23 September 2014

Our 2nd Jakarta Kids Run 2014

Another run, another fun!
Karena sudah ikutan Jakarta Kids Run tahun lalu, kali ini kita jadi excited banget untuk ikutan. Apalagi medalinya keren banget. Jadi, inilah post yang tertunda dari Jakarta Kids Run, 7 September 2014 di fX Sudirman kemarin.

Sebelum mulai lari, pose dulu di backdrop
Biaya pendaftarannya tahun ini Rp150k. Dapat goody bag, berisikan produk sponsor, kaos warna orange dan nomer dada. Untuk anak 3-6 tahun jaraknya 750m dan didampingi orang tua, untuk yang 7-10 tahun jaraknya 1,5km dan lari sendirian. Acaranya mulai on time jam 7 dan seperti biasa, dimulai dengan pemanasan. Setelah itu, grupnya Andrew (yang lari 1,5km) mulai duluan. Dengan rute menjelajah Car Free Day. 
Pemanasan dulu yuk!

Start!
Kali ini Andrew lari-nya lama... dan begitu masuk garis finish, dia segera memberikan bunga dan daun kering ke tangan saya... oleh-oleh dari lari katanya. LAH! Pantesan kok semua orang sudah finish ini anak ngga nongol-nongol.

Seru? Yup!
"It's not as hard as last year... because I can run now. I also know where to get the water bottle and how to not drop it while I run."

Yup, tahun lalu dia juga agak lama finish karena botol air yang dipegang jatuh trus menggelinding dan dia sibuk mengejar botol itu.

Tapi buat saya tahun ini terlalu penuh! Terlalu banyak yang ikutan dan pemanasannya jadi terkesan asal-asalan. Pengambilan medali finisher juga berebutan, terutama untuk yang finish belakangan seperti anak saya. Mungkin tahun ini pesertanya tidak dibatasi.

Still, I think running is beneficial for Andrew. Kalau dulu motivasi saya mengikutkan dia lomba lari adalah karena dia sering ngga pede dengan kecepatan larinya meski saya sudah berulang kali bilang itu karena dia tinggi... coba dia semungil Leo Messi kan jadi lain cerita. Tahun ini lebih kepada membuat dia bergerak karena dia sekarang sudah kebanyakan main gadget.

Mission accomplished!





22 September 2014

Tried and Tested: Banana Boat Kids Sunscreen Lotion

“Ma, aku belum pakai sunscreen loh.” Protes Andrew ketika kita sampai di Sentosa Island. Karena kulitnya mudah terbakar, maka Andrew (8thn) sudah aware sama yang namanya tabir surya sejak TK. 


Padahal yang namanya sunscreen bukan sesuatu yang jadi kebiasaan karena, well, Indonesia kan memang panas jadi kita tidak kepikiran untuk pakai tabir surya. Tapi kulit anak saya ikut bapaknya yang Caucasian dan tidak bisa kena matahari tanpa jadi merah meriah. Jadilah hari itu (demi anak), saya harus kabur ke toko terdekat buat beli sunscreen. Maklum… pergi ke Singapore naik pesawat budget tanpa bagasi, jadi ngga bawa sunscreen karena kebesaran tubenya.

Banana Boat Kids
Sunscreen Lotion SPF 50 (90ml)
Pilihan saya jatuh ke Banana Boat Kids Sunscreen Lotion dengan SPF 50 (90ml). Jujur pertama karena warna kemasannya sangat memanggil. Kuning jreng gitu hahaha. Selama ini Andrew selalu pakai sunscreen untuk dewasa, jadi ngga ada salahnya sekali-kali pakai yang untuk anak-anak. Toh ditulis Hypoallergenic dan fragrance-free. Harganya sekitar SGD15, ga jauh beda sama Banana Boat orang dewasa.

What’s Good?

