11 January 2014

Princess, Bajak Laut dan Alien

Masalah rumit dilihat dari sudut pandang anak dan diceritakan melalui narasi yang sederhana.


Dapat ajakan nonton film ini, saya senang, soalnya setelah Frozen dan Outback berlalu, saya lagi berencana ajak anak saya nonton Ronin, The Hobbit atau konser G-Dragon di bioskop (Jawaban Dudu: “Ih, Mama aja nonton Korea sendiri sana.”).
"Du, mau nonton film Princess, Bajak Laut dan Alien ngga?"
"Mau Ma!"
Jadilah hari Minggu itu pagi-pagi kita sudah nongol mondar mandir dengan manis di Rasuna Epicentrum.

At the movie premiere

Film apa sih ini?

Princess, Bajak Laut dan Alien adalah satu film yang terdiri dari 4 cerita. Pernah nonton Love Actually atau New Year’s Eve? Ya kurang lebih begitu idenya, walaupun keempat ceritanya ngga tersambung-sambung amat. Banyak pelajaran moral yang bisa dipetik dari film ini dan ngga terasa berat karena terbagi dalam empat cerita. Semuanya bisa jadi renungan (dan bahan ledekan saya ke Andrew kalau ada adegan yang mirip sama kelakuan dia).

Cerita 1: Misteri Rumah Nenek
Dua orang kakak beradik yang sering bertengkar datang ke rumah neneknya di desa untuk menginap. Tak disangka, di saat mereka tinggal berdua di rumah karena si nenek pergi ke kota membeli susu dan si supir/penjaga rumah pergi mengantar istri ke bidan, mereka harus berhadapan dengan penunggu rumah yang lainnya.

Cerita 2: Babeh oh Babeh
Seorang anak jawara main bola merasa malu ketika harus menceritakan di depan kelas bahwa ayahnya adalah seorang penyanyi dangdut. Sang ayah kemudian melamar pekerjaan kantoran. Namun apakah hal tersebut menyelesaikan masalah si anak? 


Dudu dan si "Penyanyi Dangdut"
Cerita 3: Kamu Bully aku B-boy
Cara cerdik menghadapi bullying adalah tidak dengan kekerasan. Seorang anak SD belajar B-boy yang sangat disenangi almarhum ayahnya dan menemukan bahwa sebuah tarian dapat membawa persahabatan.

Cerita 4: Princess, Bajak Laut dan Alien
Seorang anak kutu buku memberikan sudut pandangnya tentang ‘cap’ yang diberikan pada anak. Ketika teman-teman sebayanya memanggil dia aneh, orang dewasa bilang dia berbeda. Semuanya berubah ketika ada seorang putri dari rumah tetangga memberikan pandangan yang berbeda.



Saya dan "Alien" Kecil Saya

Film ini membuka banyak diskusi dengan anak saya.
Mama: Kalo Mama penyanyi dangdut gimana?
Dudu: Ngga mungkin, aku kan pernah ikut Mama kerja. Kantor Mama banyak komputernya.
Mama: Emang kalo Mama penyanyi dangdut kamu malu?
Dudu: Iya. Soalnya aku ngga suka dangdut.
Mama: Kalau pekerjaan Mama sekarang kamu malu ngga?
Dudu: Nggak.
Mama: Kenapa?
Dudu: Soalnya aku ngga tau Mama kerja apa....
Nah kan... anything but penyanyi dangdut.

Makanya favorit saya adalah cerita kedua karena mengusung masalah sosial juga (Yah, selain karena acting Tora di sini juga oke banget sih). Toh karakter si Tora dalam film itu penyanyi dangdut terkenal dan uangnya banyak (untuk level penyanyi dangdut RT RW). Yang jadi masalah hanya ‘dangdut’nya. Andrew malah ngga suka: “Lucu sih filmnya, tapi aku ngga terlalu suka.” Kenapa? “Karena penyanyi dangdut.” Nah kan anak saya juga stereotipikal. Kebayang gimana anaknya Inul sama anaknya KD kalo diskusi suatu hari nanti. Hahaha...

