18 June 2013

Boy of Steel

 “People are afraid of things they don’t understand.”

– Jonathan Kent

Superman was never my favorite super hero. So when he’s back on screen with his latest gig, I didn’t plan to join the crowd. Then come this conversation, 

Dudu: Ma, aren’t we going to watch Superman?
Me: Yeah… (not excited).
Dudu: Let’s go. I wanna know how he became Superman…. And we have to buy that Superman cup.
Me: Okay… (still not excited) 


  
That Superman Cup!


Andrew/Dudu is always curious on how someone can become a super hero. This past years, he’d been watching Batman (not The Dark Knight though), Spiderman, Thor, Iron Man (so far his favorite) and The Avengers. Now, I guess, it’s Superman’s turn. 

So we ended up going, fighting the crowd and managed to score a seat in the front row to watch the (supposedly handsome) Superman. What got me wasn’t what the screen was saying but the conversation we had afterwards. Cos, he, somehow has that “Superman” syndrome. An alien stranded in a different world, with different language and different culture.


Dudu in Metropolis
Dudu: How far is Kansas from my home town?
Me: Well, 2-hour drive.
Dudu: Oh, it’s not that far.
Me: You’ve been to Kansas, you know. You’ve been to Metropolis. I’ve shown you the pictures.
Dudu: I don’t remember.
(Yeah, he was a little over 1 then)
Dudu: They have corn field.

Me: Missouri has corn field too. 

After seeing the tornado scene... and having a brief thought about Dorothy, Toto and the Wizard of Oz, he asked...
Dudu: What’s wrong with Kansas?
Me: There’s nothing there…

(and there’s almost nothing in Missouri too haha…) 
 
Dudu: Why did he cry after killing the bad guy, Ma?
Me: It’s the last person from his planet. His ‘brother’.
Dudu: But this ‘brother’ is a bad guy.
Me: Put it this way… what if you have to kill a fellow American… the only American you know here, to save me, your Indonesian Mom, or your Indonesian friends. Would you do it?
Dudu: (thinking) Yeah, that’s tough.

Dudu: Why Superman doesn’t kill zombies?
Me: Alice (Resident Evil) will be out of job. Everyone has his/her own role in Hollywood.

Eventually, I got to ask questions.
Me: So, do you want to be Superman?
Dudu: I can’t. He’s not human. But I can be Iron Man. I can be smart, rich and inventing stuffs…
(Hopefully minus the playboy part)

Me: I don’t want you to be Superman either. He’s 33, single, jobless and living off his mother.
Dudu: But he has a job, Ma… Superman is saving the world.
(Well… if you call that a job)

But the best part came in the end.
Dudu: The captain said Superman is sexy.
Me: Yeah, I’d agree with her. Superman is hot.
Dudu: But this time he doesn’t wear his underwear outside…

I’m glad I watched Superman. 


26 May 2013

Me & My K-Pop Obsession

Going for "Colorful" theme at Gading Model Search Audition.

He hated the long bangs though.




14 May 2013

My Favorite Superhero



Pulang dari nonton film, saya dan anak berdebat sedikit.

Dudu: Mama, aku mau jadi Iron Man.
Mama: Ngga ah, mending kamu jadi Tony Stark aja.
Dudu: Kenapa Ma? Iron Man kan bisa berantem.
Mama: Tapi kalo ngga ada Tony Stark, Iron Man ngga ada apa-apanya.

Iron Man 3 bercerita tentang Tony Stark yang sudah kerasukan Iron Man. Dia menciptakan suit yang bisa dipanggil (dan mesin pemanggilnya ditanam di lengan dia bused dah) dan ketika suit itu rusak, dia bisa membetulkannya dengan peralatan minimalis dan bantuan seorang anak kecil. Buat saya, yang paling berkesan adalah kalimatnya kepada si anak kecil “I am a mechanic” dan kalimatnya di akhir film yang kontras banget, “Afterall, I AM IRON MAN.”

Buat Andrew lain lagi ceritanya
“Aku paling suka pistolnya, Ma. Iron Man punya pistol yang kecil tapi pelurunya banyak.”

Nah loh, adegan yang mana lagi tuh?

Dan dia paling semangat melihat gimana Tony Stark menciptakan semua suitnya dan kekacauan yang terjadi waktu dia berantem dengan pacar-nya karena suit Iron Man yang sama. Atau ketika suit Iron Man-nya berantakan tertabrak truk setelah menyelamatkan 12 orang crew Air Force One.

