. Jadi sejak memisahkan mainan, saya sudah menekankan bahwa mainan yang dia sisihkan adalah mainan yang dia rela untuk “berikan ke orang lain.”
  2. Mengerti arti uang, dalam hal ini “harga barang”. Setiap barang (meskipun bekas) tetap ada harganya. Barang yang untuk kita sudah tidak berguna pun, dapat membuat anak lain tersenyum. Jadi dengan begitu dia jadi tahu bahwa uang bukan sekedar alat penukar yang keluar dari mesin ATM Mama, tapi harga barang, plus harga memasarkan barang itu.
  3. Marketing dan lobbying. Hah? Berat amat? Ngga juga sih. Andrew belajar memasarkan barang yang sesuai dengan targetnya. Misalkan anak ibu-ibu bawa anak, langsung ditawarin buku. Atau ada anak beli buku 10 dikasi bonus 1. Ada juga yang anaknya diajak main, sementara si Ibu ngelayap belanja di tempat lain. Segala “trik promosi” bahkan sampai ala Mangga Dua yang teriak-teriak “mainan murah-mainan murah” dijalanin sama Andrew. 
Sayangnya, beberapa barang yang kita bawa tidak sesuai degan “target market” yang ternyata kalangan menengah ke bawah. Parkir juga cukup ribet dan barang pribadi harus benar-benar dijaga karena terlalu kacau balau di awal penjualan. Pengunjung biasanya tidak menunggu kita selesai membereskan meja namun langsung menyerbu barang-barang yang masih di kotaknya. Untuk yang ikut Garage Sale ini sih saya sarankan semua sudah dibereskan di rumah (kalau bisa pas datang sudah tinggal buka kotak) dan bawa bala bantuan untuk mengawasi barang. Datang pagian jam 8 (meski di briefingnya jam 9) supaya bisa lebih leluasa parkir dan menata barang.

Tapi kita tidak kapok kok. Next time mau ikutan lagi, kalau mainan bekas sudah banyak dan menumpuk di kotaknya.

02 January 2015

Museum Adventure: Museum Penerangan TMII

Akhirnya kesampaian juga ikut acara Museum Ceria sebelum tahun 2014 berakhir – dengan tema yang pas dengan tema liburan Andrew di 2014: Journalism. Acara Museum Ceria Family Weekend kali ini berjudul Niewslezer dan dilaksanakan di Museum Penerangan Taman Mini indonesia Indah tanggal 28 Desember kemarin.

Aku siap menyelesaikan misi!
Pas banget habis nonton Night at the Museum, eh acara ini muncul! Berangkat pagi-pagi dari rumah, akhirnya kita sampai di Museum Penerangan setelah sempat terjebak macet di dalam Taman Mini. Meskipun sempat agak bingung apakah kita boleh langsung memulai misi setelah registrasi atau menunggu briefing dari kakak panitia, kita akhirnya memutuskan memulai saja (karena anak-anak lain sudah langsung mulai juga). Sekarang gantian Andrew yang cerita yah...

Dudu: Hari ini aku dan mama pergi ke Museum Penerangan di Taman Mini. Sesampainya di sana kami mengantri untuk mendapatkan misi di pintu masuk. Misinya untuk menemukan barang yang adanya di kertas yaitu alat kode morse, pena emas, patung tokoh-tokoh, kamera TV jaman dahulu dan lain-lain. Kami juga harus membaca ejaan lama, seperti opa dulu. Ejaan lama seperti kode loh, Ma. Aku juga membuat magnet pembatas buku dan membaca cerita...
Mama: Sandiwara radio, Du. Jaman dahulu belum ada internet jadi film adanya di radio... tapi suaranya aja.



Belajar memecahkan kode morse, bikin pembatas buku dan membaca ejaan lama
Meskipun akhirnya agak kecewa karena...
Dudu: Aku enggak menang doorprize.
Mama: Ya kan yang penting bukan doorprizenya
Dudu: Iya juga ya.
Mama: Kamu belajar apa hari ini?
Dudu: Belajar banyak hal. Belajar memecahkan kode.

Ya si Dudu memang paling seneng sama kode-kodean sih. Mamanya susah payah menahan diri buat tidak mensabotase kegiatan si anak. Maklum... Mamanya kan Sherlockian. But it was fun... keliling museum sambil cerita sama Andrew tentang jaman dahulu kala (padahal saya juga belom tua-tua amat) dan seperti apa berita di jaman saya masih kecil dulu.

Sandiwara radio di depan diorama
Bagian dalam Museum Penerangan
Media Center Museum Penerangan
Tapi bukan cuma Museum Penerangan, soalnya Taman Mini itu satu arah, jadi untuk menuju pintu keluar kita harus melewati banyak anjungan dan museum. Dan karena macet (Keluar Taman Mini aja satu jam), Dudu jadi berkesempatan melihat-lihat museum yang lain juga, meski hanya dari mobil.

Dudu: Bukan cuma itu, aku melihat museum minyak bumi,museum listrik, museum transportasi dan teater Keong Emas. Ternyata kita juga dapat mengelilingi Indonesia hanya dengan mengelilingi Taman Mini dan setiap kota hanya sekotak atau sebox dan mereka harus menghafal bagai mana bentuk bangunan dan cara membuatnya untuk dibuat lagi di Taman Mini.
Mama: Kapan-kapan kita ke Museum yang lain ya, Du
Dudu: Iya. Aku mau ke Museum yang seperti benteng perang itu...

Jadi, resolusi #DateWithDudu di tahun 2015 adalah mengunjungi banyak museum. Terutama Museum layang-layang yang lokasinya hanya di gang sebelah itu. Dan tentu saja ikutan acara Museum Ceria yang lainnya juga. Soalnya kita selalu mencari alasan (dan dorongan) untuk pergi ke museum. Untungnya program Family Weekend dari Museum Ceria bisa jadi motivasi ke Museum.

Untuk info selanjutnya, cek di Twitter Museum Ceria ya