Tapi Andrew beda lagi. Dia paling suka cerita pertama karena berbau misteri dan anak kecil yang jadi jagoan/detektifnya. “Karena itu seram” katanya sambil nyengir. Sementara buat saya film pertama itu cheesy banget hahaha. Tapi kita sama-sama setuju kalau film ketiga itu yang paling membosankan (maaf ya Om Rizal). “Habis hanya menari-nari saja sih, Ma.”

“Film keempat tentang kisah cinta,” kata Dudu. “Tapi kenapa sih teman-teman Troy bilang dia aneh sementara Papanya bilang dia berbeda?” Aneh dan berbeda. Dulu saya paling takut si Dudu yang rambutnya coklat dan matanya besar dibilang teman-temannya. Belum lagi dia anaknya serius dan sering bertingkah terlalu dewasa seperti si tokoh utama film keempat.

Mama: Kamu dibilang aneh ngga sama teman-teman kamu?
Dudu: Nggak.
Mama: Mama ngga bilang kamu berbeda?
Dudu: Nggak...

Diam sejenak soalnya dia sambil main game.

Dudu: Harus berbeda dong. Kalau sama nanti aku tertukar sama anak lain gimana?

Eaaaa...



"Alien" kecil yang suka baca buku

09 January 2014

Biarin Aja (Bagian 2) "Tapi Aku Kan Cuma Mau Bantu..."

Pernah dapet protes itu dari anak?
Saya sering.

Saat anak saya menjatuhkan barang yang dibawanya, menumpahkan makanan bahkan memecahkan gelas yang sudah saya bilang "Mama aja yang bawa, Du, ntar pecah loh". Giliran kejadian, saya marah, dia protes "Kan aku cuma mau bantu Mama."

Lalu muncullah dilemma itu: to help or not to help?


Aku mau bantu Mama bawa koper dong!
Membiarkan anak membantu kadang membutuhkan extra kesabaran... dan extra energi untuk membereskan semuanya yang sering malah jadi kacau. Belum lagi kalau kejadiannya kayak kemarin. Sudah anak memecahkan gelas, kaki-nya kena beling pula. Sudah harus nyapu, harus ngurusin anak yang berdarah. Hal yang harusnya selesai dalam waktu 5 menit jadi selesai dalam waktu 30 menit.

Tapi saya sudah memutuskan untuk membiarkan si anak membantu semampunya. Kalau dia mau bantu bawa tas silahkan, bantu bawa gelas juga boleh tapi hati-hati. Itu pun kadang masih salah... soalnya apa yg menurut saya dia ngga mampu lakukan, menurut dia gampang aja dilakukan. Trus kejadian deh kayak kasus gelas itu.

*fiuh*

Tapi daripada dia berhenti membantu... menyerah menolong orang karena selalu dilarang, atau takut melakukan kesalahan saat membantu orang, saya lebih baik membereskan a mess he made for helping me. Soalnya bukan seberapa besar bantuan yang diberikan yang penting, tapi seberapa besar niat Andrew untuk membantu orang. Banyak yang akhirnya bilang anak saya terlalu baik. Dia bisa mendadak turun tangan membantu si Opa bawa tas, meskipun pas dia bawa tasnya malah jatuh trus kotor. 

Ada kalanya bantuan itu salah dan saya takut Andrew dibilang kaypoh (suka ikut campur urusan orang). Misalnya kalau ada anak nangis lalu Andrew sibuk menghibur. Atau kalau ada anak yang nakal lalu dia mengadu ke Miss wali kelasnya. Saya protes keras takut dia dicap tukang ngadu.
Mama: Nanti kamu kayak smurf kacamata. Tukang ngadu.
Dudu: Tapi aku cuma mau bantu Miss. Kasian anak murid Miss nakal-nakal semua.

