19 May 2021

Single Mom dan Parental Burnout

Pernah merasa lelah jadi orang tua? Saya pernah. Dan nggak seperti pekerjaan yang bisa ‘ditinggal’, jadi orang tua itu komitmen sepanjang jaman.

Bulan depan, saya 15 tahun jadi single mom. Takjub juga bisa bertahan segitu lama, padahal tidak sekali dua kali saya merasa capek, merasa sendirian dan kayaknya mau udahan aja. Seperti waktu saya nonton konser NKOTBSB tahun 2012 lalu. Anak saya masih 5 tahun, saya tinggal menggejar impian ketemu Nick Carter. Tentu saja kepergian itu diiringi “cibiran tetangga” dan “komentar tante” yang merasa saya egois.


Di tempat konser, saya bertemu banyak mama-mama seumuran yang tiba-tiba kembali jadi ABG. Dan percakapan mereka begini:

“Eh, anak gimana?”
“Gue titip laki gue lah.”


Kalau yang punya pasangan, anak bisa dioper. Kalo yang single mom kayak saya, ada siapa? Kalau ibu bekerja yang punya pasangan, uang bisa dipakai beli tiket konser. Ada pasangan yang bantu beli susu. Kalo saya, mau berbagi biaya sama siapa?

Eits, ini bukan berarti saya lantas sedih lalu lelah dengan keadaan dan pasrah ketika burnout. Soalnya, sama seperti burnout yang lainnya, parental burnout ini juga berbahaya. Lebih berbahaya malah, karena efeknya bisa ke anak.

Apa itu Parental Burnout? Psikolog Herbert Freudenberger mendifinisikan burnout sebagai "kondisi kelelahan mental dan fisik yang disebabkan oleh kehidupan profesional seseorang". Parental Burnout dijelaskan sebagai rasa lelah fisik, mental, dan emosional pada orang tua saat mengasuh anak. Hal ini terjadi ketika rasa lelah melebihi kebahagiaan mengasuh dan memiliki anak. Di tengah pandemi begini, ketika kita harus 24 jam bersama anak di rumah, parental burnout dapat terjadi.

Kebanyakan orang tua, termasuk saya, biasanya tidak berani mengaku karena akan menghadapi judgement dan tekanan masyarakat. Masa mengurus anak sendiri bisa burnout? Well, lihat ke diri sendiri dan akui kalau memang burn out. Burnout-nya memang sementara, tapi efeknya ke anak bisa selamanya. Trus gimana dong?

Ada beberapa hal yang saya lakukan:

Cari ‘Pasangan’
Bukan pengganti mantan suami, bukan. Ini maksudnya pasangan tandem yang bisa dititipin anak ketika kita membutuhkan me time. Bisa orang tua, adik, kakak, tetangga, teman, bahkan daycare. Beruntung support group saya permanen di rumah, jadi saya bersyukur bisa lebih santai. Dan punya adik-adik yang supportive, mau dititipin ketika saya pamit nonton konser CN Blue. Ketika anak sudah lebih besar, atur playdate nonton bioskop jadi kita bisa ngopi-ngopi satu dua jam sendirian. Hehe. Atau mengikutkan anak ke workshop seperti Workshop Penyiar Cilik Woman Radio ini.

Mengikutkan Dudu ke workshop Woman Radio - biar saya bisa 'me time'

Kenali Batasnya, Jangan Malu Bilangnya
Berani mengakui, dan ajarkan anak untuk membantu. Misalnya dengan bilang “mama lelah, tolong biarkan tidur sebentar.” Tidak ada yang salah dengan capek. Saya sering lelah lalu ketiduran sendiri di sebelah Dudu yang lagi main PS. Padahal janjinya kalau akhir pekan mau main PS barengan. Saya yang single mom, mau tidak mau meminta anak untuk belajar ‘maklum’ dan ‘mandiri’ ketika orang tuanya sedang burnout.

Take a Break alias CUTI
Sama seperti pekerjaan yang bisa ambil cuti kalau burnout, parenting juga sama. Tantangannya tentu saja lebih berat daripada kerja kantoran. Soalnya saya pernah jadi korban julid waktu “cuti 3 hari” dari Dudu karena saya pergi nonton Konser K-pop di Malaysia sendirian. Padahal Dudu-nya maklum, yang komentar malah orang lain. Lalu saya sadar, cuti ini termasuk cuti mendengarkan omongan orang yang tidak berkontribusi terhadap kehidupan saya dan Dudu. Habis pulang ‘cuti’ kan jadi kangen anak lalu hidup jadi lebih baik. Hehe.


Pergi nonton konser K-pop sendirian di Malaysia.
Karena sendirian, jadi tidak ada fotonya

Berdamai dengan Penyebabnya
Terkadang, saya menyadari bahwa hilangnya motivasi mengasuh anak bukan dari anaknya sendiri, tapi dari faktor luar. Misalnya karena tinggal serumah dengan orang tua, sering kali oma opa ikut campur dengan cara pengasuhan anak. Atau mungkin karena serumah dengan kakak dan keponakan, kita jadi harus ‘menyamakan’ cara membesarkan anak untuk menghindari kericuhan local. Kalau penyebab ini bukan sesuatu yang dapat saya hindari secara permanen, mau tidak mau, saya akan berusaha berdamai dengan keadaan. Kalau tanda-tanda burnout sudah muncul, saya biasanya mencoba planning staycation berdua Dudu. Jadi saat pulang kembali ke rumah, sudah lebih refresh menghadapi “orang ketiga” dalam gaya parenting saya.

Staycation cuma buat kabur main PS4 seharian

Jadi, saya survive 15 tahun membesarkan si Dudu. Burnout itu wajar terjadi, yang penting jangan kalah sama burnout, Moms!

1 comment:

  1. Terima kasih sudah menginspirasi. Beberapa sudah saya praktikkan.Travelling dengan teman, karaoke seharaian. Jadi pengen nonton teater juga. Hahaha. Makasih mbak.. Sehat bahagia with Dudu.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.