17 July 2017

Cerita di Balik Kuis 10 Juta dan Playstation 4

Kalau kamu dapat 10 Juta, uangnya mau dipakai apa?

Akhir bulan kemarin saya menemukan pertanyaan itu di salah satu kuis radio. Saya isi jawaban iseng. Jujur. Tapi bukan jawaban yang menggerakan orang untuk kasihan. Saya tulis kalau saya mau belikan PS4 buat Dudu, yang sudah ingin punya console tersebut sejak lama.

Di akhir periode kuis, saya dapat telpon kalau saya masuk final. Satu dari lima yang harus berjuang untuk memenangkan uang tersebut.

HAH? YANG BENAR AJA?

Di tengah kebingungan kenapa saya yang mau membelikan PS4 ini bisa masuk final, saya mengiyakan semua persyaratan dan nekat menjalani babak final tersebut. Kegiatannya banyak, karena para finalis harus menginap 2 hari 1 malam di sebuah hotel. Saya baru memberitahu Dudu malam sebelum saya harus menginap, soalnya saya juga baru diberi tahu siangnya.

Mama: Coba didoakan itu, ditanyakan sama Tuhan, boleh ngga kita dapat 10 juta.
Dudu: (selesai berdoa) Kata Tuhan boleh, Ma.
Hahahaha, enak saja anak ini.
Ketika bertemu dengan para pesaing, saya semakin tidak enak. Satu adalah seorang ibu rumah tangga yang butuh uang untuk modal usaha, satu lagi mahasiswa dari Bandung yang ingin membeli gadget untuk mengerjakan tugas akhir kuliah dan membuah film pendek. Yah, sedih kan, saya malah minta uang untuk beli PS4. Yang 2 lagi semakin miris. Satu butuh uang untuk nikah karena mertua sudah secara halus mengancam akan menjodohkan si pacar dengan laki-laki lain. Yang terakhir adalah seorang perempuan yang baru kehilangan pekerjaan dan sekarang sedang menunggu hasil pemeriksaan tumornya. Tapi karena saya sudah terlanjur mengiyakan diri, saya bertekad maju terus. Apalagi ini kan buat Dudu. Masa saya menyerah di tengah jalan, nanti si anak yang tidak pernah menyerah ini marah. Kalau Dudu saja tidak pernah menyerah belajar Mandarin dan Matematika yang dia bolak-balik fail, bahkan kadang sampai ketiduran saat buat PR yang makan waktu hingga malam itu, saya jadi tidak bisa menyerah.

Ketika acaranya tayang, bisa ditebak, saya langsung dapat komentar ibu-ibu (dan dukungan bapak-bapak haha). Buat apa anaknya dibelikan PS4? Itu mainan sesat. Sebaiknya diberikan pengertian bahwa mainan tersebut tidak perlu dan uangnya ditabung untuk masuk SMP.

Dan karena finalis tidak boleh menjawab atau promosi wara-wiri di social media, serta harus merahasiakan proses seleksi dan detail behind the scene, saya tidak bisa menjawab langsung di nyinyiran ibu-ibu tersebut. Terus karena yang komentar, setelah saya stalking, mutual friendsnya banyak, saya merasa lebih baik menahan diri saja. Sayangnya karena saya blogger, saya jadi ingin jawab di sini haha.

Jadi, ibu-ibu dan pembaca blog yang budiman, saya tidak pernah menabung untuk gadget. Yang kenal saya pasti sudah bolak balik kesal, karena ketika semua sudah sibuk dengan iPhone 6, saya masih pake Nokia X yang discontinue itu. Tablet saya hadiah lomba blog. Hanya laptop yang terpaksa dibeli karena saya hidup dari tulisan, ya masa tidak modal sama sekali. Saya sudah bosan mendengar komentar, “Yaelah, Ruth, diganti kali HPnya.” Hahaha.

Dudu punya tablet Samsung yang dia beli sendiri beberapa tahun lalu. Uangnya hasil menabung angpao Chinese New Year dan penghasilan jadi model. Saya hanya membelikan casing dan anti goresnya saja. Ya, kalau HP saja saya tidak pernah ganti, apalagi yang namanya PS4. Dudu sampai cari siapa temannya yang punya PS lalu minta main ke rumah temannya itu. Lalu kalau kita pas ke Singapore, dia tidak mau buru-buru pergi dari Changi karena mau main PS. Request PS ini sudah lama, dan sekarang dia bertekad untuk nabung sendiri, plus komentar, “tahun ini hadiah ulang tahunnya jangan hanya ijin beli PS dong.” Yah kasian amat. 

Dudu dan mainan (yang kata ibu-ibu di sosmed kuis) "sesat"
Lalu kenapa saya ikut kuis untuk beli PS? Jadi saya pernah berjanji sama diri sendiri, kalau ada uang yang tumbuh di pohon atau jatuh dari langit, saya akan belikan PSnya. Tapi saya tidak mau menabung khusus untuk PS. Tabungan saya sudah untuk biaya sekolah, biaya KITAS, biaya sehari-hari dan biaya traveling. Iya, traveling. Buat saya, traveling lebih penting dari PS. Makanya uang hadiah kuis ini, yang jatuh dari langit, saya akan gunakan untuk beli PS4.