Pokoknya tidak ada kata terlambat atau gagal dalam menolong orang lain. Semua cara halal!

Kayak kejadian baru-baru ini.
Melihat saya kerepotan menata makanan buat bekal road trip, Andrew buru-buru membantu, mencarikan sebuah kotak makan diantara tumpukan tas yang sudah rapi di bagasi mobil. 
Mama: Du, ngga usah, nanti berantakan lagi.
Dudu: Bentar, Ma. Hampir ketemu nih!
Mama: Ngga usah.
Dudu: Yah Mama. Kan aku cuma mau bantu.
Dan dia terus berjuang mencari kotak bekal itu (padahal di dapur juga ada). Saya yang mau ngomel karena pasti harus menata ulang bagasi mobil, ngga jadi marah begitu dia kembali bersama kotak makanan sambil tersenyum ceria karena berhasil membantu orang.


Begitu saya mau protes soal akibat dari bantuannya....
 Saya harus menghadapi muka seperti ini:
"Kan aku cuma mau bantu..."

Gagal deh marahnya...
Ya udah biarin aja



06 January 2014

Biarin Aja (Bagian 1): “Ini warnaku...”

“Du, awas gunting itu tajem.”
“Du, itu catnya berantakan. Gimana sih mewarnainya? Masa pohon warnanya biru?”
“Du...”
Akhirnya anak saya bohwat dan ngambek karena saya terlalu cerewet.


Ikutan acara menggunting menempel pas usia 3 thn
 “Mama pipi gembul yang cerewet.” Begitu katanya. Cuma-gara-gara saya memperingati dia tentang bahaya menggunakan gunting. Padahal gunting itu juga gunting yang aman untuk anak-anak, yang saya beli karena khawatir kalau Andrew pakai gunting beneran... tapi tidak mau membatasi kretivitasnya.

Kadang kita gemes banget ngeliat si anak menempel ngga rapi, mewarnai keluar garis, menggunting ngga sesuai garis putus-putusnya dan menggambar seenaknya. Tapi kita harus ingat bahwa well, yang menggambar kan mereka. Ya terserah mereka dong mau pake krayon yang mana. Jadi cobalah menahan diri, tarik nafas panjang dan biarkan anak-anak berimajinasi sesuai apa yang mereka bayangkan. 


Serius bekerja at Kiddy's Place
Believe it or not, it took me years to let go. Membiarkan pohon berwarna ungu atau awan berwarna hijau (memangnya mau ada tornado?). Terutama waktu dia ikutan lomba mewarnai dan nangis karena kalah. Dan sekarang, setelah dia lulus TK dia mulai mewarnai dengan warna yang "benar" (menurut pandangan umum itu warna yang benar) tapi dia juga punya dunia imajinasi di mana semuanya dia yang atur. Saya ngga pernah mengikutkan dia lomba mewarnai.

So akhir tahun 2013 lalu, saya mampir untuk pertama kalinya ke Kiddy's Place, tempat yang mewarnai gambar itu. Di saat semua ibu-ibu sudah duduk manis bersama toddler mereka, anak saya sudah SD dan baru pertama kali mencoba mewarnai.

Kacau?
Ngga juga tuh ternyata. Kita seru mewarnai berdua, belepotan berdua dan puas banget sama hasilnya. Meski kali ini saya yang harus minta ijin boleh ngga sepatu ice skating itu diwarnain hijau (ya boleh lah,hijau kan warna kesukaan Dudu).

02 January 2014

Beda Tinggi Beda Persepsi

Suatu hari, pada saat anak saya berenang, ada anak yang tenggelam. Menyadari hal itu, ayah si anak langsung nyemplung ke kolam renang untuk menolong anaknya. Begitu anaknya selamat si anak dimarahi karena kurang hati-hati padahal sudah berulang kali dinasehati soal berenang. 

