11 November 2013

Zombie-fied for Halloween

For those who had known Andrew, this choice came as no surprise. There's only one option for his Halloween costume: ZOMBIE.


I don't bite...

Indonesia isn't a Halloween-type of country. Instead of the traditional trick-or-treat celebration, we have costume contest. Lucky for us, this year, Gandaria City held a trick-or-treat around the mall fot Halloween. I went from indifference to costume hunting within days. 

The Zombie Day

The trick-or-treat is quite simple. We arrive at the mall in costume (the parents are tempted to wear costume as well), then we sign up at the registration desk. As we sign up, we receive a color-coded card with a list of restaurant to go trick or treat to. Bigger kids go with their friends while the smaller ones go with their parents. It was fun, for me and for my son. I basically just follow him as he runs around the mall, doing his own trick or treat.
"This restaurant is over there Mom..." Then off he goes out of sight, asking the waiter for candies. 

We didn't go for the costume competition. It's the trick-or-treat that matters. 
and we love how Gandaria City arrange the event.

"It was fun, Mom. Let's do it again next year."
"Okay. What do you want to be next year?"
"Zombie!"

Oh my...


Scorecard
Trick or treat bag











How to be a (kid-friendly) Zombie:

  • Don't use new clothes. You're going to get it dirty with fake blood and dirt... and ruin it with scissors if you want to go all out
  • Choose dull over brights. Plaid works too. Jeans is your best option. 
  • Use dark eyeshadow to create deep eye socket. Use baby powder to make your skin looks pale.
  • Mess up your hair. Even better, wash your hair before you sleep and hold the already messy hair steady with hairspray or gel when you wake up.
  • Smear fake blood all over your mouth, clothes and hands. Get some dirt too.

How to make fake blood? Well, you can go the harder way (as in following The Walking Dead recipe) or simplifying the already simple version you found on the internet (like what I did). Mix honey and chocolate syrup with red food coloring. I did 1 tbsp honey and 1/2 teaspoon chocolate syrup with 3 drops of red food coloring and 1 drop of green food coloring. Some recipe suggests corn starch but I just used what's in my kitchen. It's a bit sticky but it works. It's honey based so it was fine for children.





01 November 2013

Reminiscence

Once upon a time, Andrew posed for a magazine.
It's a magazine I loved when I was in America... and I love when I returned to Indonesia.

browsing its website, I found articles with his pictures as the article's illustration. It's funny to see him grow through the pictures.













29 October 2013

KIDS MEAL: Thai Alley


Arriving at Thai Alley one afternoon (late lunch it is), I was surprised to be handed a kids meal list. Last time we ate there… I don’t quite remember what they had. I just remember that THAI ALLEY has the best curry in town haha.

On the list there were 4 choices (I don’t get the names cos they’re quite a trouble to pronounce)… and my son picked the bottom one (priced at Rp. 69.000 while the others are R. 59.000). The menu is: fried rice, fried chicken cutlets, breaded shrimps (or squid), jelly, and orange/strawberry juice. My son lobbied the waiter and he got his favorite apple juice instead.

And here’s what arrived on our table.









Andrew says: “Mom, this is the tastiest kids meal I’ve ever tried.” And he finished it all, including the apple juice.

Thai Alley is at Gandaria City

21 October 2013

Poney Enfants




An Afternoon Store Opening
It's been a while since Andrew walked the runway. This time an invite came from Poney Enfants. 


Poney is a fashion brand specializing in children wear. Its simplicity and classic French-inspired concept easily warms everyone who passes the store front. Came to Indonesia earlier this year, Poney opened a store in Plaza Indonesia on October 19, 2013. It's all about cute stuffs: cupcakes, flowers, white carousel decor... even the clothes are lovely and elegant. The kids came off the train before starting to walk on the green runway.  Like a late summer in France that anyone will always remember. 


Poney Spring/Summer and Autumn Collection


Poney Enfants Miniapolis - Plaza Indonesia

07 October 2013

Little Mr. Inventor

Andrew has tons of imaginations. This one scored him two tickets to a movie screening.

Dua minggu lalu waktu terima raport, saya ditegur (lagi) sama wali kelas Andrew bahwa anak saya suka melamun dan berkhayal. Yup! Penyakit lama dari TK di mana pensil dan penggaris bisa jadi monster dan Power Rangers. Anak saya susah konsentrasi karena kebanyakan berkhayal dan berusaha menciptakan sesuatu. Minggu lalu akhirnya saya mengikutkan dia ke trial science class di Kidspace dan he likes it so much! He couldn’t wait for Saturday and “invent” something in the class. With a teacher wearing a lab coat like professor, he apparently feels like one too. “Call me Professor Andrew,” he said after his trial class, showing off the soap he reshaped in the class.