Terus saya menang?

Ya tidak dong hahaha. Terbayangkan semua ibu-ibu itu pasti kesal berat kalau saya sampai menang.

Ada banyak hikmah dari ikut kuis ini. Saya seorang single parent, satu kalimat yang jarang saya ucapkan dan mungkin baru sekali ini saya mengakuinya di depan kamera dan on air di radio. Lewat acara ini saya jadi belajar bicara tentang status single mom itu. Meskipun di awal, saya sempat merasa sebal dengan diri sendiri karena saya seperti “menjual” status itu untuk mendapatkan sesuatu. Dan saya juga sempat bingung karena saya tidak punya cerita sedih untuk dibagikan.

Tapi, apa saya kalah? Tidak juga. Di tengah episode, setelah 2 teman saya tereliminasi, saya memutuskan mengambil amplop yang ditawarkan. Gambling karena di amplop tersebut ada sejumlah uang yang bisa lebih kecil atau lebih besar dari hadiah utamanya. Tapi saya bertekad pulang dengan membawa sesuatu buat Dudu yang setidaknya walaupun tidak bisa untuk beli PS, bisa menambahkan tabungan dia.

Siapa yang kira kalau jumlahnya pas dengan harga PS4 baru.

Dudu: Kan aku sudah bilang kalau kata Tuhan boleh punya PS4.
Mama: Tapi jumlahnya hanya cukup untuk beli consolenya.
Dudu: Gamenya?
Mama: Gamenya beli sendiri. Nabung lagi deh. Kamu berdoanya hanya untuk PSnya ya? Tidak bilang sama Tuhan kalau kita butuh gamenya juga?
Dudu: Iya. Aku lupa.

Okelah kita ikut kuis lagi atau cari PS4 second haha.

12 comments:

  1. memang sudah rezeki ya mbak. tak disangka2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Aduh aku bersyukur banget ini.

      Delete
  2. Sepertinya saya tau acara radio yang dimaksud, Mbak hehehe. Saya pun bukan yang termasuk gampang membelikan sesuatu untuk anak. Bahkan untuk diri sendiri pun begitu. Sama juga kayak hp kalau belum rusak atau hilang biasanya belum saya ganti. Makanya hp saya suka ketinggalan jaman :D

    Anak saya juga punya PS4 tapi dia mendapatkan itu sesuai perjanjian. Kalau NEM bagus dan berhasil masuk negeri maka hadiahnya PS4. Untuk game, semuanya dia beli dari tabungan uang jajan. Makanya dia jarang jajan. Ya setidaknya dia bisa mendapatkan mainannya dengan usaha tidak sekadar minta. Itupun kami masih kasih aturan kalau sampe mengganggu pelajaran maka PS4 disita :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu diaaa... aku juga kalo HP nunggu mati dulu baru panik (soalnya terakhir nokia X ga bisa backup haha) trus ganti. PS4 si Dudu ditinggal di rumah Mama sih, jadi dia cuma ketemu PS Sabtu-Minggu aja akhirnya. Setuju banget sama game yg dibeli sama uang jajan. Dudu juga sama Mba.

      Delete
  3. Yeaaay, Dudu py PS4! Doanya hrs persis dg yg diminta ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, aku juga kaget kok bisa persis hehe.

      Delete
  4. endingnya lol banget, haha. Seru ceritanya mba, inspiratif kok bener meskipun kita mampu tapi pasti kita punya prioritas lain kan. Sama kayak orangtua saya dulu jarang banget ajak liburan ke luar kota karena uangnya untuk sekolah kakak dan saya. Lho kok jadi curcol? btw Dudu is so handsome ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mba. Aku prioritas di bayar sekolah dan travelling. Gadget itu kesekian apalagi yang mahal (dan ngga perlu) macam PS. Thanks ya Mba :)

      Delete
  5. Wow! Kalau punya keinginan yang kuat untuk menggapai impian pasti akan ada jalan ya mbak. Semoga ada duit dari langit lagi untuk si Dudu beli game nya. Salam kenal mbak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Mba :)
      Aminnnnn. Dia lagi cari uang nih buat gamenya. Biasanya dari honor dia modeling hehe.

      Delete
  6. Aku yakin ibu-ibu itu juga hanya berkomentar aja. Kita kan gak tau kalo ternyata di rumah dia kasih anaknya game, atau bahkan anaknya pergi ke rental PS.

    Duhhh kesel bacanya, Mbak. Hehehehe maaf jadi esmosi. Abisnya orang itu paling gampang judge. Pelajaran juga nih buat saya, supaya gak jadi "ibu-ibu" kayak gitu.

    Semangat yaaa Dudu dan Mama. Mudah-mudahan bisa kesampaian beli PS4-nya, atau bahkan dapat yang lebih baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah ikutan kesel. Hahaha. Aku maklum sih, soalnya temen yang "complain" langsung juga banyak begitu tau aku beliin Dudu PS4. Paling ngga mereka nanya. Cuma tetep kesel hehe.

      Delete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komen. Mohon maaf untuk yang meninggalkan link hidup dan komen bersifat spam atau iklan akan dihapus.