Dari perspektif saya sebagai orang tua hal itu wajar terjadi. Anak yang harus kita “selamatkan” karena nekat melakukan apa yang kita larang. Tapi ternyata Andrew punya pandangan berbeda. “Kasian ya, Ma. Sudah tenggelam, dimarahi lagi sama ayahnya.”

Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga.
Tapi benar juga ya.






Banyak hal dalam hidup ini yang kita lihat dengan mata kepala kita sebagai orang tua ternyata berbeda dengan apa yang dilihat anak-anak kita di bawah sana. Ketika anak saya bayi, dokter anak saya memberi nasihat bahwa anak senang bereksplorasi. Kalau dia masukkan sepatu ke dalam mulut itu karena dia pengen tau rasa sepatu. Bukan karena dia mau makan sepatu. Kalau dia mencoret tembok, dia pengen tau apa yang terjadi bila temboknya berwarna... termasuk reaksi kita (yang biasanya ngomel).

Coba bayangkan yang ini. Seorang pengemis di jalan, dengan wujud mengenaskan meminta uang sambil menyodorkan topi. Anak saya otomatis kasian. Saya, karena sudah baca berita bahwa banyak pengemis menolak dikasi kerjaan layak sama pemerintah karena penghasilan mereka lebih dari UMR setempat, malas memberi pada pengemis. Buat anak saya yang belum mengerti politik dan pemerintahan, memberi kepada pengemis ya memberi kepada orang lain. Ngga beda.

Sekarang anak saya 7 tahun, sudah pinter ngeles, pinter ngejawab (yang sering dibilang ngga sopan sama generasi tua) dan saya belajar bertanya dulu sebelum marah. Soalnya anak saya punya motto “Kalo Mama cegah, saya tetap lakukan soalnya saya penasaran. Dimarahi itu soal belakangan.”

Andrew pernah mewarnai tembok kamar mandi dengan cat air (yang bikin papa saya stress), waktu saya tanya jawabannya enteng. “Lagi belajar campur warna, Ma.” Ya memang sih, di tembok itu ada merah dicampur biru, dicampur hitam... tapi kan... *sigh*

Sekali waktu dia kena. Kejepit pintu atau tersiram air. Saya tersenyum “syukurin.”
Dia protes, “kok syukurin? Mama ngga sayang sama aku ya?”
“Syukurin. Sapa suruh kamu ngga dengerin Mama. Sekarang kena akibatnya ya Mama ketawain deh. Apa mau dimarahin aja?”

Dia manyun. Saya tertawa.

Sudah jatuh tertimpa tangga ya, Du?

30 December 2013

A 7-year-old Going on a Shopping Spree

Andrew paling sebal kalau saya belanja. Pasang copot sepatu, bolak balik masuk ruang ganti, akhirnya ngga beli apa-apa. Hari ini gantian dia yang genit sampai tante penjaga toko ikut geleng-geleng kepala.

The winning tweet
Ceritanya berawal dari menang kuis. Yes! Dapat voucher bisa belanja tas. Dasar nasib, belum sempat belanja, sudah ketahuan bahwa yang diikutkan kuis adalah foto si Andrew. Yah, memang sih, itu kuis dari twitter @FimelaFamily tentang #GayaSiKecil dan saya pasang foto anak saya yang memang model part-time itu. Alhasil, begitu menang, si kecil pemilik gaya meng-klaim voucher Just For Kids/TypoError yang saya dapat. 

HORE, kita belanja.
Pertama masuk Just For Kids. Mondar mandir dia ngga ketemu t-shirt yang cocok dan pas buat badannya yang agak panjang itu. Sepatu juga kecil, topi juga kecil... jadilah kita ‘mengungsi’ ke toko sebelah, TypoError yang membawa lebih banyak aksesoris. Baju TypoError semuanya untuk dewasa. Sebenarnya ada yang ditaksir anak saya, sudah dipegang-pegang itu kemeja, mau buat luaran (yaelah gaya bener) katanya, tapi saya cut. “Kalo kamu pake itu ntar jadi daster.” Akhirnya kita beralih ke aksesoris.

