13 July 2017

Obrolan di Meja dan Opor Ayam

Lebaran selalu identik dengan opor ayam di rumah tante yang satu itu. Padahal kita tidak ada yang merayakan Lebaran. Cuma sekedar kumpul, makan dan ngobrol. Seru? Ya seru sih, habis kalau tidak begitu kan kita jarang ngobrol.

Obrolan kok tentang sekolah? Hehehe.
Obrolan yang wajib adalah tentang sekolah. Tahun ini satu keponakan saya naik ke TK B, sehingga percakapan memilih sekolah dasar menjadi topik hangat. Apalagi sepupu saya ini tinggalnya tidak jauh dari sekolah si Dudu. Memilih sekolah, apalagi sekolah dasar, menjadi hal yang sulit untuk beberapa orang tua muda. Soalnya banyak kriteria yang ingin dicapai. Anaknya sudah TK berbahasa Inggris, sayang kalau kemampuan bahasa Inggrisnya hilang. Kalau begitu sebaiknya masuk sekolah internasional. Tapi, sekolah internasional macam sekolah si Dudu bukannya perfect. Selain cenderung mahal, anaknya juga banyak yang datang dari keluarga kaya dengan attitude yang menurut saya kurang oke. Tapi entah kalau menurut orang tuanya. Hehe. Pernah nonton Meteor Garden? Ya seperti Taomingse kecil begitulah teman-teman si Dudu. Yang kalau tabletnya rusak, besoknya sudah dibelikan gantinya oleh orang tuanya. Sementara Dudu beli tablet susah payah dari mengumpulkan hasil kerja sendiri dan uang angpao Imlek.



Lalu sekolah Nasional Plus. Bagus sih, cuma berat pelajarannya. Satu anak teman saya masuk sekolah nasional plus (soalnya kata “internasional” sudah tidak boleh digunakan lagi katanya) dan pelajarannya dobel. Ada Math ada Matematika. Ada IPA dan ada Science. Lah, bagaimana belajarnya itu? Belum lagi pelajaran seperti Agama, Bahasa Indonesia dan PPKN ada di kurikulumnya. Wah, bisa kasihan anaknya. Mau sekolah biasa, ya itu, kan sayang bahasa Inggrisnya yang sudah lancar. Belum lagi nanti anaknya shock karena sehari-hari sudah menggunakan bahasa Inggris. Ada juga anak teman saya yang sampai mogok sekolah hanya karena dia tidak lancar berbahasa Indonesia sehingga stress di SDnya yang menggunakan bahasa tersebut.

Belum selesai permasalahan sekolah ini, saya dan sepupu sudah harus bertukar tempat dengan tamu berikutnya. Kami bergeser dari meja makan dengan opor ayam, ke meja depan televisi dengan pudding dan kue kering. Sementara obrolan di meja makan berganti. Membahas sepupu saya yang lain, yang baru lulus kuliah S1 dan sedang dilemma antara bekerja dahulu atau melanjutkan ke S2 dengan mencari beasiswa. Masalahnya tentu saja antara ingin cepat kerja dan punya uang sendiri, dan standar pendidikan yang semakin tinggi. Ketika saya lulus kuliah dulu, S2 bukan hal yang wajib. Di jurusan saya malah ada nasihat untuk mencari pengalaman dan networking karena dua hal itu lebih penting daripada melanjutkan ke S2, kecuali jika saya ingin berkecimpung di dunia pendidikan alias jadi dosen atau researcher.

Sepupu saya kemudian semakin dilemma ketika mendengar gaji lulusan S1 yang katanya “hanya” sekitar 4-5 juta. Menurut saya itu angka yang fantastis untuk seorang fresh graduate tanpa pengalaman. Apalagi ketika masih bisa tinggal dengan orang tua dan berhemat biaya kos. Tapi ada sedikit ambisi untuk mencari beasiswa S2 untuk mengejar gaji 1-2 juta lebih banyak dan kesempatan bisnis sendiri daripada kerja ikut orang.

Ah rumitnya. Mau masuk SD pusing, lulus S1 juga pusing.