Andrew asked: “Ini sunscreen anak-anak ya? Bedanya apa Ma?”
Good question. Kalau di webnya (yup, saya sampe browsing), paling ya karena ini sunscreen pediatrician-tested trus tidak keras untuk kulit bayi/anak. Selain itu, bentuknya ngga cair, jadi kalau pas dipakein di muka saya ngga khawatir akan kena ke mata. Mengoles ke bagian yang cukup sulit seperti ujung telinga juga jadi mudah karena texture-nya yang kayak pasta gigi (meski ngga sepadat itu sih).

Anaknya penasaran buat mencoba.
Karena saya pernah baca kalau sunscreen sebaiknya digunakan 30 menit sebelum jadi benar-benar efektif, jadi saya pakaikan sunscreen ini waktu baru sampai di Sentosa. Begitu sampai di pantai (jam 12 siang loh ini), si anak bisa langsung ganti baju renang dan main air. Biasanya Andrew protes kalau saya pakein sunscreen di muka, telinga dan sekitar mata… soalnya dia ngga suka baunya. Yang ini tumben dia diem aja. Ternyata:
Andrew says: “Aku suka, Ma, sunscreen yang ini ngga ada baunya. Ngga bau seperti obat atau yang Mama suka pake itu lho…”
Hah? Emang body lotion saya bau obat? Tapi Andrew emang sebel sama bau-bau-an yang terlalu menusuk sih.

Palawan Beach jam 12 Siang nih!
Ukurannya kecil, jadi bisa dibawa kemana-mana. Sejak saya beli, saya selalu taro di tas dan pakaikan ke Andrew setiap pagi. Karena di Singapore kita banyak berkegiatan di outdoor. Dan… warna tube yang gonjreng itu menolong saya karena tas ibu-ibu itu layaknya black hole, jadi saya bisa menemukan si sunscreen dengan cepat sebelum dia protes. Seperti ketika dia sudah tidak sabar main di Water Worksnya Science Center. Praktis buat yang punya anak tidak sabaran seperti si Andrew haha.

Downside?

Just like any other sunscreen, kalau dipake berenang (meskipun ditulis VERY water-resistant) tetap harus re-apply setelah 80-90 menit. Karena Andrew ngga berenang selama itu, jadi saya baru re-apply setelah kita siap jalan-jalan keliling Sentosa. Selain itu sih practically none.

Epilog

Trus sampai Indo, sunscreen itu hilang! Jadilah saya ke toko obat di mall terdekat untuk membeli penggantinya. Ternyata meskipun sama bentuknya… tampak depannya beda. Harganya Rp. 123,200. Tapi isi dan khasiatnya sih kurang lebih sama. Si Andrew tetep ngga protes waktu diolesin di muka.

Membandingan 2 sunscreen yang sama.
Beda kemasan doang sih.

19 September 2014

Kisah Dudu dan Sendal Berubah Warna

Kalau semua anak senang bergaya, Dudu adalah anak paling malas pake baju bagus dan sepatu keren (kecuali pas fashion show di atas panggung). Kalaupun dia pake baju keren ke mall, biasanya karena si Mama maksa anaknya harus gaya… dan mau foto OOTD.



Jadi, ketika harus pilih sandal, Crocs jelas jawabannya karena bentuknya “sandal” tapi kalau dipake kelihatan keren.

Sandal impian Dudu adalah Crocs Chameleons yang bisa berubah warna kalau dipake di luar ruangan. Namanya juga anak penasaran, sesuatu yang aneh dan beda selalu menggelitik rasa ingin tahunya. Di saat anak lain beli mainan, Dudu malah beli kompas dan jam pasir. Jadi ngga heran kalau sandal berubah warna ini jadi satu barang yang diimpikan sama Dudu.
Browsing-browsing ngga nemu kenapa sendal ini bisa berubah warna. Penjelasan di website pun hanya "patent pending technology." Oh well. Yang lebih seru lagi, meskipun ada guidance warna apa berubah jadi warna apa, ada penjelasan begini: "Each Crocs Chameleons™ product is unique. Colors may vary from item to item based on the individual nature of each specific product and weather conditions." 