Sebuah topi army dipegang, dibalikin. Dipegang lagi. Trus masuk ruang ganti. Pose-pose sedikit habis itu dia cari kacamata hitam. Pertama yang frame biasa, trus frame biru muda.... trus saya suruh coba frame putih, dia ngga suka. Pas dia mau ambil frame kuning berbentuk hati, saya stop “Apa-apaan itu kacamata cewek.” Dia ngakak. Please deh ini anak. Pilihan dia jatuh pada cap army (the only cap with green-ish color there) dan kacamata frame biru muda.

“Fotoin dong Ma, aku belanjanya ini.”
Sampe kasir, harganya lewat dari nilai vocer. Hahaha ya sudahlah. Eh... Andrew bukannya berhenti malah sibuk pegang kalung (“itu barang cewek!” Jerit saya) dan mencoba cincin tengkorak berwarna merah menyala (“Aku suka yang serem-serem loh Ma, ini keren.”) yang langsung ditolak oleh saya sebagai pihak pembayar belanjaan. “Wah, sekarang aku punya kacamata hitam, aku bisa ke beach.” Komentarnya di kasir yang disambut tawa satu toko.

15 menit kemudian setelah ber “thank you” dengan tante penjaga toko, kita keluar bawa kantongan.

Dudu: Kacamata hitamnya boleh dipake, Ma?
Mama: Ini di dalam mall kaleeeee.
Dudu: Biar keren dong Ma. Biar semuanya lihat. Tolong copotkan labelnya.
Haizzzzzzz
Eh, malah ketawa liat saya putus asa.

Dudu: Tapi aku senang loh. Ini pertama kalinya aku belanja.
Mama: Ya syukur deh kalo kamu senang.
Dudu: Ternyata shopping is fun. Let’s do it again.
Mama: Laen kali kamu beliin itu tas inceran Mama.
Dudu: Baiklah, lain kali Mama boleh shopping juga... tapi bayar sendiri ya, Ma.

Well, he got to choose items he likes; he got to try them on too. He got to pay and brought the shopping bag home. Who says boys don’t go shopping? This one boy definitely knows what he wants to add to his wardrobe.


Thanks to @FimelaFamily and @justforkids28 for making this possible.

24 December 2013

Guci: A Hidden Destination

It started with a sudden turn my mom made somewhere in Tegal. 
After an hour or two drive, we finally get to see this:



Selamat datang di Guci.

Setelah mendengar tentang Guci sekian lamanya dari Nenek yang bolak-balik retret bersama gerejanya ke sana, akhirnya kita mampir juga ke “daerah wisata legendaris” ini. Kenapa legendaris? Soalnya cerita tentang Pemandian Air Panas di Guci sudah dari jaman saya masih kecil, dan kita bisa setahun dua kali lewat Pantura, tapi itidak pernah ke Guci. Akhirnya kesampaian, dan sekaligus dua kali. Desember 2012 dan Maret 2013.

Ngapain sih di Guci? Well, the first thing is escaping the hustle and bustle of big city noise. Udara segar, pemandangan alam yang indah dan suasana yang relax membuat Guci cocok dikunjungi bersama keluarga. Tapi mirip-mirip sama Puncak, kalau musim liburan penuh banget. Dan wajib booking. Soalnya, luck doesn’t come twice. Meskipun di kunjungan pertama kita berhasil dapat kamar di hotel Duta Wisata Guci Tegal (owned and managed by 2Tang), di kunjungan kedua, hotel itu penuh banget dan kita terpaksa pulang hari dan nginep di Brebes.

Dari dua kali kunjungan itu, kita dapat banyak pengalaman.