Tahun depan si Dudu masuk SMP. Begitu cerita saya di meja makan dengan opor ayam, yang hari itu ditambah sambal ulek homemade si tante yang ternyata enak juga itu.

Mau masuk mana? Masuk sekolah yang sekarang aja, habis sudah terlanjur kurikulum internasional mana mungkin pindah ke sekolah biasa? Kasihan anaknya harus mengejar bahan UN sambil belajar pelajaran kelas 6 kan. Sekarang saja Dudu sudah struggle untuk mendapatkan nilai lulus. Kalau ditambah belajar untuk UN apa tidak stress nanti anaknya?

Jangan terlalu dimanja.
Saya cuma nyengir kalau ada yang komentar begitu. Bukan begitu, tante dan om sekalian, Dudu ini tidak hafal Pancasila dan tidak pernah dapat pelajaran dalam bahasa Indonesia. Kasihan kan kalau harus belajar ulang hanya karena dia tidak tahu bahwa jajaran genjang itu sama dengan parallelogram.

Ketika opor ayam di meja sudah habis, percakapan kami belum berakhir. Namanya juga kumpul keluaga, selalu ada yang dibicarakan. Dan sepanci besar opor ayam di rumah tante saya itu memang teman yang setia menemani obrolan kita setiap tahun.

10 comments:

  1. Saya pun kalau udah bahas sekolah mikirnya panjang banget. Sekolah memang cocok-cocokan banget, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kayaknya banyak banget faktor yang harus dipertimbangkan. Sampai pusing.

      Delete
  2. Ahh, asiknya ya kalo dah ngobrol di meja apalagi disuguhin dengan opor ayam semua obrolan mulai dari sekolah dll keluar deh. Btw opornya dimakan dengan ketupat kan? haduuduu jam segini lapar jadi pengen opoor hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong sama ketupat. Meski Dudu makannya sama nasi hahaha

      Delete
  3. Obrolan yang saling mengisi dan saling memberi wawasan :)
    Opornya siapa yang masak Mba? :D
    Dudu kecil gemesinnnnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang masak tante aku Teh. Yang ini jago masak dan jago bikin kue. Tiap lebaran kita pasti ngumpul di rumahnya.

      Delete
  4. Aku tertarik untuk tau tentang sistem pendidikan di Jepang. Katanya semua sekolah setara ya. Gak ada beda-beda. Gak kayak kita sekarang ada sekolah favorit atau unggulan.

    Ehm, tapi mungkin mereka juga punya sekolah international juga kali ya. Hehehe. Ngomongin sekolah aku jadi pusing. Padahal belom punya anak, tapi ngumpulin duitnya harus dari sekarang ya hehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya? Kok kayaknya menarik?
      Aduh, nabung buat anak itu katanya harus dari lahir. Anak lahir langsung ada tabungan pendidikan katanya sekarang.

      Delete
  5. Nina, sebaiknya mulai sekarang (belum terlambat) mengajak Dudu untuk berkomunikasi sekali-sekali di rumah dalam bahasa Indonesia. Gak ada salahnya, kan, dan gak gak ada ruginya. Santai aja ngajak ngobrolnya, ya, seperti kalau bunda ngajakin Cucu sekali-sekali berbahasa Inggris. Selebihnya serahkan kepada mereka pribadi, mau atau gak menggunakannya. Yang penting kita sudah membuka jalan baginya. Cucu bunda yang nomor dua sudah di Leed University, jebolan SMA BINUS BSD, Serpong. Begitu juga kadang gak ngerti bahasa Indonesia seperti Mamanya or keluarga lain. Tapi tetap Mamanya selalu mengajaknya berbahasa Indonesia ketika dia Liburan di Indonesia. Gituuu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bunda hebat ih cucunya bisa sekolah di Leeds. Hehe.
      Si Dudu bahasa aslinya Indonesia kok Bunda. Dia baru belajar Bahasa Inggris yang benar di usia 6thn (kelas 1 SD). Jadi Dudu ini sebenarnya native speaker Indonesia. Tapi karena sekolahnya internasional jadi pelajaran bahasa Indonesianya tidak mendalam amat. Hanya bisa untuk conversation, agak sulit kalau untuk membuat karangan atau essay gitu misalnya.

      Delete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.