This time his imagination brought something else: movie tickets.

I came upon a quiz on XYKids website, with a question I thought he would like:
“Kalau kamu jadi penemu, kamu mau menemukan apa dan apa alasannya?”


Ini jawaban Andrew:

Aku mau menciptakan batu yang bisa melayang tanpa dipegangin orang dari bawah. Kenapa? Soalnya aku mau susun batu itu jadi banyak, trus kita bisa bikin rumah di atas batu-batu itu dan dunianya jadi ngga penuh. Terus kalo ada tsunami juga ngga akan kena... kan kita di atas. Kalau ada tornado, batunya ikut muter-muter dan pindah ke tempat lain.Andrew / 7thn / Depok

That answer scored him a movie screening ticket for Cloudy With A Chance of Meatball 2, a movie we both enjoyed watching.

We didn’t watch the first one and I didn’t expect to like this kind of movie. No dead people, no crime and predictable ending (well, it’s a kid-animation movie). Tapi saya salah soalnya film ini bagus banget. Berkali-kali saya bahkan lebih heboh dari Andrew yang serius banget nonton. Strawberry-nya lucu!




Cloudy with A Chance of Meatballs 2 menceritakan tentang kelanjutan petualangan Flint Lockwood dan mesin pembuat makanan (yang namanya FLDSMDFR or kurang lebih seperti itu). Bergabung dengan LIVE Inc, tempat para penemu berkumpul dan bekerja dibawah idola Flint, Chester V, Flint harus kembali ke hometown-nya untuk menemukan si FLDSMDFR yang ternyata masih menyala. Di sana dia (dan teman-temannya) menemukan bahwa rumahnya sudah dikuasai makanan: mulai dari Cheeseburger yang memakan orang dan buaya taco yang menakutkan.

Flint yang bertekad menyelesaikan misi untuk mematikan FLDSMDFR itu tidak menggubris pendapat teman-temannya (termasuk Sam Sparks), dan menemukan kekecewaan bahwa idolanya, Chester V, ternyata orang jahat.

Adegan favorit Andrew: “Waktu mereka tahu kalau LIVE ternyata EVIL, Ma.”

Yah, kalau untuk orang dewasa, itu sudah terbaca dari awal hehe. Tapi jalan ceritanya menyenangkan dan banyak makanan/hewan lucu sepanjang cerita, terutama si Strawberry N Woo dan timun yang suka mancing.

A fun Sun-Date after all.

30 September 2013

When A Boy Goes Running...

Ngga pernah jadi fans lari (kecuali terpaksa karena dikejar monster), saya tidak pernah terpikir mengikutkan anak saya di Jakarta Kids Run. Soalnya anak saya juga sebel banget sama lari dan sering diejek lambat oleh teman-teman sekelasnya. Tapi mikir demi mikir... saya nekat tanya juga apa Andrew (7thn) mau ikutan lari. Jawabannya santai, “boleh.”

Tiga klik kemudian, saya sudah mendaftarkan Andrew ikutan yang kategori 7-12thn. Untung sudah 7thn, kalo ngga bisa-bisa saya terbawa lari (karena yg 3-6thn lari bersama orangtua). Seminggu kemudian saya confirm ikutan. Sampe beli sepatu baru buat Andrew lari. Gaya banget ya. Habis beli sepatu baru baca detail Jakarta Kids Run. HAH 1,5km?

Running Day

Meski harus bangun subuh dan berangkat sebelum matahari terbit biar bisa cepet sampai, dapat parkir dan ngga terjebak car free day, kita happy banget. Jam 6.30 peserta registrasi ulang. Jam 7 pemanasan untuk lari. Anak-anak semua antusias mengikuti gerakan kakak instruktur. Habis pemanasan, kategori 7-12 tahun (kategori si Andrew) mulai lari. 





Medannya cukup menantang. Soalnya baru lari sudah turunan karena mulainya dari lobby fX. Kakak-kakak MC sudah mewanti-wanti supaya jangan rebutan sih (dan supaya orang tua yang semangat 45 mendokumentasikan moment ini minggir ke samping dan ngga menghalangi anak-anak mereka berlari).