Dari semua super hero avengers (dan superhero Marvel/DC comic macam Batman, Spiderman, Superman dll), saya paling mendukung anak saya jadi Iron Man. Yeah, buat saya, Tony Stark itu keren. Pinter, ganteng, kaya... belagu lagi. Apalagi dia lucu, suka bicara seenaknya, suka narsis dan pamer di depan orang banyak. Well, semoga anak saya bisa jadi semuanya itu tanpa jadi belagu or pameran sih. Intinya saya berharap anak saya bisa jadi sehebat Tony Stark.

P.S. Yang mau ajak anaknya nonton Iron Man, film ke-3 ini banyak adegan kekerasannya. Selain adegan tembak menembak, banyak adegan tangan putus, kepala bolong dan lain sebagainya karena musuhnya (yang terkontaminasi extremist) bisa menumbuhkan kembali anggota badan yang hilang. Ada adegan terorisme yang menembak orang di depan mata dan beberapa bomb-ing yang cukup bikin kaget. Jadi pastikan anak anda ngga takut ya...

29 April 2013

Four Lines at Kompas Klasika


A question about coloring gets me to tweet something.
It ended up on Kompas Klasika
Yeay ^^

13 March 2013

Jangan Lupa Matiin AC Ya!

Dasar anak kota, Andrew (6thn) tidak bisa kepanasan. Masuk mobil yang pertama harus dinyalakan adalah AC. Makan di restoran juga sebaiknya yang ber-AC. Masuk kamar juga yang dicari adalah AC. Kalau tidak ada AC, repot deh pokoknya. Kasihan si AC kalau ketemu anak saya bisa 24 jam nyala. Untung sekarang dia sudah SD jadi tinggal 12 jam saja kerja si AC.
Sampai suatu kali si AC (yang kebetulan merknya memang Panasonic) harus isi Freon. Tukang Freon datang baru hari Sabtu, dan hari Kamis anak saya sudah panic. Kesempatan emas nih, pikir saya. Saya harus mengajarkan anak saya tentang go green. Tapi mulai dari mana ya?
Dudu: ACnya masih panas ya, Ma?
Mama: Iya. Kan Sabtu baru tukangnya datang.
Dudu: Kok bisa panas?
Mama: Soalnya kamu nyalain terus. Mama juga kalau kerja terus kan capek trus sakit. AC juga sama.
Dudu: Ooo... begitu ya.
Mama: Makanya kamu kalau pulang sekolah jangan langsung masuk kamar nyalain AC.
Dia terlihat berpikir.
Sejak saat itu, memang Andrew jadi lebih menghargai si AC. Hal-hal yang dia lakukan simple. Tapi ternyata bisa bikin hemat juga.
  • Kalau pulang sekolah (ini laporan si Opa soalnya saya kerja dan baru pulang malam menjelang dia tidur), dia ngga langsung masuk kamar menyalakan AC, tapi main di ruangan belakang yang menghadap taman.
  • Kalau kepanasan dia memilih untuk mandi, bukan langsung menyalakan AC seperti dulu. Jadi AC baru menyala satu jam sebelum dia mau tidur. Toh AC di kamar kan 2 PK jadi cepat dinginnya.
  • Sayangnya AC di rumah masih Panasonic tipe Standard yang belum ada fitur Dual Sensornya, jadi pengaturan suhu masih manual.Maka itu saya sepakat, kalau suhu tidak perlu sampai 16 derajat. Toh 20 derajat saja sudah cukup dingin.
  • Bangun pagi (dia selalu bangun sebelum jam 6), si AC langsung dia matikan... akibatnya saya biasanya bangun karena kepanasan hahaha.
  • Dia jadi rajin ikut membersihkan saringan AC secara rutin dan memilih membuka jendela di saat cuaca sejuk.
Yang lucu, kebiasaan ini dia terapkan di mana saja. Termasuk saat kami sekeluarga menginap di sebuah hotel berbintang. Saat Andrew hendak ke bawah untuk berenang, dia sibuk mencari sesuatu di kamar.
Mama: Cari apa?
Dudu: Remote AC mana?
Mama: Mana ada remotenya? Ini AC Central.
Dudu: Kan kita mau keluar. ACnya harus dimatikan.
Saya garuk-garuk kepala lagi untuk cari penjelasan deh... dan mencegah anak saya yang bawel mengajarkan tante resepsionis hotel tentang go green.

Tulisan ini diikutkan lomba "Go Green in the City" dari Forum The Urban Mama

13 February 2013

Mengubah Aktif Jadi Kreatif

"Ibu, anaknya ngga bisa diam ya?"
Saya sering mendapat "teguran" itu dari orang lain. Biasanya saya tanggapi dengan senyuman. Atau kalimat standard "namanya juga anak kecil, energinya masih banyak."

