18 March 2026

Kangen Blogging 10 Tahun Lalu? Iya, Saya Juga.

Percaya tidak percaya, 10 tahun lalu saya lebih punya banyak cerita. Saya bisa menulis lebih dari 10 postingan sebulan di blog utama. Blog jalan-jalan pun pasti ada minimal 1 tulisan per bulan. Sekarang ini, ada satu postingan per bulan itu saja sudah untung.

Ketika meninggalkan dunia jurnalistik sebagai pekerjaan tetap, dan pindah haluan ke marketing, blogging jadi salah satu cara mempertahankan hobi menulis saya. Apalagi, ketika itu, Dudu ada di usia pas untuk diajak jalan-jalan dan pergi liputan. Jaman itu, kayaknya saya jadi rajin blogging karena baru saja merelakan menulis sebagai “profesi”, jadi nulisnya bisa tanpa beban dan dengan senang-senang. 10 tahun lalu juga blogging juga lebih populer dan lebih menjamur karena belum ada video pendek. Jadi yang paling keren di jaman itu ya blogging. Karena setiap orang bisa jadi “media”, bisa cerita perspektifnya sendiri, dan ada pembacanya.


Salah satu acara 10 tahun lalu yang didatengin bareng Dudu sebagai blogger

Overall, kalo boleh dirangkum, yang paling dirindukan ya jelas semangat ngeblognya haha.

Soalnya sekarang ini nge-blog jadi prioritas kesekian. Bukan karena nggak cuan. Namun, karena banyak hal lain di hidup ini yang berubah. Pekerjaan tetap yang bikin hati tenang saat ngeblog udah nggak ada, lalu event-event yang biasanya mengundang blogger, sekarang memilih content creator. Yang namanya media sudah bergeser, bukan lagi berupa tulisan panjang tapi berupa video pendek. Saingan sama kecepatan generasi saat ini mengkonsumsi informasi. Sementara yang namanya tulisan kan dibacanya nggak bisa buru-buru.

Dan sekarang ada chat gpt. Ngeblog jadi makin susah, karena sudah setengah mati menulis, eh disangka hasil AI. Kok jadi curhat haha. Soalnya pernah kejadian saya masukin tulisan saya ke AI detector (entah yang mana), eh dibilang 75% AI. Terus sejak itu dongkol sendiri dan nggak pernah ngecek lagi haha. Biarin ajalah yang baca mau bilang apa, toh yang penting saya happy menulisnya. 10 tahun yang lalu, hal begini nggak perlu dipikirin. Ngeblog itu beneran happy-happy saja buat saya.

10 tahun lalu, Hadiah ultah Dudu juga disponsorin sama blogpost.


So, apa kata chat gpt tentang blogging 10 tahun lalu?

Katanya “dulu blog itu kayak diary yang dibuka ke publik. Sekarang banyak yang terasa terlalu ‘rapi’, terlalu strategis.” Well, ada benarnya, dari Blogging yang santai, muncul SEO kemudian muncul ChatGPT dan teman-temannya. Tulisan jadi kurang human. Dulu juga banyak yang sering komentar, dan blogwalking. Sekarang yang suka “jalan-jalan” lebih banyak di media sosial. Jadi, siklusnya memang sama, dan ini berlaku juga buat content video pendek yang sekarang lebih populer.

Awalnya, saya ngeblog buat senang-senang. Lalu, datang monetisasi, dan keseriusan menulis. Penulisan ada arahnya, sesuai brief client, sesuai kebutuhan pasar, sesuai algoritma dan lain sebagainya. Blogging (dan sekarang content creation) jadi kompetisi. Iya, memang ini semua penting kalau mau menghasilkan. Tapi, kalau dipikirkan malah jadi beban. Semua harus ada positioning, harus ada faktor yang bikin viral. Nggak viral berarti gagal. Serba cepat, serba cuan.