"Larinya ke mana, Du?"
"Keluar ke jalan, trus lari di jalan raya, habis itu muterin taman yang besar banget dan naik balik lagi ke finish."
"Capek ngga?"
"Capek banget Ma, di tengah-tengah ada kakak bagi-bagi botol air. Trus botol minumku jatuh. Untung ada kakak yang baik dan ngambilin."
"Lah? Lagi lomba kok pake botol minum jatuh?"
"Kan aku cuma jatuh botol minum. Tadi ada kakak yang jatuh trus mama-nya dipanggil."

Dasar anak-anak.
I'm here, Mom! Can you see me?

Trus yang seru apanya?

“Larinya yang keliling-keliling gitu, Ma. Trus yang seru ya dapat air putih gratis.” Kata Andrew sambil ketawa. “Tapi aku senang dapat medali, bisa aku pamerin ke temen-temen. Asal... Mama ngga bilang-bilang kalo semua yang finish dapat medali.”

Andrew ngga menang. Ya selain karena memang ini pertama kali dia lari sejauh itu (plus dia salah satu yg termuda di kategorinya). Tapi dari awal, saya berpesan yang penting dia masuk garis finish. “Yang penting aku bukan yang terakhir, Ma.” Ya itu juga deh.




About Jakarta Kids Run
Diadakan dalam rangkaian Jakarta Sports Week untuk merayakan ulang tahun fX Sudirman yang ke-5, acara ini meliputi lomba lari anak-anak (kategori 3-6thn dan 7-12thn) dan strolling Mama (di mana para Mama antusias menghias strollernya).

26 September 2013

Hand In Hand: Together We Can

Waktu nonton video Tango Hand in Hand For Nias (http://www.youtube.com/watch?v=Jdy2FdXO1ZM), untuk penulisan blog ini, ternyata diam-diam, anak saya, Andrew (7thn) memperhatikan dari belakang. Selang berapa lama muncul pertanyaan “Itu si Brian kenapa, Ma?” Saya pikir ini kesempatan untuk cerita tentang semangat berbagi.



Buat yang sudah punya anak balita pasti mengalami susahnya mengajarkan “sharing” alias “berbagi” kepada anak kita. Mainan dipinjam lima menit sama si kakak atau si adik saja anak bisa marah, apalagi kalau kita bilang akan diambil untuk diberikan kepada orang lain. Yap, mainan/buku bekas layak pakai. Kalau sudah ada yang baru, anak mau melepas yang lama? Ngga juga deh ternyata.

“Nias? Yang kena tsunami itu ya, Ma?”
“Iya. Makanya mereka butuh buku dan mainan, soalnya kan kemarin semuanya hanyut.”
(Sebenarnya mungkin ngga gitu sih, tapi ya gimana lagi yang masuk akal anak saya?)
“Jadi mereka ngga punya buku?”
“Ngga punya.”
“Ngga punya mainan?”
“Ngga punya.”
Anak saya terdiam. Mikir.
“Enak kan jadi kamu, mau beli mainan tinggal ke toko trus minta Mama beliin.”
“Trus kenapa kita yang harus kasih mainan sama buku ke mereka? Orang tuanya kok ngga perduli?”

Nah Loh!

Di situ saya jelaskan bahwa kehidupan mereka berbeda dengan yang kita jalani di sini. Mainan dan buku bukan kebutuhan yang terpenting untuk mereka karena dana yang ada digunakan untuk makan dan pengobatan. Ya seperti Brian itu contohnya. Bukannya ngga perduli, tapi ada hal-hal yang memang ngga bisa dilakukan sendirian. Karena itu mereka butuh bantuan orang lain, ngga bisa sendirian. Dan kita harus gotong royong ( #HandinHand) membantu mereka.

Alasan “kotak mainan kamu sudah penuh, kalo yang sudah tidak terpakai dikasi ke anak lain, kan kamu punya tempat untuk mainan baru,” biasanya ampuh untuk mengajak anak ‘membersihkan’ kotak mainan dan rak bukunya. Tapi buat saya yang lebih bagus lagi ya kalau kita memberi karena ingin melihat orang yang diberi bahagia.

“Ngga bisa beli mainan?”
“Kan uangnya habis buat beli makan.”
“Kalo aku kasi mainan mereka senang?”
“Ya senang dong. Kamu kalo dapat mainan senang ngga?”
“Senang.”
“Kalo liat orang lain yang kamu kasi mainan senang, kamu senang ngga?”
Dia terdiam lagi. Mikir lagi.
“Kayak waktu si Gracia ulang tahun trus aku kasi kado dia senang banget itu ya?”
“Ya gitu deh kira-kira.”
“Aku senang juga.”
“Trus Gracia yang kasih mainan satu apa banyak?”
“Banyak dong, kan dari teman sekelas.”
“Kamu kalo dapet mainan banyak senang ngga?”
“Senang banget.”
“Nah, makanya kita harus ikut perduli, soalnya kalo kita ikut kasi kan mainan mereka jadi banyak dan mereka jadi tambah seneng.”
“Iya ya Ma.”