Jadi makin penasaran.


Andrew yang punya hobi main di pantai
Tapi Crocs bukan hanya sandal untuk anak-anak. Saya juga senang sama Crocs. Setiap kali lewat tokonya, saya suka ngintip-ngintip lagi ada model terbaru apa. Soalnya kalau untuk yang orang dewasa, modelnya jauh lebih keren-keren. Bahkan ada beberapa yang terlihat seperti bukan Crocs.

Sayangnya yang punya orang dewasa ngga berubah warna haha.

16 September 2014

Tantangan Orang Tua Masa Kini: Sekolah

Jadi orang tua di abad ini memiliki tantangan tersendiri. Mulai dari gadget, internet sampai gaya hidup. Namun bagi saya, tantangan terbesar adalah memilih sekolah. 



Sekolah bagus banyak, tapi mencari sekolah yang cocok ternyata tidak mudah. Dulu mencari sekolah lebih mudah karena pilihannya tidak sebanyak sekarang. Mau swasta apa negeri, mau netral apa agama…

Berbeda dengan sekarang yang sudah bercabang-cabang. Mau swasta ada berbagai macam kurikulum dengan keunggulannya sendiri. Negeri juga ada RSBI yang sama rumitnya. Belum lagi kalau meninjau kondisi keuangan, jarak dari sekolah ke rumah dan masa depan anak. Soalnya beberapa sekolah tidak mempersiapkan anak untuk mengikuti ujian akhir nasional (atau yang saya kenal dengan EBTANAS – entah apa namanya sekarang). Jadi kalau mau lanjut kuliah di dalam negeri kita harus pilih-pilih lagi.

Lalu ada faktor saran orang sekitar. Ada teman komentar kalau sekolah A terlalu banyak main dan bikin pentas pertunjukan. Sekolah B katanya kurang pilihan exkul nanti anak tidak berkembang. Banyak juga yang komentar “masukin ke sekolah kamu dulu aja, jadi ngga pusing.” Belom lagi kalau si anak ikut campur karena dia yang sekolah jadi dia harus trial dan punya hak suara memutuskan apakah dia suka sama sekolah ini. Perasaan jaman saya kecil dulu ngga ada sistem demokrasi begini deh.

Ketika akhirnya putra saya, Andrew, masuk ke sekolah yang sekarang, sebuah sekolah swasta internasional yang kurikulumnya (kabarnya) mau ganti pakai Cambridge ini, saya dinasehati oleh guru TKnya waktu graduation: “Sekolahan itu kabarnya susah sekali loh, Mam. Jangan sampai anaknya stress ya.” Biarlah, pikir saya. Toh kalau tidak dijalani tidak tahu. Tapi tantangan jadi orang tua masa kini soal sekolah tidak berhenti ketika kita melambaikan tangan melepas anak masuk SD… soalnya begitu pulang, anaknya menghampiri dengan ceria dan mulai menanyakan PR Bahasa Mandarin. Waduh!

03 September 2014

Tried & Tested: Johnson Active Fresh


Yang namanya boys, pasti tidak lepas dari keringat. Begitu pemikiran saya ketika Andrew ijin main. Anak aktif ngga masalah. Problem baru muncul ketika si anak malas mandi. Huaaaa bau!

Bertemu sabun yang ini ketika belanja groceries bersama sahabat saya (yang juga punya anak cowok) di supermarket dekat rumah. Kebetulan sabun si Andrew, yang Johnson Milk and Rice bath itu, habis. Daripada beli refill lagi, ah mendingan sekalian mencoba varian baru.



