11 March 2026

Belajar Tentang Perempuan, Uang, dan Identitas di Ngabuburich Vol.01

International Women's Day tahun ini lebih spesial karena sebuah diskusi santai yang digagas Arichsan, dengan tema Women, Money, and Meaning yang diadakan di Selibar Cafe.

Nama acaranya Ngabuburich Vol.01. Acara ini menghadirkan psikolog Offie Dwi Natalia M.Psi., Psikolog dan financial planner Valencia Fabian BA, CFP, QWP, AWP, serta moderator Lala Adani. Formatnya santai seperti arisan. Jadi acara ini hadir sebagai ruang untuk berhenti sejenak, mendengar, belajar, dan merefleksikan diri.

Offie Dwi Natalia M.Psi., Psikolog dan financial planner Valencia Fabian BA, CFP, QWP, AWP, serta moderator Lala Adani di acara Ngabuburich Vol.01.

Perempuan Harus Jadi “Superhero” yang bisa Naik Level


Ada yang pernah bilang ke saya, “kamu tuh punya superhero syndrome ya?” Maksudnya gimana? Tanya saya lagi. “Ya, selalu ingin menolong orang.” Well, di kepala saya, hal tersebut baik. Apa yang salah dengan menolong orang lain? Apalagi konon, sebagai anak perempuan pertama, banyak beban yang tidak sengaja jatuh ke pangkuan saya. Namun, bukan begitu maksudnya.

Menurut Offie, banyak perempuan ingin punya superpower. Punya karier, keluarga harmonis, finansial stabil, dan tetap hadir penuh untuk anak. Kalau dipikir-pikir agak tidak masuk akal ya. Keinginan untuk punya segalanya ini kemudian menimbulkan konflik karena realitanya tidak sesuai dengan harapan. Apa yang kita pikirkan (kognitif) tidak selalu selaras dengan apa yang kita rasakan (afektif) “Peran yang berat, lama-lama malah jadi beban,” kata Offie. Well, memang role kita sebagai perempuan akan bertambah seiring waktu, dan membuat bingung karena tidak tahu siapa kita sebenarnya.

Jujur, saya relate dengan cerita Lala, sang moderator, bahwa sebelum menikah dia adalah “Lala.” Namun setelah menjadi istri dan kemudian menjadi ibu, ada banyak label baru yang membuatnya bingung sendiri. Saya juga sama. Orang tahunya saya “Mama Dudu.” Padahal, harusnya saya punya identitas sendiri ya. Saran Offie, “Sebelum mau jadi apa, kita harus here and now. Sebelum pindah naik level, kita harus bisa menguasai level ini. Kebingungan itu wajar, tapi kita harus bisa mengenal diri sendiri dulu, untuk tahu ke depannya mau gimana, dan mau apa.”

Bagaimana caranya naik level? “Sekarang banyak yang bingung karena kita tidak dibiarkan punya target sesuai level kehidupan kita. Sekolah ada ujian. Setelah dewasa, tolak ukur naik level tidak ada,” cerita Offie. Solusinya adalah dengan menetapkan target yang sepsifik. Misalnya bukan sekadar “ingin jadi ibu bekerja yang sukses”, tapi lebih jelas: bekerja di bidang apa, dengan penghasilan berapa, dan seperti apa kehidupan keluarga yang ingin dibangun.

Dan semuanya butuh uang.

Berkumpul merayakan International Women's Day bersama Arichsan.

Perempuan Bisa Bicara Uang Tanpa Drama

Bagian finansial dibawakan oleh Valencia dengan gaya yang ringan tapi praktis. Menurutnya, pembicaraan tentang uang seharusnya bisa dilakukan secara santai, tidak selalu penuh tekanan atau rasa bersalah. Itulah yang saya rasakan selama sesi.

Saya tidak nyaman bicara uang karena tidak pernah memegang uang sendiri. Saya tipe yang tidak mau ambil pusing, yang penting uang tersedia. Namun, sebagai seorang single mom, saya harus planning, budgeting dan mengerti kebutuhan sendiri. Selama ini saya punya Mama yang mengurus keuangan alias berperan sebagai financial manager. Saya sering dengar kalau suami, gajinya dikasih ke istri untuk dikelola. Kalau versi saya, gaji saya ya buat Mama. Mama yang atur mana buat kebutuhan rumah, buat Mama, buat anak saya, buat Papa (waktu Papa masih ada), dan mana yang harus ditabung. Saya paling tersisa berapa persen untuk biaya makan dan bensin.