Tapi memang anak saya, yang sekarang usianya sudah 6thn itu, ngga bisa diam. Termasuk kategori anak aktif. Kalau tidak diberikan kegiatan, maka dia akan mencari kesibukan sendiri. Dan bisa ditebak, yang selanjutnya terjadi adalah seluruh rumah (mulai dari tembok ruang tengah hingga kamar mandi) menjadi 'korban' kreativitas si anak. 

Kadang saya iri pada ibu-ibu lain yang anaknya bisa duduk manis makan di restoran, sementara anak saya harus punya mainan untuk membuatnya duduk. Kalau kita pergi ngedate di akhir pekan (yes, kita punya acara date akhir pekan karena saya ibu bekerja yang jarang punya waktu berdua saja dengan anak semata wayang saya itu), tas saya sudah seperti kantong doraemon.

Saya berpikir, kalo sudah lewat masa pake popok, ngga ada lagi tas besar berisikan perlengkapan bayi. Ternyata saya salah. Ukuran tas tetap sama, isinya saja yang berganti.

Anak saya suka berimajinasi. Setiap ada lahan kosong, pasti dia mencari bolpen, pensil, krayon, spidol atau apa saja yang bisa untuk mencoret-coret dan menyalurkan imajinasinya. Waktu kecil, coretannya hanya berupa benang kusut tidak jelas. Seiring dengan bertambahnya usia, benang kusutnya mulai terurai dan berubah jadi istana penuh dengan zombie dan monster. Area menggambar yang dibutuhkan semakin besar karena ceritanya bersambung dan makin panjang.

Selain itu dia suka bercerita dengan mainan. Barbie saya jaman SD pun sudah dialih fungsikan sebagi "putri" yang harus diselamatkan jagoan ultramannya. Atau sebagai penyihir jahat musuh dari Kura-kura Ninja. Dan 'drama action' ini bisa terjadi di mana saja dan kapan saja asal ada mainan. Maka itu, di tas saya selalu ada mainan yang bisa dipakainya bercerita.

Meski ngedumel karena harus kerja extra bersih-bersih, saya selalu mendukung kreativitas anak saya, terutama kesukaan dia menggambar. Saya selalu menyelipkan buku gambar kosong dan sepaket pensil warna di dalam tas saat kami pergi untuk "ngedate" di akhir pekan. Saat makan siang di food court atau duduk-duduk ngopi di cafe, dia akan mulai menggambar. Di rumah, daripada dia melukis di tembok, saya mengarahkan dia mencoret-coret kaca dengan spidol papan tulis.

Buat saya memperhatikan dia menggambar adalah momen spesial. Soalnya kalau menggambar dia sambil cerita. Begitu juga dengan main robot-robotan. Dan ceritanya selalu seru! Beberapa waktu lalu, teman saya dan putrinya yang baru berusia 3 tahun bergabung dalam acara ngedate kami. Putrinya diam saja memperhatikan anak saya bercerita, sesekali ikut memainkan mainannya. Teman saya kemudian bilang "anakmu kreatif banget ya?"

Kalau sudah begini, aktif juga tidak apa-apa kok. Kan jadi kreatif. Dan saya selalu bangga sama anak saya.

Tulisan ini diikutkan lomba blogging Seven Seas. Ngga menang sih, cuma entah gimana, saya senang nulisnya.



18 January 2013

The Adventure of Banjir

Dibalik kegelisahan seorang ibu bekerja yang ngga bisa ngantor karena banjir, ada senyum dan tawa bahagia anaknya yang senang karena ibu-nya ada di rumah.

That's how I began my Thursday.
Banjir.
Dan anak saya stuck di sekolahnya di daerah timur Kelapa Gading. Sementara rumah saya di Boulevard Barat. Waduh.

Dipulangkan jam 9.45, saya belum bisa jemput sampai pukul 1 siang karena banjir. Itu pun saya berangkat jalan kaki karena banjir sepaha orang dewasa membuat mobil tidak ada yang berani lewat. Lumayan... olahraga sore. Ternyata saya belum tua-tua banget ya. Jalan kaki 3 km masih kuat. Hahaha...

Anyway, sampai di sekolah anak saya, guru-gurunya heran. Saya sudah siap bawa sendal karet trus sepatu anak saya bungkus dan tas saya gendong. Anak umur 6 tahun mau diajak menerjang banjir? Jalan kaki 3 km pula. Tapi saya yakinkan mereka bahwa Andrew ngga apa-apa. Asal mendung, Andrew pasti senang karena tidak panas.