Eits, tunggu dulu, si Andrew/Dudu sudah 8 tahun... kok pake sabun bayi? Nahhhh.... sebenarnya saya juga sudah mau upgrade, tapi setelah mencoba beberapa merk dan kulit dia kerap merah dan jadi kasar, akhirnya saya kembali ke sabun yang dia pakai waktu masih bayi. Masalahnya, sabun bayi biasanya tidak cukup bersih dan tidak tahan wangi untuk anak sebesar dia, yang keringatnya sudah satu ember. Hahaha... lebay deh. Baru sebentar baunya hilang. Beda sama waktu bayi dulu. Jadilah kita membeli si botol biru ini meskipun umurnya sudah lewat jauh (kalo liat promosinya sih untuk anak usia 6 bulan - 3thn). Sebelum beli, saya suruh Dudu cium baunya dulu. Ternyata buat dia Johnson Active Fresh enak baunya. Jadi ya okelah kita coba.

Si Active Fresh di Kamar Mandi...
Sampai sekarang kita happy dengan Johnson Active Fresh, dan sabun itu masih jadi andalan di rumah. Soalnya di sabun itu ada butiran Active Fresh Technology yang kalau kena keringat akan pecah dan mengeluarkan bau wangi. Jadi ngga masalah deh dia keringetan dan "hanya" mandi 2x sehari (itu juga setelah berantem). Namanya juga anak-anak, masa dia jadi ngga boleh keringetan hanya karena si Mama malas memeluk anak bau asem hahaha...

25 August 2014

The Guardians of The Galaxy

 “Who are you?”

“Star Lord.”

“Who?”

“Star Lord!”



That’s the simple conversation that caught his attention, got him laughing non-stop and scored him tickets to watch the latest Marvel gigs.

The Guardians of The Galaxy

*Switching language*

I wasn’t a fan of Guardian of The Galaxy… but Dudu adores Star Lord since the trailer. Jadi kita nonton juga itu film ketika menang nobar dari XYKids! Psst… selain tiket gratis, nobarnya juga dapat poster lohhhh… 


Pamer poster dari XYKids!
The Story

Peter Quill, a.k.a. Star Lord, adalah seorang pencuri professional yang dibesarkan oleh kelompok bernama Ravengers. Ketika dia berhasil mencuri sebuah “orb” tanpa tahu apa guna benda itu, dia mendadak jadi incaran semua orang, mulai dari Thanos dan Ronan yang ingin menguasai galaxy, para Ravengers sendiri dan tentara Nova Terran. Akibat kejar-kejaran itu, Quill jadi masuk penjara bersama para penjahat yang kemudian menjadi partnernya dalam menjaga kedamaian galaxy.

Seru?

Buat Andrew seru banget. Buat saya, well, ceritanya agak rumit untuk dimengerti walaupun bisa enjoy filmnya. Selain Star Lord yang terbukti kocak, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini, terutama buat si Andrew. Soal leadership, soal keluarga, soal teman… sampai soal perbedaan.

“Kenapa pacar si Star Lord warnanya pink, Ma?”
“Ya mungkin di jaman itu warna kulit ngga penting lagi.”

Trus, kalo anaknya masih kecil gimana?

Well, menurut saya sih oke-oke aja, selain adegan tembak-tembakan yang lebih komikal daripada brutal, ngga ada yang “berbahaya” haha. Yang bagian awal agak ngenes karena adegannya itu anak kecil kehilangan orang tua. So, for those old enough to understand loss, this might be a little sad. But the rest is on a happy and funny tone.

Enjoy the movie… and the dancing Groot.

21 August 2014

Dear Leader

When asked who my favorite leader is, I would say “Park Jungsu”. 
Then people go “who?”

Park Jungsu is someone who taught me that a leader doesn’t mean he’s perfect. A leader doesn’t mean he has to be on top of everything. But a leader should stay and fit right in the middle of the things, balancing every brain, every charisma and every talent existed within the team. He should know who would do what and how he would do it.

I looked up to him when I was a leader.