Di tahun 2024 kemarin Mama berpulang dan saya jadi harus mengurus semua sendiri. Duh, pusing.

Ternyata, ketika datang ke Ngabuburich, banyak hal yang dipaparkan Valencia dan saya relate. “Merencanakan anak dari sebelum lahir. Nanti kuliahnya di mana.” Pernyataan tersebut sesuai dengan yang selalu diributin sama Papa. Menabung untuk anak itu dari sebelum anaknya lahir. Karena anak saya termasuk yang tidak direncanakan, dan saya saat itu masih kuliah, jadi saya nabung sebisanya. Tapi, yang Papa tidak pernah ajarkan adalah point berikutnya dari Valencia, “Lalu, nanti setelah anak selesai kuliah, mandiri finansial lalu bagaimana? Mencari identitas baru lagi. Jangan sampai usia 50 tahun terus galau. Dan, setiap kita mencari identitas itu kan perlu uang.”

Nah, mumpung sekarang Dudu masih kuliah, sepertinya saya masih ada waktu berpikir.

Salah satu poin yang menarik yang dipaparkan di Ngabuburich Vol 01 ini adalah tentang rasa “terlambat” mengatur keuangan. Banyak orang merasa menyesal baru mulai belajar finansial di usia 30-an atau setelah punya anak. Saya baru benar-benar mengurus semuanya sendiri di usia 40, sebelumnya budgeting dan planning ya urusan Mama. Valencia mengajak kita mengganti mindset itu. “Bukan terlambat mengatur uang, tapi akhirnya mulai mengatur uang.”

Tentang Perempuan dan Masa Depannya

Baik Offie maupun Valencia sepakat bahwa perempuan harus bisa menghasilkan uang sendiri. Perempuan perlu berdaya, mengenal nilai dirinya, dan tidak takut menghasilkan uang sendiri. Bukan masalah jadi ibu rumah tangga lalu hanya mengandalkan uang pemberian suami, tapi menghasilkan uang sendiri. “Terlepas dr inflasi dan PHK, perempuan harus tau cara cari uang, karena dia jadi tau caranya bertahan hidup,” kata Valencia. Sementara Offie mengajak untuk “Definisikan ulang kerja. Jualan juga kerja. Nggak harus kantoran atau kerja buat orang.”

Bertemu kedua profesi berbeda di acara Ngabuburich Vol.01 by Arichsan ini seru banget. Soalnya yang satu ilmu pasti hitung-hitungan sementara satu lagi bicara psikologi alias mental health. Jujur jadi tidak sabar, Arichsan berikutnya akan seperti apa ya?

Spending saya nonton konser. Bukan yang kecil-kecil dan sering, tapi yang sekali spending langsung habis banyak.


Pertanyaan terbesar saya pada diri sendiri di acara ini adalah “bagaimana cara spending?” Seumur hidup saya belajar menabung, dengan mindset keluarga hemat pangkal kaya. Sekarang saya bingung cara makan enak dan beli pernak-pernik lucu yang konon bikin hidup lebih ceria.


Well, kata Valencia sebenarnya malah “Bagus itu kalau tahu mau spend ke mana, kalo bingung justru bisa habis uangnya.” Sarannya, sekarang saya mencari goal besar yang butuh biaya banyak lalu nabung ke arah sana. Ya, sebenarnya “spending” saya memang besar-besar sih. Konser dan jalan-jalan.


In the end, memang semua ini bukan soal materi, tapi tentang rasa percaya diri dan kemandirian. Yuk, bisa yuk!


2 comments:

  1. Ngabuburich Vol. 01 ini emang beneran kaya ilmu ya, Kak. Dari urusan psikologi sampai hitung-hitungan keuangan dibahas tuntas. Yuk, bisa yuk Kak Ruth πŸ’ͺ🏼🫢🏼 Ditunggu cerita petualangan bareng Dudu selanjutnya yang makin mandiri secara finansial. πŸ™ŒπŸΌ

    ReplyDelete
  2. Suka banget POV yang Mba Nina tuliskan ini. Sangat pas sama kondisiku. Dan yg harus benar-benar kuperbaiki adalah kedisiplinan mengelola keuangan termasuk pencatatannya juga menentukan sikap yg lebih peduli juga ke diri sendiri. Karema aku sering banget rela habis waktu dan energi cuma buat orang lain tanpa mikirin akunya sendiri.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.