Padahal, kalau diingat lagi, awal mula saya blogging kan karena saya ingin melepaskan “cuan” dari hobi menulis saya supaya tidak ada beban. Eh, kok jadi terbeban lagi? Well, sampai sekarang blog saya yang punya domain sendiri hanya 1, yang travelling, dan itu juga karena saya butuh branding namanya. Bukan karena monetisasi.

Sekarang, saya mau mulai rajin blogging lagi. Dengan hidup yang sudah banyak berubah, dengan kepopuleran blog yang sudah menurun dan dengan semangat 10 tahun yang lalu. Ketika sebuah postingan yang published adalah reward yang paling dicari.

11 March 2026

Belajar Tentang Perempuan, Uang, dan Identitas di Ngabuburich Vol.01

International Women's Day tahun ini lebih spesial karena sebuah diskusi santai yang digagas Arichsan, dengan tema Women, Money, and Meaning yang diadakan di Selibar Cafe.

Nama acaranya Ngabuburich Vol.01. Acara ini menghadirkan psikolog Offie Dwi Natalia M.Psi., Psikolog dan financial planner Valencia Fabian BA, CFP, QWP, AWP, serta moderator Lala Adani. Formatnya santai seperti arisan. Jadi acara ini hadir sebagai ruang untuk berhenti sejenak, mendengar, belajar, dan merefleksikan diri.

Offie Dwi Natalia M.Psi., Psikolog dan financial planner Valencia Fabian BA, CFP, QWP, AWP, serta moderator Lala Adani di acara Ngabuburich Vol.01.

Perempuan Harus Jadi “Superhero” yang bisa Naik Level


Ada yang pernah bilang ke saya, “kamu tuh punya superhero syndrome ya?” Maksudnya gimana? Tanya saya lagi. “Ya, selalu ingin menolong orang.” Well, di kepala saya, hal tersebut baik. Apa yang salah dengan menolong orang lain? Apalagi konon, sebagai anak perempuan pertama, banyak beban yang tidak sengaja jatuh ke pangkuan saya. Namun, bukan begitu maksudnya.

Menurut Offie, banyak perempuan ingin punya superpower. Punya karier, keluarga harmonis, finansial stabil, dan tetap hadir penuh untuk anak. Kalau dipikir-pikir agak tidak masuk akal ya. Keinginan untuk punya segalanya ini kemudian menimbulkan konflik karena realitanya tidak sesuai dengan harapan. Apa yang kita pikirkan (kognitif) tidak selalu selaras dengan apa yang kita rasakan (afektif) “Peran yang berat, lama-lama malah jadi beban,” kata Offie. Well, memang role kita sebagai perempuan akan bertambah seiring waktu, dan membuat bingung karena tidak tahu siapa kita sebenarnya.

Jujur, saya relate dengan cerita Lala, sang moderator, bahwa sebelum menikah dia adalah “Lala.” Namun setelah menjadi istri dan kemudian menjadi ibu, ada banyak label baru yang membuatnya bingung sendiri. Saya juga sama. Orang tahunya saya “Mama Dudu.” Padahal, harusnya saya punya identitas sendiri ya. Saran Offie, “Sebelum mau jadi apa, kita harus here and now. Sebelum pindah naik level, kita harus bisa menguasai level ini. Kebingungan itu wajar, tapi kita harus bisa mengenal diri sendiri dulu, untuk tahu ke depannya mau gimana, dan mau apa.”

Bagaimana caranya naik level? “Sekarang banyak yang bingung karena kita tidak dibiarkan punya target sesuai level kehidupan kita. Sekolah ada ujian. Setelah dewasa, tolak ukur naik level tidak ada,” cerita Offie. Solusinya adalah dengan menetapkan target yang sepsifik. Misalnya bukan sekadar “ingin jadi ibu bekerja yang sukses”, tapi lebih jelas: bekerja di bidang apa, dengan penghasilan berapa, dan seperti apa kehidupan keluarga yang ingin dibangun.

Dan semuanya butuh uang.

Berkumpul merayakan International Women's Day bersama Arichsan.

Perempuan Bisa Bicara Uang Tanpa Drama