Tuh kan kita harus ikut perduli dan berbagi. Karena memberikan sesuatu dengan ikhlas (dan bisa berguna bagi orangnya) kita juga bakalan senang. Kan waktu berniat memberi, kita pasti memikirkan si penerima. Toh suatu hari nanti aka nada giliran kita menerima kebaikan orang lain.

Jadi, tunggu apa lagi? 
It’s simple to lend a helping hand and give them a smile.
Donasikan buku dan mainan layak pakai ke kantor Tango Wafer, Jl Lingkar Luar Barat Kav 35-36, Cengkareng, Jakarta Barat 11740

25 September 2013

From Plaid to Plain: Must-Have Items for My Boy

Kalo boleh jujur, judul lomba blog ini bikin ciut nyali… “Calling all Fashion Blogger”.  Ups, saya bukan fashion blogger. Hahaha. Tapi ya sudahlah. Saya terlanjur tertarik membaca topic dari Lomba Blog Centro kali ini dan ngotot pengen ikutan. Boleh dong ya.


Andrew's Style
When talking about fashion, I always talk about boys fashion. Kenapa? Soalnya saya punya dua adik cowok dan satu anak cowok (usia 7 tahun) yang suka menjadi korban kejahilan shopping saya. Fashion cowok juga relatif lebih simple karena itemsnya ngga banyak-banyak amat. Jadi, “10 MUST-HAVE ITEMS” when it comes to (little) boys’ fashion are:

1. Hat
I had to admit, I watched to many K-pop concerts. Soalnya topi mendadak jadi hal yang paling penting buat bergaya. Kalo cewek punya bando, jepit rambut warna warni, bandana keren… cowok ya punya topi.

2. Fancy shoes
When everything else fail, shoes will get you notice. Anak saya suka malas pake rompi, pake jaket, pake baju dobel-dobel dengan lengan digulung-gulung. Tapi kalo soal sepatu keren, dia juaranya... Baju boleh plain, tapi kalo sepatu oke, bakalan keliatan oke juga deh.

3. Cool belt and suspenders
Belt item Cuma buat kondangan dan sekolah. Sisanya harus pake yang colorful dong! Suspender emang agak repot buat anak-anak (anak saya suka protes juga kalo dipakein suspender) tapi setelah dipakai ternyata jadi keren.

4. T-shirt with cool graphics
Mulai dari Doraemon, Madagascar, semuanya ada. Cuma awas, pilih yang benar atau graphic t-shirt ini malah jadi piyama.

5. Different color pants
Item, biru, khaki, putih..... BOSAN! Jadi saya nekat beli celana warna hijau. One fashion stylist once told me “anak-anak itu mendingan pake yang colorful. Soalnya kelihatan fun.”

6. Plain T-shirt
Bisa buat rangkapan, bisa buat kaos biasa, bisa buat dalaman, bisa buat baju kembaran sama Mama. Just pick the bright and bold colors. Pake pink siapa takut? (serius, saya ada kaos pink buat anak saya di rumah).

7. Plaid shirt and bermuda
Kotak-kotak dan garis-garis kan ngga ada matinya. Tiap season pasti ada. So, stock aja di rumah kalau bosan sama celana jeans polos.

8. Polo
Dikala kemeja jadi ‘bahan bertengkar’ ibu dan anak karena nggak nyaman dan susah dipakai (banyak kancingnya), Polo shirt jadi penyelamat. Mau lebih gaya? Rangkapkan dua polo beda warna atau tambahkan plain/graphic t-shirt.

9. Glasses (for display only)
Kacamata bisa merubah penampilan seseorang. Sebaiknya sih Cuma buat gaya jadi bisa ganti-ganti... and since mata adalah salah satu hal yang orang notice dari anak saya, biasanya saya menghindari sunglasses.

10. Jeans
Hari gini, harus punya jeans. Soalnya jeans bisa dipasangin dengan apapun. Jeans pendek buat main lari-larian di taman. Jeans skinny buat jalan (akhirnya lari-larian juga sih) di mall... dan bikin anak kelihatan lebih tinggi dan kayak orang dewasa. Serasa bawa pacar deh hahaha...