Now that I’m not leading a team anymore, I passed the wisdom to my son. He has the leader quality and kept “organizing” people around him. He has the charm and likes to put things into order. But he has many weaknesses that he often worried about.





“I can’t run fast.”

He once told me the reason he didn’t want to sign up for futsal. I told him it’s okay and he can go play the goalkeeper. You don’t have to be the one scoring the goals and be the hero… a captain can also be a goalkeeper *ehm Buffon*.


“I can’t pronounce the letter R”

He said the other day when I told him to try a debate competition. Yes, he sounded bad on radio – and working in the entertainment/media industry for over 5 years had taught me that inability of pronouncing the letter “R” can be a major problem that would strip you off a beauty queen title or scoring a top presenting/acting job. But I told him it’s okay. He doesn’t sound that bad speaking English.

Park Jungsu isn’t a tough leader, he shed more tears than all of his subordinates. He never covered his funny, stupid and clumsy image from the public. Yet, he’s still one respected leader. So I told Andrew it’s okay to be yourself and be a leader. Imperfection isn’t what stopping you from being a leader, because with imperfections, you know you need your team mates. Find someone who can run fast for your futsal team, find a good spoke person for your debate team, find someone who can fill your weaknesses and you’ll be the one arranging your team achieving the goal.

Park Jungsu may only be 30 and he’s just out of his mandatory military service. But he was a good leader, even before he wore the army uniform. Someone who has the determination to go, the motivation big enough for the whole team, and the strength to push every single one of his team member back up when they fail.

I was his leader before, a mom, a guide... but now that he's 8, he can learn to lead his life, make his own decision and negotiate me into following his lead.



Football team anyone?
So Andrew would be my team leader, the one saying, “It’s okay, Mom, we’ll try again next time,” whenever we lost another competition. The one challenging me “why don’t we do this?” when I was too lazy to grab my camera and snap pictures for competitions. The one who wouldn’t give up and leave until all winners had been announced (I usually quit at 3rd place announcement).

Then you all can go "what, this is about K-Pop?" Nope, this is about the story of an imperfect leader haha.

Thank you, Park Jungsu. Welcome back to the entertainment world. Please lead us once again.


Park Jungsu's comeback stage last week
“Thank you for following this fool’s lead. I never know what leadership is, all I know is how to keep Super Junior as one family.” - Park Jungsu (Leeteuk) 

15 August 2014

Teenage Mutant Ninja Turtles






Teenage Mutant Ninja Turtles

Duration: 100m


The turtles are talking about brotherhood, teaching us a few stuffs about parenting four teenagers.

The Story

When the Foot Clan started to destroy New York City, inspiring journalist April O’Neil is trying to get out of her sweet-as-candy assignments and scoring a headline at her TV station. She witnessed vigilantes trying to fight the Japanese-led clan and eventually meet the four turtles just to have no one to believe her story... except her father’s former boss, Mr. Eric Sacks. The turtles brought back her past, as well as the adventures for her futures.

The Reaction

The turtles got us laughing all the time, and the funny one isn’t always Mikey. Stay til the end credit and you’ll see something hilarious. I kinda got the plot twist in the middle of the story, so I wasn’t a Sherlock kind of movie. Still, it’s a family movie, so we’re good with the predictable plot. Quality-wise, it’s awesome. I actually entered the theatre without knowing that it’s a live action and not a cartoon. But, I don’t really care, cos I got to see Leonardo and his katanas.

Andrew’s most favorite parts:

"I like it when they’re younger – because they’re cute. They’re scarier when they’re older."
"When Michaelangelo reveal himself by taking off his mask, then April O’Neil went fainted."

(I guess that’s what parents feel when they watch their kids grow up).


PS: Don’t bring kids under 5, some scenes are pretty shocking – like surprise shocking – so I kind of expecting some baby cries during the movie. Plus yes, I’m with Andrew on this, the turtles aren’t cute and cuddly

Raph got my ticket!