21 November 2017

The Bad Guy Wins Because He Gets The Girl

“Thor-nya kuat dan tampan. Thor juga pahlawannya. Tapi Mama sukanya Loki. I guess in the end, bad guy wins because he gets the girl,” komentar Dudu sepulang kita nonton Thor Ragnarok.

Lha, kok gitu, Du?

“Yah, habis Mama selalu ribut suka sama Loki.”



Gara-gara itu saya jadi berpikir kenapa Thor bisa kalah charming dari Loki. Well, di dunia drama Korea ada yang namanya second-lead syndrome. Mungkin di perfilman barat juga ada. Hahaha. Anyway, back to Thor. Secara keseluruhan film ini lucu banget. Lebih komedi daripada action, dan sebenarnya terasa kalau Marvel memaksakan beberapa adegan yang meskipun berhasil membuat satu bioskop tertawa ngakak, tapi sebenarnya tidak perlu-perlu amat ada di Thor Ragnarok. Jalan ceritanya sendiri ya, well, unfortunately buyar.


Alkisah Thor yang pergi bertualang bertemu dengan satu penjahat yang meramalkan kehancuran Asgard (Ragnarok). Setelah mengalahkan penjahat tersebut, sang jagoan pulang ke Asgard dan menemukan “kekacauan” yang dibuat oleh (ya siapa lagi kalau bukan) Loki. Kekacauan berubah jadi ancaman ketika Odin meninggal dan muncullah sang kakak pertama, Dewi Kematian Hela, yang meminta haknya atas tahta Asgard. Rupanya jaman dahulu kala Odin dan Hela berperang bersama, ketika Odin tobat dan memutuskan jadi Raja yang bijaksana, Hela menentang lalu dibuang. Kisah Hela disembunyikan sampai menjelang kematian sang Raja. Jadilah kakak-adik yang tidak pernah akur ini berusaha menyelamatkan rumah mereka dari ancaman kakak tertua yang berhasil menghancurkan Palu Thor dalam kedipan mata.

Soalnya ternyata Palu Mjolnir itu dulu milik Hela.

Saya paham kenapa sebagian orang menganggap Thor Ragnarok membosankan. Saat keluar dari bioskop pun, tidak ada kesan mendalam yang ditinggalkan film ini. Berbeda dengan ketika nonton Avengers yang pertama, atau film-film Iron Man. Film Thor Ragnarok ini beneran biasa saja tapi menenangkan hati orang tua yang nonton sama anaknya karena tidak ada adegan kissing atau gory, bahkan baju Hela yang ketat itu pun tidak seksi-seksi amat.




Tapi saya tetap nonton karena katanya ini film terakhir Loki.

Loki lagi? Kan memang alasan saya menonton film Thor dan Avengers adalah karena Loki. Saya pertama kenal Loki ketika dia jadi musuh The Avengers. Arguably the coolest villain they ever have (sorry Ultron). Lalu saya kembali nonton Thor dan mengenal asal usul Loki. Singkat cerita, Trickster God yang satu ini diadopsi Odin setelah membunuh Frost Giant Laufey (yang merupakan ayah kandung Loki) dan kemudian tumbuh sebagai adik angkat Thor sang pewaris tahta. Loki bukan dewa, dan sepanjang hidupnya ada di bawah bayang-bayang sang kakak yang merupakan Dewa Petir dengan segala kekuatannya. Frigga, istri Odin, menyayangi Loki seperti anak kandungnya dan mengajarinya sihir. Di Thor Ragnarok ini semakin terlihat bahwa Odin memang seorang ayah yang problematic dan cenderung mengakibatkan kematian dan kekacauan di negaranya sendiri. Makanya ketika Thor mencari bantuan dan ingin membentuk “Revengers” semua orang menolak ikut campur dengan alasan, “tidak mau terlibat di urusan keluarga kerajaan Asgard.”

Thor, sebagai anak kandung Odin, mewarisi kekuatannya. Sementara Loki, entah bagaimana, mewakili segala tipu muslihat dan kelicikan ayahnya. Yes, Loki tidak bisa bertarung sekeren Thor tapi dia cerdas dan selalu punya cara mengagumkan untuk memecahkan setiap masalah. Ketika semua orang jujur stuck, Loki lah yang menjadi penyelamat karena dia “bandel” dan tidak segan memanfaatkan orang lain. Mendekati adegan perang terakhir, di mana semua orang sudah terjebak, saya sibuk menanti kedatangan Loki. “Mana sih orang ini?” dan tadaaaaaa (ini line Loki paling epic di Thor The Dark World haha) mucullah dewa penyelamat Asgard ini dengan entrance luar biasa. He comes when he’s the least expected, with a solution that no one else can do. Ingat di Thor The Dark World ketika gate bifrost mereka rusak dan satu Asgard tidak ada yang tahu jalan keluar lain dari dunia mereka selain (tentu saja) Loki? 

Tapi Loki kan penjahat? Well, kemunculan dia di San Diego Comic Con 2013 mempromosikan film Thor: The Dark World yang mengundang jeritan histeris penggemar yang mayoritas cewek ini mungkin sudah mengamini teori Dudu. Idealnya si jagoan yang muncul mempromosikan film sendiri dong, eh ini malah the problematic adopted brother menyabotase presentasi produser dan sutradaranya. 


"HUMANITY! Look how far you've fallen. Lining up in the sweltering heat for hours. Huddling together in the dark, like beasts!" ~Loki in SDCC 2013
Ketika Thor (dan Hulk) membuat kesan pahlawan dengan kekuatan dan sifat heroic mereka, Loki lebih realistis dengan hidupnya. Rasa percaya dirinya muncul dari “being smart” bukan “being strong”. Apalagi ketika terlihat bahwa Loki yang bandel ini ternyata sayang sekali sama ibunya (padahal Frigga bukan ibu kandungnya), semakin menanglah dia di mata saya. 

Masalahnya, Loki hanya akan jadi penjahat biasa kalau tidak ada Thor, dan tidak terjebak dalam kekacauan keluarga Odin. Di film Thor Ragnarok ini saya melihat Loki jadi sedikit lebih dewasa, mulai mengerti tempat dan tanggung jawabnya sebagai seorang Pangeran Asgard yang harus mendukung kakaknya naik tahta. Setidaknya melihat Trickster God akhirnya mengalah terhadap ambisinya untuk jadi raja ini membuat saya lega melepasnya dari future Marvel installment di bioskop.





Loki selain muncul di Thor, ada juga di Avengers yang pertama
Dan, ya kan memang tidak ada yang lebih keren dari cowok cerdas yang bisa mengatasi egonya. Meskipun dia seorang bad guy macam Loki.

Lalu saya dapat informasi kalau idola saya akan muncul di Avengers Infinity War, ketika dia seharusnya memberikan penampilan terakhir di Thor Ragnarok. Aduh semoga dia tidak mati di film berikutnya.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.