Day Visit vs Staying Overnight
Pulang hari juga asyik kok. Guci ngga mengenal waktu meskipun asumsi saya lokasi wisata ini baru buka sekitar jam 8, tapi karena wisata alam, ya 24 jam available. So if you want to do a day trip, go early and decide where you’d go and stay overnight afterwards. Brebes, Tegal, Purwokerto? Kalo dari dan balik Jakarta sih buat saya yang bawa anak kecil, agak kejauhan ya.

Kalau menginap, siap-siap bosen sama makanannya. Banyak warung jajanan, tukang sate dan buah segar, tapi ya itu. Makan paling enak di hotel. Anak saya juga bisanya makan di hotel. Banyak hal yang bisa dilakukan dan kita jadi lebih santai. Tapi siap-siap kalau malam dingin dan bingung mau ngapain begitu matahari terbenam. Good family bonding chance sih.



Hotel Duta Wisata Guci Tegal

Where to Stay
Highly recommended is Hotel Duta Wisata Guci. Selain ada kolam renangnya (gratis bagi tamu hotel), kamarnya juga cukup bersih. Keluarga bisa menyewa villa dan tinggal lebih nyaman. Tapi di sekitar Hotel itu ada beberapa hotel lain yang lebih kecil dan beberapa vila yang disewakan sepanjang jalan menuju Guci. Jika mengunjungi Guci saat high season, sebaiknya booking dahulu.


What to Do (with kids)
  • HIKING! Ya ngga beneran naik gunung sih, tapi berjalan ke atas bukit lalu melihat pemandangan Guci dari atas. Bagus banget! Di kunjungan kedua kita naik sampai ke atas, ketemu hutan pinus (?) (This is Andrew's favorite thing to do: "Aku suka ke Guci, gunungnya tinggi dan kita bisa naik sampai atas.")
  • Permandian air panas. Ada permandian umum kalau mau air panas, atau kalau sekadar bermain air sih bisa di kolam renang hotel. 
  • Naik kuda.
  • “Treasure Hunting” berkeliling pasar melihat makanan dan buah segar.


Swimming Pool at Duta Wisata Guci



Maximize Your Trip:
Yang jelas, lupakan gadget dan TV selama di sini. Selain susah sinyal (dan colokan haha), suasana tempat ini juga somehow membuat kita ngga ingin pegang gadget.

Hello from the Guci Hilltop

18 December 2013

A Smart Challenge

Smart itu pintar? SALAH! Smart itu cerdas... cerdik... licik... ya pokoknya ngga gampang dikibulin. Kalo bisa malah kita yang ngibulin orang lain hehehe.



Anak saya smart. Saya ngga (berani) bilang Andrew pintar, soalnya raportnya suka kebakaran dan saya sering dilaporkan kalau anak saya kurang konsentrasi di sekolah. Tapi anak saya smart. Soalnya dia bisa mengatur waktu belajarnya sendiri, dan menegosiasikan itu dengan ‘pawang’nya yaitu Papa saya (si Opa) yang GUALAKnya minta ampun kalo sudah soal sekolah. Buat si Opa ini, hari pendidikan nasional itu tiap hari... termasuk hari Minggu.

Opa: Andrew belajar sekarang!
Andrew: Nanti dong Opa. Jam 2 ada film Pororo, Jam 3 aku mau nonton Doraemon, Jam 4 aku mandi. Jam 5 deh aku belajar sampai allahuakbar.
(maksudnya sampai Adzan Magrib)

Atau ngibulin si Oma biar dibelikan mainan.
Andrew: Oma, kalau ini hari terakhir Oma, Oma mau apa?
Oma: Oma ada tabungan buat kamu, buat mama kamu....
Andrew: Oma ada tabungan? Bisa beli mainan? Bisa nginep hotel bagus dong.
Nah kena kan...

