15 June 2018

Menjawab Kekepoan di Kumpul Keluarga

Yang paling harus dipersiapkan menyambut Lebaran adalah mental dan segudang jawaban penangkal pertanyaan keluarga yang penuh perhatian.

Bahkan saya dan keluarga yang tidak berlebaran pun merasakan hal yang sama ketika Tante yang satu ini sudah memposting undangan “makan opor ayam” di grup chat keluarga. Opor ayamnya enak. Si Tante memang jago masak. Percakapan yang terjadi di meja makan ketika kita sedang sibuk mengunyah juga dahsyat. Topiknya bisa beragam, dari pacar, jurusan kuliah hingga rencana traveling. Meskipun sering harus melakukan persiapan ekstra, saya tetap menunggu seri sharing session keluarga ini. 


Ngumpul setiap tahun sekarang sepupu yang ini sudah pada mau kuliah.
Tahun lalu obrolannya tentang sekolah. Masuk SD, masuk SMP, masuk kuliah sampai ke pekerjaan pertama seorang sepupu yang baru lulus. Tahun ini sepertinya akan fokus ke pernikahan adik bungsu saya yang tinggal menghitung bulan ini. Untungya si adik sedang di luar negeri jadi dia terselamatkan dari pertanyaan kepo para Tante.

Dan meninggalkan saya sebagai juru bicaranya.

Setelah itu pasti pertanyaannya jadi berubah: “kamu kapan nyusul?”
“Anak saya sudah SMP, Tante.”
“Ya, makanya, nanti keduluan Dudu dapat pacar lho.”
Yha, terus kenapa gitu?


Pernikahan adik bungsu saya mau tidak mau akan mengembalikan fokus ke saya yang masih happy dengan status single mommy. Saya pernah bangga kalau sudah punya anak, tidak ada keluarga yang akan repot dan menanyakan pacar saya atau kapan si Dudu punya adik. Kebanyakan akan sungkan karena status single parent yang dianggap masih tabu di masyarakat. Ternyata saya salah karena jaman sudah berubah. Dengan keterbukaan saya akan status single mommy ini, para keluarga juga jadi tidak sungkan menanyakan: “pacarnya mana?” dan jawaban “saya sudah punya anak” tidak membantu saat makan opor ayam jadi lebih tenang.

Tipsnya apa?

Do: Tangkis, lempar fokus ke sanak saudara lain. Si A lagi hamil, si B lagi cari kerja. Oke sip. Bisa jadi korban.

Don’t: Jangan alihkan ke yang sedang siap-siap menikah juga. Soalnya saya pernah kena batunya. “Nantilah Tante, habis si X menikah. Gantian kan.” Lalu, Tante saya dengan cueknya menjawab, “loh, justru ini biar bisa dibawa ke pernikahan X.” Yah, gagal.

Do: Jujur. Jawab seadanya.

Don’t: Terlalu jujur. Apalagi kalau sampai memaksakan pandangan sendiri yang jelas akan berbeda dengan pandangan generasi si Tante. Kalau sudah mentok, senyum aja trus ke dapur pura-pura cuci piring haha.

Do: Sibuk ngomong sama sepupu yang masih kuliah atau main sama keponakan.

Don’t: Kelihatan keibuan. Soalnya yang ada si Tante malah komen, “kayaknya udah cocok tuh Dudu punya adek.”

Do: Berikan jawaban ngambang. Misalnya “oh ada tapi baru deket doang.” Atau “Nanti kalau sudah pasti baru dikenalin dong.”

Don’t: Keterusan berkhayal haha. Yang ada pulang dari silaturahmi malah jadi baper. Dan jangan terdengar oleh anak. Soalnya yang model Dudu pasti akan nyeletuk, “Hah? Mama kan tidak punya pacar,” lalu ketahuan bohongnya.

Do: Cari saudara senasib. Biasanya ada sih sepupu yang sama-sama terzolimi lalu jadi bisa saling memberikan dukungan.

Don’t:
Sok tahu dengan alasan dan kondisi saudara senasib tersebut. Saya biasanya cuek karena sedang senang jadi jomblo, tapi si X belum tentu. Bisa saja dia baru putus dan malah sedih.

Tapi, apapun percakapannya, saya tetap menyambut hari Lebaran dengan opor ayam di rumah si Tante dengan semangat.

1 comment:

  1. jawab aja "tunggu undangannya aja tante. kalo sekarang di bawa2 terus tau2 gak jadi kan nyesek. kalo udah bagi2 undangan kan udah pasti sama dia."

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.