Benar saja, melihat genangan pertama, Andrew langsung teriak:
"Hore! Petualangan Mama dan Dudu menembus banjir dimulai."
Saya langsung "sttt" setelah menyadari banyak orang di sekitar kami yang menoleh dan menatap saya dengan pandangan tidak setuju. Ups.
Meskipun sempat ragu-ragu untuk nyemplung lantaran air yang berwarna dan sampah yang ikut hanyut, akhirnya dia semangat juga dan sibuk memberi tahu semua orang kalau "Aku belom pernah kebanjran loh, Om."
*tepok jidat*

Tapi, "petualangan" itu merupakan yang terseru buat kami berdua. Seribu pertanyaan terlontar dari si anak penasaran. 
"Kenapa air banjir warnanya cokelat?"
"Oh, itu karena kena tanah Du."
"Kenapa daun kelapa yang jatuh warnanya hitam? Gosong tersambar petir ya, Ma?"
"Waduh, itu Mama juga ngga tau."
"Kenapa ada balon spongebob hanyut tuh, Ma."
*gubraks* Kok dia liat aja sih yg aneh-aneh begitu?

Kami melihat pelangi di aspal basah yang tergenang air.
"Aspalnya kenapa Ma?"
"Pelangi, Du. Kan pelangi itu air yang kena cahaya matahari."
"Bagus ya, Ma. Ternyata pelangi tidak hanya di langit saja."

Kami melihat kebahagiaan anak-anak yang bermain air di jalan. 
"Anak-anak itu kok boleh berenang, Ma?"
"Iya, soalnya mereka ngga punya kolam renang."
"Kalau begitu, kalau banjir mereka senang ya?"
Dan anak saya ikut bersyukur bahwa banjir membawa kebahagian bagi semua orang.

Kami berdiskusi soal sampah, soal bagaimana mobil dan motor mengeringkan knalpot, soal mancing... sampai akhirnya menemukan truk yang bersedia memberikan tumpangan sampai dekat rumah. Dan naik truk menjadi highlight of the journey. Anak saya sibuk main tembak-tembakan.
"Ngapain, Du? Pegangan ntar jatuh."
"Ada zombie itu Ma. Ayo tembak, mobil belakang yg naik kan zombie."
"Du, ini bukan di Timezone."

Tapi yang jelas, kita selamat sampai di rumah. Dan Andrew punya sebuah "petualangan" lagi untuk diceritakan kepada dunia.




03 January 2013

Meet My New Pet Peeve: iPad




Graduation TK anak saya adalah hal yang paling membanggakan. 

Apalagi anak TK sekarang lulusnya gaya, pake toga, terima ijasah dan lain sebagainya. Saya, seperti juga ratusan ibu-ibu lain di hall sekolah, tidak mau melewatkan golden moment anak saya. Graduation TK kan tidak akan terulang dua kali. Saat anak-anak berbaris menerima ijasah dari kepala sekolah di atas panggung, semua ibu-ibu dan bapak-bapak berebutan maju ke depan. Semua berusaha mengabadikan momen tersebut. Ada yang pake DSLR besar, kamera poket imut, BB, Android… dan iPad. Yup... ibu itu foto pake iPad.

Um… apa yang salah dengan iPad?

Saya bukan pembenci iPad karena saya sadar betul bahwa gadget itu sering ‘menyelamatkan hidup’ saya. Tapi disaat sebuah gadget dengan layar sebesar itu digunakan untuk memotret di tengah kerumunan, dan andalah yang berada di ‘belakang layar’, saya yakin anda juga kesal. (1) Anda tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan sana. Banyak ibu-ibu yang terjebak di belakang, akhirnya mengulurkan tangan ber-kamera pocket atau ber-bb untuk memotret. Dengan adanya iPad di udara, yang terpotret jelas iPadnya. (2) Okelah kamera iPad bagus, mungkin lebih bagus daripada beberapa kamera pocket, tapi saya rasa, benda dengan layar sebesar itu sebaiknya tidak digunakan untuk memotret. Anda yang pernah memotret menggunakan iPad pasti tahu bahwa susah ternyata fotonya. Beda dengan kamera beneran yang tinggal klik, focus dan foto.

Beberapa waktu lalu di timeline, saya sempat membaca postingan beberapa org yang kesal karena ada yang foto pake iPad di konser kesayangannya, di fashion show (yg jelas ganggu banget karena di beberapa acara kan suasananya gelap, dengan layar segitu besar, sama aja nyalain senter). Jadi saya tahu saya tidak sendirian.

Lalu apa yang saya lakukan?

Well, saya colek baju ibu tersebut dan bilang, “Maaf, Bu, iPadnya nutupin kita semua yang mau foto dan melihat prosesi graduation.” Sambil nyelak ke depan dan foto menggunakan kamera yang sesungguhnya.