Bukan hanya anggota keluarga yang jadi korbannya. Andrew punya kemampuan negosiasi yang menurut saya agak licik. Contohnya seperti di postingan saya tentang Kids Meal, di mana dia berhasil menukar jus yang ada di menu dengan jus apel kesukaannya (padahal tidak tertulis di menu) tanpa extra charge. Atau kejadian waktu saya menunggu boarding pesawat di Soekarno-Hatta, ketika ada satu cewek cantik 20-an duduk mainan iPad di samping kita.

Andrew: Tante, itu iPad ya?
Tante: Iya. Ih kamu lucu deh. Namanya siapa?
Andrew: Andrew, Tante.
Tante: Mau naik pesawat juga?
Andrew: Iya. Tante mau ke Semarang juga?
Tante: Iya... Kamu kok lucu sih?
Andrew: Tante, iPadnya ada gamenya?
Tante: Ada nih (menyalakan game)
Andrew: Maininnya gimana?

Bisa ditebak bahwa tidak sampai semenit kemudian si Andrew mendapatkan pinjaman iPad untuk main game dari seorang Tante cantik yang baru dikenalnya. Dan waktu itu Andrew masih TK. Smart kan?

Tapi Smart juga berarti ngga pernah kehabisan akal.

Anak saya suka bawa mainan pistol-pistolan ke Mall. Jadi kalau jalan-jalan kita berdua suka dapat pandangan iri dari anak-anak kecil lain dan pandangan horror dari orang tuanya karena Andrew sibuk “nembak” kesana kemari. Saya sering melarang dia bawa senjata ke mall soalnya saya stress takut dia ngga sengaja mukul orang or menjatuhkan barang dagangan.

Andrew: Ma, boleh bawa pedang?
Mama: NGGAK!
Andrew: Pistol ini?
Mama: Nggak boleh. Kamu tuh kenapa sih bawa senjata melulu? Bawa tuh buku, robot-robotan yang muat masuk ke dalam tas jadi ngga susah kan bawanya.
Andrew: Ya udah deh bawa buku dan robot-robotan.
Mama: (memperhatikan apa yang dimasukkan ke tasnya) EH! Itu kenapa pistol ikut masuk?
Andrew: Kan kata Mama yang bisa muat di tas. Ini pistol kecil kok muat di tas. Boleh dong.
Mama: (sudah malas berdebat) Ya terserah deh sana asal jangan merepotkan Mama.
Andrew: Asyikkk Mama baik deh. Mama cantik... aku sayang Mama.

Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Kalau perlu, jalan tikus pun dicoba asal tujuan tercapai. Gitu kali prinsipnya ya?

Tapi kecerdikan Andrew tidak terlepas dari lingkungan sekitarnya juga. Ada si Om yang hobi bikin barang recycle. Yang membuat Andrew tiap ketemu barang baru selalu bertanya “Kenapa cara kerjanya begini?” atau “ Gimana ini bikinnya?” Ada si Opa yang bikin Andrew jadi disiplin dan berpegang pada janji... dan bisa negosiasi waktu. Dan ada acara TV yang ditontonnya yang membuat Andrew jadi bicara bahasa Indonesia baku dan kerap catch adult off-guard when they first meet him.

“Anak loe pinter ya. Bahasa Indonesianya bagus.” Kata seorang temen saya yang terkagum-kagum waktu pertama bertemu Andrew. Belum lagi kalau dia melontarkan pertanyaan “ingin tahu” sederhana yang tidak bisa dijawab oleh teman-teman saya seperti “Kenapa tante suka permen? Permen itu kan membikin gigi jadi sakit.” atau pertanyaan complicated macam yang terlontar ketika dia menyaksikan adegan Superman mematahkan kepala Jendral Zod: “Kenapa Superman sedih, Ma. Harusnya kan dia senang musuhnya sudah kalah.” Pertanyaan itu berujung percakapan panjang tentang suku bangsa dan asal usul sesorang.

Dan sekarang dengan bahasa Inggris yang sudah cas cis cus alias lancar, semakin banyak orang dewasa yang bengong kalau bertemu anak saya.

Tapi anak zaman sekarang memang sudah berbeda dengan zaman saya dulu. Anak saya sudah fasih main tablet sejak usia 4 tahun, sementara saya dulu baru pegang HP pas sudah SMA. Dengan segala resources yang ada, memang seharusnya anak sekarang jadi lebih smart. Cita-cita anak saya (yang dulu pas TK mau jadi nelayan itu) adalah menjadi seorang professor atau game developer.

Dari tadi cerita anak saya terus hehehe maklum namanya juga emak-emak ya kan? Trus apa dong yang membuat saya merasa smart? Yang pasti saya merasa smart kalau berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan ajaib yang dilontarkan anak saya. Apalagi kalau berhasil balik ngibulin si Smart Boy itu. Rasanya seperti jadi orang paling smart sedunia. Padahal lawannya cuma anak kecil 7 tahun.




Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel

http://emakgaoel.blogspot.com/

16 December 2013

Hore menang tiket nonton Outback!



Semuanya bermula dari ketika Andrew menjawab pertanyaan berikut ini di website XYKids.

Apa yang kamu ketahui ttg koala dan apa yang kamu mau lakukan kalo punya teman koala?

Jawaban Andrew:

Aku tahu mereka sering nempel di pohon, mereka makan daun...e r... apa Ma? Oh iya eucalyptus. Mereka tidur di pohon. Mereka hidup berkelompok jadi sering bersama-sama satu sama lain. Bulunya abu-abu dan badannya gemuk. Kalau dipeluk Koala pasti empuk. Kalau berteman sama Koala aku mau peluk-peluk biar jadi guling. Aku ingin punya teman Koala yang bisa jadi adik, soalnya aku tidak punya adik.

Koala punya arti tersendiri buat saya. Kalau ditanya apa yang saya ingat dari Koala? Pasti bau (serius ini kayak anjing ngga dimandiin sebulan) dan beratnya yang bikin tangan encok waktu nyobain gendong pas di Perth. Yah, tapi saat itu juga saya masi SD. Koala dewasa kan memang berat. Fast forward to today.... saya punya seorang anak cowok yang nempel sama saya. Anak cowok yang susah disuruh mandi dan beratnya juga minta ampun kalo digendong. Ya kurang lebih mirip koala deh. Hanya saja koala yang ini sering merengek minta mainan bukan eucalyptus.

(waktu baca entry ini, si anak protes: “Kenapa Mama menjelek-jelek-an aku di depan umum?” trus ngambek sama saya.)



Anyway, sekilas tentang film Outback:

Seekor Koala albino bernama Johnny berusaha menemukan tempat dimana dia bisa diterima tanpa diskriminasi. Bertemu seekor tasmanian devil bernama Hamish dan teman monyetnya, Johnny akhirnya menjadi bintang freak show karnaval keliling. Dalam satu pejalanan, gerbong tempatnya tinggal terlepas dan ketiga binatang ini terpisah dari rombongan dan terjebak membantu binatang-binatang yang tinggal di billabong mempertahankan daerah mereka dari serbuan buaya jahat bernama Bog.



SPOILER ALERT!

Selesai nonton, saya minta Andrew menggambarkan 3 adegan kesukaan dia di film Outback. Yang pertama tentu saja si monyet yang selalu bawa kamera kemana-mana dan sibuk mendokumentasikan petualangan mereka. Yang kedua adalah si anjing-anjing Dingo anak buah buaya jahat Bog. Yang ketiga adalah adegan pertarungan Johhny the Koala Kid melawan dua ekor ular.

“Jadi waktu itu si Koala bilang ‘I can only feed one person who will it be?’ terus ularnya berantem. Punya aku punya aku begitu, sambil pukul-pukulan pakai kepala. Habis itu mereka malah kusut.” Dan Andrew ketawa ngakak ngga berhenti.


Yang jelas keluar dari bioskop saya jadi ingin punya koala... at least bonekanya deh.